seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Januari 2009

Koruptor yang Tak Menikmati Korupsinya

Januari 30, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

sidang-rusdi-ruslan-di-foto-iman-wachyudiMata Rusdi Ruslan terus berkedip-kedip. Kabid Prasarana Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Batam, itu duduk menyandarkan punggungnya di kursi putar terdakwa, dengan tangan tergenggam. Putusan majelis disimaknya dengan baik.

Terdakwa kasus dugaan korupsi pembangunan drainase di Kampung Melayu, Batubesar, itu divonis kurungan satu tahun enam bulan dan denda Rp50 juta subsider tiga bulan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Batam, Jumat (30/1). Rusdi dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

Tak ada sepatah kata yang ia ucapkan. Begitu hakim mengetuk palu, ia bergegas menyalami majelis hakim, panitera, jaksa dan pengacaranya. Sejumlah pegawai Pemko yang hadir, tak sempat ia salami. Ia langsung dibawa pergi petugas kembali ke Lapas Klas II A Batam di Tembesi.

Menjalani persidangan terakhir kemarin, Rusdi tampil dengan baju yang biasa ia pakai selama berkali-kali hadir di pengadilan. Hem kotak-kotak dipadu dengan celana hitam. Sepatu kulit warna hitam juga selalu ia kenakan.

Persidangan Rusdi berjalan hampir dua jam. Dimulai pukul 14.45 WIB, baru selesai pukul 16.35 WIB. Berkas putusan hakim tebal berlembar-lembar, dibacakan bergantian oleh Surya Perdamaian SH, A Bondan SH dan Serliwati.

Rusdi sendiri sudah hadir sejak pukul sepuluh pagi. Sepanjang menunggu persidangan, ia sempat menikmati makan siang sekotak nasi padang di sel sementara PN Batam. Ia juga berkesempatan menerima kunjungan keluarga dan rekan-rekannya. Di jajaran pegawai Pemko Batam, Kadis Pemberdayaan Masyarakat, Pasar, Koperasi dan UKM Batam Pebrialin termasuk yang mengunjungi Rusdi dan mengikuti sidangnya sampai akhir.

Menurut hakim, ada kerugian negara Rp539 juta dalam kasus itu. Rusdi dianggap bersalah karena tetap membayar uang proyek drainase di Batubesar Rp2 miliar itu. Padahal, kondisi proyek tak sesuai bestek dan ada sejumlah perubahan tanpa melalui addendum. Namun, Rusdi dinyatakan sama sekali tak mendapatkan keuntungan dari proyek itu. Uang proyek itu, tak masuk ke koceknya.

Rusdi juga jarang turun ke lapangan. Sebagai kuasa pengguna anggaran dan pejabat pembuat komitmen, ia terlalu mengandalkan laporan anak buahnya. Bahkan, Rusdi tak tahu kalau Direktur PT Dewi Citra Tri Kundur Rehaniwati, pemenang tender, menyerahkan pengerjaan proyek itu ke Abdul Rahman.

Jika menerima putusan hakim, Rusdi tinggal menjalani kurungan sepuluh bulan. Karena ia sudah ditahan sejak Mei 2008, atau sudah mendekam di tahanan selama delapan bulan. ”Kami masih punya waktu seminggu untuk pikir-pikir,” kata Mustari SH, pengacara Rusdi dari Azyun Associate. Begitu juga JPU Nanang SH dari Kejaksaan Negeri Batam, belum bersikap menerima atau melakukan banding atas putusan tersebut.****

Kategori: Batam

TUHAN dan Debu

Januari 29, 2009 · & Komentar

hujan-debuDebu itu menempel di ujung sampul buku. Hanya beberapa titik. Kutiup pelan, debu-debu itu luruh, jatuh ke lantai. Lalu, hilang lepas dari pengamatanku.

Siang ini debu itu menempel lagi. Kali ini, saya tak bereaksi seperti kemarin. Debu itu kupandangi saja. Agak lama. Lalu, kuputuskan menulis soal debu.

Di wikipedia, debu adalah sebutan umum untuk sejumlah partikel padat kecil dengan diamter kurang dari 500 mikrometer . Di atmosfer Bumi, debu berasal dari sejumlah sumber: loess yang disebarkan melalui angin, letusan gunung berapi, pencemaran, dll. Debu  dianggap bertanggung jawab menyebabkan penyakit paru dan lainnya.

Debu juga sebutan lain untuk hal-hal rendah, hal-hal yang mudah untuk dilupakan. Kadang ada orang menyebut, ”kamu tu hanya debu di kakiku, bukan siapa-siapa.” Yang paling populer, tentu lagu Dust in The Wind.

Dan, entah kenapa, hari-hari ini saya rajin memandangi dan memikirkan soal debu. Bukan soal bahaya dan mengapa debu itu ada. Tapi, soal keterlibatan TUHAN dalam pengaturan, kapan debu itu menempel dan hilang, kenapa ada di sampul buku, kenapa menempel di meja dan beragam pertanyaan lain.

Saya punya pertanyaan serius, apakah debu yang menempel di sampul buku itu hal yang disengaja, sesuatu yang sudah diatur TUHAN agar ada di sana, di waktu dan tempat tertentu. Kalau ya, mengapa TUHAN terlibat pada hal-hal kecil? Kenapa tidak, misalnya, menghancurkan Zionis Israel yang makin menjadi-jadi itu.

Tapi sudahlah. Saya sungguh bukan orang yang masuk dalam kategori para pencari TUHAN. Saya cuma punya pertanyaan-pertanyaan, punya kegalauan-kegalauan. Sesuatu yang mungkin tak serius.****

Kategori: Batam

Pawang Hujan Beraksi, Air Menyusut

Januari 24, 2009 · 1 Komentar

hujanSudah lama saya menyimpan kegundahan sekaligus keprihatinan pada nasib para pawang hujan. Mereka dipanggil para pemilik acara untuk mengusir hujan. Diberi pesangon yang lumayan besar, tapi tak banyak yang kaya.

”Kalau mau kaya, saya sudah punya mobil banyak. Tapi, saya tak mau. Uang itu saya bagi-bagikan, terutama kepada orang-orang yang mau mengikuti saya.”

Itu pengakuan seorang pawang hujan kepadaku, lima bulan lalu. Sekali dikontrak, katanya, ia bisa mendapatkan uang Rp10 juta. Namun, ya, tetap saja saya tak melihat aura kebahagiaan di wajah mereka.

Jumat, lalu, keprihatinan saya bertambah. Seorang pegawai PT Adhiya Tirta Batam, perusahaan pengelola air bersih di Batam, mengungkapkan susutnya air di salah satu dam mereka. ”Produksi turun karena air susut,” katanya.

Lalu, apa hubungan susutnya dam itu dengan pawang hujan. Rupanya, para pemilik resort dan padang golf di Nongsa, banyak menggunakan pawang hujan agar padang golf mereka tak basah. Kebetulan, di antara pada golf itulah, dam ATB itu berada.

”Saya sudah tanya pada para pengelola padang golf itu. Rupanya, mereka pakai pawang hujan. Pantas dam menyusut, air hujan tak turun,” tukasnya.

Si pegawai ATB itu, mengaku sudah melaporkan kondisi itu ke bosnya, orang bule. Namun, bosnya tak percaya. ”Padahal sudah kubilang itu gara-gara master rain,” tambahnya.

Saya senyum-senyum. Apakah, gara-gara master rain atau pawang hujan itu, distribusi air bersih ke rumah-rumah warga di Batam kini terganggu? Yang pasti, dam-dam di Batam mengandalkan air hujan.****

Kategori: Batam

Utang Anggota Dewan

Januari 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

uang-rp50-ribuMenjadi anggota Dewan di Batam, berarti memiliki penghasilan besar. Selain mendapatkan uang representasi, ada sejumlah tunjangan yang mereka terima. Ancar-ancarnya, sebulan mereka dapat belasan juta rupiah.  Cukup besar untuk orang kebanyakan. Tapi, bagi mereka ternyata tak cukup.

Surat itu tergeletak begitu saja di meja sekretariat Komisi II DPRD Batam, pertengahan tahun lalu. Selembar surat biasa yang diketik di atas kertas putih kwarto. Tak ada yang istimewa, jika kita tak melihatnya dengan cermat. Isinya, ternyata tentang peminjaman uang.

Surat itu dari seorang anggota Dewan. Ditujukan kepada Kabag Keuangan Sekretariat DPRD Batam. Anggota Dewan itu berniat meminjam uang Rp5 juta kepada Setwan, dengan jaminan Setwan memotong gajinya di akhir bulan nanti.

Surat itu menjadi istimewa karena diajukan seorang anggota Dewan yang di mata masyarakat memiliki penghasilan besar. Cukup besar, jika kita menghitung penghasilan mereka seperti tercantum dalam PP Nomor 37 Tahun 2006.

Yang terdiri dari uang representasi, tunjangan keluarga, tunjangan beras, uang paket, tunjangan jabatan, tunjangan Panitia Musyawarah, tunjangan komisi, tunjangan Panitia Anggaran, tunjangan Badan Kehormatan dan tunjangan Alat Kelengkapan lainnya. Tunjangan itu masih ditambah lagi dengan tunjangan komunikasi intensif dan tunjangan perumahan.

Di DPRD Batam, setiap hari ada saja warga yang datang menemui anggota Dewan. Ada yang berasal dari kader partai anggota Dewan tertentu, ada juga yang datang dari kawasan pesisir untuk meminta bantuan dana dan pertolongan lain. Namun, rata-rata meminta sumbangan.

Belum lagi, biaya-biaya politik yang mereka keluarkan. Sehingga, sejumlah anggota DPRD Batam memilih berutang atau meminjam uang ke Setwan dan lainnya.

Sejumlah anggota Dewan yang pernah saya tanya mengaku pernah meminjam uang untuk memberi sumbangan atau untuk kepentingan politik mereka. Mereka pinjam uang, biasanya karena ada kepentingan mendadak atau tak lagi memiliki uang di dompet saat ada kader partai mereka atau warga datang meminta sumbangan.

”Politik itu cost-nya tinggi. Kita juga harus care, jika ada yang datang meminta sumbangan,” kata M Zilzal, Sekretaris Fraksi Keadilan Sejahtera DPRD Batam.

Menurut Zilzal, ia meminjam uang jika ada pengeluaran di luar perkiraan. Seperti, ada warga yang meminta sumbangan tadi, di luar alokasi yang sudah dipersiapkan. ”Kadang pinjam ke komisi. Bukan hanya saya, teman-teman yang lain juga banyak,” tukasnya.

Setyasih Priherlina dari Fraksi PAN mengaku sering pinjam uang ke Setwan. Bahkan, katanya, ia terpaksa harus menyicil untuk melunasi pinjaman-pinjaman uangnya itu. Biasanya, ia membayar pinjamannya dengan memotong gajinya di akhir bulan.

Untuk apa saja pinjaman uang itu digunakan? ”Ya, macam-macam. Tapi, paling banyak untuk sumbangan tadi,” tuturnya.

Wardi Atmowiyono dari Fraksi PDI Perjuangan juga mengaku pernah meminjam uang ke Setwan. ”Tapi, tak sering. Setahun, sekali-dua kalilah. Saya bayar tanpa harus potong gaji,” tukasnya.

Meski banyak anggota Dewan yang pinjam uang dan membayar dengan potong gaji, ada juga yang anti berutang. Reinhard Hutabarat dari PDS misalnya, ia memilih tak berutang. ”Prinsip saya, saya tak mau berutang. Kalau ada yang minta sumbangan, kalau ada uang saya kasih. Kalau tak ada, ya saya tak mau memaksakan diri ngasih sumbangan lewat uang pinjaman,” ujarnya.

Pernah suatu hari, ada seorang ketua komisi mendatangi rekan-rekannya untuk meminta bantuan uang. Ia membuka dompetnya dan memperlihatkan isinya yang kosong. Setelah dapat beberapa lembar uang 50-an ribu rupiah, anggota Dewan itu menggunakan uangnya untuk mengajak sejumlah warga yang datang ke fraksinya makan nasi bungkus. ”Sisanya, untuk ongkos pulang.”

Sekwan DPRD Batam Guntur Sakti mengakui, ada sejumlah anggota Dewan yang pinjam uang ke Setwan. Biasanya, mereka membayarnya dengan potong gaji di akhir bulan. ”Tak banyak. Setiap bulan ada satu dua orang,” kata Guntur.

Anggota DPRD Batam sebenarnya punya utang harus mengembalikan rapelan tunjangan komunikasi intensif. Besarnya, setiap orang harus mengembalikan uang sebesar Rp64,26 juta sampai sebulan sebelum tugas mereka berakhir.****

Kategori: Batam

Sarjana di Kursi Dewan

Januari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

sarjanaMenjadi anggota Dewan harus memiliki wawasan yang luas. Ia tak hanya bergelut dengan persoalan anggaran, pengawasan dan legislasi. Tapi juga terlibat penuh dengan masalah-masalah yang berkembang di masyarakat. Sehingga berwawasan itu sangat perlu. Tak harus sarjana, tentunya.

Itu sebabnya, dari 45 anggota DPRD Batam, banyak yang bukan sarjana saat pertama kali menginjakkan kakinya di gedung terhormat itu. Aturan memperbolehkan seperti itu.

Tapi, itu dulu. Sekarang sebagian besar anggota DPRD Batam sudah bertitel sarjana. Bahkan banyak yang bergelar master hukum (MH atau M Hum).

Misalnya, Robert Edi Siahaan yang saat pertama jadi anggota Dewan di tahun 2000 belum sarjana, kini sudah menyandang SH MH. Dua anggota Fraksi Demokrat Zakaria dan Irlan Gusti juga sudah bergelar SH. Irwansyah, dari Fraksi PPP Plus yang masuk ke DPRD lulusan STM kini sudah jadi Sarjana Ekonomi. Sahat Sianturi dari PDI Perjuangan kini juga sudah SH M Hum.

Itu belum lagi para sarjana yang melanjutkan kuliah saat duduk di kursi Dewan. Onward Siahaan misalnya, Sekretaris Komisi III yang bergelar insinyur itu kini menambah dua gelar yakni SH dan M Hum di belakang namanya. Asmin Patros yang SH juga sudah lulus S2, begitu juga koleganya Supandi Arim juga Master Hukum.

Masih ada M Zilzal dari PKS yang sudah mendapatkan gelar Sarjana Hukum. AA Sany dari PAN juga sedang menunggu gelar. Ada juga yang mendapatkan gelar doktor saat berstatus sebagai anggota Dewan yakni Soerya Respationo dan Kholik Widiarto.

Apa yang mereka cari? ”Tak ada batasan usia dalam menuntut ilmu. Sepanjang ada kesempatan, saya akan belajar,” kata Robert Edy Siahaan. Apalagi dunia hukum, katanya, sangat menarik dicermati.

Robert mengaku kuliah saat duduk di Dewan bukan karena latah atau memanfaatkan kesempatan di Dewan. Ia kuliah hukum juga bukan untuk jadi pengacara, jika nanti tak di Dewan lagi. ”Saya tidak seperti itu. Saya mengalir saja seperti air. Easy going saja,” tuturnya.

Ir Onward mengaku kuliah di bidang hukum karena terjun ke dunia politik. Onward menilai, hukum adalah panglima di masa reformasi ini. Sehingga meski sudah bergelar insinyur dari USU tahun 1989, ia juga meraih gelar M Hum dari UGM dan SH dari UBK Jakarta.

Apakah gelar SH M Hum itu sebagai masa persiapan seandainya tak lagi jadi anggota Dewan? Menurut Onward, dari sisi ilmu dan gelar, apa yang ia dapat di kuliah hukum itu akan ia gunakan untuk melakukan advokasi bagi masyarakat. Jika nanti ia tak lagi di Dewan, misalnya, ia bisa saja beraktifitas di advokasi masyarakat maupun LSM.

”Namun, bukan untuk mata pencaharian. Karena saya sudah berkomitmen, untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu dari bisnis dan sejumlah perusahaan yang selama ini saya rintis,” tuturnya.

Zakaria juga mengaku kuliah karena bidang hukum yang ia ambil bisa menunjang kinerjanya sebagai anggota Dewan. ”Dalam banyak hal sangat menunjang. Dengan belajar lagi, kita juga tahu pemimpin bangsa harus dilandasi dengan moral,” tukasnya.

Lalu, bagaimana dengan anggota Dewan yang enggan ”menyandang” gelar sarjana?

”Saya sibuk dengan urusan masyarakat. Tak sempat lagi mengurusi hal pribadi seperti kuliah menambah gelar,” kata Ruslan Kasbulatov, Ketua Komisi I DPRD Batam yang lulusan SMEA.

Jika rekan-rekannya di Dewan sudah banyak yang meraih gelar sarjana, ia santai-santai saja. Sejak jadi anggota Dewan 2004 silam, ia belum pernah tergerak kuliah lagi.

Meski tak kuliah di jalur formal, Ruslan termasuk yang tak pernah melewatkan waktu membaca koran ataupun majalah. Setiap pagi, ia sarapan koran. Untuk menambah wawasan dan ilmu, katanya.

Kenapa tak tertarik kuliah? Ruslan mengatakan, ”Bukan tak tertarik. Tapi, saya tak mau kuliah hanya untuk menambah-nambah gelar dan menghabiskan duit rakyat. Sarjana kalau tak berkualitas, buat apa?”

Edward Brando dari PAN juga termasuk anggota Dewan yang belum bergelar sarjana. Seperti Ruslan, Edward juga kritis dan sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversi.

Menurut Edward, ia pernah kuliah namun karena sibuk dengan tugasnya di Dewan, ia tak aktif lagi. Apalagi, kuliah, katanya butuh konsentrasi.

”Saat ini lagi sibuk. Banyak urusan masyarakat yang perlu perhatian,” tukasnya.

Meski begitu, Edward mengatakan, pendidikan itu penting. Apalagi bagi seorang anggota Dewan. ”Tapi, kan belajar dan menambah wawasan itu tak harus dengan meraih gelar,” katanya.****

Kategori: Batam

Tempel Pipi Wali Kota

Januari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

ahmad dahlan/foto wijaya satria

ahmad dahlan/foto wijaya satria

Wali Kota Batam Ahmad Dahlan memiliki kebiasaan-kebiasaan unik yang jarang diekspos media. Di antaranya melayani wawancara di ”podium” Gedung Dewan, kebiasaannya bersila di kursi dan salam tempel pipinya dengan pimpinan DPRD Batam.

Sidang paripurna baru saja usai, Jumat (21/11) sore. Sejumlah kepala dinas dan anggota DPRD Batam sudah beranjak meninggalkan Gedung Dewan. Di lobi gedung, wartawan menunggu Wali Kota Ahmad Dahlan.

Yang ditunggu akhirnya muncul menuruni tangga dari lantai dua. Bersama Wali Kota, ada Kepala Bappeda Wan Darussalam dan Kepala Badan Kominfo Muramis. Di sampingnya, berjalan beriringan Ketua Komisi I Ruslan Kasbulatov.

Wartawan sudah menunggu di depan prasasti bertuliskan nama-nama 30 anggota DPRD Batam periode 2000-2004. Bentuknya seperti podium, tempat orang berpidato, cuma tak seberapa tinggi. Tahu kalau sedang ditunggu wartawan, Wali Kota mendekat.

Hampir sepuluh menit lebih Wali Kota melayani wawancara. Mulai dari soal APBD, bus sekolah hingga bus ke bandara. Ada juga yang nyeletuk soal perbedaan pandangannya dengan Wakil Wali Kota mengenai perlunya pergantian kepala dinas dilakukan segera. Semua dijawab Wali Kota sambil sesekali melempar senyum khasnya.

Beberapa kali ia memegang dan meletakkan ponsel Nokia E90-nya dia atas ”podium”itu. Tangannya kadang memegang dua sisi podium, dengan gerakan kaki yang rileks. Ya, di podium itulah tempat Wali Kota melayani wawancara.

Selama hampir dua tahun mengikuti kegiatannya, saya mencatat, Wali Kota selalu melayani wawancara di podium itu jika ada di Gedung Dewan. Kalau berada di lantai IV Kantor Wali Kota, wawancaranya juga dilakukan di podium yang ada di sana. Wali Kota berdiri di sisi podium, wartawan berdiri di sisi lainnya.

Sehingga podium itu memisahkan jarak wartawan dengan Wali Kota. Cuma beberapa bulan ini, podium di lantai IV sudah tak terlihat lagi. Saya sempat bertanya, kenapa wawancaranya selalu di tempat yang sama, di depan podium. Cuma, mungkin karena Wali Kota menganggap pertanyaan itu dengan kenapa wawancaranya di gedung Dewan, ia menjawab sambil tertawa.

”Itu sama saja dengan bertanya kenapa gedung Batam Pos di sana,” katanya tersenyum menunjuk Graha Pena.

Wali Kota juga termasuk pribadi yang hangat, murah senyum dan akrab. Itu sebabnya mungkin, ia punya kebiasaan memeluk dan menempelkan pipinya saat bersalaman dengan sesama pimpinan Muspida, terutama dengan pimpinan Dewan.

Saat-saat ketika ia selesai meneken sebuah Perda, misalnya, ia pasti menyalami erat dan menempelkan pipinya kanan-kiri, seperti salamnya orang timur tengah. Ruslan Kasbuatov, biasanya sering berseru kala melihat Wali Kota dan pimpinan Dewan bersalaman khas timur tengah tadi. Dari tempat duduknya di belakang, Ruslan kadang bersiul.

Dari sikap murah senyumnya tadi, mungkin yang membuat Wali Kota jarang mengekspresikan kemarahannya. Saya mencatat, baru dua kali Wali Kota mengekspresikan kemarahannya secara terbuka.

Pertama, saat mengetahui proyek pengadaan baju olah raga di lingkungan Pemko Batam yang dibiayai APBD Batam 2007, baru selesai di akhir tahun.

Kedua, saat menengok proyek pembangunan kios di pantai Melur. Untuk pengadaan baju olah raga, Dahlan mengaku sempat hendak membuang baju itu. ”Mau saya buang, saya Wali Kota,” katanya, soal mengapa ia tak jadi melakukan itu. Sementara soal proyek pengadaan kios, ia sempat menendang-nendang lantai kios yang terlihat retak.

Kebiasaan lain Wali Kota adalah bersila. Jika duduk di kursi dengan meja di depannya, pasti kakinya dilipat di atas kursi. Saya sering menyaksikan ini. Di setiap kesempatan jumpa pers, atau wawancara di ruang rapat lantai lima Kantor Wali Kota, misalnya, pasti Wali Kota berbicara sambil duduk bersila.****

Kategori: Batam

Madzhab Cinta

Januari 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

lovesuatu saat dalam sejarah cinta kita

kita tidur saling memunggungi

tapi jiwa berpeluk-peluk

senyum mendekap senyum

suatu saat dalam sejarah cinta kita

raga tak lagi saling membutuhkan

hanya jiwa kita sudah lekat menyatu

rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita hanya mengisi waktu dengan cerita

mengenang dan hanya itu

yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita mengenang masa depan kebersamaan

kemana cinta kan berakhir

di saat tak ada akhir

====+====

Sajak di atas sengaja kutulis di blog ini. Sajak itu ada di buku Serial Cinta, yang pernah muncul bersambung di majalah Tarbawi, ditulis oleh Anis Matta, dan kemudian menjadi buku tersendiri.

Suatu saat, Anis menulis cinta sepasang kekasih. Betapa dahsyat, tulisnya, goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur, tak ada lelah. Tak ada takut, tak ada aral. Tak ada jarak. Yang ada hanya tekad, hanya rindu, hanya hasrat, hanya puisi, hanya keindahan.

Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asmara ke jantung hati kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu.

Suatu ketika, ia menulis soal cinta Khalid bin Walid akan jihad. Ia bukan menikmati ‘’saat-saat membunuh orang”. Ia mencintai pekerjaannya, karena itu niscaya untuk mencapai misi dakwah. Maka, ia mencintai kesulitan-kesulitan itu lebih dari apapun jua.

”Berada pada suatu malam yang dingin membeku, dalam suatu pertempuran, lebih aku sukai dari pada tidur dengan seorang gadis di malam pengantin,” katanya.

Lalu, Umar ingin memproklamirkan betapa dalamnya cintanya pada Muhammad, nabi agung itu. ”Aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua yang lain, kecuali diriku sendiri,” katanya.

Tapi, jawaban Muhammad, sungguh di luar dugaannya. ”Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih engkau cintai dari pada dirimu sendiri.”

Itulah cinta. Cinta yang akan membuat kita berada di surga-surga, suatu saat nanti. Sungguh, bukan amal-amal kita yang penuh pamrih itu. Maka, mari kita bermadzhab cinta.****

Kategori: Batam

Rontoknya Nomor Urut

Januari 6, 2009 · 1 Komentar

pilih sesuai hati nuraniSMS itu datang beberapa jam setelah Mahkamah Konsitusi menghilangkan sistem nomor urut. Dikirim seorang anggota DPRD Batam ke nomor ponsel wartawan. Isinya, anggota Dewan tadi mengaku sempat dimintai uang Rp200 juta oleh ketua partainya agar bisa duduk kembali di nomor satu.

Namun, dengan alasan lagi tak punya uang, ia tak memberi. Sehingga, anggota Dewan tadi akhirnya duduk di nomor urut lima. ”Untung tak saya hasih. Kalau saya kasih, dengan sistem suara terbanyak saya pasti rugi. Untung,” tukasnya.

Keputusan MK itu merontokkan dominasi nomor urut. Banyak pemilik nomor urut yang membayar upeti ratusan juta rupiah ke ketua partainya, agar bisa duduk di sana. Tapi, putusan MK membuat mereka pusing.

Ketua partai tak hanya posisinya bisa goyah. Mereka yang memungut upeti kepada kadernya bisa tak bisa tidur. Kabarnya, banyak kader yang sudah menyetor meminta kembali duit itu. Mereka tak rela, karena posisi mereka bisa saja diruntuhkan kader yang mengakar, meski tak punya banyak uang.

Di sisi lain, caleg nomor bawah atau yang biasa disebut nomor sepatu kini bersemangat. Tak berlakunya sistem nomor urut dalam Pemilu 2009, membuat mereka lebih bergairah memenangkan hati masyarakat.Ganda Tiur MS, caleg nomor urut 5 di Dapil II dari PDI Perjuangan misalnya, mengaku lebih bergairah. Dengan sistem lama 30 persen suara saja, ia sudah banyak memasang baliho di sejumlah tempat.

”Dengan sistem suara terbanyak saya senang betul. Saya akan lebih banyak sosialisasi,” ujarnya.

Dulu, kata Ganda Tiur, ia berharap bisa meraih suara 30 persen. Karena itu, ia memasang banyak baliho dan turun ke lapangan. ”Sekarang, harus door to door. Harus lebih banyak face to face menunjukkan diri kita ke konstituen. Suara terbanyak sangat demokratis,” tukasnya.

Anggota Komisi I DPRD Batam yang kini jadi caleg nomor urut 6 dari Dapil II dari PDS, Riginoto Wijaya juga bersemangat. ”Jika dulu saja sudah semangat, apalagi sekarang,” ujarnya.

Caleg nomor urut 4 di Dapil I dari PDI Perjuangan Wardi Atmowiyono, mengatakan penggunaan suara terbanyak sudah seharusnya dipakai di Pemilu 2009 agar yang duduk di DPRD nanti benar-benar pilihan rakyat.

”Ini bagus. Sehingga kader akar jenggot yang dipasang di nomor urut satu bisa dikalahkan kader pilihan rakyat yang dipasang di nomor buntut,” tukas Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPC PDI Perjuangan Batam itu.

Di Batam, semua ketua partai duduk di nomor urut satu. Nama mereka dipasang untuk bertarung dengan partai lain. Namun kini, mereka juga bersaing dengan kadernya sendiri.

Ini yang mungkin membuat pertarungan menuju kursi DPRD Batam menghangat. Caleg nomor buntut bergairah. Mereka akan bertarung mengalahkan caleg nomor satu, tak peduli itu ketua partai mereka sendiri.

Di Dapil III, Ketua DPD Golkar Batam Zainal Abidin yang dipasang di nomor satu tak hanya bertarung dengan ketua partai lain. Di internal partai, dia juga bertarung dengan sembilan caleg di bawahnya.

Di Dapil yang sama, Ketua DPD PKS Riky Indrakari bersaing dengan sebelas caleg PKS lainnya, termasuk dengan anggota Komisi IV DPRD Batam Said Hasjim Alattas. Ketua DPC PPP Batam Irwansyah juga bersaing dengan enam caleg internal. Ketua DPD PDS Batam Dameria Nadapdap juga bersaing dengan empat caleg di bawahnya.

Di Dapil IV, Ketua DPC PDI Perjuangan Batam Ruslan Kasbulatov bersaing dengan delapan caleg internal. Ketua DPD PAN AA Sany lebih banyak lagi saingan internalnya, ada 13 caleg di bawahnya. Termasuk Setyasih Priherlina, anggota Komisi II DPRD Batam.

Di Dapil II, Ketua Partai Hanura Basri Harun bersaing dengan 13 caleg di bawahnya. Begitu juga dengan Ketua DPC PKB Rudi bersaing dengan delapan caleg di bawahnya.

Siapkah para ketua partai itu tak terpilih? ”Saya di Dewan bukan untuk cari makan. Kalau memang tak terpilih karena kalah suara, itu konsekuensi undang-undang,” kata Ruslan Kasbulatov.

Bagaimana dengan Irwansyah? ”Saya lebih siap lagi terpilih. Saya optimis. Masyarakat sekarang sudah cerdas, sudah bisa membedakan mana yang selama ini sudah berbuat untuk rakyat, atau yang hanya muncul saat kampanye saja,” tukas Ketua DPC PPP Batam, itu.

Ketua DPD Golkar Zainal Abidin mengaku menyerahkan segalanya pada pilihan rakyat. ”Yang penting, kita berjuang memberikan yang terbaik. Sistem suara terbanyak sangat demokratis. Masalah terpilih atau tidak, kita serahkan kepada Allah,” ujarnya.

Dengan sistem suara terbanyak, kata Ketua DPD PKS Batam Riky Indrakari, seorang caleg harus memenangkan harapan rakyat. Termasuk dirinya sebagai ketua partai. ”43 caleg PKS merupakan caleg layak pilih. Kalau saya tak terpilih, saya tetap bangga karena sudah mengantarkan kader-kader lain yang terpilih,” tukasnya.****

Kategori: Batam

Melepas Ketegangan di Lapangan Futsal

Januari 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

bermain futsal

bermain futsal

Tiada hari tanpa futsal. Itu mungkin gambaran pas untuk fenomena yang kini berdenyut di Batam. Olah raga ala sepak bola di lapangan yang lebih kecil, itu kini menjadi bagian dari gaya hidup remaja dan eksekutif muda di Batam. Penyuka olah raga ini tak hanya cari keringat, tapi sekaligus melepas ketegangan di lapangan futsal.

Sulton (30-an) jatuh terduduk saat menahan bola yang meluncur deras ke arahnya. Bola dapat ditangkap dengan baik di dekapannya. Ia bangkit, kemudian melempar kembali bola warna kuning itu ke tengah lapangan.

Sulton melepas nafas. Keringatnya bercucuran dari ujung dahinya. Namun, tak ada waktu untuk berleha-leha, bola kembali datang menerjang gawangnya. Jumat pagi itu, di lapangan V Futsal, SPBU Tiban, Sulton kebobolan belasan gol.

Supir Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika itu bermain futsal bersama rekan-rekannya, pagi itu. Di antaranya ada Arfandi, ajudan Wali Kota Batam Ahmad Dahlan dan sejumlah pegawai Satpol PP Kota Batam. Hampir dua jam mereka bermain, sebelum akhirnya menyudahinya dengan minum teh botol.

”Lagi diajak teman-teman. Udah lama gak main,” tukas Sulton.

Jika Sulton dan kawan-kawannya baru kembali ke lapangan futsal setelah berbulan-bulan vakum, tidak halnya dengan Rinaldy dan kawan-kawannya. Pegawai Bank Mega itu hampir setiap Sabtu pagi mencari keringat, sekaligus melepas ketegangan di lapangan futsal.

Tempat yang dipilih Rinaldy adalah lapangan futsal Family Arena di bekas restoran Ikan Daun, Batam Centre. Sejak enam bulan terakhir, saban minggu para karyawan bank itu bermain futsal. Rinaldy dan kawan-kawannya itu malah sudah memiliki tim sendiri, Mega Club.

”Dulu suka main bulu tangkis. Namun, enam bulan terakhir dialihkan ke futsal,” kata Rinaldy, koordinator tim futsal Mega Club.

Saat ditemui kemarin, Rinaldy dan kawan-kawannya baru saja usai bermain. Sambil melepas lelah, mereka duduk berselonjor di lapangan hijau berumput sintetis. Kaos yang sudah basah keringat, mereka lepas. Maka, sambil menunggu hilangnya rasa penat, mereka mengisinya dengan obrolan ringan.

Menurut Joni, rekan Rinaldy, bermain futsal tak hanya sekadar olah raga mencari keringat. Banyak hal yang tak bisa dilakukan di olah raga lain, bisa saja dilakukan di futsal. Misalnya, bermain sambil tertawa-tawa.

”Di sini kita bebas. Mau tertawa juga bisa. Istilahnya, setelah kerja seminggu, di sini kita bisa melepas ketegangan,” tukas Joni yang juga diamini Fauzi, rekan mereka.

Bermain futsal juga lebih simple dibandingkan olah raga lain. ”Cukup datang ke lapangan bawa sepatu. Yang lain sudah disediakan,” tuturnya.

Bermain futsal, kini memang sudah menjadi gaya hidup warga Batam. Minimnya lapangan sepak bola yang memadai, membuat penyuka olah raga sepak bola mengalihkan hobinya ke lapangan futsal. Apalagi, futsal tak butuh banyak pemain, cukup lima orang per tim.

Biaya bermain futsal antara Rp100 ribu sampai Rp225 ribu per jam, tak jadi masalah. Banyak yang memilih patungan antar pemain. Ada juga yang bermain futsal dibiayai perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan, setahun ada yang diberi anggaran sampai Rp20 juta untuk bermain futsal.

Maka, tak heran jika futsal kini ”mewabah”. Mulai dari anak SD, pekerja bank, pekerja pabrik, wartawan, hingga polisi menggandrungi olah raga bola sepak ini. Saking banyaknya, untuk bermain tak bisa langsung datang ke lapangan tanpa pesan tempat terlebih dahulu.

Tingginya minat warga Batam akan futsal bisa dilihat dari banyaknya warga yang bermain di lapangan futsal. Di Family Arena, salah satu lapangan futsal terbesar di Batam, hampir tak ada hari tanpa permainan futsal. Sebanyak tujuh lapangan yang ada di sana, selalu penuh terpakai. Terutama di jam-jam padat, pukul empat sore hingga pukul dua belas malam.

Kehadiran Family Arena sendiri, menurut pengelolanya Sardiman, juga karena tingginya animo warga untuk bermain futsal. ”Dari hasil survei, warga yang ingin main futsal itu banyak. Makanya, itu jadi salah satu alasan berdirinya Family Arena ini,” tuturnya.

Awal tahun lalu, kata Sardiman, Family Arena resmi berdiri. Di tahun pertama itu, Family Arena memiliki empat lapangan, dua lapangan super futsal dan dua lapangan futsal. Lapangan super futsal berukuran besar, sementara futsal ukurannya lebih kecil.

Ternyata, empat lapangan yang ada tak mampu menampung permintaan. Sehingga, Family Arena menambah tiga lapangan lagi. Saat ini, Family Arena sudah memiliki lima lapangan super futsal dan dua lapangan futsal.

Family Arena mematok tarif reguler per jam antara Rp95 ribu sampai Rp150 per jam di hari Senin-Jumat dan Rp150 sampai Rp185 ribu per jam di hari Sabtu-Minggu dan hari libur. Sementara tarif super futsal, antara Rp125 ribu sampai Rp225 ribu.

Untuk pelanggan khusus, Family Arena menerapkan paket member, delapan jam bermain dengan masa berlaku dua bulan. Biaya paket member futsal Rp650 sampai Rp1,1 juta. Sedangkan paket member super futsal Rp800 ribu sampai Rp1,4 juta.

”Untuk anak sekolah ada harga khusus. Anak SD tarifnya Rp5 ribu per jam per orang,” tukasnya.

Paket itu, kata Sardiman, sudah komplet. Pemain futsal cukup datang ke Family Arena membawa sepatu. Kaos, bola, peluit dan papan skor disediakan Family Arena. ”Kalau sudah pesan tempat, cukup datang langsung main,” katanya.****

Kategori: Batam