seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Desember 2008

Poligami Aja Lagi…

Desember 27, 2008 · 1 Komentar

poligami
Suatu hari, Dedi dan Hasan kaget saat teman kecil mereka, Wahyu, datang bertamu ke rumah mereka. Wahyu menyampaikan undangan akan menikah dengan Anisah, gadis satu kantor Wahyu.

Dedi bingung saat melihat undangan itu. Wahyu baru berumur 25 tahun, sementara Anisah si mempelai perempuan sudah berumur 35 tahun. Terpaut sepuluh tahun.

”Setahu saya, cita-citamu itu ingin poligami, ingin punya isteri banyak. Kok kamu kawin dengan perempuan yang lebih tua,” tanya Dedi.

”Itulah Ded. Justru karena saya ingin poligami, saya nikahi Anisah,” tukas Wahyu.

”Kok bisa,” sambung Hasan.

”Kau pikir sendirilah. 25 tahun lagi, saya berumur 50 tahun. Masih cukup gagah,” kata Wahyu. ”Sementara isteriku, 25 tahun lagi berumur 60 tahun. Sudah manoupose, sudah keriput,” tambahnya.

”Kalau nanti saya nikah lagi di umur 50 tahun, kemungkinan besar istriku tak akan keberatan. Dia sudah 60 tahun, pasti ikhlas kalau saya nikah lagi,” kata Wahyu.????

Kategori: sosial

Syamsul Bahrum, Sang Ketua

Desember 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

syamsul-bahrumNama Syamsul Bahrum, hampir tak pernah hilang di setiap permasalahan yang hendak diselesaikan Pemko Batam. Bukan karena ia bermasalah, tapi karena ia selalu nongol sebagai ketua tim. Tim ini, tim itu, selalu ia ketuanya. Tak jarang, ia dituding tak efektif.
II

”Abang masih rapat. Nanti diberitahu.” Bunyi pesan singkat elektronik (SMS) seperti itu, biasa dikirim Asisten Ekbang Pemko Batam Syamsul Bahrum. Hampir tiap hari, ia rapat dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain.

Syamsul Bahrum seperti tak ada bandingnya di Pemko Batam. Ia selalu menjadi orang pertama yang dipilih Wali Kota Ahmad Dahlan untuk mengetuai semua tim yang dibentuknya. Bahkan, di setiap kunjungan Dahlan ke sejumlah kecamatan atau pembukaan sebuah even, perkenalan untuk Syamsul Bahrum selalu lebih istimewa dibandingkan dengan pejabat eselon II lainnya.

”Inilah Doktor Syamsul Bahrum. Ia lebih terkenal dibanding saya. Otaknya bergeliga, lulusan Australia,” kata Dahlan, di hampir kesempatan memperkenalkan Syamsul Bahrum.

Keistimewaan Syamsul Bahrum, bisa dilihat dari jumlah tim yang ia pimpin. Tim Swastanisasi Sampah, Tim Gertak DBD, TIm Penataan PK-5, Tim FTZ Batam, Tim Konsesi Air Pemko Batam, Tim Parkir Berlangganan, Tim Pengendalian Banjir, Tim Pemulangan TKI Bermasalah, Tim Pengkajian UMK Batam, Tim One Stop Service Pemko Batam, Tim Penanganan Kemiskinan Perkotaan, Tim Pelimpahan Wewenang Wali Kota ke Camat dan lain-lain.

”Ada sekitar 16 tim yang saya ketuai,” ujar Syamsul.

Saking banyaknya tim yang ia pimpin, dalam sehari ia bisa dua kali rapat. Itu belum lagi berkoordinasi melalui telepon. Syamsul juga merupakan pejabat di Pemko Batam yang sering ke luar kota, baik ke Jakarta maupun ke Singapura dan China.

Syamsul juga sering nongol di koran. Hampir tiap hari ia diwawancarai wartawan tentang permasalahan ini dan itu. Ia juga sering tampil dengan ide-ide segar, yang kadang terlihat sulit diterapkan di Batam.

Dengan banyaknya tim yang ia pimpin, tak ayal tudingan miring mengalir kepadanya. Syamsul dianggap tak efektif, terlalu banyak konsep tapi minim realisasi.

Namun, tudingan seperti itu dianggapnya biasa saja. Ia mengatakan, sebagai ketua tim, ia bekerja tak sendirian. Ada pelaksana teknis yang mengimplementasikan konsep-konsep tim di lapangan.

”Seperti masalah swastanisasi sampah misalnya, kan pelaksananya Dinas Pasar dan Kebersihan. Soal parkir berlangganan, pelaksananya Dishub. Lagi pula, yang milih kan Wali Kota. Saya sebagai bawahan, wajib melaksanakan perintah,” kata Syamsul.

Apa yang diungkapkan Syamsul mungkin ada benarnya, jika menyimak apa yang diungkapkan Wakil Wali Kota Ria Saptarika. Dalam setiap pembentukan tim, katanya, pejabat lain di lingkungan Pemko Batam seperti enggan ditunjuk sebagai ketua tim. Sehingga, Syamsul Bahrum terus yang dipilih.

”Ia orangnya lincah, bisa diandalkan. Kadang, saat yang lain banyak diam, ia bersedia menjadi ketua tim,” tutur Ria, beberapa waktu lalu.

Namun, kata Ria, ia setuju perlu ada orang baru di lingkungan Pemko Batam yang bisa menjadi ketua tim selain Syamsul Bahrum. ”Kita lihat nanti,” katanya.

Syamsul sendiri mengaku enjoy dan tak terlalu terbebani dengan banyaknya tim yang ia ketuai. Ia mengaku masih bisa berbagi waktu dengan keluarganya. Caranya, dengan menyediakan waktu khusus buat istri dan anak-anaknya.

Di akhir pekan, kata Syamsul, ia biasa membawa anak-anaknya nonton film. Film aksi, dengan bintang-bintang seperti Jacky Chan, Arnold Schwarzenegger dan lain-lain menjadi favorit tontonan di akhir pekan.****

Kategori: Batam

Kebahagiaan Orang Lain, Kebahagiaan Kita

Desember 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

pin-pns
Hatiku bergetar. Bukan getaran biasa. Ini getaran bahagia. Bahagia melihat orang lain bahagia.
Semua berawal saat saya menelpon temanku. Kepadanya, kukatakan ia lulus tes CPNS, menjadi guru SD di lingkungan Pemko Batam. Ia tak percaya, tapi terus menyebut Alhamdulillah.
Ia larut, antara percaya dan menyukuri berita itu. Saya kemudian menutup telepon, biar temanku itu menikmati apa yang bergelora di dadanya.
Lima menit kemudian, suaminya nelpon. Kembali menanyakan, benar gak isterinya lulus CPNS. Karena pengumumannya baru diumumkan besoknya. Kupastikan padanya, isterinya, Jamilah lolos.
Lagi-lagi segala puja-puji bagi Allah, Tuhan semesta alam itu meluncur. Dia berteriak. ”Terima kasih-terima kasih,” katanya.
Di sini hatiku berdesir. Sungguh bergetar luar biasa. Saya mungkin tak akan pernah jadi PNS. Tapi, melihat temanku yang begitu bahagia setelah menjadi PNS, saya rasa kebahagiaan dia adalah kebahagiaan saya.****

Kategori: Batam

Suka Duka Seorang Humas

Desember 19, 2008 · 1 Komentar

ADANG Gumilar menutup makan malamnya dengan satu batang rokok, Senin, awal Desember lalu. Sambil berselonjor kaki, Humas PT Adhiya Tirta Batam (ATB) itu duduk lesehan di teras rumahnya, di Tiban Indah Blok M/I, Sekupang. Sendirian ia mengisap pelan-pelan rokoknya.

Jarum jam menunjuk pukul setengah sembilan. Belum cukup larut. Adang masih ingin bersantai memandangi teras rumahnya yang dilengkapi taman rumput. Belum waktunya bagi dia pergi ke peraduan.

Rasa pedas masakan isterinya juga masih ia rasakan di ujung lidahnya. Tiba-tiba namanya dipanggil. Di depan pagar, sekitar sepuluh orang bertandang, memanggil-manggil nama Adang. Jelas bukan panggilan bersahabat, mereka yang memanggil nama Adang terlihat gelisah.

Tamu itu ternyata warga Taman Sari Hijau. Mereka datang mengadukan air ATB yang tak mengalir. ”Kami ingin malam ini juga air datang ke rumah kami,” kata mereka.

Adang mencoba menenangkan tamu-tamunya. Kepada mereka, ia berjanji akan mengirimkan tangki air. ”Saya segera menelpon ke kantor agar perumahan Taman Sari Hijau segera dikirimi tangki air,” kata Adang.

Pengalaman Senin malam itu, hanya sekelumit kisah bagaimana Adang menjalani tugasnya sebagai seorang Humas. Di lain waktu, ia kerap terjaga di malam hari karena ponselnye berdering. Lagi-lagi pengaduan soal air yang macet hinggap di ponselnya.

”Itulah dunia seorang Humas, harus siap 24 jam,” kata Adang. Tak jarang ia diomeli, dicaci dan diancam. Hal-hal seperti ini membuat ia lama-lama kebal juga.

Tapi, menurut Adang, baru di dunia Humas ia bisa menjiwai sebuah pekerjaan. Ia tak hanya menjadi penyampai kebijakan perusahaan, tapi juga penyampai aspirasi warga, terutama mereka yang membutuhkan pelayanan air bersih.

ATB, kini malah sangat menganggap penting keberadaan Humas. ”Mulai tahun depan, Humas di ATB akan jadi departemen tersendiri,” tukas Adang.

Ade Sulistiyani Humas PLN juga menjalani hari-hari seperti Adang. Apalagi saat listrik di Batam sempat berhari-hari byar pet, saat krisis gas melanda Batam. Saat itu, tiada hari tanpa pengaduan atau komplain yang dialami Ade.

Pernah, kata Ade, ada seorang pelanggan PLN yang terus menelpon Ade dari pukul 12 malam hingga pukul dua dini hari. Dari ujung telepon, pelanggan PLN itu mengancam akan terus menelpon ponsel Ade.

”Katanya, anaknya tak bisa tidur karena listrik mati. Ia minta PLN segera menghidupkan listrik,” tutur Ade.

Ade saat itu, juga bernasib sama dengan pelanggan tadi. Anaknya juga tak bisa tidur, gara-gara listrik di rumahnya mati. AC jelas tak menyala. Sehingga ia memilih mengipasi anaknya itu.

Tapi, Ade tak bercerita soal kondisinya itu ke pelanggan yang marah tadi. Ia memilih menjelaskan masalah PLN yang sedang krisis gas itu ke pelanggan tadi. Ia minta pelanggan tersebut bersabar, menunggu listrik menyala kembali.

Kesibukannya sebagai Humas, kata Ade, juga membuat ia jarang berinteraksi dengan anaknya. Ade sudah berangkat kerja, sebelum anaknya pergi ke sekolah. ”Saya malah jarang melihat anak saya mengenakan seragam sekolahnya,” ujarnya.

Tapi, seperti Adang, Ade juga sangat menyukai dunia kehumasan. Di Humas, kata Ade, ia banyak kenal orang. ”Juga banyak ditelepon pelanggan, padahal saya tak ngasih mereka nomor telepon,” tukasnya.

Yusfa Hendri, Kabag Humas Pemko Batam juga menikmati tugasnya itu. Ponselnya aktif 24 jam. Ia selalu siap memberi keterangan kepada wartawan berkaitan dengan kebijakan-kebijakan Pemko Batam.

Sebagai Humas sebuah insitusi pemerintah, Yusfa mengaku harus mempelajari semua masalah. Mulai dari permasalahan jalan, lampu, banjir, pembangunan drainase, bus, pembangunan sekolah, soal Puskesmas hingga masalah KTP, harus ia kuasai.

Kerja Humas yang fleksibel, tetap tugas di hari libur, tak membuat Yusfa mengeluh. Ia mengaku enjoy. ”Kadang kalau hari libur ada acara yang harus saya ikuti, anak-anak saya bawa ikut serta,” katanya.***

Kategori: Batam

Uh, Busung Lapar di Batam

Desember 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

busung-laparTriwani mencoba berlari dari pelukan Rusti Simatupang, ibunya. Namun, langkah bocah perempuan berumur 1,5 tahun itu terlalu lamban. Kakinya yang kurus tak memberi cukup tenaga untuk pergi jauh, bahkan untuk sekadar berlari mengelilingi ruang tengah rumahnya.

Triwani merupakan bocah yang didiagnosa mengalami gizi buruk. Ia sempat dirawat selama empat hari di RSUD Batam. Awal Desember lalu, ia pulang ke rumahnya.

”Lumayan, empat hari dirawat berat badannya naik beberapa ons,” kata Bitner Sihite (42), ayahnya.

Triwani memang sudah bisa bermain lagi dengan dua kakaknya. Namun, jika dilihat dari fisiknya, tanda-tanda ia kena gizi buruk terlihat jelas. Berat badannya hanya 6,5 kilo gram, lingkar lengan dan pahanya kecil, tinggi badannya juga tak seperti anak lain seusianya.

Menurut Bitner, sejak umur sembilan tahun anaknya itu memang sudah mengalami masalah berat badan. Saat ditimbang di Posyandu, bobotnya kurang. Sehingga, bocah itu sempat diberi makanan tambahan dan vitamin.

Namun, makanan tambahan dan vitamin itu hanya membantu sementara waktu saja. Selanjutnya, Bitner dan isterinya tak mampu memberikan asupan vitamin maupun tambahan protein lainnya.

”Bahkan, sejak ia tak lagi menyusui saat berumur satu tahun tiga bulan, ia tak kami beri susu lagi. Seingat saya, baru sekali saya berikan ia susu formula,” kata Rusti.

Kondisi ekonomi menjadi alasan. Bitner mengaku hanya bekerja sebagai pembantu tukang bangunan yang dua bulan terakhir ini tak lagi bekerja. Untuk menyambung hidup, ia kini menjadi pengojek.

Rumah pasangan suami isteri itu juga sederhana. Mereka menempati rumah permanen yang tak berplaster di Kavling Baru Batuaji B5 Nomor 18 Sei Langkai, Sagulung. Lantai rumahnya berlantai semen. Tak ada perabotan lain, selain sebuah meja televisi yang dipasang di sudut ruang tengah.

Untungnya, kata Bitner, selama empat hari di RSUD mereka tak dipungut bayaran. ”Nanti, bulan depan anak kami diminta cek lagi di RSUD,” tukasnya.

Selain masalah ekonomi, sikap Triwani yang tak mau makan juga menjadi masalah tersendiri. ”Anaknya memang seperti itu. Jarang mau makan,” tutur Rusti,

Di Kavling Baru Batuaji, ternyata Triwani bukanlah satu-satunya penderita busung lapar. Anak tetangga mereka, Sarah (11 bulan) yang didiagnosa menderita marasmus, meninggal dunia saat Triwani sedang dirawat di RSUD.

”Anak saya dan anak tetangga saya itu sempat satu kamar di RSUD,” ujar Rusti.
II
Triwani hanyalah satu contoh dari 17 anak lain di Batam yang terkena gizi buruk. Ada 16 anak lagi, yang satu di antaranya bahkan sudah meninggal.

Entah apakah masih ada yang terhenyak. Beda mungkin jika disebut busung lapar melanda Batam, padanan kata gizi buruk.

Mereka menderita busung lapar, sungguh bukan karena kelaparan. Tapi, karena asupan gizi yang mereka makan tak cukup. Mereka rata-rata tinggal di kawasan pinggiran dan pesisir, di lokasi-lokasi yang jarang terjangkau pelayanan kesehatan. Kondisi ekonomi orang tua mereka juga pas-pasan.

Anak-anak penderita busung lapar itu berumur mulai dua bulan hingga tiga tahun. Bahkan, ada yang sudah didiagnosa mengalami Marasmus (salah satu jenis busung lapar), sejak berumur 28 hari. Seperti yang dialami Rizki Ramadan, anak dari Sanusi dan Mariana yang tinggal di Pulau Lance.

Ada juga Cahya Dewi (2,8) tahun, anak dari Muslimin dan Nunuk di Kavling Bukit Kamboja yang menderita dua jenis busung lapar sekaligus, yakni Marasmus dan Kwashiorkor. Hingga mau tiga tahun, berat badan Cahya baru 8,9 kilo gram.

Belum lagi bayi Haikal di Tanjungsengkuang yang mengalami Marasmic-Kwashiorkor. Atau belasan bayi lain yang menderita penyakit gizi buruk itu.

Kondisi ini harus segera ditangani. Malu, kalau Batam yang bercita-cita menjadi bandar dunia madani dan lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional itu memiliki anak-anak yang menderita busung lapar. Apalagi, APBD Batam sudah tembus angka Rp1 triliun.

Kadis Kesehatan Batam Mawardi Badar yang ditanya Batam Pos soal penanganan busung lapar itu mengatakan, anak-anak dari keluarga miskin yang kena busung lapar itu akan dirawat di RSUD Batam tanpa biaya. ”Kalau memang kena gizi buruk, ya langsung dibawa ke RSUD. Gratis tanpa biaya,” tukasnya.

Orang tua diminta Mawardi untuk rajin menimbang berat badan anaknya ke Posyandu-posyandu terdekat yang ada di lingkungan perumahan mereka. Jika seorang anak berat badannya turun, biasanya akan diberikan bantuan makanan pendamping ASI (BMPA).

”Jika BMPA di Posyandu habis, bisa minta ke Puskesmas. Itu gratis buat masyarakat miskin. Di Dinas saja stoknya masih ada,” katanya.

Bagaimana jika warga itu jauh dari Posyandu? ”Bikinlah Posyandu di tingkat RT/RW-nya dengan menghubungi PKK kecamatan atau kelurahan atau Puskesmasnya. Posyandu itu kan UKBM (usaha kesehatan bersama masyarakat),” tuturnya.

Intinya, menurut Mawardi, orang tua harus rajin membawa anaknya ke Puskesmas. ”Karena yang terjadi bukanlah mereka terkena gizi buruk akibat tak makan atau kelaparan. Tapi, karena asupan gizi si anak itu tak mencukupi,” ujarnya.

Bagaimana cara mengetahui seorang anak mengalami busung lapar atau tidak? Dr Tresia Maria, dokter spesialis anak, memberikan tip. Caranya, Pertama, dengan cara menimbang berat badan secara teratur setiap bulan. Bila perbandingan berat badan dengan umurnya dibawah 60 persen standar WHO-NCHS, maka dapat dikatakan anak tersebut terkena busung lapar.

Kedua, dengan mengukur tinggi badan dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Bila tidak sesuai dengan standar anak yang normal waspadai akan terjadi gizi buruk.****

Kategori: Batam

Di Suatu Siang

Desember 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

jemuran baju tetangga

jemuran baju tetangga

Di suatu siang, tetanggaku menjemur bajunya.

bersiap ke sekolah

bersiap ke sekolah

Kemudian juga di suatu siang, anak tetanggaku bersiap ke sekolah.

mereka menyebut dirinya tiga serangkai, Aan, Zyan dan Opan

mereka menyebut dirinya tiga serangkai, Aan, Zyan dan Opan

Lalu tiga serangkai berfoto bersama. Emmm

Kategori: Batam

14 Tahun Jadi Jagal Sapi

Desember 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

ishak yusuf saat hendak menyembelih sapi

ishak yusuf saat hendak menyembelih sapi

Namanya Ishak Yusuf (58) warga perumahan Centre Park, Batam Centre. Ia sudah 14 tahun menjadi tukang jagal hewan kurban, termasuk dalam perayaan Hari Raya Idul Adha, kemarin.
IIII
Sinar matahari pagi terasa hangat di kulit, Selasa (9/12). Ishak Yusuf telihat bersama sejumlah pria mengelilingi sapi yang hendak disembelih di sisi kiri Masjid Raya Batam. Pagi itu, panitia Masjid Raya memotong sapi dan kambing yang khusus didistribusikan ke pulau-pulau dan lembaga pemasyarakatan.

”Ayo tarik lima orang,” kata Ishak memberi aba-aba. Seketika sapi yang hendak disembelih pagi itu, kurban dari keluarga Mambang Mit, Wagub Riau, roboh ke lantai.

Lalu, setelah memastikan posisi yang tepat untuk memulai menyembelih, parang panjang di tangannya memotong tenggorokan sapi itu diiringi pembacaan takbir dari orang-orang sekelilingnya. Tenggorokan dan urat di sisi leher sapi putus. Prosesi penyembelihan itu hanya memakan waktu beberapa detik.

Mengenakan kaos putih dan celana hitam, Ishak memimpin penyembelihan di masjid itu. Peci haji terpasang di kepalanya. Parang panjang terselip di pinggang kirinya.

Tak tampak kelelahan di wajah pria berumur lebih setengah abad yang janggutnya mulai memutih, itu. Gerakannya energik. Cepat dan tak gamang. Di setiap perayaan Idul Adha, ia bisa memotong puluhan sapi dan kambing.

”Saya sudah 14 tahun jadi tukang potong sapi. Biasanya untuk hewan kurban, tapi kadang juga dipanggil untuk menyembelih sapi atau kambing yang untuk dijual di pasar,” katanya.

Perkenalan Ishak dengan dunia jagal sapi dimulai sejak ia masih tinggal di kampungnya, Ciamis. Saat itu, ia menjadi asisten ayahnya yang bekerja sebagai tukang jagal. Selama menjadi asisten ayahnya itu ia belajar secara otodidak.

”Kalau di Batam saya pertama kali menyembelih hewan kurban itu tahun 1994 di lapangan Seiharapan. Saat itu, saya menyembelih hewan kurban Otorita Batam,” tukasnya.

Sejak itulah, ia selalu jadi tukang potong sapi dan kambing langganan sejumlah instansi, termasuk Masjid Rata Batam. Adakah pantangan buat seorang tukang jagal? Ishak mengaku sama sekali tak ada. ”Badan harus sehat dan tak boleh gamang saat melakukan penyembelihan,” tukasnya.

Itu sebabnya, Ishak menerapkan pola hidup sehat agar tetap segar di usia tua. Caranya dengan mengatur pola makan empat sehat lima sempurna, banyak minum air putih, cukup tidur dan banyak istigfar dalam hati.

Soal parang untuk pemotongan, ternyata tak boleh sembarangan. Ishak mengaku mendatangkan parang panjang khusus dari Ciamis, yang dibuat khusus untuk pemotongan hewan. Parangnya harus tajam setajam-tajamnya.

”Tak boleh digunakan sembarangan. Habis menyembelih langsung diasah dan disimpan. Baru dibuka lagi kalau mau dipakai,” tuturnya.****

Kategori: Batam

Pantun Wali Kota Batam

Desember 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

ahmad-dahlan-walikota-batam1-f-cipi-ckandina”Memetik bunga dan kembang di dalam taman, petik sekuntum di waktu malam, hari kesehatan pendidikan dan Korpri kita rayakan, majulah bangsa majulah Batam.”

Pantun empat baris itu dibaca Ahmad Dahlan di ujung pidatonya, Selasa  lalu, dalam upacara HUT PGRI dan Korpri di dataran Engku Puteri. Tak ada pantun kedua, karena setelah itu ia memberikan penghargaan kepada sejumlah guru dan pegawai di lingkungan Pemko Batam.

Pantun tadi ditulis di kertas kecil berwarna kuning. Setelah dibaca Wali Kota, kertas tadi disimpan oleh ajudannya. Tak dibuang, tapi disalin ke komputer jinjing atau laptop tempat Wali Kota menyimpan semua dokumen-dokumennya.

Dahlan menulis sendiri pantun-pantunnya itu. Jika dihitung sejak ia menjadi pegawai Otorita Batam, jumlahnya mencapai ribuan. Semua terdokumentasi dengan baik. ”Jika ada waktu, saya ingin membukukan pantun-pantun saya itu. Tapi, bukan sekarang,” katanya.

Dahlan tak perlu menunggu ilham untuk menulis sebuah pantun. Semua mengalir begitu saja. Bahkan, banyak pantunnya lahir di tengah ketergesa-gesaan. Seperti saat membuat pantun peringatan hari ulang tahun PGRI kemarin, ia buat saat dalam perjalanan dari rumahnya di Sekupang ke Kantor Wali Kota di Batam Centre.

”Saya ambil kertas, lalu saya catat. Kan kalau di mobil cuma duduk, jadi karena mau ngasih sambutan, ya sekalian bikin pantun,” tuturnya.

Keluarga Wali Kota di rumah sudah tahu kebiasaannya itu. Sehingga, kalau ada kertas kuning atau coretan-coretan pantun yang tercecer di lantai atau di saku celana, kertas itu disimpan. ”Semua saya dokumentasikan,” tukasnya.

Pantun-pantun Wali Kota, selalu bertema acara yang ia hadiri. Sebagai sampiran, ia banyak menggunakan bunga atau hal-hal yang berbau alam. Contohnya, ya pantun yang ia bacakan di acara HUT PGRI, itu.

”Karena saya memang suka bunga. Kalau lagu, saya suka lagu-lagu Melayu. Cuma sebagai penikmat, kalau nyanyi tak bisa,” ujarnya.

Dahlan mulai aktif bikin pantun saat menjadi Kabag Humas di Otorita Batam. Ia hampir selalu menjadi penulis pantun mantan Ketua OB Ismeth Abdullah, yang kini jadi Gubernur Kepri atau mantan Kabalak OB Soeryahadi Djatmiko.

Saat Habibie diangkat jadi Wakil Presiden, pantun perpisahan Dahlan sempat membuat mantan Ketua OB itu terharu. ”Saat itu, yang baca Pak Djatmiko (Kabalak OB Marsekal Pertama Soeryahadi Djatmiko, red) mewakili karyawan OB. Pak Habibie bertanya, siapa yang bikin pantun,” tuturnya.
Pantun itu bunyinya,  ”kalau memetik bunga kenanga, bunga mawar dilupa jangan, kalau tuan masuk istana, kami di sini dilupa jangan.”

Pantun menurut Dahlan merupakan pesan yang efektif. Kritikan di dalam pantun, tak membuat orang lain tersinggung. ”Mereka yang merasa disindir mungkin tersenyum, tapi pesannya sampai,” katanya.

Banyak pejabat yang berkunjung ke Batam juga membaca pantun. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono misalnya, juga membaca pantun kala berkunjung ke Batam. Sejumlah menteri, seperti Menteri Kehutanan MS Kaaban dan lainnya ikut-ikutan membaca pantun.

Karena itu, kata Dahlan, ia ingin membudayakan pantun di Batam. ”Mungkin bisa dimulai di sekolah-sekolah. Saya akan perintahkan Dinas Pendidikan untuk memasukkan pelajaran pantun di sekolah-sekolah, agar siswa bisa belajar pantun,” ujarnya. ***

Kategori: Batam

sajak seorang penakut

Desember 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

penakut1aku suami yang sangat takut pada isteri
seperti pagi itu, saat ia memintaku membuatkan teh
aku langsung bergegas mencelupkan teh dalam air panas di cangkir berukir
lega rasanya melihat senyumnya mengembang

aku lelaki yang sangat takut pada perempuan
seperti siang itu, kala ia memintaku mengantarnya ke mall
aku bergegas mengambil motorku menjemputnya
senang rasanya dadanya menempel di punggungku

aku seorang raja yang sangat takut pada ratu
seperti malam itu, waktu ia memintaku menjaganya
semalaman aku tak tidur agar mimpinya tak terganggu
bahagia rasanya melihat tidur pulasnya

aku karyawan yang sangat takut pada bosku
seperti pagi itu, kala ia memintaku menemui malik
aku langsung berangkat tanpa memikirkan malik tinggal di neraka
plong rasanya, saat ia membatalkan perintahnya itu

aku adalah seorang penakut
takut tak bisa membahagiakan orang lain
aku adalah seorang seorang penakut
takut tak bisa menolong orang lain
*****

Kategori: Batam

Ballad of Pawang Hujan

Desember 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

sableng-pawang-hujan1-f-cipi-ckandinaBanyak yang menampik kehadiran pawang hujan. Namun jasa mereka banyak dibutuhkan. Dalam sejumlah acara, terutama acara luar ruang, para pawang hujan sering dimanfaatkan untuk memindahkan hujan.
iii
Mendung menggantung. Tanda-tanda bakal turun hujan tampak di langit Batam Centre, Jumat pagi, beberapa bulan lalu. Di pinggir jalan beraspal, di depan kantor DPC PDI Perjuangan Batam, Samijo alias Mbah Sableng (52) duduk bersila dengan mulut komat-kamit. Tangannya beradu di depan dada, tubuhnya bergetar dengan mulut yang terus merapal mantra.

Mbah Sableng lalu berdiri. Di ambilnya sebuah kelapa muda berwarna hijau yang sejak tadi tergeletak di sampingnya. Kelapa muda itu kemudian dibantingnya ke aspal, mengenai dua gelas air mineral yang juga sudah disiapkan.

Kelapa muda itu terbelah dua. Mbah itu kemudian menunduk. Ia memungut belahan kelapa itu dengan mulutnya. Dua belahan kelapa itu dibuangnya ke pinggir jalan, dengan tetap menggunakan mulut.

Ia kemudian tersenyum. Ratusan tatap mata yang memandanginya pagi itu tak membuatnya risih. Dan entah karena mantranya atau bagaimana, mendung di atas kantor DPC PDI Perjuangan Batam itu bergeser.

Sebatang rokok kretek Gudang Garam merah disulutnya. Asap pun mengepul dari mulutnya. Ada rasa puas di wajahnya. Pekerjaannya terbilang beres. Acara PDI Perjuangan pagi itu sukses, tanpa hujan. ”Beres,” katanya.

Mbah Sableng perawakannya kurus kerempeng. Kulitnya legam. Giginya sudah banyak yang tanggal. Jika tertawa, barisan gigi depannya yang ompong terlihat. Namun, untuk ukuran pria yang berumur setengah abad, garis-garis ketuaan di dahinya tak tampak.

Ia masih seperti pria berumur 30-an tahun. Gerakannya masih energik. Dandanannya yang kejawa-jawaan, dengan pakaian tradisional warna hitam membuatnya berbeda dengan penampilan orang kebanyakan di Batam ini. Sebuah ikat kepala hitam setia mengikat rambutnya.

Kemarin, jari tengah di tangan kirinya dibalut. Ada rembesan darah yang menetes dan terlihat di balik balutan itu. Tapi, saat ditanya apakah itu bagian dari ritual memindahkan hujan, ia tak mau menjawab. ”Jangan tulis ini,” tukasnya kepada Batam Pos.

Mbah Sableng juga tak mau ditulis namanya Samijo. Ia mengaku lebih enjoy dipanggil Sableng. Sebuah tulisan Mbah Samijo menempel mantap di kaca depan mobil Proton Saga-nya BM 1772 XE.

Berprofesi sebagai pawang hujan, kata Mbah Sableng, sudah dilakoninya sejak awal 90-an. Ia tak hanya berpraktek di Batam, tapi juga di sejumlah kota di Indonesia. ”Saya bahkan pernah di Malaysia, Australia,” tuturnya.

Mereka yang membutuhkan jasanya, kata Mbah Sableng, biasanya dari kalangan kepolisian, even organiser dan panitia-panitia acara luar ruang. ”Saya malah sudah dikontrak untuk acara lumba-lumba di Nagoya Hill,” katanya.

Berapa mahar sekali memawangi hujan? Mbah Sableng tersenyum. ”Tergantung. Kalau pesannya tiba-tiba seperti PDI Perjuangan ini maharnya harus berlipat-lipat,” tuturnya, kembali tersenyum.

Tapi, ancar-ancarnya minimal Rp10 juta sebulan bisa ia kantongi. ”Kalau saya mau kaya saya sudah kaya. Tapi, saya tak mau. Saya bagi-bagi rezeki itu kepada teman-teman dan orang-orang yang mau mendoakan dan mengikuti saya,” ujarnya.

Ia menyebut mobilnya sebagai pembanding. Mobil Proton Saga buatan Malaysia itu sudah terlihat butut. ”Lihat tuh, mobil saya jelek,” paparnya.

Untuk memawangi hujan, katanya, ia tak melakukan ritual maupun pantangan khusus. Ia hanya pantang main perempuan. ”Yang penting itu, pegangan saya nancap,” tukasnya. Pegangan Mbah Sableng adalah sebuah besi yang biasa disebut badar besi.

Namun, ia juga enggan jika permintaan memawangi hujan dilakukan tiba-tiba pada hari H. Seperti acara PDI Perjuangan misalnya, ia baru dihubungi pukul setengah tujuh pagi. Tapi, karena kedekatannya dengan orang-orang PDI Perjuangan, ia mau juga.

”Kalau tiba-tiba gitu, ritualnya susah. Saya harus banyak konsentrasi agar rapalan itu nyampe,” katanya.

Makanya, ia banyak merokok jika kondisinya sulit. Seperti kemarin, ia menghabiskan lima bungkus rokok kretak. Mbah Sableng juga jarang makan nasi. Ia hanya makan nasi di hari Jumat. Itupun hanya sekali.

Jadi, kenapa kok tetap sehat? ”Itu anugerah Allah,” tukasnya mantap.

Keberadaan pawang hujan seperti Mbah Sableng, diakui atau tidak sering dimintai bantuan oleh para panitia sebuah acara. Acara-acara di Pemko Batam misalnya, juga sering menggunakan jasa pawang hujan. Namun, yang mereka gunakan bukan Mbah Sableng, tapi pawang hujan dari pesisir yang biasanya mereka datangkan.

Buralimar, Kepala Badan Pertanahan Kota Batam, yang biasa menjadi ketua panitia acara resmi di Pemko Batam mengaku enggan menggunakan jasa pawang hujan. Ia mengaku tak sreg jika harus menggunakan jasa pawang hujan dan lebih menyerahkan hujan tidaknya acara yang ia ketuai itu kepada Allah.

Namun, ia juga tak melarang jika ada anggota panitia yang menggunakan jasa pawang hujan. ”Itu anak-anak yang punya pekerjaan. Saya bilang kalau mereka mau pakai silakan saja,” katanya.****

Kategori: Batam

Menemukan Penjaja Cinta

Desember 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

cdSMS itu tiba tengah malam. Membacanya, membuatku bergairah. Sebuah SMS yang sudah kutunggu berminggu-minggu, akhirnya datang juga. Aku menemukan seorang wanita pekerja seksual, seorang penjaja cinta.

Saya sengaja mencari wanita seperti itu. Dia minta bayaran kira-kira Rp500 ribu. Cukup murah mungkin untuk sebuah kesempatan berdua dengannya seharian. Mulai dari bangun tidur, sampai ia tertidur lagi.

”Kalau kamu mau, dia juga bisa dipake.” Begitulah, kata temanku, saat saya mengkonfirmasi kesiapan PSK itu untuk bertemu denganku.

Tapi, ops, jangan berpikiran negatif dulu. Ini bukan soal seks, bukan soal membooking seorang wanita sebagai teman tidur. Bukan. Ini soal humaniora. Dia seorang SPG. Bekerja di sebuah restoran, yang karena harus menghidupi seorang anak kecil, ia merelakan dirinya menjadi barang pemuas laki-laki.

Jadi, cerita ini sampai di sini dulu. to be continued***

Kategori: Batam

Air Baku Batam Tercemar Sabun dan Tinja

Desember 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

dam-duriangkang-mancing1-fyusuf1Sinar matahari menyengat. Sabtu siang lalu, dari pinggir jalan raya di Jalan S Parman, Tanjungpiayu, empat pemancing menerobos masuk ke kawasan Dam Duriangkang melewati kawat besi yang sudah dipotong. Mereka terus berjalan menyusuri rerumputan setinggi paha orang dewasa, hingga ahirnya berhenti di lokasi pemancingan.

Pemandangan itu terjadi hampir setiap hari. Kawat besi yang mengelilingi Dam Duriangkang seperti tak ada artinya. Banyak kawat yang dipotong hingga berlubang. Cukup untuk dimasuki dua atau tiga orang sekaligus.

Rahmat (50-an) penjaga waduk Duriangkang mengaku sering mengingatkan orang-orang yang memancing itu agar tak masuk ke kawasan tersebut. ”Namun banyak yang bandel,” katanya saat ditemui di pos pengawasan di samping WTP Duriangkang.

Di lain waktu, Dedi Arman (28) warga Tanjungpiayu terkaget-kaget saat melihat gerombolan babi berlari di pinggir dam. ”Saya kira apa, rupanya rombongan babi yang lewat,” kata Dedi.
II

Dam Duriangkang adalah salah satu sumber air baku di Batam yang dikelola PT Adhya Tirta Batam (ATB). Seperti dam-dam lainnya, Duriangkang tercemar oleh pembuangan sampah dan limbah rumah tangga serta tinja ternak dan manusia.

Sumber air baku itu harus diamankan. Tak boleh ada pencemaran yang bisa merusak kualitas air. Harga yang harus dibayar sangat mahal. Karena proses air baku menjadi air bersih masih sangat panjang. Semakin tercemar sumber air bakunya, semakin tinggi ongkos produksinya agar memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dam Duriangkang ternyata menjadi tempat pembuangan akhir sejumlah limbah dari sejumlah perumahan. Seperti perumahan di Kawasan Mukakuning dan Batam Centre, air buangan rumah-rumah itu masuk ke dalam dam ini.

Belum lagi adanya sejumlah titik peternakan di kawasan ini. Banyak warga yang terkaget-kaget ketika tiba-tiba mendapati rombongan babi yang berlari menunduk. Kawasan Dam Duriangkang juga tak terbebas dari aktifitas mandi dan memancing. Sesuatu yang seharusnya tak boleh dilakukan di sumber air baku.

Meski begitu, ternyata Dam Duriangkang bukanlah dam yang tingkat pencemarannya tinggi dibandingkan dam-dam lain yang airnya diolah ATB. Menurut Manajer Humas ATB Adang Gumilar, dari enam dam yang airnya digunakan ATB, Dam Baloi termasuk yang paling tinggi tingkat pencemarannya. Dam ini menjadi pembuangan sampah seperti sabun, deterjen, minyak goreng serta tinja manusia dan binatang.

Jika dirunut dari dam yang airnya paling jelek kualitasnya, setelah Dam Balioi, Dam Seiharapan jadi nomor dua. Menyusul kemudian, Dam Mukakuning, Seiladi, Duriangkang dan Nongsa.

”Dam di Nongsa yang paling bagus kualitas airnya. Bisa dibilang di sana tak ada pencemaran sama sekali,” katanya.

Saking jeleknya kualitas air Dam Baloi, katanya, ATB sampai mengurangi produksinya di dam yang berada di kawasan yang pernah disidik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. ”Dari 60 liter per detik, jadi 30 liter per detik,” ujarnya.

Meski kualitas air baku yang diolah ATB makin jelek, kata Adang, tingkat pencemarannya masih di bawah ambang batas standar WHO. Artinya, untuk saat ini sumber air baku itu masih aman.

”Begitu juga dengan air minum yang disalurkan ATB ke rumah-rumah, aman untuk dikonsumsi. Jangan khawatir,” katanya.

Namun, ya itu tadi. Ongkos produksi ATB ikut naik seiring dengan naiknya tingkat pencemaran. ”Makanya, kami sangat mendukung langkah-langkah yang dilakukan pemerintah, baik itu Otorita Batam, Pemko dan lainnya untuk mengamankan sumber air baku kita. Ini harus dijaga bersama, semua harus peduli,” katanya.

II

Ongkos pembersihan Dam Duriangkang dan kawasan lain yang mencemari air minum di Batam memang sangat mahal. Rabu, kemarin, Tim Terpadu Kota Batam menggusur peternakan babi di kawasan Bandara. Kawasan ini jadi prioritas, selain limbahnya juga mengalir ke Duriangkang, lalu lintas penerbangan juga terganggu oleh lalu lalang babi liar.

Namun, proses penggusuran itu sungguh tak mudah. Ada ratusan nyawa yang bergantung pada ternak babi itu. Maka terjadilah perlawanan. Warga menghadang petugas. Meneriaki dan memaki mereka. Mereka tak rela digusur, meski beternak di tempat ilegal.****

Kategori: Batam

Yudi Kurnain dan Sepeda

Desember 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

yudi-kurnaen-dewan-naik-sepeda-tolak-harga-bbm1-f-cipi-ckandinaMatahari bersinar terik, saat Yudi Kurnain, Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Batam mengayuh sepedanya, Selasa, kemarin. Rambutnya yang gondrong dipermainkan angin.

Sepanjang perjalanan dari rumahnya di Duta Mas ke kantor DPRD Batam, Yudi berulang kali menahan goyangan sepedanya. Hembusan angin dari truk-truk yang melaju di sampingnya, hampir membuatnya jatuh.

Di belakangnya, sebuah mini van hampir menabraknya. Pengendara mini van itu bergerak ke samping Yudi, menyapanya sambil tersenyum. Ups, ternyata yang naik mobil AA Sany, Ketua DPD PAN Batam, bos Yudi di partai berlambang matahari itu.

Yudi memang termasuk anggota Fraksi PAN yang terus naik sepeda ke Gedung Dewan. Sudah lima bulan ia melakoni ke kantor bersepeda itu, sebagai sikap keprihatinan PAN menyikapi naiknya harga BBM.

Ayo bersepeda, katanya, juga sebuah simbol konkret mengajak masyarakat menghemat energi. ”Dengan bersepeda kita bisa menghemat energi, tak ada polusi, badan sehat, kita juga transparan dan tulus karena tak takut diapa-apain di tengah jalan,” tuturnya.

Sebelum program ini dibuat, kata Yudi, ia sudah latihan naik sepeda di sekitar komplek perumahannya. ”Jadi, sekarang sudah terbiasa. Saya malah lebih sehat,” ujarnya.

Dengan naik sepeda, kata Yudi, ia bisa menghemat uang untuk membeli bensin. ”Saya komitmen melakukan program ini. Saya akan terus naik sepeda sampai masa jabatan saya habis,” kata Yudi, kemarin.

Ya, tulisan ini memang soal Yudi dan sepedanya. Sampai lima bulan ini ia komit dengan pilihannya. Beda dengan rekan-rekan PAN lainnya. AA Sany, Edward Brando, Setyasih, Mawardi Harni sudah melupakan komitmen mereka naik sepeda ke kantor Dewan. Satu per satu gugur.

Sampai kapan, Yudi naik sepeda ke kantor, mungkin hanya waktu yang bisa menjawab. Kita tunggu saja.***

Kategori: Batam