seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Februari 2008

Da Vinci

Februari 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sepotong catatan Leonardo da Vinci, di akhir abad ke-15:
”…manusia, yang dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim panas baru, dan bulan-bulan yang baru selamanya… tak tahu bahwa dalam kerinduannya itulah terbawa kuman kematiannya sendiri.”
Sebuah pandangan hidup yang muram mungkin, tapi Da Vinci tak berhenti di situ. Baginya, kita tak harus menyesali, justru harus menyambut, nasib yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah sampai. ”Kerinduan” itulah, kata Da Vinci, ”sifat dasar kehidupan,” dan ”Manusia adalah sebuah tauladan bagi dunia.”
Ya, pelukis Italia itu menyebut manusia sebagai ”tauladan”, sebagaimana laiknya seorang seniman zaman Renaissance. Dan ia menulis ”Manusia” dengan ”M”, bukan ”m”. Kita tahu abad ke-15 di Italia adalah abad narsisme: manusia memandang ke dunia, dan yang ia temukan wajahnya sendiri, makhluk yang mengagumkan.
(lagi…)

Kategori: sosial

Korban Diam

Februari 16, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

UMI Kalsum (22), gadis yang mengaku diculik kelompok pembunuh Sandriani ternyata melahirkan anak perempuan di Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB), Sekupang. Ia mengaku diculik dan minta tebusan untuk biaya melahirkan. Rabu (16/1) lalu, ia ditemukan jajaran Polsek Sekupang lewat sinyal ponselnya.

==========

Lorong di depan ruang kebidanan itu dipadati warga RW X Tiban Lama. Ibu-ibu duduk di kursi, sejumlah pemuda berselonjor di lantai. Siang kemarin itu, lorong tersebut ramai. Pintu masuk pun dijaga ketat.

Dua petugas keamanan RSOB, berkali-kali membuka-tutup pintu itu. Tak sembarang orang bisa masuk. Padahal, sebelumnya warga yang menjenguk keluarganya di ruang kebidanan itu bebas lalu-lalang.

Penjagaan itu diperketat sejak ketahuan ada pasien ”istimewa” di kamar mawar ruang periksa kebidanan itu. Ya, Umi Kalsum yang dikabarkan diculik kelompok pembunuh Sandriani, ketahuan melahirkan dengan operasi caesar di ruang tersebut.
(lagi…)

Kategori: sosial

Menabung dan Umrah

Februari 10, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Menabung. Kata itu sudah kudengar jauh sebelum saya mengenal bangku sekolah. Lalu, kata guru-guru menabung pangkal kaya.

Tapi saya tak pernah melakukan itu. Saya orang yang tak cukup gigih untuk menyimpan sesuatu sedikit-demi sedikit, yang katanya lama-lama jadi bukit.

Dulu, sempat juga punya celengan. Setiap ada sisa uang jajan Rp100, selalu saya masukkan ke celengan kalengku. Namun, baru seminggu, celengan itu sudah saya buka lagi. Rasanya, tak sabar ingin tahu berapa isinya.

Sehingga, saya tak pernah punya inisiatif untuk menabung. Kalau sekarang saya punya tabungan, itu karena gaji saya diberikan lewat rekening bank. Itu pun, kantor yang menyediakan tabungan.

(lagi…)

Kategori: sosial