seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Masukan dari Agustus 2009

bukan kerinduan yang salah alamat

Agustus 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

ada yang mengaduk-aduk perasaan, saat saya membaca TEMPO, soal 9 daerah bintang. saya langsung membayangkan batam, berada di antara mereka.

saya membayangkan batam menjadi kota yang menggratiskan pendidikan negeri dan swasta mulai dari sd-sma, seperti yang dilakukan kabupaten musi banyuasin. saya membayangkan batam mampu melakukan itu. apbd-nya besar, walikotanya juga baru saja mendapatkan penghargaan di bidang pendidikan.

pasti, tak akan ada lagi siswa tak tertampung, juga tak ada sekolah swasta yang tutup. wawako ria saptarika juga tak perlu beli ruko untuk sekolah.

saya membayangkan batam seperti kota balikpapan yang menyapu anak jalanan, melatih mereka dengan berbagai keterampilan. mulai dari menyetir hingga tata boga.

saya membayangkan batam seperti solo yang menata pedagang kaki lima dengan sangat apik. walikotanya, joko widodo, pernah 54 kali menjamu pk5 agar mau pindah ke kawasan yang sudah ditentukan, tanpa gejolak. semua digratiskan. bukan seperti pemindahan pk5 toss 3000 yang menghabiskan dana rp900 juta, tapi tetap tak mau menempati pasar induk jodoh, batam.

saya membayangkan batam seperti kabupaten lebak yang memiliki perda tentang transparansi dan partisipasi. di sana, semua anggaran disosialisasikan ke masyarakat lewat poster-poster dan sebagainya. di lebak, masyarakat tahu informasi pembangunan sekecil apapun. bukan seperti batam. warga batam, apakah ada yang tahu kalau setiap tahun pemko menganggarkan dana rp3,4 miliar untuk kebutuhan pimpinan?
saya membayangkan batam seperti purbalingga yang merehab sekitar 9.718 rumah warga miskin. bukan seperti batam yang angkat tangan tak mampu bangun jalan, malah hendak membangun papan nama rp500 juta di bukit clara.

ah, saya terlalu banyak membayangkan dan merindukan batam. saya takut, kerinduan saya akan hal-hal seperti itu menjadi kerinduan yang salah alamat. ***

Kategori: Batam

Tempat Singgah Favorit Imigran Asing

Agustus 10, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pelabuhan tikus di Batam tak hanya jadi tempat penyelundupan barang-barang, atau jalur TKI ilegal dari Malaysia. Tapi juga jadi pintu masuk para imigran gelap. Mereka transit di Batam, sebelum menuju negara ketiga.

***
Dari tepi pantai, rumpun bambu berwarna hijau kekuning-kuningan itu melambai. Daunnya basah, sisa dari gerimis yang baru saja berlalu. Senin siang pekan lalu, suasana di tempat itu begitu sunyi.

Rumpun bambu tadi adalah penanda, disitulah letak Tanjungbuluh atau Tanjungbambu. Diapit perkampungan Teluk Mata Ikan dan kawasan wisata Turi Beach, Tanjungbuluh bukanlah tempat yang menarik. Luasnya sekitar dua kali lapangan bola, penuh tanaman dan rumput liar. Nyamuknya besar-besar, gigitannya dalam menembus celana jeans.

Di sanalah, Jumat dua pekan lalu 19 imigran dari Afghanistan ditangkap polisi, setelah dua hari bersembunyi. Para imigran itu masuk Batam lewat Johor Malaysia. Mereka diselundupkan lewat Tanjungbuluh, menghindari pemeriksaan imigrasi.

Tanjungbuluh sendiri hanyalah kawasan menjorok ke laut, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak ada pelabuhan atau pelantar tempat perahu bersandar. Nyaris seperti tanjung yang tak tersentuh. Jejak kaki di pantai terhapus air laut yang pasang. Hanya kicau burung dan gemericik air dari tanjung menuju pantai yang terdengar. Sesekali deru mesin kendaraan memecah sunyi.

Salamuddin, 59, nelayan Teluk Mata Ikan, Nongsa, yang sedang memperbaiki perahu di tepi pantai, mengaku tak tahu menahu soal kedatangan para imigran tersebut. ”Saya terlalu sibuk melaut, tak memperhatikan sekeliling,” tuturnya.

Yang kaget setengah mati adalah Farida, 18, gadis Teluk Mata Ikan. Bersama ibunya, Jumat itu ia duduk di pojok rumahnya yang bersebelahan dengan jalan setapak menuju Tanjungbuluh. Sebuah mobil polisi dan dua mobil penuh penumpang tiba-tiba berhenti di depannya. Lalu, keluarlah sosok-sosok berperawakan tinggi dari dalamnya.

Mereka para imigran Afghanistan yang baru saja ditangkap polisi. Tanpa risih, mereka duduk di sampingnya. Lalu, menunjuk jus jeruk dalam gelas besar yang baru seteguk ia minum.

”Mereka seperti kelaparan. Nunjuk-nunjuk jus, tak mengucapkan apa-apa. Sudah, saya berikan saja pada mereka.”
Tak cukup jus, roti juga dilahap habis. ”Kayak orang tak makan berhari-hari,” tutur Farida.

Para imigran Afghanistan tadi hanyalah kasus kecil dari banyaknya penyelundupan manusia ke Batam lewat pelabuhan tikus. Dua warga Srilanka, Sujay, 28, dan Rajeepan, 20, bahkan lolos hingga Bandara Hang Nadim. Mereka dari Malaysia hendak ke Jakarta.

Kepada wartawan, dalam bahasa Melayu, Sujay mengaku berhasil masuk Batam atas bantuan tekong Indonesia. Dari Johor Bahru ia diselundupkan lewat pelabuhan tikus, yang tentu saja tak ia tahu tempatnya. ”Kami masing-masing bayar 200 ringgit,” katanya.

Sujay sudah empat tahun tinggal di Malaysia, negara yang memang terbuka buat para imigran yang hendak menuju negara ketiga. Sujay jadi pelarian akibat konflik di Srilanka tak kunjung mereda. Hampir setiap hari, katanya, warga Srilanka ditembus peluru nyasar.

”Saya nak ke Jakarta, ke kantor UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees/Komisi PBB yang mengurusi pengungsi),” tukasnya.

Sepanjang tahun 2009 ini, berarti sudah 70 imigran asing yang ditahan di Batam. Mereka dititipkan di Rumah Detensi Imigrasi Batam dan Tanjungpinang.

Tak hanya imigran asing, para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang visa atau izin tinggal dan izin kerjanya habis di Malaysia juga masuk Batam lewat jalur pelabuhan tikus tadi. Pintunya tak cuma satu, tapi berpuluh-puluh.

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam misalnya, mengidentifikasi ada 63 pelabuhan tidak resmi atau pelabuhan tikus di Batam. Pelabuhan-pelabuhan itulah yang sebagian di antaranya dijadikan pintu masuk WNA yang bermasalah dengan dokumen keimigrasian. Lalu, setelah di Batam mereka keluar lewat pintu resmi seperti lewat bandara atau pelabuhan.

Masalah pelabuhan tikus itu bahkan sempat mendapat perhatian serius dari Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi. Ia khawatir, penyelundupan barang ke Batam akan marak seiring dengan dijadikannya Batam sebagai kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas.

Sumber yang sering menjemput para TKI dari Malaysia ke Batam menyebut, kawasan pantai Teluk Mata Ikan dan kawasan Nongsa menjadi primadona masuknya para TKI yang melanggar dokumen keimigrasian itu. Pintu masuk lainnya adalah kawasan Batumerah, Batuampar dan Dapur 12 Nongsa. ”Tergantung situasi. Mana yang aman, di sanalah mereka dimasukkan,” katanya. Penjemputan biasanya dilakukan malam hari.

Speedboat yang mengantar para TKI itu tak perlu bersandar di pelabuhan atau pelantar. Penumpangnya diturunkan di kedalaman air sepinggang. ”Untuk menghindari kecurigaan,” tuturnya.

Di Batam, para TKI yang habis masa tinggalnya di Malaysia itu kemudian dibuatkan paspor baru dan kembali masuk ke Malaysia. Di Malaysia, biasanya para TKI itu kembali tidak memperpanjang izin tinggal dan kerjanya karena permasalahan biaya. Sehingga, saat pulang ke Indonesia, mereka kembali lewat pelabuhan tikus. ”Begitu seterusnya, bertahun-tahun.”

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Klas I Khusus Batam Yudi Kurniadi mengatakan, baik para imigran asing maupun TKI dari Malaysia yang masuk Batam lewat pelabuhan tikus melanggar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Karena setiap orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia, wajib lewat pemeriksaan imigrasi.

Orang asing yang menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp25 juta.

“Tapi imigran asing yang dinyatakan sebagai pengungsi oleh UNHCR, tidak bisa dikenakan aturan ini. Tidak bisa langsung dideportasi.”

Begitu juga dengan TKI yang masuk dari Malaysia ke Batam lewat pelabuhan tikus. ”Untuk TKI itu, sanksinya ya sanksi administrasi. Mereka (yang melanggar) dicegah, tak boleh lagi ke luar negeri,” katanya.

Sesuai aturan, kata Yudi, pintu masuk resmi ke Batam dari luar negeri lewat lima pelabuhan yakni Pelabuhan Sekupang, Batam Centre, Marina, Nongsa Pura dan Harbour Bay serta bandara. Di pintu-pintu masuk resmi itulah petugas imigrasi ditempatkan.

”Di luar itu, seperti di pelabuhan-pelabuhan tikus, kami mengalami kendala untuk memantaunya. Kita koordinasi dengan instansi terkait yang menjaga perbatasan seperti dengan TNI AL, misalnya,” tukas Yudi.

Yudi tidak membantah, kalau Batam menjadi kota transit para imigran asing menuju negara ketiga. Letak Batam yang berbatasan dengan Malaysia, negara yang membuka diri bagi imigran, salah satu alasannya. ”Dari sejumlah pemeriksaan terhadap para imigran itu, kita bukan negara tujuan. Mereka datang dari Malaysia ingin ke Australia atau ke Kantor UNHCR di Jakarta.”

Para imigran asing itu tidak lewat pelabuhan resmi, karena kemungkinan ditolak masuk Indonesia, besar. ”Makanya, mereka masuk lewat pelabuhan tikus tadi,” ujarnya.

Para imigran asing yang masuk Batam itu, kata Yudi, kini ditampung di Rumah Detensi Imigrasi Batam di Sekupang. Rabu lalu, beberapa orang di antaranya sudah dipindahkan ke Tanjungpinang. Mereka di rumah Detensi sampai UNHCR memutuskan mereka sebagai pengungsi dan diarahkan ke negera ketiga. LSM International Organization for Migration (IOM) membantu penanganan pengungsi tersebut.

”Kalau UNHCR menolak misalnya, mereka akan dikembalikan ke negara asalnya dengan difasilitasi IOM,” katanya. ***

Kategori: Batam

Dua Nama Tiga Generasi

Agustus 10, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hari jadi itu jatuh tiap 10 Agustus. Senin besok. sebelas tahun sudah Batam Pos terbit menyuguhkan berita dan informasi kepada para pembacanya, Anda semua.

***
Pertemuan Sabtu siang itu, rapat umum biasa. Dihadiri awak redaksi, bagian umum, iklan dan pemasaran. Suasana meriah, celutukan sering terdengar, terutama ditujukan kepada mereka yang datang belakangan.

Undangan pertemuan yang ditempel di dinding pengumuman, tak menyebut topik. Tapi semua karyawan sudah menduga-duga, pasti tak jauh dari momen ulang tahun Batam Pos ke-11. Ternyata, pertemuan itu berisi pengumuman dari manajemen soal peraturan perusahaan yang baru, diselingi ajakan untuk merenungkan perjalanan sebelas tahun koran ini.
Direktur Utama Batam Pos Marganas Nainggolan hadir bersama Pimpinan Umum Socrates dan Pimpinan Perusahaan Usep RS. Hadir pula para manajer. Semua bersila, lesehan di lantai 6 Graha Pena.

Suasana rapat awalnya agak kaku. Namun Marganas selalu bisa mencairkan suasana. Video perjalanan Batam Pos sejak terbit pertama kali dengan nama Sijori Pos 10 Agustus 1998, berganti nama jadi Batam Pos di tahun 2003 hingga kini diputar. Pemutaran video diselingi lagu Josh Groban, You Raise Me Up.

Terlihat wajah para senior yang ikut andil membesarkan Batam Pos di awal-awal pendirian. Beberapa di antaranya masih aktif sampai sekarang, seperti Marganas, Usep RS atau Herman Mangundap. Sejumlah wartawan di tahun-tahun pertama Batam Pos berdiri, nongol di video.

Marganas menyebut ada tiga generasi atau tiga fase perjalanan Batam Pos, yakni fase pendiri, pengembang dan penerus. Sambil menikmati alunan lagu, ia mengajak para karyawan merenung, di fase apa masing-masing mereka memberi andil.
Batam Pos terbit untuk pertama kalinya pada 10 Agustus 1998. Koran pertama di Kepri ini tidak bisa dilepaskan dari induknya, Riau Pos yang diterbitkan PT Riau Pos Intermedia, di bawah bendera Jawa Pos Grup yang terbit pertama kali 17 Januari 1991.

Sebelum Batam Pos terbit, Riau Pos beredar di Kepulauan Riau, saat itu masih satu provinsi dengan Riau. Riau Pos memiliki sejumlah kantor perwakilan di antaranya di Dumai, Tanjungpinang, Batam dan Sumatera Barat.

Seiring dengan makin pesatnya pembangunan di Batam, Riau Pos mengembangkan sayap, menerbitkan koran sendiri di Batam dengan nama Sijori Pos, 10 Agustus 1998. Nama Sijori Pos dipilih terkait dengan pengembangan kawasan segi tiga Singapura, Johor dan Riau.

Sebagai koran nasional pertama, Sijori Pos melesat cepat. Pimpinan Umum Batam Pos Socrates, mengingat betul bagaimana edisi perdana koran ini dicetak. Saat itu, ia masih koordinator liputan. Malam menjelang terbit, ia bersama Mafirion, Taufik Muntasir, Mega bagian pra cetak, menunggu di kantor lama Batam Pos, Orchid Point, Jodoh.

“Kami mengeluarkan segala kemampuan untuk menyelesaikan edisi perdana itu. Sampai-sampai tak sadar, deadline terlewati,” kata Socrates. Edisi perdana baru naik cetak menjelang subuh.

Tak ada persiapan khusus peluncuran koran edisi perdana itu. Namun ada peristiwa penting di Batam, tepat pada peluncuran perdana Sijori Pos, Presiden Habibie akan meresmikan Jembatan Barelang. “Kami berharap, edisi perdana Sijori Pos ditandatangani Habibie. Bang Marganas dan Depan Maju Sihite serta saya, hadir pada saat peresmian jembatan itu. Sayang, acara Habibie padat. Ia tak sempat menandatangani koran perdana itu,” tuturnya.

Menurut Socrates, selain Rida K Liamsi, banyak nama yang berjasa menghadirkan koran ini. Pertama, Marganas yang sejak awal bekerja sangat keras mengembangkan koran ini masuk ke Batam. Marganas sangat piawai soal bisnis, menguasai masalah manajemen keuangan serta seorang wartawan yang jago menulis feature.

Kedua adalah Akmal Atatrick di Tanjungpinang, yang mengurus percetakan dan distribusi koran sebelum akhirnya dipindahkan ke Batam. Kemudian, Mafirion, pemimpin redaksi Sijori Pos yang pertama. Mafirion dikenal bekerja lugas dan cepat. Taufik Muntasir yang akrab disapa Bang Ace juga tak dilupakan Socrates. Ace, orang dengan etos kerja tinggi.

Di bagian iklan, ada Usep RS, yang memiliki jaringan dan relasi yang luas. Pria asal Sunda ini dikenal supel dan pergaulannya luas. Ia berpengalaman di divisi iklan, jauh sebelum Sijori Pos terbit. Di bagian pemasaran, ada Herman Mangundap, lelaki asal Manado yang sejak awal sudah terbiasa dan bertahun-tahun bergelut di bagian distribusi dan sirkulasi.

Di bagian administrasi dan keuangan ada Syarifah Harani atau Nani. Nani di Batam Pos sejak masih berkantor di Windsor. Tentu saja masih banyak lapis kedua yang bekerja keras mengembangkan Sijori Pos. Sebut saja di redaksi ada Depan Sihite, Tariden Turnip, Lilis Lishatini, Lisya Anggraini, Umi Kalsum, Johan Howan dan sebagainya.

Dua tahun kemudian, 14 Februari 2000 Sijori Pos menerbitkan ”anak”nya Batam Pos, koran kriminal pertama di Batam. Batam Pos cepat menerobos pasar Batam. Koran ini dikenal berani dan blak-blakan.

Menurut Socrates, ada keputusan manajemen yang unik, sekaligus menjadi kasus marketing yang jarang terjadi. Nama Sijori Pos dikubur berganti jadi Batam Pos, mengambil nama koran kriminal, itu. “Itu terjadi Januari 2003.”

Sengitnya persaingan media, membuat Batam Pos menyiapkan media alternatif, sebuah situs berita www.batampos.co.id. Situs berita ini dimulai pada Juni 2003 dengan domain harianbatampos.com dikelola di kantor lama Batam Pos di kawasan Seijodoh.

Lalu pada Mei 2006, situs berita ini mengganti brand domain menjadi batampos.co.id dan terus dipergunakan hingga sekarang. Hingga kini batampos.co.id tidak kurang meraih 100 ribu klik setiap hari.

***
KINI, sebelas tahun sudah Batam Pos berdiri. Banyak perubahan terjadi. Marganas misalnya, sudah menjadi Dirut. Posisi Socrates sebagai pimpinan perusahaan digantikan Usep RS. Di redaksi, Hasan Aspahani sebagai Pemred dibantu tiga wakil Pemred, yakni Arham, Riza Fahlevi dan Putut Ariyo Tejo.

Di bawah mereka ada empat kompartemen plus edisi minggu. Kompartemen nasional dipimpin Ismed Safriadi, kompartemen pro kepri dipimpin Tunggul Manurung, kompartemen metropolis dipimpin Priya Ribut Santoso, kompartemen pro bisnis dipimpin Anwar Saleh dan Batam Pos edisi minggu dipimpin M Iqbal. Para Redpel itu dibantu asisten Redpel dan para redaktur.

Ada para redaktur ahli. Ada kantor-kantor perwakilan dan biro. Ada Koordinator Liputan dan Asisten Koordinator Liputan yang membawahi para reporter. Di bawah Korliplah, pencarian berita itu dikendalikan.

***
PEMILIHAN calon reporter di Batam Pos, cukup unik. Para calon reporter itu, awalnya tak ada yang benar-benar menguasai jurnalisme. Semua yang melamar rata-rata nol pengalaman.

Seperti Sri Murni yang lulusan ilmu kelautan dan perikanan Universitas Riau, William Seipatiratu lulusan fakultas pertanian Universitas Pattimura atau Evi Risdianti lulusan biologi Universitas Padjajaran.

Proses belajar untuk memahami jurnalisme atau menekuni bidang yang ditugaskan kepada mereka dilakukan sambil jalan. Sesekali kantor menyelenggarakan diskusi tentang masalah ekonomi makro, atau membicarakan situasi terkini, masalah politik dan lainnya dengan nara sumber kompeten.

Semuanya untuk membekali wartawan agar tak canggung turun ke lapangan. Maka tak aneh, jika Ahmadi yang lulusan sastra inggris di Universitas Hasanuddin, fasih menulis kasus-kasus kriminal. Atau Suparman yang lulusan sastra inggris Universitas Islam Negeri Malang, menulis soal gaya hidup warga metro.

***
ADA tradisi yang dibangun Batam Pos setiap kali merayakan hari jadinya, yakni melibatkan pembacanya untuk ikut berbahagia. Salah satunya adalah menyelenggarakan Rally Wisata.

Tahun itu, tahun 2001 untuk pertama kalinya Batam Pos, yang masih bernama Sijori Pos, menayangkan iklan jitu otomotif. Sebuah wadah promosi jual beli kendaraan. Sebagai sebuah awal, ternyata iklan jitu mendapatkan reaksi positif. Para pemilik kendaraan, menyambut baik iklan tersebut.

“Dari situ muncullah ide, bagaimana menyelenggarakan acara rally keluarga sekaligus mendekatkan Batam Pos dengan pembacanya,” kata Usep RS, yang sudah sembilan kali menjadi ketua panitia.

Tahun pertama itu, rally bernama Fun Rally. Peserta diajak keliling Batam bersama keluarganya. Syaratnya mudah, dokumen kendaraan lengkap dan mau menaati aturan lalu lintas. Di luar dugaan, pesertanya membeludak.

Maka, jadilah Fun Rally itu digelar setiap tahun, bertepatan dengan hari jadi Batam Pos. Tradisi itu mengekal, Fun Rally berganti nama jadi Rally Wisata. Kini, di ulang tahun Batam Pos ke sebelas, Rally Wisata digelar untuk ke sembilan kalinya.
Selalu ada yang baru, itulah penyelenggaraan Rally Wisata. Kali ini, peserta tak sekadar diajak wisata keliling kota. Tapi juga diajak berempati pada sesama, juga peduli pada alam.

“Peserta diminta membawa bibit tanaman. Kami ingin mengajak peserta ikut serta menciptakan green city,” kata Usep. Peserta juga akan diminta membawa sembako. Sembako ini nantinya akan diserahkan ke yayasan dan panti asuhan. “Nanti peserta sendiri yang akan memberikan.” ***

Kategori: Batam

Repotnya Mengusir Nyamuk Penjemput Maut

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hingga pertengahan tahun ini demam berdarah dengue (DBD) di Batam telah memakan 1.015 korban. Sepuluh di antaranya meninggal dunia. Setara dengan jumlah kasus sepanjang 2008.
***
Pasha Zafa Akbar, 4,8, tiba-tiba merasa kepalanya pusing. Setelah asyik bermain bersama teman-teman sebayanya, sambil berlari-lari kecil mengitari komplek Taman Raya Tahap II, Batam Centre, ia merasa capek. Tak menunggu lama, ia pulang ke rumahnya.

“Kepala abang pusing,” kata Pasha, Sabtu dua pekan lalu, kepada Dewi, 32, ibunya.

Wajah Pasha yang tadinya segar berkeringat, terlihat kuyu. Suhu badannya pun tinggi. Termometer yang dipasang Dewi di ketiak Pasha menunjuk angka 38 derajat celcius. Karena mengira demam biasa, Dewi memberi anak sulungnya itu obat pereda panas. Efek obat, membuat Pasha langsung tertidur.

Sorenya, begitu dicek kembali, ternyata suhu badan Pasha makin naik mendekati angka 40 derajat celcius. “Makanya, langsung saya bawa ke dokter,” kata Dewi, Senin pekan lalu.
Oleh dokter, Pasha diberi obat penurun panas dan diminta dikompres. Namun makin malam, suhu badan Pasha makin tinggi, mencapai 42 derajat celcius. Anak sulung pasangan Suwardi dan Dewi itu menggigil, mengalami halusinasi.

Dewi panik setengah mati. Tak menunggu lama, ia dan suaminya membawa Pasha ke Unit Gawat Darurat RS Budi Kemuliaan, di Seraya. Di sana, Pasha diambil sampel darahnya, namun belum ketahuan apa penyakitnya.

“Baru setelah dua kali diambil darahnya, ia ketahuan positif DBD,” kata Dewi, Senin pekan lalu.
Hampir seminggu lebih Pasha dirawat di rumah sakit dengan selang infus di lengannya. Meski suhu badan Pasha sempat turun dan kondisinya membaik, Dewi tak berani membawa pulang anaknya. Ia baru membawa pulang Pasha setelah dokter memastikan benar-benar sehat.
“Sekarang saya sudah bisa sekolah,” kata Pasha yang tahun ini untuk pertama kalinya masuk Taman Kanak-kanak.

Dalam dua tahun terakhir, ada dua orang di keluarga Dewi yang menjadi korban DBD. Sebelum Pasha, Dewi juga pernah digigit nyamuk Aedes Aegypti. Saat itu, Dewi sedang hamil anak keduanya. “Padahal, kami selalu mencoba hidup bersih. Kamar mandi di rumah tak pakai bak, ruangan juga selalu saya semprot,” tutur Dewi.

Dewi bahkan meminta juru pemantau jentik (jumantik) memeriksa rumahnya. Ia ingin tahu, apakah ada sarang jentik atau tidak di rumahnya itu. Namun setelah diperiksa, si jumantik tak menemukan sarang jentik. “Kalau di rumah ini memang tak ada. Tapi di sekeliling komplek, banyak.”

Pekan itu, Perumahan Taman Raya Tahap II memang sedang dilanda DBD. Selain Pasha, ada enam orang lagi yang jadi korban di antaranya Ana, 30, Mika,5, Rabindra,29, Ben Harun,36, dan Dhika, 35. Tapi karena terbentur biaya, banyak di antara mereka yang tak berlama-lama di rumah sakit. Mereka sudah pulang tanpa menunggu benar-benar sembuh.

Muji, Ketua RT 02 RW XI Belian, sempat panik dengan kondisi yang menimpa warganya itu. Bersama warga lainnya, ia menghubungi Puskesmas dan Dinas Kesehatan meminta penyemprotan atau fogging. “Namun birokrasinya berbelit. Harus ini, harus itu,” kata Muji.

Untungnya, ada salah satu warga Taman Raya yang menyimpan nomor ponsel Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika. Respon Ria positif, dan berjanji akan menurunkan tim kesehatan ke sana. Besoknya, orang-orang dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas berbondong-bondong datang ke Taman Raya. Selain memberikan penyuluhan, juga melakukan fogging.

Warga Taman Raya juga rajin bergotong royong. Gorong-gorong dibersihkan, bak kamar mandi dikuras, kaleng-kaleng yang menjadi tempat endapan air dibuang. “Sekarang sudah agak bagus. Sudah tak ada lagi warga kami yang kena,” tukas Muji.

Kepanikan juga melanda Perumahan Taman Raya Tahap III di seberang jalan. Di sini, ada dua warganya yang kena DBD. Warga resah. Mereka berharap ada fogging di lingkungan perumahan mereka. Namun, permintaan fogging ke Dinas Kesehatan Batam tak kunjung ditanggapi.
“Kami akhirnya fogging sendiri. Biayanya dari swadaya masyarakat,” kata Ketua RT 1 RW XVII Belian, Herman.

Herman mengaku kecewa pada Dinas Kesehatan yang tak berbuat banyak untuk mencegah terjadinya DBD. Masyarakat, katanya, tak butuh banyak penyuluhan karena dari tahun ke tahun DBD selalu menjadi momok dan merenggut banyak nyawa.

“Masyarakat sudah tahu 3M. Yang diperlukan sekarang adalah langkah kongkret pemerintah mengatasi ini,” tuturnya. DBD memang sudah banyak memakan korban. Data yang dihimpun Batam Pos dari berbagai rumah sakit di Batam, sejak Januari sampai pertengahan Juli, korbannya sudah mencapai 1.015 orang. Jumlah ini hampir menyamai jumlah korban di tahun 2008 yang mencapai 1.100 kasus.

Begitu juga yang meninggal, sudah sepuluh orang atau juga dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu. Juga hampir seluruh kecamatan di Batam ini tak lepas dari DBD. Sagulung, sebagai kecamatan yang paling padat penduduknya merupakan kawasan yang paling banyak terkena DBD.

Pada awal musim penghujan seperti pertengahan tahun, kasus DBD makin banyak. Hampir setiap hari, rumah sakit kedatangan pasien DBD. Bulan ini saja, ada 35 orang yang dirawat di RS Budi Kemuliaan. Belum lagi di RSOB, RSUD dan rumah sakit-rumah sakit lainnya.

Seperti Ade Sri Yuliani, misalnya, putri Martalini yang tinggal di Kartini II, Seiharapan, tergolek di RSOB akibat terkena DBD. Ade sempat demam selama dua hari, sebelum dipastikan positif DBD. “Anak saya malah sempat masuk ruang isolasi perawatan,” tutur Martalini. Di tempat yang sama, RSOB ternyata tak hanya merawat pasien Batam. Ada juga anak-anak dari Seiguntung, Indragiri Hilir, Riau, yang dirujuk dari RSUD Indragiri Hilir.

Nyamuk Aedes Aegypti ini juga tak memilih-milih korban. Mereka yang tinggal di kawasan kumuh maupun elit, hampir tak bisa lepas dari gigitannya. Repotnya, hampir sebagian warga tidak bisa membedakan gejala DBD dengan gejala flu biasa ataupun penyakit lain, karena semuanya memiliki kemiripan. Gejala seperti timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah, yang dulu sempat didengung-dengungkan sebagai tanda terkena DBD, juga tak selalu bisa ditemui pada pasien penderita DBD.

Bahkan, tak jarang petugas medispun kerap salah menduga. Banyak dokter yang tak bisa langsung mendiagnosa seorang pasien terkena DBD atau tidak. Seperti yang dialami Pasha misalnya, dokter pertama yang memeriksanya tak menyimpulkan bocah itu menderita DBD. Baru setelah dua kali sampel darahnya diambil, Pasha ketahuan positif DBD.

Menurut dr Dindin Hadim, dokter spesialis penyakit dalam RS Budi Kemuliaan, tak semua dokter bisa langsung menyimpulkan seseorang terkena DBD atau tidak. Penyebabnya, karena penyakit DBD gejalanya hampir sama dengan penyakit malaria atau demam biasa. “Dokter kan biasanya cuma meraba-raba, sehingga kadang juga salah menyimpulkan. Ini tergantung pengalaman si dokter,” tukasnya. Biasanya seorang pasien DBD baru ketahuan positif, kalau sampel darahnya dicek di laboratorium.

Bila ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi, Dindin menyarankan untuk secepatnya diberi obat pereda panas selama dua atau tiga hari. Kalau belum juga sembuh, baru bawa ke dokter atau ke rumah sakit. “Penyakit DBD tingkat I, itu belum berbahaya. Kalau cuma demam, beri saja obat pereda panas. Baru kalau dua atau tiga hari belum sembuh, cepat bawa ke dokter,” katanya.

Ada tiga faktor, menurut Dindin, yang mempengaruhi berjangkitnya penyakit DBD ini, yakni manusia, lingkungan dan nyamuk itu sendiri. Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, membuang atau menimbun benda-benda tak berguna yang menampung air, menaburkan serbuk abate pada bak mandi dan tempat penampung air lainnya. Pengasapan atau fogging untuk mengantisipasi mewabahnya kasus DBD ini, bukanlah solusi terakhir.

Kadis Kesehatan Kota Batam Mawardi Badar menolak instansinya disalahkan akibat bejibunnya korban gigitan yamuk ini. Kunci terbebasnya masyarakat dari DBD, kata dia, adalah dari masyarakat sendiri. “Tidak selamanya kita yang disalahkan kalau ada warga meninggal akibat penyakit ini, karena kita juga sudah mengimbau secara terus menerus,” ujarnya.

Sejak tahun 2007 silam, Pemko Batam sudah pernah melaksanakan program Gerakan Berantas Demam Berdarah atau Gebrak. Seremoni program ini dilakukan meriah dengan pengasapan dan gotong royong oleh Wali Kota Batam dan jajaran Muspida lainnya di Sagulung. Namun, dari tahun ke tahun bukannya menurun, korban DBD makin bertambah.***

Kategori: Batam

Biar Antre, Asal Tak Kebakaran

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Antrean panjang warga membeli minyak tanah kini makin sering terlihat, terutama menjelang pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji. Mereka mengaku takut tak kebagian minyak tanah, sekaligus takut mengalami kebakaran jika berganti ke elpiji.
***
Ramsina, 44, hampir saja terjatuh saat hendak turun dari boncengan sepeda motor. Dengan memegang jirigen di tangan kanannya, ia bergegas melewati jalan basah menuju Pangkalan Minyak Sabariah. Selasa pagi pekan lalu, pangkalan di Kampung Becek, Seiharapan, Sekupang, itu sudah dipenuhi antrean puluhan warga lainnya.

Antrean pembeli minyak tanah itu melengkung berbentuk huruf L. Rata-rata mereka adalah ibu rumah tangga, mengenakan daster, bersandal jepit. Beberapa di antaranya menggendong anak. Satu-dua, ikut juga mengantre bapak-bapak.

“Isteri lagi masak di rumah,” kata seorang bapak dengan kumis tebal yang ikut dalam antrean.

Di antara antrean panjang itu, Ramsina berdiri paling belakang. Makin lama antrean makin panjang. Jika tadinya Ramsina berdiri di belakang, makin siang ia mulai beringsut ke tengah.

Akhirnya, setelah berdiri lebih setengah jam, jirigennya terisi juga. Pagi itu, penjual makanan di kawasan Pelabuhan Sekupang itu mendapatkan minyak tanah 5 liter. “Ini sebenarnya tak cukup buat satu minggu. Tapi, gimana lagi, jatahnya segitu,” katanya.

Imel, 33, warga Kampung Becek, juga mendapatkan 5 liter minyak tanah. Jika pembeli tak banyak, ia sering mendapatkan sepuluh liter. “Kalau hanya untuk kebutuhan memasak, 5 liter cukup seminggu. Tapi, kan saya sering juga bikin kue, jadi kadang tak cukup,” tuturnya.

Imel mengaku saban minggu mengantre minyak tanah. Setiap lori minyak masuk pangkalan, ia pasti datang. Sejak kabar bakal adanya pergantian minyak tanah ke gas elpiji berhembus, ia makin tak tenang. “Kalau boleh, saya ingin beli minyak tanah sebanyak-banyaknya,” katanya.

Namun karena sudah dijatah, setiap pembelian minyak tanah di pangkalan dibatasi. “Kadang 5 liter, kadang 10 liter. Tergantung banyak tidaknya pembeli,” tukas Desi, 33, warga lainnya.

Jika Ramsina dan warga Kampung Becek di Seiharapan, Sekupang, kebagian minyak tanah, nasib Rokia, 33, dan belasan warga lain yang tinggal di rumah liar di seputar Pasar Pagi, Jodoh, beda lagi. Selasa pekan lalu, mengantre di tengah terik matahari, Rokia tak kebagian minyak tanah. Minyak di Pangkalan Lubis, Jodoh, itu habis ketika Rokia dan kawan-kawannya bertahan di antrean hampir satu jam.

“Sampai kami mau kelahi-kelahi tadi. Sudah ngantre panas, tak kebagian juga,” katanya. Rokia, mengantre sambil menggendong putrinya, Tika.

Senasib dengan Rokia, Laila, 29, juga tak kebagian. Biasanya, menurut Laila, lori minyak baru datang sekitar pukul sepuluh. “Tapi tadi kepagian. Saya telat dikasih tahu, pas datang antrean sudah panjang,” tuturnya.

Padahal untuk sampai ke Pangkalan Lubis itu, kata Laila, ia harus berpanas-panas jalan kaki. “Anak saya, saya titipkan ke tetangga agar dapat minyak. Eh, malah tak dapat.”

Minyak tanah, kata Laila, sangat mereka butuhkan untuk keperluan memasak. “Bertahun-tahun di Batam, saya tak pernah pakai elpiji. Tak ada duit,” tukasnya.

Di waktu yang sama, jauh di Kampung Gang Lestari, Batuaji, antrean panjang pembeli minyak tanah juga mengular. Di Pangkalan Minyak T Sembiring itu, ratusan jirigen sudah dijejerkan, berjam-jam sebelum lori minyak datang.

“Sudah dua hari warga ngantre,” kata Upik, wakil ketua RT 02 RW 04 Kampung Gang Lestari.

Menurut Upik, warga menyerbu pangkalan karena minyak tanah sulit didapatkan. Pasokan minyak ke pangkalan kadang datang dua atau tiga minggu sekali. Karena itu, begitu lori minyak masuk, warga berebutan menyerbu.

“Pasokannya tak cukup, ada yang tak kebagian. Ibu-ibu ini mau berkelahi,” tuturnya.

Pasokan minyak tanah di pangkalan tersebut tak sebanding dengan jumlah rumah yang dilayani. Setiap kali datang, pasokannya 2.000 liter, sementara yang dilayani 300 hingga 400 rumah. “Dulu pasokan bisa sampai lima ton (5.000 liter). Tapi sekarang cuma dua ton, jadi tidak cukup,” ujarnya.

Pasokan minyak tanah yang kurang itu, membuat warga pusing. Untuk mengakalinya, warga rela membayar di depan. “Satu minggu sebelum minyak datang, kami sudah bayar ke pangkalan,” kata Yanti, warga Kampung Terokah, Tanjunguncang.

Di temui di kantornya, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral KOta Batam Ahmad Hijazi mengungkapkan, fenomena antrean panjang pembelian minyak tanah di Batam bukan karena minyak tanah mulai langka. “Itu hanya akibat panic buying. Masyarakat berebut membeli minyak tanah karena menganggap minyak tak ada, padahal stoknya banyak. Saya sudah konfirmasi ke Pertamina, stok kita cukup,” tukasnya.

Takut Kebakaran

Segepok formulir yang berisi survei soal konversi minyak tanah ke gas elpiji itu diterima Udin Sallo, Ketua RT 08 RW IV, Baloi Indah, Lubukbaja, dari ketua RW, awal Juli, lalu. Formulir itu diminta dibagikan kepada warga pengguna minyak tanah yang tinggal di RT 08, Kampung Dalam, Baloi Indah, tersebut.

“Tapi tak cukup. Formulirnya cuma seratus, sementara warga saya di sini sekitar 203 KK. Semua pengguna minyak tanah,” katanya. Karena tak cukup, Udin hanya membagikan formulir itu ke seratus orang. “Saya termasuk yang tak kebagian,” tuturnya.

Survei konversi minyak tanah yang bertujuan menyisir pengguna minyak tanah agar bisa mendapatkan paket gas elpiji itu memang tak menyentuh semua warga. Di Baloi Indah misalnya, menurut Lurah Baloi Indah, Ridwan Affandi, dari 15.897 warganya, hanya 2.577 keluarga saja yang mendapatkan formulir. “Kami di kelurahan hanya memfasilitasi saja,” katanya.

Toh, tak semua warga menyambut baik program tersebut. Seperti di RT08 RWIV misalnya, tak semua mendukung sepenuhnya program konversi minyak tanah ke gas elpiji tersebut. Ada juga warga yang masih ingin tetap menggunakan minyak tanah seperti saat ini. “Termasuk saya. Selama bertahun-tahun tinggal di Batam, saya selalu menggunakan minyak tanah,” kata Nuraini.

Nuraini, isteri Udin, mengaku lebih sreg mengantre berjam-jam untuk mendapatkan minyak tanah daripada harus beralih ke gas elpiji. “Takut terbakar,” katanya.

Pengakuan yang sama juga diutarakan puluhan warga yang ditemui Batam Pos saat mengantre minyak tanah. Eli, 39, warga Tanjunguma mengaku takut mengalami kebakaran kalau nanti harus beralih menggunakan gas elpiji. “Tahu sendiri Mas, kami tinggal di ruli (rumah liar). Kalau meledak, bisa habis rumah kami,” tukasnya.

Selama enam tahun tinggal di Batam, Eli mengaku selalu menggunakan kompor sumbu berbahan bakar minyak tanah. Mulai dari menanak nasi, menggoreng ikan sampai memanaskan air, ia tak pernah berpaling dari kompor minyak. “Kami masyarakat kecil, manalah mampu beli elpiji,” tuturnya.

Desi, 35, warga Kampung Becek Seiharapan, juga mengungkapkan ketakutan yang sama. Menurut dia, dari berita-berita tayangan televisi yang biasa ia tonton soal penggunaan elpiji 3 kilogram itu, banyak yang meledak. “Makanya, kalau boleh milih, lebih enak pakai minyak tanah saja,” tuturnya.

Selain tak perlu khawatir meledak, kata Desi, menggunakan minyak tanah juga tak perlu khawatir tak punya duit karena harganya murah dan bisa dibeli eceran. “Kalau lagi tak punya duit, masih bisa kita beli minyak tanah seliter. Kalau gas, harus beli satu tabung,” katanya.

Beda dengan Ramsina. Meski bertahun-tahun menggunakan minyak tanah, ia mengaku siap mengikuti program pemerintah, beralih ke gas elipiji. “Kalau aturannya sudah begitu, saya ikut saja,” tukas wanita asal Sumatera Utara, itu.

Namun kalau bisa memilih, kata Ramsina, ia memilih menggunakan minyak tanah. “Ngantre lama, tak masalah,” tukasnya. ***

Kategori: Batam

Kisah Seorang Ibu yang Mencari Keadilan

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kematian Ronal Aritonang, warga Kembang Sari, Lubukbaja, setelah diperiksa polisi, hampir setahun lalu, meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Ibunya, Hj Mimi Farhimi terus mencari keadilan, berusaha mengungkap fakta sebenarnya.

***
Tangis Mimi pecah di ruang tengah itu, saat memandangi foto Ronal dalam bingkai merah hitam yang ditempel di dinding. Kakinya bergetar, tangannya kaku berpegangan pada sofa. ”Saya tak kuat. Saya pasti menangis seperti ini,” katanya.

Senin malam pekan lalu, tadinya Mimi meminta Batam Pos melihat sendiri foto Ronal. Ia mengaku tak sanggup memandangi foto putra bungsunya itu. Namun, setelah diajak ke ruang tengah untuk diambil gambarnya, ia ikut juga. Di sanalah ia terisak, sebelum akhirnya beranjak kembali ke ruang depan.

Ia terguncang. Tangisnya kembali pecah. ”Mata saya rusak akibat banyak menangis. Mungkin yang keluar bukan lagi air mata, tapi darah,” tuturnya.

Malam itu, tak hanya sekali dua kali ia menangis. Saat menceritakan momen-momen terakhir perjalanan hidup Ronal, ia tersedu-sedu. Mimi mengaku biasanya selalu didampingi anak keempatnya, Romel, jika bercerita soal Ronal. Namun, malam itu Romel sedang keluar.

Itu membuat Mimi tak bisa lepas bercerita. Wawancara tersendat-sendat karena ia sering menangis. Beberapa kali ia melepas kaca mata, menyeka air matanya. Terlihat ada bintik-bintik kelabu di matanya, sesuatu yang ia akui baru muncul setelah ia terus-terusan menangis.

Untuk menenangkan diri, ia minta izin menghisap sebatang rokok. ”Sebelum kejadian ini saya tak pernah merokok. Saya tahu rokok berbahaya buat kesehatan, tapi untuk kasus seperti saya, dokter tak melarang.”

Mimi ternyata menyimpan sejumlah kliping koran yang memuat berita kematian Ronal. Ia menyodorkan sejumlah kliping itu. Memperlihatkan surat dari Komisi Hak Asasi Manusia, Komisi Kepolisian Nasional dan hasil visum atas tubuh Ronal dari RS Otorita Batam.

Mimi ingat betul hari terakhir pertemuannya dengan putranya itu. Sabtu, 27 September 2008, bulan Ramadan, ia hendak ke Surabaya. Pukul 11.00 WIB, dengan diantar Ronal, mereka meluncur dari rumahnya di Kembang Sari ke Bandara Hang Nadim.

Langit saat itu mendung. Ronal mengkhawatirkan penerbangan ibunya dan berniat ikut ke Surabaya. Namun, Mimi memintanya tak usah khawatir. ”Kalau begitu setelah mama sampai di Surabaya, nanti saya telepon,” kata Ronal, ditirukan Mimi. Mama adalah panggilan Ronal pada ibunya.

Begitu mendarat di Surabaya, ponsel Mimi berdering. Ronal menanyakan penerbangan ibunya. ”Mama, bagaimana cuaca Surabaya. Mama, kabarnya bagaimana.” Kata-kata itu masih terngiang-ngiang terus di telinga Mimi.

Pukul enam sore, Ronal menelepon lagi. Kali ini, ia mengabarkan baru pulang dari Tanjungpinang. Di sana Ronal membeli cendol untuk berbuka puasa. ”Saya beli cendol enam bungkus. Saya tadi lupa kalau mama di Surabaya, saya kira mama di Batam,” kata Ronal pada ibunya.

”Tak apa-apa, Nak. Simpan saja cendolnya di kulkas,” jawab Mimi.

Seperti Mimi, Ronal adalah pengusaha muda, seorang kontraktor yang mewarisi bakat ibunya. Pemuda yang masih melajang di usianya yang 32 tahun itu, lulusan Fakultas Teknologi Industri UPN Veteran Yogyakarta, tahun 2000. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak kecil Ronal ditinggal mati ayahnya, John Aritonang, sehingga Mimilah yang membesarkannya seorang diri. Kepadanyalah, Mimi berharap banyak.

Dekatnya hubungan ibu-anak itu, membuat Ronal hampir selalu mengungkapkan aktivitasnya pada ibunya. Pukul delapan malam, kembali Ronal menelpon Mimi. Ia mengabarkan baru saja berbuka puasa. ”Mungkin nanti saya pergi tarawih, Ma. Lihat keadaan.”

Itu kata-kata terakhir yang diucapkan Ronal pada Mimi. Pukul sebelas malam, Mimi dikabari kalau Ronal sedang koma di RS Otorita Batam. Mimi kaget, tak menyangka anaknya akan mengalami nasib seperti itu. Mimi galau, pagi-pagi sekali ia kembali ke Batam.

Dua hari di RS Otorita Batam, Ronal tak sadarkan diri. Ia tak lagi mengenali ibunya. Ia kemudian dipindahkan ke RS Awal Bross. Namun, nyawa Ronal tak tertolong lagi. ”Saya pingsan. Tulang-tulang saya seperti lepas,” tutur Mimi.

Kematian Ronal yang begitu tiba-tiba itu mengguncang Mimi. Berhari-hari ia tak sadar, dan sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Baru berbulan-bulan kemudian, di awal tahun 2009 ini, kesehatan Mimi membaik.

Namun, ia masih dijauhkan dari berita-berita seputar kematian Ronal yang ditulis media. ”Oleh anak-anak, saya tak boleh baca koran. Baru setelah saya agak baik, anak-anak memperbolehkan.”

Dari membaca koran itulah Mimi tahu apa yang terjadi. Malam terakhir itu, setelah mengabarkan padanya kalau sudah berbuka puasa, Ronal ternyata menuju Polsek Sekupang. Ia dimintai keterangan terkait masuknya laporan ke polisi soal utang piutang yang melibatkan dirinya dan seorang pengusaha, Su.

Di Polsek Sekupang, polisi mempertemukan Su dan Ronal. Namun, baru dua jam di sana, Ronal mendadak pingsan. Ia mengalami stroke hingga harus dibawa ke rumah sakit. Inilah yang membuat Mimi sakit hati. Ada dugaan, Ronal sempat dianiaya. ”Pasti ada apa-apanya. Kenapa anak saya yang sehat tiba-tiba sakit setelah dua jam di sana. Ini harus diungkap, diperjelas dan pelakunya ditindak,” katanya.

Dengan menggandeng pengacara dari Jakarta, Junaidi Manurung SH, Mimi ingin membuka kasus kematian anaknya itu. Ia menyurati kepolisian. Namun jawaban kepolisian yang menyatakan tak ada penganiayaan terhadap Ronal tak memuaskannya.

Bersama pengacaranya, ia membawa kasus anaknya itu ke Jakarta. Ia menyurati Komnas HAM. Komnas HAM kemudian menyurati Irwasda Polda Kepri dan meminta klarifikasi atas kejadian yang menimpa Ronal itu. Dalam suratnya bernomor 1.207/K/PMT/III/2009, Komnas HAM meminta klarifikasi Irwasda terkait hasil pemeriksaan lanjutan oleh P3D Poltabes Barelang terhadap Kanit Reskrim Polsek Sekupang Ipda Syamsurizal. Komnas HAM juga memberi waktu 30 hari kepada Irwasda Kepri untuk menjawab suratnya itu, tertanggal 30 Maret 2009.

Ditemui Selasa pekan lalu, di Mapolda Kepri, Irwasda Polda Kepri Komisaris Besar Winarno AS mengaku sudah menjawab surat Komnas HAM tersebut. ”Sudah saya jawab, sudah selesai. Tapi, saya tak bisa ngasih keterangan di sini karena peranan saya interen. Kalau mau tanya soal ini, ya ke Pak Kapolda atau ke Kapoltabes,” katanya.

Tak cukup ke Komnas HAM, Mimi lewat Junaidi, mengadukan kejadian itu ke Komisi Kepolisian Nasional. Kemudian dalam acara Jalur 259, Mimi dan Kapoltabes Barelang Komisaris Besar Leonidas Braksan difasilitasi Kompolnas tampil satu meja di TV One, pertengahan Juni lalu.
Jalur 259 adalah jalur bagi masyarakat untuk menyampaikan saran dan kritik mereka soal polisi. Di sini biasanya, masyarakat bisa mengungkapkan saran dan kritiknya terhadap kinerja polisi atau menyampaikan keluhan-keluhan berkaitan dengan pelayanan kepolisian.

Meski sudah tampil di Jalur 259, Mimi belum puas. Ia menginginkan oknum kepolisian dan orang-orang yang terlibat yang menyebabkan kematian anaknya itu ditindak tegas. ”Jangan sampai apa yang saya alami menimpa orang lain. Saya akan terus berjuang mencari keadilan,” katanya.

Kapoltabes Barelang Komisaris Besar Leonidas Braksan sendiri, mengakui, anggota penyidik yang menangani kasus almarhum Ronal Aritonang itu, bersalah dalam menjalankan tugasnya.
Namun demikian, kesalahan yang dilakukan anggotanya itu hanya kesalahan prosedur. Ronal, menurut Kapoltabes, saat itu dipanggil tidak sesuai mekanisme pemanggilan untuk dimintai keterangan berupa surat panggilan menghadap. Kala itu, Ronal dipanggil melalui telepon tanpa didampingi saksi atau pengacara.

”Anggota memang terbukti melakukan pelanggaran dan telah ditindak tegas. Ia (penyidik, red) memanggil orang tanpa surat panggilan atau didampingi saksi atau pengacara,” ujarnya, Jumat pekan lalu.

Sebagai konsekwensinya, oknum penyidik yang menangani kasus tersebut telah diberikan saksi tegas berupa demosi, pencopotan jabatan dan penundaan kenaikan pangkat selama satu periode.

Hasil visum et repertum bernomor R/40/RS/X/2008 yang dikeluarkan RS Otorita Batam atas diri Ronal menyatakan, Ronal tiba di instalasi gawat darurat (IGD) dalam keadaan tidak sadar. Setelah dilakukan pemeriksaan, dr Lydiawati S yang memeriksa mengambil kesimpulan Ronal diduga mengalami stroke hemoragik dan hypertensi emergensi. Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak.

Ini yang menurut Mimi aneh karena anaknya selama ini sehat dan tak memiliki penyakit hipertensi. ”Sampai ke ujung dunia akan saya kejar. Saya ingin keadilan ditegakkan. Orang-orang yang menyebabkan kematian anak saya harus ditindak,” katanya.***

Kategori: Batam

Jeruji, Rumah Kedua Kami

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Puluhan anak berumur di bawah 17 tahun mendekam di penjara. Ada yang dibui karena mencuri rokok, dijerat kasus pencabulan hingga melakukan pembunuhan.
***
Malam terasa gerah. Di kamarnya yang sempit, Sur, 15, siswa kelas 1 Madrasah Aliyah, gelagapan terbangun dari tidurnya. Wajahnya berkeringat. Ia baru saja terbangun dari mimpi. Mimpi punya ponsel seperti teman-teman sekolahnya yang lain.

Sur termenung, terbayang mimpi indahnya tadi. ”Kapan saya bisa punya ponsel,” tanyanya dalam hati. Ia lalu berbaring, mencoba melanjutkan tidurnya lagi. Matanya terpejam, tapi hatinya berkelana ke mana-mana. Sur tak bisa tidur nyenyak lagi.

Di sekolah, Sur tak lagi betah. Ia merasa rendah diri setiap kali melihat teman-temannya menenteng ponsel. Ia sempat ingin minta dibelikan ponsel ke ibunya, namun ia batalkan karena tahu orang tuanya tak punya duit. Tapi keinginannya punya ponsel tak pernah kendur.

”Saya sempat nekat mau nyuri, tapi tak berani,” katanya, saat ditemui di Rumah Tahanan Baloi, Senin pekan lalu.

Hingga di hari Rabu itu, 4 Februari 2009, dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit milik pamannya ia mengelilingi Perumahan Puri Agung, Tanjungpiayu. Di depan sebuah rumah Nomor 21, di Blok A2, ia melihat Wiwin 16, berdiri memegang ponsel.

Mendadak muncul bisikan di hati Sur. Keinginannya memiliki ponsel seperti teman-temannya yang lain, meluap. Ia gelap mata. ”Seperti ada yang nyuruh. Saya nekat,” tuturnya.

Dengan hati berdebar, ia menghentikan sepeda motornya. Lalu setengah berlari, mendekati pintu dan mengetuknya. Wiwin keluar menyambut. Kepada Wiwin, Sur mengaku diminta pemilik rumah mengambil mobil yang parkir di garasi.

Wiwin mengaku tak tahu letak kunci mobil itu. Tapi, Sur yang sudah duduk di sofa terus mendesak. Kunci mobil akhirnya berpindah ke tangan Sur. Tapi Sur yang mengincar ponsel Wiwin, tak bergegas pergi. Ia menunggu Wiwin lengah.

Tak lama kemudian Wiwin menuju dapur sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Sur tak menyia-nyiakan kesempatan. Ponsel itu disambarnya. Tapi belum sempat ia berlari, Wiwin memergoki aksinya. Sur diteriaki maling.

Tak mau kelakuannya ketahuan orang, Sur mencabut pisau dapur di saku belakang celananya. Tanpa berpikir lagi, Wiwin ditusuknya hingga tersungkur di lantai. Setelah itu ia berlari keluar.

Malang, kaki Sur menyenggol kepala Auriel Mega Safitri, 6, anak pemilik rumah, yang tidur di ruang tamu. Auriel terbangun, lalu berteriak kaget. Sur tak kalah kagetnya. Pisau bermandi darah di tangannya ia hunjamkan lagi ke dada Auriel.

”Saya tak ingat lagi berapa kali (tusukan). Saya panik, takut ketahuan,” tutur Sur.

Sesudah menikam dua korbannya, Sur mengambil terpal penutup mobil di garasi. Terpal itu ia gunakan menutup tubuh korban-korbannya. Ia mengacak-acak lemari, mencari harta lain, tapi tak banyak yang ia temukan. Karena itu, ia nekat melarikan mobil Honda Civic, milik ayah Auriel. Tapi karena tak terbiasa, ia menabrak sepeda motor tetangga rumah.

”Saya tak tahu lagi (apa yang terjadi). Tahu-tahu saya dipukuli warga. Kepala dan dada saya luka, sakit semua waktu itu,” katanya.

Sur menuturkan kembali kisah hidupnya itu, dengan sedikit berbisik. Ada beberapa penggal kasus pembunuhan itu yang tak ia ingat lagi. Berapa orang yang ia tusuk, atau siapa nama korbannya, misalnya, tak ia ingat. Ia hanya ingat, saat itu sudah kebelet ingin punya ponsel.

”Saya menyesal sekali telah membunuh orang, sudah membuat malu keluarga. Gara-gara saya, mereka sengsara, ” tukas remaja yang 27 Juni ini tepat berumur 16 tahun. Sur divonis sembilan tahun penjara.

Bersama Sur, ada 23 anak lainnya yang kini mendekam di Rumah Tahanan Klas II A Baloi. Umur mereka antara 13 tahun hingga 16 tahun. Senin pekan lalu, beberapa di antaranya kami rekam kisah hidupnya.

Vina, 14, nama samaran, misalnya, satu-satunya anak gadis di antara mereka. Tubuhnya imut, hitam manis. ”Karena ketahuan bawa ineks di dompet, saya divonis dua tahun,” tuturnya.

Vina tak pernah membayangkan bakal hidup di tahanan. Waktu keluarganya pertama kali pindah ke Batam, akhir Desember 2007, mereka tinggal di sebuah rumah liar di Bengkong Abadi. Orang tuanya kerja tak menentu, sehingga Vina terpaksa tak melanjutkan sekolah. Ia putus sekolah di kelas 2 SMP.

”Saya sebenarnya masih ingin sekolah. Cuma kalau saya sekolah, bisa-bisa adik saya yang tak sekolah. Keluarga kami tak mampu,” katanya. Untuk membantu orang tuanya, Vina bekerja sebagai penjaga pakaian di sebuah toko di DC Mall dan Jodoh Centre.

Hingga suatu hari ia bertemu seorang gadis, sebut saja bernama Nina, 16, yang mengajaknya dugem ke Diskotek Planet. Di sanalah, untuk pertama kalinya Vina berkenalan dengan pil berwarna pink yang bisa membuatnya seperti berayun-ayun. ”Saya tak beli sendiri. Teman saya itu yang ngasih,” katanya.

Hari naas itu akhirnya datang juga. Sabtu sore, 20 Desember 2008, Vina berkumpul dengan temannya di Hotel Andi, Bengkong. Mereka menegak ineks. Tapi Vina memilih menyimpannya di dalam dompet. Saat itulah polisi datang menggerebek. Kawan-kawan Vina berlarian. Vina yang kebingungan ditangkap polisi dengan dua butir ineks di dompetnya.

”Saya tak pernah menyangka bakal begini. Jangan sampai ini terjadi pada teman-teman saya yang lain,” tukasnya.

Arfan, 16, nama samaran, beda lagi kisah hidupnya. Remaja yang tahun lalu putus sekolah dari SMP 12 Batam itu, terjerat kasus pencabulan. Saat itu, Arfan bekerja sebagai kernet angkot jurusan Jodoh-Punggur.

Suatu hari, Arfan melihat Vivi, 15, pacarnya yang masih duduk di bangku SMP melamun di Pelabuhan Punggur. Ia kemudian mendekati Vivi dan menanyakan kenapa pacarnya itu seorang diri di sana.

”Ia mengaku diusir orang tuanya. Saya tanya kenapa, dia diam saja. Karena takut terjadi apa-apa, saya bawa dia ke rumah,” kata Arfan.

Dua hari Vivi bermalam di rumah Arfan, di Nongsa. Dua malam itu pula, dua remaja itu tidur seranjang. ”Tapi kami tidak berhubungan. Kami cuma ciuman saja,” tukas Arfan.

Tanpa diketahui keduanya, orang tua Vivi lapor polisi. Arfan ditangkap. Vivi kemudian divisum. Ternyata selaput dara gadis SMP itu sudah robek. ”Tapi, bukan saya yang melakukannya. Mungkin dia sudah tak perawan sebelum berpacaran dengan saya,” kelak Arfan.

Tapi, hakim tak percaya. Arfan dikenai hukuman tiga tahun. Di Rutan Batam, Arfan menyesali hidup. ”Setelah keluar nanti, saya ingin jadi orang baik-baik.”

Yang mengenaskan nasib Suro, 14, juga nama samaran. Remaja kelas 2 SMP ini tubuhnya paling kecil dibandingkan teman-temannya yang lain. Karena ikut temannya mencuri rokok di sebuah kios di Food Court Windsor, ia harus mendekam di penjara selama delapan bulan. ”Delapan slop rokok, delapan bulan kurungan,” tuturnya.

Suro ditangkap gara-gara temannya terkena razia preman akibat tak punya KTP. Dari temannya itulah polisi mendapat keterangan kalau mereka pernah membobol kios rokok. Suro akhirnya diciduk polisi di rumahnya.

Hendri juga bernasib sama. Remaja kelahiran 18 April 1994 itu awalnya datang ke Batam mengadu nasib seorang diri. Ia menumpang tinggal di kontrakan temannya. Karena tak kunjung dapat kerja, uang sangu dari orang tuanya habis.

Ia bingung, kerja tak dapat, uang juga tak punya. Dalam kebingungan itulah ia melihat sebuah rumah kosong. ”Saya ambil lemari di situ untuk saya jual buat makan. Besoknya, saya ditangkap polisi,” katanya.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), anak-anak yang belum dewasa seperti mereka harusnya tak perlu dihukum penjara. Dalam pasal 45 misalnya, tuntutan pidana terhadap orang yang belum dewasa yang berumur di bawah 16 tahun, hakim dapat menentukan: memerintahkan supaya yang bersalah itu dikembalikan kepada orang tuanya, walinya atau pemeliharanya, tanpa dikenakan suatu pidana apa pun.

Atau memerintahkan supaya yang bersalah itu diserahkan kepada pemerintah tanpa pidana apa pun, bila perbuatan tersebut merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran berdasarkan pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503-505, 514, 517-519, 526, 531, 532, 536, dan 540, serta belum lewat dua tahun sejak dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut di alas, dan putusannya telah menjadi tetap atau menjatuhkan pidana kepada yang bersalah.

Mengacu pada pasal 45 KUHP itu, kata Kepala Rutan Klas IIA Batam Philip Parapat, pihaknya sering mengusulkan ke pengadilan agar anak-anak itu dikembalikan ke orang tuanya atau dijadikan anak negara. ”Pemberian pidana itu alternatif terakhir,” katanya.

Pihak Rutan memiliki Pembimbing Kemasyarakatan (PK) yang mendampingi anak-anak yang terjerat hukum mulai dari pemeriksaan di kepolisian hingga sidang di pengadilan. PK melakukan penelitian seperti soal latar belakang kasus dan kehidupan anak itu. Atas dasar itulah, kemudian Rutan mengajukan usulan ke pengadilan agar anak-anak itu dikembalikan ke orang tuanya atau dijadikan anak negara. ”Namun, sampai saat ini tak pernah dikabulkan.”

Anak-anak itu sendiri berharap punya kehidupan baru setelah keluar dari tahanan. Dari 23 anak yang mendekam di sana, mengaku masih punya harapan meraih masa depan yang lebih baik. Ada yang ingin sekolah lagi, ada juga yang ingin kerja.***

Kategori: Batam

Beda Angkanya, Sama Korbannya

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sejak krisis ekonomi global melanda, menurut Dinas Tenaga Kerja Batam setidaknya 8.000 buruh kehilangan pekerjaan. Apindo menyebut yang terkena PHK mencapai 175 ribu orang.
***
Papan pengumuman lowongan kerja di Community Centre (CC) Batamindo, Mukakuning, itu menyedot begitu banyak perhatian. Senin pekan lalu, puluhan mata memandang tak lepas pada 21 lowongan kerja yang ditempel di sana. Begitu satu orang pergi, rombongan lainnya datang.

Dari pagi sampai siang, kerumunan di depan pengumuman itu tak pernah berkurang. Rata-rata, mereka adalah para pendatang baru yang hendak mengadu nasib di Batam. Satu-dua lainnya adalah mantan karyawan yang baru saja habis kontrak kerjanya.

Di antara kerumunan itu, Dodi, 21, dan Cahyono, 21, duduk lemas di bangku panjang, tepat di depan papan tersebut. Bergantian, mereka meneguk sebotol teh dingin yang dibeli di kios sebelah. ”Semua untuk cewek. Tak ada lowongan buat cowok,” kata Dodi.

Sebanyak 21 lowongan pekerjaan yang dipasang di papan itu memang rata-rata mencari operator perempuan. Ada yang membutuhkan tenaga 50 orang, ada juga yang membutuhkan 25 orang. Meski begitu, tetap saja banyak juga laki-laki yang memelototi pengumaman itu. Termasuk Dodi dan Cahyono.

Dodi dan Cahyono sudah membaca lowongan itu dari pagi. Karena tak ada lowongan yang pas buat mereka, keduanya lalu berkeliling ke sejumlah perusahaan di Batamindo, berharap ada lowongan kerja yang ditempel di depan perusahaan. Namun hingga siang, apa yang mereka cari tak ada, sehingga memutuskan kembali lagi ke CC Batamindo.

Dodi baru datang dari Sumatera Barat, sebulan lalu. Ia lulusan SMK tahun 2007. Dua tahun di Padang ia berdagang, lalu karena terus merugi ia bermaksud merantau ke Batam, tinggal bersama pamannya di Batuaji. Sama seperti Dodi, Cahyono juga lulusan SMK tahun 2007. Ia sempat membuat paspor dan hendak kerja menjadi pelaut. Tapi, cita-citanya itu pupus karena ia ternyata menjadi korban penipuan.

Jika Dodi belum dapat pekerjaan, Cahyono sudah dua minggu menjadi pekerja di galangan kapal di kawasan Tanjunguncang. Senin pekan lalu, Cahyono ketinggalan truk yang mengangkut para pekerja dari Batuaji ke Tanjunguncang, karena itu ia memutuskan mencari lowongan lain di Batamindo.

“Kalau ada pekerjaan yang lebih baik, saya akan pindah,” katanya.

Cahyono mengaku datang ke Batam karena Batam terkenal sebagai kota industri dan banyak teman-temannya sudah lebih dulu bekerja di Batam. Sama halnya dengan Dodi, ia datang ke Batam karena teman-temannya banyak yang bekerja di kota ini. ”Daripada di kampung tak ada kerja, lebih baik cari kerja di Batam.”

Begitu juga dengan Erwin, 23, yang baru saja berhenti kerja karena habis kontraknya. Ia mendatangi CC Batamindo untuk mencari pekerjaan baru. ”Sudah dua minggu jalan cari lowongan, belum juga ketemu. Dulu, tak sesusah ini,” tuturnya.
Di tempat yang sama, Ahmad, 27, memandangi lowongan yang terpasang di sana. Ahmad mengaku baru dua hari menganggur. Sebelumnya, selama enam tahun ia bekerja sebagai marketing di sejumlah perusahaan. ”Saya pindah-pindah terus,” katanya.

Sampai saat ini, Batam terus menjadi magnet yang menarik para pendatang untuk mengadu nasib. Padahal, menurut catatan Dinas Tenaga Kerja Batam, sejak Oktober 2008 sampai Juli ini, ada sekitar 8.000 pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global.

”Saya lupa angka pastinya. Sejak akhir 2008 sampai sekarang, kira-kira ada pengurangan karyawan sekitar 8.000 orang. Itu di perusahaan-perusahaan elektronik dan manufaktur seperti di Mukakuning dan lainnya,” kata Kadis Tenaga Kerja Batam Rudi Sakyakirti, Selasa pekan lalu.

Pengurangan karyawan itu, kata Rudi, akibat imbas krisis ekonomi global. Banyak perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk ekspor tujuan Eropa, Jepang maupun Amerika yang tak lagi beroperasi atau mengurangi produksi karena order juga berkurang.

Pola pengurangan karyawan itu, biasanya dilakukan perusahaan terhadap pekerja yang habis masa kontraknya. Begitu kontrak mereka habis, kontraknya tak lagi diperpanjang. Bahkan, banyak perusahaan yang memilih memulangkan karyawannya tapi tetap membayar gaji mereka sesuai kontrak karena tak bisa berproduksi lagi. Ada juga perusahaan yang memberhentikan pekerjanya (PHK).

“Selama pengurangan karyawan itu sesuai dengan aturan yang ada, seperti hak-hak mereka dipenuhi sesuai aturan, tak ada masalah. Ini murni karena imbas krisis global,” tukas mantan Kabag Hukum Pemko Batam, itu.

Namun, pengurangan ribuan karyawan itu bukan kiamat bagi pencari kerja di Batam. Di antara gelombang pengurangan karyawan itu, ada juga sejumlah perusahaan yang sudah mengajukan permohonan akad ke Dinas Tenaga Kerja Batam untuk mendatangkan pekerja dari luar, untuk kebutuhan tahun 2010, mendatang. Ancar-ancarnya, mereka membutuhkan sekitar 500 hingga 1.500 pekerja.

”Mudah-mudahan tahun depan bisa normal lagi,” ujarnya.

Ternyata, angka pengurangan karyawan akibat krisis ekonomi global yang dipunyai Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam lebih gawat lagi. Ketua Apindo Abidin menyatakan, ada sekitar 175 ribu pekerja di Batam yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global sejak November 2008 sampai Juli ini.

”Ini bukan omong kosong. Terbukti pada Pemilu lalu, berapa banyak pekerja Mukakuning yang terdaftar di DPT namun tak datang ke TPS karena sudah dipulangkan,” katanya, Rabu pekan lalu.

Krisis ekonomi global saat ini, kata Abidin, merupakan krisis terhebat sejak era perang dunia II berakhir. Awalnya, ia memprediksi krisis ini akan terjadi selama tiga tahun. Namun, melihat kinerja pemerintahan AS di bawah pimpinan Barrack Obama dan kinerja tim ekonomi Indonesia yang cukup baik, ia berharap ekonomi bisa pulih di tahun 2010.

Industri di Batam, kata Abidin, yang hampir 99 persen produknya berorientasi ekspor ke negara-negara yang terempas krisis ekonomi sangat merasakan dampaknya. “Bohong, kalau Batam dibilang tak terkena imbas krisis ekonomi global.”

Setidaknya, kata Abidin, ada sekitar 15 perusahaan yang tutup. Tujuh di antaranya terekspos ke publik, namun sembilan perusahaan kecil lain yang tutup tak sampai terdengar ke permukaan. ”Ada sekitar 20 perusahaan lain yang saat ini dalam posisi bertahan,” ujarnya. Perusahaan apa saja, Abidin enggan membukanya.

Jika sampai krisis ini terus terjadi sampai tahun depan, kata Abidin, tidak menutup kemungkinan 20 perusahaan yang kini bertahan dalam hempasan krisis itu akan tutup. ”Kalau ini terjadi, sekitar 15 ribu hingga 20 ribu pekerja di perusahaan-perusahaan itu bisa kehilangan pekerjaan,” katanya.

Jika melihat apa yang sudah terjadi, perkiraan Abidin bisa saja terbukti. Di PT Infineon saja, perusahaan yang memproduksi IC otomotif di Mukakuning, menurut Bendahara PUK SPMI Infineon Nikson Sitorus, sudah mulai tak memperpanjang kontrak karyawan yang habis masa kontraknya akibat order di perusahaan itu yang berkurang.

”Produksi pernah anjlok sampai 50 persennya karena order berkurang. Sekarang perlahan mulai tumbuh lagi,” katanya.

Kerja lembur atau OT (overtime) yang biasanya ada, katanya, sudah dihentikan. ”Tapi sekarang perusahaan mulai rekrut pekerja baru,” tukasnya.

Disnaker dan Apindo boleh saja berbeda soal data, tapi korbannya tetap sama: pekerja yang butuh hidup dan makan. Lepas dari data siapa yang akurat, kata Agus Sriono, Ketua PC SPEE FSPMI Batam, banyak karyawan yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global. Kenapa pengurangan karyawan besar-besaran itu tidak terlalu mencolok karena tak terjadi sekaligus. Ada perusahaan yang terkena imbas krisis ekonomi global di akhir 2008 karena negara tujuan ekspor mereka mengalami krisis, ada juga yang baru merasakan dampaknya di tahun 2009.

”Dampaknya tidak berbarengan. Itu terjadi karena perusahaan satu dengan yang lain produksinya berbeda dan pasarnya juga berbeda,” katanya.

Akhir Desember 2008 lalu misalnya, Batam Pos pernah memberitakan tentang 700 pekerja PT Schneider Electric di Mukakuning, khususnya bagian operator, yang dirumahkan akibat order kurang. Untungnya, ratusan pekerja yang dirumahkan itu masih menerima gaji pokok. “Kalau order (sudah) normal, kami akan dipanggil lagi,” kata Andri, salah seorang karyawan.

Sebulan sebelumnya, PT Shinetsu Batam dan sejumlah perusahaan sejenis juga melakukan kebijakan yang sama, merumahkan ratusan pekerja.

Di awal tahun 2009, sekitar 100 karyawan PT Nu Tune dan PT TEC yang tinggal di dormitori Blok P dan R, Batamindo dipulangkan karena habis masa kontrak kerjanya. Perusahaan-perusahaan itu tak memperpanjang lagi kontrak mereka karena terempas krisis ekonomi global. ***

Kategori: Batam · getir

Sipit di Mata, Dekat di Hati

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Awalnya mereka ditolak keluarganya. Orang Tionghoa, pantang menikah dengan pria atau perempuan suku lain. Tapi, seiring berjalannya waktu, larangan itu sudah kendur.

***
Memegang sepiring talas rebus, perempuan itu bertandang ke rumah tetangganya. Tubuhnya padat berisi. Berkulit kuning dan bermata sipit. Beda dengan para tetangganya di Lubuksemut, Karimun, yang berkulit sawo matang.

Dia bernama Kho Siu Moi alias Tini, perempuan bermarga Tionghoa, berumur 36 tahun. Setelah sempat bolak-balik Batam-Karimun, sejak sepuluh tahun yang lalu ia menetap di Karimun bersama suaminya Eriyanto, 52, seorang pria kelahiran Banyumas yang besar di bumi berazam, Karimun.

Eriyanto pulalah yang membuat Tini bersahabat dan bertetangga dengan warga Jawa dan Melayu di Lubuksemut. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan saat masih remaja, kala tinggal di Kampungutama, Batam.

Senin pekan lalu, saat Batam Pos mengucapkan salam, ia menjawab dengan fasih. Padahal, dua puluh tahun yang lalu ia sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia. ”Dulu, sehari-hari saya pakai bahasa Teo Chiuw. Baru bisa bahasa Indonesia setelah bersuami orang Jawa,” katanya.

Sambil menunggu kedatangan Eriyanto yang sedang mengantar kerupuk amplang ke sejumlah mini market, Batam Pos diajak ke rumahnya. Ternyata, perubahan di diri Tini tak hanya soal bahasa. Ruang tamunya juga tak lagi dihiasai ornamen-ornamen atau hiasan khas Tionghoa.

Sepuluh menit menunggu, Eriyanto tiba. Tampak sekali perbedaan suami-isteri itu. Eriyanto berkulit sawo matang, terbakar matahari. Sementara Tini berkulit kuning, khas perempuan-perempuan warga Tionghoa.

”Untung anak-anak kami tak ikut bapaknya,” kata Tini, yang disambut senyum Eriyanto dan anak-anak mereka. Empat anak pasangan ini berkulit kuning dan bermata sipit.

Bagaimana Tini dan Eriyanto bisa menikah, Tini yang banyak bercerita. Semuanya berawal saat Tini bekerja sebagai pemandu wisatawan di sebuah biro perjalanan di Batam sekitar tahun 1987. Umur Tini saat itu baru 15 tahun. Hampir setiap hari, Tini memandu wisatawan-wisatawan asing asal Singapura ke tempat-tempat wisata di Batam.

Sementara Eriyanto adalah supir bus yang setiap hari pula mengantar wisatawan-wisatawan itu. Eriyanto meski bukan orang Tionghoa, pintar berbahasa Teo Chiuw. ”Saya malah hanya berbahasa Jawa kalau ke Bengkong, nengok saudara,” kata Eriyanto.

Setiap hari mereka bertemu. Kadang Tini sering bercerita soal sikap bosnya ke Eriyanto, begitu Eriyanto juga bercerita ke Tini. Komunikasi mereka lancar. Tini yang tak bisa berbahasa Indonesia, tak sulit berkomunikasi karena Eriyanto bisa berbahasa Teo Chiuw.

Berbulan-bulan bersama, cinta itu datang. Tini jatuh hati pada Eriyanto, yang usianya terpaut 16 tahun. Mereka pun pacaran. Namun saat hati mereka sedang berbunga-bunga, keluarga Tini tak setuju. Ibu Tini tak suka anaknya berpacaran dengan pria yang tak bermarga Tionghoa.

Tapi Tini tak patah arang. Ia mencoba segala cara untuk meluluhkan hati ibunya. Eriyanto juga dimintanya mengambil hati calon mertuanya itu. ”Setiap kali habis kemana gitu, dia (Eriyanto,red) pasti bawain oleh-oleh buat ibu saya. Ibu lama-lama memberi restu,” tutur Tini.

Beda dengan keluarga Tini, keluarga Eriyanto menyambut baik kehadiran Tini. Mereka gembira Eriyanto yang sudah berkepala tiga akhirnya bakal dapat jodoh.

Restu keluarga didapat, persoalan lain datang. Saat hendak menikah, giliran Tini yang bimbang. Ia risau kalau harus meninggalkan keyakinan lamanya, mengikuti keyakinan Eriyanto yang beragama Islam.

”Berbulan-bulan saya berpikir. Lama juga sebelum akhirnya saya memutuskan menikah,” katanya.

Di rumah keluarga Eriyanto, di Lubuksemut Karimun, pernikahan mereka disahkan sekitar tahun 1989. Usai menikah, Eriyanto dan Tini kembali ke Batam menekuni pekerjaan mereka. Baru di awal tahun 1990-an, putri pertama mereka, Mega Rini, 16, lahir.

Di awal berumah tangga, sehari-hari Eriyanto dan Tini tetap berbahasa Teo Chiuw. Anak-anak mereka juga demikian. Baru setelah mereka kemudian menetap di Karimun sekitar tahun 1999, Tini belajar berbahasa Indonesia.

Tiga anak mereka kini menguasai dua bahasa, bahasa Teo Chiuw dan bahasa Indonesia. Saat Batam Pos ke sana, Mega Rini, 16, Nina, 15, dan Rina Karmila, 10, berbahasa Melayu saat berbincang dengan ibu dan tetangga mereka.

Menurut Eriyanto, ia tak membatasi pergaulan anak-anaknya. Suatu saat, jika mantu nanti, ia juga tak akan memilih anaknya harus menikah dengan orang Tionghoa atau Jawa. ”Itu terserah anak. Yang penting bagi saya, dia bisa membahagiakan anak saya.”

Kini pasangan ini berbisnis kerupuk amplang merek Bona. Kerupuk hasil home industri itu banyak dijual di mini market-mini market di Karimun.

”Dulu, di awal-awal menikah, hampir sepuluh tahun kami hidup susah,” kata Tini.

Beberapa kilometer dari rumah Eriyanto, masih di Lubuksemut, Karimun, juga tinggal pasangan suami-isteri, yang suaminya bermarga Tionghoa. Namanya Nur Ikhsan alias Tjia Mei Hua, 64, kelahiran Karimun. Sementara isterinya Mas Amah, 39, asli Cirebon.

Nur Ikhsan kini tak lagi menggunakan nama Tionghoa-nya. Tiga anaknya diberi nama Arab. Ia sendiri biasa dipanggil Pak Haji. Tahun 2004 lalu, ia naik haji mendapatkan fasilitas Pemkab Karimun.biasa dipanggil Pak Haji.”Pak Nurdin (Bupati Karimun) yang menghajikan saya,” katanya.

Pernikahannya dengan Mas Amah, kata Nur Ikhsan, diawali pencariannya akan makna hidup. Dua kali ia berubah keyakinan, sampai akhirnya menemukan Islam. Dengan maksud memperdalam agama, ia berlayar tiga hari tiga malam menuju Cirebon di tahun 1980-an.

Sebulan di Cirebon, ia kembali ke Karimun karena bapaknya menderita stroke. Begitu tahu kalau Nur sudah berubah keyakinan, keluarganya menolaknya. Namun, ia tetap bertahan sampai akhirnya ia kembali pergi ke Cirebon saat ayahnya meninggal.

Selama di Cirebon, ia memperdalam agama. Untuk menyambung hidup, Nur mengelola toko milik orang lain yang dipercayakan padanya. Tahun 1987, saat berjalan-jalan di sekitar pondok Gedongan Cirebon, ia tertarik pada Mas Amah, seorang santri. Nur Ikhsan pun melamarnya.

Amah sendiri mengaku tak pernah memikirkan latar belakang Nur yang bermarga Tionghoa, saat memutuskan menerima lamaran Nur. ”Saya pasrah saja pada Allah,” katanya.

Tiga tahun setelah diusir keluarganya, Nur Ikhsan kembali dipanggil ke Karimun. Ibunya meminta dia kembali. ”Karena ibu yang manggil, saya ke Karimun,” katanya.

Ibunya menyambut hangat. Namun, adik-adiknya tetap tak mengakui Nur. Baru setelah sekian lama, hubungannya dengan saudara-saudaranya mencair. Tapi di bidang usaha, Nur harus benar-benar membangun usaha sendiri. Ia membuka jasa foto kopi di kantor Dispenda. ”Usaha kecil, cukup untuk makan,” katanya.

Kini Nur hidup bahagia dengan Mas Amah. Mereka punya tiga anak, dua laki-laki, satu yang bungsu perempuan. Warna kulit anak-anak mereka ikut ibunya. Namun, mata mereka ikut bapaknya, sipit. ”Anak saya tak mau dipanggil Cina,” kata Nur.

Nur menjadi panutan orang-orang Tionghoa yang menikah dengan warga Melayu atau suku lain, terutama yang berubah keyakinan menjadi Islam. Ia sering menjadi guru, tempat mereka belajar Islam. Warga Singapura yang menikah dengan orang Karimun juga belajar kepadanya.

Kadang, kata Nur, mereka datang ke rumahnya. Kadang, Nur yang datang ke rumah mereka. ”Sekarang saya tak mau lagi. Mereka datang minta diajarin kalau mau menikah saja. Kalau sudah menikah, tak mau belajar lagi.”

Pernikahan antara Kho Siu Moi dan Eriyanto atau Tjia Mei Hua dengan Mas Amah adalah contoh dari puluhan kisah pernikahan warga Tionghoa dengan suku lain. Mereka banyak berada di Karimun, di Tanjungpinang dan kota lain yang penduduk Tionghoanya cukup banyak.

Januari lalu misalnya, seperti yang tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) Karimun, juga menikah laki-laki Tionghoa Kek Hoksun, 43, dengan gadis Melayu, Maylinda Ariyanti, 25.

”Sekarang kalau ada pernikahan antara warga Tionghoa dengan warga Melayu dan lainnya itu sudah biasa. Keponakan saya saja menikah bukan sama dengan orang Tionghoa,” kata Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kepri, Harsono.***

Kategori: Batam

Habis Gelap, Terang Tak Dapat

Agustus 2, 2009 · 1 Tanggapan

Sinar kemerahan matahari sore perlahan redup. Suara muadzin dari Masjid Babussalam, di Perumahan Griya Pramuka Permai, berlatar jembatan Dompak dan laut lepas, mengalun lewat pengeras suara. Adzan, tanda masuknya waktu salat magrib menunggu detik.

Senin pekan lalu, jarum jam melewati pukul enam sore. Listrik tiba-tiba padam. Kegelapan menyelimuti perumahan di Jalan Pramuka itu. Terhenti pula suara muadzin. Senyap.

Di ujung gang, sebuah keluarga melewatkan salat magrib ditemani lampu darurat (emergency lamp) yang dipasang di atas lemari ruang tengah. Lampu itu tak cukup terang, namun bisa menerangi penghuninya agar tak meraba-raba dalam gelap. Di dapur, lampu teplok membantu penerangan.

Lampu teplok itu kemudian pindah ke ruang depan. Dua kakak beradik bersimpuh di situ, Ikhsan, 9, dan Mutiah, 8. Keduanya siswa SDIT Al Madinah. Malam itu, mereka ingin mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Dengan pencahayaan minim itu mereka membaca dan menulis. ”Saya ada PR pelajaran agama,” kata Mutiah. ”Kalau saya PR bahasa arab,” Ikhsan menimpali adiknya.

Menurut Laila, 39, ibu mereka, sebenarnya anak-anaknya sudah dibiasakan belajar sore. Setiap kali pulang sekolah, ia meminta Ikhsan dan Mutiah belajar dulu. Tujuannya satu, agar jam belajar mereka tak terganggu pemadaman listrik.

”Tapi, namanya anak-anak, pulang sekolah mereka kan ingin main sama teman-temannya juga. Kadang capek karena sekolah sampai sore, saya tak paksa mereka untuk langsung belajar,” katanya.

Pemadaman listrik bergilir yang terus terjadi di Tanjungpinang, kata Laila, tak hanya menganggu proses belajar anak-anaknya. Dia yang juga seorang guru SMP, ikut merasakan dampaknya. Terutama berkaitan dengan tugas-tugasnya sebagai guru.

”Kadang kan ada tugas-tugas sekolah yang harus dicek di rumah. Sementara listrik hidup mati-hidup mati begini,” ujarnya.

PLN Tanjungpinang memang melakukan kebijakan pemadaman bergilir sejak salah satu pembangkitnya dalam masa pemeliharaan. Senin itu, Perumahan Griya Pramuka Permai yang masih dalam kawasan Jalan Pramuka, mendapatkan giliran pemadaman pukul 17.00-20.00 WIB.

Namun sore itu, pemadaman baru terjadi lewat pukul enam. Esoknya, Jalan Pramuka kembali diumumkan sebagai kawasan yang listriknya akan dipadamkan. ”Biasanya, pemadaman bergilir dua hari sekali,” kata Laila.

Beberapa kilometer dari rumah Laila, Jhony Handoko juga dibikin repot. Pemilik mini market dan lapangan olah raga Mahakam Badminton Centre itu harus berlari menyalakan genset jika listrik tiba-tiba padam.

”Saya tak pakai sistem otomatis. Kalau listrik mati, saya lari hidupin genset. Diputar secara manual. Kalau pakai otomatis, mahal,” katanya.

Di temui di lapangan badminton, Senin malam pekan lalu, Jhony mengaku sudah menyediakan genset berkekuatan 15.000 KVA sejak membuka usaha mini market dan lapangan badminton tahun 2006. Genset itu, ia gunakan untuk menerangi dua usahanya itu.

Masih di tempat yang sama, Jhony sebenarnya juga menyewakan puluhan kamar kos yang letaknya di antara mini market dan lapangan bulu tangkisnya itu. ”Cuma kos-kosan tak saya aliri genset. Tak kuat. Kalau listrik mati, ya kos-kosan gelap,” tuturnya.

Senin malam itu, kebetulan mini market Jhony tidak menjadi sasaran pemadaman. ”Minggu kemarin, listrik di sini padam. Malam ini, hidup.”

Ditanya apakah pemadaman listrik bergilir ini merugikan bagi seorang pengusaha seperti dirinya, Jhony mengangguk. Menurutnya, pemakaian listriknya tak menurun meski listrik sering padam. Setiap bulan, tagihan listrik yang ia bayar tetap sama seperti saat tak ada pemadaman.

”Pemakaian genset ini seperti biaya ekstra. Setiap bulan, untuk beli solar saja sekitar Rp4 juta. Sementara bayar listrik, hidup atau mati sama terus,” tukasnya.

Pemadaman listrik yang paling dirasakan akibatnya oleh Jhony, terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2008, silam. Saat itu pemadaman listrik hampir terjadi tiap malam. Durasinya juga lebih lama.

Sejumlah penjual genset di kawasan Jalan Pasar dan Temiang juga sempat meraup untung di bulan Juli-Agustus tersebut. Di toko Watsun misalnya, setiap hari rata-rata tujuh unit genset terjual.

”Kalau sekarang sudah tak ada lagi yang beli genset. Karena orang Tanjungpinang ini sudah banyak yang punya dan rata-rata sudah biasa dengan pemadaman. Kalau ada yang datang, biasanya mau servis,” kata penjual genset di toko Watsun, Senin pekan lalu.

Menurut Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tanjungpinang Rudi Chua, krisis listrik yang sudah terjadi bertahun-tahun itu memukul pengusaha, termasuk pengusaha hotel dan restoran. Saking seringnya byer pet, sistem penyalaan otomatis genset yang ada di hotel-hotel rusak.

”Sekarang banyak hotel yang menghidupkan genset secara manual karena sistem otomatisnya rusak gara-gara listrik sering byar pet.”

Yang repot, katanya, kalau ada suatu acara yang digelar di hotel. Tiba-tiba listrik padam. Sementara karena sistem penyalaan otomatisnya rusak, untuk mengoperasikan genset harus dilakukan secara manual. Dengan cara manual itu, butuh waktu hingga lima menit untuk menyalakan listrik seperti kondisi semula.

”Citra Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi kan terganggu karena krisis listrik di sini belum teratasi. Belum lagi investor yang mau usaha, berpikir panjang,” kata pemilik Pelangi Resort, itu.

Tambah repot, kata Rudi, karena jadwal pemadaman sering tak sesuai jadwal. ”Jadwal pemadaman jam lima, sebelum jam lima sudah mati duluan,” tuturnya.

Setiap bulan, rata-rata hotel di Tanjungpinang menghabiskan 700 hingga 800 liter solar untuk pengoperasian genset, kala listrik padam. Belum lagi harus mengeluarkan biaya pemeliharaan dan lainnya.

”PHRI juga sudah beberapa kali mengeluhkan dan mengungkapkan kondisi ini baik ke PLN maupun ke pemerintah. Namun, sampai saat ini belum teratasi,” tukasnya.

Belum lagi banyaknya alat elektronik yang rusak akibat listrik byar pet itu. Selain dialami hotel-hotel, warga juga banyak mengalami hal itu. Ada yang rusak kulkasnya, televisi atau komputernya.

”Kalau punya kakak saya yang rusak alat penerima parabolanya. Penyebabnya ya gara-gara listrik mati hidup-mati hidup,” kata Giono, 32, pengemudi mikrolet.

Manajer PLN Tanjungpinang Nuryasfin mengatakan, kebijakan pemadaman bergilir tak bisa dihindari karena PLN mengalami pengurangan pasokan listrik akibat salah satu mesin pembangkitnya dalam masa pemeliharaan berkala.

Jika biasanya PLN beroperasi dengan pasokan listrik 36,5 mega watt (MW), sejak satu mesin di-over hall, berkurang jadi 31,5 MW. Sementara beban puncak sebesar 34,5 MW. ”Saya harap warga bersabar dan memahami masalah ini,” katanya.

Sekitar bulan Juni dan bulan Juli 2009 mendatang, katanya, PLN Tanjungpinang akan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kekuatan 2×15 MW. ”Kalau dua mesin itu sudah beroperasi, insya Allah teratasi.”***

Kategori: Batam

Tempat Singgah Favorit Pencari Suaka

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pelabuhan tikus di Batam tak hanya jadi tempat penyelundupan barang-barang, atau jalur TKI ilegal dari Malaysia. Tapi juga jadi pintu masuk para imigran gelap. Mereka transit di Batam, sebelum menuju negara ketiga.

***
Dari tepi pantai, rumpun bambu berwarna hijau kekuning-kuningan itu melambai. Daunnya basah, sisa dari gerimis yang baru saja berlalu. Senin siang pekan lalu, suasana di tempat itu begitu sunyi.

Rumpun bambu tadi adalah penanda, disitulah letak Tanjungbuluh atau Tanjungbambu. Diapit perkampungan Teluk Mata Ikan dan kawasan wisata Turi Beach, Tanjungbuluh bukanlah tempat yang menarik. Luasnya sekitar dua kali lapangan bola, penuh tanaman dan rumput liar. Nyamuknya besar-besar, gigitannya dalam menembus celana jeans.

Di sanalah, Jumat dua pekan lalu 19 imigran dari Afghanistan ditangkap polisi, setelah dua hari bersembunyi. Para imigran itu masuk Batam lewat Johor Malaysia. Mereka diselundupkan lewat Tanjungbuluh, menghindari pemeriksaan imigrasi.

Tanjungbuluh sendiri hanyalah kawasan menjorok ke laut, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak ada pelabuhan atau pelantar tempat perahu bersandar. Nyaris seperti tanjung yang tak tersentuh. Jejak kaki di pantai terhapus air laut yang pasang. Hanya kicau burung dan gemericik air dari tanjung menuju pantai yang terdengar. Sesekali deru mesin kendaraan memecah sunyi.

Salamuddin, 59, nelayan Teluk Mata Ikan, Nongsa, yang sedang memperbaiki perahu di tepi pantai, mengaku tak tahu menahu soal kedatangan para imigran tersebut. ”Saya terlalu sibuk melaut, tak memperhatikan sekeliling,” tuturnya.

Yang kaget setengah mati adalah Farida, 18, gadis Teluk Mata Ikan. Bersama ibunya, Jumat itu ia duduk di pojok rumahnya yang bersebelahan dengan jalan setapak menuju Tanjungbuluh. Sebuah mobil polisi dan dua mobil penuh penumpang tiba-tiba berhenti di depannya. Lalu, keluarlah sosok-sosok berperawakan tinggi dari dalamnya.

Mereka para imigran Afghanistan yang baru saja ditangkap polisi. Tanpa risih, mereka duduk di sampingnya. Lalu, menunjuk jus jeruk dalam gelas besar yang baru seteguk ia minum.

”Mereka seperti kelaparan. Nunjuk-nunjuk jus, tak mengucapkan apa-apa. Sudah, saya berikan saja pada mereka.”
Tak cukup jus, roti juga dilahap habis. ”Kayak orang tak makan berhari-hari,” tutur Farida.

Para imigran Afghanistan tadi hanyalah kasus kecil dari banyaknya penyelundupan manusia ke Batam lewat pelabuhan tikus. Dua warga Srilanka, Sujay, 28, dan Rajeepan, 20, bahkan lolos hingga Bandara Hang Nadim. Mereka dari Malaysia hendak ke Jakarta.

Kepada wartawan, dalam bahasa Melayu, Sujay mengaku berhasil masuk Batam atas bantuan tekong Indonesia. Dari Johor Bahru ia diselundupkan lewat pelabuhan tikus, yang tentu saja tak ia tahu tempatnya. ”Kami masing-masing bayar 200 ringgit,” katanya.

Sujay sudah empat tahun tinggal di Malaysia, negara yang memang terbuka buat para imigran yang hendak menuju negara ketiga. Sujay jadi pelarian akibat konflik di Srilanka tak kunjung mereda. Hampir setiap hari, katanya, warga Srilanka ditembus peluru nyasar.

”Saya nak ke Jakarta, ke kantor UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees/Komisi PBB yang mengurusi pengungsi),” tukasnya.

Sepanjang tahun 2009 ini, berarti sudah 70 imigran asing yang ditahan di Batam. Mereka dititipkan di Rumah Detensi Imigrasi Batam dan Tanjungpinang.

Tak hanya imigran asing, para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang visa atau izin tinggal dan izin kerjanya habis di Malaysia juga masuk Batam lewat jalur pelabuhan tikus tadi. Pintunya tak cuma satu, tapi berpuluh-puluh.

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam misalnya, mengidentifikasi ada 63 pelabuhan tidak resmi atau pelabuhan tikus di Batam. Pelabuhan-pelabuhan itulah yang sebagian di antaranya dijadikan pintu masuk WNA yang bermasalah dengan dokumen keimigrasian. Lalu, setelah di Batam mereka keluar lewat pintu resmi seperti lewat bandara atau pelabuhan.

Masalah pelabuhan tikus itu bahkan sempat mendapat perhatian serius dari Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi. Ia khawatir, penyelundupan barang ke Batam akan marak seiring dengan dijadikannya Batam sebagai kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas.

Sumber yang sering menjemput para TKI dari Malaysia ke Batam menyebut, kawasan pantai Teluk Mata Ikan dan kawasan Nongsa menjadi primadona masuknya para TKI yang melanggar dokumen keimigrasian itu. Pintu masuk lainnya adalah kawasan Batumerah, Batuampar dan Dapur 12 Nongsa. ”Tergantung situasi. Mana yang aman, di sanalah mereka dimasukkan,” katanya. Penjemputan biasanya dilakukan malam hari.

Speedboat yang mengantar para TKI itu tak perlu bersandar di pelabuhan atau pelantar. Penumpangnya diturunkan di kedalaman air sepinggang. ”Untuk menghindari kecurigaan,” tuturnya.

Di Batam, para TKI yang habis masa tinggalnya di Malaysia itu kemudian dibuatkan paspor baru dan kembali masuk ke Malaysia. Di Malaysia, biasanya para TKI itu kembali tidak memperpanjang izin tinggal dan kerjanya karena permasalahan biaya. Sehingga, saat pulang ke Indonesia, mereka kembali lewat pelabuhan tikus. ”Begitu seterusnya, bertahun-tahun.”

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Klas I Khusus Batam Yudi Kurniadi mengatakan, baik para imigran asing maupun TKI dari Malaysia yang masuk Batam lewat pelabuhan tikus melanggar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Karena setiap orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia, wajib lewat pemeriksaan imigrasi.

Orang asing yang menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp25 juta.

“Tapi imigran asing yang dinyatakan sebagai pengungsi oleh UNHCR, tidak bisa dikenakan aturan ini. Tidak bisa langsung dideportasi.”

Begitu juga dengan TKI yang masuk dari Malaysia ke Batam lewat pelabuhan tikus. ”Untuk TKI itu, sanksinya ya sanksi administrasi. Mereka (yang melanggar) dicegah, tak boleh lagi ke luar negeri,” katanya.

Sesuai aturan, kata Yudi, pintu masuk resmi ke Batam dari luar negeri lewat lima pelabuhan yakni Pelabuhan Sekupang, Batam Centre, Marina, Nongsa Pura dan Harbour Bay serta bandara. Di pintu-pintu masuk resmi itulah petugas imigrasi ditempatkan.

”Di luar itu, seperti di pelabuhan-pelabuhan tikus, kami mengalami kendala untuk memantaunya. Kita koordinasi dengan instansi terkait yang menjaga perbatasan seperti dengan TNI AL, misalnya,” tukas Yudi.

Yudi tidak membantah, kalau Batam menjadi kota transit para imigran asing menuju negara ketiga. Letak Batam yang berbatasan dengan Malaysia, negara yang membuka diri bagi imigran, salah satu alasannya. ”Dari sejumlah pemeriksaan terhadap para imigran itu, kita bukan negara tujuan. Mereka datang dari Malaysia ingin ke Australia atau ke Kantor UNHCR di Jakarta.”

Para imigran asing itu tidak lewat pelabuhan resmi, karena kemungkinan ditolak masuk Indonesia, besar. ”Makanya, mereka masuk lewat pelabuhan tikus tadi,” ujarnya.

Para imigran asing yang masuk Batam itu, kata Yudi, kini ditampung di Rumah Detensi Imigrasi Batam di Sekupang. Rabu lalu, beberapa orang di antaranya sudah dipindahkan ke Tanjungpinang. Mereka di rumah Detensi sampai UNHCR memutuskan mereka sebagai pengungsi dan diarahkan ke negera ketiga. LSM International Organization for Migration (IOM) membantu penanganan pengungsi tersebut. ***

Kategori: Batam

Gurita Bisnis Orang-orang Kecil

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Koperasi dulu identik dengan orang-orang kecil, modal cekak dan beragam citra buruk lainnya. Kini, sejumlah koperasi justru memiliki aktivitas bisnis yang lebih kuat dan luas dibandingkan perusahaan swasta. Sejumlah koperasi karyawan misalnya, omsetnya sampai Rp3 miliar per bulan.
***

Terletak di pojok Komplek Batu Batam Mas Blok E, Baloi, dua ruko berlantai tiga itu tak pernah sepi dari aktifitas. Sejumlah pekerja terlihat lalu lalang keluar masuk, beberapa di antaranya sibuk memasukkan kue ke kotak-kotak transparan.

Rabu sore pekan lalu, La Ode Kamsir, supervisor kantin Koperasi Karyawan Sejahtera Mandiri (KSM), sibuk mengecek kue. Ia memastikan, kue yang akan dikirim sore itu ke sejumlah perusahaan di kawasan Batamindo Mukakuning dan kawasan industri Batam Centre, pas jumlah dan kualitasnya.

”Jangan sampai kurang,” katanya.

KSM adalah koperasi karyawan PT Panasonic Shikoku Electronics Batam. Sejak akhir 2006 silam, koperasi itu menyewa ruko, memindahkan kantornya dari lokasi pabrik ke Batu Batam Mas. Dari sana, operasional koperasi dikendalikan seorang manajer.

Tak hanya sebagai kantor, ruko tersebut juga menjadi tempat usaha. Salah satunya usaha catering dan roti. KSM menyuplai kebutuhan catering sejumlah perusahaan di kawasan industri MUkakuning dan Batam Centre.

”Setiap hari, produksi kami lebih dari sepuluh ribu porsi,” ujar La Ode. Belum lagi produksi kuenya bisa sampai 8.000 potong per hari.

Dilihat sekilas, KSM seperti sebuah perusahaan besar. Koperasi ini menggabungkan dua ruko berlantai tiga sebagai kantor, dan satu ruko lain di belakang sebagai gudang.

Lantai satu jadi tempat memasak. Di sini, Gubernur Kepri Ismeth Abdullah pernah mencoba memasak sambal. Di lantai dua menjadi kantor. Di dindingnya terpasang sejumlah penghargaan yang diraih KSM. Foto-foto penting seperti saat koperasi ini mendapatkan penghargaan sebagai koperasi berprestasi tingkat nasional tahun 2007, yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali, juga terpajang. Sementara di lantai tiga, menjadi tempat memasak kue.

”Padahal dulu, saat baru berdiri kami cuma mempunyai konter kecil di kantin perusahaan,” kata Rivai Laminullah, Wakil Ketua KSM.

Ditemui di Panasonic, Rivai didampingi sejumlah pengurus koperasi saat menceritakan sejarah awal berdirinya KSM. Ada Syamsul Hidayat dan Ardestyan Kusnindar yang menjadi bendahara I dan II. ”Ketuanya, Syafril Domili lagi cuti,” tukasnya.

KSM, menurut Syafril, awalnya dibentuk saat badai krisis menerpa perekonomian tahun 1998, silam. Saat itu, pekerja Panasonic berinisiatif membentuk koperasi untuk membantu pengadaan sembako murah bagi para pekerja. Maka beroperasilah KSM dengan usaha di bidang makanan-minuman, sembako dan simpan pinjam.

Modal awal yang berhasil dikumpulkan sekitar Rp7 juta. Modal itu dari sumbangan pokok dan sumbangan wajib anggotanya yang berjumlah sekitar 200 orang. Agar tak menganggu kerja para pengurusnya, KSM mempekerjakan satu karyawan.

Tahun 2002, bersamaan dengan restrukturisasi PT Panasonic, KSM dibubarkan. Masih di tahun yang sama, kemudian dibentuk kembali dengan anggota yang lebih besar.

Tahun 2004, bidang usahanya berkembang. Dari yang hanya menyediakan makanan-minuman, merambah ke bisnis warung telekomunikasi (wartel) dan warung serba ada di Dormitori Blok R. ”Kami juga sudah merekrut supervisor dan tiga karyawan,” kata Syamsul Hidayat.

Usaha koperasi terus tumbuh. Akhir 2006, KSM mengelola katering dan bisnis bakery dengan merek KSM Bakery. Mereka menyuplai kebutuhan katering dan roti sejumlah perusahaan.

”Namun, karena saking semangatnya mengembangkan usaha, cash flow kami mengalami rush. Kami kesulitan modal,” kata Syamsul.

KSM sempat mengajukan permohonan kredit ke sejumlah bank. Tapi, saat itu bank belum percaya pada koperasi. Permohonan KSM ditolak. Untungnya, Ismeth Abdullah takjub saat mendengar presentasi mereka. Gubernur Kepri itulah yang memuluskan jalan KSM mendapatkan pinjaman bank.

Begitu kredit mengucur, usaha KSM makin berkibar. Bidang usaha mereka makin luas. Mini marketnya juga berdiri di Batuaji. Usaha kateringnya tak hanya melayani perusahaan, namun acara-acara seperti open house dan lainnya juga dilayani.

”Omset kami sekitar Rp3 miliar per bulan,” tutur Syamsul.

Tak hanya memperluas usaha, menurut Rivai, KSM juga menggelar pelatihan dan pendidikan wira usaha bagi anggotanya. Beragam pelatihan, seperti training perpajakan dan keuangan, kepemimpinan dan lain-lain mereka ajarkan.

”Kami juga menjadikan anggota sebagai penyuplai kue, makanan atau snack ke kami,” kata Rivai.

KSM, kata Rivai, tak hanya mengejar sisa hasil usaha (SHU) yang besar. Tapi, lebih mementingkan bagaimana anggotanya mendapatkan kebutuhan mereka dengan harga yang lebih murah, mendapatkan pelatihan agar bisa mandiri jika keluar dari keanggotaan koperasi.

”Untung sedikit tak apa-apa. Asal anggota terbantu, karena koperasi dibentuk untuk kesejahteraan anggota.”

Beragam penghargaan diterima KSM. Mulai koperasi terbaik tingkat Batam dan Kepri, sampai tingkat nasional. Tahun 2007, KSM menjadi koperasi berprestasi tingkat nasional.

Satu yang ingin dikikis oleh KSM, kata Rivai, yakni imej koperasi sebagai usaha kampungan dan imej-imej negatif lain yang biasa disematkan ke koperasi. ”Ternyata koperasi bisa maju dan beromset miliaran rupiah,” ujarnya.

Koperasi Karyawan PLN Batam juga tak kalah maju. Didirikan tahun 1995, Kopkar PLN Batam itu mengumpulkan modal awal sekitar Rp10-an juta. ”Sekarang omset kami sekitar Rp20-an miliar per tahun dengan aset sekitar Rp7,6 miliar,” kata Sekretaris Kopkar PLN Batam Joner Pardosi. Bersama Joner, Ketua Kopkar PLN Suroso dan Nuraini bendaharanya, menceritakan bagaimana koperasi itu dirintis.

Awalnya, menurut Suroso, koperasi PLN didirikan sekadar sebagai ajang silaturrahmi antar karyawan PLN yang berjumlah 200-an orang. Semua karyawan dari jenjang terendah sampai level tinggi ikut masuk jadi anggota. Dengan iuran wajib Rp5 ribu per bulan.

Bidang usahanya, awalnya bergerak di simpan pinjam, usaha foto kopi, toko, rental kendaraan dan alat berat (truck crane). Usaha koperasi terus maju merambah ke jasa borongan, pengadaan spare part, outsourching dan lainnya.

Namun seperti kebanyakan koperasi, Kopkar PLN sempat bermasalah dengan permodalan, terutama kepercayaan bank yang masih rendah pada koperasi. Tapi, dengan sokongan perusahaan dan perbaikan-perbaikan manajemen, hambatan itu teratasi.

Kini, Kopkar tak kesulitan mendapatkan pinjaman dana dari bank. Anggota yang ingin pinjam duit ke koperasi atau mau kredit rumah dan mobil, tinggal berhubungan dengan koperasi. ”Kami yang memfasilitasi,” kata Suroso.

Bila ada anggota yang ingin pinjam duit atau butuh uang mendadak, jika nilainya di bawah Rp5 juta, hari itu juga koperasi bisa mencairkan. ”Anggota sangat merasakan manfaatnya,” tambah Joner.

Manajemen koperasi juga dibenahi. Sejak tahun 2004, Kopkar PLN Batam menyewa profesional sebagai manajer. Berkantor di perumahan Kopkar PLN di Batam Centre, koperasi itu juga sudah memiliki puluhan karyawan.

Kopkar pula yang merintis pembangunan perumahan di tahun 1999. ”Kami membantu anggota yang saat itu belum punya rumah,” ujar Suroso.

Bahkan, kini Kopkar PLN Batam punya anak perusahaan, PT Pijar Persada Nusantara. Perusahaan ini bergerak di bidang mekanikal, elektrikal, perdagangan umum dan lain-lain. ”Tahun lalu, kami bayar pajak sekitar Rp1 miliar,” kata Joner.

Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan ke anggotanya yang jumlahnya kini sebanyak 680-an orang juga tak kalah besar. ”Rata-rata anggota dapat Rp2 juta per orang,” katanya. Padahal, anggota cukup menyetor iuran wajib Rp5 ribu per bulan.

Maka, tak aneh jika Kopkar PLN juga mendapatkan sejumlah penghargaan. Seperti pembina koperasi terbaik tingkat provinsi hingga koperasi terbaik tingkat nasional.***

Kategori: Batam

Kreatif+Berani Gagal+Sukses

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ide usaha mereka belum pernah terpikirkan oleh yang lain. Memulai semuanya dari nol, sempat putus asa dan kini bersiap menyambut sukses.
***
Ahmad Bruri, 57, masih ingat betul bagaimana ia enggan menyambangi kebun rosella di belakang rumahnya. Selama seminggu ia hanya melamun, tak melakukan apa-apa. Perasaannya berkecamuk, antara kecewa, marah dan putus asa.

Selama hampir dua tahun menjajakan kelopak rosella, tanaman herbal yang bisa diseduh seperti teh, tak satupun pembeli berminat menikmati kesegaran kelopak berwarna merah berasa manis asam itu. Sudah tak terhitung, berapa rumah yang ia datangi. Juga sudah tak terhitung berapa duit dan tenaga yang ia habiskan untuk mengenalkan tanaman herbal itu ke masyarakat.

Hasil penjualan tanaman sayur di kebunnya ia gunakan membeli gula sebagai campuran minuman rosella itu. Berbekal minuman segar itu dan hasil panen kelopak rosella, ia berkeliling. Pada bulan Ramadan lalu, sambil membawa bergelas-gelas teh rosella dingin, ia datangi musalla dan masjid. Ia perkenalkan minuman herbal hasil kebunnya.

Namun, masyarakat tak kunjung tertarik. Padahal, uang belanja di rumahnya juga hampir habis. Dapurnya terancam tak mengepul. Ia lunglai. ”Malas rasanya mau ngapa-ngapain. Kebun seminggu tak saya tengok. Saya melamun terus,” kata pria yang biasa dipanggil Cak Dikin, itu.

Untungnya, isteri Cak Dikin tak ikut putus asa. Ia menyemangati suaminya. ”Mungkin belum waktunya. Jangan putus asa.”

Mendapat dukungan isteri, Dikin kembali tertantang. Ia cepat mengambil cangkul, kembali ke kebun rosellanya. Besoknya, ia tawarkan lagi rosella itu ke rumah-rumah dan pasar.

Pembeli pertama pun datang, akhir tahun lalu. Ia membeli satu ons rosella. Karena belum tahu harga rosella di pasaran, Dikin menjualnya Rp10 ribu. ”Nama pembeli pertama saya itu, saya catat. Kalau seandainya nanti saya sukses, dialah yang akan saya beri hadiah,” katanya.

Dikinpun mengajak ibu-ibu PKK Tiban Lama dan Lurah Tiban Lama. Merekalah yang kemudian ikut membantu pemasaran rosella itu. Munculnya pemberitaan di televisi soal khasiat dan manfaat teh rosella bagi kesehatan, membuat permintaannya makin kencang. Apalagi kemudian ia ikut pameran pada sejumlah ekspo di Batam.

Kalau dulu Dikin harus ke datang ke rumah-rumah, kini sejumlah restoran dan hotel menjadi pelanggannya. Rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama, kini ramai. Ia menyuplai kelopak rosella segar dan kering ke sejumlah tempat. Bahkan, tingginya permintaan membuat ia tak mampu lagi memenuhinya.

Sejumlah rekannya ia ajak menanam rosella. Di Tiban Lama, kini sudah 25 petani yang ikut serta dan menghasilkan 50 kilogram rosella per hari. Hasil itu tak cukup, karena permintaannya mencapai 300 kilogram per hari. Karena itu, ia mengajak petani lain di kawasan Tembesi, Galang, Seitemiang dan Dapur 12 untuk menanam rosella.

”Seandainya dulu saya putus asa, mungkin tak akan ada rosella merek D’Kam dari Batam,” katanya.

Dikin mengaku tak pernah membayangkan bakal menjadi petani rosella. Semuanya berawal kala Himpunan Kerukunan Tani Indonesia mengirimnya ikut pelatihan di Palembang, tahun 2006. Di sana, pematerinya memberikan sejumlah alternatif tanaman yang bisa dibudidayakan, salah satunya rosella yang bisa menjadi teh herbal. Karena di Batam belum ada petani rosella, ia memutuskan menanam rosella.

Pulang dari Palembang ia membawa lima kilogram bibit rosella. Antara ragu dan ingin mencoba, ia menanam sekitar 500 bibit. Empat bulan dirawat, rosella mulai dipanen. ”Karena baru, saya pakai dulu untuk minuman keluarga. Pagi, siang dan malam, keluarga kami minum rosella hampir selama empat bulan. Manfaatnya terasa, badan lebih sehat dan enak,” tuturnya.

Cerita hidupnya kemudian mengalir seperti film-film india. Dua tahun menjajakan rosella tanpa hasil, ditertawakan orang, dianggap gila dan sempat putus asa. ”Semua pengalaman itu menempa saya. Kalau mau sukses, harus susah dulu, harus putus asa dulu,” katanya, sambil tersenyum.

Dikin mengaku ingin membudayakan tanaman rosella. Siapapun yang ingin menanam sendiri rosella, silakan datang ke rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama. ”Saya siapkan bibit gratis.”

Kemasan rosella kini tak lagi hanya untuk diseduh sebagai teh. Dikin membuat dodol, manisan dan sirup. Bahkan, ia kini membuat wine dari kelopak rosella segar.

”Kemarin, ada orang dari Filipina memesan wine dari rosella ini. Sekarang wine-nya saya tanam, baru bisa diambil tahun depan,” katanya.

Kalau Dikin baru sukses setelah dua tahun menanam, Wendy, 19, termasuk yang baru hendak memulai usaha. Pemuda yang baru lulus SMA itu memilih usaha cuci mobil dengan nama Fast-1 di SPBU Sukajadi. Usaha cuci mobil yang ia masuki beda dengan cuci mobil-cuci mobil lain di Batam, karena pengendara yang masuk ke tempat Wendy tak perlu keluar dari mobil. Bahkan, mungkin sistem cuci mobil milik Wendy termasuk yang pertama di Batam.

”Juga ditanggung cepat, sekitar 12 menit sudah kelar,” katanya.

Wendy mengaku nekat terjun ke dunia usaha setelah mengikuti Entrepreneur Camp. Jiwa wirausahanya berontak. Tak butuh waktu panjang, ia langsung memutuskan usaha cuci mobil saat teringat tulisan Jaya Setiabudi soal cuci mobil di Johorbahru. ”Makanya langsung saya coba. Saya tak takut gagal,” ucapnya.

Dua bulan yang lalu, usaha cuci mobilnya beroperasi. Agar menarik perhatian, tempatnya ia desain sedemikian rupa mirip dock mobil balap. Di pintu masuk ada tulisan Fast-1, Cuci Mobil Tercepat Nomor Dua di Dunia.

Sukses tak langsung menyapa usaha Wendy. Di hari-hari pertama, tak satupun mobil masuk ke usaha tempat cucinya. Bahkan, hampir satu bulan mobil yang datang cuma satu dua. Optimisme yang menggebu di dada Wendy sempat hendak runtuh. Ia bingung, gundah.

”Saya takut gagal. Takut mengecewakan orang tua,” ujarnya.

Saat kalut datang, ia menenangkan diri dengan menghirup dan menahan nafas beberapa kali. Dibukanya buku-buku. Di salah satu halaman buku, ia mendapat inspirasi. ”Sekarang saya tak lagi takut gagal. Kenapa harus dipikirin.”

Usaha cuci mobilnya yang dulu sepi, kini mulai ramai. Wendy sudah memiliki sejumlah pelanggan tetap yang secara berkala datang ke Fast-1-nya.

Nekat, juga menjadi modal utama Windu Terkelin, 28, saat membuka usaha kerajinan tangan di rumahnya di Beverly Park, Batam Centre. Windu tak punya keahlian di bidang kerajinan tangan. Ia hanya termasuk orang yang suka pada handy craft-handy craft yang biasa ia lihat di Bali dan Yogyakarta.

”Di Batam jarang saya lihat ada handy craft yang bagus. Makanya saya ingin membuat handy craft yang simple tapi menarik dan bahan-bahannya mudah didapat dan murah,” tutur karyawan di sebuah perusahaan telekomunikasi, itu.

Awal 2009 lalu, usahanya mulai jalan dengan mempekerjakan sekitar lima orang karyawan. Ia membuat mini garden dari koran bekas dan kulit pisang, kerang-kerangan, keranjang kertas dan vas bunga.

”Tapi, selama tiga bulan berproduksi tak ada satupun penjualan. Nol,” katanya.

Karena tak laku, semua ongkos produksi dan uang membayar gaji karyawannya ia ambilkan dari gaji dan tabungannya sendiri. Ia pun sempat bimbang antara meneruskan usahanya atau berhenti. Tapi, saat terpikir kalau ia terjun ke usaha handy craft untuk membuka lapangan kerja dan menciptakan kerajinan tangan khas Batam, ia buang-buang jauh rasa bimbang tadi. ”Saya optimis. Masa handy craft bagus gini tak laku.”

Maka, mulailah ia memperkenalkan produk handy craftnya kepada teman-teman kantornya. ”Ternyata teman-teman suka. Ada yang beli hiasan dinding, ada yang beli keranjang kertas dan lainnya.”

Pintu sukses seakan terbuka, saat ia mengikuti pameran di Gedung Promosi Sumatera. ”Kini sudah ada hotel dan resort yang mau menjadikan produk handy craft kami sebagai buah tangan khas hotel mereka. Permintaan kerang dan aksesoris kulkas juga mulai berdatangan.”***

Kategori: Batam

Banjir di Anggaran, Kering di Kinerja

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah bertahun-tahun, Medan, 57, merasa diayun-ayun setiap kali keluar masuk jalan lebar di kawasan Kavling Pelopor, Seilekop, Sagulung. Tubuhnya yang tinggi besar bergoyang di atas sepeda motor akibat melewati jalan tanah berbatu sepanjang kira-kira satu kilometer itu.

”Kalau dihitung-hitung, sudah 14 tahun tinggal di sini, jalannya begini terus. Tak pernah diaspal-aspal. Badan saya sakit kalau lewat sini,” katanya, Senin pekan lalu.

Jalan yang dimaksud Medan adalah pintu masuk ke Kavling Pelopor yang padat penduduk. Jalan itu bersentuhan dengan jalan beraspal di depan Kantor Lurah Seilekop. Kondisinya tidak rata, tertutup bauksit.

Menurut Medan, sejak tahun 1995 warga memperjuangkan agar jalan tersebut diaspal. Saat itu warga mengadu ke Otorita Batam. Berkali-kali tak tembus, warga mengadukannya ke Pemko Batam. Saat itu ada respon, Pemko menjanjikan bakal mengaspal jalan itu.

Saat kampanye calon Gubernur Kepri 2004 silam, warga Kavling Pelopor kembali dijanjikan bakal dapat pengaspalan jalan. Namun, karena yang berjanji tak duduk di kursi Gubernur, janji itu tak pernah terealisasi.

Tahun 2007, warga mengadu ke Komisi III DPRD Batam. Hasilnya, pengaspalan jalan di tempat itu dimasukkan ke APBD Batam 2007. Namun, tahun itu pengaspalan tak berjalan. Kemudian dimasukkan lagi ke APBD Batam 2008. Lagi-lagi warga Kavling Pelopor harus mengelus dada, karena di tahun itu tak satupun proyek peningkatan jalan di Dinas Pekerjaan Umum Batam berjalan. Semua mandeg, termasuk proyek peningkatan jalan di Kavling Pelopor tersebut.
”Sampai ketua RW kami meninggal, pengaspalan jalan ini belum juga terealisasi,” tutur pria asal Sumatera Barat, itu.

Tahun ini, Medan dan ribuan warga Kavling Pelopor mendapatkan angin segar. Di APBD Batam 2009, peningkatan jalan sepanjang 1 kilometer tersebut bakal kembali dilaksanakan. Anggarannya, Rp2,4 miliar.

Tak jauh dari Kavling Pelopor, Fredi, 36, warga RT 2 RW 16 Seilangkai, harus ekstra hati-hati setiap kali melewati jalan di Perumnas Baru Batuaji, Sagulung di depan MIN Batam. Jalannya berlubang di sana-sini. Lengah sedikit, bisa tersungkur. Kalau hujan, air menggenang di lubang-lubang itu.

”Kalau panas, debunya beterbangan. Rusak parah,” katanya, Senin sore pekan lalu.

Seperti yang dialami warga Kavling Pelopor, warga Perumnas Baru Batuaji juga harus menunggu bertahun-tahun agar jalan raya yang membelah perumahan mereka diperbaiki. Sudah sempat dianggarkan tahun lalu, namun proyek pembangunannya mandeg.

”Kami tak lagi berharap. Nunggu musim kampanye, siapa tahu ada yang mau mengaspal,” tuturnya.

Di APBD Batam 2009, bersama enam kawasan lainnya, peningkatan jalan di Perumnas Baru itu masuk di kegiatan peningkatan jalan wilayah V Kota Batam. Khusus di Perumnas Baru, jalan yang bakal diaspal sejauh 1,4 kilometer dengan anggaran Rp3,36 miliar.

Tak kalah parah kondisi di jalan raya dua jalur di Baloi yang memisahkan Perumahan Baloi Mas Asri dan Baloi Mas Indah. Mulai dari simpang empat Penuin hingga SPBU Coco Seiladi ruas jalan penuh lubang. Bentuk lubang tak beraturan dan dalam.

Padahal jalur tersebut merupakan jalur padat lalu lintas. Batam Pos mencatat, di jam-jam sibuk, dalam satu menit ratusan kendaraan melintas. Tak ada yang berani melaju cepat, semuanya melambat akibat melewati lubang yang tak bisa lagi dihindari.

Pengendara sepeda motor, paling susah jika melintas di jalan itu. Harus hati-hati dan pandai mengendalikan motor karena mau tak mau harus melewati lubang-lubang yang bertaburan di jalan tersebut. Tak ada jalan mulus di jalur sepanjang kira-kira 2 kilometer itu.

Andika, 26, punya pengalaman buruk saat melintas di jalan Baloi tersebut. Sepeda motor warga Tiban itu sempat terperosok dan bannya pecah. Ia tersungkur mencium aspal. Wajahnya luka, kakinya gosong terkena knalpot.

”Sudah jalannya berlubang-lubang, lampu jalannya mati pula. Pokoknya kalau tak hati-hati, lewat, ” katanya, sambil tangannya memperagakan tanda orang tersungkur.

Jalan di Baloi itu, sudah dikeluhkan warga sejak tiga tahun terakhir. Karena tak kunjung diperbaiki, warga pernah menanam pohon di jalan tersebut. Pemko Batam sempat beralasan jalan tersebut merupakan jalan protokol yang menjadi kewajiban Otorita Batam. Namun karena di desak terus, Pemko akhirnya bersedia memperbaikinya.

Kepada Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika, Kadis Pekerjaan Umum Batam Harry Roekanto sempat menjanjikan bakal menyelesaikan penambalan jalan Baloi tersebut akhir Desember 2008. Namun, sampai sekarang jalan tersebut terus memakan korban.

Ketua Komisi I DPRD Batam Ruslan Kasbulatov menunjuk jalan Baloi sebagai bukti lambannya kinerja Wali Kota Batam. ”Masa memperbaiki jalan saja tak becus. Sangat lamban,” katanya. Tiap tahun, kata dia, pemerintah mengajukan anggaran besar untuk proyek fisik. “Kesannya, kan mau uangnya saja, tapi nggak mau kerja,” ujarnya.

Tahun ini, Pemko Batam kembali menganggarkan peningkatan jalan dua jalur di Baloi itu, mulai dari simpang Baloi Centre hingga simpang Universitas Internasional Batam atau sepanjang 4,8 kilometer. Nilainya tak tanggung-tanggung, Rp10,56 miliar.

Namun, berdasarkan laporan Dinas Pekerjaan Umum ke Komisi III DPRD Batam, pengerjaan jalan tersebut saat ini proyeknya masih dalam tahap proses lelang. Inilah yang membuat Wakil Ketua Komisi III DPRD Batam M Zilzal pesimis.

”Saya khawatir, proyek itu tak terealisasi lagi karena waktunya sudah mepet,” katanya.

Khusus proyek pembangunan fisik di Dinas Pekerjaan Umum, tahun ini Pemko Batam menganggarkan dana Rp197,242 miliar untuk pengerjaan sepuluh program dan puluhan kegiatan. Di antaranya pembangunan jembatan beton dan pelantar beton, pemeliharaan jalan berkala dan rutin maupun pemeliharaan lampu jalan.

Lalu ada proyek pembangunan drainase seperti di depan Perum Villa Mukakuning, pembangunan drainase sekunder di Sagulung Sentosa di samping Puskesmas Seilekop, di MKGR Batuaji, di Bengkong Asrama PLTD X, Perumahan Putri Tujuh, di depan DC Mall dan lainnya.

Kemudian ada proyek peningkatan jalan di enam wilayah. Seperti peningkatan jalan di simpang Masjid Quba sampai dengan Perumahan Duta Mas, peningkatan jalan dua jalur di Bengkong Seken, Peningkatan jalan di Perumahan Mekar Sari, peningkatan Jalan di Mangsang Tanjungpiayu, peningkatan jalan di Kavling Pelopor Sagulung, peningkatan jalan di Pandawa dan lainnya.

Ada proyek penyediaan sarana air bersih dan sanitasi air bersih dan limbah di kawasan-kawasan hinterland. Atau pembangunan pengaman tebing pantai di tempat itu.

Dan hampir sebagian besar proyek tersebut merupakan proyek yang seharusnya dilaksanakan tahun 2008. Seperti proyek pembangunan drainase dan jalan di Bengkong PLTD RW X misalnya, sudah bertahun-tahun ditunggu masyarakat Bengkong.

”Dulu sempat diukur-ukur, entah kenapa tak kunjung dibangun. Jalannya rusak, kalau hujan banjir. Air meluap karena drainasenya kekecilan,” kata Een (30-an) warga Bengkong Asrama.
Itu artinya, ”Kalau dikerjakan sejak awal, masyarakat sudah bisa menikmati hasilnya. Itu utang pemerintah daerah ke masyarakat,” kata Sekretaris Komisi III DPRD Batam Onward Siahaan.

Uniknya, sepanjang 2008, tak satupun proyek pembangunan kantor camat dan lurah yang mandeg. Dengan senyum mengembang, Wali Kota Ahmad Dahlan meresmikan penggunaan sepuluh kantor lurah dan empat kantor camat di Kantor Lurah Tiban Baru, pertengahan Februari 2009, lalu. ***

Kategori: Batam