seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari November 2008

Jangan Komentari Pak Ria

November 27, 2008 · 1 Tanggapan

kapan-ya-ktp-siak-sesuai-spmSengaja, tulisan ini berjudul seperti itu. Karena biasanya, setiap kali menulis soal KTP SIAK, Pak Ria pasti mengomentarinya. Bukan apa-apa. Saya hanya tak enak hati. Takut dianggap nulis ini untuk kepentingan pribadi.

Tak enak hati, juga bukan karena hubungan saya dengan Pak Ria dekat, bukan. Secara emosional, hubungan kami tak mendalam. Saya tak enak hati, karena saya orang yang mendukung Pak Ria dalam pelaksanaan KTP SIAK ini. Saya sering tak mau ”mengutip” jika ada anggota Dewan yang bicara miring soal KTP SIAK. Karena saya tahu, Pak Ria bekerja keras untuk memberikan pelayanan optimal buat masyarakat, khususnya dalam pembuatan KTP SIAK.

Kamis (27/11) pagi tadi, saya sengaja kembali datang ke kantor camat Sekupang, untuk menanyakan soal KTP-ku yang sudah tiga minggu diproses. Minggu lalu, saya sudah datang ke sana. KTP belum selesai, sehingga saya terpaksa mengirim SMS pada Pak Camat, minta tolong agar KTP saya dicetak.

Bukan apa-apa, menurut Bu Camat Lubukbaja, kalau hanya cetak KTP saja, lima hari setelah berkas dimasukkan, KTP sudah bisa dicetak. Sementara berkas permohonan KTP saya, sudah lebih dua minggu. Jawaban Pak Camat menyejukkan hati. Ia meminta saya menemui Bu Rahmini. Saya naik ke lantai dua. Di sana, Bu Rahmini sedang bersimpuh di lantai menghadapi tumpukan kertas. Kepadanya, kubilang saya diminta menemui dia oleh Pak Camat.

”Mana surat acc dari Pak Camat.” Ia minta surat sakti. Saya tunjukkan SMS tadi. Lalu saya dimintanya memfoto kopi form pengambilan KTP yang sejak dua pekan lalu diberikan pegawai kecamatan sebagai bukti berkas saya sudah lengkap.

”Seminggu lagi datang ya,” katanya. SMS Pak Camat yang sakti itu, ternyata maknanya saya harus menunggu seminggu. Seminggu lagi berarti, KTP saya selesai dalam tiga minggu. Masih cukup beruntung jika dibandingkan dengan KTP ratusan warga lain yang sampai menunggu berbulan-bulan.

Tapi tadi, janji agar KTP saya selesai dalam tiga minggu tak terealisasi juga. SMS Pak Camat ternyata tak sakti juga. Saya tanya, katanya KTP saya belum selesai. Saya pun mencoba menemui Bu Rahmini lagi, tapi sayang ia sedang tak di tempat. ”Kalau sudah sama Bu Rahmini, mintanya sama Bu Rahmini,” kata salah seorang pegawai kecamatan.

Saat lagi menunggu Bu Rahmini, sejumlah warga protes di ruang pelayanan. Seorang ibu warga Patam Lestari protes, karena anaknya yang laki-laki ditulis sebagai perempuan di KTP-nya. Lalu, seorang Warga Tiban Indah protes karena umurnya jadi tua enam tahun.

Di tengah-tengah protes itu, seorang pegawai laki-laki datang menemui dua kawannya yang melayani warga. Dia diminta membantu karena warga yang ada saat itu lumayan banyak, ada tujuh orang. Namun, pegawai laki-laki tadi tak mau.

”Saya solat dulu. Nanti aja habis solat,” katanya. Temannya menjawab, ”mentingin solat atau melayani masyarakat,” tanyanya. ”Solat itu penting,” tukasnya, sambil pergi meninggalkan tujuh warga yang melongo. ”Ya, solat memang penting,” kata temannya menyerah.

Jadi tinggallah dua orang tadi yang melayani warga. Saya menulis kejadian soal solat dan melayani masyarakat, bukan untuk membandingkan mana yang lebih penting solat atau melayani masyarakat. Ini hanya untuk menggambarkan tak adanya sense of crisis di hati pegawai laki-laki tadi. Masyarakat yang sudah menunggu sejak pagi, tentu saja menganggap solat itu penting sama seperti pegawai tadi. Tapi mereka terpaksa tak segera solat karena urusan menanyakan KTP mereka belum selesai.

Saya jadi berpikir, kapan standar pelayanan pembuatan KTP yang hanya dua minggu selesai itu bisa terealisasi di Batam. Ini bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga buat citra Pak Ria sendiri. Jadi, jangan komentari tulisan ini Pak Ria.****

Kategori: Batam

Visit Batam 2010

November 22, 2008 · 2 Tanggapan

logo-visit-batam-2010Saya ingin menulis soal visit Batam 2010. Tapi, bukan dari sisi persiapan Batam ataupun tempat-tempat pariwisata di Batam. Tapi, dari sisi munculnya angka 2010, itu.

Tahun 2010, sepertinya menjadi tahun ”keramat” bagi Wali Kota Ahmad Dahlan. Banyak target dan kegiatan ia canangkan di tahun tersebut.

Angka 2010 juga istimewa karena disebut-sebut terus oleh Wali Kota Ahmad Dahlan. Angka 2010 yang dibaca Dahlan dua kosong satu kosong, disebutnya sebagai pembawa berkah.

”Dua kosong satu kosong, itu angka bagus. Mudah-mudahan membawa berkah,” tukasnya.

Jauh sebelumnya, tahun 2010 juga dicanangkan Dahlan sebagai tahun bebas banjir. Ia berjanji akan mengentaskan persoalan banjir di Batam di tahun dua kosong satu kosong, itu.

”Kita tuntaskan banjir di Batam tahun 2010,” katanya, pada satu kesempatan.

Gandrung dengan angka 2010, membuat Dahlan pernah meralat sebuah berita di media yang tak menyebut tahun 2010 sebagai target pengentasan banjir di Batam. ”Catat ya, target kita tahun 2010. Jangan salah tahun lagi,” katanya.

(lagi…)

Kategori: Batam

Menampung Orang-orang Bermasalah

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

deni-salah-satu-orang-gila-yang-dikerangkeng-foto-yusuf-hidayatSudah hampir delapan tahun pesantren Al Fateh berdiri di Nongsa. Selama sewindu pula pesantren ini tak pernah menolak siapapun yang ingin datang ke sana. Mulai dari menampung orang gila, menerima anak broken home sampai tempat para nara pidana datang bertobat. Semuanya gratis.
II
Kepala lelaki itu bergoyang ke kanan ke kiri. Matanya terpejam dengan telunjuk yang terus bergerak. Ia duduk di lantai berkeramik, di bawah pohon ceri yang sudah tak berbuah.

Gerimis yang turun sejak tadi pagi mengguyur sebagian kakinya yang tak beralas. Ia tak peduli. Lelaki itu terus bergoyang, tanpa suara. Roman mukanya murung. Jenggotnya panjang berjuntai, kontras dengan rambutnya yang dipangkas pendek.

Dialah Khaidar, lelaki berumur 27 tahun yang dititipkan orang tuanya di pesantren Al Fateh karena kurang waras. Jiwanya terganggu, suka blusukan ke mana-mana tanpa tujuan. Bahkan, sempat hendak dihajar massa karena dianggap pencuri.

Khaidar sekarang sudah dibiarkan lalu lalang di dalam lokasi pondok. Menurut wakil pimpinan pesantren Al Fateh Sulaiman, ia sudah melewati fase awal terapi orang gila di pesantren itu. Dulunya, Khaidar sempat dikurung selama seminggu, lalu direndam di bak pemandian.

”Ia dititipkan orang tuanya di sini. Mudah-mudahan atas izin Allah ia bisa sembuh,” tuturnya.

Khaidar sudah tak lagi liar. Ia sudah mau mengikuti perintah. Ketika mau diambil gambarnya, Selasa (11/11) kemarin, ia tak memberontak. Ia juga sempat menjawab sejumlah pertanyaan, meski dengan terpatah-patah.

”Dulunya malah ia sama sekali tak bisa bicara,” ujar Sulaiman.

Selain Khaidar, ada sejumlah orang gila lainnya yang dititipkan di Al Fateh. Tiga orang di antaranya masih dikurung, sedangkan satu orang lagi dikerangkeng. Sementara Khaidar dan dua orang lainnya dibiarkan bebas seperti santri-santri normal Al Fateh. Mereka menjalani terapi penyembuhan di pesantren yang dipimpin oleh KH Muhammad Sholehan itu.

Salah satu yang dikurung itu bernama Tarmizi. Ia tinggal di sebuah kurungan kira-kira berukuran dua kali dua meter. Ada kamar mandi di dalam kurungan itu.

Tarmizi ternyata fasih berbahasa inggris. Ia menggunakan tiga bahasa saat berbicara. Salah satu bahasa yang ia ucapkan, diakuinya sebagai bahasa Israil, ibrani. ”Are you malaysian” katanya, berbahasa inggris.

Menurut Sulaiman, orang-orang seperti Khaidar dan Tarmizi rata-rata dibawa orang tua atau keluarganya ke pesantren Al Fateh untuk disembuhkan. Bukan orang gila yang dipungut di jalan-jalan.

”Kami menerima siapapun yang hendak berbuat baik dan ingin sembuh di sini. Siapapun yang ingin bertobat, juga kami terima,” tukasnya.

Al Fateh sama sekali tak meminta bayaran. Semua orang yang dititipkan, baik orang gila, anak-anak broken home ataupun mantan nara pidana yang ingin bertobat sama sekali tak dikenai biaya. Mereka makan seperti apa yang dimakan pengasuhnya dan merasakan apa yang dirasakan pengasuhnya.

Ardi (27) misalnya, mantan nara pidana kasus narkoba itu sudah sebulan lebih mondok di Al Fateh. Ia mengaku ingin bertobat dan sembuh dari kecanduan mengkonsumsi sabu-sabu. Ia mengaji, sekaligus ikut bekerja memperbaiki ruangan-ruangan di pondok yang rusak.

”Saya ke sini karena saat di penjara, dengar kabar pesantren ini bisa menampung orang yang mau bertobat seperti saya,” tukasnya.

Sejumlah bocah bermasalah juga menetap di pesantren ini. Ada yang dititipkan karena orang tuanya bercerai, tak mampu membiayai hidup anaknya atau karena menderita penyakit. Samsul (8) misalnya, menderita autis sejak kecil. Kakinya bengkok menyerupai huruf X.

Samsul berjalan tertatih-tatih saat Batam Pos memotret anak-anak sebayanya mengaji. Ia ingin diambil gambarnya. ”Dia paling berani, paling aktif. Bahkan, kalau kuliah subuh ia maju meraih mikrofon,” kata Sulaiman.****

Kategori: Batam

Manusia Sunnah di DPRD Batam

November 8, 2008 · 1 Tanggapan

Jangan pilih tikus”Menurutmu, siapa anggota Dewan yang masih pantas bertahan di sini?”

Pertanyaan itu berkali-kali diajukan padaku. Baik oleh anggota DPRD Batam sendiri, atau orang luar yang mengamati polah wakilnya dari balik pagar. Saya kadang tergoda untuk menjawab, namun lebih banyak hanya tersenyum.

Tadi, terpikir olehku untuk menjawab pertanyaan itu di sini. Mungkin lewat blog, jawabanku tak begitu akan berefek. Dari pada kutulis di media tempatku bekerja, lebih aman kutulis di sini saja.

Saya menyebut, anggota Dewan yang masih pantas bertahan di DPRD Batam sebagai manusia sunnah. Tentu saja saya menilai seperti itu tanpa menilai tingkah lakunya. Saya tak menilai sisi moral seseorang. Karena banyak yang tersembunyi. Apalagi di dunia politik. Saya menilainya dari sisi kinerja. Mereka yang saya sebut masih pantas bertahan itu, karena bisa mewarnai DPRD Batam.

Orang pertama mungkin Soerya Respationo. Soerya seperti pil penenang, kalau DPRD bergolak. Berkali-kali Soerya membuktikan bisa menjadi pil penghilang rasa sakit itu. Karismanya kuat. Banyak anggota Dewan yang segan kepadanya. Sayang, tahun depan ia pindah ke DPRD Kepri.

Aris Hardy Halim juga masuk jajaran manusia sunnah. Banyak suara-suara miring tentang dia, terutama yang menyebutnya munafik. Namun, menurut saya Aris tetap pantas untuk bertahan di DPRD Batam. Tak ada anggota Dewan yang lebih menguasai soal anggaran dibandingkan politisi PKS ini.

Chablullah Wibisono juga demikian. Ia low profile. Namun terbuka. Ia sering jadi bemper. Tak bisa berbohong, namun penakut. Banyak cerita-cerita off the record yang saya dapat dari dia. Wartawan suka mengkonfirmasi kebobrokan Dewan kepadanya.

Ruslan Kasbulatov, juga pantas masuk kategori ini. Ia keras dan sedikit arogan. Ia sering pusing jika tak punya uang. Tak pintar, kurang cerdas namun kritis. Ia orang yang fleksibel dan tulus dalam membantu orang lain.

Yudi Kurnain juga bisa disebut manusia sunnah di DPRD Batam. Wawasan politiknya dalam. Cukup cerdas sebagai politisi, tak menyukai hal-hal teknis dan ahli dalam menjatuhkan seseorang. Ia tak pandang buluh dan sering memberikan komentar kontroversi. DPRD Batam membutuhkan orang seperti Yudi.

Irwansyah termasuk anggota Dewan yang kritis. Namun, suka berhati-hati. Sebelum berkomentar, ia selalu berpikir besoknya akan seperti apa berita tentang dirinya. Tak suka berpolemik, punya banyak kepentingan namun memikirkan kepentingan warganya.

Zilzal juga masuk yang pantas bertahan. Ia kritis dan dekat dengan media. Banyak rahasia-rahasia di DPRD Batam terkuak darinya. Sayang ia takut sama partainya. Tahun depan, ia tak dicalonkan lagi.

Edi Robert Siahaan bisa disebut seorang pemimpin. Ia orator ulung dan menguasai banyak persoalan. Kadis-kadis pada takluk, jika berdebat dengannya soal proyek-proyek. Robert pantas bertahan. Namun, tahun depan ia bertarung di Kepri.

Onward Siahaan termasuk manusia sunnah. Insinyur yang juga mantan pegawai Otorita Batam ini, cerdas, kreatif dan kritis. Ia tak menyukai hal-hal kontroversi dan tak mau mengakui jika ada yang bobrok di Dewan.

Satu lagi sebetulnya pantas untuk bertahan. Sayang, ia dicopot oleh partainya. Reinhard Hutabarat orangnya. Ia tak pernah kompromi. Apapun yang menurut dia tak masuk akal, pasti disentilnya. Pemko Batam termasuk yang sering ia bidik. ”Banyak yang tak beres di Pemko,” katanya.

Selebihnya, saya rasa biasa-biasa saja. Bahkan banyak anggota Dewan yang saya pikir tak bisa memberi warna. Ada yang tak pernah muncul di Dewan atau sibuk dengan urusan pribadinya.****

Kategori: Batam

1,5 Bulan untuk KTP SIAK

November 6, 2008 · 2 Tanggapan

KTP indonesiaAwalnya, saya tak bermaksud memperpanjang KTP. KTP-ku baru habis nanti di 2009. KTP isterikulah yang sudah mati, hingga saya terlibat juga dalam aksi membuat KTP ini.

Perjalanan dimulai dengan membuat surat pengantar ke rumah pak RT di Kartini III. Kemudian berlanjut meminta stempel ke rumah pak RW di Kartini V. Surat pengantar itu untuk keperluan membuat KTP perpanjangan dan KK SIAK. Semuanya diurus isteri, karena saya benar-benar tak ingin membuat KTP SIAK.

Senin (4/11), isteriku ke kantor lurah di Seiharapan. Sepuluh menit di sana, ia kembali lagi. Ia meminta saya ikut menyertakan KTP dan ijazah serta surat akta lahir. Saya pikir untuk persyaratan membuat KK.

Karena ia harus cepat masuk kerja, saya menggantikan dia mengurusnya. Ternyata, petugas kelurahan langsung memasang nama dan foto saya di form pembuatan KTP, lalu isteri di bawahnya. Saya kaget, kok tiba-tiba saya jadi ngurus KTP. Tapi, saya tak mengungkapkan itu. Saya pikir, tak ada ruginya bagi saya ikut membuat KTP. Biar sama-sama memiliki KTP SIAK.

Dari kantor lurah, saya ke kantor camat, Rabu (6/11) tadi. Di loket permohonan, seorang warga terlihat hendak mengambil KTP-nya. ”Pak saya mau ngambil KTP,” katanya sambil menyodorkan sebuah form.

”Oh, belum selesai pak,” kata petugas loket, seorang laki-laki. ”Tapi, saya sudah lama buatnya. Bulan September,” tukas warga tadi. ”Yang selesai permohonan sebelum September, pak. Baru yang Agustus yang selesai,” tutur petugas tadi itu.

Karena saya harus memasukkan permohonan, saya tinggalkan percakapan tadi. Saya menuju loket sebelah. Seorang petugas perempuan berjilbab menyambut. Ia mengecek semua persyaratan dan menyatakan lengkap. ”Ibunya mana? Ia menanyakan isteri saya.

”Lagi kerja bu,” jawabku. ”Suruh datang ke sini, untuk foto,” katanya.

Saya mengikuti sarannya. Isteriku kuminta datang. Sambil menunggu isteri, saya membaca koran di samping pintu masuk kantor camat. Abdul Malik, Sekcam Sekupang itu terlihat keluar dari ruang sekretariat. Ia menyalamiku.

”Saya lagi bikin KTP. Tinggal foto saja,” tukasku padanya. ”Silakan kalau gitu,” katanya memintaku langsung masuk ke ruang pemotretan. ”Lagi nunggu isteri,” jawabku. Sebentar bersama Malik, ia naik ke atas. Mau ngecek berkas, katanya.

Isteriku datang, ternyata kami tak bisa langsung foto. Masih ada yang perlu difotokopi lagi, rupanya. ”Biayanya Rp5 ribu,” kata petugas berjilbab tadi. Saya menyerahkan uang Rp5 ribu, kembalian dari pembelian map Rp5 ribu juga. Map itu dijual petugas foto kopi di kantor camat, seorang ibu yang sudah berumur.

Tak lebih dari satu menit, prosesi pemotretan selesai. Pak tukang potretnya profesional. Tak perlu lama-lama. ”Sekarang selesai. Ini nomor telepon yang harus bapak hubungi nanti. Telpon ke nomor ini, 1,5 bulan lagi. Mungkin KTP-nya selesai 1,5 bulan lagi. Tapi, jangan lupa telepon dulu,” katanya sambil memberikan bukti pembuatan KTP dan nomor telepon kantor camat Sekupang.

Isteriku rupanya kaget. ”Masa 1,5 bulan. Lama banget,” ujarnya. Saya jadi teringat pada Pak Ria Saptarika. Mudah-mudahan, tak selama itu ya Pak.****

Kategori: Batam