seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Juli 2008

Gelisah

Juli 31, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

”Pak, uangnya sudah saya titipkan semua. Semua fraksi dapat,” suara dari seorang pejabat Pemko Batam keluar lewat ponsel yang suaranya di-loudspeaker-kan.

”Kami kok tak dapat. Berapa besarnya?” Suara laki-laki di seberang yang merupakan anggota Dewan menyahuti.

”Sekitar Rp200-an juta. Saya tak ingat, cuma sudah saya serahkan langsung ke *********,” jawab pejabat itu.

”Ya sudah. Cuma tolong mintakan bagian kami,” tutup anggota Dewan itu.

****

Saya mendengar langsung percakapan itu. Gelisah, rasanya mendengar sebuah konspirasi, sebuah tindak pidana korupsi tapi tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana mengungkap ini, ke publik?

Saya butuh bukti. Atau setidaknya butuh pengakuan. Namun, anggota Dewan yang berbicara dengan pejabat tadi tak mau membuka diri. ”Jangan dari saya. Coba saja hubungi Y***. Dia kan biasa transaparan,” sarannya.

Senin lalu, saya bertemu Y***. Kami berbincang soal dunia politik lokal, soal calon presiden dan lainnya. Sekali-kali kupancing untuk berbicara soal pembagian dana Rp2 miliar itu. Namun, ia mengatakan tak ada bukti.

Saya takluk. Bagaimana ini. Bagaimana caranya mengungkap ini?

Kategori: Batam · getir · sosial

31 Juli

Juli 31, 2008 · 1 Komentar

Di halaman belakang rumah itu, kita berangkulan. Cahaya matahari yang menyengat, tak kita hiraukan. Aku dan dirimu menyatu dalam satu rasa. Rasa takut akan perpisahan.

Pelukmu erat mendekapku. ”Kapan lagi, kita akan bertemu?” tanyamu. ”Tiga tahun lagi,” jawabku.

Sekarang, kenangan itu sudah lewat lima tahun lalu. Tanggal 31 Juli 2003 itu, kamu memelukku tak ingin lepas. Kutinggalkan dirimu. Aku ke Batam dan saat kembali segalanya tak lagi sama.

Aku memenuhi janjiku. Tiga tahun, atau dua tahun yang lalu, aku kembali. Namun, segalanya sungguh berbeda. Ada tembok besar yang menghadang. Senyummu sama sekali tak mengembang, saat kutemui dirimu. ”Kita telah berubah,” kata-kata itu kita ucapkan bersama di dalam hati.

Sudah lewat lima tahun, memang. Namun, aku menyimpan kenangan itu. Tulisan ini, sebagai sebuah simpul yang mungkin tak bakal putus. Tapi, simpul itu tak perlu kita gunakan lagi.****

Kategori: Batam

Bawean, Belum Saatnya!

Juli 7, 2008 · 1 Komentar

Acaranya sebuah musyawarah besar. Yang punya hajatan adalah Ikatan Keluarga Bawean Batam atau biasa disingkat IKBB. Hajatan paling penting dalam struktur organisasi orang Bawean di Batam itu digelar di masjid Mutaallim, Minggu (6/7) kemarin, di Seipanas.

Masjid Mutaallim adalah masjid penting dalam sejarah kehidupan warga Bawean di Batam. Masjid ini adalah masjid pindahan dari Kampung Boyan di Jodoh, tahun 1970-an silam. Presiden Soeharto kala itu, menyumbangkan masjid buat warga Bawean lewat Yayasan Amal Bakti Pancasila.

Tapi, acaranya sungguh sepi senyap. Ada 4.000-an lebih warga Bawean di Batam, tapi yang datang bisa dihitung dengan jari. Dari kalangan tua, hadir Pak Humam dan Bu Masnah. Keduanya tokoh yang termasuk pertama kali membuka Kampung Boyan di Jodoh.

Selain dua orang itu, hadir Ketua IKBB Mansyur Hamami. Mansyur adalah mertua saya. Ia hadir untuk menyampaikan pertanggung jawaban kinerjanya selama tiga tahun memimpin IKBB. Banyak kekurangan yang ia sampaikan dalam LPj-nya itu. Banyak kritik, terutama untuk IKBB sendiri dan tentunya orang Bawean di Batam.

Saya berbisik-bisik dengan Rofiuddin, teman sekolah saya di Kumalasa dulu yang kini jadi Wakil Kepala sekolah di sebuah SMAN di Batam. Saya bilang, apakah ini bisa disebut musyawarah besar? Ia hanya tersenyum, sambil mengatakan inilah potret warga kita.

Mansyur Hamami akhirnya terpilih lagi jadi ketua untuk kedua kalinya. Ia didukung kalangan ibu-ibu. Bu Masnah termasuk yang menggalang dukungan buat mertua saya itu. ”Saat dipegang Pak Mansyur, wirid ibu-ibu jalan terus,” tukasnya.

Yang membuat saya tercenung adalah munculnya keinginan untuk memajukan tokoh Bawean ke pentas politik lokal Batam. Mubes itu menginginkan ada orang Bawean yang jadi anggota Dewan. Bahkan mertua saya itu, siap jika diusung. ”Saya malah siap teken kontrak membagi gaji saya 50 persennya untuk IKBB,” cetusnya.

Saya sama sekali tak bersemangat mendukung ide itu. Sudah hampir satu setengah tahun saya ”berkantor” di Gedung DPRD Batam, jadi tahu betul seluk beluk perpolitikan di Batam. Saya tahu betul, sifat-sifat 45 anggota Dewan yang duduk di sana. Saya ragu, ide itu baik bagi IKBB.

Bagaimana mungkin menghimpun suara untuk seorang nama, jika untuk menghadiri sebuah musyarawah besar saja, orang-orang Bawean itu tak datang. Saya pesimis akan ada satu kata. Saya ragu, cita-cita itu menjadi nyata.*****

Kategori: Batam

Pijat Plus di Batam

Juli 6, 2008 · & Komentar

Selain menawarkan pijat kesehatan, beberapa panti pijat di Batam juga memberi layanan plus, seperti sex atau pijat miss call. Pijat miss call ini merupakan istilah untuk pijatan pada bagian kelamin laki-laki.

Roy (27), sebut saja begitu, termasuk yang menyukai pijat miss call tersebut. Menurut warga Batam Centre itu, ia punya langganan khusus di sebuah panti pijat di bilangan Nagoya.

Awalnya, kata Roy, tukang pijatnya melakukan pijatan biasa layaknya pijat untuk kebugaran dan menghilangkan lelah. Di tengah pijatan berlangsung, barulah ia ditawari pijat miss call itu.
(lagi…)

Kategori: Batam

Miliaran yang Hilang

Juli 6, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

pasar induk difoto cpi

pasar induk difoto cpi

PASAR Induk Jodoh makin merana. Dibangun dengan dana bermiliar-miliar rupiah, pasar yang didesain sebagai pasar tradisional termegah itu mati suri. Tak ada hiruk-pikuk transaksi jual beli. Yang ada kesepian dan wajah nelangsa pedagang menanti pembeli.

Pasar Induk yang dua tahun terakhir dikelola PT Golden Tirta Asia (GTA) dibelit masalah yang sangat kompleks. Ibarat penyakit, masalah yang mendera Pasar Induk sudah sulit disembuhkan. Mengurai satu persatu masalahnya juga sulit. Sebutlah pembeli yang sepi, bangunan yang sudah lapuk, kepemilikan sertifikat dan alih fungsi kios, retribusi, keberadaan PK-5 dan lainnya.

Bahkan, permasalahan Pasar Induk sudah dimulai sejak pertama kali pasar itu dibuka tahun 2004. Kejaksaan Negeri Batam juga pernah menyelidiki dan memeriksa sejumlah pejabat terkait adanya dugaan korupsi retribusi Pasar Induk.

Beragam masalah itu tak pernah selesai. Akibatnya, pasar itu tak pernah bisa ramai. Mimpi Pemko Batam meningkatkan kesejahteraan rakyat dari Pasar Induk itu, masih jauh api dari panggang. Begitu juga meningkatkan PAD, masih belum bisa diandalkan.

Berkunjung ke Pasar Induk kini, seperti datang ke tempat yang tak terawat. Pagar besi dan penutup selokan sudah berkarat dan sebagian hilang. Lantai sudah retak dan turun. Meja-meja hanya diisi satu-dua pedagang. Kios-kios dijadikan tempat tinggal. Aliran air mati.
(lagi…)

Kategori: Batam

Ria Saptarika yang Sering Disapa Mbak

Juli 6, 2008 · & Komentar

Saya sengaja memposting tulisan soal Wakil Wali Kota Ria Saptarika. Tulisan ini pernah dimuat di tempat saya bekerja, tapi rasanya tak salah kalau kupasang juga di blog ini. Pekan lalu, ia memberi komentar di blog ini. Kepada saya, ia mengaku selalu menyempatkan waktu membuka blog dan membalas komentar dan saran yang masuk ke blog-nya.

********

Sore itu, di suatu hari di bulan Februari ia menghubungi saya. Ria mengaku sedang berada di depan komputer. Ia mengecek komentar-komentar yang masuk di blognya.

”Hari ini, ada seratus pengunjung yang masuk,” katanya. Sampai sore itu, ada 6.071 pengunjung yang mengklik blog pribadi Wakil Wali Kota dari PKS, itu.

Untuk urusan menjawab komentar, Ria melakukannya sendiri. Biasanya, ia lakukan sepulang dari kantor atau hendak tidur. Pagi harinya, Ria sempat juga membuka blog-nya. Sedangkan urusan memasukkan berita, Ria serahkan ke stafnya.

”Kalau komentar saya jawab langsung. Kalau ngisi berita, itu saya serahkan ke staf,” tukasnya.

Sebagai Wakil Wali Kota, katanya, ia memiliki agenda yang cukup padat. Karena itulah, blog-nya hanya berisi berita-berita yang ia posting dari media. Berita-berita itu, biasanya berita yang berkaitan dengan Pemko Batam. Seperti berita soal isu keretakannya dengan Wali Kota Ahmad Dahlan atau berita mobil dinas barunya yang belum juga ia pakai

Berita-berita itulah yang biasanya di komentari pengunjung dan dijawab langsung oleh Ria. ”Ada juga yang protes, kenapa saya tak menulis. Tapi, karena saya sangat sibuk, jadi baru bisa membalas komentar,” katanya.

Seperti soal taman internet di Engku Putri yang digagasnya, sore itu dikomentari sekitar 22 pengunjung. Ada pengunjung yang menyapa Ria dengan sebutan mbak. Ria menjawab sapaan itu dengan ucapan terima kasih. ”Tapi, saya bukan mbak lho,” tulis Ria di blog-nya.

Perkenalan Ria dengan blog, diawali tahun 1997. Saat itu, blog belum begitu populer. Dua tahun kemudian, saat bekerja di PT Thomson, ia mulai memiliki blog pribadi, www.geocities.com/zhafir2000.com.

Namun, blog itu tak begitu ia up date. Baru kemudian, saat menjadi Wakil Wali Kota Batam, Maret 2006 silam, ia memiliki domain pribadi www.riasaptarika.com. Dan empat bulan lalu, ia membuat blog baru www.riasaptarika.web.id

Memiliki blog, kata Ria, ibarat melampaui dua-tiga pulau sekali kayuh. Karena di satu sisi, ia bisa meluangkan hobinya di bidang teknologi informasi. Di sisi lain, ia bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat Batam.

”Masyarakat bebas mau ngomong apa tanpa ada batasan. Sebagai Wakil Wali Kota, saya menjawab persoalan di Batam. Sebagai pribadi, saya berbagi saran dengan para blogger lainnya,” katanya.

Tak hanya Ria yang memiliki blog. Isteri dan dua anaknya juga punya blog. Www.suparti.blogspot.com milik isterinya, www.zhafir.blogspot.com dan www.zhilla.blogspot.com milik dua anaknya.

Ria punya mimpi wajudkan Batam sebagai kota cyber. Ia mengaku ingin membudayakan internet dan teknologi informasi ke masyarakat Batam. Karena itu, ia rajin mengajak pihak-pihak lain membangun taman internet di Batam.

”Kita punya sasaran mewujudkan Batam sebagai cyber city. Ini memungkinkan untuk dilakukan, karena sesuai indeks pembangunan manusia (IPM), pengetahuan teknologi internet masyarakat Batam sudah cukup baik,” kata Ria.

Taman-taman internet, kata Ria, bisa dimanfaatkan oleh warga Batam untuk mengakses informasi. Terutama oleh pelajar dan mahasiswa yang tak mempunyai cukup uang untuk ke warnet atau cafe.****

Kategori: Batam

Sajak-sajak Ghazyan

Juli 3, 2008 · 1 Komentar

Sudah aku cumbui lekuk-lekuk tubuhmu

Namun aku masih cemburui merah di lehermu

Sudah aku hirup nafas-nafas cintamu

Namun aku masih cemburui lenguh paraumu

Bertahun aku di sisimu

Namun aku masih sangsikan kepergianmu

Bertahun kau telanjang di depanku

Namun aku masih inginkan keterbukaanmu

****

Kategori: Batam