seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Pulau Puteri, Pulau Terluar Batam

Juni 15, 2008 · 1 Komentar

di ujung indonesia
Tak setenar pulau Nipa, pulau Puteri termasuk salah satu pulau terluar Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura. Pulau ini bentuknya memanjang kira-kira sepanjang 199 meter dengan garis tengahnya tak lebih dari 50 meter. Setiap akhir pekan sering dikunjungi wisatawan lokal. Konon, pulau ini sering meminta tumbal pemuda lajang.
******
Bayang-bayang gedung pencakar langit Singapura terlihat samar. Langit yang berawan, Minggu (8/6) pagi, membuat lekuk-lekuk bangunan itu tak bisa dilihat jelas dari kejauhan 12 mil di pulau Puteri, Nongsa. Tapi, berdiri di bibir pantai pulau Puteri, kita bisa tetap menikmati aroma perbatasan yang kental.

Gedung pencakar langit di seberang timur tampak gagah menantang. Sementara di sebelah barat, rumah-rumah panggung dan semi permanen di bibir pantai Nongsa seperti lemah berdiri. Dua pemandangan yang kontras itu bisa kita nikmati di satu pijakan, di pulau Puteri.
(lagi…)

Kategori: Batam

Perpustakaan Daerah Menyedihkan

Juni 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nina ND (30-an), warga Perumahan Centra Melati, menatap lekat-lekat novel bersampul biru di rak buku. Tangannya bergerak mengambil novel itu, membaca sinopsisnya sebentar, kemudian meletakkan novel karya Nora Robert, itu ke pangkuannya.

”Saya suka novel terjemahan. Setiap kali ada duit, saya pasti beli,” tuturnya, di toko buku Gramedia BCS.

Rabu (21/5) siang itu, merupakan kunjungan ketiga Nina ke Gramedia di bulan Mei. Setiap kali ke sana, ia pasti membawa pulang dua tiga buku. Favoritnya, novel terjemahan dan buku memasak. Seperti kemarin, misalnya, ia membeli novel dan buku memasak.

Nina lancar menyebut nama pengarang novel favoritnya. Ada John Grisam, Nora Robert, Eric Seagal, Sandra Brown dan lain-lain. Koleksinya juga sudah ratusan. ”Saya letakkan saja di kotak. Saya tak punya tempat khusus di rumah,” katanya.
(lagi…)

Kategori: Batam

Lima Tahun Menyapu Jalan Batam

Juni 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

petugas kebersihan
Pagi baru merekah, Magdalena (43) sudah meninggalkan rumahnya di ruli belakang Komplek Pengairan Otorita Batam, Seiharapan. Berbekal sapu bergagang panjang di bahu dan plastik di tangan, ia berangkat ke simpang Seiharapan untuk menyapu jalan.

Itulah aktivitas sehari-hari Magdalena, janda beranak dua yang sejak lima tahun terakhir menjadi petugas kebersihan di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Batam. Seperti Selasa (3/6) kemarin, ia menyapu daun-daun yang gugur di sepanjang jalan dari simpang Seiharapan hingga ke persimpangan menuju Kartini I.

Peluh menetes di wajah Magdalena. Sejak pukul enam pagi, ia sudah bekerja menyapu kotoran-kotoran di sepanjang jalan yang menjadi tanggung jawabnya. Pekerjaan Magdalena baru berakhir pukul 12 siang.

Namun, wanita kelahiran Lembata Flores itu tak mengeluh. Ia mengaku sudah terbiasa. Rasa lelah menyapu jalan, sudah ia anggap seperti rasa lelah saat berolah raga atau menari. ”Awal-awalnya sih capek. Sekarang sudah seperti main-main saja,” katanya.

Magdalena menjadi penyapu jalan sejak tahun 2003. Saat itu, ia digaji harian Rp23 ribu per hari. Sekarang, ia sudah mendapatkan gaji bulanan. Besarnya, Rp960 ribu atau sesuai dengan UMK Batam.
(lagi…)

Kategori: Batam

Kehidupan Siswa Pesisir

Juni 15, 2008 · 1 Komentar

anak pesisirDemi masa depan. Itu alasan yang melatarbelakangi kegigihan siswa-siswa di kawasan pesisir (hinterland) Batam menyeberangi bermil-mil lautan dan berkilometer daratan untuk sekolah. Di tengah keterbatasan, cita-cita jadi dokter pun dipatri.
*****
Udara pantai yang dingin menyapa penduduk Pulau Nguan, Galang, Selasa (8/4) pagi. Jam menunjukkan pukul lima pagi, seperti biasa Sapri (17) sudah terbangun. Siswa kelas 2 SMAN 10 Batam di Sijantung itu menguap sebentar, merasakan dingin yang segar.

Sapri kemudian beranjak menuju bagian belakang rumahnya. Mengambil air wudhu, dan salat subuh. Setelah itu, ia meregang-regangkan tangan dan kakinya, sebuah kebiasaan rutin yang ia lakukan sebelum berangkat sekolah.

Usai sarapan, ia bergegas ke pelantar kayu tempat penambang pompong menunggu. Ada enam siswa lain yang sudah ada di pelantar. Tujuannya sama, menuju pelabuhan kecil di kawasan keramba kerapu di seberang pulau Nguan.

Sekitar 20 menit di atas pompong atau sampan bermesin tempel, rombongan Sapri tiba di darat. Sapri merogoh koceknya, mengeluarkan selembar uang seribu rupiah kepada penambang pancung. Uang seribu rupiah itu merupakan ongkos naik pancung anak-anak sekolah pulau Nguan.

Dari keramba kerapu, mereka mendaki perbukitan rendah. Kali ini mereka jalan kaki ke pinggir jalan beraspal, menunggu bus sekolah gratis yang lewat setiap pagi. Sejak dua hari ini, Sapri dan anak-anak pesisir lainnya menggunakan bus sekolah gratis dari Pemko Batam. Untuk anak-anak pulau Nguan, titik penjemputannya di pinggir jalan, simpang Pulau Nguan.
(lagi…)

Kategori: Batam