seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Mei 2009

Asam Pedas Mak Sembilang, Langganan Pejabat Batam

Mei 22, 2009 · & Komentar

Setelah sekian lama hanya mendengar dari omongan orang, akhirnya pekan lalu sampai juga saya di rumah makan Mak Sembilang, Tanjungriau, Batam. Konon, rumah makan ini para pelangganya merupakan pejabat Kepri dan Batam. Mereka ketagihan lezatnya asam pedas ikan sembilang.

Sekilas, rumah makan Mak Sembilang tak berbeda dengan rumah-rumah lain di sekitarnya yang berbentuk panggung. Khas rumah di kawasan pasang-surut. Juga tak ada plang nama rumah makan.

Yang berbeda, adalah teras rumahnya yang terbuka sampai ke bagian dalam. Di situlah, meja-meja panjang berjejer. Pandangan di kanan kiri dibiarkan terbuka. Udara laut yang khas, menyapa hidung.

Mak Muna, pemilik rumah makan, menyambut. Saya kebetulan ikut menemani tim kuliner Batam Pos yang selama ini menyajikan kekayaan kuliner Batam. Umur Mak Munah sekitar 60-an tahun. Tubuhnya sudah agak bungkuk, tapi masih energik. Ia murah senyum, enak diajak bicara.

Ia bercerita soal bagaimana ia awalnya memulai usaha. Mulai dari coba-coba membuka rumah makan, sampai akhirnya rumah makannya jadi terkenal di seantero Batam. Bahkan, namanya kini dikenal sebagai Mak Sembilang, mengacu pada masakan asam pedas sembilang buatannya yang terkenal lezatnya itu.

“Pak Sani (Wagub Kepri) biasa makan di sini. Syamsul Bahrum dan pejabat Batam laiannya juga jadi langgagan,”

asam pedas ikan sembilang foto immanuel

asam pedas ikan sembilang foto immanuel

katanya.

Saya jadi tak sabar ingin mencicipi asam pedas ikan sembilang itu. Seumur hidup, saya belum pernah makan ikan sembilang, yang konon merupakan ikan khas Melayu.

Akhirnya yang saya tunggu keluar juga. Satu porsi ikan sembilang dalam balutan kuah asam pedas. Wangi masakan menggoda selera. Terbayang kelezatannya.

Ikan sembilang bentuknya persis ikan lele. Kalau lele hidup di air tawar, ikan sembilang hidup di laut dalam. “Saya pesan khusus ke nelayan Belakang Padang,” ujar Mak Muna.

Selain ikan sembilang, rumah makan Mak Sembilang juga menyediakan kangkung belacan, ikan goreng, cumi dan udang sambal. “Biasanya, orang datang ke sini ingin makan asam pedas ikan sembilang,” katanya.

Saya mengambil satu irisan ikan sembilang itu, dengan hati-hati. Tanpa nasi, saya mencicipinya. Ehm, benar-benar lezat. Benar-benar maknyus. Andai Bonda Winarno datang ke Batam, rugi kalau ia tak sempat mencicipi asam pedas Mak Sembilang.

Bagaimana dengan Anda. Pernahkan mencoba kelezatan asam pedas Mak Sembilang?

Kategori: Batam

Ngenet Gratis di Mal-mal Batam

Mei 16, 2009 · & Komentar

taman iternet tiban. foto di www.riasaptarika.web.id

taman iternet tiban. foto di www.riasaptarika.web.id

Sejak memiliki ponsel Nokia e63, Jauharsa, 30, punya kebiasaan baru. Ia sering nongkrong di mal. Bukan untuk belanja atau cuci mata, tapi internetan gratis.

Seperti Sabtu kemarin misalnya, ia sudah mengirim pesan singkat (SMS) ke ponselku. ”Saya di mega mall,” katanya.

Ia kesana, pasti cuma sekadar internetan di ponselnya. Dengan fasilitas wifi di Nokia e63, ia bisa internetan gratis sampai puas. Apalagi, sejak tenarnya situs pertemanan Facebook, ia makin keranjingan.

Di Mega Mall sendiri hot spot bertebaran. Mulai dari lantai dasar sampai paling atas di XXI, tersedia hot spot. Bagi Jauharsa atau orang-orang yang punya perangkat gadget canggih, bisa menggunakannya untuk memanfaatkan hot spot gratis itu.

Temanku dari Surabaya sempat kaget ketika nyoba hot spot di Mega Mall. Ia menyusuri tiap lantai, sambil memegang Nokia e61i-nya. ”Di Surabaya tak sehebat Batam,” katanya.

Banyaknya hot spot di Batam berawal dari keinginan Wakil Wali Kota Ria Saptarika mewujudkan Batam sebagai kota digital atau yang biasa Ria sebut Batam Digital Island. Ria mengaku ingin membudayakan internet dan teknologi informasi ke masyarakat Batam. Karena itu, ia rajin mengajak pihak-pihak lain membangun taman internet atau membuka titik-titik hot spot di Batam.

”Kita punya sasaran mewujudkan Batam sebagai cyber city. Ini memungkinkan untuk dilakukan, karena sesuai indeks pembangunan manusia (IPM), pengetahuan teknologi internet masyarakat Batam sudah cukup baik,” kata Ria.

Pekan lalu, dalam tulisannya soal bakal hadirnya Taman Internet di Belakang Padang, Ria menandai saya di Facebook. Katanya, setelah tiga titik di Taman Internet Engku Putri, Taman Internet Tiban Centre, Taman Internet Kecamatan Sagulung, kini Taman Internet Lang-lang Laut Belakang Padang akan diresmikan Tanggal 20 Mei 2009 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional.

”Ini akan menjadi momentum sejarah bagi kebangkitan IT di kawasan hinterland khususnya Kecamatan Belakang Padang dan Kota Batam pada umumnya. Semoga dengan dibangunnya Taman Internet Lang-lang Laut di Belakang Padang, makin menghilangkan kesenjangan daerah hinterland dan khususnya pelajar/mahasiwa.”

Ria mengatakan, hadirnya Taman Internet di Belakang Padang itu atas kerja sama Badan KomInfo Pemko Batam dibawah kendali Muramis dan PTTelkom Rikep di bawah kendali Mulyanta

Ria bisa disebut pendobrak di bidang teknologi industri. Ia termasuk pejabat yang mewajibkan pegawainya punya surat elektronik atau e-mail dan blog.

Perkenalan Ria dengan blog, diawali tahun 1997. Saat itu, blog belum begitu populer. Dua tahun kemudian, saat bekerja di PT Thomson, ia mulai memiliki blog pribadi, www.geocities.com/zhafir2000.com.

Namun, blog itu tak begitu ia up date. Baru kemudian, saat menjadi Wakil Wali Kota Batam, Maret 2006 silam, ia memiliki domain pribadi www.riasaptarika.com. Dan empat bulan lalu, ia membuat blog baru www.riasaptarika.web.id

Memiliki blog, kata Ria, ibarat melampaui dua-tiga pulau sekali kayuh. Karena di satu sisi, ia bisa meluangkan hobinya di bidang teknologi informasi. Di sisi lain, ia bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat Batam.

”Masyarakat bebas mau ngomong apa tanpa ada batasan. Sebagai Wakil Wali Kota, saya menjawab persoalan di Batam. Sebagai pribadi, saya berbagi saran dengan para blogger lainnya,” katanya.***

Kategori: Batam

Kapan Hari Jadi Kota Batam

Mei 16, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

kantor wali kota batam di suatu siang. foto diambil yusuf hidayat.

kantor wali kota batam di suatu siang. foto diambil yusuf hidayat.

Setelah bertahun-tahun tak jelas, Kota Batam akhirnya bakal memiliki tanggal hari jadi. Pekan lalu, Pemerintah Kota Batam mengusulkan tanggal 24 Desember sebagai Hari Jadi Kota Batam. Tanggal itu merupakan tanggal terbitnya PP Nomor 34 Tahun 1983 tentang Pembentukan Kotamadya Administratif Batam.

Usulan itu tercantum dalam Ranperda tentang Hari Jadi Kota Batam yang Pansusnya di DPRD Batam sudah terbentuk pekan lalu. Dalam Ranperda itu, hari jadi disebut sebagai momentum sejarah masa silam yang melambangkan perjuangan masyarakat dalam memajukan Batam.

Namun, menurut Ketua Pansus Penetapan Hari Jadi Kota Batam DPRD Batam Irwansyah, Pansus tak akan begitu saja menyetujui tanggal 24 Desember sebagai Hari Jadi Kota Batam, meski Pemko Batam berpatokan pada PP Nomor 34 Tahun 1983, itu.

Karena itu, sebutnya, Pansus butuh masukan dari berbagai pihak untuk menentukan hari jadi Kota Batam. “Kita minta masukan dari tokoh masyarakat, ahli sejarah atau masyarakat yang telah bermukim lama di Batam, guna memberikan masukan pada Pansus Hari Jadi Kota Batam,” katanya.

Draf Ranperda Hari Jadi Kota Batam yang diusulkan Pemko Batam itu, cuma tiga bab dan tiga pasal. Tak ada alasan atau kajian, kenapa tanggal 24 Desember jadi pilihan.

Padahal, menurut Ketua DPRD Batam Soerya Respationo, penentuan Hari Jadi Kota Batam perlu ditinjau dari aspek hukum dan historis. Terutama dikaitkan dengan sejarah Melayu dan proses pembentukan Kota Batam.

Pemko Batam sendiri, kabarnya sudah menyiapkan tim khusus dalam pembahasan Hari Jadi itu. Sejarawan dari Tanjungpinang, Aswandi Syahri, dalam Facebook-nya mengatakan diajak diskusi oleh Tim Pemko untuk mencari tanggal yang pas sebagai Hari Jadi Batam. Hasilnya, ia dan Samson Rambah Pasir, budayawan dan pegawai Pemko Batam, diminta meneliti arsip dan sejarah Batam di Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional, Jakarta.***

Kategori: Batam

Teh Rosella dari Batam

Mei 15, 2009 · 1 Komentar

Cak Dikin memperlihatkan aneka minuman dan makanan dari rosella. foto William

Cak Dikin memperlihatkan aneka minuman dan makanan dari rosella. foto William

Dulu, mungkin tak pernah terbayangkan bakal bermunculan usaha kecil di Batam. Orang datang ke Batam, kalau tidak ingin kerja di industri besar, shipyard pasti ingin memulai bisnis berorientasi ekspor.

Namun, apa yang dulu tak terbayangkan itu kini hadir. Banyak pengusaha kecil muncul, akibat makin susahnya mencari kerja di Batam. Salah satunya pertanian rosella, yang kelopaknya bisa diseduh seperti teh. Rasanya, asam-asam manis, menyegarkan.

Guntur menggelegar, saat saya menyambangi Ahmad Bruri, 57, di rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama, pekan lalu. Pria yang akrab dipanggil Cak Dikin itu baru pulang dari kebunnya.

”Silakan coba teh rosella ini,” katanya menyodorkan segelas teh rosella yang baru dikeluarkan dari kulkas.

Hmm, rasanya memang menyejukkan. Tak hanya segar di tenggorokan, tapi juga enak di badan. ”Khasiatnya banyak. Bisa menghilangkan kolesterol, menghilangkan capek-capek. Badan segar,” ucapnya.

Dikin mengaku tak pernah membayangkan bakal menjadi petani rosella. Semuanya berawal kala Himpunan Kerukunan Tani Indonesia mengirimnya ikut pelatihan di Palembang, tahun 2006. Di sana, pematerinya memberikan sejumlah alternatif tanaman yang bisa dibudidayakan, salah satunya rosella yang bisa menjadi teh herbal.

Pulang dari Palembang ia membawa lima kilogram bibit rosella. Antara ragu dan ingin mencoba, ia menanam sekitar 500 bibit. Empat bulan dirawat, rosella mulai dipanen. ”Karena baru, saya pakai dulu untuk minuman keluarga. Pagi, siang dan malam, keluarga kami minum rosella hampir selama empat bulan. Manfaatnya terasa, badan lebih sehat dan enak,” tuturnya.

Merasa mendapatkan manfaat dari rosella, ia memperkenalkan rosella ke masyarakat. Ia datangi rumah-rumah, jualan di pasar. Namun, selama dua tahun tak satupun masyarakat tertarik. Padahal, sudah tak terhitung, berapa rumah yang ia datangi. Juga sudah tak terhitung berapa duit dan tenaga yang ia habiskan untuk mengenalkan tanaman herbal itu ke masyarakat.

Uang belanja di rumahnya juga hampir habis karena dibelikan gula sebagai campuran teh rosella. Dapurnya terancam tak mengepul. Ia bahkan sempat putus asa. Untungnya, isteri Cak Dikin tak ikut putus asa. Ia menyemangati suaminya. ”Mungkin belum waktunya. Jangan putus asa.”

Mendapat dukungan isteri, Dikin kembali tertantang. Ia cepat mengambil cangkul, kembali ke kebun rosellanya. Besoknya, ia tawarkan lagi rosella itu ke rumah-rumah dan pasar.

Pembeli pertama pun datang, akhir tahun lalu. Ia membeli satu ons rosella. Karena belum tahu harga rosella di pasaran, Dikin menjualnya Rp10 ribu. ”Nama pembeli pertama saya itu, saya catat. Kalau seandainya nanti saya sukses, dialah yang akan saya beri hadiah,” katanya.

Dikinpun mengajak ibu-ibu PKK Tiban Lama dan Lurah Tiban Lama. Merekalah yang kemudian ikut membantu pemasaran rosella itu. Munculnya pemberitaan di televisi soal khasiat dan manfaat teh rosella bagi kesehatan,
membuat permintaannya makin kencang. Apalagi kemudian ia ikut pameran pada sejumlah ekspo di Batam.

Kalau dulu Dikin harus ke datang ke rumah-rumah, kini sejumlah restoran dan hotel menjadi pelanggannya. Rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama, kini ramai. Ia menyuplai kelopak rosella segar dan kering ke sejumlah tempat. Bahkan, tingginya permintaan membuat ia tak mampu lagi memenuhinya.

Sejumlah rekannya ia ajak menanam rosella. Di Tiban Lama, kini sudah 25 petani yang ikut serta dan menghasilkan 50 kilogram rosella per hari. Hasil itu tak cukup, karena permintaannya mencapai 300 kilogram per hari. Karena itu, ia mengajak petani lain di kawasan Tembesi, Galang, Seitemiang dan Dapur 12 untuk menanam rosella.

”Seandainya dulu saya putus asa, mungkin tak akan ada rosella merek D’Kam dari Batam,” katanya.

Ya, Dikin dan petani-petani lain di Batam kini mulai mendapatkan hasil dengan berkebun rosella. Pangsa pasarnya mulai terbuka. Dan Batam yang dulu hanya dikenal sebagai kota industri, kini akan dikenal sebagai kota penghasil minuman herbal, rosella.***

Kategori: Batam

KPK pun Beli Blackberry di Batam

Mei 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

toko-lucky-plaza-tempat-orang-beli-ponsel-murahSMS itu datang pas matahari di ubun-ubun, jam satu siang, pekan lalu. Dikirim temanku di Surabaya. Isinya masih sama seperti dulu, menanyakan harga ponsel dan blackberry di Batam.

Saya sering bingung, kalau ditanya soal harga ponsel. Kujawab, saja sama dengan di Surabaya. Tapi, temanku itu tak percaya. ”Tolonglah, cek dulu. Siapa tahu harganya turun.”

Di pertokoan Lucky Plaza, Nagoya, harga ponsel ternyata memang lagi turun. Nokia E63 yang di Surabaya harganya di atas Rp3 juta, di Lucky Plaza, cuma Rp2,3 juta. ”Tapi, ini BM bang. Garansi sebulan lah,” kata seorang penjual ponsel.

Batam memang sudah terlanjur dicap sebagai tempatnya barang elektronik murah. Dari dulu sampai sekarang, setiap kali ada yang berkunjung ke Batam, yang dicari pasti toko ponsel.

Bahkan, sebuah media di Batam menulis, sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru pulang memeriksa sejumlah
pejabat Natuna singgah di Batam untuk beli blackberry. Mereka,
kata media itu, melihat sejumlah penyidik KPK itu membeli blackberry.

Sejumlah personel band The Rock yang dipimpin Ahmad Dhani juga tak ketinggalan memburu blackberry di Batam. Tak hanya membeli satu, mereka malah memborong. ”Mumpung di Batam, anak-anak cari handphone,” kata Paramita, gitaris The Rock.

Pengusaha Jakarta juga melakukan hal yang sama. Temanku, sampai
kehabisan tenaga gara-gara mengantar bosnya yang datang dari Jakarta melihat-lihat blackberry. ”Bos besar beli empat,” tukasnya.

Tak hanya ponsel, parfum juga jadi buruan. Sejumlah artis, tak pernah lupa beli parfum kalau singgah di Batam. Slank, misalnya, setiap kali manggung di Batam, pasti singgah di toko parfum.

Yang unik lagi dari Batam, sea foodnya. Jadi, ingat sama Wakil Wali Kota Ria Saptarika saat makan di sebuah restoran terapung di jembatang IV Barelang. Kepada temannya, ia memperkenalkan ”gonggong”. Makanan seperti keong, yang konon hanya ada di Kepri.

”Ini khas Kepri, mas. Cobalah, enak,” kata Ria. Tamunya tersenyum, mengikuti saran Ria. ”Enak, pak,” balas tamunya.

Saya yang duduk di sampingnya, senyum-senyum.

Jadi, bagi anda yang baru datang ke Batam, berburu apa anda di
Batam?

Kategori: Batam

Dari Batam ke KL, Kini Bisa Terbang

Mei 2, 2009 · 1 Komentar

Wali Kota Ahmad Dahlan dan Angelina melambaikan tangan kepada pilot Firefly saat penerbangan perdana di Hang Nadim.(fotoiman wahyudi/batampos)Penerbangan internasional dari Batam ke sejumlah negara lain kini terwujud. Sabtu (2/5), Firefly maskapai penerbangan anak perusahaan Malaysia Airlines, melayani penerbangan perdana dari Batam ke Kuala Lumpur dan sebaliknya. Penerbangan perdana pesawat berkapasitas 72 penumpang itu langsung penuh.

Menurut Angelina C Fernandez, Head of Marketing & Communications  Firefly, Firefly merupakan pesawat pertama yang melayani penerbangan internasional dari Batam ke Kuala Lumpur. Ia berharap penerbangan itu bisa memberi kontribusi yang positif bagi Batam dan Kuala Lumpur. “Baik itu dari segi ekonomi maupun perjalanan wisata,” jelasnya.

Kehadiran Firefly akan mempersingkat waktu perjalanan warga Batam menuju Malaysia maupun sebaliknya. Jarak tempuhnya hanya 1 jam 20 menit. Bandingkan jika perjalanan Batam-Kuala Lumpur itu ditempuh lewat perjalanan laut, bisa memakan waktu lima hingga enam jam.

Walikota Batam Ahmad Dahlan yang meresmikan rute internasional itu menyambut baik. Dahlan mengatakan kehadiran Firefly akan semakin memperkenalkan Batam pada masyarakat luar, khususnya pada masyarakat negeri jiran. Warga Malaysia bisa datang ke Batam untuk melakukan perjalanan bisnis, berwisata dan berbelanja. “Begitu sebaliknya, warga Batam bisa dengan mudah pergi ke Malaysia,” tambahnya.

Firefly terbang dari Batam ke Kuala Lumpur tiga kali seminggu. Setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Dari Bandara Subang Kuala Lumpur berangkat pukul 10.00 (waktu Malaysia) atau pukul 9.00 WIB pagi dan sampai di Batam pukul 10.20 WIB. Terbang kembali ke Subang  pukul 10.40 WIB dan sampai di Subang jam 13.00 waktu Malaysia.

Menggunakan pesawat jenis ATR72-500, berkapasitas 72 penumpang. Kelebihan maskapai ini menerbangi rute-rute yang tidak dapat diterbangi oleh pesawat jenis single asile. Konsumsi bahan bakar juga lebih irit, bebas polusi dan biaya paling rendah dibanding pesawat jenis lain.

Dalam rangka promosi, Firefly juga menawarkan harga yang cukup murah mulai dari Rp111 ribu. Tiket ini bisa didapat di agen-agen perjalanan di Batam dan di situs www.fireflyz.com.my.***

Kategori: Batam