seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Jembatan Barelang

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah hampir sembilan tahun berdiri, Jembatan Barelang yang dibiayai lebih dari Rp400 milyar tak kunjung memberi manfaat luar biasa pada wilayah Rempang-Galang yang dirangkai enam jembatan itu. Jembatan ini baru sekadar jadi ”maskot”, memperkenalkan Batam ke dunia luar. Selebihnya, tempat para penjaja makanan mencari rezeki atau tempat warga bercengkrama.
****
Awan hitam menaungi jembatan Tengku Fisabilillah, Minggu (27/5/2007) tengah hari. Sejumlah muda-mudi terlihat membelakangi jembatan I tersebut sambil memandangi laut biru di bawahnya yang mengalir tenang. Puluhan sepeda motor terparkir di pinggir jembatan, terselip di antara sejumlah mobil yang berhenti di jembatan itu.

Di antara sejumlah warga yang berpose mengabadikan momen kunjungan mereka, Syafri (33) warga Seipanas sibuk melayani pembeli rujak buah di gerobaknya. Setiap minggu, pria dengan dua anak itu selalu menjajakan rujak buah di jembatan I itu. Alasannya, karena di hari Minggu itu jembatan tersebut dipadati pembeli.

”Paling enak kalau cuacanya seperti ini. Mendung, tapi tak hujan. Orang-orang akan lebih ramai datang. Lautpun tenang, pasti banyak yang mancing,” tukas Syafri yang mengaku rujaknya bisa laku Rp400 ribu setiap hari Minggu.

Syafri tak membuang-buang waktu. Setiap kali selesai melayani pembeli, ia langsung beredar lagi mengelilingi jembatan sepanjang 642 meter dengan ketinggian 38 meter dari permukaan laut. Bersama Syafri ada sejumlah penjual buah lain dan penjual kepiting goreng. Mereka bertahun-tahun mencari nafkah dari ramainya kunjungan ke jembatan ini.
(lagi…)

Kategori: Batam

Hidup di Tengah Sampah

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagian besar warga Batam bisa protes ke Dinas Pasar dan Kebersihan, kalau tumpukan sampah di perumahan mereka tak diangkut. Namun, di Kampung Agas Tanjunguma berton-ton sampah yang menumpuk di sela-sela rumah panggung mereka, seakan sudah menjadi teman abadi mereka sejak tiga tahun terakhir. Setiap kali diangkat, sampah-sampah itu datang kembali.
*****
Tiga anak kecil berkejar-kejaran di atas pelantar yang tiangnya sudah terlihat lapuk di makan usia, Kamis (18/1). Anak-anak Kampung Agas tersebut berlari tanpa takut, meski tiang-tiang tersebut bergetar akibat hentakan kaki mereka. Di persimpangan pelantar, mereka berhenti. Lalu turun ke laut, yang kemarin kebetulan airnya sedang surut.

Laut yang mereka injak, bukanlah laut dengan pasir putih dan berair biru. Namun, laut dengan berton-ton sampah rumah tangga seperti sampah plastik. Sampah-sampah itu menebar aroma tak sedap, tapi anak-anak kecil itu tak mempedulikannya. Mereka sudah terbiasa dengan sampah-sampah itu.

Menurut Yusmidar (42) warga Kampung Agas RT 5 RW 4 Tanjunguma, tumpukan sampah-sampah yang hampir menghampar di seluruh Kampung Agas tersebut sudah ada sejak tiga tahun terakhir. Bila hujan turun atau air laut pasang, sampah-sampah itu mengambang menimbulkan aroma busuk.

”Sudah 12 tahun saya tinggal di sini. Baru tiga tahun terakhir, sampah-sampah ini datang. Biasanya di musim kemarau, sampah-sampah itu kami angkut dan kami bakar di belakang. Namun, karena sampah terus datang, kami tak sanggup lagi,” ujar penjual jajanan pasar itu.
(lagi…)

Kategori: Batam · getir · sosial

Penjualan Bayi ke Singapura

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Beli Rp6 Juta, Dijual ke Singapura Rp30 Juta

Polsekta Lubukbaja Barelang, Senin (9/1/2006), mengamankan empat bayi yang sedianya bakal dijual ke Singapura. Bersama mereka, Polsekta Lubukbaja juga mengamankan lima wanita yang diduga terlibat dalam penjualan bayi itu.

Tangis bayi terdengar bersahutan dari lantai dua markas Polsekta Lubukbaja Batam, Senin (9/1) petang. Tangis bayi itu keluar dari dua bayi laki-laki, yang tergeletak di atas meja bilyard. Dua bayi lain, terlihat tenang menatap sejumlah polisi yang memperhatikan mereka.

Suasana Polsekta Lubukbaja petang itu memang tak seperti biasa. Polisi-polisi yang biasanya berwajah tegang, petang itu tak henti-hentinya tersenyum menatap ulah para bayi itu. Bayi-bayi tak berdosa berumur sekitar satu hingga dua bulan itu, diamankan polisi dari tangan sindikat penjualan bayi yang sudah beroperasi setahun terakhir ini di Batam di Perumahan Ramandah Indah Lubukbaja Blok E nomor 6.

Meski mendapatkan informasi ada sindikat penjualan bayi di Batam, awalnya, Polsekta Lubukbaja kesulitan membongkar kasus itu. Pasalnya, A Hua (44) yang disebut-sebut sang informan sebagai pelaku utaman penjualan bayi itu tak mau bicara, saat diamankan dari sebuah rumah di Kampung Utama Batam bersama seorang bayi laki-laki berumur dua bulan yang diakuinya sebagai anak angkatnya.

Sekitar enam jam lebih, A Hua diperiksa, akhirnya ia mengaku bayi yang digendongnya adalah anak orang lain yang rencananya akan ia jual ke A Kik (30-an) seharga Rp6 juta. ‘’Ia kemudian menunjukkan tempat bayi lainnya yang sudah ia kumpulkan,’’ kata Kanit Reskrim Polsekta Lubukbaja Iptu Taufik Hidayat.

Jajaran Polsekta Lubukbaja kemudian bergerak ke Perumahan Ramanda Indah, Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam, tempat yang ditunjuk A Hua. Di sana, polisi bertemu A Kik. Namun, seperti A Hua, A Kik awalnya tak mengaku juga. Tapi polisi yang juga menemukan tiga bayi bersama tiga pengasuhnya tak percaya begitu saja. Mereka kemudian digiring ke Polsekta Lubukbaja.

Ternyata, pertahanan A Kik tak sekuat A Hua. Ia langsung mengakui kalau ia sudah dua kali mengirimkan bayi ke Singapura dalam setahun terakhir ini. Kepada penyidik A Kik mengaku membeli bayi-bayi itu seharga Rp6 juta dan ia menjualnya lagi seharga Rp30 juta ke Singapura.

Sebelum dijual ke Singapura, bayi-bayi itu dirawat di rumah A Kik di Ramanda Indah. A Kik tak sendirian merawat bayi-bayi itu, ia mempekerjakan pembantu yang ia gaji Rp25 ribu per hari. Bayi-bayi itu harus sehat, karena bila sakit-sakitan, tak akan laku di jual ke Singapura.

Meski mengakui sebagai penjual bayi, A Hua bungkam soal asal bayi-bayi itu ia dapatkan. Saat dikonfrontasi dengan A Kik, A Hua juga berkelit. Perempuan yang hanya fasih berbahasa mandarin dan terpatah-patah dalam berbahasa Indonesia itu memberikan keterangan berbelit-belit. Wartawan yang mencoba mewawancarainya juga tak mendapatkan jawaban pasti.

Hingga kemarin, penyidik masih memeriksa para tersangka, termasuk A Hua. Bayi-bayi itu sebagian ternyata memiliki akte kelahiran. Ini dilakukan A Kik untuk mengelabui, agar tak ketahuan bayi-bayi yang ia simpan di rumahnya adalah bayi korban trafiking.

Di Batam, kasus trafiking sudah lagi bukan hal aneh. Banyak wanita yang dijual untuk dipekerjakan sebagai wanita pekerja seksual ke Singapura. Namun, penjualan bayi dengan bukti empat bayi seperti yang diungkap Polsekta Lubukbaja dalam catatan koran ini, merupakan yang terbesar di Batam.

Menurut Kapolsek Lubukbaja AKP Karimuddin Ritonga SIK, pihaknya menduga bayi-bayi yang telah dijual oleh A Hua dan kawan-kawannya itu lebih banyak dari yangg diamankan polisi. ‘’Ini baru yang kita amankan. Informasi lain, masih ada anak lain yang tinggal bersama tersangka yang diduga adalah bayi yang tak laku di jual ke Singapura. Anak itu sekarang sudah besar, dan karena tidak laku, diakui tersangka sebagai anak angkatnya,’’ kata Karimuddin.

Kemarin, bayi-bayi itu dirawat keluarga anggota Polsekta Lubukbaja. Sebelumnya, polisi pun mendatangkan ibu-ibu yang merupakan tetangga-tetangga anggota kepolisian untuk membantu mengasuh para bayi itu. Diantara warga Batam, sudah ada yang menghubungi penyidik untuk mengadopsi bayi-bayi tak berdosa itu.
*****
Bayi-bayi mungil yang berhasil diamankan Polsekta Lubukbaja Barelang, Senin (9/1) lalu, kini terlihat lebih segar. Dalam asuhan keluarga anggota kepolisian yang merawatnya, bayi-bayi itu menemukan kehangatan keluarga.

Wartawan koran ini, kemarin menemui salah satu keluarga yang mengasuh bayi korban trafiking itu di asrama polisi Baloi Batam. Bayi perempuan berumur sekitar satu bulan lebih itu, oleh keluarga tersebut diberi nama puteri. ”Karena perempuan, kami memanggilnya Puteri,” kata Bintara anggota Polsekta Lubukbaja yang enggan disebut namanya itu.

Puteri, terlihat lebih segar. Pancaran matanya terlihat bercahaya, menatap pasangan muda yang merawatnya itu. Puteri juga mulai akrab dengan keluarga barunya. Beberapa kali ia dicandai, dan matanya sering kali tak lepas menatap isteri bintara itu.

”Dia tak rewel. Sejak pertama kali kami rawat, ia langsung akrab dengan suasana rumah ini. Kalau malam, tak suka nangis,” kata isteri sang bintara sambil tersenyum menggendong puteri.

Bak mengerti ucapan orang tua barunya, Puteri terlihat tersenyum. Keluarga itu, kini juga punya kesibukan baru. Mereka menyediakan baju-baju dan keperluan bayi lain, seperti popok dan susu bayi. Kebetulan, keluarga bintara itu belum dikaruniai anak.

Tiga bayi lain, dua laki-laki dan satu perempuan yang umurnya tak jauh beda dirawat keluarga polisi lainnya. Bayi-bayi itu dipastikan mendapatkan perawatan terbaik layaknya anak kandung sendiri.

Kapolsekta Lubukbaja Batam AKP Karimuddin Ritonga mengatakan, empat bayi itu diasuh oleh orang tua barunya itu untuk sementara waktu. ”Bayi-bayi itu mendapatkan perawatan yang baik. Soal adopsi anak, nantinya harus mengikuti prosedur dan ketentuan yang ada,” kata Karimuddin.

Sementara itu, A Kik ,30, salah satu tersangka penjualan bayi ke Singapura kemarin masih terus diperiksa penyidik Polsek Lubukbaja. Kemarin, A Kik menangis tersedu-sedu saat penyidik menyampaikan padanya ia telah melanggar pasal 79 dan 83 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun.

Wanita keturunan Tionghoa itu, menundukkan muka, mengusap air matanya dengan tangan kanannya. Ia terduduk lemas di kursi berhadapan dengan penyidik yang memintainya keterangan. Saat pertama kali diwawancarai wartawan begitu ditangkap, A Kik tak memberikan jawaban mengenai bagaimana caranya ia menjual bayi-bayi itu.

Kanit Reskrim Polsekta Lubukbaja Iptu Taufik Hidayat mengatakan, pihaknya masih memintai keterangan mengenai asal mula bayi itu didapatkan dan modus operasi penjualan bayi yang diduga melibatkan sindikat besar itu.

Berita acara perkara (BAP) kasus penjualan bayi itu, kata Taufik, tak bisa cepat terselesaikan, karena banyaknya kunjungan ke Polsek Lubukbaja dari pihak dan instansi lain yang ingin mengetahui soal pengungkapan kasus penjualan empat bayi itu. ”Tolong, beri waktu dulu penyidik menyelesaikan BAP-nya. Sejak kemarin, tamu banyak berdatangan. Kami ingin BAP-nya cepat selesai, biar segera diserahkan ke kejaksaan,” katanya.

Keterangan sementara yang didapatkan penyidik, lanjut Taufik, bayi-bayi itu didapatkan dari Medan Sumetera Utara dan Tanjungpinang Kepulauan Riau. Beberapa saksi yang dimintai keterangan, kata Taufik, mengatakan, bahwa tersangka utama A Hua, 44, telah melakukan praktik jual beli bayi sejak tujuh tahun yang lalu.

”Namun, pengakuan tersangka baru setahun terakhir ini. Untuk tersangka A Kik ini mengaku baru dua kali menjual bayi ke Singapura. Bayi itu dibawa langsung menemui pembelinya, namun itu hanya pengakuan sementara. Soalnya pengakuan tersangka berubah-ubah,” tambahnya.

Sebelum mendapatkan pembeli, kata Taufik, bayi itu dirawat terlebih dahulu. A Kik mempekerjakan pengasuh bayi dengan upah per hari Rp25 ribu dan ada yang digaji Rp600 ribu per bulan.

Meski menduga ada sindikat besar dibalik para tersangka, Taufik mengatakan, masih menyelidikinya. Begitu juga soal bagaimana cara pembeli bayi di Singapura itu menghubungi A Kik. ”Itu yang ingin kami ketahui. Kasus ini melibatkan sindikat besar, mereka saling bungkam,” tambahnya.

Polsekta Lubukbaja pertama kali menangkap A Hua, 44, dengan seorang bayi laki-laki. Kemudian mereka mengamankan A Kik yang membeli bayi Rp6 juta dari A Hua dan menjualnya lagi Rp30 juta. Selain itu Polsek juga mengamankan tiga pengasuh bayi, masing-masing Tan, 40-an, A Miu, 30-an dan Amoi, 30-an yang diduga juga terlibat.

Selain itu, wartawan koran ini juga memantau rumah Blok E nomor 6 di Komplek Perumahan dan Pertokoan Ramada Indah Lubukbaja Batam, tempat dimana tiga bayi ditemukan. Kemarin, rumah bertingkat bercat kuning itu pintunya terbuka. Dua gadis muda, kira-kira berumur 18 dan 9 tahun, terlihat turun dari lantai dua rumah itu.

Wartawan koran ini yang mencoba menanyai dua gadis kecil itu, soal penghuni rumahnya, tak mendapatkan jawaban. Dua gadis itu hanya berujar pendek, ”Tak tahu.” Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan tak muncul lagi. Dari lantai atas rumah itu, terlihat seseorang mengintip dari balik jendela.

Sejumlah tetangga rumah tak terlihat. Hujan yang terus mengguyur Batam, sepertinya membuat mereka memilih berdiam di dalam rumah. Beberapa tukang bangunan yang bekerja di Blok E perumahan itu mengaku tak pernah melihat ada bayi dibawa keluar dari rumah itu.

”Saya tahunya dari koran dan TV, kalau rumah nomor enam itu dijadikan tempat penjualan bayi. Biasanya yang keluar rumah, ibu-ibu gemuk mengantar anak keluarga itu. Kalau bayinya tak pernah kelihatan,” kata Prayitno, 34, tukang bangunan asal Blitar Jawa Timur yang sudah 14 tahun tinggal di Batam itu.

Prayitno dan rekan-rekannya yang sedang mengerjakan rumah di Blok E nomor 1 mengaku sudah dua bulan tinggal di barak tukang bangunan di perumahan itu. Selama ini, kata Nasir, 31, teman Prayitno, warga di Perumahan Ramada cenderung menutup diri dan tak pernah terlihat bersosialisasi dengan tetangganya.

”Kebanyakan yang tinggal di perumahan ini, hanya ngontrak. Kadang ada yang hanya terlihat satu kali dalam sebulan. Yang ngontrak rumah ini, banyak warga Singapuranya,” katanya.******

Kategori: Batam · getir · sosial

Simpang Jam di Batam

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Simpang Jam

Simpang Jam

Nama Simpang Jam, sebuah persimpangan jalan empat arah dengan ciri khas jam dinding berdiri tegak di salah satu titiknya ini sangat populer di telinga warga metro. Entah karena saking populernya atau karena tak pernah ada plang nama jalan di kawasan Simpang Jam, tak banyak yang tahu ada tiga nama jalan dimulai dari Simpang Jam ini.
******
Ada Jalan Sudirman yang membentang sepanjang jalan dari Simpang Jam ke arah Nongsa hingga persimpangan jalan berikutnya yang dikenal dengan Simpang Kabil. Jalan ke arah Sekupang hingga simpang Seiharapan bernama Jalan Gajahmada. Sementara yang menuju Seraya bernama Jalan Yos Sudarso.

Satu titik lain menuju Batam Centre, hingga kini belum bernama. Jalan ke arah pusat pemerintahan Kota Batam ini lebih dikenal dengan nama perumahan atau komplek pertokoan yang berdiri sepanjang jalan raya menuju Batam Centre.

Namun nama-nama jalan yang menggunakan nama pahlawan itu tenggelam, kalah populer dibandingkan dengan nama simpang jalan, seperti Simpang Jam yang sudah kadung melekat di benak warga Batam. Para pendatang baru pun langsung familiar dengan nama Simpang Jam.

Lihat saja apa yang diucapkan para supir taksi atau supir metrotrans yang biasa mangkal di kawasan Mukakuning atau kawasan lain. Mereka pasti akan menyebut nama Simpang Jam saat hendak menawarkan tumpangan kepada para penumpangnya. Sang calon penumpang pun langsung mengerti.

Badrus (26) salah satu warga Mukakuning yang terbiasa naik taksi menuju Simpang Jam ini misalnya, tak pernah menyebut nama jalan lain jika hendak ke Sekupang dari Mukakuning. ”Ya biasa. Saya bilang ke Simpang Jam. Dari Simpang Jam saya naik taksi lagi ke Sekupang. Tinggal bilang Simpang Seiharapan saja. Kan di Batam tinggal nyebut nama simpangnya,” katanya.

Simpang Jam hanyalah salah satu contoh persimpangan yang namanya mengalahkan nama jalannya. Masih ada simpang lain, seperti Simpang Kuda di Seipanas atau Simpang Kabil. Bahkan nama Simpang rujak di Seraya, lebih populer dari pada nama Jalan Yos Sudarso.

Belum lagi, nama Simpang Dam di Mukakuning yang mengalahkan nama Jalan Suprapto. Simpang Lippo yang menggantikan nama Jalan Imam Bonjol. Bahkan, warga kini menyebut nama Simpang Indosat bagi persimpangan tiga Jalan Raden Patah dan Bunga Raya yang baru ditempati kantor PT Indosat sekitar tiga bulan terakhir ini.

Kebiasaan warga metro menyebut nama tempat dengan sebutan tempat itu, membuat nama jalannya hampir tak pernah disebut. Belum lagi, nama sebuah jalan sering berubah seiring dengan hadirnya sebuah komplek pertokoan atau perumahan baru di kawasan itu.

Tak hanya biasa menyebut nama kawasan, warga metro juga terbiasa menuliskan nama jalan di tokonya atau instansinya semaunya tanpa memperhatikan nama jalan yang telah diberikan pada kawasan itu.

Lihat saja di daerah Seipanas menuju Bengkong. Ada sebuah rumah sakit yang mencantumkan nama Jalan Raya Seipanas di plang nama rumah sakitnya, padahal di daerah itu jalannya bernama Jalan Laksmana Bintan. Di sebelahnya, ada toko yang mencantumkan nama Jalan Baloi Harapan di plang nama tokonya. Bahkan di sebelahnya lagi, ada warung yang mencantumkan nama Jalan Raya Bengkong Indah di bawah nama warungnya.

Jadinya, di sepanjang Jalan Laksmana Bintan itu, ada empat nama jalan yang terpampang. Padahal sejumlah instansi pemerintah di Seipanas seperti SMPN 6 atau Puskesmas Seipanas, jelas memampangkan nama Jalan Laksmana Bintan di plang namanya.

Sementara di sepanjang jalan raya Tiban, nama Jalan Gajahmada malah sama sekali tak tercantum. Komplek pertokoan atau perumahan lebih senang memakai nama kompleknya dari pada nama jalannya. Lihat saja, komplek pertokoan di Tiban Centre. Bahkan, kantor KPU Provinsi Kepri, memasang alamat Tiban Centre di plang namanya tanpa menyebut Jalan Gajahmada.

Terbiasanya menyebut nama kawasan tanpa nama jalan itu, juga terlihat di hampir semua surat yang dikirim lewat PT Pos Indonesia. ”Kalau itu sudah biasa. Yang penting ada nama Komplek dan nomor rumahnya, pasti suratnya kami antar,” kata Rahman Supervisor Antaran/Ekspedisi PT Pos Indonesia Batam.*****

Kategori: Batam · sosial

Sepinya Kotak Pengaduan

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bertahun-tahun sudah, Pemko Batam menyediakan kotak saran atau pengaduan bagi warga Batam di instansi-instansi pemerintah. Namun sampai kini, kotak-kotak saran itu tak disentuh masyarakat. Kotak-kotak saran itu akhirnya berisi debu, karena warga lebih memilih mengadu lewat SMS atau media.
******
Kotak saran itu terpampang jelas di sebelah kiri dua pintu masuk Kantor Wali Kota Batam di Batam Centre. Kotak transparan berbentuk persegi empat yang mengecil di bagian bawah itu, seperti menantang warga Batam untuk memasukkan saran atau pengaduan ke Wali Kota Batam Ahmad Dahlan.

Ukuran tulisannya lumayan besar. Di atas kotak tertulis, ”Pemko Batam. Kami melayani saran/pengaduan yang disertai identitas diri. Setiap identitas dijamin kerahasiaannya”. Dan di bagian bawah kotak tertulis ”Kotak saran”.

Setiap mereka yang masuk ke kantor wali kota, pasti pernah melihat kotak saran tersebut. Namun meski tampil mencolok, kotak dalam papan warna merah itu tak terlalu diperhatikan warga yang lalu lalang mengurus keperluan di kantor tersebut.

Kotak itu dicueki, belum ada yang mau memasukkan saran atau pengaduan ke dalamnya. Padahal, mungkin sudah ribuan kali kotak saran itu dilalui warga. Ironisnya, karena tak pernah disentuh warga, kotak saran itu berdebu.
(lagi…)

Kategori: Batam · sosial

Hari Terakhir Neng Fitryah

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seandainya Toyota Previa yang baru sepekan lalu dibeli David Eng itu bisa distater Husen (38), Kamis (31/5/2007) pagi itu, mungkin Fitryah tak akan ditemukan tewas di dalam mobil itu. Husen supir pribadi David Eng suami Fitryah, pagi itu bermaksud menggunakan mobil tersebut untuk mengantar bosnya ke kawasan industri galangan kapal Tanjunguncang. Namun, mobil itu tak mau dihidupkan. Husen kemudian mengantar David menggunakan sedan Lexus, mobil kedua David.

Sementara Fitryah, masih tergolek di tempat tidur. Beberapa menit setelah David berangkat kerja, Neng bangun dari tidurnya. Pukul 09.00 WIB, Neng Fitryah ke pasar Aviari ditemani Ponatun (43) pembantunya. Di pasar itu, tak seperti biasa, Neng membeli seekor ayam dan berpesan kepada pembantunya kalau ayam itu akan ia masak sendiri.

”Ayam ini tak usah disentuh. Nanti akan saya panggang, bersama tumisan jagung dan genjer ini,” kata Neng kepada Ponatun. Ponatun kemudian memasukkan ayam, empat buah jagung dan dua ikat sayur genjer pesanan Neng ke lemari es. Sampai kini pun, pesanan Neng itu tak disentuh.

Kata-kata itu menjadi kata terakhir yang didengar Ponatun. Pukul 10.00 WIB, Neng pergi meninggalkan rumah makannya di ruko Fanindo Tanjunguncang. Neng kemudian ditemukan meregang nyawa di dalam mobil Toyota Previa itu, sekitar pukul 11.30 WIB.
(lagi…)

Kategori: Batam · getir · sosial

Nasib Perpustakaan Daerah

Juni 1, 2008 · 1 Komentar

Nina ND (30-an), warga Perumahan Centra Melati, menatap lekat-lekat novel bersampul biru di rak buku. Tangannya bergerak mengambil novel itu, membaca sinopsisnya sebentar, kemudian meletakkan novel karya Nora Robert, itu ke pangkuannya.

”Saya suka novel terjemahan. Setiap kali ada duit, saya pasti beli,” tuturnya, di toko buku Gramedia BCS.

Rabu (21/5) siang itu, merupakan kunjungan ketiga Nina ke Gramedia di bulan Mei. Setiap kali ke sana, ia pasti membawa pulang dua tiga buku. Favoritnya, novel terjemahan dan buku memasak. Seperti kemarin, misalnya, ia membeli novel dan buku memasak.

Nina lancar menyebut nama pengarang novel favoritnya. Ada John Grisam, Nora Robert, Eric Seagal, Sandra Brown dan lain-lain. Koleksinya juga sudah ratusan. ”Saya letakkan saja di kotak. Saya tak punya tempat khusus di rumah,” katanya.
(lagi…)

Kategori: Batam

Ketua Golkar Diserang

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Break! Taksi warna putih itu tiba-tiba menyalip dan berhenti mendadak di depan mobil Mistubishi Galant BM 186 XF yang dikendarai AT Sinaga, Zainal Abidin dan isterinya Tini. Di keremangan malam, di jalan menurun ke Tiban V, Sekupang, itu Zainal kaget bukan kepalang. Begitu juga dengan Sinaga yang memegang stir mobil, tak kalah kagetnya.

”Astagfirullah,” kata Zainal mengusir keterkejutannya. Di saat bersamaan, Sinaga berteriak, ”Apa, tuh,” sambil menginjak rem mobil.

Zainal mengira ada kucing yang melintas, sehingga mobil di depannya berhenti mendadak. Ia baru saja akan mendongak, ketika tiba-tiba saja suara benturan benda keras menghantam kaca pintu mobil Sinaga dari tiga sisi. Di depan, kaca pintu samping kanan dan kiri jebol. Di belakang, di samping kiri, tempat dimana Tini duduk juga jebol.

Rupanya, ada satu mobil lagi yang memepet mobil mereka. Karena orang-orang yang memecahkan kendaraan mereka tak keluar dari taksi yang menyalip tadi. Tapi, muncul dari belakang.

Semuanya, seperti terjadi begitu saja. Teriakan seperti suara-suara menyuruh membunuh terdengar. Serpihan-serpihan kaca berhamburan dari segala sisi. Tiga penumpang mobil Mitsubishi bertambah panik, suasana begitu mencekam. Lalu, salah seorang penyerang di sebelah kanan mengayunkan parang panjang mengarah ke leher Sinaga. (lagi…)

Kategori: Batam

Kehidupan Para Ajudan

Juni 1, 2008 · & Komentar

sby-dan-ajudanSeorang ajudan, tak sekadar menjadi pembantu atau bodyguard. Ia tak hanya bertugas memastikan semua keperluan ”tuannya” terlayani dengan baik. Tapi juga bisa menjelma menjadi teman diskusi. Bagaimana para ajudan Gubernur dan Wali Kota menjalani hari-harinya?
*****
Sabtu siang itu, di pertengahan November tahun lalu, matahari sedang terik-teriknya. Di pelataran Quran Centre, Sekupang, sejumlah orang berdiri menunggu. Mereka menunggu kedatangan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah yang berencana sidak pembangunan asrama dan gedung perpustakaan QC, itu.

Beberapa menit kemudian, sebuah sedan hitam metalik yang dinaiki orang nomor satu di Kepri itu berhenti di pelataran tersebut. Junaidi, sang ajudan keluar lalu membuka pintu dengan sikap takzim. Ia menunduk, sambil mempersilakan sang Gubernur beranjak dari tempat duduknya di jok belakang.

Ismeth lalu berjalan diiringi Mahadi Rahman, Direktur QC memantau pembangunan perpustakaan dan asrama itu. Rona wajahnya mendadak berubah merah. Ia terlihat marah, melihat pembangunan dua gedung itu yang molor.

Dipanggilnya kontraktor proyek itu. Wartawan yang melihat peristiwa itu mendekat, ingin mendengar kemarahan Ismeth. Namun, Ismeth melarang. Junaidi pun bertindak. Ia ikut melarang wartawan mendengar pembicaraan Ismeth dengan kontraktor tersebut. (lagi…)

Kategori: Batam