
Saya tak pernah tergoda untuk nonton film Indonesia. Bahwa kemudian saya menonton film ayat-ayat cinta, itu juga karena ajakan isteri. Di rumah, ada novelnya. Namun, saya malas membacanya.
Saat menonton, saya tak begitu tertarik pada film atau ceritanya. Saya malah menikmati salawat yang dilantunkan Emha Ainun Nadjib, budayawan yang kukagumi. Saat kuliah dulu, tulisannya menjadi koleksiku.
Namun, tadi ada yang mengetuk hati. Ini yang membuat saya tergoda untuk menulis di blog ini. Anak saya, Zyan yang baru berumur dua tahun menunjuk-nunjuk komputerku.
Ia berteriak, ”Ayah, ayat-ayat cinta,” katanya. Zyan menunjuk sebuah poster film ayat-ayat cinta. Saat itu, saya memang sedang membuka blog-nya Pak Ade Sahlan, ada ayat-ayat cinta di sana.
Kemarin, kata Zyan, melanjutkan, ia kembali nonton film ayat-ayat cinta itu. ”Sama bunda, sama nenek. Zyan dua kali nonton hantu,” tukas buah hatiku itu.
Nonton hantu, itu bahasa yang selalu diungkapkan Zyan pada nonton film. Seminggu sekali, saya memang mengajak dia nonton di 21 Nagoya Hill.
Saya jadi kaget. Kaget, karena ia seperti mengenal betul ayat-ayat cinta itu. Ini yang membuat saya tergoda akan ayat-ayat cinta. Bukan pada filmnya, tapi pada aura-nya. Ayat-ayat cinta, telah menyihir anak saya.