Sudah lama saya menyimpan kegundahan sekaligus keprihatinan pada nasib para pawang hujan. Mereka dipanggil para pemilik acara untuk mengusir hujan. Diberi pesangon yang lumayan besar, tapi tak banyak yang kaya.
”Kalau mau kaya, saya sudah punya mobil banyak. Tapi, saya tak mau. Uang itu saya bagi-bagikan, terutama kepada orang-orang yang mau mengikuti saya.”
Itu pengakuan seorang pawang hujan kepadaku, lima bulan lalu. Sekali dikontrak, katanya, ia bisa mendapatkan uang Rp10 juta. Namun, ya, tetap saja saya tak melihat aura kebahagiaan di wajah mereka.
Jumat, lalu, keprihatinan saya bertambah. Seorang pegawai PT Adhiya Tirta Batam, perusahaan pengelola air bersih di Batam, mengungkapkan susutnya air di salah satu dam mereka. ”Produksi turun karena air susut,” katanya.
Lalu, apa hubungan susutnya dam itu dengan pawang hujan. Rupanya, para pemilik resort dan padang golf di Nongsa, banyak menggunakan pawang hujan agar padang golf mereka tak basah. Kebetulan, di antara pada golf itulah, dam ATB itu berada.
”Saya sudah tanya pada para pengelola padang golf itu. Rupanya, mereka pakai pawang hujan. Pantas dam menyusut, air hujan tak turun,” tukasnya.
Si pegawai ATB itu, mengaku sudah melaporkan kondisi itu ke bosnya, orang bule. Namun, bosnya tak percaya. ”Padahal sudah kubilang itu gara-gara master rain,” tambahnya.
Saya senyum-senyum. Apakah, gara-gara master rain atau pawang hujan itu, distribusi air bersih ke rumah-rumah warga di Batam kini terganggu? Yang pasti, dam-dam di Batam mengandalkan air hujan.****


1 response so far ↓
fia // Januari 28, 2009 pada 3:02 pm |
sulit dipercaya adanya pawang hujan yg sgt efektif hingga bisa menurunkan paras air dalam satu dam.. ????