seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Agustus 2008

Puasa dan Pemulung

Agustus 30, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

TPA Punggur Difoto Iman

TPA Punggur Difoto Iman

Besok, Ramadan bulan penuh rahmat itu datang lagi. Banyak yang menunggu bulan ini, tapi ada juga teman dan saudara-saudara kita yang tak bisa menjalankan puasa, karena kondisi mereka. Seperti para pemulung di TPA Punggur misalnya. Dua tahun lalu, saat saya ke sana, banyak yang tak puasa karena mengaku tak tahan menahan bau.

Rintik hujan seperti jatuh satu-satu dari langit, saat sekelompok pemulung memilah setumpuk sampah rumah tangga yang baru dikeluarkan dari sebuah truk pengangkut sampah di TPA Punggur, Rabu (27/9) pagi. Sampah-sampah di dalam plastik itu dikeluarkan, kemudian plastik pembungkusnya dimasukkan ke dalam keranjang sampah yang dipanggul di punggung mereka.

Bau busuk menyebar, menebarkan aroma khas yang bisa membuat keluar isi perut. Ribuan lalat berterbangan, hinggap dari satu tumpukan sampah ke benda-benda lain di dekatnya. Beberapa meter di atas ratusan pemulung yang sibuk memilah-milah sampah itu, sekelompok burung walet terbang rendah.

Dalam waktu sekitar lima menit, plastik-plastik dalam tumpukan sampah itu sudah habis berpindah ke dalam keranjang. Truk lainnya kemudian bergantian membuang isinya. Tanpa perlu dikomando, pemulung-pemulung itu langsung mengalihkan perhatiannya pada isi truk yang baru dibuang itu.

Hujan tiba-tiba turun deras, membuyarkan pemulung-pemulung itu. Mereka berlarian, berteduh. Beberapa di antara mereka kemudian berhenti untuk istirahat. Menyedot sebatang rokok yang mereka sisipkan di atas daun telinga mereka. Kelompok lainnya, istirahat di sebuah warung yang menyediakan kopi dan makanan sederhana.

Di bulan puasa seperti kemarin, tetap berpuasa adalah hal yang sangat sulit. Di samping mereka harus tetap membanting tulang, mereka juga mengaku tidak kuat jika harus berpuasa sambil bekerja di tengah lautan sampah yang menebar bau busuk. ”Baunya itu yang tak tahan. Bagaimana mau puasa, kalau tubuh kita selalu dikerubungi lalat,” ujar Darsum (32) pemulung asal Kerawang yang sudah lima bulan tinggal di kawasan TPA itu.

Alasan Darsum diiyakan oleh pemulung-pemulung yang lain. Hampir sejauh mata memandang, kita akan melihat orang-orang menyedot sebatang rokok di TPA Punggur itu. Tak hanya pemulung, para supir truk pengangkut sampahpun menikmatinya.

Di antara bau sampah dan rekan-rekannya yang tak berpuasa, Tarji (27) seperti tak terganggu. Pemuda lajang yang sudah lima tahun menjadi pemulung itu, tetap bekerja sambil berpuasa. ”Insya Allah saya masih berpuasa. Sudah tiga hari ini, saya tetap puasa meski bekerja di sini. Bagi saya bau sampah itu sudah bagai makanan sehari-hari. Yang penting niatnya,” ujar pemuda yang juga berasal dari Kerawang itu.

Tahun lalu, kata Tarji, ia pernah dua hari tak puasa karena muntah. Ia yang siang itu mencoba bertahan, akhirnya tak kuat juga menahan bau sampah yang menyengat hidung itu. Ia mual lalu muntah-muntah. ”Sekarang saya niat puasa sebulan penuh,” tukasnya.

Di luar urusan berpuasa, para pemulung itu juga dihadapkan pada timbulnya beragam penyakit akibat hidup di tengah-tengah sampah. Penyakit infeksi saluran pernafasan, seperti sudah akrab dengan para pemulung itu. Anak-anak mereka juga menjadi korban. ”Kalau itu sudah biasa. Dua anak saya sudah pernah kena penyakit saluran pernafasan. Itu resiko pekerjaan saya. Karena keluarga juga tinggal di lokasi ini (TPA,red),” tukas Darsum.

Rata-rata para pemulung itu tak mempunyai ijazah pendidikan formal. Mereka bergelut dengan sampah demi sesuap nasi. Dalam sehari, mereka rata-rata hanya bisa mengumpulkan uang Rp15 ribu. ”Sekarang susah. Kami malah harus ngebon dulu, kalau mau makan. Makannya pun harus sederhana, harus pintar-pintar,” kata Darsum.***

Kategori: Batam

Sandal kok Dipotong

Agustus 28, 2008 · 1 Komentar

”Om, sandalnya kok dipotong. Kan jelek? Pertanyaan itu meluncur dari seorang bocah berumur kira-kira enam tahun, Rabu (27/8) sore.

Ia kaget melihat jejeran sandal jepit di musalla tempat saya bekerja dipotong di bagian ujungnya. Dari pakaian sekolah TK yang ia kenakan, saya tahu anak itu bukan berasal dari keluarga muslim.

Saya yang sedang memakai sepatu habis solat, tertegun. Saya tak menjawab, cuma tersenyum saja. Bocah itu melintasi musalla saat ikut ibunya ke toilet yang letaknya berdekatan dengan musalla.

Terpikir olehku untuk apa sandal itu dipotong. ”Agar tak hilang,” kata seorang teman.

(lagi…)

Kategori: Batam

Memecah Batu

Agustus 23, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sinar matahari tak begitu terik. Awal Juli lalu, pukul 10.02 pagi itu, di pinggir jalan menuju Jembatan Barelang udara masih terasa sejuk. Raima (30-an) duduk di tanah dengan posisi kaki melingkar, menghadapi gundukan batu yang siap dipecah.

Kepalanya ditutup kain sarung yang dipasang asal untuk menghalangi sinar matahari. Ia mengenakan celana panjang dipadu kemeja panjang yang di sana-sini robek dan berdaki. Ada sarung tangan biru menutup jari-jari tangannya.

Lengannya bergerak menghantam batu-batu di depannya menjadi bagian-bagian lebih kecil seukuran jempol kaki orang dewasa. Batu-batu yang sudah dipecahkan itu dipisah, lalu ditumpuk lagi. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan seperempat kubik pecahan batu.

”Lumayan, satu kubik bisa dapat Rp90 ribu,” tuturnya.

(lagi…)

Kategori: Batam

Politik dan Hati

Agustus 21, 2008 · 1 Komentar

”Saya bingung, kok partai-partai sekarang mencalonkan orang-orang baru di nomor satu. Anggota dewan lama banyak tak dianggap. Saya saja tak tahu dipasang di nomor mana,” kata Zakaria, salah seorang anggota DPRD Batam dari Demokrat.

Ya, ada fenomena baru dalam Pemilu 2009 ini, terutama di Batam. Banyak parpol tak lagi mengandalkan anggota Dewan lama. Di PDI Perjuangan misalnya, dari tujuh anggota Dewan, hanya Ruslan Kasbulatov, ketuanya, yang ada di nomor jadi. Yang lain dipinggirkan.

(lagi…)

Kategori: Batam

Sajak Pernikahan

Agustus 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Katakan padaku apa yang tak kau sukai? Sungguh aku akan berubah mengikuti apa maumu?. Jangan diam saja?

Sudah empat tahun lebih, kata-kata itu mengendap di benakku. Kau mengucapkan itu, di ranjang pengantin kita.

Aku mengingatnya kembali, ketika cinta mulai kering menghampa. Hatiku pedih, teriris, namun kubiarkan jantung itu mengaduh sendiri. Kubiarkan ia membusuk, jika bicaraku nanti akan membuatmu terluka.

Sungguh yang terluka padamu, berdarah padaku. Aku sangat ingin mengerti, jika kau pikir aku tak memahamimu.

Diamku yang membisu, juga bagian dari caraku memahamimu. Juga caraku membahagiakanmu.
Dadaku belum rapuh jika kau ingin bersandar. Kakiku masih kokoh, masih kuat menahan gempuran badai itu.

Aku mencintaimu, melebihi cintaku pada diriku sendiri. Bahkan sejak kuucapkan janji itu, aku sudah memproklamirkan kematian diriku. Aku sudah mati, bukan siapa-siapa lagi. Hanya cintamu yang membuatku sampai kini masih bernafas.***

Kategori: Batam

Mari Bergotong Royong

Agustus 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Panas matahari menyengat kepala. Di antara para sahabatnya, Muhammad, nabi dan raja itu bermandi keringat. Tangannya kekar memegang palu besar memecah batu-batu. Di tahun ke lima Hijriah itu, Muhammad ikut bergotong royong membuat parit sebagai persiapan menyambut perang khandak.

Pinggangnya ia ikat kencang. Ketulan batu ia pasang di perutnya untuk menahan rasa lapar yang sangat. Muhammad tercinta itu sungguh tak berpangku tangan. Ia terjun sendiri, mengangkut tanah dan batu serta rela membiarkan tangan dan kakinya lecet-lecet.

Peristiwa yang saya ingat dari cerita guru-guru saya itu, saya ingat kembali kemarin. Minggu (3/8) pagi itu, Pemko Batam mencanangkan aksi gotong royong membersihkan Batam. Acaranya digelar serentak di 12 kecamatan dan pusat kegiatannya di lapangan Tanjungriau.

Banyak prosesi harus dilalui sebelum warga bersiap bersih-bersih. Ada upacara yang dihadiri seluruh pejabat Pemko Batam, termasuk Wali Kota Ahmad Dahlan dan wakilnya Ria Saptarika. Dahlan memuji Kadis Kebersihan dan Pertamanan Azwan yang bersemangat. ”Andai orang Batam semangatnya seperti Pak Azwan, Batam pasti bersih,” katanya.

Usai upacara, Wali Kota menyempatkan waktu wawancara dengan wartawan. Ia bilang, akan membudayakan gotong royong agar Batam bersih. Tak lupa, ia sebentar jalan kaki melihat warganya yang bergotong royong.

Inilah yang membuat saya bergetar. Saya tak banyak wawancara dengan Wali Kota itu. Saya terkenang perang khandak itu. Andai Dahlan mau memegang cangkul itu, andai ia mau menceburkan dirinya ke selokan yang kotor, andai ia mau memegang sapu lidi itu.

Dahlan memilih hanya melihat-lihat. Dan pejabat yang lain pun melakukan hal yang sama. Usai upacara, mereka pulang. Ada juga yang memilih menikmati masakan sea food di Tanjungriau yang terkenal lezatnya.

Ironi, ya. Tapi, biarlah seperti itu. Pejabat kita bisa sakit kalau memegang cangkul. Bisa-bisa Batam tak terurus. Kalau pejabatnya sakit, nanti pembuatan KTP bisa-bisa selesai satu tahun. Kalau pejabatnya sakit, mereka bisa-bisa tak bisa jalan-jalan. Sea food yang lezat itu, bisa jadi tak enak dinikmati kalau mereka sakit.****

Kategori: Batam