seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Sarjana di Kursi Dewan

Januari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

sarjanaMenjadi anggota Dewan harus memiliki wawasan yang luas. Ia tak hanya bergelut dengan persoalan anggaran, pengawasan dan legislasi. Tapi juga terlibat penuh dengan masalah-masalah yang berkembang di masyarakat. Sehingga berwawasan itu sangat perlu. Tak harus sarjana, tentunya.

Itu sebabnya, dari 45 anggota DPRD Batam, banyak yang bukan sarjana saat pertama kali menginjakkan kakinya di gedung terhormat itu. Aturan memperbolehkan seperti itu.

Tapi, itu dulu. Sekarang sebagian besar anggota DPRD Batam sudah bertitel sarjana. Bahkan banyak yang bergelar master hukum (MH atau M Hum).

Misalnya, Robert Edi Siahaan yang saat pertama jadi anggota Dewan di tahun 2000 belum sarjana, kini sudah menyandang SH MH. Dua anggota Fraksi Demokrat Zakaria dan Irlan Gusti juga sudah bergelar SH. Irwansyah, dari Fraksi PPP Plus yang masuk ke DPRD lulusan STM kini sudah jadi Sarjana Ekonomi. Sahat Sianturi dari PDI Perjuangan kini juga sudah SH M Hum.

Itu belum lagi para sarjana yang melanjutkan kuliah saat duduk di kursi Dewan. Onward Siahaan misalnya, Sekretaris Komisi III yang bergelar insinyur itu kini menambah dua gelar yakni SH dan M Hum di belakang namanya. Asmin Patros yang SH juga sudah lulus S2, begitu juga koleganya Supandi Arim juga Master Hukum.

Masih ada M Zilzal dari PKS yang sudah mendapatkan gelar Sarjana Hukum. AA Sany dari PAN juga sedang menunggu gelar. Ada juga yang mendapatkan gelar doktor saat berstatus sebagai anggota Dewan yakni Soerya Respationo dan Kholik Widiarto.

Apa yang mereka cari? ”Tak ada batasan usia dalam menuntut ilmu. Sepanjang ada kesempatan, saya akan belajar,” kata Robert Edy Siahaan. Apalagi dunia hukum, katanya, sangat menarik dicermati.

Robert mengaku kuliah saat duduk di Dewan bukan karena latah atau memanfaatkan kesempatan di Dewan. Ia kuliah hukum juga bukan untuk jadi pengacara, jika nanti tak di Dewan lagi. ”Saya tidak seperti itu. Saya mengalir saja seperti air. Easy going saja,” tuturnya.

Ir Onward mengaku kuliah di bidang hukum karena terjun ke dunia politik. Onward menilai, hukum adalah panglima di masa reformasi ini. Sehingga meski sudah bergelar insinyur dari USU tahun 1989, ia juga meraih gelar M Hum dari UGM dan SH dari UBK Jakarta.

Apakah gelar SH M Hum itu sebagai masa persiapan seandainya tak lagi jadi anggota Dewan? Menurut Onward, dari sisi ilmu dan gelar, apa yang ia dapat di kuliah hukum itu akan ia gunakan untuk melakukan advokasi bagi masyarakat. Jika nanti ia tak lagi di Dewan, misalnya, ia bisa saja beraktifitas di advokasi masyarakat maupun LSM.

”Namun, bukan untuk mata pencaharian. Karena saya sudah berkomitmen, untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu dari bisnis dan sejumlah perusahaan yang selama ini saya rintis,” tuturnya.

Zakaria juga mengaku kuliah karena bidang hukum yang ia ambil bisa menunjang kinerjanya sebagai anggota Dewan. ”Dalam banyak hal sangat menunjang. Dengan belajar lagi, kita juga tahu pemimpin bangsa harus dilandasi dengan moral,” tukasnya.

Lalu, bagaimana dengan anggota Dewan yang enggan ”menyandang” gelar sarjana?

”Saya sibuk dengan urusan masyarakat. Tak sempat lagi mengurusi hal pribadi seperti kuliah menambah gelar,” kata Ruslan Kasbulatov, Ketua Komisi I DPRD Batam yang lulusan SMEA.

Jika rekan-rekannya di Dewan sudah banyak yang meraih gelar sarjana, ia santai-santai saja. Sejak jadi anggota Dewan 2004 silam, ia belum pernah tergerak kuliah lagi.

Meski tak kuliah di jalur formal, Ruslan termasuk yang tak pernah melewatkan waktu membaca koran ataupun majalah. Setiap pagi, ia sarapan koran. Untuk menambah wawasan dan ilmu, katanya.

Kenapa tak tertarik kuliah? Ruslan mengatakan, ”Bukan tak tertarik. Tapi, saya tak mau kuliah hanya untuk menambah-nambah gelar dan menghabiskan duit rakyat. Sarjana kalau tak berkualitas, buat apa?”

Edward Brando dari PAN juga termasuk anggota Dewan yang belum bergelar sarjana. Seperti Ruslan, Edward juga kritis dan sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversi.

Menurut Edward, ia pernah kuliah namun karena sibuk dengan tugasnya di Dewan, ia tak aktif lagi. Apalagi, kuliah, katanya butuh konsentrasi.

”Saat ini lagi sibuk. Banyak urusan masyarakat yang perlu perhatian,” tukasnya.

Meski begitu, Edward mengatakan, pendidikan itu penting. Apalagi bagi seorang anggota Dewan. ”Tapi, kan belajar dan menambah wawasan itu tak harus dengan meraih gelar,” katanya.****

Kategori: Batam

Tempel Pipi Wali Kota

Januari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

ahmad dahlan/foto wijaya satria

ahmad dahlan/foto wijaya satria

Wali Kota Batam Ahmad Dahlan memiliki kebiasaan-kebiasaan unik yang jarang diekspos media. Di antaranya melayani wawancara di ”podium” Gedung Dewan, kebiasaannya bersila di kursi dan salam tempel pipinya dengan pimpinan DPRD Batam.

Sidang paripurna baru saja usai, Jumat (21/11) sore. Sejumlah kepala dinas dan anggota DPRD Batam sudah beranjak meninggalkan Gedung Dewan. Di lobi gedung, wartawan menunggu Wali Kota Ahmad Dahlan.

Yang ditunggu akhirnya muncul menuruni tangga dari lantai dua. Bersama Wali Kota, ada Kepala Bappeda Wan Darussalam dan Kepala Badan Kominfo Muramis. Di sampingnya, berjalan beriringan Ketua Komisi I Ruslan Kasbulatov.

Wartawan sudah menunggu di depan prasasti bertuliskan nama-nama 30 anggota DPRD Batam periode 2000-2004. Bentuknya seperti podium, tempat orang berpidato, cuma tak seberapa tinggi. Tahu kalau sedang ditunggu wartawan, Wali Kota mendekat.

Hampir sepuluh menit lebih Wali Kota melayani wawancara. Mulai dari soal APBD, bus sekolah hingga bus ke bandara. Ada juga yang nyeletuk soal perbedaan pandangannya dengan Wakil Wali Kota mengenai perlunya pergantian kepala dinas dilakukan segera. Semua dijawab Wali Kota sambil sesekali melempar senyum khasnya.

Beberapa kali ia memegang dan meletakkan ponsel Nokia E90-nya dia atas ”podium”itu. Tangannya kadang memegang dua sisi podium, dengan gerakan kaki yang rileks. Ya, di podium itulah tempat Wali Kota melayani wawancara.

Selama hampir dua tahun mengikuti kegiatannya, saya mencatat, Wali Kota selalu melayani wawancara di podium itu jika ada di Gedung Dewan. Kalau berada di lantai IV Kantor Wali Kota, wawancaranya juga dilakukan di podium yang ada di sana. Wali Kota berdiri di sisi podium, wartawan berdiri di sisi lainnya.

Sehingga podium itu memisahkan jarak wartawan dengan Wali Kota. Cuma beberapa bulan ini, podium di lantai IV sudah tak terlihat lagi. Saya sempat bertanya, kenapa wawancaranya selalu di tempat yang sama, di depan podium. Cuma, mungkin karena Wali Kota menganggap pertanyaan itu dengan kenapa wawancaranya di gedung Dewan, ia menjawab sambil tertawa.

”Itu sama saja dengan bertanya kenapa gedung Batam Pos di sana,” katanya tersenyum menunjuk Graha Pena.

Wali Kota juga termasuk pribadi yang hangat, murah senyum dan akrab. Itu sebabnya mungkin, ia punya kebiasaan memeluk dan menempelkan pipinya saat bersalaman dengan sesama pimpinan Muspida, terutama dengan pimpinan Dewan.

Saat-saat ketika ia selesai meneken sebuah Perda, misalnya, ia pasti menyalami erat dan menempelkan pipinya kanan-kiri, seperti salamnya orang timur tengah. Ruslan Kasbuatov, biasanya sering berseru kala melihat Wali Kota dan pimpinan Dewan bersalaman khas timur tengah tadi. Dari tempat duduknya di belakang, Ruslan kadang bersiul.

Dari sikap murah senyumnya tadi, mungkin yang membuat Wali Kota jarang mengekspresikan kemarahannya. Saya mencatat, baru dua kali Wali Kota mengekspresikan kemarahannya secara terbuka.

Pertama, saat mengetahui proyek pengadaan baju olah raga di lingkungan Pemko Batam yang dibiayai APBD Batam 2007, baru selesai di akhir tahun.

Kedua, saat menengok proyek pembangunan kios di pantai Melur. Untuk pengadaan baju olah raga, Dahlan mengaku sempat hendak membuang baju itu. ”Mau saya buang, saya Wali Kota,” katanya, soal mengapa ia tak jadi melakukan itu. Sementara soal proyek pengadaan kios, ia sempat menendang-nendang lantai kios yang terlihat retak.

Kebiasaan lain Wali Kota adalah bersila. Jika duduk di kursi dengan meja di depannya, pasti kakinya dilipat di atas kursi. Saya sering menyaksikan ini. Di setiap kesempatan jumpa pers, atau wawancara di ruang rapat lantai lima Kantor Wali Kota, misalnya, pasti Wali Kota berbicara sambil duduk bersila.****

Kategori: Batam