Debu itu menempel di ujung sampul buku. Hanya beberapa titik. Kutiup pelan, debu-debu itu luruh, jatuh ke lantai. Lalu, hilang lepas dari pengamatanku.
Siang ini debu itu menempel lagi. Kali ini, saya tak bereaksi seperti kemarin. Debu itu kupandangi saja. Agak lama. Lalu, kuputuskan menulis soal debu.
Di wikipedia, debu adalah sebutan umum untuk sejumlah partikel padat kecil dengan diamter kurang dari 500 mikrometer . Di atmosfer Bumi, debu berasal dari sejumlah sumber: loess yang disebarkan melalui angin, letusan gunung berapi, pencemaran, dll. DebuĀ dianggap bertanggung jawab menyebabkan penyakit paru dan lainnya.
Debu juga sebutan lain untuk hal-hal rendah, hal-hal yang mudah untuk dilupakan. Kadang ada orang menyebut, ”kamu tu hanya debu di kakiku, bukan siapa-siapa.” Yang paling populer, tentu lagu Dust in The Wind.
Dan, entah kenapa, hari-hari ini saya rajin memandangi dan memikirkan soal debu. Bukan soal bahaya dan mengapa debu itu ada. Tapi, soal keterlibatan TUHAN dalam pengaturan, kapan debu itu menempel dan hilang, kenapa ada di sampul buku, kenapa menempel di meja dan beragam pertanyaan lain.
Saya punya pertanyaan serius, apakah debu yang menempel di sampul buku itu hal yang disengaja, sesuatu yang sudah diatur TUHAN agar ada di sana, di waktu dan tempat tertentu. Kalau ya, mengapa TUHAN terlibat pada hal-hal kecil? Kenapa tidak, misalnya, menghancurkan Zionis Israel yang makin menjadi-jadi itu.
Tapi sudahlah. Saya sungguh bukan orang yang masuk dalam kategori para pencari TUHAN. Saya cuma punya pertanyaan-pertanyaan, punya kegalauan-kegalauan. Sesuatu yang mungkin tak serius.****

