Category Archives: Batam

Jatuh Hati kepada Waktu

Waktu. Tiba-tiba saya ingin menulis tentang waktu. Tentang masa, tentang tempo. Tentang apa yang tak akan pernah kembali lagi. Saya jatuh hati kepada waktu.
Waktu punya banyak arti. Sejak kecil saya sudah mendengar ungkapan, waktu adalah uang. Juga sudah kudengar, waktu adalah sesuatu yang paling jauh, sesuatu yang tak akan bisa kamu datangi lagi. Tuhan juga bersumpah demi masa.
Bagi saya, waktu juga punya banyak makna. Setiap kali bepergian, mengunjungi banyak tempat dalam satu hari, saya pasti tertegun sebentar, merasa betapa misteriusnya waktu. Saya tak pernah bisa, untuk sejenak menghentikan waktu. Tak bisa untuk, misalnya kembali lagi ke masa lalu, atau meluncur ke masa depan.
Saya pakai kata, saya tak bisa menghentikan waktu, bukan “kita”, karena saya percaya, ada sebagian orang yang bisa melakukannya. Nabi agung, Muhammad, termasuk yang melintasi ruang dan waktu. Dalam kisah-kisah sufi, saya juga mendapati, banyak orang-orang “arif” yang bisa melakukannya.
Waktu berhubungan dengan ruang. Berhubungan dengan kefanaan, berhubungan dengan sesuatu yang akan hancur, sesuatu yang tak akan bisa kembali lagi. Namun, waktu sungguh sangat unik. Waktu juga menempatkan dirinya dalam keabadian, dalam kenangan banyak orang.
Dejavu membuktikan soal misteriusnya waktu. Saya seperti dipaksa mengulang lagi, apa yang saya lakukan dulu, dipaksa untuk menerima lagi apa yang saya alami dulu.
Banyak kisah cinta yang tak lekang dimakan waktu. Dan kadang-kadang, saya merasa waktu mengulang kisah itu, dalam diri orang lain, bahkan dalam diri kita.
Waktu menguji hati, menguji ketabahan kita. Banyak yang tak bisa mempertahankan prinsip-prinsip hidupnya seiring dengan berlalunya waktu. Mereka yang hari ini berbicara, bersikap selalu A, bisa jadi besok atau lusa akan berubah, akan melakukan B atau C.
Waktu juga menguji kesetiaan, menguji mana yang sejati dan mana yang palsu. Dan sejarah membuktikan, hanya mereka yang mampu melewati ujian waktu, yang selamanya akan dikenang sejarah. Dalam diri kita pun begitu, hanya mereka yang setia yang tersimpan lekat dalam ingatan dan kenangan kita.
Karena waktu adalah ujian, dia membongkar kebohongan, membongkar kepalsuan. Mereka yang hari ini berbohong, suatu hari nanti akan terbuka kebohongannya. Waktu punya cara sendiri membuka segalanya. Dan bagi saya, waktu juga bijak, dia membuka apa yang harus dibuka, menutupi apa yang harus ditutupi. ***

@wenceu #1

saya memberi judul tulisan saya ini @wenceu. dia rekan kerja, wartawan batam pos. pertama, karena dialah yang membuat saya menulis blog lagi setelah berbulan-bulan tak pernah melirik ghazyan.wordpress.com ini. #1 adalah kode tulisan hari pertama, untuk 30 hari berikutnya.

Imagekarena judulnya @wenceu, maka tulisan ini juga tentang @wenceu. saya mengenal dia sekitar tahun 2011. dia bersama eki, melamar sebagai calon reporter. saya sebagai koordinator liputan, diminta mendampingi riza pahlevi, wakil pemred, menyeleksi dua calon reporter itu. 

saya tak tertarik sama @wenceu, tapi lebih suka eki. andai waktu itu kami cuma butuh satu reporter, pilihannya jatuh pada eki. namun, kami butuh dua. dua-duanya, kami setujui. kenapa saya melihat @wenceu biasa-biasa saja, mungkin karena kesan pandangan pertama. saya melihat @wenceu waktu itu seperti komentar kaka slank terhadap seperti sheila on 7, masih kinyis-kinyis. begitu sheila meluncurkan sephia, kaka bilang, “ternyata mereka bandel juga.”

bandel artinya, @wenceu jadi andalan. hampir semua berita-berita “penting” di batam pos, melibatkan @wenceu. saya lupa tulisan pertama gadis berjilbab ini. tapi tulisan dia saat wawancara ariel noah, meski judulnya dianggap tak pas, dipuji pemred.

bagaimana dengan saya? di umur kewartawan saya 2-3 tahun, saat seperti @wenceu, saya reporter yang tak pernah diingat koordinator liputan, belum menulis seperti yang ditulis @wenceu.

rasa tulisan @wenceu, seperti kata pak bondan, maknyus. saya termasuk yang tak ingin memotong tulisan dia andai saja space untuk tulisannya tersedia. @wenceu menulis panjang-panjang. kadang saya meminta persetujuan dia, bagian mana yang akan saya potong.

kemarin, dia bilang sedang galau. temanku bilang, @wenceu bisa jadi tak akan selamanya jadi wartawan #batampos. dia akan pindah. dia akan jadi pns suatu saat. mungkin bisa jadi begitu. dia bukan lagi gadis kinyis-kinyis. dia sudah cukup bandel untuk menentukan pilihan.

hari ini kita bahagia, besok siapa tahu. hari ini kegalauan kita bisa jadi di tingkat maha dewa, besok bisa jadi kebahagiaan kitalah yang di tingkat maha dewa. hmmm 

Perbanyak Taman Bermain

Bukan sebuah ide yang tiba-tiba, jika muncul usulan agar Batam perlu memperbanyak taman bermain. Taman bermain yang bisa diakses publik secara gratis, dan tentu saja harus aman.

Jika kemudian usulan itu mengemuka, karena banyak kasus anak-anak tewas saat bermain di kolam-kolam bekas galian, itu merupakan akumulasi harapan warga melihat betapa pemerintah daerah, baik itu Pemko Batam maupun Badan Pengusahaan Batam seperti tutup mata. Belasan anak tewas saat bermain, tapi tak kunjung berbuat, seperti misalnya, memperbanyak taman agar keluarga dan anak-anaknya bisa bermain dengan aman di sana.

Jadinya, meski banyak kasus, anak-anak itu tetap bermain di tempat-tempat berbahaya karena minimnya taman bermain di Batam. Mereka memilih berenang di kolam galian. Sebagian bermain di bukit-bukit yang dipotong. Soal bahaya, itu nanti. Karena bagi mereka, keriangan dan kebahagiaan saat bermain nomor satu. Itu sebabnya, Pemko Batam maupun BP Batam tak perlu menunggu banyak korban untuk membuat taman bermain.

Continue reading

Jangan Makyong Hilang di Bumi

Sanggar Tari Pantai Basri dari Pulau Panjang, Bulang, merupakan satu-satunya sanggar yang menyajikan opera Makyong di Batam. Setelah eksis hampir 40 tahun, sanggar itu terancam hilang. Kesulitan ekonomi, minimnya perhatian, membuat Makyong Pulau Panjang itu kehilangan nyawa.

Normah duduk bersandar di dinding. Tatapannya jauh menembus jendela kaca kusam di depannya. Perumahan Cipta Asri, Sagulung, akhir Juni sore itu sepi. Angannya melayang. Terbayang pesisir Pulau Panjang, Bulang, bermil-mil di sana. Terbayang wajah Basri. Lelaki bersahaja yang bertahun-tahun mendampinginya.

Lalu, tangan Normah bergerak. Jarinya mengetuk-ngetuk lututnya. Tanpa sadar, ia menyanyi. “Dari Jauh Terpandang Awang, Terpandang Awang Seorang Diri, Apa Kabar Awang, Berkabar Bilang.”

Lagu itu mengalun merdu. Hampir enam menit ia bernyanyi. Setelah itu ia berhenti. Normah mengambil napas. Dadanya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Kesedihan membuncah. Rabiah, 40, putrinya, membiarkan perempuan berumur 62 tahun itu melelehkan perasaannya.

“Ibu sering kangen sama bapak,” kata Rabiah, sore itu.

Normah adalah seniman Makyong dari Pulau Panjang. Ia satu-satunya penyanyi, pelakon, sekaligus penari Makyong, yang dipunyai Batam saat ini. Normah sudah bermain Makyong sejak tahun 1970. Saat itu ia kebagian peran sebagai dayang. Peran Raja, tokoh utama dalam opera Mak Yong, diperankan Mak Mumun. Basri, suaminya, pengiring musik di opera itu. Basri mahir menggesek biola.

Setelah Mak Mumun meninggal, peran Raja beralih ke tangan Normah. Basri bermain sebagai Awang, tokoh kedua dalam opera itu. Lagu yang Normah nyanyikan sore itu, lagu yang biasa ia bawakan ketika bermain Makyong. Ia memanggil-manggil Awang, tokoh yang identik dengan Basri. Basri meninggal awal tahun 2000 silam.

Basri dan Normah banyak mendapat undangan tampil di acara-acara pernikahan. Mereka tampil dari satu pulau ke pulau lain. Tahun itu, jembatan Barelang, yang menghubungkan pulau-pulau di kawasan Galang, Galangbaru, dan Batam, belum dibangun. Basri dan Normah memenuhi undangan naik perahu layar. Sesekali naik perahu bermesin tempel.

Dua atau empat hari sebelum tampil, Basri dan Normah berlatih dulu. Mereka mengumpulkan para pemain musik dari Bintan, Batam, dan pulau sekitarnya, di rumah mereka di Pulau Panjang. Ada 25 orang yang berkumpul. Mereka berbagi peran. Ada yang menjadi dayang, raja, pemain musik, prajurit, dan lainnya.

Tempat latihannya sebuah panggung yang ditopang tiang-tiang kayu bakau.
Mereka berlatih tekun. Menghafal dialog, lagu, dan tarian. Sekali tampil, biasanya mereka membawakan dua atau tiga cerita tradisional Melayu.

Makyong Sanggar Tari Pantai Basri tak bisa ditampilkan sekali seminggu. Selain perlu latihan, juga karena tak setiap minggu mereka dapat undangan. Di sela-sela kosongnya undangan, Basri dan Normah biasa tampil berdua. Mereka membawakan orkes Melayu. Basri menggesek biola, Normah menyanyi.

Di tahun 1980-an Basri dan Normah sering mewakili Batam tampil di acara-acara seni dan festival. Mereka tampil di Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan kota lain. Sesekali mereka diundang ke Melaka, Malaysia.

Sejumlah piagam penghargaan untuk Basri dan Normah disimpan oleh Dorani, 42, putra sulung mereka, di Pulau Panjang. Piagam-piagam itu dilapisi plastik. Disimpan di koper tua, peninggalan Basri. Ada sekitar sebelas penghargaan. “Terakhir bapak dapat penghargaan saat tampil di Yogyakarta. Itu tiga bulan sebelum bapak meninggal,” kata Dorani, di Pulau Panjang.

Basri dan Normah tak hanya tampil di panggung. Mereka juga melatih siswa-siswa sekolah dan orang-orang yang ingin belajar tari. Sebagian anak-anak pesisir, sebagian lagi datang dari Batam. Dari Jakarta dan Eropa juga ada.

Normah ingat, ada gadis Jerman yang tiba-tiba datang ke rumahnya di akhir tahun 1990. “Namanya Brigitte. Dia anaknya serius, ingin bisa nari,” tuturnya.

Brigitte, kata Normah, datang diantar pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Batam ke Pulau Panjang. Pertama kali datang, Brigitte langsung minta ditunjukin tarian jogi. Tari ini khas Batam, gerakannya mirip joget poco-poco. Namun, gerakannya lebih luwes.

Setelah itu, Brigitte rajin datang. Sekali seminggu ia belajar nari. Di rumah Normah, Bergitte bisa menginap dua atau tiga malam. Dalam sebulan, gerakan Brigitte sudah terbentuk. Dia hafal satu tari Melayu.

Saat hendak kembali ke Jerman, Brigitte menawari Normah ikut serta. Brigitte ingin mengenalkan Normah ke publik Jerman. “Katanya orang seperti saya itu langka,” kata Normah.

Namun, Normah menolak. Dia tak ingin pergi meninggalkan Pulau Panjang. Tak ingin meninggalkan anak-anaknya, juga kenangannya bersama Basri. Keluarga dan tanah kelahiran, katanya, lebih berharga dibanding harta melimpah di negeri orang. “Saya lebih baik di sini. Miskin tak apa-apa,” ujarnya.

Artis senior Trie Utami, juga termasuk yang pernah belajar menari di rumah Normah. Trie Utami, katanya, hanya belajar sehari. Dia minta diajari gerakan dasar tari Melayu. Dari siang sampai sore Normah mengajari Trie Utami.

Saat tampil di Jakarta, Normah kaget namanya dipanggil-panggil seorang wanita. “Mak Normah mana, Mak Normah mana,” kata Normah mengulang panggilan itu. Saat itu ia sedang di kamar hias. Ia kaget. Setelah pintu dibuka, ternyata di depan pintu sudah berdiri Trie Utami.

“Trie Utami bilang ke orang-orang, saya itu guru menari dia,” katanya.

Totalitas Mak Normah mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota Batam. Tahun 2011, ia mendapatkan Anugerah Batam Madani sebagai tokoh yang berjasa di bidang Seni Budaya. Di ulang tahun Kota Batam ke-182, Wali Kota Batam menyematkan pin emas ke dada Normah.

Pin emas itu kini disimpan Normah di balik tumpukan baju di lemarinya. “Akan selalu saya simpan,” tukasnya.

Namun, segala penghargaan itu tak menjamin hidup Normah. Seperti seniman-seniman lain, ia hidup dalam keprihatinan. Akhir Juni itu, ia mengaku cuma memegang uang Rp20 ribu. “Ini untuk beli lauk buat besok,” katanya.

Normah tak lagi banyak manggung. Pagelaran Makyong sudah jarang muncul di depan publik. Tak tampil, berarti tak ada uang belanja. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia menjual jagung bakar. Di kios milik Dorani, di ujung jembatan I Barelang, Normah bisa ditemui saban sore.

Sejak tiga bulan lalu, ia tak lagi menjual jagung. Ia memilih merawat Rabiah. Rabiah mengidap kanker. Rabiah tinggal bersama putrinya, Putri Pertiwi, 12. Suaminya meninggal beberapa tahun lalu. “Kini, sayalah yang merawat anak saya itu,” tukasnya.

Di rumah Rabiah itu keprihatinan hidup Normah bisa dilihat. Rumah itu tipe 28. Ada dua kamar dan satu ruang tamu berukuran 2,5 x 3 meter. Dapur menyatu dengan kamar mandi. Sebagian dinding rumah itu plasternya sudah rusak. Catnya terkelupas.

Normah sore itu sedang sakit perut. Ia mengusap-usapkan minyak angin ke perutnya. Sepanjang wawancara, ia beberapa kali bersandar di dinding. Sesekali minyak angin di botol kecil di tangannya itu ia cium.

Normah mengenakan kemeja kembang-kembang. Sebuah kemeja lama yang kusut. Ikat kepalanya berdaki. Ia beberapa kali menolak dipotret. “Baju saya jelek, tak usah difoto-foto dulu,” katanya.

Meski sakit perut, ia tetap mau diminta bercerita tentang Makyong. Gairahnya bangkit. Ia lupa besok pagi tak punya uang belanja. Tutur katanya lancar. Bahasanya polos. “Makyong itu warisan leluhur. Kalau jual jagung itu ya buat makan. Kalau hidup dari Makyong sekarang susah,” katanya.

Semua keprihatinan itu tak membuat Normah sedih. Ia tak menyesal meski kini hidupnya miskin. Membawakan Makyong menurutnya adalah tugas luhur. Ia menyimpan semua penghargaan dari penampilannya sebagai penari dan pemain Makyong, sebaik ia menyimpan kenangan-kenangannya.

Tak berniat menjual pin emas Anugerah Batam Madani itu? “Taklah. Meski tak punya uang, tak akan saya jual. Itu kenang-kenangan,” katanya.

***
Telepon itu datang menjelang senja. Dorani, 42, sedang mengisi bensin eceran ke botol-botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter. Ia menghentikan sejenak pekerjaannya. Ditekannya tombol ponselnya. Dari seberang seseorang menyapa.

“Pak, kami mau mengundang bapak tampil di Tanjungpinang.” Yang menelpon ternyata seorang mahasiswa dari Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Mahasiswa itu mengundang Dorani dan sanggarnya tampil di acara mereka.

“Kami sudah tak tampil lagi. Mohon maaf, tak bisa datang,” ujar Dorani.

“Tolonglah pak. Ada Pak Gubernur yang datang di acara kami,” si mahasiswa memohon. “Bukan tak mau, tapi memang sanggarnya sudah tak tampil lagi. Dah vakum,” Dorani tetap menolak.

Obrolah setahun lalu itu masih diingat betul oleh Dorani, putra sulung pasangan Basri dan Normah. Ia diminta menampilkan Mak Yong. Namun, ia menolak. Alasannya pelik, biaya yang harus ia keluarkan, lebih besar dari bayaran yang ia terima.

“Terakhir kali tampil, itu sudah dua tahun lalu. Habis itu kami tak pernah tampil lagi,” kata Dorani.

Dorani mewarisi Sanggar Tari Pantai Basri. Sejak ayahnya meninggal, ialah pemimpin sanggar itu. Padahal, awalnya Dorani menolak. Sejak remaja, ia tak mau lagi berkesenian. Ia memilih berdagang, berjualan bensin, membuka kios kecil di rumahnya.

Dorani remaja sering merasa sedih melihat hidup orang tuanya. Basri, disebutnya orang yang total berkesenian. Tak pernah menolak undangan tampil. Berapapun bayarannya, Basri pasti datang.

“Habis manggung biasanya bapak langsung melaut. Bayarannya tak cukup buat makan sehari-hari,” ujarnya. Itu yang bikin Dorani enggan mengikuti jejak ayahnya. Ia tak ingin bernasib seperti bapaknya. Dipuji-puji di atas panggung, tapi setelah itu dilupakan.

Tapi Basri tak pernah mengeluh. Dorani yang gregetan. Ia pernah meminta ayahnya berhenti bermain musik. “Tapi bapak tak mau. Katanya, melestarikan budaya Melayu tugas suci. Kalau bukan kita, siapa lagi,” kata Dorani.

Kata-kata ayahnya itu terngiang-ngiang terus di telinga Dorani. Ketika ayahnya meninggal, Dorani mau tak mau memimpin sanggar warisan ayahnya itu. Ia sempat bingung karena selama ini enggan latihan. Tangannya tak mahir menggesek biola atau menabuh gendang.

Bermalam-malam ia tidur di samping biola peninggalan ayahnya. Bermalam-malam pula ia berdoa. Harapannya satu, diberi keahlian menggesek biola. “Habis gitu saya bismillah aja, memohon agar bisa main biola,” katanya.

Berminggu-minggu Dorani berlatih. Tangannya pegal. Lehernya kaku. Namun ia mencoba terus. Ia tak mau mengecewakan orang tuanya. Dan kerja kerasnya terbayar. “Sekarang kalau ada yang minta main, saya cuma minta didengerin dulu nadanya. Setelah itu pasti bisa,” tukasnya.

Dorani melanjutkan Sanggar Tari Pulau Basri bersama adik-adiknya. Selain Dotani, ada lima anak Basri dan Normah yang semuanya mewarisi darah seni. Mereka Abdullah, 41, Rabiah, 40, Anda, 39, Zamri, 38, dan Zulkifli alias Igo, 37. “Dari semua saudara saya, yang paling mahir itu Igo. Dialah pewaris bapak,” kata Dorani.

Sepeninggal Basri, Sanggar Tari Pulau Basri masih sering memainkan Makyong. Pelakon dan pemusiknya sebagian besar saudara dan kawan-kawan Dorani di Pulau Panjang. Mereka tetap patuh aturan, selalu menampilkan cerita-cerita tradisional Melayu. Ada cerita Putri Siput Gondang, Raja Sang Nyaya, Raja Berna Sakti, Raja Sang Kiwi, dan Kijang Emas Tanduk Kencana.

Dari semua cerita itu, Mak Normah tetap memainkan peran utama sebagai Raja. Peran ini paling sulit. Pemain harus bisa menari, menyanyi, dan berdialog. Dialognya runtut. Kata-katanya tak boleh terputus antara satu dengan yang lain. Seperti lagu yang dinyanyikan Normah sore itu, kalimat kedua dan seterusnya harus berhubungan. Hal itulah yang membuat Mak Normah tak tergantikan. Tak ada pemain yang bisa menari, menyanyi, dan menghafal dialog panjang-panjang sekaligus.

Dorani dan Normah bahkan pernah berbulan-bulan jadi “dosen terbang” di Akademi Melayu Riau, di Pekanbaru. Di kampus itu, mereka mengajar Makyong dan tari.

Di sela-sela mengurusi sanggar, Dorani juga melatih anak-anak Pulau Panjang. Saban sore, mereka latihan menari. Dorani membentuk grup Makyong kecil. Makyong ini tak dimainkan 25 orang seperti yang biasa dilakukan Sanggar Tari Pulau Basri, tapi cukup dimainkan belasa anak-anak Pulau Panjang. Dua kali setahun mereka tampil, penontonnya para turis Singapura yang berkunjung ke Pulau Panjang.

Sore itu, Batam Pos sempat meminta Dorani memanggil anak-anak Pulau Panjang. Diiringi gesekan biola, dan tabuhan gendang, anak-anak Pulau Panjang itu menari jogi. Mereka masih lincah dan luwes, meski berbulan-bulan tak lagi latihan.

Kini, semua kegemerlapan Makyong jadi kenangan. Setidaknya itu yang dirasakan Dorani. Sejak dua tahun yang lalu, Dorani tak lagi mementaskan Makyong. “Bukan sepi undangan, tapi sudah tak sanggup,” tukasnya.

Mementaskan Makyong, kata Dorani, beda dengan menampilkan orkes Melayu biasa. Makyong menggabungkan seni peran yang dibalut iringan musik, syair, dan tarian topeng. Sekali tampil, Makyong membutuhkan minimal 25 pemain.

Dulu, para pemain itu bisa dengan mudah dikumpulkan. Mereka masih mau tampil tanpa berpikir bayaran. Namun, ketika para pemain berumah tangga, punya anak, mulailah faktor ekonomi jadi persoalan. Bayaran manggung kadang tak cukup membiayai latihan dan ongkos jalan ke lokasi manggung. Banyak pemain yang akhirnya memilih melaut.

Sekali tampil, kata Dorani, biasanya yang mengundang membayar mereka Rp5 juta. Bayaran itu, kata Dorani, tak cukup membiayai 25 pemain, ongkos perahu dari Pulau Panjang dan maupun ongkos kendaraan di darat. “Kadang kalau kawan-kawan kubilang ada undangan, mereka sudah menolak duluan. Mereka bilang, ‘sudahlah bang, tak usah lagi tampil. Anak-anak kita mau dikasih makan apa.’ Kalau sudah begitu, saya tak bisa berbuat apa-apa lagi,” ujar Dorani.

Bisa saja, kata Dorani, ia menaikkan bayaran. Namun, Makyong bukan seperti orkes dangdut atau band terkenal yang bisa bernegosiasi. Para pengundangnya rata-rata hanyalah orang menikahkan anaknya, atau instansi pemerintah yang hanya memerlukan mereka di acara-acara kesenian dan budaya. “Mungkin kalau di atas Rp10 juta kawan-kawan masih mau tampil,” ujarnya.

Faktor inilah yang membuat Dorani menolak banyak undangan yang datang, termasuk dari mahasiswa tadi. Ia sungkan meminta bayaran. “Setiap kali diundang, saya selalu beralasan tak ada pemain,” ucapnya.

Selain soal biaya, faktor kesulitan mencari pengganti Normah juga jadi masalah. Sampai sekarang, Dorani belum menemukan pemain yang bisa bernyanyi, menari, sekaligus berperan seperti Normah. Dorani sudah melatih banyak orang, tapi belum menemukan pengganti. “Sementara emak (Normah) sudah tua. Sudah sering sakit, tak mungkin terus main Makyong,” katanya.

Rabiah, kata Dorani, pernah disiapkan untuk menggantikan Normah. Namun, adiknya itu menderita kanker. Sering masuk rumah sakit. “Andai dia sehat, mungkin dia yang bisa menggantikan emak,” tuturnya.

Faktor ekonomi, sulitnya mencari pemain, hal-hal inilah yang menurut Dorani menjadi akhir kesenian Makyong. “Makyong akan hilang dari tanah Melayu ini. Kalau ingat pesan bapak, saya sedih. Tapi tak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

***
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam Nyat Kadir mengatakan keluhan Dorani dan para pemain Makyong wajar. Harusnya, kata Nyat, Pemerintah Kota Batam memperhatikan nasib mereka. “Saya prihatin. Wajar jika mereka merasa begitu karena perhatian pemerintah minim,” kata Nyat Kadir.

Jika Pemerintah Kota Batam tak memperhatikan masalah Makyong dan kesejahteraan pemainnya, Nyat khawatir Makyong akan benar-benar hilang di Batam. “Tragis kalau Makyong, kesenian Melayu, itu hilang di tanah Melayu,” ujarnya.

Mumpung para pemain Makyong masih ada, kata Nyat, belum terlambat jika Pemko Batam ingin menyelamatkan kesenian khas Melayu itu. Caranya, dengan mengalokasikan dana khusus di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk menyelamatkan nasib Makyong.

Pemerintah, kata Nyat, bisa membiayai pementasan Makyong, dan melakukan revitalisasi kesenian itu. “Makyong juga bisa diajarkan di sekolah-sekolah,” katanya.

LAM, kata Nyat, tak bisa berbuat banyak. Selain karena tak punya dana, fokus LAM lebih ke pelestarian adat istiadat. “Ini persoalan bersama yang harus dicari solusinya bersama-sama,” ujarnya. LAM, kata Nyat, akan berkunjung ke Pulau Panjang, melihat langsung Sanggar Tari Pantai Basri.

Nyat mengusulkan agar Makyong disuguhkan dengan cara berbeda. Misalnya, mencontoh Opera Van Java, yang saban malam muncul di televisi. “Ini untuk menyiasati selera penonton. Keseniannya tetap lestari, begitu juga pesan-pesannya tetap sampai. Hanya penyajiannya saja yang beda,” tukasnya.

Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengaku Pemko Batam sudah membantu sanggar-sanggar di Batam. Di APBD Batam ada alokasi bantuan untuk sanggar-sanggar itu. “Saya lupa jumlahnya, cuma ada alokasi dananya,” tukasnya.

Soal usulan Nyat, Dahlan mengatakan akan memperhatikannya. “Masukan itu akan kami perhatikan,” tuturnya.

Bila ukurannya bantuan, bisa jadi Pemko Batam sudah membantu Dorani. Tiga tahun lalu, Dorani pernah menerima bantuan biola dari Ahmad Dahlan. Seperti Normah yang menyimpan pin emas pemberian Dahlan, Dorani juga menyimpan biola itu. ***

Mengintip Pijat Plus di Batam (3-Habis)

Kemiskinan Membuat Mereka Jual Diri

Amel, 25, tak pernah menyangka bakal menjadi pemijat plus-plus. Saat pertama kali menjadi pemijat, ia hanya melayani pijat biasa. Hampir dua bulan ia bertahan, selalu menolak jika ada tamu yang menginginkan layanan lebih.

Namun menginjak bulan ketiga imannya goyah. Kebutuhan hidupnya tak lagi terpenuhi jika hanya mengandalkan komisi Rp15 ribu per jam yang ia terima dari pijatan biasa. Apalagi ia harus mengirim uang ke kampung, untuk orang tua dan dua adiknya yang sekolah di Jawa.

Teman-temannya sesama pemijat juga merayunya untuk memberikan layanan seks. “Awalnya ragu, tapi setelah saya coba, ternyata hasilnya lebih besar dari perkiraan saya. Kalau lagi ramai, dalam semalam saya bisa dapat Rp500 ribu,” tukasnya.

Kepada orang tuanya di kampung, Amel mengaku kerja di pabrik. Itu ia lakukan agar pekerjannya tak ketahuan. “Kalau ketahuan bisa gawat,” tuturnya.

Amel awalnya bekerja sebagai TKW di Malaysia. Tahun 2007 silam, berbekal ijazah SMP ia berangkat ke negeri jiran itu sebagai pembantu rumah tangga. Setahun di Malaysia, ia berkenalan dengan seorang pria asal Flores. “Kami kemudian menikah dan punya satu anak,” katanya.

Amel dan suaminya kemudian mengadu nasib di Batam. Di sini mereka tinggal di Batubesar Nongsa. Suami Amel kerja di galangan kapal, Amel tinggal di rumah menjaga anak semata wayangnya. Dua tahun menikah, prahara menimpa keluarga Amel. Suaminya menuduhnya berselingkuh dengan pria lain. “Dia pergi ke Flores membawa putriku. Sampai ini hari nggak ada kabarnya,” tuturnya.

Sejak ditinggal suaminya, ia hidup tak tentu arah. “Saya pernah kerja di pub tapi gak betah,” katanya. Hingga kemudian kawannya memperkenalkan Amel ke seorang pengelola panti pijat. Amel diberi kursus pijat selama dua bulan.

Sekarang Amel tak lagi malu-malu. Setiap memijat tamu ia selalu menawarkan layanan seks. Jika tamunya bersikap dingin, ia tak sungkan-sungkan melepas pakaiannya. “Kalau sudah begitu, masak tak mau,” katanya tersenyum.

Lain lagi dengan Susi, 23. Wanita asal Malang, Jawa Timur itu tergiur menjadi pemijat karena ajakan teman-temannya di kampung yang terlebih dulu menjadi pemijat di Batam. Tiap bulan, temannya itu mengirimkan banyak uang ke keluarganya.

“Kalau pulang kawanku itu selalu bawa uang banyak, pakai perhiasan, bajunya bagus-bagus,” ujarnya.

Mantap dengan pilihannya itu, Susi berangkat ke Batam. Seluruh biaya perjalanan dari kampung ke Batam ditanggung pemilik panti pijat. Susi baru diminta mengganti biaya perjalanan setelah aktif bekerja. Pemilik panti langsung memotong komisi Susi.

Di Batam, Susi dilatih cara memijat selama satu bulan. Selepas itu, ia langsung bekerja. Awalnya, seperti Amel, Susi hanya mememberi pijatan biasa pada tamunya. Hingga kemudian, ada tamu yang protes karena Susi enggan memberi pijatan plus.

Oleh kawannya, Susi akhirnya diberitahu kalau panti pijat tempat mereka bekerja adalah panti pijat plus yang memberi layanan seks. Susipun diajari bagaimana cara menawarkan seks kepada para tamunya. Misalnya dengan memijat pada bagian-bagian sensitif agar tamunya itu terangsang.

Penghasilan dari layanan seks itu dirasakan Susi lebih tinggi daripada komisinya jika hanya memijat biasa. Kalau pijat biasa Susi hanya mendapatkan Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per jam, jika memberi layanan seks, Susi bisa mendapatkan Rp300 ribu per tamu.

“Kalau tidak seperti ini, darimana saya bisa ngirim duit orangtua,” ujar Susi.

Monik, 24, wanita asal Subang, Jawa Barat, juga sudah tak perawan lagi saat memutuskan menjadi tukang pijat di Batam. Ia terjebak pergaulan bebas. Selama berpacaran dengan ia berkali-kali berhubungan badan.

Continue reading

Mengintip Pijat Plus di Batam (Bagian 2)

Jika Ada Gadis di Sofa, Itu Plus-Plus

Alunan house music memekakkan telinga begitu masuk ke dalam PI Massage & Spa di kawasan Nagoya, Minggu (6/3) malam. Suasana ruangan pengap penuh asap rokok, cahayanya remang-remang. Lampu disko berputar-putar, membuat suasana panti itu mirip bar. Warna biru yang mendominasi dinding ruangan terlihat samar. Ada sertifikat berpigura ditempel di dinding, tanda kalau panti pijat itu memiliki izin resmi.

Baru saja Batam Pos membiasakan mata dengan kondisi di dalam ruangan, seorang pria warga Tionghoa menyambut. “Selamat datang Bos-bos kami ini. Kami merasa terhormat, Bos mau singgah di tempat kami. Kami tahu apa yang Bos-bos inginkan. Pastinya ladies-ladies kami akan men-servis Bos sampai puas,” katanya.

Belum sempat dijawab, pria itu kembali berbicara. Ia terampil, bak penjual berpengalaman. Panti pijatnya, katanya, menyediakan layanan plus. “Ladies-ladies kami muda-muda, di bawah 30 tahun. Silakan pilih,” katanya. A Chui, begitu pria itu dipanggil, menawarkan minuman.

Gadis-gadis yang ditawarkan A Chui sudah duduk di sofa abu-abu yang dipasang memanjang ke samping. Jumlahnya sekitar tujuh orang. Pakaian mereka serba minim, ketat dari paha sampai atas. Baju yang mereka kenakan hanya dikancing bagian tengah. Bagian atasnya dibiarkan terbuka. Bak menantang para tamu, mereka duduk sambil menyilangkan kaki, memperlihatkan pahanya yang mulus.

“Abang sayang, sini dong duduk di pelukan Aku. Tak rugilah, dijamin asyik lo.” Seorang gadis yang duduk di tengah menggoda, melambaikan tangannya.

Melihat Batam Pos tak tergoda, A Chui bangkit. Ia mengajak masuk ke dalam, melewati deretan para gadis tadi. “Yang tadi itu tarifnya Rp150 ribu per jam. Kalau mau yang lebih bagus, di dalam ada. Dijamin barang bagus. Ada yang Rp200 ribu, paling tinggi Rp250 ribu,” kata A Chui.

Di dalam, para gadis lain duduk melingkar di sofa berbentuk huruf U. Paras mereka lebih cantik. Namun dandanannya cukup sopan. Rata-rata mengenakan celana panjang dan t-shirt. Lampu berdaya 5 watt menerangi ruangan. “Duduk sini ajalah, Bang. Kalau di depan kurang asyik, di sini dijamin Abang pasti suka,” ujar mereka.

Batam Pos memilih gadis yang duduk di ujung sofa. Yessi, 22, namanya. Gadis itu berkulit kuning, berambut panjang dengan tahi lalat di atas bibirnya. “Abang langsung ke kasir aja. Baru kita naik ke atas ya,” ujarnya seraya berdiri mengantar ke meja kasir.

Tarif Rp200 ribu per jam harus dibayar di muka. Di depan kasir, Yessi masih minta dibelikan sebungkus rokok filter dan sekaleng soft drink. Begitu dibayar, Yessi langsung mengajak naik ke lantai dua. Di sini, suasananya juga remang-remang.

Sekitar 20 kamar berderet di kanan kiri. Rata-rata berukuran 3 x 2 meter. Di depan kamar terpampang tulisan besar-besar yang menyala dihiasi lampu warna merah bertuliskan, “Dilarang Berbuat Asusila”. Ternyata setiap kamar sudah ada pemiliknya. Yessi misalnya, menguasai kamar di paling ujung.

Usai menunjukkan kamarnya, Yessi menghilang. Kamar Yessi bersih dan wangi. Selain dilengkapi tempat tidur, di dalamnya juga terdapat kamar mandi. Aroma wewangian menusuk hidung, benar-benar tempat yang pas melepas kepenatan.

Yessi masuk kamar lima menit kemudian. Ternyata ia berganti pakaian. Celana panjang dibalut t-shirt yang tadi dikenakannya sudah dilepas, berganti daster tipis yang panjangnya selutut. Di balik daster, Yessi tak mengenakan apa-apa. Sepuluh menit memijat, Yessi melepas dasternya. Praktis, selama 50 menit Yessi memijat sambil telanjang bulat.

Yessi tak hanya melayani pemijatan di dalam panti. Tamu yang ingin membawa Yessi keluar bisa mem-booking dengan tarif Rp750 ribu. Itu diluar biaya hotel atau makan-minum yang diminta Yessi. Dari tarif Rp750 ribu itu, Yessi mendapat bagian Rp400 ribu. Sisanya menjadi milik panti pijat.

Pemandangan yang sama juga terlihat di salah satu panti pijat di kawasan pasar Siang Malam, Nagoya. Di panti pijat yang menempati ruko tiga lantai berjubel puluhan wanita berpakaian minim. Mereka duduk rapat di sofa di ruangan berukuran 6x 6 meter. Sebagian dari mereka tampak bersolek. Ada yang berkaca di cermin kecil miliknya, ada yang memoles lipstik di bibir. Beberapa di antaranya mempermainkan asap rokok putih ke langit-langit ruangan.

Continue reading

Mengintip Pijat Plus di Batam (Bagian 1)

Pijat Biasa Rp45 Ribu per Jam, Layanan Seks Rp100 Ribu

Dari luar panti pijat itu terlihat menawarkan pijat refleksi biasa. Pintunya kaca transparan, ditempeli gambar dan tulisan. Dua buah gambar telapak kaki beserta titik refleksinya ditempel di dua daun pintu.

Sekali pandang kita akan tahu panti pijat itu menawarkan pijat kesehatan. Informasi layanannya ditempel besar-besar di bagian pintu masuk. Ada pijat tradisional, pijat khas Thailand, lulur/body scrup, dan mandi susu.

Itulah panti pijat S Massage. Panti pijat itu menempati rumah toko, tiga lantai di kawasan Jodoh, tepat di belakang Diamond City Mall. Lokasinya tepat di tengah-tengah deretan ruko, di sampingnya banyak toko dan hotel-hotel melati.

Kesanalah, Senin (7/3) malam lalu, Batam Pos menuju. Begitu membuka pintu, pandangan langsung tertuju pada enam gadis berpakaian minim yang duduk di sofa, di bagian kanan pintu masuk. Seorang wanita di meja resepsionis mengumbar senyum. “Mau pijat, Bang?” sapanya.

Wanita berumur 35 tahun itu merangkap kasir. Dia menyodorkan katalog berisi tarif jasa pijat di sana. Untuk pijat satu jam tarifnya Rp50 ribu dan 1,5 jam bertarif Rp60 ribu. Belum sempat memilih, seorang lelaki bertubuh tegap menawarkan paket lengkap, Rp150 ribu per jam. “Lebih puas, ada mandi susunya,” tukas pria itu. Namun Batam Pos memilih pijat biasa, 1,5 jam.

Seorang lelaki lain mengantar ke kamar pemijatan, di lantai dua. Di sini, ada beberapa kamar, ukurannya kira-kira 3×2 meter. Kamar ini penerangannya temaram, dilengkapi kasur tipis yang langsung menempel lantai. Dindingnya kayu, tak berpintu, ditutup dengan kain. Ada tempat gantungan baju di dinding, tempat tamu bisa menggantung bajunya.

Begitu siap, seorang wanita muda berumur 24 tahun masuk ke dalam kamar. Monic, begitu ia menyebut namanya. Wajahnya manis, berkulit putih. Ia mengenakan celana pendek ketat, dan kaos oblong.

Saat pemijatan berlangsung 30 menit, Monic menggesekkan jari telunjuk pada betis. “Mau gak, Bang?”. Dia menawarkan pijat plus, layanan seks. Berapa tarifnya? “Rp300 ribu aja,” katanya.

Continue reading