ada yang mengaduk-aduk perasaan, saat saya membaca TEMPO, soal 9 daerah bintang. saya langsung membayangkan batam, berada di antara mereka.
saya membayangkan batam menjadi kota yang menggratiskan pendidikan negeri dan swasta mulai dari sd-sma, seperti yang dilakukan kabupaten musi banyuasin. saya membayangkan batam mampu melakukan itu. apbd-nya besar, walikotanya juga baru saja mendapatkan penghargaan di bidang pendidikan.
pasti, tak akan ada lagi siswa tak tertampung, juga tak ada sekolah swasta yang tutup. wawako ria saptarika juga tak perlu beli ruko untuk sekolah.
saya membayangkan batam seperti kota balikpapan yang menyapu anak jalanan, melatih mereka dengan berbagai keterampilan. mulai dari menyetir hingga tata boga.
saya membayangkan batam seperti solo yang menata pedagang kaki lima dengan sangat apik. walikotanya, joko widodo, pernah 54 kali menjamu pk5 agar mau pindah ke kawasan yang sudah ditentukan, tanpa gejolak. semua digratiskan. bukan seperti pemindahan pk5 toss 3000 yang menghabiskan dana rp900 juta, tapi tetap tak mau menempati pasar induk jodoh, batam.
saya membayangkan batam seperti kabupaten lebak yang memiliki perda tentang transparansi dan partisipasi. di sana, semua anggaran disosialisasikan ke masyarakat lewat poster-poster dan sebagainya. di lebak, masyarakat tahu informasi pembangunan sekecil apapun. bukan seperti batam. warga batam, apakah ada yang tahu kalau setiap tahun pemko menganggarkan dana rp3,4 miliar untuk kebutuhan pimpinan?
saya membayangkan batam seperti purbalingga yang merehab sekitar 9.718 rumah warga miskin. bukan seperti batam yang angkat tangan tak mampu bangun jalan, malah hendak membangun papan nama rp500 juta di bukit clara.
ah, saya terlalu banyak membayangkan dan merindukan batam. saya takut, kerinduan saya akan hal-hal seperti itu menjadi kerinduan yang salah alamat. ***


0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.