seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Juni 2008

Memilih Doa

Juni 28, 2008 · 1 Komentar

asanya, sudah berjuta-juta kali saya mendengar orang-orang berdoa. Mendengar orang-orang memanjatkan puja-puji. Tapi, entah kenapa baru sekarang terpikir olehku soal apakah dalam berdoa kita butuh bersopan santun?

Apakah dalam berdoa kita perlu memilih kata. Perlu mencari kalimat terbaik agar semua permintaan, semua permohonan, semua keinginan dikabulkan Tuhan.

Apakah itu perlu? Apakah Tuhan tak akan mendengar doa kita jika kita tak membacanya dengan tubuh yang bergetar. Apakah Tuhan tak akan mendengarnya jika kita tak membacanya dengan suara yang enak didengar?

Apakah itu perlu? Apakah perlu bergadang semalaman mencari kata-kata terindah, untuk kita panjatkan besok harinya kepada Tuhan. Apakah perlu kita membuka semua kamus dan menghafal jutaan kosa kata agar doa kita itu menghunjam langsung ke kursi Tuhan.

Apakah itu perlu? Apakah perlu kita menangis dalam berdoa. Apakah perlu kita mengindah-indahkan kata agar orang yang mendengarnya bergetar. Apakah itu perlu?

Apakah jika dalam doa tak kita sebut segala sifat dan keagungan Tuhan, permintaan kita tak dikabulkan? Apakah Tuhan menyeleksi doa? Lalu, ia hanya mengabulkan permintaan terbaik dari hambanya? Apakah  Tuhan hanya memilih doa yang sopan, doa yang santun ?*****

Kategori: sosial

Mengunjungi Lokalisasi Pulau Amat Belanda 2

Juni 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

bar di pulau Amat Belanda

Pekerja seks komersial (PSK) alias WTS yang tinggal di Pulau Amat Belanda, Belakangpadang sudah berusia relatif tua. Umurnya kira-kira antara 27 tahun sampai 40 tahun. Banyak di antara perempuan-perempuan di sana yang dinikahi apek-apek Singapura. Biasanya, setelah menikah mereka menetap di Belakangpadang

Dia mengaku bernama Linda. Kulitnya kuning mulus. Rambutnya ikal sebahu. Wajahnya tak terlalu cantik, namun tetap menarik. Di dahinya, kerut ketuaan samar terlihat. Itu menandakan ia tak muda lagi. Juli ini, Linda berumur 35 tahun.

Perempuan seumuran Linda, tentu kalah menarik dibandingkan pramuria lain yang berumur di bawah 30 tahun. Apalagi untuk terjun ke dunia prostitusi, sulit bersaing dengan yang muda-muda. Kondisi Pulau Amat Belanda yang sepi, memperparah keadaannya. Ia jarang mendapat tamu.

”Di sini sepi, jarang ada yang datang. Biasanya yang datang sudah punya langganan. Saya hanya cukup untuk makan,” tuturnya setengah berbisik.

Linda termasuk yang lebih terbuka. Banyak PSK lain yang enggan berbicara, begitu tahu kedatangan saya untuk menulis tentang pulau Amat Belanda. Panggilan manja yang tadinya renyah terdengar, berganti dengan mulut yang terkunci rapat. Saya harus berkali-kali keliling kampung untuk mendapat cerita tentang kehidupan pramuria dan PSK di sana, sebelum akhirnya bisa berbincang dengan Linda.

Linda ternyata baru sebulan berlabuh di Amat Belanda. Ia datang dari Karawang, Jawa Barat. Cerita manis dari orang yang mengajaknya, bahwa Pulau Amat Belanda sangat ramai dan menawarkan penghasilan yang banyak, membuat ia tergiur. Dimantapkanlah niatnya untuk menyabung nasib di tempat yang jauhnya beribu-ribu mil dari rumahnya.

Ternyata, pulau Amat Belanda sangat jauh dari apa yang ia bayangkan. Tak ada gemerlap kota. Tak ada mal ataupun pusat hiburan seperti di Jakarta. Ia merasa tertipu. Hatinya patah.

Ia kecewa bukan karena jatuh ke lokalisasi. Tapi, ia menjerit karena pulau Amat Belanda kondisinya begitu memprihatinkan. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan cipratan dolar dari apek-apek Singapura. ‘’Kalau saya punya uang untuk pulang, saya tak mau ke sini lagi. Bawalah saya pergi, ada duit nggak,” tuturnya.

Linda masuk Pulau Amat Belanda karena ekonomi keluarganya terpuruk. Ia sudah empat kali menjanda. Di Karawang, ia harus menanggung dua anak yang beranjak remaja. Sepanjang hidupnya, ia mengaku banyak mengalami kegetiran. Empat kali perkawinannya gagal. Suaminya kawin lagi.

”Saya menjerit kalau ingat anak. Tapi saya percaya akan ada jalan. Saya percaya akan ada kisah manis nanti,” ucapnya.

Namun, tak semua PSK bernasib getir seperti Linda. Banyak juga yang enjoy menikmati hidup sebagai penghibur laki-laki hidung belang. Banyak yang malah mempertahankan eksistensinya dengan memasang susuk agar pesonanya tetap bisa menjerat laki-laki yang datang ke Pulau Amat Belanda.

Seperti yang dilakukan seorang PSK, sebut saja bernama Juwita. Ia memasang susuk agar tetap laku, meski tubuhnya tak lagi langsing seperti dulu. Juwita, mati-matian mempertahankan susuknya. Ia ketakutan setengah mati, saat ditawari temannya makan pisang emas. ”Jangan, jangan. Nanti, susuk saya lepas,” tukasnya.

Menurut seorang pemilik bar, apa yang dirasakan Linda ada benarnya jika melihat kondisi Pulau Amat Belanda yang sepi senyap. ”Yang kami punya hanyalah semangat bertahan hidup,” kata perempuan asal Sulawesi, itu.

Padahal dulu, katanya, Pulau Amat Belanda banyak menarik laki-laki. Tak hanya pria-pria tua Singapura atau biasa disebut apek yang datang. Pria lokal pun banyak yang bermalam. Dulu, penghuni bar di Amat Belanda juga banyak yang akhirnya dijadikan isteri oleh apek-apek atau pemuda lokal tadi. ”Banyak anak-anak sini yang kawin dan menetap di Belakang Padang. Bagi kami, tak masalah. Mereka kami lepas tanpa jaminan,” tuturnya.

Setiap akhir pekan, katanya, apek-apek yang sudah menikahi gadis bar tak lagi datang ke Amat Belanda. Tapi, langsung menemui isteri mereka yang ada di Belakangpadang. Di Belakangpadang mereka menyewa rumah untuk isterinya.

Menurut pemilik bar itu, minimnya perhatian pemerintah membuat Pulau Amat Belanda seperti kota mati. Tak ada pembinaan bagi para PSK di sana. Juga sudah beberapa tahun terakhir tak pernah ada penyuluhan. ”Pulau ini seperti dilupakan,” katanya.

Mengunjungi Pulau Amat Belanda tak hanya melihat kehidupan PSK. Ada banyak anak-anak yang sulit mendapatkan pendidikan. Bersekolah bagi anak-anak di Pulau Amat Belanda biayanya mahal. Mereka harus naik sampan atau pompong ke Belakangpadang, lalu naik becak atau ojek lagi. Karena di Amat Belanda tak ada sekolah. ”Untuk berobat gratis, kami juga harus ke Belakang Padang,” kata Calak, sang Ketua Kampung.

Sementara tak banyak yang bisa diharapkan warga Pulau Amat Belanda di tengah sepinya lokalisasi. ‘’Kami mau bercocok tanam, tanahnya tak ada. Mau bikin kerajinan, dari mana bahan bakunya. Mau ke laut juga susah,” tutur Calak.
Gambaran kemiskinan warga Pulau Amat Belanda, kata Calak, bisa dilihat dari banyaknya warga yang mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT). Dari 60 kepala keluarga yang ada, 24 di antaranya mendapatkan BLT. ‘’Itu karena datanya pakai data lama. Kalau dihitung lagi, bakal banyak yang berhak dapat BLT,” tukasnya.

Saat ini, kata Calak, warga Pulau Amat Belanda sangat berharap pada rencana pembangunan resort di Pulau Lengkana di seberang Pulau Amat Belanda. ”Mudah-mudahan cepat terealisasi dan kami juga merasakan dampaknya,” katanya. ***

Kategori: Batam

Mengunjungi Lokalisasi Pulau Amat Belanda 1

Juni 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lokalisasi Amat Belanda
Pulau Amat Belanda di Belakangpadang atau biasa disebut Pulau Babi sempat sangat terkenal di awal tahun 90-an. Di sanalah, berdiri sebuah lokalisasi yang biasa dikunjungi warga Singapura dan pelaut. Kini setelah 18 tahun berlalu, detak kehidupan Pulau Amat Belanda hampir mati.

Pulau Amat Belanda merupakan perkampungan berpenduduk sekitar 60 kepala keluarga. Pulau itu masuk wilayah Kelurahan Sekanak Raya, tepatnya di RT 03 RW 04. Luas pulau yang dulu juga pernah menjadi kawasan ternak babi itu tak diketahui pasti. Pasalnya, rumah-rumah di sana berdiri di atas laut mengelilingi pulau itu. Yang benar-benar bisa disebut darat, mungkin hanyalah segundukan bukit tempat berdirinya surau Nurul Iman.
(lagi…)

Kategori: Batam

Mobil Kecelakaan

Juni 16, 2008 · 1 Komentar

mobil-mobil parkir di BatammSetiap bulan, rata-rata lebih dari sepuluh kecelakaan terjadi di jalan raya. Korban meninggal, hingga akhir Agustus lalu mencapai 40 orang. Banyak di antara para pemilik mobil yang bertabrakan, tak mengambil lagi mobilnya di Poltabes Barelang. Seiring berlalunya waktu, puluhan mobil itu menumpuk dan menjadi rongsokan besi tua.
******
Sebuah cover kaset original sountrack film Heart tergeletak di jok depan Isuzu Panther warna merah yang terparkir di antara tumpukan mobil-mobil bekas kecelakaan di samping Mapoltabes Barelang. Tak ada barang lain di dalam mobil itu, selain pecahan kaca dan bekas tape mobil yang dibongkar.

Cover itu menjadi saksi bisu kecelakaan mobil bernomor BM 1019 HB itu. Sekaligus memberi tanda bahwa Isuzu Panther itu setidaknya baru mengalami kecelakaan di rentang waktu empat bulan terakhir ini, sesuai dengan jadwal peluncuran film Heart, pertengahan April silam.

Isuzu Panther itu sendiri sudah rusak dan ringsek di sana-sini. Kaca depan sudah tak ada lagi. Begitu juga di bagian samping dan belakang. Ceceran pecahan kaca terlihat di bagian pintu dan jendela mobil. Lampu mobil juga sudah pecah dan sebagian sudah tak utuh lagi. Ban bagian belakang pecah. Velg-nya juga bernasib sama.

Tak jauh dari Panther itu, sebuah taksi berplat kuning juga bernasib sama. Sebagian body mobil sudah berkarat dan mesinnya juga aus terkena hujan dan panas. Hampir tak ada lagi bagian yang bisa difungsikan pada taksi itu, selain harus rela disebut sebagai besi tua.
(lagi…)

Kategori: Batam

Pulau Puteri, Pulau Terluar Batam

Juni 15, 2008 · 1 Komentar

di ujung indonesia
Tak setenar pulau Nipa, pulau Puteri termasuk salah satu pulau terluar Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura. Pulau ini bentuknya memanjang kira-kira sepanjang 199 meter dengan garis tengahnya tak lebih dari 50 meter. Setiap akhir pekan sering dikunjungi wisatawan lokal. Konon, pulau ini sering meminta tumbal pemuda lajang.
******
Bayang-bayang gedung pencakar langit Singapura terlihat samar. Langit yang berawan, Minggu (8/6) pagi, membuat lekuk-lekuk bangunan itu tak bisa dilihat jelas dari kejauhan 12 mil di pulau Puteri, Nongsa. Tapi, berdiri di bibir pantai pulau Puteri, kita bisa tetap menikmati aroma perbatasan yang kental.

Gedung pencakar langit di seberang timur tampak gagah menantang. Sementara di sebelah barat, rumah-rumah panggung dan semi permanen di bibir pantai Nongsa seperti lemah berdiri. Dua pemandangan yang kontras itu bisa kita nikmati di satu pijakan, di pulau Puteri.
(lagi…)

Kategori: Batam

Perpustakaan Daerah Menyedihkan

Juni 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nina ND (30-an), warga Perumahan Centra Melati, menatap lekat-lekat novel bersampul biru di rak buku. Tangannya bergerak mengambil novel itu, membaca sinopsisnya sebentar, kemudian meletakkan novel karya Nora Robert, itu ke pangkuannya.

”Saya suka novel terjemahan. Setiap kali ada duit, saya pasti beli,” tuturnya, di toko buku Gramedia BCS.

Rabu (21/5) siang itu, merupakan kunjungan ketiga Nina ke Gramedia di bulan Mei. Setiap kali ke sana, ia pasti membawa pulang dua tiga buku. Favoritnya, novel terjemahan dan buku memasak. Seperti kemarin, misalnya, ia membeli novel dan buku memasak.

Nina lancar menyebut nama pengarang novel favoritnya. Ada John Grisam, Nora Robert, Eric Seagal, Sandra Brown dan lain-lain. Koleksinya juga sudah ratusan. ”Saya letakkan saja di kotak. Saya tak punya tempat khusus di rumah,” katanya.
(lagi…)

Kategori: Batam

Lima Tahun Menyapu Jalan Batam

Juni 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

petugas kebersihan
Pagi baru merekah, Magdalena (43) sudah meninggalkan rumahnya di ruli belakang Komplek Pengairan Otorita Batam, Seiharapan. Berbekal sapu bergagang panjang di bahu dan plastik di tangan, ia berangkat ke simpang Seiharapan untuk menyapu jalan.

Itulah aktivitas sehari-hari Magdalena, janda beranak dua yang sejak lima tahun terakhir menjadi petugas kebersihan di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Batam. Seperti Selasa (3/6) kemarin, ia menyapu daun-daun yang gugur di sepanjang jalan dari simpang Seiharapan hingga ke persimpangan menuju Kartini I.

Peluh menetes di wajah Magdalena. Sejak pukul enam pagi, ia sudah bekerja menyapu kotoran-kotoran di sepanjang jalan yang menjadi tanggung jawabnya. Pekerjaan Magdalena baru berakhir pukul 12 siang.

Namun, wanita kelahiran Lembata Flores itu tak mengeluh. Ia mengaku sudah terbiasa. Rasa lelah menyapu jalan, sudah ia anggap seperti rasa lelah saat berolah raga atau menari. ”Awal-awalnya sih capek. Sekarang sudah seperti main-main saja,” katanya.

Magdalena menjadi penyapu jalan sejak tahun 2003. Saat itu, ia digaji harian Rp23 ribu per hari. Sekarang, ia sudah mendapatkan gaji bulanan. Besarnya, Rp960 ribu atau sesuai dengan UMK Batam.
(lagi…)

Kategori: Batam

Kehidupan Siswa Pesisir

Juni 15, 2008 · 1 Komentar

anak pesisirDemi masa depan. Itu alasan yang melatarbelakangi kegigihan siswa-siswa di kawasan pesisir (hinterland) Batam menyeberangi bermil-mil lautan dan berkilometer daratan untuk sekolah. Di tengah keterbatasan, cita-cita jadi dokter pun dipatri.
*****
Udara pantai yang dingin menyapa penduduk Pulau Nguan, Galang, Selasa (8/4) pagi. Jam menunjukkan pukul lima pagi, seperti biasa Sapri (17) sudah terbangun. Siswa kelas 2 SMAN 10 Batam di Sijantung itu menguap sebentar, merasakan dingin yang segar.

Sapri kemudian beranjak menuju bagian belakang rumahnya. Mengambil air wudhu, dan salat subuh. Setelah itu, ia meregang-regangkan tangan dan kakinya, sebuah kebiasaan rutin yang ia lakukan sebelum berangkat sekolah.

Usai sarapan, ia bergegas ke pelantar kayu tempat penambang pompong menunggu. Ada enam siswa lain yang sudah ada di pelantar. Tujuannya sama, menuju pelabuhan kecil di kawasan keramba kerapu di seberang pulau Nguan.

Sekitar 20 menit di atas pompong atau sampan bermesin tempel, rombongan Sapri tiba di darat. Sapri merogoh koceknya, mengeluarkan selembar uang seribu rupiah kepada penambang pancung. Uang seribu rupiah itu merupakan ongkos naik pancung anak-anak sekolah pulau Nguan.

Dari keramba kerapu, mereka mendaki perbukitan rendah. Kali ini mereka jalan kaki ke pinggir jalan beraspal, menunggu bus sekolah gratis yang lewat setiap pagi. Sejak dua hari ini, Sapri dan anak-anak pesisir lainnya menggunakan bus sekolah gratis dari Pemko Batam. Untuk anak-anak pulau Nguan, titik penjemputannya di pinggir jalan, simpang Pulau Nguan.
(lagi…)

Kategori: Batam

Adipura

Juni 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya membayangkan sebuah senyum yang mengembang. Saya membayangkan sebuah tawa lepas. Saya membayangkan kegembiraan yang membuncah. Saya membayangkan rombongan Batam yang dipimpin Wali Kota Ahmad Dahlan berfoto ria di sudut-sudut istana negara.

5 Juni 2008 ini, Batam kembali mendapatkan piala Adipura. Sebuah penghargaan yang diberikan kepada kota yang berhasil mengelola dan menjaga kebersihannya. Hari ini, piala itu merupakan piala kedua. Besok, pasti akan diarak keliling kota.

Saya menulis soal Adipura ini, sebagai bentuk apresiasi saya pada Kadis Pertamanan dan Kebersihan Batam Azwan. Ia beberapa kali mengirim SMS dan mengabarkan Batam dapat piala Adipura lagi. ”Saya tak bisa tidur. Nunggu penyerahan piala Adipura besok.”

Saya tahu, piala Adipura baginya sangat berarti. Bukan karena di tangan dia, Batam bisa meraih dua kali Adipura. Tapi, juga dengan Adipura kerja-kerja keras dia bisa dinilai dengan kasat mata.

Saat para kadis lain di Pemko Batam sedang menyeruput kopi manis dan jajanan hangat di pagi hari, Azwan sudah bermandi peluh di jalanan. Ia tipe kadis pekerja keras. Terlepas beragam pendapat miring soal layak atau tidaknya Batam meraih Adipura, Azwan tetaplah sosok pekerja.

Saya teringat, saat Azwan didemo sejumlah warga karena memacak gambar tengkorak lambang bajak laut di sebuah kantor kelurahan. Gambar bajak laut itu dipasang Azwan sebagai bentuk ”protes”-nya, karena kelurahan itu ia nilai terkotor.  Ia berharap setelah itu, ada yang berubah.

Lalu, entah kenapa saya teringat akan pertanyaan seorang anggota Dewan. Kalau Batam dapat Adipura lagi, apa keuntungannya buat Batam? ”Jangan-jangan, kita hanya memburu Adipura, tapi mengabaikan pelayanan pada masyarakat.” Jawaban itu keluar sendiri dari mulut anggota Dewan itu.

Tapi, biarlah pertanyaan-pertanyaan soal layak atau tidaknya Batam mendapat Adipura, menjadi perdebatan tersendiri. Saya hanya ingin membayangkan semua senyuman lepas. Saya hanya ingin membayangkan, tahun depan, pasti piala Adipura itu akan dijadikan lagi sebagai kebanggan bagi Wali Kota di tahun ketiga kepemimpinannya. ”Dua tahun jadi Wali Kota, dua kali Batam dapat Adipura.” Selamat Pak Wali. Selamat Pak Azwan.*****

Kategori: Batam · sosial

Jembatan Barelang

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah hampir sembilan tahun berdiri, Jembatan Barelang yang dibiayai lebih dari Rp400 milyar tak kunjung memberi manfaat luar biasa pada wilayah Rempang-Galang yang dirangkai enam jembatan itu. Jembatan ini baru sekadar jadi ”maskot”, memperkenalkan Batam ke dunia luar. Selebihnya, tempat para penjaja makanan mencari rezeki atau tempat warga bercengkrama.
****
Awan hitam menaungi jembatan Tengku Fisabilillah, Minggu (27/5/2007) tengah hari. Sejumlah muda-mudi terlihat membelakangi jembatan I tersebut sambil memandangi laut biru di bawahnya yang mengalir tenang. Puluhan sepeda motor terparkir di pinggir jembatan, terselip di antara sejumlah mobil yang berhenti di jembatan itu.

Di antara sejumlah warga yang berpose mengabadikan momen kunjungan mereka, Syafri (33) warga Seipanas sibuk melayani pembeli rujak buah di gerobaknya. Setiap minggu, pria dengan dua anak itu selalu menjajakan rujak buah di jembatan I itu. Alasannya, karena di hari Minggu itu jembatan tersebut dipadati pembeli.

”Paling enak kalau cuacanya seperti ini. Mendung, tapi tak hujan. Orang-orang akan lebih ramai datang. Lautpun tenang, pasti banyak yang mancing,” tukas Syafri yang mengaku rujaknya bisa laku Rp400 ribu setiap hari Minggu.

Syafri tak membuang-buang waktu. Setiap kali selesai melayani pembeli, ia langsung beredar lagi mengelilingi jembatan sepanjang 642 meter dengan ketinggian 38 meter dari permukaan laut. Bersama Syafri ada sejumlah penjual buah lain dan penjual kepiting goreng. Mereka bertahun-tahun mencari nafkah dari ramainya kunjungan ke jembatan ini.
(lagi…)

Kategori: Batam

Hidup di Tengah Sampah

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagian besar warga Batam bisa protes ke Dinas Pasar dan Kebersihan, kalau tumpukan sampah di perumahan mereka tak diangkut. Namun, di Kampung Agas Tanjunguma berton-ton sampah yang menumpuk di sela-sela rumah panggung mereka, seakan sudah menjadi teman abadi mereka sejak tiga tahun terakhir. Setiap kali diangkat, sampah-sampah itu datang kembali.
*****
Tiga anak kecil berkejar-kejaran di atas pelantar yang tiangnya sudah terlihat lapuk di makan usia, Kamis (18/1). Anak-anak Kampung Agas tersebut berlari tanpa takut, meski tiang-tiang tersebut bergetar akibat hentakan kaki mereka. Di persimpangan pelantar, mereka berhenti. Lalu turun ke laut, yang kemarin kebetulan airnya sedang surut.

Laut yang mereka injak, bukanlah laut dengan pasir putih dan berair biru. Namun, laut dengan berton-ton sampah rumah tangga seperti sampah plastik. Sampah-sampah itu menebar aroma tak sedap, tapi anak-anak kecil itu tak mempedulikannya. Mereka sudah terbiasa dengan sampah-sampah itu.

Menurut Yusmidar (42) warga Kampung Agas RT 5 RW 4 Tanjunguma, tumpukan sampah-sampah yang hampir menghampar di seluruh Kampung Agas tersebut sudah ada sejak tiga tahun terakhir. Bila hujan turun atau air laut pasang, sampah-sampah itu mengambang menimbulkan aroma busuk.

”Sudah 12 tahun saya tinggal di sini. Baru tiga tahun terakhir, sampah-sampah ini datang. Biasanya di musim kemarau, sampah-sampah itu kami angkut dan kami bakar di belakang. Namun, karena sampah terus datang, kami tak sanggup lagi,” ujar penjual jajanan pasar itu.
(lagi…)

Kategori: Batam · getir · sosial

Penjualan Bayi ke Singapura

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Beli Rp6 Juta, Dijual ke Singapura Rp30 Juta

Polsekta Lubukbaja Barelang, Senin (9/1/2006), mengamankan empat bayi yang sedianya bakal dijual ke Singapura. Bersama mereka, Polsekta Lubukbaja juga mengamankan lima wanita yang diduga terlibat dalam penjualan bayi itu.

Tangis bayi terdengar bersahutan dari lantai dua markas Polsekta Lubukbaja Batam, Senin (9/1) petang. Tangis bayi itu keluar dari dua bayi laki-laki, yang tergeletak di atas meja bilyard. Dua bayi lain, terlihat tenang menatap sejumlah polisi yang memperhatikan mereka.

Suasana Polsekta Lubukbaja petang itu memang tak seperti biasa. Polisi-polisi yang biasanya berwajah tegang, petang itu tak henti-hentinya tersenyum menatap ulah para bayi itu. Bayi-bayi tak berdosa berumur sekitar satu hingga dua bulan itu, diamankan polisi dari tangan sindikat penjualan bayi yang sudah beroperasi setahun terakhir ini di Batam di Perumahan Ramandah Indah Lubukbaja Blok E nomor 6.

Meski mendapatkan informasi ada sindikat penjualan bayi di Batam, awalnya, Polsekta Lubukbaja kesulitan membongkar kasus itu. Pasalnya, A Hua (44) yang disebut-sebut sang informan sebagai pelaku utaman penjualan bayi itu tak mau bicara, saat diamankan dari sebuah rumah di Kampung Utama Batam bersama seorang bayi laki-laki berumur dua bulan yang diakuinya sebagai anak angkatnya.

Sekitar enam jam lebih, A Hua diperiksa, akhirnya ia mengaku bayi yang digendongnya adalah anak orang lain yang rencananya akan ia jual ke A Kik (30-an) seharga Rp6 juta. ‘’Ia kemudian menunjukkan tempat bayi lainnya yang sudah ia kumpulkan,’’ kata Kanit Reskrim Polsekta Lubukbaja Iptu Taufik Hidayat.

Jajaran Polsekta Lubukbaja kemudian bergerak ke Perumahan Ramanda Indah, Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam, tempat yang ditunjuk A Hua. Di sana, polisi bertemu A Kik. Namun, seperti A Hua, A Kik awalnya tak mengaku juga. Tapi polisi yang juga menemukan tiga bayi bersama tiga pengasuhnya tak percaya begitu saja. Mereka kemudian digiring ke Polsekta Lubukbaja.

Ternyata, pertahanan A Kik tak sekuat A Hua. Ia langsung mengakui kalau ia sudah dua kali mengirimkan bayi ke Singapura dalam setahun terakhir ini. Kepada penyidik A Kik mengaku membeli bayi-bayi itu seharga Rp6 juta dan ia menjualnya lagi seharga Rp30 juta ke Singapura.

Sebelum dijual ke Singapura, bayi-bayi itu dirawat di rumah A Kik di Ramanda Indah. A Kik tak sendirian merawat bayi-bayi itu, ia mempekerjakan pembantu yang ia gaji Rp25 ribu per hari. Bayi-bayi itu harus sehat, karena bila sakit-sakitan, tak akan laku di jual ke Singapura.

Meski mengakui sebagai penjual bayi, A Hua bungkam soal asal bayi-bayi itu ia dapatkan. Saat dikonfrontasi dengan A Kik, A Hua juga berkelit. Perempuan yang hanya fasih berbahasa mandarin dan terpatah-patah dalam berbahasa Indonesia itu memberikan keterangan berbelit-belit. Wartawan yang mencoba mewawancarainya juga tak mendapatkan jawaban pasti.

Hingga kemarin, penyidik masih memeriksa para tersangka, termasuk A Hua. Bayi-bayi itu sebagian ternyata memiliki akte kelahiran. Ini dilakukan A Kik untuk mengelabui, agar tak ketahuan bayi-bayi yang ia simpan di rumahnya adalah bayi korban trafiking.

Di Batam, kasus trafiking sudah lagi bukan hal aneh. Banyak wanita yang dijual untuk dipekerjakan sebagai wanita pekerja seksual ke Singapura. Namun, penjualan bayi dengan bukti empat bayi seperti yang diungkap Polsekta Lubukbaja dalam catatan koran ini, merupakan yang terbesar di Batam.

Menurut Kapolsek Lubukbaja AKP Karimuddin Ritonga SIK, pihaknya menduga bayi-bayi yang telah dijual oleh A Hua dan kawan-kawannya itu lebih banyak dari yangg diamankan polisi. ‘’Ini baru yang kita amankan. Informasi lain, masih ada anak lain yang tinggal bersama tersangka yang diduga adalah bayi yang tak laku di jual ke Singapura. Anak itu sekarang sudah besar, dan karena tidak laku, diakui tersangka sebagai anak angkatnya,’’ kata Karimuddin.

Kemarin, bayi-bayi itu dirawat keluarga anggota Polsekta Lubukbaja. Sebelumnya, polisi pun mendatangkan ibu-ibu yang merupakan tetangga-tetangga anggota kepolisian untuk membantu mengasuh para bayi itu. Diantara warga Batam, sudah ada yang menghubungi penyidik untuk mengadopsi bayi-bayi tak berdosa itu.
*****
Bayi-bayi mungil yang berhasil diamankan Polsekta Lubukbaja Barelang, Senin (9/1) lalu, kini terlihat lebih segar. Dalam asuhan keluarga anggota kepolisian yang merawatnya, bayi-bayi itu menemukan kehangatan keluarga.

Wartawan koran ini, kemarin menemui salah satu keluarga yang mengasuh bayi korban trafiking itu di asrama polisi Baloi Batam. Bayi perempuan berumur sekitar satu bulan lebih itu, oleh keluarga tersebut diberi nama puteri. ”Karena perempuan, kami memanggilnya Puteri,” kata Bintara anggota Polsekta Lubukbaja yang enggan disebut namanya itu.

Puteri, terlihat lebih segar. Pancaran matanya terlihat bercahaya, menatap pasangan muda yang merawatnya itu. Puteri juga mulai akrab dengan keluarga barunya. Beberapa kali ia dicandai, dan matanya sering kali tak lepas menatap isteri bintara itu.

”Dia tak rewel. Sejak pertama kali kami rawat, ia langsung akrab dengan suasana rumah ini. Kalau malam, tak suka nangis,” kata isteri sang bintara sambil tersenyum menggendong puteri.

Bak mengerti ucapan orang tua barunya, Puteri terlihat tersenyum. Keluarga itu, kini juga punya kesibukan baru. Mereka menyediakan baju-baju dan keperluan bayi lain, seperti popok dan susu bayi. Kebetulan, keluarga bintara itu belum dikaruniai anak.

Tiga bayi lain, dua laki-laki dan satu perempuan yang umurnya tak jauh beda dirawat keluarga polisi lainnya. Bayi-bayi itu dipastikan mendapatkan perawatan terbaik layaknya anak kandung sendiri.

Kapolsekta Lubukbaja Batam AKP Karimuddin Ritonga mengatakan, empat bayi itu diasuh oleh orang tua barunya itu untuk sementara waktu. ”Bayi-bayi itu mendapatkan perawatan yang baik. Soal adopsi anak, nantinya harus mengikuti prosedur dan ketentuan yang ada,” kata Karimuddin.

Sementara itu, A Kik ,30, salah satu tersangka penjualan bayi ke Singapura kemarin masih terus diperiksa penyidik Polsek Lubukbaja. Kemarin, A Kik menangis tersedu-sedu saat penyidik menyampaikan padanya ia telah melanggar pasal 79 dan 83 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun.

Wanita keturunan Tionghoa itu, menundukkan muka, mengusap air matanya dengan tangan kanannya. Ia terduduk lemas di kursi berhadapan dengan penyidik yang memintainya keterangan. Saat pertama kali diwawancarai wartawan begitu ditangkap, A Kik tak memberikan jawaban mengenai bagaimana caranya ia menjual bayi-bayi itu.

Kanit Reskrim Polsekta Lubukbaja Iptu Taufik Hidayat mengatakan, pihaknya masih memintai keterangan mengenai asal mula bayi itu didapatkan dan modus operasi penjualan bayi yang diduga melibatkan sindikat besar itu.

Berita acara perkara (BAP) kasus penjualan bayi itu, kata Taufik, tak bisa cepat terselesaikan, karena banyaknya kunjungan ke Polsek Lubukbaja dari pihak dan instansi lain yang ingin mengetahui soal pengungkapan kasus penjualan empat bayi itu. ”Tolong, beri waktu dulu penyidik menyelesaikan BAP-nya. Sejak kemarin, tamu banyak berdatangan. Kami ingin BAP-nya cepat selesai, biar segera diserahkan ke kejaksaan,” katanya.

Keterangan sementara yang didapatkan penyidik, lanjut Taufik, bayi-bayi itu didapatkan dari Medan Sumetera Utara dan Tanjungpinang Kepulauan Riau. Beberapa saksi yang dimintai keterangan, kata Taufik, mengatakan, bahwa tersangka utama A Hua, 44, telah melakukan praktik jual beli bayi sejak tujuh tahun yang lalu.

”Namun, pengakuan tersangka baru setahun terakhir ini. Untuk tersangka A Kik ini mengaku baru dua kali menjual bayi ke Singapura. Bayi itu dibawa langsung menemui pembelinya, namun itu hanya pengakuan sementara. Soalnya pengakuan tersangka berubah-ubah,” tambahnya.

Sebelum mendapatkan pembeli, kata Taufik, bayi itu dirawat terlebih dahulu. A Kik mempekerjakan pengasuh bayi dengan upah per hari Rp25 ribu dan ada yang digaji Rp600 ribu per bulan.

Meski menduga ada sindikat besar dibalik para tersangka, Taufik mengatakan, masih menyelidikinya. Begitu juga soal bagaimana cara pembeli bayi di Singapura itu menghubungi A Kik. ”Itu yang ingin kami ketahui. Kasus ini melibatkan sindikat besar, mereka saling bungkam,” tambahnya.

Polsekta Lubukbaja pertama kali menangkap A Hua, 44, dengan seorang bayi laki-laki. Kemudian mereka mengamankan A Kik yang membeli bayi Rp6 juta dari A Hua dan menjualnya lagi Rp30 juta. Selain itu Polsek juga mengamankan tiga pengasuh bayi, masing-masing Tan, 40-an, A Miu, 30-an dan Amoi, 30-an yang diduga juga terlibat.

Selain itu, wartawan koran ini juga memantau rumah Blok E nomor 6 di Komplek Perumahan dan Pertokoan Ramada Indah Lubukbaja Batam, tempat dimana tiga bayi ditemukan. Kemarin, rumah bertingkat bercat kuning itu pintunya terbuka. Dua gadis muda, kira-kira berumur 18 dan 9 tahun, terlihat turun dari lantai dua rumah itu.

Wartawan koran ini yang mencoba menanyai dua gadis kecil itu, soal penghuni rumahnya, tak mendapatkan jawaban. Dua gadis itu hanya berujar pendek, ”Tak tahu.” Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan tak muncul lagi. Dari lantai atas rumah itu, terlihat seseorang mengintip dari balik jendela.

Sejumlah tetangga rumah tak terlihat. Hujan yang terus mengguyur Batam, sepertinya membuat mereka memilih berdiam di dalam rumah. Beberapa tukang bangunan yang bekerja di Blok E perumahan itu mengaku tak pernah melihat ada bayi dibawa keluar dari rumah itu.

”Saya tahunya dari koran dan TV, kalau rumah nomor enam itu dijadikan tempat penjualan bayi. Biasanya yang keluar rumah, ibu-ibu gemuk mengantar anak keluarga itu. Kalau bayinya tak pernah kelihatan,” kata Prayitno, 34, tukang bangunan asal Blitar Jawa Timur yang sudah 14 tahun tinggal di Batam itu.

Prayitno dan rekan-rekannya yang sedang mengerjakan rumah di Blok E nomor 1 mengaku sudah dua bulan tinggal di barak tukang bangunan di perumahan itu. Selama ini, kata Nasir, 31, teman Prayitno, warga di Perumahan Ramada cenderung menutup diri dan tak pernah terlihat bersosialisasi dengan tetangganya.

”Kebanyakan yang tinggal di perumahan ini, hanya ngontrak. Kadang ada yang hanya terlihat satu kali dalam sebulan. Yang ngontrak rumah ini, banyak warga Singapuranya,” katanya.******

Kategori: Batam · getir · sosial

Simpang Jam di Batam

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Simpang Jam

Simpang Jam

Nama Simpang Jam, sebuah persimpangan jalan empat arah dengan ciri khas jam dinding berdiri tegak di salah satu titiknya ini sangat populer di telinga warga metro. Entah karena saking populernya atau karena tak pernah ada plang nama jalan di kawasan Simpang Jam, tak banyak yang tahu ada tiga nama jalan dimulai dari Simpang Jam ini.
******
Ada Jalan Sudirman yang membentang sepanjang jalan dari Simpang Jam ke arah Nongsa hingga persimpangan jalan berikutnya yang dikenal dengan Simpang Kabil. Jalan ke arah Sekupang hingga simpang Seiharapan bernama Jalan Gajahmada. Sementara yang menuju Seraya bernama Jalan Yos Sudarso.

Satu titik lain menuju Batam Centre, hingga kini belum bernama. Jalan ke arah pusat pemerintahan Kota Batam ini lebih dikenal dengan nama perumahan atau komplek pertokoan yang berdiri sepanjang jalan raya menuju Batam Centre.

Namun nama-nama jalan yang menggunakan nama pahlawan itu tenggelam, kalah populer dibandingkan dengan nama simpang jalan, seperti Simpang Jam yang sudah kadung melekat di benak warga Batam. Para pendatang baru pun langsung familiar dengan nama Simpang Jam.

Lihat saja apa yang diucapkan para supir taksi atau supir metrotrans yang biasa mangkal di kawasan Mukakuning atau kawasan lain. Mereka pasti akan menyebut nama Simpang Jam saat hendak menawarkan tumpangan kepada para penumpangnya. Sang calon penumpang pun langsung mengerti.

Badrus (26) salah satu warga Mukakuning yang terbiasa naik taksi menuju Simpang Jam ini misalnya, tak pernah menyebut nama jalan lain jika hendak ke Sekupang dari Mukakuning. ”Ya biasa. Saya bilang ke Simpang Jam. Dari Simpang Jam saya naik taksi lagi ke Sekupang. Tinggal bilang Simpang Seiharapan saja. Kan di Batam tinggal nyebut nama simpangnya,” katanya.

Simpang Jam hanyalah salah satu contoh persimpangan yang namanya mengalahkan nama jalannya. Masih ada simpang lain, seperti Simpang Kuda di Seipanas atau Simpang Kabil. Bahkan nama Simpang rujak di Seraya, lebih populer dari pada nama Jalan Yos Sudarso.

Belum lagi, nama Simpang Dam di Mukakuning yang mengalahkan nama Jalan Suprapto. Simpang Lippo yang menggantikan nama Jalan Imam Bonjol. Bahkan, warga kini menyebut nama Simpang Indosat bagi persimpangan tiga Jalan Raden Patah dan Bunga Raya yang baru ditempati kantor PT Indosat sekitar tiga bulan terakhir ini.

Kebiasaan warga metro menyebut nama tempat dengan sebutan tempat itu, membuat nama jalannya hampir tak pernah disebut. Belum lagi, nama sebuah jalan sering berubah seiring dengan hadirnya sebuah komplek pertokoan atau perumahan baru di kawasan itu.

Tak hanya biasa menyebut nama kawasan, warga metro juga terbiasa menuliskan nama jalan di tokonya atau instansinya semaunya tanpa memperhatikan nama jalan yang telah diberikan pada kawasan itu.

Lihat saja di daerah Seipanas menuju Bengkong. Ada sebuah rumah sakit yang mencantumkan nama Jalan Raya Seipanas di plang nama rumah sakitnya, padahal di daerah itu jalannya bernama Jalan Laksmana Bintan. Di sebelahnya, ada toko yang mencantumkan nama Jalan Baloi Harapan di plang nama tokonya. Bahkan di sebelahnya lagi, ada warung yang mencantumkan nama Jalan Raya Bengkong Indah di bawah nama warungnya.

Jadinya, di sepanjang Jalan Laksmana Bintan itu, ada empat nama jalan yang terpampang. Padahal sejumlah instansi pemerintah di Seipanas seperti SMPN 6 atau Puskesmas Seipanas, jelas memampangkan nama Jalan Laksmana Bintan di plang namanya.

Sementara di sepanjang jalan raya Tiban, nama Jalan Gajahmada malah sama sekali tak tercantum. Komplek pertokoan atau perumahan lebih senang memakai nama kompleknya dari pada nama jalannya. Lihat saja, komplek pertokoan di Tiban Centre. Bahkan, kantor KPU Provinsi Kepri, memasang alamat Tiban Centre di plang namanya tanpa menyebut Jalan Gajahmada.

Terbiasanya menyebut nama kawasan tanpa nama jalan itu, juga terlihat di hampir semua surat yang dikirim lewat PT Pos Indonesia. ”Kalau itu sudah biasa. Yang penting ada nama Komplek dan nomor rumahnya, pasti suratnya kami antar,” kata Rahman Supervisor Antaran/Ekspedisi PT Pos Indonesia Batam.*****

Kategori: Batam · sosial

Sepinya Kotak Pengaduan

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bertahun-tahun sudah, Pemko Batam menyediakan kotak saran atau pengaduan bagi warga Batam di instansi-instansi pemerintah. Namun sampai kini, kotak-kotak saran itu tak disentuh masyarakat. Kotak-kotak saran itu akhirnya berisi debu, karena warga lebih memilih mengadu lewat SMS atau media.
******
Kotak saran itu terpampang jelas di sebelah kiri dua pintu masuk Kantor Wali Kota Batam di Batam Centre. Kotak transparan berbentuk persegi empat yang mengecil di bagian bawah itu, seperti menantang warga Batam untuk memasukkan saran atau pengaduan ke Wali Kota Batam Ahmad Dahlan.

Ukuran tulisannya lumayan besar. Di atas kotak tertulis, ”Pemko Batam. Kami melayani saran/pengaduan yang disertai identitas diri. Setiap identitas dijamin kerahasiaannya”. Dan di bagian bawah kotak tertulis ”Kotak saran”.

Setiap mereka yang masuk ke kantor wali kota, pasti pernah melihat kotak saran tersebut. Namun meski tampil mencolok, kotak dalam papan warna merah itu tak terlalu diperhatikan warga yang lalu lalang mengurus keperluan di kantor tersebut.

Kotak itu dicueki, belum ada yang mau memasukkan saran atau pengaduan ke dalamnya. Padahal, mungkin sudah ribuan kali kotak saran itu dilalui warga. Ironisnya, karena tak pernah disentuh warga, kotak saran itu berdebu.
(lagi…)

Kategori: Batam · sosial

Hari Terakhir Neng Fitryah

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seandainya Toyota Previa yang baru sepekan lalu dibeli David Eng itu bisa distater Husen (38), Kamis (31/5/2007) pagi itu, mungkin Fitryah tak akan ditemukan tewas di dalam mobil itu. Husen supir pribadi David Eng suami Fitryah, pagi itu bermaksud menggunakan mobil tersebut untuk mengantar bosnya ke kawasan industri galangan kapal Tanjunguncang. Namun, mobil itu tak mau dihidupkan. Husen kemudian mengantar David menggunakan sedan Lexus, mobil kedua David.

Sementara Fitryah, masih tergolek di tempat tidur. Beberapa menit setelah David berangkat kerja, Neng bangun dari tidurnya. Pukul 09.00 WIB, Neng Fitryah ke pasar Aviari ditemani Ponatun (43) pembantunya. Di pasar itu, tak seperti biasa, Neng membeli seekor ayam dan berpesan kepada pembantunya kalau ayam itu akan ia masak sendiri.

”Ayam ini tak usah disentuh. Nanti akan saya panggang, bersama tumisan jagung dan genjer ini,” kata Neng kepada Ponatun. Ponatun kemudian memasukkan ayam, empat buah jagung dan dua ikat sayur genjer pesanan Neng ke lemari es. Sampai kini pun, pesanan Neng itu tak disentuh.

Kata-kata itu menjadi kata terakhir yang didengar Ponatun. Pukul 10.00 WIB, Neng pergi meninggalkan rumah makannya di ruko Fanindo Tanjunguncang. Neng kemudian ditemukan meregang nyawa di dalam mobil Toyota Previa itu, sekitar pukul 11.30 WIB.
(lagi…)

Kategori: Batam · getir · sosial

Nasib Perpustakaan Daerah

Juni 1, 2008 · 1 Komentar

Nina ND (30-an), warga Perumahan Centra Melati, menatap lekat-lekat novel bersampul biru di rak buku. Tangannya bergerak mengambil novel itu, membaca sinopsisnya sebentar, kemudian meletakkan novel karya Nora Robert, itu ke pangkuannya.

”Saya suka novel terjemahan. Setiap kali ada duit, saya pasti beli,” tuturnya, di toko buku Gramedia BCS.

Rabu (21/5) siang itu, merupakan kunjungan ketiga Nina ke Gramedia di bulan Mei. Setiap kali ke sana, ia pasti membawa pulang dua tiga buku. Favoritnya, novel terjemahan dan buku memasak. Seperti kemarin, misalnya, ia membeli novel dan buku memasak.

Nina lancar menyebut nama pengarang novel favoritnya. Ada John Grisam, Nora Robert, Eric Seagal, Sandra Brown dan lain-lain. Koleksinya juga sudah ratusan. ”Saya letakkan saja di kotak. Saya tak punya tempat khusus di rumah,” katanya.
(lagi…)

Kategori: Batam

Ketua Golkar Diserang

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Break! Taksi warna putih itu tiba-tiba menyalip dan berhenti mendadak di depan mobil Mistubishi Galant BM 186 XF yang dikendarai AT Sinaga, Zainal Abidin dan isterinya Tini. Di keremangan malam, di jalan menurun ke Tiban V, Sekupang, itu Zainal kaget bukan kepalang. Begitu juga dengan Sinaga yang memegang stir mobil, tak kalah kagetnya.

”Astagfirullah,” kata Zainal mengusir keterkejutannya. Di saat bersamaan, Sinaga berteriak, ”Apa, tuh,” sambil menginjak rem mobil.

Zainal mengira ada kucing yang melintas, sehingga mobil di depannya berhenti mendadak. Ia baru saja akan mendongak, ketika tiba-tiba saja suara benturan benda keras menghantam kaca pintu mobil Sinaga dari tiga sisi. Di depan, kaca pintu samping kanan dan kiri jebol. Di belakang, di samping kiri, tempat dimana Tini duduk juga jebol.

Rupanya, ada satu mobil lagi yang memepet mobil mereka. Karena orang-orang yang memecahkan kendaraan mereka tak keluar dari taksi yang menyalip tadi. Tapi, muncul dari belakang.

Semuanya, seperti terjadi begitu saja. Teriakan seperti suara-suara menyuruh membunuh terdengar. Serpihan-serpihan kaca berhamburan dari segala sisi. Tiga penumpang mobil Mitsubishi bertambah panik, suasana begitu mencekam. Lalu, salah seorang penyerang di sebelah kanan mengayunkan parang panjang mengarah ke leher Sinaga. (lagi…)

Kategori: Batam

Kehidupan Para Ajudan

Juni 1, 2008 · & Komentar

sby-dan-ajudanSeorang ajudan, tak sekadar menjadi pembantu atau bodyguard. Ia tak hanya bertugas memastikan semua keperluan ”tuannya” terlayani dengan baik. Tapi juga bisa menjelma menjadi teman diskusi. Bagaimana para ajudan Gubernur dan Wali Kota menjalani hari-harinya?
*****
Sabtu siang itu, di pertengahan November tahun lalu, matahari sedang terik-teriknya. Di pelataran Quran Centre, Sekupang, sejumlah orang berdiri menunggu. Mereka menunggu kedatangan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah yang berencana sidak pembangunan asrama dan gedung perpustakaan QC, itu.

Beberapa menit kemudian, sebuah sedan hitam metalik yang dinaiki orang nomor satu di Kepri itu berhenti di pelataran tersebut. Junaidi, sang ajudan keluar lalu membuka pintu dengan sikap takzim. Ia menunduk, sambil mempersilakan sang Gubernur beranjak dari tempat duduknya di jok belakang.

Ismeth lalu berjalan diiringi Mahadi Rahman, Direktur QC memantau pembangunan perpustakaan dan asrama itu. Rona wajahnya mendadak berubah merah. Ia terlihat marah, melihat pembangunan dua gedung itu yang molor.

Dipanggilnya kontraktor proyek itu. Wartawan yang melihat peristiwa itu mendekat, ingin mendengar kemarahan Ismeth. Namun, Ismeth melarang. Junaidi pun bertindak. Ia ikut melarang wartawan mendengar pembicaraan Ismeth dengan kontraktor tersebut. (lagi…)

Kategori: Batam