seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Oktober 2008

Bujangan Palsu—Sisi Lain Batam

Oktober 24, 2008 · 2 Tanggapan

Aksi mengaku-ngaku bujangan agar bisa memperdaya cewek, rupanya masih manjur untuk dilakukan. Don (nama samaran) warga Sekupang ini mengaku masih perjaka pada Melati, sebut saja begitu, seorang karyawan di sebuah perusahaan di Mukakuning.

Sehingga Melati terpikat. Tak hanya cinta yang ia serahkan. Tubuh moleknya juga ia serahkan bulat-bulat. Bermalam-malam, Don dan Melati bergumul dalam selimut. Melati akhirnya hamil tujuh bulan.

Kepada Don, ia minta dikawini. ”Mana janjimu,” kira-kira itulah yang diucapkan Melati kepada Don. Don tak menjawab. Ia meminta maaf. Ehh, rupanya Don tak mau menikahi Melati. ”Saya sudah punya isteri, say.” Kata-kata itu meluncur ringan dari mulut Don.

Melati tentu tak terima. Tangisnya pecah. Ia memukul-mukul dada Don. Sambil tetap meratap, ia berlari pulang ke rumah familinya. Di sana ia mengaku telah diperdaya Don. Akhirnya, dengan diantar keluarganya, Melati melaporkan Don ke Poltabes Barelang.

Awal pertemuan Don dan Melati terjadi pertengahan 2005 silam di Panbil Mall Mukakuning. Saat itu, Don langsung jatuh hati begitu melihat Melati berjalan seorang diri di Panbil Mall.

Jurus rayuan maut pun dilancarkan Don. ”Matamu seperti cahaya bulan itu. Hangat dan menyejukkan hati,” kata Don. ”Abang gombal. Paling-paling sudah punya isteri,” timpal Melati. ”Sumpah, Abang bujangan,’ tegas Don.

Akhirnya, rayuan Don menancap dalam di jantung Melati. Saban malam Minggu, Don tak lupa mengapeli Melati di Dormitori Mukakuning. Melati akhirnya hamil. Sebuah kehamilan yang menurut Melati berarti menikah dengan lelaki pujaan. Mimpi indah hidup bersama Don pun hadir di malam-malam Melati.

Namun hasrat Melati yang baru berumur 21 tahun itu kandas. Don yang ia kenal sebagai pria manis itu, ternyata bujangan palsu. Sudahlah beristeri, punya tiga anak lagi. Nasibmu, Melati.*****

Kategori: Batam

Bocah di Bawah Payung

Oktober 17, 2008 · 1 Tanggapan

Guntur menggelegar. Jumat siang itu, hujan mengguyur kawasan Batam Centre. Lantunan adzan dari Masjid Raya Batam telah memanggil. Puluhan pria berlarian menuju masjid. Hujan saat solat Jumat akan dimulai, benar-benar tak mengenakkan.

Banyak orang menunggu hujan reda. Sejumlah pegawai Pemko Batam berteduh di teras kantor Wali kota. Mereka berharap hujan tak sempat membanjir. Saya termasuk orang yang berdiri di tengah pintu, kantor DPRD Batam. Berharap mendapatkan pinjaman payung.

Di taman masjid, Andri (9) berdiri menunggu mobil datang. Bocah SD itu memegang payung yang ujungnya sudah patah. Besi-besi kecil penyangga payungnya sebagian juga sudah rusak. Namun, itu tak soal baginya. Payung itu masih bisa melindungi diri dari hujan.

Ia berlari begitu sebuah sedan Toyota Corolla mendekat. Ia menunggu di samping pintu, menawarkan pinjaman payung bagi pemilik mobil yang hendak ke masjid. Namun, sang pemilik mobil menolaknya. Pria berbaju safari itu sudah menyiapkan payung sendiri.

Ditolak pemilik Corolla, Andri berlari kembali menuju mobil Kijang Innova yang mendekat. Kali ini ia beruntung. Pinjaman payungnya bersambut. Payung kuning itu akhirnya pindah tangan. Andri berjalan di samping peminjam payungnya, berlari kecil di tengah hujan yang kian lebat.

Ada banyak anak seusia Andri yang siang itu menjajakan pinjaman payung. Jari-jari mereka berkerut kedinginan. Kulit bocah-bocah itu pucat. Namun wajah-wajah mereka merona merah.

Saat-saat hujan di hari Jumat adalah saat menjajakan payung. Mereka mendapatkan ”banyak” uang dari bisnis hujan kebetulan itu. Mereka menikmatinya.

Saat-saat tak turun hujan juga saat-saat bisnis bagi anak-anak kecil itu. Mereka ganti profesi dari penjaja payung menjadi penyemir sepatu. ”Pokoknya setiap Jumat, kami di sini,” tutur Andri.

Mereka tak mematok harga. Mereka tahu, para peminjam payungnya atau mereka yang menyemirkan sepatunya akan memberi lebih. Kalau ada yang bertanya, berapa, baru mereka jawab.

=*=

Hujan sudah reda. Para jamaah masjid Raya sudah pulang. Sembilan bocah mengerumuni tukang mie ayam di halaman masjid. Ya, mereka makan siang. Andri dan teman-temannya menikmati bakso dan es campur dari hasil menjajakan payung.

”Kau dapat berapa.” Pertanyaan itu meluncur dari mulur Kiki (10) kepada Andri. ”Biasa,” kata Andri.

Matahari makin meninggi. Awan gelap yang hari-hari ini menaungi Batam Centre perlahan menghilang. Panas kembali menyengat. Sampai jumpa di Jumat berikutnya.****

Kategori: Batam

Menerjemahkan ”Criminal Collaborations?”

Oktober 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Akhirnya bisa juga. Selasa (14/10) dini hari, akhirnya bisa juga saya menerjemahkan tulisan Andreas Harsono dan S Eben Kirksey berjudul Criminal Collaborations? Antonius Wamang and the Indonesian Military in Timika. Tak semuanya selesai memang, tapi cukup melegakan.

Tulisan ini saya terima sekitar tiga atau dua bulan lalu dari Andreas. Saya mengirim e-mail dan ia mengirimkan tulisannya itu. Ia minta saya mengomentarinya. Sayangnya, tulisannya sangat panjang. Dalam bahasa inggris, pula.

Saya kesulitan harus menerjemahkan tulisan beribu-ribu kata, itu. Selain karena bahasa inggrisku yang jelek, juga karena saya bukan orang yang pekerja keras. Tulisan itu saya biarkan saja.

Hingga akhirnya, Selasa dini hari itu saya bisa betah berjam-jam di depan komputer. Lalu, ada yang memberi masukan, agar saya menerjemahkan tulisan itu dengan bantuan google translate. Ada sejumlah penerjemahan yang aneh memang. Misalnya, google menerjemahkan kata ”guns” dengan nggak. Namun, pada kata ”gun” ia tetap menerjemahkannya dengan bedil.

Hampir dua jam di depan komputer, penyakit malasku kambuh. Terjemahan belum juga selesai, saya berhenti. Bukan karena tak lagi tertarik pada tulisan itu, tapi saya lebih memilih mengisi waktu di keheningan pagi itu dengan mendownload tulisan di pantau dan sejumlah contoh cerpen ke HP Nokia E61-ku.

Ada banyak tulisan yang akhirnya pindah dari komputer ke HP. Saya tak perlu mencetaknya di kertas. Waktu luang pun bisa kugunakan baca cerpen di HP.****

Kategori: Batam

Ballad of Muhammad Nardi

Oktober 7, 2008 · 6 Tanggapan

Pengakuan jujur tak selamanya berbuah manis. Apalagi, jika yang diakui adalah perbuatan haram, seperti menerima suap. Meski mengaku mengembalikan ”uang terima kasih” itu, pengakuan di ujung tugasnya sebagai anggota DPRD Batam membuatnya ”terasing”. Dicibir publik dan teman-temannya di Dewan, sekaligus terancam ditarik PKS yang merasa citranya tercoreng. Padahal, Nardi mungkin seorang pahlawan yang harus muncul di institusi korup seperti Dewan.

******

Pasar Tiban Centre sudah mulai lengang, Sabtu siang di akhir Ramadan lalu. Sejumlah pedagang sudah membersihkan lapak-lapak penuh sisik ikan. Hanya terlihat satu-dua pembeli yang lalu lalang, melihat kalau-kalau ada ikan segar yang masih tersisa.

Di ujung lorong, seorang pria bercambang berjalan malas menuju tempat penjualan ikan. Ia mengenakan celana dan kaos olah raga berwarna biru putih. Di dadanya, tercantum tulisan ”Persatuan Isteri Dewan” (PISWAN) DPRD Batam. Jelas, kaos ini menunjukkan penggunanya harusnya seorang perempuan, seorang isteri Dewan. Tapi, mengapa harus laki-laki itu yang mengenakannya?

Ya, laki-laki itu ternyata Muhammad Nardi. Anggota DPRD Batam yang hari-hari ini menjadi pembicaraan dan namanya menghiasi headline media karena mengaku menerima uang Rp25 juta, sesaat setelah terjadi kenaikan tarif listrik di Batam, tahun 2006 silam. Sejak beberapa waktu lalu ia tak muncul di depan publik.

”Sudah seminggu ini saya tak enak makan. Ini lagi mau cari ikan segar yang banyak dagingnya,” katanya, sambil menggandeng tangan saya.

Saya tak terkejut dengan pengakuan itu. Semuanya terlihat jelas di wajah Nardi. Wajahnya kuyu, kusut seperti orang baru sembuh dari sakit. Cambangnya dibiarkan tak terurus. Tak ada senyum, Nardi benar-benar terlihat bagai mayat hidup. Ia mengaku syok.

Tak hanya wajah pucatnya itu yang membuat ia terlihat gemetaran, pakaian yang ia kenakan juga menunjukkan itu. Lihat saja kaosnya, itu kaos isterinya yang ia pakai. Tapi, saya simpan saja segala dugaan-dugaan itu.

”Bagaimana med menurutmu. Apa yang harus saya lakukan menghadapi kasus ini,” katanya, setelah ia saya bawa ke pedagang ikan talang.

Saya terdiam. Untuk beberapa saat pertanyaan itu tak saya jawab. Saya ragu. Lalu mereka-reka apa yang sebaiknya saya katakan padanya. Koran kamilah yang pertama mengungkapkan pengakuan Nardi ke publik, tentu kami juga berkepentingan agar kasus ini dituntaskan. Tak boleh lagi jadi angin lalu. Hukum harus ditegakkan.

(lagi…)

Kategori: Batam · sosial
Ditandai:

Waktu Pulang bagi Lelaki

Oktober 6, 2008 · 2 Tanggapan

Mengunjungi Pulau Bawean menjelang Lebaran adalah perkecualian yang tidak akan didapatkan pada hari biasa. Tidak hanya hiruk pikuk pemudik yang terasa, predikat Pulau Putri seakan lenyap untuk sementara waktu.

Adi Tri Pramono, Jawa Pos, Bawean


Menjelang Lebaran, semboyan mangan ora mangan asal kumpul terasa sangat pas untuk menggambarkan suasana Pulau Bawean. Saat itu rasanya tidak ada yang lebih penting daripada bertemu sanak saudara untuk merayakan Idul Fitri.

Suasana tersebut sangat terasa, bahkan sebelum menjejakkan kaki di pulau yang terletak sekitar 80 mil sebelah utara Kota Gresik itu. Selama perjalanan bersama para pemudik, kemeriahan suasana Lebaran sudah terasa.

Sebagai pulau yang terpisah dengan induknya, yakni Kabupaten Gresik, perjalanan ke Bawean hanya bisa ditempuh lewat laut. Jawa Pos pun berangkat ke Bawean dengan kapal cepat Express Bahari. Jawa Pos berangkat Sabtu (27/9) sekitar pukul 09.00. Tiketnya Rp 160.000 sekali jalan.

Kapal tersebut mampu melaju dengan kecepatan rata-rata 23 knot sehingga perjalanan laut sejauh 80 mil bisa dijangkau dalam tiga jam saja. Bandingkan dengan kapal Dharma Kartika yang harus berlayar selama 8-9 jam.

Selain mampu mengangkut 344 orang plus barang bawaannya, kapal yang diproduksi pada 2005 oleh perusahaan galangan kapal Caterpilar asal AS itu memiliki standar keamanan laut kelas wahid. Kapal yang dinakhodai Yosis Dinun Sada tersebut dilengkapi peralatan EPIRB (emergency position indicating radio beacon).

Radio itu adalah semacam kotak hitam untuk kapal laut. Salah satu fungsinya, jika dalam kondisi berbahaya, kotak hitam tersebut tinggal dilempar ke laut dan langsung mengeluarkan sinyal SOS yang bisa diterima pusat kontrol lalu lintas kapal maupun kapal lain yang sedang lewat.

”Fasilitas inilah yang membuat nyaman penumpang, meski kapal melaju dengan kecepatan 23 knot,” jelas Yosis.

Kapal Express Bahari memiliki tiga buah mesin dengan total 3.600 daya kuda. Torsi yang dihasilkan dengan kekuatan itu sebesar 2.300 rpm. ”Torsi inilah yang membuat kapal itu disebut kapal cepat,” lanjut alumnus angkatan pertama SPIP Palembang tersebut.

Untuk konsumsi bahan bakar, dibutuhkan lima ton solar untuk perjalanan PP Gresik-Bawean. Saat beroperasi, Yosis dibantu tiga asisten kapten yang bergantian menakhodai kapal yang memiliki enam buah sekoci itu. Sekoci tersebut mampu menampung 65 orang dan digunakan jika kapal dalam keadaan bahaya.

Sepanjang perjalanan, ombak kala itu, menurut Yosis, masih tergolong normal. Meski begitu, ombak tersebut mampu mengombang-ambingkan isi perut penumpang. Tak ayal, beberapa penumpang tampak menjinjing tas kresek untuk wadah isi perut yang keluar akibat mual.

Jawa Pos sempat berkeliling untuk menilik kapal yang disesaki pemudik dan barang bawaannya itu. Di dek belakang kapal, Jawa Pos berkenalan dengan sejumlah pemudik dari negeri seberang, Malaysia dan Singapura.

Mereka berkumpul di dek belakang karena tidak kebagian kursi. Selain itu, mereka sengaja menikmati deburan ombak, semilir angin, dan panas matahari yang sudah lama dirindukan.

”Panasnya khas, tak sabar rasanya untuk segera sampai di rumah,” kata Mustafi, pemudik yang empat tahun bekerja di Malaysia dan belum pernah pulang itu.

Perasaan rindu yang sama, agaknya, juga merayapi hati para pemudik. Sebab, rata-rata mereka baru bisa pulang setelah bertahun-tahun mengais dan menghimpun rezeki di negeri jiran.

Umumnya mereka ”belum berani” pulang jika tidak membawa uang cukup atau oleh-oleh bagi sanak keluarganya di kampung. Oleh-oleh itu juga menjadi simbol keberhasilan dan kebanggaan di tanah rantau.

Jumlah uang mereka rata-rata bernilai puluhan juta rupiah. ”Dulu sebelum ada bank di Bawean, mereka langsung membawa uang hasil jerih payah secara cash,” jelas Supardi, Kadishub Pemkab Gresik.

Bagi yang lajang, hasil memeras keringat di rantau itu biasanya digunakan untuk modal menaikkan ‘’status” alias menikah. ”Saya merantau selama empat tahun untuk mengumpulkan biaya pernikahan dan saat itu tiba tahun ini,” kata Hermas dengan wajah berbinar.

Rata-rata lelaki Bawean menikah saat umur mereka di atas 25 tahun. Mereka benar-benar ketat untuk urusan biaya hidup. Selain untuk menikah, uang jerih payah di tanah rantau biasanya digunakan untuk membangun rumah.

Syarat tersebut seolah telah menjadi hukum tak tertulis bagi pemuda Bawean yang ingin menikah. Karena itu, Lebaran adalah waktu yang mereka tunggu, waktu yang tepat untuk pulang dan memulai babak baru dalam rangka meneruskan generasi.

Bagi mereka yang sudah berkeluarga, Lebaran berarti memberikan adik bagi anak mereka yang lebih dahulu lahir.

Menurut budayawan Bawean Cuk Sugrito, merantau sudah menjadi tradisi masyarakat Bawean. Saat anak beranjak remaja, mereka sudah dipersiapkan untuk merantau.****

Kategori: Batam