seorang GHAZYAN dan sebuah blog

Beli Resmi, Nasib Seperti Rumah Liar

Oktober 10, 2009 · & Komentar

rumah di batam banyak yang berdiri di atas lahan hutan lindung

rumah di batam banyak yang berdiri di atas lahan hutan lindung

Ada sekitar 20 ribu unit rumah di Batam yang berdiri di atas lahan yang terindikasi hutan lindung. Pemiliknya membeli rumah itu resmi dan mendapat sertifikat, namun bank menolak sebagai agunan.

Destina, 36, warga Citra Pandawa Asri, Buliang, Batuaji, bermaksud membeli rumah lagi. Ia tertarik promosi sebuah perumahan baru di kawasan Tembesi, Sagulung. Lokasinya strategis, dekat dengan pusat perbelanjaan yang kini sedang dibangun.

Namun, semua ketertarikannya itu tak membuatnya langsung mengambil keputusan. Ia was-was dan ragu. Ia kuatir, perumahan baru itu berdiri di atas hutan lindung, seperti perumahan Citra Pandawa Asri yang kini ditempatinya. Karena itu, ia harus lebih cermat dalam memilih rumah. Pengalaman para tetangga dan teman-temannya, yang membeli rumah di atas lahan hutan lindung membuatnya berhati-hati.

“Takut ada masalah lagi nantinya,” katanya, Selasa siang pekan lalu. Kepada Batam Pos, ia menanyakan status lahan perumahan itu. “Perumahan baru yang di sana itu, masuk hutan lindung gak ya. Saya mau beli, takut kasus lagi,” tuturnya.

Perumahan Citra Pandawa Asri termasuk salah satu perumahan yang sebagian besar rumahnya berdiri di atas lahan yang terindikasi hutan lindung. Beberapa di antaranya, yang lebih dekat ke arah jalan raya dan jalur hijau, bebas dari kawasan hutan lindung, termasuk rumah Destina di Blok F.

“Untung rumah saya tak masuk kawasan hutan lindung. Tetangga saya yang di sebelah ini, sertifikatnya sudah keluar, bank mau menerima,” ujarnya menunjuk sebuah rumah di sebelah rumahnya.

Jika rumah Destina bebas masalah, deretan rumah di Blok H termasuk yang sampai sekarang statusnya berdiri di atas lahan yang terindikasi hutan lindung. Seperti milik Sutarman, 39, dan Rita, 34, di Blok H7-23 dan H7-22. Rumah itu sudah mereka tempati sejak tahun 2001, dan baru ketahuan berada di atas lahan hutan lindung tahun 2007, lalu.

Saat itu, sejumlah tetangga Sutarman yang hendak mengangunkan sertifikat rumahnya ditolak bank. Penyebabnya, bank tau mau ambil resiko karena menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN) rumah itu berdiri di atas lahan yang terindikasi hutan lindung. Kasus itu tak hanya dialami sebagian warga Citra Panadawa Asri, sejumlah warga Perumahan Mukakuning Indah, juga mengalami hal yang sama.

Warga Citra Pandawa Asri sempat membuat Forum 10, yang antara lain dibentuk untuk mencari solusi permasalahan rumah di atas lahan hutan lindung itu. Forum ini, pernah mendatangi BPN mencari kejelasan rumah mana saja yang berada di lahan hutan lindung. Dari situ, ketahuan sebagian rumah di Citra Pandawa Asri, Mukakuning maupun Pandawa, berada di lahan bermasalah.

Tapi setelah dua tahun berlalu, Sutarman tak lagi merasa kuatir. Rasa was-was yang dulu sempat menyergap, tak ia rasakan lagi. “Rumah yang berdiri di atas hutan lindung jumlahnya ratusan, bukan cumah rumah saya ini. Ngapain lagi takut, tak mungkin berani gusur,” katanya.

Sutarman sudah hampir sembilan tahun menempati rumah tipe 21 miliknya itu, dan setahun lagi bakal lunas kreditnya. Ia tak kuatir, meski bisa jadi setelah sertifikat rumahnya terbit nanti, tak bisa diagunkan. “Yang penting bisa ditempati.”

Rita pun demikian. Ia mengaku tak lagi takut seperti dulu. “Rumah liar aja tak berani digusur, apalagi rumah kami yang belinya resmi,” tukasnya.

Rita termasuk warga yang terus mengikuti perkembangan berita soal nasib perumahannya itu. Termasuk pernyataan Kepala BPN Batam, kalau Oktober ini akan ada kejelasan soal status lahan rumah yang berdiri di kawasan hutan lindung.

“Saya berharap masalah ini selesai, rumah kami bukan di hutan lindung lagi,” katanya.

Menurut Novrizal, Ketua RW III Buliang, Batuaji, saat ini masalah rumah di hutan lindung tak lagi jadi pembicaraan warganya. Meski dua tahun lalu sempat menyulut keresahan, kini warga sudah menganggap hal biasa.

Meski tak bisa diagunkan di bank, katanya, bukan berarti rumah warga Pendawa Asri yang berdiri di hutan lindung itu tak bernilai. Buktinya, rumah-rumah itu masih banyak peminatnya, terutama untuk dijadikan tempat indekos.

“Di sini lokasinya strategis, penduduknya padat. Kalau ada yang jual, langsung laku kayak kacang goreng,” tutur wartawan televisi, itu.

Penantian warga bisa jadi tak akan berlarut-larut jika apa yang diungkapkan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Batam Isman Hadi berbuah kenyataan. Senin pekan lalu, usai upacara peringatan Hari Agraria Nasionel ke-49 di kantor BPN Batam di Sekupang, Isman Hadi mengatakan masalah sertifikat perumahan di atas lahan hutan lindung Batam, dipastikan selesai Oktober 2009.

“Sudah ada kesepakatan dari pusat harus disegerakan sebelum kabinet Indonesia Bersatu SBY-JK berakhir pada akhir Oktober nanti,” ujarnya, kepada para wartawan yang mengerumuninya.

Prosesnya, katanya, dimulai dari Departemen Kehutanan (Dephut), kemudian BPN pusat akan mengirimkan salinan resmi perubahan status lahan ke Otorita Batam dan berujung ke BPN Batam. “Setelah dilanjutkan ke kita, maka status sertifikasi lahan tidak tertahan lagi, kita akan segera mengeluarkannya kepada pengembang atau pun kepada warga sebagai konsumen perumahan,” katanya.

Sepekan setelah peringatan hari Agraria Nasional itu berlalu, kabar baru dari BPN belum terdengar lagi. “Masalah perumahan di hutan lindung belum ada perkembangan. Masih begitu,” kata M Tamsil, Kabag Tata Usaha BPN Batam.

OB, pihak yang mengalokasikan lahan-lahan itu kini juga bersikap menunggu. Menurut Kasubbag Humas Biro Pemasaran dan Humas Batam Dendi Gustinandar, OB sudah melakukan banyak langkah untuk memproses alih fungsi lahan perumahan di hutan lindung itu agar menjadi pemukiman. Di antaranya mengirimkan surat dan memenuhi semua persyaratan alih fungsi ke Departemen Kehutanan, seperti menyiapkan hutan pengganti. Tim independen dari Departemen Kehutanan juga sudah turun ke Batam.

“Semua sudah kita lakukan untuk mempercepat proses alih fungsi ini. Sekarang seperti BPN, kami berharap masalah ini selesai Oktober ini,” kata Dendi.

Mengapa kasus ini bisa terjadi, Dendi tak memberi jawaban. “Sekarang bagaimana kita menatap ke depan. OB sudah berusaha agar masalah ini cepat tuntas dan masyarakat yang memiliki rumah di atas lahan hutan lindung merasa lega,” tuturnya.
***
Masalah pertanahan di Batam, menurut praktisi hukum Batam Ampuan Situmeang, sudah dimulai sejak tahun 1984 atau di awal-awal pengelolaan pulau ini oleh Otorita Batam. Saat itu, mengacu pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Kehutanan, OB menjadikan kawasan Batam sebagai kawasan hutan.

Saat itu, aturan di Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 itu cukup fleksibel. Perubahan kawasan hutan menjadi kawasan pemukiman, bisnis maupun pusat pemerintahan tak perlu proses panjang. Hingga kemudian, terbitlah Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Di undang-undang ini, aturan alih fungsi hutan cukup pelik. Ada embel-embel harus atas persetujuan DPR.

Inilah yang kemudian menjadi masalah. Sebagian besar lahan hutan lindung yang sudah dialokasikan OB ke pengembang sebagai pemukiman dan pusat bisnis, bahkan di atasnya sudah berdiri puluhan ribu unit rumah, ternyata pengalihan fungsinya belum disetujui pemerintah dan DPR. Jadilah, rumah-rumah itu, meski sebagian sudah bersertifikat, masih terindikasi berdiri di atas lahan hutan lindung.

“Kok bisa, terbit HPL (hak pengelolaan lahan) dan HGB (hak guna bangunan) di atas hutan lindung,” kata Ampuan.

Yang lebih mengherankan lagi, kata pengacara kondang itu, sertifikat yang sudah dikeluarkan BPN, kok tiba-tiba tak bisa dipakai sebagai agunan. Bank menolak karena bisa jadi BPN enggan mendaftarkan hak tanggungan sertifikat itu. Padahal, BPN ikut melakukan pengukuran dan yang mengeluarkan sertifikat. “Apakah sertifikatnya bodong,” tanyanya.

Kasus ini, kata Ampuan tak hanya merugikan konsumen tapi juga merugikan negara. Pemilik rumah dan developer dirugikan karena rumah mereka tak bisa jadi agunan. Negara juga rugi, karena hutan negara dijadikan pemukiman.

“Tapi, di Batam memang luar biasa. Di tempat lain, kasus alih fungsi bisa menyeret pelakunya ke penjara. Bahkan di Bintan pun ada yang masuk, kok Batam gak,” tukasnya.
***
Loket pengajuan permohonan lahan di samping kiri tangga utama lantai dua gedung Otorita Batam, itu sepi. Kamis siang pekan lalu, dua orang terlihat keluar, setelah meninggalkan berkas di map warna biru.

Di sisi kanan tangga utama, sebuah pengumuman tentang tata cara dan persyaratan administrasi pengajuan permohonan lahan ke OB, dipampang. Pengumuman itu menerangkan secara jelas tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi seseorang, badan usaha atau yayasan jika hendak meminta alokasi lahan ke OB.

Untuk perorangan, harus memenuhi syarat administrasi antara lain mengisi surat permohonan, form daftar isian, form surat pernyataan, foto kopi KTP/KK dan alamat korespondensi. Semua persyaratan administrasi itu diajukan dalam map warna hijau.

Berbeda dengan perorangan, untuk perusahaan, koperasi dan yayasan, persyaratan administrasinya lebih banyak. Antara lain mengisi surat permohonan, form daftar isian, form surat pernyataan, foto kopi akta pendirian perusahaan/yayasan/koperasi yang disahkan Dephuk dan HAM, mengajukan proposal rencana pengajua lahan, foto kopi rekening koran 3 bulan terakhir, foto kopi laporan keuangan perusahaan 2 tahun terakhir, foto kopi NPWP, foto kopi SIUP, pengalaman yang sudah dilaksanakan sesuai bidangnya, alamat korespondensi dan melampirkan progres pembayaran UWTO dan pembangunan fisik lahan di lokasi sebelumnya bagi yang sudah pernah mendapatkan lahan. Semua persyaratan dimasukkan dalam map. Map warnah merah untuk perusahaan, map warna kuning untuk koperasi dan map warnah biru untuk yayasan.

Jika tak memenuhi syarat, permohonan akan ditolak. “Jika disetujui, baru nanti akan ada tagihan pembayaran UWTO,” kata Dendi Gustinandar, Kasubbag Humas Biro Pemasaran dan Humas OB.

Pengajuan lahan disetujui OB, urusan lahan belum tentu langsung beres. Sejak kasus perumahan di hutan lindung muncul tahun 2007, menurut Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Khusus Batam Mulia Pamadi, pengembang yang mendapatkan alokasi lahan tak serta merta melakukan pembangunan. Mereka mengecek dulu lahan tersebut ke BPN agar jangan sampai mendapatkan alokasi di kawasan yang terindikasi hutan lindung.

“Ada dua hal yang harus dicek kembali, pertama ada HPL-nya atau tidak, kedua lahannya terindikasi di hutan lindung atau tidak,” kata Mulia di kantornya di kawasan Taman Baloi, Rabu pekan lalu.

Sejak kasus itu mencuat, kata Mulia, REI mensosialisasikan sekaligus mengimbau anggotanya agar jangan melakukan pembangunan di lahan-lahan yang terindikasi hutan lindung. Bagi yang sudah terlanjur membangun atau menjual ke konsumen, REI menyerahkannya ke masing-masing pengembang karena berkaitan dengan hak-hak konsumen dan implikasi hukum lainnya.

“Pengembang tak bisa asal bangun, bisa-bisa rugi karena bank tak mau KPR jika lahannya terindikasi hutan lindung. Bagi yang sudah terlanjur, solusinya kami serahkan ke masing-masing pengembang,” tukasnya.

Data yang diperoleh Batam Pos, ada sekitar 20 titik HPL yang terindikasi masuk kawasan hutan lindung atau wisata. Seperti masuk ke kawasan hutan lindung Batuampar, hutan wisata Mukakuning, hutan lindung Bukit Dangas, hutan lindung Seiladi, hutan lindung Tiban, hutan lindung Baloi dan lainnya.

“Sekitar 20 ribu unit rumah terindikasi masuk kawasan hutan lindung,” katanya.

REI, kata Mulia, tak berpangku tangan. Bersama OB, BPN dan pihak terkait lainnya, mereka berupaya agar kasus perumahan di hutan lindung itu bisa diselesaikan. Tak hanya sebatas di Batam, kasus ini menggelinding ke pusat. DPP REI turun tangan, bahkan Ketua Umum DPP REI Teguh Satria meminta segera ada payung hukum masalah tersebut karena ternyata kasus yang sama juga banyak terjadi di tempat lain, seperti di Kalimantan.

“Mudah-mudahan masalah ini benar-benar selesai Oktober ini. Kami sangat berharap itu terjadi agar pertumbuhan properti di Batam tumbuh baik,” tukasnya.

Sepanjang tahun 2000 hingga 2005, pertumbuhan properti di Batam sangat cepat jika dibandingkan kabupaten/kota lain di Kepri. Setiap tahun, berdiri sekitar 10 ribu hingga 12 ribu unit rumah. Selain karena pertumbuhan penduduk yang tinggi, sektor properti ini juga didukung ketersediaan air dan listrik yang memadai.

Tahun 2006-2007, pembangunan perumahan mulai tersendat. Ada masalah HPL yang membuat sejumlah perumahan tersendat sertifikatnya, kemudian berlanjut dengan munculnya kasus perumahan di atas lahan yang terindikasi hutan lindung. “Turun, kira-kira di bawah 10 ribu unit per bulan,” kata Mulia.

Kemudian berlanjut dengan krisis ekonomi global di tahun 2008. Saat itu, suku bunga tinggi dan bank memperketat persetujuan KPR. Di awal 2009, suku bunga masih tinggi sekitar 12 hingga 13,5 persen.

“Namun di semester kedua 2009 ini sudah ada tanda-tanda bisnis properti akan membaik. Sejumlah pengembang melakukan terobosan dan bekerja sama dengan pengembang memberi subsidi agar bunga bisa ditekan di bawah 10 persen.”

Mulia optimis, jika masalah perumahan di hutan lindung ini selesai, bisnis properti di Batam akan kembali bergairah di tahun 2010. Ia melihat banyak indikator, seperti adanya tren penurunan suku bunga, kurs rupiah yang stabil, adanya FTZ dan Visit Batam 2010.

“Semua indikator-indikator ini memberi nilai positif. Tahun 2010 harusnya lebih baik, mudah-mudahan tak meleset,” katanya. ***

→ 2 CommentsKategori: Batam

Lahan Basah Bisnis Pengamanan di Batam

Oktober 10, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

k9 jugaSeiring dengan makin berkembangnya Batam, usaha jasa pelayanan keamanan juga tumbuh cepat. usaha jasa keamanan itu, tak hanya menyalurkan sekuriti, tapi juga melayani pengawalan pribadi hingga konsultan keamanan.

Anjing hitam legam itu berbadan tegap. Tingginya kira-kira sekitar 70 centimeter. Mulutnya terbuka, lidahnya terus menjulur. Anjing jenis gembala jerman itu tak menyalak, tapi tak berhenti bergerak.

“Sit.” M Al Ichsan, Direktur PT Lintas Aman Nusantara, memberi perintah. Anjing itu tiba-tiba duduk. Sebentar duduk ia bergerak lagi. Ichsan kembali memberi aba-aba, “Stay.” Baru kemudian anjing besar itu duduk anteng.

“Ini anjing pelacak narkoba,” tutur Ichsan, Rabu pekan lalu.

Anjing kedua bentuk fisiknya lebih ramping namun elegan. Tubuhnya licin, hampir tanpa bulu. Ekornya pendek. Daun telinganya di sebelah kiri dipotong, memberi kesan angker. Inilah anjing dobermann yang terkenal sebagai anjing pemburu. Mulutnya terus terbuka dengan lidah terjulur, memperlihatkan dua taring tajam di sisi kanan dan kiri deretan giginya.

“Kalau yang ini anjing pembubar demo. Namanya Flinch. Jika sudah dilepas, anjing jenis ini tak akan berhenti menyerang kalau tak sampai mati.”

Dua anjing tadi merupakan dua dari 19 ekor K9 atau biasa disebut anjing pelacak milik PT Lintas Aman Nusantara, sebuah perusahaan jasa layananan keamanan di Kepri yang berkantor di Tiban Centre, Sekupang.

PT Lintas Aman Nusantara memiliki tiga anjing pelacak narkoba, satu pelacak bom, dua anjing pelacak umum, tiga anjing pembubar demo dan sepuluh anjing penjaga. Anjing-anjing K9 itu ditempatkan khusus dengan perawatan dan penjaga yang juga khusus.

“Satu anjing dijaga dua dog holder,” kata Ichsan.

Anjing-anjing terlatih itu sering ikut operasi kepolisian. Polda Kepri maupun Poltabes Barelang sering menggunakan anjing-anjing milik PT Lintas Aman Nusantara tersebut dalam setiap operasi khusus, seperti operasi seligi atau lainnya. “Kalau untuk kepolisian, kami pinjamkan gratis,” ujar Ichsan.

PT Lintas Aman Nusantara termasuk satu-satunya perusahaan jasa pengamanan di Kepri yang memiliki K9. Anjing jenis ini butuh perawatan khusus. Makanannya misalnya, daging kering campur kornet sapi dan seminggu sekali diberi daging mentah.

Asal usulnya terjaga, semua ada sertifikatnya. “Bahkan pernah ditawar Rp150 juta, tapi saya tak kasih. Anjing yang sudah terlatih, bagi saya lebih penting dibanding uang,” katanya.

***
Menyediakan K9 hanyalah satu dari sejumlah layanan keamanan PT Lintas Aman Nusantara. Mereka menyediakan alat-alat pengamanan seperti CCTv, alarm, metal detector dan lainnya, menyalurkan tenaga sekuriti, melakukan security detector semacam konsultan keamanan untuk perusahaan yang hendak buka usaha, dan close guard atau pengawalan pribadi.

“Kami pernah mengawal miss universe 2006, 2007, dan 2008,” tukas Ichsan.

Band-band terkenal dunia semacam Scorpion dan Deep Purple yang manggung di Bali sempat merasakan amannya dijaga pengawal-pengawal PT Lintas Aman Nusantara. Ketua Umum DPP PAN Sutrisno Bachir saat datang ke Batam juga dikawal PT Lintas Aman Nusantara.

“Bahkan sejumlah mantan menteri pernah kami kawal.” Siapa saja menteri yang pernah meminta pengawalan? “Itu rahasia kami,” kata Ichsan, tersenyum.

PT Lintas Aman Nusantara berdiri di Batam tahun 2008 lalu. Berkantor di Tiban Centre, menempati tiga ruko berlantai tiga. Tak sulit menemukan kantornya, ada puluhan bendera merah putih tertancap di sekitar kantor mereka.

Ini perusahaan pengamanan baru di Batam, namun nama mereka sudah terkenal karena sebelumnya sudah bertahun-tahun beroperasi di Bali. Pengawalan Scorpion dan sejumlah mantan menteri itu, dilakukan perusahaan milik Ichsan yang beroperasi di Bali dengan nama PT Lintas Aman Dewata.

Awalnya, menurut Ichsan, ia tergerak mendirikan perusahaan jasa pengamanan setelah terjadinya bom bali tahun 2002. Bom bali I itu, katanya, benar-benar menggoncang perekonomian Bali, sehingga muncul ide untuk ikut serta melakukan pengamanan.

Tahun 2003, ide itu terwujud dengan pendirian PT Lintas Aman Dewata. Ichsan merekrut orang-orang profesional di bidang pengawalan dan pengawalan. “Bahkan ada seorang mantan pengawal Sultan Bolkiah yang bekerja pada kami,” katanya sambil memperlihatkan foto pria asing bertubuh tegap.

Tahun 2008, Ichsan melebarkan sayap usahanya ke Kepri. Lalu, tahun ini ia kembali membuka usaha jasa pengamanan di Bandung dengan nama PT Lintas Aman Siliwangi.

Ichsan mengaku bisnis jasa pengamanan memiliki prospek yang bagus. Terbukti dengan banyaknya perusahaan di bidang yang sama bermunculan di Kepri. Mulai dari yang hanya menyalurkan tenaga sekuriti, hingga yang menyediakan alat-alat pengamanan seperti PT Lintas Aman Nusantara.

“Namun tujuan saya mendirikan perusahaan ini bukan semata-mata mengejar profit oriented. Tapi lebih bagaimana mengabdikan diri kepada negara dalam bidang keamanan seperti ini,” ujarnya.

Usahanya di bidang penyaluran tenaga sekuriti, misalnya, ia anggap sama sekali tak memberi keuntungan. “Saya ambil untung di pelayanan alat keamanan dan lainnya,” tukasnya.

Meski begitu, PT Lintas Aman Nusantara sudah melayani 32 perusahaan di Batam dan 99 persen di antaranya merupakan perusahaan modal asing (PMA). Seperti di kawasan Latrade Industri Tanjunguncang beserta tenan-tenan di dalamnya, Batamindo Investment Cakrawala, mini marker Circle-K, PT Global Process System dan lainnya.

“Hampir 99 persen yang klien kami adalah perusahaan asing,” katanya.

PT Sergap 17 juga sudah lama menikmati kue usaha di bidang jasa pelayanan keamanan ini. Perusahaan yang didirikan Mayor SS ini berdiri sejak tahun 2003 silam. PT Sergap 17 melayani penyaluran tenaga sekuriti dan pengawalan pribadi.

Saat ini, perusahaan yang berkantor di Perumahan Griya Nusa Permai Batam Centre ini melayani jasa pengamanan di 28 perusahaan dengan jumlah sekuriti sekitar 400 orang. Kliennya rata-rata perusahaan asing, terutama di kawasan shipyard Tanjunguncang, seperti PT Marcopolo, Global Asia Pasific, atau Schineider, Hyundai dan lainnya.

PT Sergap 17 juga menjaga Harmoni, Hotel Tites dan BCS Mall. “Yang bukan PMA mungkin cuma pasar Penuin,” kata Mayor.

Jauh sebelum mendirikan PT Sergap 17, Mayor sudah berkecimpung di dunia pengamanan sejak tahun 1994. Saat itu ia memiliki CV Tiga Brothers, yang juga bergerak di bidang pengamanan. Kliennya saat itu perusahaan-perusahaan di Batamindo.

Tahun 1999, Mayor menutup usahanya karena saat itu pengamanan oleh swasta ditutup. “Baru kemudian buka lagi tahun 2002 berdasarkan Skep Kapolri,” ujarnya. Kini, Sergap 17 mengantongi izin Mabes Polri.

Tak hanya menyalurkan tenaga sekuriti ke perusahaan-perusahaan, PT Lintas Aman Nusantara juga melayani pengawalan pribadi. Artis seperti Sheila on 7 atau Uut Permatasari yang manggung di Batam pernah mereka kawal.

PT Sergap 17 juga melayani pengawalan dengan jangka waktu tertentu. Seperti menjaga rumah selama ditinggal mudik penghuninya, atau melakukan pengawalan beberapa hari saja. “Asal cocok harganya, kami kawal,” tutur Mayor.

Dengan banyak klien seperti itu, usaha jasa layanan keamanan di Batam tentu saja sangat menjanjikan. Dengan 400 sekuriti dan 28 klien, tentu saja uang ratusan juta rupiah mengalir setiap bulannya.

“Usaha di bidang ini memang cukup menjanjikan, namun berapa besarnya saya tak bisa sebut. Cukuplah untuk menggaji pegawai dan sekuriti, menyekolahkan anak sama biaya operasional,” tukas Mayor.

Meski menawarkan layananan keamanan, tak semua tawaran masuk diterima PT Sergap 17. Beberapa permintaan mereka tolak karena tak cocok harganya. “Saya tak mau menyengsarakan anggota saya di lapangan. Kalau tak cocok dengan standar kami, saya tolak,” ujar wakil ketua Asosiasi Manager Sekuriti Indonesia (AMSI) Batam, itu.
***
Selain menguntungkan, banyaknya usaha jasa pengamanan di Kepri tentu saja membantu kerja kepolisian. Namun, diperkirakan masih banyak badan usaha jasa pengamanan di Kepri ini yang belum berizin. Padahal, sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 24 Tahun 2007 tentang Sistem Manajemen Pengamanan Organisasi, Perusahaan dan atau Instansi/Lembaga Pemerintah, semua BUJP itu harus mengantongi izin Mabes Polri, setelah sebelumnya mengantongi rekomendasi Polda.

Sesuai data di Biro Bina Mitra Polda Kepri, ada 32 BUJP di Kepri yang terdaftar. “Kami akan pantau terus untuk mencari yang BUJP yang tak terdaftar itu,” kata Karo Bina Mitra Polda Kepri Kombes Riky F Wakanno.

Dari 32 BUJP tersebut, jumlah tenaga sekuriti yang terdaftar sebanyak 1.997 sekuriti. Di luar itu, ada 4.066 sekuriti lain yang bekerja. Mereka ini, misalnya bekerja langsung lewat perusahaan tanpa melalui BUJP.

Dari jumlah 4.066 sekuriti, sebanyak 3.392 di antaranya belum mendapatkan pendidikan. Hanya 667 sekuriti yang mendapatkan pendidikan Gada Pratama, 5 orang mendapatkan pendidikan Gada Madya bahkan hanya dua orang sekuriti di Kepri yang mendapatkan pendidikan Gada Utama.

Dengan begitu, rata-rata kemampuan sekuriti di Kepri sangat rendah. Kemampuan Gada Pratama saja, sebagai kemampuan dasar untuk menjadi sekuriti, banyak tak dimiliki oleh ribuan sekuriti. “Seorang sekuriti minimal harus memiliki kemampuan Gada Pratama,” tukas Riky.

Dulunya, pelatihan sekuriti banyak dilakukan di Poltabes Barelang. Namun, seiring munculnya Peraturan Kapolri Nomor 24 Tahun 2007, pelatihan dilakukan Mabes Polri dalam hal ini Polda Kepri. Sekuriti yang dulunya mengantongi kartu putih, diminta kembali ikut pelatihan di Polda Kepri untuk mengantongi KTA warna biru.

“Saya mewarning sampai Desember 2009 ini, yang punya kartu putih agar beralih ke KTA biru,” ujarnya.

Riky menjamin sistem ini akan membuat para sekuriti lebih bagus masa depannya. “Kalau sudah memiliki kemampuan minimal Gada Pratama, seorang sekuriti bisa bekerja di mana saja,” tukasnya.

Polda Kepri, kata Riky, sudah beberapa kali melakukan penertiban ke lapangan. Bulan Juli lalu misalnya, ada 14 perusahaan yang didatangi polisi, dan rata-rata melakukan pelanggaran dalam pelaksanaan pengamanan. Ada perusahaan yang merekrut sekuriti tanpa pelatihan, ada juga yang tak mengikutsertakan sekuritinya sebagai anggota Jamsostek sampai soal seragam yang tak sesuai aturan.

“Saya imbau kepada para BUJP ini agar dalam perekrutan dan penyaluran tenaga sekuriti agar sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 24 Tahun 2007 itu. Kalau tidak, akan dibekukan izinnya,” kata Ricky.

Sekuriti, kata Ricky, bukanlah centeng atau pesuruh yang bisa disuruh melakukan apa saja. “Sekuriti itu melakukan kewenangan kepolisian tertentu di lingkungan kerjanya. Karena itu, sekuriti harus meningkatkan kemampuannya agar mahir dan terpercaya. BUJP juga harus memperhatikan kesejahteraan mereka,” katanya. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Yang Pergi Meninggalkan Utang

September 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hingga berakhir masa tugasnya, banyak anggota DPRD enggan mengembalikan tunjangan komunikasi intensif dan belanja penunjang operasional pimpinan DPRD.

Surat itu tipis, hanya satu lembar. Awal Februari, tujuh bulan lalu, surat itu banyak tergeletak di meja para anggota DPRD Batam. Isinya, mengingatkan agar mereka yang belum mengembalikan atau mencicil tunjangan komunikasi intensif dan belanja penunjang operasional pimpinan, segera melunasinya, sebulan sebelum masa tugas mereka berakhir.

Menteri Dalam Negeri, dalam edarannya bernomor 700/08/SJ tertanggal 5 Januari 2009, seperti yang tercantum dalam lampiran surat itu mengancam akan membawa masalah pengembalian tunjangan komunikasi ke penegak hukum jika para anggota Dewan itu tak mengembalikannya tepat waktu.

“Surat itu saya kirim tak hanya kepada anggota Dewan yang masih aktif, kepada yang sudah diganti karena PAW, juga sudah saya surati,” kata Guntur Sakti, Sekretaris DPRD Batam, pengirim surat. Masing-masing anggota DPRD Batam mendapatkan rapelan tunjangan komunikasi sekitar Rp64 juta.

Namun, hingga tenggat waktu terlewati masih banyak yang enggan mengembalikan. Bahkan, hingga seminggu sebelum masa tugas mereka berakhir, pundi-pundi daerah dari pengembalian tunjangan komunikasi dan operasional pimpinan itu belum juga terpenuhi.

Padahal, pemerintah sudah mengeluarkan aturan jauh-jauh hari. Tahun 2007, sebulan setelah muncul unjuk rasa dan penolakan pemberian rapelan tunjangan komunikasi kepada para anggota DPRD, pemerintah mengeluarkan PP Nomor 21 Tahun 2007 pengganti PP Nomor 37 Tahun 2006 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan DPRD, yang mewajibkan dana itu dikembalikan lagi. Bahkan kemudian disusul keluarnya Peraturan Mendagri Nomor 21 Tahun 2007.

Ada yang segera mengembalikan, ada juga yang enggan. Yudi Kurnain, anggota Komisi II DPRD Batam, termasuk yang anteng-anteng saja menyikapi perintah itu. Sampai pekan lalu, ia belum juga mencicil sesen pun.

“Saya akan melaporkan penggunaan dana itu, bukan mengembalikan,” tukasnya.

Yudi meyakini menggunakan rapelan tunjangan komunikasi itu pada tempatnya, yakni untuk berkomunikasi dengan konstituen dan masyarakat. Begitu menerima dana itu, November 2006, ia langsung menggelar dialog buruh. Hampir seluruh dana Rp64 juta ia habiskan untuk acara tersebut.

“Ya, untuk doorprize, sewa tempat, iklan di media, konsumsi dan lainnya. Pokoknya saya gunakan untuk acara dialog buruh,” tukasnya.

Kalau disuruh mengembalikan, kata Yudi, ia akan melaporkan penggunaan dana itu. Semua arsip dialog buruh itu, disimpan Yudi dengan rapi. “Dana itu bukan untuk ditabung tapi diperintahkan untuk digunakan berkomunikasi dengan konstituen. Saya tak melanggar aturan,” tuturnya.

Di DPRD Batam Yudi termasuk anggota Dewan yang vokal. Saat hampir semua anggota Dewan menutup mulut telah menerima rapelan itu, Yudi lantang mengaku sudah menghabiskannya. Yudi pula yang pertama kali mengaku menerima dana itu, padahal para anggota Dewan lainnya tak ada yang mau mengakuinya.

Anggota Komisi III Edward Brando juga belum mencicil. “Duitnya sudah habis,” katanya.

Edward menggunakan rapelan tunjangan komunikasi itu untuk membeli motor cross dan alat band. Motor cross itu, kata Edward, ia gunakan bersama teman-temannya sesama pembalap. Alat bandnya banyak dimanfaatkan warga untuk kepentingan kenduri dan semacamnya, tentu saja gratis. Sebagian dana juga digunakan untuk sumbangan dan potong sapi.

“Itulah cara saya berkomunikasi karena di situlah konstituen saya berada. Kalau diminta dikembalikan, nanti saya antar motor sama alat band itu ke Sekwan,” tukasnya.

Abdul Karim, anggota Komisi I, belum mencicil sesen pun. “Saya belum punya duit. Nanti kalau punya duit pasti saya bayar,” katanya. Karim enggan bercerita digunakan untuk apa rapelan tunjangan komunikasi Rp64 juta itu. “Takut hilang pahala saya.”

Wakil Ketua Komisi III M Zilzal, belum melunasinya. Saat menerima dana rapelan itu November 2006 silam, kata Zilzal, lebih dari separuhnya digunakan partainya. Separuhnya lagi ia gunakan untuk kepentingan konstituennya. “Ada juga yang saya gunakan, tapi sedikit,” ujarnya. “Sampai saat ini saya terus nyicil, cuma belum lunas saja.”

Sukhri Farial, mantan anggota DPRD Batam, termasuk yang melunasi separuhnya. “Saya masih menunggu perkembangan. Kalau disuruh melunasi, akan saya lunasi. Kalau tidak, saya akan tarik lagi dana itu,” tutur calon anggota DPRD Kepri terpilih, itu.

Masih banyaknya anggota Dewan yang belum melunasi tunjangan komunikasi itu, membuat Mendagri patah arang. Ia mengeluarkan kembali surat bernomor 555/3032/SJ tertanggal 18 Agustus, yang salah satunya menyatakan poin ketiga surat bernomor 700/08/SJ tentang ancaman pelimpahan ke penegak hukam bagi anggota Dewan yang belum melunasi tunjangan, tidak berlaku. Surat itu ditujukan Mendagri Mardiyanto ke gubernur, bupati/walikota se-Indonesia.

Usai keluarnya surat itu, keesokan harinya, Kamis pekan lalu, dalam rapat paripurna khusus Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Mardiyanto menyatakan permasalahan tunjangan komunikasi itu akan diselesaikan setelah Depdagri memetakan masalah itu, sambil menunggu proses judical review PP Nomor 21 Tahun 2007. “Termasuk mengkaji kemungkinan adanya perubahan PP Nomor 21 Tahun 2007.”

***
Sekretaris DPRD Batam Guntur Sakti mencatat, hingga sepekan sebelum masa baktinya berakhir, baru 32 anggota DPRD Batam yang mengembalikan tunjangan komunikasi intensif itu. “Total yang masuk ke kas daerah Rp947-an juta, dari yang seharusnya Rp2,276 miliar.”

Seperti Batam, para anggota DPRD Kepri juga banyak yang belum melunasi pengembalian tunjangan komunikasi dan operasional pimpinan itu. Sampai pertengahan bulan Agustus, dari 45 anggota Dewan baru 21 orang yang melunasi.

Yang lain baru mencicil. Termasuk Ketua DPRD Kepri Nur Syafriadi, dan dua Wakil Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak dan M Nabil. “Baru 21 anggota yang melunasi, yang lain masing mengangsur,” kata Sekretaris DPRD Kepri Abdurrachman.

Menurut Abdurrahman, total uang tunjangan komunikasi yang telah dilunasi para anggota Dewan provinsi itu sebesar Rp2,6 miliar. Masih Rp1,46 miliar lagi yang harus dilunasi. Itu belum termasuk Biaya Operasional Pimpinan sebesar Rp379 juta yang juga harus dilunasi Nur Syafriadi, Jumaga dan Nabil.

Nur Syafriadi mengakui belum melunasi kewajibannya itu.  “Utang saya itu keseluruhan Rp280-an juta. Bukan sedikit, mana sanggup saya langsung lunasi. Apalagi uang sudah banyak habis untuk kampanye,” tukasnya.

Yang tak meninggalkan utang malah para anggota DPRD Bintan. Beranggotakan 25 orang, DPRD Bintan termasuk yang taat aturan. Mereka melunasi pengembalian dana tunjangan komunikasi itu sejak April lalu.

“(Para anggota DPRD Bintan) sudah seluruhnya melunasi kembali dana tunjangan komunikasi itu sejak April lalu,” kata Sekretaris DPRD Bintan Agusnawarman .
****
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tak tinggal diam. Dalam laporan hasil pemeriksaan atau audit BPK terhadap APBD-APBD kabupaten/kota dan provinsi, BPK menyatakan ada pelanggaran dalam pengembalian tunjangan komunikasi intensif dan belanja penunjangan operasional pimpinan itu. BPK memerintahkan dana itu segera dikembalikan.

“Dalam audit BPK yang kami dapat, ada 156 daerah yang belum mengembalikan dana TKI dan BPOP, itu. Totalnya mencapai Rp123 miliar,” kata Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Yuna Farhan.

Tindakan anggota DPRD tersebut, selain merugikan keuangan daerah, menurut Yuna, juga merupakan perbuatan melawan hukum, yakni melakukan dugaan korupsi. Perbuatan tersebut dinilai memperkaya diri sendiri. ”Jelas para anggota DPRD yang menerima dana TKI dan BPOP kekayaannya akan bertambah,” ujar Yuna.

Karena itu, ia mendesak para Menteri Dalam Negeri dan penegak hukum menyeret mereka. “Mendagri dan penegak hukum harus menindak tegas mereka yang membangkang,” tukasnya.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Departemen Dalam Negeri Saut Situmorang mengatakan, pihaknya masih melakukan evaluasi dan menghitung DPRD mana saja yang belum mengembalikan dana TKI  itu. “Masih kita evaluasi pelaksanaannya di daerah seperti apa, terutama hambatan-hambatan dalam pengembaliannya,” katanya.

Dihubungi terpisah, pengamat politik dari LIPI Syarif Hidayat mengatakan, keengganan para anggota DPRD mengembalikan tunjangan komunikasi dan belanja penunjang operasional pimpinan itu akibat tak adanya aturan tegas yang mengatur soal sanksi. “Dalam PP 21/2007 itu hanya menyuruh mengembalikan. Tapi tak diatur secara eksplisit apa sanksi bagi yang belum mengembalikan,” katanya.

Dalam masalah ini, kata Syarif, yang ada hanyalah sanksi moral. “Bagi anggota Dewan yang bermoral tentu akan mengembalikan karena tahu itu bukan hak mereka. Bagi yang ‘kurang bermoral’ tak akan mau mengembalikan karena dalam legal formalnya tak diatur secara eksplisit sanksinya apa,” ujarnya.

Masih adanya sebagian anggota DPRD yang enggan mengembalikan dana tunjangan komunikasi dan penunjang operasional pimpinan dengan alasan, aturan tak berlaku surut atau pemerintah yang plin-plan karena memberi lalu menyuruh mengembalikan lagi, adalah alasan yang mengada-ada.

“Itu mempelintir persoalan. PP memerintahkan agar dana itu dikembalikan karena dalam pelaksanaannya alokasi dana itu kurang pas. Lalu muncul desakan publik, dan masyarakat. Masyarakat kan konstituen anggota Dewan juga, ini berarti kan masyarakat yang minta duit itu dikembalikan,” tukasnya.

***
Anggota DPRD Batam yang berakhir masa tugasnya, tak pergi begitu saja. Tapi pulang membawa duit, sebagai uang jasa pengabdian mereka selama lima tahun menjadi anggota Dewan.

Berdasarkan PP 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan, Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD, uang jasa pengabdian itu sebesar satu bulan uang representasi mereka dikalikan lamanya masa bakti. Jika mereka lima tahun penuh menjadi anggota Dewan, dapat bonus satu tahun. Sehingga setiap anggota Dewan mendapatkan 6 x Rp1.575.000, yakni masing-masing anggota Dewan bakal membawa pulang Rp8,032 juta.

Sementara untuk ketua Dewan, mendapatkan Rp10,7 juta dan Rp8,5 juta untuk masing-masing wakil ketua Dewan.

“Uang jasa pengabdian ini akan kami bagikan sebelum anggota baru dilantik,” kata Guntur Sakti, Sekretaris DPRD Batam. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Warna-warni Taksi di Batam

September 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

taksi di batam

taksi di batam

Penerapan taksi argo di Batam per 1 September terancam gagal. Dari 2.439 taksi yang beroperasi, hingga Rabu pekan lalu baru 40 taksi yang lulus tera.

Hujan yang mengguyur Batam sepanjang Selasa pagi pekan lalu, baru saja usai. Di pelataran belakang kantor Dinas Perhubungan Batam sejumlah taksi diparkir berjejer. Kap mesin taksi-taksi itu dibuka. Seorang teknisi argo menyetel angka yang tertera pada argometer, menyesuaikannya dengan putaran roda depan.

Ali Sonsyah, pemilik Almi Transport Utama, salah satu pelaku usaha taksi di Batam sibuk memandangi pekerjaan penyetelan argometer tersebut. Ia berdiri dari satu taksi ke taksi lain, memastikan penyetelan argometer di taksi-taksi itu berjalan lancar.

“Saya mendatangkan tiga teknisi langsung dari Jakarta untuk keperluan penyetelan argometer ini,” katanya.

Sejak tahun 2002, taksi-taksi di bawah naungan Almi Transport sudah dilengkapi argometer. Harga satu argometer sekitar Rp1,6 juta.
Saat itu, Pemko Batam berencana menerapkan taksi argo di Batam. Namun, rencana itu gagal.

“Jadi argometer di taksi-taksi saya ini, sudah tujuh tahun tak pernah digunakan,” tuturnya.

Kondisi argometer-argometer merek Metrocom itu masih bagus. Hanya ada beberapa yang putus kabelnya karena lama tak pernah dipakai. “Tapi harus disetel ulang, disesuaikan dengan tarif baru.”

Hampir setengah jam kemudian, satu unit taksi siap ditera. Sudirman, seorang supir membawa taksinya ke instalasi pengujian argo taksi Unit Pelaksana Teknis Metrologi Disperindag Kepri di pojok lapangan. Hanya ada satu konter peneraan. Di sanalah, taksi-taksi itu ditera.

Tera argometer taksi di Batam dimulai sejak 30 Juli, lalu. Wali Kota Batam Ahmad Dahlan mengeluarkan pemberitahuan agar seluruh pengusaha dan pemilik taksi melaksanakan tera argo paling lambat tanggal 30 Agusutus, hari ini. Ahmad Dahlan juga memerintahkan seluruh pengelola kawasan pelabuhan, mal dan hotel agar hanya memperbolehkan taksi berargo masuk ke kawasan mereka.

Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

bukan kerinduan yang salah alamat

Agustus 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

ada yang mengaduk-aduk perasaan, saat saya membaca TEMPO, soal 9 daerah bintang. saya langsung membayangkan batam, berada di antara mereka.

saya membayangkan batam menjadi kota yang menggratiskan pendidikan negeri dan swasta mulai dari sd-sma, seperti yang dilakukan kabupaten musi banyuasin. saya membayangkan batam mampu melakukan itu. apbd-nya besar, walikotanya juga baru saja mendapatkan penghargaan di bidang pendidikan.

pasti, tak akan ada lagi siswa tak tertampung, juga tak ada sekolah swasta yang tutup. wawako ria saptarika juga tak perlu beli ruko untuk sekolah.

saya membayangkan batam seperti kota balikpapan yang menyapu anak jalanan, melatih mereka dengan berbagai keterampilan. mulai dari menyetir hingga tata boga.

saya membayangkan batam seperti solo yang menata pedagang kaki lima dengan sangat apik. walikotanya, joko widodo, pernah 54 kali menjamu pk5 agar mau pindah ke kawasan yang sudah ditentukan, tanpa gejolak. semua digratiskan. bukan seperti pemindahan pk5 toss 3000 yang menghabiskan dana rp900 juta, tapi tetap tak mau menempati pasar induk jodoh, batam.

saya membayangkan batam seperti kabupaten lebak yang memiliki perda tentang transparansi dan partisipasi. di sana, semua anggaran disosialisasikan ke masyarakat lewat poster-poster dan sebagainya. di lebak, masyarakat tahu informasi pembangunan sekecil apapun. bukan seperti batam. warga batam, apakah ada yang tahu kalau setiap tahun pemko menganggarkan dana rp3,4 miliar untuk kebutuhan pimpinan?
saya membayangkan batam seperti purbalingga yang merehab sekitar 9.718 rumah warga miskin. bukan seperti batam yang angkat tangan tak mampu bangun jalan, malah hendak membangun papan nama rp500 juta di bukit clara.

ah, saya terlalu banyak membayangkan dan merindukan batam. saya takut, kerinduan saya akan hal-hal seperti itu menjadi kerinduan yang salah alamat. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Tempat Singgah Favorit Imigran Asing

Agustus 10, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pelabuhan tikus di Batam tak hanya jadi tempat penyelundupan barang-barang, atau jalur TKI ilegal dari Malaysia. Tapi juga jadi pintu masuk para imigran gelap. Mereka transit di Batam, sebelum menuju negara ketiga.

***
Dari tepi pantai, rumpun bambu berwarna hijau kekuning-kuningan itu melambai. Daunnya basah, sisa dari gerimis yang baru saja berlalu. Senin siang pekan lalu, suasana di tempat itu begitu sunyi.

Rumpun bambu tadi adalah penanda, disitulah letak Tanjungbuluh atau Tanjungbambu. Diapit perkampungan Teluk Mata Ikan dan kawasan wisata Turi Beach, Tanjungbuluh bukanlah tempat yang menarik. Luasnya sekitar dua kali lapangan bola, penuh tanaman dan rumput liar. Nyamuknya besar-besar, gigitannya dalam menembus celana jeans.

Di sanalah, Jumat dua pekan lalu 19 imigran dari Afghanistan ditangkap polisi, setelah dua hari bersembunyi. Para imigran itu masuk Batam lewat Johor Malaysia. Mereka diselundupkan lewat Tanjungbuluh, menghindari pemeriksaan imigrasi.

Tanjungbuluh sendiri hanyalah kawasan menjorok ke laut, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak ada pelabuhan atau pelantar tempat perahu bersandar. Nyaris seperti tanjung yang tak tersentuh. Jejak kaki di pantai terhapus air laut yang pasang. Hanya kicau burung dan gemericik air dari tanjung menuju pantai yang terdengar. Sesekali deru mesin kendaraan memecah sunyi.

Salamuddin, 59, nelayan Teluk Mata Ikan, Nongsa, yang sedang memperbaiki perahu di tepi pantai, mengaku tak tahu menahu soal kedatangan para imigran tersebut. ”Saya terlalu sibuk melaut, tak memperhatikan sekeliling,” tuturnya.

Yang kaget setengah mati adalah Farida, 18, gadis Teluk Mata Ikan. Bersama ibunya, Jumat itu ia duduk di pojok rumahnya yang bersebelahan dengan jalan setapak menuju Tanjungbuluh. Sebuah mobil polisi dan dua mobil penuh penumpang tiba-tiba berhenti di depannya. Lalu, keluarlah sosok-sosok berperawakan tinggi dari dalamnya.

Mereka para imigran Afghanistan yang baru saja ditangkap polisi. Tanpa risih, mereka duduk di sampingnya. Lalu, menunjuk jus jeruk dalam gelas besar yang baru seteguk ia minum.

”Mereka seperti kelaparan. Nunjuk-nunjuk jus, tak mengucapkan apa-apa. Sudah, saya berikan saja pada mereka.”
Tak cukup jus, roti juga dilahap habis. ”Kayak orang tak makan berhari-hari,” tutur Farida.

Para imigran Afghanistan tadi hanyalah kasus kecil dari banyaknya penyelundupan manusia ke Batam lewat pelabuhan tikus. Dua warga Srilanka, Sujay, 28, dan Rajeepan, 20, bahkan lolos hingga Bandara Hang Nadim. Mereka dari Malaysia hendak ke Jakarta.

Kepada wartawan, dalam bahasa Melayu, Sujay mengaku berhasil masuk Batam atas bantuan tekong Indonesia. Dari Johor Bahru ia diselundupkan lewat pelabuhan tikus, yang tentu saja tak ia tahu tempatnya. ”Kami masing-masing bayar 200 ringgit,” katanya.

Sujay sudah empat tahun tinggal di Malaysia, negara yang memang terbuka buat para imigran yang hendak menuju negara ketiga. Sujay jadi pelarian akibat konflik di Srilanka tak kunjung mereda. Hampir setiap hari, katanya, warga Srilanka ditembus peluru nyasar.

”Saya nak ke Jakarta, ke kantor UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees/Komisi PBB yang mengurusi pengungsi),” tukasnya.

Sepanjang tahun 2009 ini, berarti sudah 70 imigran asing yang ditahan di Batam. Mereka dititipkan di Rumah Detensi Imigrasi Batam dan Tanjungpinang.

Tak hanya imigran asing, para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang visa atau izin tinggal dan izin kerjanya habis di Malaysia juga masuk Batam lewat jalur pelabuhan tikus tadi. Pintunya tak cuma satu, tapi berpuluh-puluh.

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam misalnya, mengidentifikasi ada 63 pelabuhan tidak resmi atau pelabuhan tikus di Batam. Pelabuhan-pelabuhan itulah yang sebagian di antaranya dijadikan pintu masuk WNA yang bermasalah dengan dokumen keimigrasian. Lalu, setelah di Batam mereka keluar lewat pintu resmi seperti lewat bandara atau pelabuhan.

Masalah pelabuhan tikus itu bahkan sempat mendapat perhatian serius dari Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi. Ia khawatir, penyelundupan barang ke Batam akan marak seiring dengan dijadikannya Batam sebagai kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas.

Sumber yang sering menjemput para TKI dari Malaysia ke Batam menyebut, kawasan pantai Teluk Mata Ikan dan kawasan Nongsa menjadi primadona masuknya para TKI yang melanggar dokumen keimigrasian itu. Pintu masuk lainnya adalah kawasan Batumerah, Batuampar dan Dapur 12 Nongsa. ”Tergantung situasi. Mana yang aman, di sanalah mereka dimasukkan,” katanya. Penjemputan biasanya dilakukan malam hari.

Speedboat yang mengantar para TKI itu tak perlu bersandar di pelabuhan atau pelantar. Penumpangnya diturunkan di kedalaman air sepinggang. ”Untuk menghindari kecurigaan,” tuturnya.

Di Batam, para TKI yang habis masa tinggalnya di Malaysia itu kemudian dibuatkan paspor baru dan kembali masuk ke Malaysia. Di Malaysia, biasanya para TKI itu kembali tidak memperpanjang izin tinggal dan kerjanya karena permasalahan biaya. Sehingga, saat pulang ke Indonesia, mereka kembali lewat pelabuhan tikus. ”Begitu seterusnya, bertahun-tahun.”

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Klas I Khusus Batam Yudi Kurniadi mengatakan, baik para imigran asing maupun TKI dari Malaysia yang masuk Batam lewat pelabuhan tikus melanggar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Karena setiap orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia, wajib lewat pemeriksaan imigrasi.

Orang asing yang menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp25 juta.

“Tapi imigran asing yang dinyatakan sebagai pengungsi oleh UNHCR, tidak bisa dikenakan aturan ini. Tidak bisa langsung dideportasi.”

Begitu juga dengan TKI yang masuk dari Malaysia ke Batam lewat pelabuhan tikus. ”Untuk TKI itu, sanksinya ya sanksi administrasi. Mereka (yang melanggar) dicegah, tak boleh lagi ke luar negeri,” katanya.

Sesuai aturan, kata Yudi, pintu masuk resmi ke Batam dari luar negeri lewat lima pelabuhan yakni Pelabuhan Sekupang, Batam Centre, Marina, Nongsa Pura dan Harbour Bay serta bandara. Di pintu-pintu masuk resmi itulah petugas imigrasi ditempatkan.

”Di luar itu, seperti di pelabuhan-pelabuhan tikus, kami mengalami kendala untuk memantaunya. Kita koordinasi dengan instansi terkait yang menjaga perbatasan seperti dengan TNI AL, misalnya,” tukas Yudi.

Yudi tidak membantah, kalau Batam menjadi kota transit para imigran asing menuju negara ketiga. Letak Batam yang berbatasan dengan Malaysia, negara yang membuka diri bagi imigran, salah satu alasannya. ”Dari sejumlah pemeriksaan terhadap para imigran itu, kita bukan negara tujuan. Mereka datang dari Malaysia ingin ke Australia atau ke Kantor UNHCR di Jakarta.”

Para imigran asing itu tidak lewat pelabuhan resmi, karena kemungkinan ditolak masuk Indonesia, besar. ”Makanya, mereka masuk lewat pelabuhan tikus tadi,” ujarnya.

Para imigran asing yang masuk Batam itu, kata Yudi, kini ditampung di Rumah Detensi Imigrasi Batam di Sekupang. Rabu lalu, beberapa orang di antaranya sudah dipindahkan ke Tanjungpinang. Mereka di rumah Detensi sampai UNHCR memutuskan mereka sebagai pengungsi dan diarahkan ke negera ketiga. LSM International Organization for Migration (IOM) membantu penanganan pengungsi tersebut.

”Kalau UNHCR menolak misalnya, mereka akan dikembalikan ke negara asalnya dengan difasilitasi IOM,” katanya. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Dua Nama Tiga Generasi

Agustus 10, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hari jadi itu jatuh tiap 10 Agustus. Senin besok. sebelas tahun sudah Batam Pos terbit menyuguhkan berita dan informasi kepada para pembacanya, Anda semua.

***
Pertemuan Sabtu siang itu, rapat umum biasa. Dihadiri awak redaksi, bagian umum, iklan dan pemasaran. Suasana meriah, celutukan sering terdengar, terutama ditujukan kepada mereka yang datang belakangan.

Undangan pertemuan yang ditempel di dinding pengumuman, tak menyebut topik. Tapi semua karyawan sudah menduga-duga, pasti tak jauh dari momen ulang tahun Batam Pos ke-11. Ternyata, pertemuan itu berisi pengumuman dari manajemen soal peraturan perusahaan yang baru, diselingi ajakan untuk merenungkan perjalanan sebelas tahun koran ini.
Direktur Utama Batam Pos Marganas Nainggolan hadir bersama Pimpinan Umum Socrates dan Pimpinan Perusahaan Usep RS. Hadir pula para manajer. Semua bersila, lesehan di lantai 6 Graha Pena.

Suasana rapat awalnya agak kaku. Namun Marganas selalu bisa mencairkan suasana. Video perjalanan Batam Pos sejak terbit pertama kali dengan nama Sijori Pos 10 Agustus 1998, berganti nama jadi Batam Pos di tahun 2003 hingga kini diputar. Pemutaran video diselingi lagu Josh Groban, You Raise Me Up.

Terlihat wajah para senior yang ikut andil membesarkan Batam Pos di awal-awal pendirian. Beberapa di antaranya masih aktif sampai sekarang, seperti Marganas, Usep RS atau Herman Mangundap. Sejumlah wartawan di tahun-tahun pertama Batam Pos berdiri, nongol di video.

Marganas menyebut ada tiga generasi atau tiga fase perjalanan Batam Pos, yakni fase pendiri, pengembang dan penerus. Sambil menikmati alunan lagu, ia mengajak para karyawan merenung, di fase apa masing-masing mereka memberi andil.
Batam Pos terbit untuk pertama kalinya pada 10 Agustus 1998. Koran pertama di Kepri ini tidak bisa dilepaskan dari induknya, Riau Pos yang diterbitkan PT Riau Pos Intermedia, di bawah bendera Jawa Pos Grup yang terbit pertama kali 17 Januari 1991.

Sebelum Batam Pos terbit, Riau Pos beredar di Kepulauan Riau, saat itu masih satu provinsi dengan Riau. Riau Pos memiliki sejumlah kantor perwakilan di antaranya di Dumai, Tanjungpinang, Batam dan Sumatera Barat.

Seiring dengan makin pesatnya pembangunan di Batam, Riau Pos mengembangkan sayap, menerbitkan koran sendiri di Batam dengan nama Sijori Pos, 10 Agustus 1998. Nama Sijori Pos dipilih terkait dengan pengembangan kawasan segi tiga Singapura, Johor dan Riau.

Sebagai koran nasional pertama, Sijori Pos melesat cepat. Pimpinan Umum Batam Pos Socrates, mengingat betul bagaimana edisi perdana koran ini dicetak. Saat itu, ia masih koordinator liputan. Malam menjelang terbit, ia bersama Mafirion, Taufik Muntasir, Mega bagian pra cetak, menunggu di kantor lama Batam Pos, Orchid Point, Jodoh.

“Kami mengeluarkan segala kemampuan untuk menyelesaikan edisi perdana itu. Sampai-sampai tak sadar, deadline terlewati,” kata Socrates. Edisi perdana baru naik cetak menjelang subuh.

Tak ada persiapan khusus peluncuran koran edisi perdana itu. Namun ada peristiwa penting di Batam, tepat pada peluncuran perdana Sijori Pos, Presiden Habibie akan meresmikan Jembatan Barelang. “Kami berharap, edisi perdana Sijori Pos ditandatangani Habibie. Bang Marganas dan Depan Maju Sihite serta saya, hadir pada saat peresmian jembatan itu. Sayang, acara Habibie padat. Ia tak sempat menandatangani koran perdana itu,” tuturnya.

Menurut Socrates, selain Rida K Liamsi, banyak nama yang berjasa menghadirkan koran ini. Pertama, Marganas yang sejak awal bekerja sangat keras mengembangkan koran ini masuk ke Batam. Marganas sangat piawai soal bisnis, menguasai masalah manajemen keuangan serta seorang wartawan yang jago menulis feature.

Kedua adalah Akmal Atatrick di Tanjungpinang, yang mengurus percetakan dan distribusi koran sebelum akhirnya dipindahkan ke Batam. Kemudian, Mafirion, pemimpin redaksi Sijori Pos yang pertama. Mafirion dikenal bekerja lugas dan cepat. Taufik Muntasir yang akrab disapa Bang Ace juga tak dilupakan Socrates. Ace, orang dengan etos kerja tinggi.

Di bagian iklan, ada Usep RS, yang memiliki jaringan dan relasi yang luas. Pria asal Sunda ini dikenal supel dan pergaulannya luas. Ia berpengalaman di divisi iklan, jauh sebelum Sijori Pos terbit. Di bagian pemasaran, ada Herman Mangundap, lelaki asal Manado yang sejak awal sudah terbiasa dan bertahun-tahun bergelut di bagian distribusi dan sirkulasi.

Di bagian administrasi dan keuangan ada Syarifah Harani atau Nani. Nani di Batam Pos sejak masih berkantor di Windsor. Tentu saja masih banyak lapis kedua yang bekerja keras mengembangkan Sijori Pos. Sebut saja di redaksi ada Depan Sihite, Tariden Turnip, Lilis Lishatini, Lisya Anggraini, Umi Kalsum, Johan Howan dan sebagainya.

Dua tahun kemudian, 14 Februari 2000 Sijori Pos menerbitkan ”anak”nya Batam Pos, koran kriminal pertama di Batam. Batam Pos cepat menerobos pasar Batam. Koran ini dikenal berani dan blak-blakan.

Menurut Socrates, ada keputusan manajemen yang unik, sekaligus menjadi kasus marketing yang jarang terjadi. Nama Sijori Pos dikubur berganti jadi Batam Pos, mengambil nama koran kriminal, itu. “Itu terjadi Januari 2003.”

Sengitnya persaingan media, membuat Batam Pos menyiapkan media alternatif, sebuah situs berita www.batampos.co.id. Situs berita ini dimulai pada Juni 2003 dengan domain harianbatampos.com dikelola di kantor lama Batam Pos di kawasan Seijodoh.

Lalu pada Mei 2006, situs berita ini mengganti brand domain menjadi batampos.co.id dan terus dipergunakan hingga sekarang. Hingga kini batampos.co.id tidak kurang meraih 100 ribu klik setiap hari.

***
KINI, sebelas tahun sudah Batam Pos berdiri. Banyak perubahan terjadi. Marganas misalnya, sudah menjadi Dirut. Posisi Socrates sebagai pimpinan perusahaan digantikan Usep RS. Di redaksi, Hasan Aspahani sebagai Pemred dibantu tiga wakil Pemred, yakni Arham, Riza Fahlevi dan Putut Ariyo Tejo.

Di bawah mereka ada empat kompartemen plus edisi minggu. Kompartemen nasional dipimpin Ismed Safriadi, kompartemen pro kepri dipimpin Tunggul Manurung, kompartemen metropolis dipimpin Priya Ribut Santoso, kompartemen pro bisnis dipimpin Anwar Saleh dan Batam Pos edisi minggu dipimpin M Iqbal. Para Redpel itu dibantu asisten Redpel dan para redaktur.

Ada para redaktur ahli. Ada kantor-kantor perwakilan dan biro. Ada Koordinator Liputan dan Asisten Koordinator Liputan yang membawahi para reporter. Di bawah Korliplah, pencarian berita itu dikendalikan.

***
PEMILIHAN calon reporter di Batam Pos, cukup unik. Para calon reporter itu, awalnya tak ada yang benar-benar menguasai jurnalisme. Semua yang melamar rata-rata nol pengalaman.

Seperti Sri Murni yang lulusan ilmu kelautan dan perikanan Universitas Riau, William Seipatiratu lulusan fakultas pertanian Universitas Pattimura atau Evi Risdianti lulusan biologi Universitas Padjajaran.

Proses belajar untuk memahami jurnalisme atau menekuni bidang yang ditugaskan kepada mereka dilakukan sambil jalan. Sesekali kantor menyelenggarakan diskusi tentang masalah ekonomi makro, atau membicarakan situasi terkini, masalah politik dan lainnya dengan nara sumber kompeten.

Semuanya untuk membekali wartawan agar tak canggung turun ke lapangan. Maka tak aneh, jika Ahmadi yang lulusan sastra inggris di Universitas Hasanuddin, fasih menulis kasus-kasus kriminal. Atau Suparman yang lulusan sastra inggris Universitas Islam Negeri Malang, menulis soal gaya hidup warga metro.

***
ADA tradisi yang dibangun Batam Pos setiap kali merayakan hari jadinya, yakni melibatkan pembacanya untuk ikut berbahagia. Salah satunya adalah menyelenggarakan Rally Wisata.

Tahun itu, tahun 2001 untuk pertama kalinya Batam Pos, yang masih bernama Sijori Pos, menayangkan iklan jitu otomotif. Sebuah wadah promosi jual beli kendaraan. Sebagai sebuah awal, ternyata iklan jitu mendapatkan reaksi positif. Para pemilik kendaraan, menyambut baik iklan tersebut.

“Dari situ muncullah ide, bagaimana menyelenggarakan acara rally keluarga sekaligus mendekatkan Batam Pos dengan pembacanya,” kata Usep RS, yang sudah sembilan kali menjadi ketua panitia.

Tahun pertama itu, rally bernama Fun Rally. Peserta diajak keliling Batam bersama keluarganya. Syaratnya mudah, dokumen kendaraan lengkap dan mau menaati aturan lalu lintas. Di luar dugaan, pesertanya membeludak.

Maka, jadilah Fun Rally itu digelar setiap tahun, bertepatan dengan hari jadi Batam Pos. Tradisi itu mengekal, Fun Rally berganti nama jadi Rally Wisata. Kini, di ulang tahun Batam Pos ke sebelas, Rally Wisata digelar untuk ke sembilan kalinya.
Selalu ada yang baru, itulah penyelenggaraan Rally Wisata. Kali ini, peserta tak sekadar diajak wisata keliling kota. Tapi juga diajak berempati pada sesama, juga peduli pada alam.

“Peserta diminta membawa bibit tanaman. Kami ingin mengajak peserta ikut serta menciptakan green city,” kata Usep. Peserta juga akan diminta membawa sembako. Sembako ini nantinya akan diserahkan ke yayasan dan panti asuhan. “Nanti peserta sendiri yang akan memberikan.” ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Repotnya Mengusir Nyamuk Penjemput Maut

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hingga pertengahan tahun ini demam berdarah dengue (DBD) di Batam telah memakan 1.015 korban. Sepuluh di antaranya meninggal dunia. Setara dengan jumlah kasus sepanjang 2008.
***
Pasha Zafa Akbar, 4,8, tiba-tiba merasa kepalanya pusing. Setelah asyik bermain bersama teman-teman sebayanya, sambil berlari-lari kecil mengitari komplek Taman Raya Tahap II, Batam Centre, ia merasa capek. Tak menunggu lama, ia pulang ke rumahnya.

“Kepala abang pusing,” kata Pasha, Sabtu dua pekan lalu, kepada Dewi, 32, ibunya.

Wajah Pasha yang tadinya segar berkeringat, terlihat kuyu. Suhu badannya pun tinggi. Termometer yang dipasang Dewi di ketiak Pasha menunjuk angka 38 derajat celcius. Karena mengira demam biasa, Dewi memberi anak sulungnya itu obat pereda panas. Efek obat, membuat Pasha langsung tertidur.

Sorenya, begitu dicek kembali, ternyata suhu badan Pasha makin naik mendekati angka 40 derajat celcius. “Makanya, langsung saya bawa ke dokter,” kata Dewi, Senin pekan lalu.
Oleh dokter, Pasha diberi obat penurun panas dan diminta dikompres. Namun makin malam, suhu badan Pasha makin tinggi, mencapai 42 derajat celcius. Anak sulung pasangan Suwardi dan Dewi itu menggigil, mengalami halusinasi.

Dewi panik setengah mati. Tak menunggu lama, ia dan suaminya membawa Pasha ke Unit Gawat Darurat RS Budi Kemuliaan, di Seraya. Di sana, Pasha diambil sampel darahnya, namun belum ketahuan apa penyakitnya.

“Baru setelah dua kali diambil darahnya, ia ketahuan positif DBD,” kata Dewi, Senin pekan lalu.
Hampir seminggu lebih Pasha dirawat di rumah sakit dengan selang infus di lengannya. Meski suhu badan Pasha sempat turun dan kondisinya membaik, Dewi tak berani membawa pulang anaknya. Ia baru membawa pulang Pasha setelah dokter memastikan benar-benar sehat.
“Sekarang saya sudah bisa sekolah,” kata Pasha yang tahun ini untuk pertama kalinya masuk Taman Kanak-kanak.

Dalam dua tahun terakhir, ada dua orang di keluarga Dewi yang menjadi korban DBD. Sebelum Pasha, Dewi juga pernah digigit nyamuk Aedes Aegypti. Saat itu, Dewi sedang hamil anak keduanya. “Padahal, kami selalu mencoba hidup bersih. Kamar mandi di rumah tak pakai bak, ruangan juga selalu saya semprot,” tutur Dewi.

Dewi bahkan meminta juru pemantau jentik (jumantik) memeriksa rumahnya. Ia ingin tahu, apakah ada sarang jentik atau tidak di rumahnya itu. Namun setelah diperiksa, si jumantik tak menemukan sarang jentik. “Kalau di rumah ini memang tak ada. Tapi di sekeliling komplek, banyak.”

Pekan itu, Perumahan Taman Raya Tahap II memang sedang dilanda DBD. Selain Pasha, ada enam orang lagi yang jadi korban di antaranya Ana, 30, Mika,5, Rabindra,29, Ben Harun,36, dan Dhika, 35. Tapi karena terbentur biaya, banyak di antara mereka yang tak berlama-lama di rumah sakit. Mereka sudah pulang tanpa menunggu benar-benar sembuh.

Muji, Ketua RT 02 RW XI Belian, sempat panik dengan kondisi yang menimpa warganya itu. Bersama warga lainnya, ia menghubungi Puskesmas dan Dinas Kesehatan meminta penyemprotan atau fogging. “Namun birokrasinya berbelit. Harus ini, harus itu,” kata Muji.

Untungnya, ada salah satu warga Taman Raya yang menyimpan nomor ponsel Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika. Respon Ria positif, dan berjanji akan menurunkan tim kesehatan ke sana. Besoknya, orang-orang dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas berbondong-bondong datang ke Taman Raya. Selain memberikan penyuluhan, juga melakukan fogging.

Warga Taman Raya juga rajin bergotong royong. Gorong-gorong dibersihkan, bak kamar mandi dikuras, kaleng-kaleng yang menjadi tempat endapan air dibuang. “Sekarang sudah agak bagus. Sudah tak ada lagi warga kami yang kena,” tukas Muji.

Kepanikan juga melanda Perumahan Taman Raya Tahap III di seberang jalan. Di sini, ada dua warganya yang kena DBD. Warga resah. Mereka berharap ada fogging di lingkungan perumahan mereka. Namun, permintaan fogging ke Dinas Kesehatan Batam tak kunjung ditanggapi.
“Kami akhirnya fogging sendiri. Biayanya dari swadaya masyarakat,” kata Ketua RT 1 RW XVII Belian, Herman.

Herman mengaku kecewa pada Dinas Kesehatan yang tak berbuat banyak untuk mencegah terjadinya DBD. Masyarakat, katanya, tak butuh banyak penyuluhan karena dari tahun ke tahun DBD selalu menjadi momok dan merenggut banyak nyawa.

“Masyarakat sudah tahu 3M. Yang diperlukan sekarang adalah langkah kongkret pemerintah mengatasi ini,” tuturnya. DBD memang sudah banyak memakan korban. Data yang dihimpun Batam Pos dari berbagai rumah sakit di Batam, sejak Januari sampai pertengahan Juli, korbannya sudah mencapai 1.015 orang. Jumlah ini hampir menyamai jumlah korban di tahun 2008 yang mencapai 1.100 kasus.

Begitu juga yang meninggal, sudah sepuluh orang atau juga dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu. Juga hampir seluruh kecamatan di Batam ini tak lepas dari DBD. Sagulung, sebagai kecamatan yang paling padat penduduknya merupakan kawasan yang paling banyak terkena DBD.

Pada awal musim penghujan seperti pertengahan tahun, kasus DBD makin banyak. Hampir setiap hari, rumah sakit kedatangan pasien DBD. Bulan ini saja, ada 35 orang yang dirawat di RS Budi Kemuliaan. Belum lagi di RSOB, RSUD dan rumah sakit-rumah sakit lainnya.

Seperti Ade Sri Yuliani, misalnya, putri Martalini yang tinggal di Kartini II, Seiharapan, tergolek di RSOB akibat terkena DBD. Ade sempat demam selama dua hari, sebelum dipastikan positif DBD. “Anak saya malah sempat masuk ruang isolasi perawatan,” tutur Martalini. Di tempat yang sama, RSOB ternyata tak hanya merawat pasien Batam. Ada juga anak-anak dari Seiguntung, Indragiri Hilir, Riau, yang dirujuk dari RSUD Indragiri Hilir.

Nyamuk Aedes Aegypti ini juga tak memilih-milih korban. Mereka yang tinggal di kawasan kumuh maupun elit, hampir tak bisa lepas dari gigitannya. Repotnya, hampir sebagian warga tidak bisa membedakan gejala DBD dengan gejala flu biasa ataupun penyakit lain, karena semuanya memiliki kemiripan. Gejala seperti timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah, yang dulu sempat didengung-dengungkan sebagai tanda terkena DBD, juga tak selalu bisa ditemui pada pasien penderita DBD.

Bahkan, tak jarang petugas medispun kerap salah menduga. Banyak dokter yang tak bisa langsung mendiagnosa seorang pasien terkena DBD atau tidak. Seperti yang dialami Pasha misalnya, dokter pertama yang memeriksanya tak menyimpulkan bocah itu menderita DBD. Baru setelah dua kali sampel darahnya diambil, Pasha ketahuan positif DBD.

Menurut dr Dindin Hadim, dokter spesialis penyakit dalam RS Budi Kemuliaan, tak semua dokter bisa langsung menyimpulkan seseorang terkena DBD atau tidak. Penyebabnya, karena penyakit DBD gejalanya hampir sama dengan penyakit malaria atau demam biasa. “Dokter kan biasanya cuma meraba-raba, sehingga kadang juga salah menyimpulkan. Ini tergantung pengalaman si dokter,” tukasnya. Biasanya seorang pasien DBD baru ketahuan positif, kalau sampel darahnya dicek di laboratorium.

Bila ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi, Dindin menyarankan untuk secepatnya diberi obat pereda panas selama dua atau tiga hari. Kalau belum juga sembuh, baru bawa ke dokter atau ke rumah sakit. “Penyakit DBD tingkat I, itu belum berbahaya. Kalau cuma demam, beri saja obat pereda panas. Baru kalau dua atau tiga hari belum sembuh, cepat bawa ke dokter,” katanya.

Ada tiga faktor, menurut Dindin, yang mempengaruhi berjangkitnya penyakit DBD ini, yakni manusia, lingkungan dan nyamuk itu sendiri. Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, membuang atau menimbun benda-benda tak berguna yang menampung air, menaburkan serbuk abate pada bak mandi dan tempat penampung air lainnya. Pengasapan atau fogging untuk mengantisipasi mewabahnya kasus DBD ini, bukanlah solusi terakhir.

Kadis Kesehatan Kota Batam Mawardi Badar menolak instansinya disalahkan akibat bejibunnya korban gigitan yamuk ini. Kunci terbebasnya masyarakat dari DBD, kata dia, adalah dari masyarakat sendiri. “Tidak selamanya kita yang disalahkan kalau ada warga meninggal akibat penyakit ini, karena kita juga sudah mengimbau secara terus menerus,” ujarnya.

Sejak tahun 2007 silam, Pemko Batam sudah pernah melaksanakan program Gerakan Berantas Demam Berdarah atau Gebrak. Seremoni program ini dilakukan meriah dengan pengasapan dan gotong royong oleh Wali Kota Batam dan jajaran Muspida lainnya di Sagulung. Namun, dari tahun ke tahun bukannya menurun, korban DBD makin bertambah.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Biar Antre, Asal Tak Kebakaran

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Antrean panjang warga membeli minyak tanah kini makin sering terlihat, terutama menjelang pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji. Mereka mengaku takut tak kebagian minyak tanah, sekaligus takut mengalami kebakaran jika berganti ke elpiji.
***
Ramsina, 44, hampir saja terjatuh saat hendak turun dari boncengan sepeda motor. Dengan memegang jirigen di tangan kanannya, ia bergegas melewati jalan basah menuju Pangkalan Minyak Sabariah. Selasa pagi pekan lalu, pangkalan di Kampung Becek, Seiharapan, Sekupang, itu sudah dipenuhi antrean puluhan warga lainnya.

Antrean pembeli minyak tanah itu melengkung berbentuk huruf L. Rata-rata mereka adalah ibu rumah tangga, mengenakan daster, bersandal jepit. Beberapa di antaranya menggendong anak. Satu-dua, ikut juga mengantre bapak-bapak.

“Isteri lagi masak di rumah,” kata seorang bapak dengan kumis tebal yang ikut dalam antrean.

Di antara antrean panjang itu, Ramsina berdiri paling belakang. Makin lama antrean makin panjang. Jika tadinya Ramsina berdiri di belakang, makin siang ia mulai beringsut ke tengah.

Akhirnya, setelah berdiri lebih setengah jam, jirigennya terisi juga. Pagi itu, penjual makanan di kawasan Pelabuhan Sekupang itu mendapatkan minyak tanah 5 liter. “Ini sebenarnya tak cukup buat satu minggu. Tapi, gimana lagi, jatahnya segitu,” katanya.

Imel, 33, warga Kampung Becek, juga mendapatkan 5 liter minyak tanah. Jika pembeli tak banyak, ia sering mendapatkan sepuluh liter. “Kalau hanya untuk kebutuhan memasak, 5 liter cukup seminggu. Tapi, kan saya sering juga bikin kue, jadi kadang tak cukup,” tuturnya.

Imel mengaku saban minggu mengantre minyak tanah. Setiap lori minyak masuk pangkalan, ia pasti datang. Sejak kabar bakal adanya pergantian minyak tanah ke gas elpiji berhembus, ia makin tak tenang. “Kalau boleh, saya ingin beli minyak tanah sebanyak-banyaknya,” katanya.

Namun karena sudah dijatah, setiap pembelian minyak tanah di pangkalan dibatasi. “Kadang 5 liter, kadang 10 liter. Tergantung banyak tidaknya pembeli,” tukas Desi, 33, warga lainnya.

Jika Ramsina dan warga Kampung Becek di Seiharapan, Sekupang, kebagian minyak tanah, nasib Rokia, 33, dan belasan warga lain yang tinggal di rumah liar di seputar Pasar Pagi, Jodoh, beda lagi. Selasa pekan lalu, mengantre di tengah terik matahari, Rokia tak kebagian minyak tanah. Minyak di Pangkalan Lubis, Jodoh, itu habis ketika Rokia dan kawan-kawannya bertahan di antrean hampir satu jam.

“Sampai kami mau kelahi-kelahi tadi. Sudah ngantre panas, tak kebagian juga,” katanya. Rokia, mengantre sambil menggendong putrinya, Tika.

Senasib dengan Rokia, Laila, 29, juga tak kebagian. Biasanya, menurut Laila, lori minyak baru datang sekitar pukul sepuluh. “Tapi tadi kepagian. Saya telat dikasih tahu, pas datang antrean sudah panjang,” tuturnya.

Padahal untuk sampai ke Pangkalan Lubis itu, kata Laila, ia harus berpanas-panas jalan kaki. “Anak saya, saya titipkan ke tetangga agar dapat minyak. Eh, malah tak dapat.”

Minyak tanah, kata Laila, sangat mereka butuhkan untuk keperluan memasak. “Bertahun-tahun di Batam, saya tak pernah pakai elpiji. Tak ada duit,” tukasnya.

Di waktu yang sama, jauh di Kampung Gang Lestari, Batuaji, antrean panjang pembeli minyak tanah juga mengular. Di Pangkalan Minyak T Sembiring itu, ratusan jirigen sudah dijejerkan, berjam-jam sebelum lori minyak datang.

“Sudah dua hari warga ngantre,” kata Upik, wakil ketua RT 02 RW 04 Kampung Gang Lestari.

Menurut Upik, warga menyerbu pangkalan karena minyak tanah sulit didapatkan. Pasokan minyak ke pangkalan kadang datang dua atau tiga minggu sekali. Karena itu, begitu lori minyak masuk, warga berebutan menyerbu.

“Pasokannya tak cukup, ada yang tak kebagian. Ibu-ibu ini mau berkelahi,” tuturnya.

Pasokan minyak tanah di pangkalan tersebut tak sebanding dengan jumlah rumah yang dilayani. Setiap kali datang, pasokannya 2.000 liter, sementara yang dilayani 300 hingga 400 rumah. “Dulu pasokan bisa sampai lima ton (5.000 liter). Tapi sekarang cuma dua ton, jadi tidak cukup,” ujarnya.

Pasokan minyak tanah yang kurang itu, membuat warga pusing. Untuk mengakalinya, warga rela membayar di depan. “Satu minggu sebelum minyak datang, kami sudah bayar ke pangkalan,” kata Yanti, warga Kampung Terokah, Tanjunguncang.

Di temui di kantornya, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral KOta Batam Ahmad Hijazi mengungkapkan, fenomena antrean panjang pembelian minyak tanah di Batam bukan karena minyak tanah mulai langka. “Itu hanya akibat panic buying. Masyarakat berebut membeli minyak tanah karena menganggap minyak tak ada, padahal stoknya banyak. Saya sudah konfirmasi ke Pertamina, stok kita cukup,” tukasnya.

Takut Kebakaran

Segepok formulir yang berisi survei soal konversi minyak tanah ke gas elpiji itu diterima Udin Sallo, Ketua RT 08 RW IV, Baloi Indah, Lubukbaja, dari ketua RW, awal Juli, lalu. Formulir itu diminta dibagikan kepada warga pengguna minyak tanah yang tinggal di RT 08, Kampung Dalam, Baloi Indah, tersebut.

“Tapi tak cukup. Formulirnya cuma seratus, sementara warga saya di sini sekitar 203 KK. Semua pengguna minyak tanah,” katanya. Karena tak cukup, Udin hanya membagikan formulir itu ke seratus orang. “Saya termasuk yang tak kebagian,” tuturnya.

Survei konversi minyak tanah yang bertujuan menyisir pengguna minyak tanah agar bisa mendapatkan paket gas elpiji itu memang tak menyentuh semua warga. Di Baloi Indah misalnya, menurut Lurah Baloi Indah, Ridwan Affandi, dari 15.897 warganya, hanya 2.577 keluarga saja yang mendapatkan formulir. “Kami di kelurahan hanya memfasilitasi saja,” katanya.

Toh, tak semua warga menyambut baik program tersebut. Seperti di RT08 RWIV misalnya, tak semua mendukung sepenuhnya program konversi minyak tanah ke gas elpiji tersebut. Ada juga warga yang masih ingin tetap menggunakan minyak tanah seperti saat ini. “Termasuk saya. Selama bertahun-tahun tinggal di Batam, saya selalu menggunakan minyak tanah,” kata Nuraini.

Nuraini, isteri Udin, mengaku lebih sreg mengantre berjam-jam untuk mendapatkan minyak tanah daripada harus beralih ke gas elpiji. “Takut terbakar,” katanya.

Pengakuan yang sama juga diutarakan puluhan warga yang ditemui Batam Pos saat mengantre minyak tanah. Eli, 39, warga Tanjunguma mengaku takut mengalami kebakaran kalau nanti harus beralih menggunakan gas elpiji. “Tahu sendiri Mas, kami tinggal di ruli (rumah liar). Kalau meledak, bisa habis rumah kami,” tukasnya.

Selama enam tahun tinggal di Batam, Eli mengaku selalu menggunakan kompor sumbu berbahan bakar minyak tanah. Mulai dari menanak nasi, menggoreng ikan sampai memanaskan air, ia tak pernah berpaling dari kompor minyak. “Kami masyarakat kecil, manalah mampu beli elpiji,” tuturnya.

Desi, 35, warga Kampung Becek Seiharapan, juga mengungkapkan ketakutan yang sama. Menurut dia, dari berita-berita tayangan televisi yang biasa ia tonton soal penggunaan elpiji 3 kilogram itu, banyak yang meledak. “Makanya, kalau boleh milih, lebih enak pakai minyak tanah saja,” tuturnya.

Selain tak perlu khawatir meledak, kata Desi, menggunakan minyak tanah juga tak perlu khawatir tak punya duit karena harganya murah dan bisa dibeli eceran. “Kalau lagi tak punya duit, masih bisa kita beli minyak tanah seliter. Kalau gas, harus beli satu tabung,” katanya.

Beda dengan Ramsina. Meski bertahun-tahun menggunakan minyak tanah, ia mengaku siap mengikuti program pemerintah, beralih ke gas elipiji. “Kalau aturannya sudah begitu, saya ikut saja,” tukas wanita asal Sumatera Utara, itu.

Namun kalau bisa memilih, kata Ramsina, ia memilih menggunakan minyak tanah. “Ngantre lama, tak masalah,” tukasnya. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Kisah Seorang Ibu yang Mencari Keadilan

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kematian Ronal Aritonang, warga Kembang Sari, Lubukbaja, setelah diperiksa polisi, hampir setahun lalu, meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Ibunya, Hj Mimi Farhimi terus mencari keadilan, berusaha mengungkap fakta sebenarnya.

***
Tangis Mimi pecah di ruang tengah itu, saat memandangi foto Ronal dalam bingkai merah hitam yang ditempel di dinding. Kakinya bergetar, tangannya kaku berpegangan pada sofa. ”Saya tak kuat. Saya pasti menangis seperti ini,” katanya.

Senin malam pekan lalu, tadinya Mimi meminta Batam Pos melihat sendiri foto Ronal. Ia mengaku tak sanggup memandangi foto putra bungsunya itu. Namun, setelah diajak ke ruang tengah untuk diambil gambarnya, ia ikut juga. Di sanalah ia terisak, sebelum akhirnya beranjak kembali ke ruang depan.

Ia terguncang. Tangisnya kembali pecah. ”Mata saya rusak akibat banyak menangis. Mungkin yang keluar bukan lagi air mata, tapi darah,” tuturnya.

Malam itu, tak hanya sekali dua kali ia menangis. Saat menceritakan momen-momen terakhir perjalanan hidup Ronal, ia tersedu-sedu. Mimi mengaku biasanya selalu didampingi anak keempatnya, Romel, jika bercerita soal Ronal. Namun, malam itu Romel sedang keluar.

Itu membuat Mimi tak bisa lepas bercerita. Wawancara tersendat-sendat karena ia sering menangis. Beberapa kali ia melepas kaca mata, menyeka air matanya. Terlihat ada bintik-bintik kelabu di matanya, sesuatu yang ia akui baru muncul setelah ia terus-terusan menangis.

Untuk menenangkan diri, ia minta izin menghisap sebatang rokok. ”Sebelum kejadian ini saya tak pernah merokok. Saya tahu rokok berbahaya buat kesehatan, tapi untuk kasus seperti saya, dokter tak melarang.”

Mimi ternyata menyimpan sejumlah kliping koran yang memuat berita kematian Ronal. Ia menyodorkan sejumlah kliping itu. Memperlihatkan surat dari Komisi Hak Asasi Manusia, Komisi Kepolisian Nasional dan hasil visum atas tubuh Ronal dari RS Otorita Batam.

Mimi ingat betul hari terakhir pertemuannya dengan putranya itu. Sabtu, 27 September 2008, bulan Ramadan, ia hendak ke Surabaya. Pukul 11.00 WIB, dengan diantar Ronal, mereka meluncur dari rumahnya di Kembang Sari ke Bandara Hang Nadim.

Langit saat itu mendung. Ronal mengkhawatirkan penerbangan ibunya dan berniat ikut ke Surabaya. Namun, Mimi memintanya tak usah khawatir. ”Kalau begitu setelah mama sampai di Surabaya, nanti saya telepon,” kata Ronal, ditirukan Mimi. Mama adalah panggilan Ronal pada ibunya.

Begitu mendarat di Surabaya, ponsel Mimi berdering. Ronal menanyakan penerbangan ibunya. ”Mama, bagaimana cuaca Surabaya. Mama, kabarnya bagaimana.” Kata-kata itu masih terngiang-ngiang terus di telinga Mimi.

Pukul enam sore, Ronal menelepon lagi. Kali ini, ia mengabarkan baru pulang dari Tanjungpinang. Di sana Ronal membeli cendol untuk berbuka puasa. ”Saya beli cendol enam bungkus. Saya tadi lupa kalau mama di Surabaya, saya kira mama di Batam,” kata Ronal pada ibunya.

”Tak apa-apa, Nak. Simpan saja cendolnya di kulkas,” jawab Mimi.

Seperti Mimi, Ronal adalah pengusaha muda, seorang kontraktor yang mewarisi bakat ibunya. Pemuda yang masih melajang di usianya yang 32 tahun itu, lulusan Fakultas Teknologi Industri UPN Veteran Yogyakarta, tahun 2000. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak kecil Ronal ditinggal mati ayahnya, John Aritonang, sehingga Mimilah yang membesarkannya seorang diri. Kepadanyalah, Mimi berharap banyak.

Dekatnya hubungan ibu-anak itu, membuat Ronal hampir selalu mengungkapkan aktivitasnya pada ibunya. Pukul delapan malam, kembali Ronal menelpon Mimi. Ia mengabarkan baru saja berbuka puasa. ”Mungkin nanti saya pergi tarawih, Ma. Lihat keadaan.”

Itu kata-kata terakhir yang diucapkan Ronal pada Mimi. Pukul sebelas malam, Mimi dikabari kalau Ronal sedang koma di RS Otorita Batam. Mimi kaget, tak menyangka anaknya akan mengalami nasib seperti itu. Mimi galau, pagi-pagi sekali ia kembali ke Batam.

Dua hari di RS Otorita Batam, Ronal tak sadarkan diri. Ia tak lagi mengenali ibunya. Ia kemudian dipindahkan ke RS Awal Bross. Namun, nyawa Ronal tak tertolong lagi. ”Saya pingsan. Tulang-tulang saya seperti lepas,” tutur Mimi.

Kematian Ronal yang begitu tiba-tiba itu mengguncang Mimi. Berhari-hari ia tak sadar, dan sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Baru berbulan-bulan kemudian, di awal tahun 2009 ini, kesehatan Mimi membaik.

Namun, ia masih dijauhkan dari berita-berita seputar kematian Ronal yang ditulis media. ”Oleh anak-anak, saya tak boleh baca koran. Baru setelah saya agak baik, anak-anak memperbolehkan.”

Dari membaca koran itulah Mimi tahu apa yang terjadi. Malam terakhir itu, setelah mengabarkan padanya kalau sudah berbuka puasa, Ronal ternyata menuju Polsek Sekupang. Ia dimintai keterangan terkait masuknya laporan ke polisi soal utang piutang yang melibatkan dirinya dan seorang pengusaha, Su.

Di Polsek Sekupang, polisi mempertemukan Su dan Ronal. Namun, baru dua jam di sana, Ronal mendadak pingsan. Ia mengalami stroke hingga harus dibawa ke rumah sakit. Inilah yang membuat Mimi sakit hati. Ada dugaan, Ronal sempat dianiaya. ”Pasti ada apa-apanya. Kenapa anak saya yang sehat tiba-tiba sakit setelah dua jam di sana. Ini harus diungkap, diperjelas dan pelakunya ditindak,” katanya.

Dengan menggandeng pengacara dari Jakarta, Junaidi Manurung SH, Mimi ingin membuka kasus kematian anaknya itu. Ia menyurati kepolisian. Namun jawaban kepolisian yang menyatakan tak ada penganiayaan terhadap Ronal tak memuaskannya.

Bersama pengacaranya, ia membawa kasus anaknya itu ke Jakarta. Ia menyurati Komnas HAM. Komnas HAM kemudian menyurati Irwasda Polda Kepri dan meminta klarifikasi atas kejadian yang menimpa Ronal itu. Dalam suratnya bernomor 1.207/K/PMT/III/2009, Komnas HAM meminta klarifikasi Irwasda terkait hasil pemeriksaan lanjutan oleh P3D Poltabes Barelang terhadap Kanit Reskrim Polsek Sekupang Ipda Syamsurizal. Komnas HAM juga memberi waktu 30 hari kepada Irwasda Kepri untuk menjawab suratnya itu, tertanggal 30 Maret 2009.

Ditemui Selasa pekan lalu, di Mapolda Kepri, Irwasda Polda Kepri Komisaris Besar Winarno AS mengaku sudah menjawab surat Komnas HAM tersebut. ”Sudah saya jawab, sudah selesai. Tapi, saya tak bisa ngasih keterangan di sini karena peranan saya interen. Kalau mau tanya soal ini, ya ke Pak Kapolda atau ke Kapoltabes,” katanya.

Tak cukup ke Komnas HAM, Mimi lewat Junaidi, mengadukan kejadian itu ke Komisi Kepolisian Nasional. Kemudian dalam acara Jalur 259, Mimi dan Kapoltabes Barelang Komisaris Besar Leonidas Braksan difasilitasi Kompolnas tampil satu meja di TV One, pertengahan Juni lalu.
Jalur 259 adalah jalur bagi masyarakat untuk menyampaikan saran dan kritik mereka soal polisi. Di sini biasanya, masyarakat bisa mengungkapkan saran dan kritiknya terhadap kinerja polisi atau menyampaikan keluhan-keluhan berkaitan dengan pelayanan kepolisian.

Meski sudah tampil di Jalur 259, Mimi belum puas. Ia menginginkan oknum kepolisian dan orang-orang yang terlibat yang menyebabkan kematian anaknya itu ditindak tegas. ”Jangan sampai apa yang saya alami menimpa orang lain. Saya akan terus berjuang mencari keadilan,” katanya.

Kapoltabes Barelang Komisaris Besar Leonidas Braksan sendiri, mengakui, anggota penyidik yang menangani kasus almarhum Ronal Aritonang itu, bersalah dalam menjalankan tugasnya.
Namun demikian, kesalahan yang dilakukan anggotanya itu hanya kesalahan prosedur. Ronal, menurut Kapoltabes, saat itu dipanggil tidak sesuai mekanisme pemanggilan untuk dimintai keterangan berupa surat panggilan menghadap. Kala itu, Ronal dipanggil melalui telepon tanpa didampingi saksi atau pengacara.

”Anggota memang terbukti melakukan pelanggaran dan telah ditindak tegas. Ia (penyidik, red) memanggil orang tanpa surat panggilan atau didampingi saksi atau pengacara,” ujarnya, Jumat pekan lalu.

Sebagai konsekwensinya, oknum penyidik yang menangani kasus tersebut telah diberikan saksi tegas berupa demosi, pencopotan jabatan dan penundaan kenaikan pangkat selama satu periode.

Hasil visum et repertum bernomor R/40/RS/X/2008 yang dikeluarkan RS Otorita Batam atas diri Ronal menyatakan, Ronal tiba di instalasi gawat darurat (IGD) dalam keadaan tidak sadar. Setelah dilakukan pemeriksaan, dr Lydiawati S yang memeriksa mengambil kesimpulan Ronal diduga mengalami stroke hemoragik dan hypertensi emergensi. Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak.

Ini yang menurut Mimi aneh karena anaknya selama ini sehat dan tak memiliki penyakit hipertensi. ”Sampai ke ujung dunia akan saya kejar. Saya ingin keadilan ditegakkan. Orang-orang yang menyebabkan kematian anak saya harus ditindak,” katanya.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Jeruji, Rumah Kedua Kami

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Puluhan anak berumur di bawah 17 tahun mendekam di penjara. Ada yang dibui karena mencuri rokok, dijerat kasus pencabulan hingga melakukan pembunuhan.
***
Malam terasa gerah. Di kamarnya yang sempit, Sur, 15, siswa kelas 1 Madrasah Aliyah, gelagapan terbangun dari tidurnya. Wajahnya berkeringat. Ia baru saja terbangun dari mimpi. Mimpi punya ponsel seperti teman-teman sekolahnya yang lain.

Sur termenung, terbayang mimpi indahnya tadi. ”Kapan saya bisa punya ponsel,” tanyanya dalam hati. Ia lalu berbaring, mencoba melanjutkan tidurnya lagi. Matanya terpejam, tapi hatinya berkelana ke mana-mana. Sur tak bisa tidur nyenyak lagi.

Di sekolah, Sur tak lagi betah. Ia merasa rendah diri setiap kali melihat teman-temannya menenteng ponsel. Ia sempat ingin minta dibelikan ponsel ke ibunya, namun ia batalkan karena tahu orang tuanya tak punya duit. Tapi keinginannya punya ponsel tak pernah kendur.

”Saya sempat nekat mau nyuri, tapi tak berani,” katanya, saat ditemui di Rumah Tahanan Baloi, Senin pekan lalu.

Hingga di hari Rabu itu, 4 Februari 2009, dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit milik pamannya ia mengelilingi Perumahan Puri Agung, Tanjungpiayu. Di depan sebuah rumah Nomor 21, di Blok A2, ia melihat Wiwin 16, berdiri memegang ponsel.

Mendadak muncul bisikan di hati Sur. Keinginannya memiliki ponsel seperti teman-temannya yang lain, meluap. Ia gelap mata. ”Seperti ada yang nyuruh. Saya nekat,” tuturnya.

Dengan hati berdebar, ia menghentikan sepeda motornya. Lalu setengah berlari, mendekati pintu dan mengetuknya. Wiwin keluar menyambut. Kepada Wiwin, Sur mengaku diminta pemilik rumah mengambil mobil yang parkir di garasi.

Wiwin mengaku tak tahu letak kunci mobil itu. Tapi, Sur yang sudah duduk di sofa terus mendesak. Kunci mobil akhirnya berpindah ke tangan Sur. Tapi Sur yang mengincar ponsel Wiwin, tak bergegas pergi. Ia menunggu Wiwin lengah.

Tak lama kemudian Wiwin menuju dapur sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Sur tak menyia-nyiakan kesempatan. Ponsel itu disambarnya. Tapi belum sempat ia berlari, Wiwin memergoki aksinya. Sur diteriaki maling.

Tak mau kelakuannya ketahuan orang, Sur mencabut pisau dapur di saku belakang celananya. Tanpa berpikir lagi, Wiwin ditusuknya hingga tersungkur di lantai. Setelah itu ia berlari keluar.

Malang, kaki Sur menyenggol kepala Auriel Mega Safitri, 6, anak pemilik rumah, yang tidur di ruang tamu. Auriel terbangun, lalu berteriak kaget. Sur tak kalah kagetnya. Pisau bermandi darah di tangannya ia hunjamkan lagi ke dada Auriel.

”Saya tak ingat lagi berapa kali (tusukan). Saya panik, takut ketahuan,” tutur Sur.

Sesudah menikam dua korbannya, Sur mengambil terpal penutup mobil di garasi. Terpal itu ia gunakan menutup tubuh korban-korbannya. Ia mengacak-acak lemari, mencari harta lain, tapi tak banyak yang ia temukan. Karena itu, ia nekat melarikan mobil Honda Civic, milik ayah Auriel. Tapi karena tak terbiasa, ia menabrak sepeda motor tetangga rumah.

”Saya tak tahu lagi (apa yang terjadi). Tahu-tahu saya dipukuli warga. Kepala dan dada saya luka, sakit semua waktu itu,” katanya.

Sur menuturkan kembali kisah hidupnya itu, dengan sedikit berbisik. Ada beberapa penggal kasus pembunuhan itu yang tak ia ingat lagi. Berapa orang yang ia tusuk, atau siapa nama korbannya, misalnya, tak ia ingat. Ia hanya ingat, saat itu sudah kebelet ingin punya ponsel.

”Saya menyesal sekali telah membunuh orang, sudah membuat malu keluarga. Gara-gara saya, mereka sengsara, ” tukas remaja yang 27 Juni ini tepat berumur 16 tahun. Sur divonis sembilan tahun penjara.

Bersama Sur, ada 23 anak lainnya yang kini mendekam di Rumah Tahanan Klas II A Baloi. Umur mereka antara 13 tahun hingga 16 tahun. Senin pekan lalu, beberapa di antaranya kami rekam kisah hidupnya.

Vina, 14, nama samaran, misalnya, satu-satunya anak gadis di antara mereka. Tubuhnya imut, hitam manis. ”Karena ketahuan bawa ineks di dompet, saya divonis dua tahun,” tuturnya.

Vina tak pernah membayangkan bakal hidup di tahanan. Waktu keluarganya pertama kali pindah ke Batam, akhir Desember 2007, mereka tinggal di sebuah rumah liar di Bengkong Abadi. Orang tuanya kerja tak menentu, sehingga Vina terpaksa tak melanjutkan sekolah. Ia putus sekolah di kelas 2 SMP.

”Saya sebenarnya masih ingin sekolah. Cuma kalau saya sekolah, bisa-bisa adik saya yang tak sekolah. Keluarga kami tak mampu,” katanya. Untuk membantu orang tuanya, Vina bekerja sebagai penjaga pakaian di sebuah toko di DC Mall dan Jodoh Centre.

Hingga suatu hari ia bertemu seorang gadis, sebut saja bernama Nina, 16, yang mengajaknya dugem ke Diskotek Planet. Di sanalah, untuk pertama kalinya Vina berkenalan dengan pil berwarna pink yang bisa membuatnya seperti berayun-ayun. ”Saya tak beli sendiri. Teman saya itu yang ngasih,” katanya.

Hari naas itu akhirnya datang juga. Sabtu sore, 20 Desember 2008, Vina berkumpul dengan temannya di Hotel Andi, Bengkong. Mereka menegak ineks. Tapi Vina memilih menyimpannya di dalam dompet. Saat itulah polisi datang menggerebek. Kawan-kawan Vina berlarian. Vina yang kebingungan ditangkap polisi dengan dua butir ineks di dompetnya.

”Saya tak pernah menyangka bakal begini. Jangan sampai ini terjadi pada teman-teman saya yang lain,” tukasnya.

Arfan, 16, nama samaran, beda lagi kisah hidupnya. Remaja yang tahun lalu putus sekolah dari SMP 12 Batam itu, terjerat kasus pencabulan. Saat itu, Arfan bekerja sebagai kernet angkot jurusan Jodoh-Punggur.

Suatu hari, Arfan melihat Vivi, 15, pacarnya yang masih duduk di bangku SMP melamun di Pelabuhan Punggur. Ia kemudian mendekati Vivi dan menanyakan kenapa pacarnya itu seorang diri di sana.

”Ia mengaku diusir orang tuanya. Saya tanya kenapa, dia diam saja. Karena takut terjadi apa-apa, saya bawa dia ke rumah,” kata Arfan.

Dua hari Vivi bermalam di rumah Arfan, di Nongsa. Dua malam itu pula, dua remaja itu tidur seranjang. ”Tapi kami tidak berhubungan. Kami cuma ciuman saja,” tukas Arfan.

Tanpa diketahui keduanya, orang tua Vivi lapor polisi. Arfan ditangkap. Vivi kemudian divisum. Ternyata selaput dara gadis SMP itu sudah robek. ”Tapi, bukan saya yang melakukannya. Mungkin dia sudah tak perawan sebelum berpacaran dengan saya,” kelak Arfan.

Tapi, hakim tak percaya. Arfan dikenai hukuman tiga tahun. Di Rutan Batam, Arfan menyesali hidup. ”Setelah keluar nanti, saya ingin jadi orang baik-baik.”

Yang mengenaskan nasib Suro, 14, juga nama samaran. Remaja kelas 2 SMP ini tubuhnya paling kecil dibandingkan teman-temannya yang lain. Karena ikut temannya mencuri rokok di sebuah kios di Food Court Windsor, ia harus mendekam di penjara selama delapan bulan. ”Delapan slop rokok, delapan bulan kurungan,” tuturnya.

Suro ditangkap gara-gara temannya terkena razia preman akibat tak punya KTP. Dari temannya itulah polisi mendapat keterangan kalau mereka pernah membobol kios rokok. Suro akhirnya diciduk polisi di rumahnya.

Hendri juga bernasib sama. Remaja kelahiran 18 April 1994 itu awalnya datang ke Batam mengadu nasib seorang diri. Ia menumpang tinggal di kontrakan temannya. Karena tak kunjung dapat kerja, uang sangu dari orang tuanya habis.

Ia bingung, kerja tak dapat, uang juga tak punya. Dalam kebingungan itulah ia melihat sebuah rumah kosong. ”Saya ambil lemari di situ untuk saya jual buat makan. Besoknya, saya ditangkap polisi,” katanya.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), anak-anak yang belum dewasa seperti mereka harusnya tak perlu dihukum penjara. Dalam pasal 45 misalnya, tuntutan pidana terhadap orang yang belum dewasa yang berumur di bawah 16 tahun, hakim dapat menentukan: memerintahkan supaya yang bersalah itu dikembalikan kepada orang tuanya, walinya atau pemeliharanya, tanpa dikenakan suatu pidana apa pun.

Atau memerintahkan supaya yang bersalah itu diserahkan kepada pemerintah tanpa pidana apa pun, bila perbuatan tersebut merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran berdasarkan pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503-505, 514, 517-519, 526, 531, 532, 536, dan 540, serta belum lewat dua tahun sejak dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut di alas, dan putusannya telah menjadi tetap atau menjatuhkan pidana kepada yang bersalah.

Mengacu pada pasal 45 KUHP itu, kata Kepala Rutan Klas IIA Batam Philip Parapat, pihaknya sering mengusulkan ke pengadilan agar anak-anak itu dikembalikan ke orang tuanya atau dijadikan anak negara. ”Pemberian pidana itu alternatif terakhir,” katanya.

Pihak Rutan memiliki Pembimbing Kemasyarakatan (PK) yang mendampingi anak-anak yang terjerat hukum mulai dari pemeriksaan di kepolisian hingga sidang di pengadilan. PK melakukan penelitian seperti soal latar belakang kasus dan kehidupan anak itu. Atas dasar itulah, kemudian Rutan mengajukan usulan ke pengadilan agar anak-anak itu dikembalikan ke orang tuanya atau dijadikan anak negara. ”Namun, sampai saat ini tak pernah dikabulkan.”

Anak-anak itu sendiri berharap punya kehidupan baru setelah keluar dari tahanan. Dari 23 anak yang mendekam di sana, mengaku masih punya harapan meraih masa depan yang lebih baik. Ada yang ingin sekolah lagi, ada juga yang ingin kerja.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Beda Angkanya, Sama Korbannya

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sejak krisis ekonomi global melanda, menurut Dinas Tenaga Kerja Batam setidaknya 8.000 buruh kehilangan pekerjaan. Apindo menyebut yang terkena PHK mencapai 175 ribu orang.
***
Papan pengumuman lowongan kerja di Community Centre (CC) Batamindo, Mukakuning, itu menyedot begitu banyak perhatian. Senin pekan lalu, puluhan mata memandang tak lepas pada 21 lowongan kerja yang ditempel di sana. Begitu satu orang pergi, rombongan lainnya datang.

Dari pagi sampai siang, kerumunan di depan pengumuman itu tak pernah berkurang. Rata-rata, mereka adalah para pendatang baru yang hendak mengadu nasib di Batam. Satu-dua lainnya adalah mantan karyawan yang baru saja habis kontrak kerjanya.

Di antara kerumunan itu, Dodi, 21, dan Cahyono, 21, duduk lemas di bangku panjang, tepat di depan papan tersebut. Bergantian, mereka meneguk sebotol teh dingin yang dibeli di kios sebelah. ”Semua untuk cewek. Tak ada lowongan buat cowok,” kata Dodi.

Sebanyak 21 lowongan pekerjaan yang dipasang di papan itu memang rata-rata mencari operator perempuan. Ada yang membutuhkan tenaga 50 orang, ada juga yang membutuhkan 25 orang. Meski begitu, tetap saja banyak juga laki-laki yang memelototi pengumaman itu. Termasuk Dodi dan Cahyono.

Dodi dan Cahyono sudah membaca lowongan itu dari pagi. Karena tak ada lowongan yang pas buat mereka, keduanya lalu berkeliling ke sejumlah perusahaan di Batamindo, berharap ada lowongan kerja yang ditempel di depan perusahaan. Namun hingga siang, apa yang mereka cari tak ada, sehingga memutuskan kembali lagi ke CC Batamindo.

Dodi baru datang dari Sumatera Barat, sebulan lalu. Ia lulusan SMK tahun 2007. Dua tahun di Padang ia berdagang, lalu karena terus merugi ia bermaksud merantau ke Batam, tinggal bersama pamannya di Batuaji. Sama seperti Dodi, Cahyono juga lulusan SMK tahun 2007. Ia sempat membuat paspor dan hendak kerja menjadi pelaut. Tapi, cita-citanya itu pupus karena ia ternyata menjadi korban penipuan.

Jika Dodi belum dapat pekerjaan, Cahyono sudah dua minggu menjadi pekerja di galangan kapal di kawasan Tanjunguncang. Senin pekan lalu, Cahyono ketinggalan truk yang mengangkut para pekerja dari Batuaji ke Tanjunguncang, karena itu ia memutuskan mencari lowongan lain di Batamindo.

“Kalau ada pekerjaan yang lebih baik, saya akan pindah,” katanya.

Cahyono mengaku datang ke Batam karena Batam terkenal sebagai kota industri dan banyak teman-temannya sudah lebih dulu bekerja di Batam. Sama halnya dengan Dodi, ia datang ke Batam karena teman-temannya banyak yang bekerja di kota ini. ”Daripada di kampung tak ada kerja, lebih baik cari kerja di Batam.”

Begitu juga dengan Erwin, 23, yang baru saja berhenti kerja karena habis kontraknya. Ia mendatangi CC Batamindo untuk mencari pekerjaan baru. ”Sudah dua minggu jalan cari lowongan, belum juga ketemu. Dulu, tak sesusah ini,” tuturnya.
Di tempat yang sama, Ahmad, 27, memandangi lowongan yang terpasang di sana. Ahmad mengaku baru dua hari menganggur. Sebelumnya, selama enam tahun ia bekerja sebagai marketing di sejumlah perusahaan. ”Saya pindah-pindah terus,” katanya.

Sampai saat ini, Batam terus menjadi magnet yang menarik para pendatang untuk mengadu nasib. Padahal, menurut catatan Dinas Tenaga Kerja Batam, sejak Oktober 2008 sampai Juli ini, ada sekitar 8.000 pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global.

”Saya lupa angka pastinya. Sejak akhir 2008 sampai sekarang, kira-kira ada pengurangan karyawan sekitar 8.000 orang. Itu di perusahaan-perusahaan elektronik dan manufaktur seperti di Mukakuning dan lainnya,” kata Kadis Tenaga Kerja Batam Rudi Sakyakirti, Selasa pekan lalu.

Pengurangan karyawan itu, kata Rudi, akibat imbas krisis ekonomi global. Banyak perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk ekspor tujuan Eropa, Jepang maupun Amerika yang tak lagi beroperasi atau mengurangi produksi karena order juga berkurang.

Pola pengurangan karyawan itu, biasanya dilakukan perusahaan terhadap pekerja yang habis masa kontraknya. Begitu kontrak mereka habis, kontraknya tak lagi diperpanjang. Bahkan, banyak perusahaan yang memilih memulangkan karyawannya tapi tetap membayar gaji mereka sesuai kontrak karena tak bisa berproduksi lagi. Ada juga perusahaan yang memberhentikan pekerjanya (PHK).

“Selama pengurangan karyawan itu sesuai dengan aturan yang ada, seperti hak-hak mereka dipenuhi sesuai aturan, tak ada masalah. Ini murni karena imbas krisis global,” tukas mantan Kabag Hukum Pemko Batam, itu.

Namun, pengurangan ribuan karyawan itu bukan kiamat bagi pencari kerja di Batam. Di antara gelombang pengurangan karyawan itu, ada juga sejumlah perusahaan yang sudah mengajukan permohonan akad ke Dinas Tenaga Kerja Batam untuk mendatangkan pekerja dari luar, untuk kebutuhan tahun 2010, mendatang. Ancar-ancarnya, mereka membutuhkan sekitar 500 hingga 1.500 pekerja.

”Mudah-mudahan tahun depan bisa normal lagi,” ujarnya.

Ternyata, angka pengurangan karyawan akibat krisis ekonomi global yang dipunyai Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam lebih gawat lagi. Ketua Apindo Abidin menyatakan, ada sekitar 175 ribu pekerja di Batam yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global sejak November 2008 sampai Juli ini.

”Ini bukan omong kosong. Terbukti pada Pemilu lalu, berapa banyak pekerja Mukakuning yang terdaftar di DPT namun tak datang ke TPS karena sudah dipulangkan,” katanya, Rabu pekan lalu.

Krisis ekonomi global saat ini, kata Abidin, merupakan krisis terhebat sejak era perang dunia II berakhir. Awalnya, ia memprediksi krisis ini akan terjadi selama tiga tahun. Namun, melihat kinerja pemerintahan AS di bawah pimpinan Barrack Obama dan kinerja tim ekonomi Indonesia yang cukup baik, ia berharap ekonomi bisa pulih di tahun 2010.

Industri di Batam, kata Abidin, yang hampir 99 persen produknya berorientasi ekspor ke negara-negara yang terempas krisis ekonomi sangat merasakan dampaknya. “Bohong, kalau Batam dibilang tak terkena imbas krisis ekonomi global.”

Setidaknya, kata Abidin, ada sekitar 15 perusahaan yang tutup. Tujuh di antaranya terekspos ke publik, namun sembilan perusahaan kecil lain yang tutup tak sampai terdengar ke permukaan. ”Ada sekitar 20 perusahaan lain yang saat ini dalam posisi bertahan,” ujarnya. Perusahaan apa saja, Abidin enggan membukanya.

Jika sampai krisis ini terus terjadi sampai tahun depan, kata Abidin, tidak menutup kemungkinan 20 perusahaan yang kini bertahan dalam hempasan krisis itu akan tutup. ”Kalau ini terjadi, sekitar 15 ribu hingga 20 ribu pekerja di perusahaan-perusahaan itu bisa kehilangan pekerjaan,” katanya.

Jika melihat apa yang sudah terjadi, perkiraan Abidin bisa saja terbukti. Di PT Infineon saja, perusahaan yang memproduksi IC otomotif di Mukakuning, menurut Bendahara PUK SPMI Infineon Nikson Sitorus, sudah mulai tak memperpanjang kontrak karyawan yang habis masa kontraknya akibat order di perusahaan itu yang berkurang.

”Produksi pernah anjlok sampai 50 persennya karena order berkurang. Sekarang perlahan mulai tumbuh lagi,” katanya.

Kerja lembur atau OT (overtime) yang biasanya ada, katanya, sudah dihentikan. ”Tapi sekarang perusahaan mulai rekrut pekerja baru,” tukasnya.

Disnaker dan Apindo boleh saja berbeda soal data, tapi korbannya tetap sama: pekerja yang butuh hidup dan makan. Lepas dari data siapa yang akurat, kata Agus Sriono, Ketua PC SPEE FSPMI Batam, banyak karyawan yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global. Kenapa pengurangan karyawan besar-besaran itu tidak terlalu mencolok karena tak terjadi sekaligus. Ada perusahaan yang terkena imbas krisis ekonomi global di akhir 2008 karena negara tujuan ekspor mereka mengalami krisis, ada juga yang baru merasakan dampaknya di tahun 2009.

”Dampaknya tidak berbarengan. Itu terjadi karena perusahaan satu dengan yang lain produksinya berbeda dan pasarnya juga berbeda,” katanya.

Akhir Desember 2008 lalu misalnya, Batam Pos pernah memberitakan tentang 700 pekerja PT Schneider Electric di Mukakuning, khususnya bagian operator, yang dirumahkan akibat order kurang. Untungnya, ratusan pekerja yang dirumahkan itu masih menerima gaji pokok. “Kalau order (sudah) normal, kami akan dipanggil lagi,” kata Andri, salah seorang karyawan.

Sebulan sebelumnya, PT Shinetsu Batam dan sejumlah perusahaan sejenis juga melakukan kebijakan yang sama, merumahkan ratusan pekerja.

Di awal tahun 2009, sekitar 100 karyawan PT Nu Tune dan PT TEC yang tinggal di dormitori Blok P dan R, Batamindo dipulangkan karena habis masa kontrak kerjanya. Perusahaan-perusahaan itu tak memperpanjang lagi kontrak mereka karena terempas krisis ekonomi global. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · getir

Sipit di Mata, Dekat di Hati

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Awalnya mereka ditolak keluarganya. Orang Tionghoa, pantang menikah dengan pria atau perempuan suku lain. Tapi, seiring berjalannya waktu, larangan itu sudah kendur.

***
Memegang sepiring talas rebus, perempuan itu bertandang ke rumah tetangganya. Tubuhnya padat berisi. Berkulit kuning dan bermata sipit. Beda dengan para tetangganya di Lubuksemut, Karimun, yang berkulit sawo matang.

Dia bernama Kho Siu Moi alias Tini, perempuan bermarga Tionghoa, berumur 36 tahun. Setelah sempat bolak-balik Batam-Karimun, sejak sepuluh tahun yang lalu ia menetap di Karimun bersama suaminya Eriyanto, 52, seorang pria kelahiran Banyumas yang besar di bumi berazam, Karimun.

Eriyanto pulalah yang membuat Tini bersahabat dan bertetangga dengan warga Jawa dan Melayu di Lubuksemut. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan saat masih remaja, kala tinggal di Kampungutama, Batam.

Senin pekan lalu, saat Batam Pos mengucapkan salam, ia menjawab dengan fasih. Padahal, dua puluh tahun yang lalu ia sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia. ”Dulu, sehari-hari saya pakai bahasa Teo Chiuw. Baru bisa bahasa Indonesia setelah bersuami orang Jawa,” katanya.

Sambil menunggu kedatangan Eriyanto yang sedang mengantar kerupuk amplang ke sejumlah mini market, Batam Pos diajak ke rumahnya. Ternyata, perubahan di diri Tini tak hanya soal bahasa. Ruang tamunya juga tak lagi dihiasai ornamen-ornamen atau hiasan khas Tionghoa.

Sepuluh menit menunggu, Eriyanto tiba. Tampak sekali perbedaan suami-isteri itu. Eriyanto berkulit sawo matang, terbakar matahari. Sementara Tini berkulit kuning, khas perempuan-perempuan warga Tionghoa.

”Untung anak-anak kami tak ikut bapaknya,” kata Tini, yang disambut senyum Eriyanto dan anak-anak mereka. Empat anak pasangan ini berkulit kuning dan bermata sipit.

Bagaimana Tini dan Eriyanto bisa menikah, Tini yang banyak bercerita. Semuanya berawal saat Tini bekerja sebagai pemandu wisatawan di sebuah biro perjalanan di Batam sekitar tahun 1987. Umur Tini saat itu baru 15 tahun. Hampir setiap hari, Tini memandu wisatawan-wisatawan asing asal Singapura ke tempat-tempat wisata di Batam.

Sementara Eriyanto adalah supir bus yang setiap hari pula mengantar wisatawan-wisatawan itu. Eriyanto meski bukan orang Tionghoa, pintar berbahasa Teo Chiuw. ”Saya malah hanya berbahasa Jawa kalau ke Bengkong, nengok saudara,” kata Eriyanto.

Setiap hari mereka bertemu. Kadang Tini sering bercerita soal sikap bosnya ke Eriyanto, begitu Eriyanto juga bercerita ke Tini. Komunikasi mereka lancar. Tini yang tak bisa berbahasa Indonesia, tak sulit berkomunikasi karena Eriyanto bisa berbahasa Teo Chiuw.

Berbulan-bulan bersama, cinta itu datang. Tini jatuh hati pada Eriyanto, yang usianya terpaut 16 tahun. Mereka pun pacaran. Namun saat hati mereka sedang berbunga-bunga, keluarga Tini tak setuju. Ibu Tini tak suka anaknya berpacaran dengan pria yang tak bermarga Tionghoa.

Tapi Tini tak patah arang. Ia mencoba segala cara untuk meluluhkan hati ibunya. Eriyanto juga dimintanya mengambil hati calon mertuanya itu. ”Setiap kali habis kemana gitu, dia (Eriyanto,red) pasti bawain oleh-oleh buat ibu saya. Ibu lama-lama memberi restu,” tutur Tini.

Beda dengan keluarga Tini, keluarga Eriyanto menyambut baik kehadiran Tini. Mereka gembira Eriyanto yang sudah berkepala tiga akhirnya bakal dapat jodoh.

Restu keluarga didapat, persoalan lain datang. Saat hendak menikah, giliran Tini yang bimbang. Ia risau kalau harus meninggalkan keyakinan lamanya, mengikuti keyakinan Eriyanto yang beragama Islam.

”Berbulan-bulan saya berpikir. Lama juga sebelum akhirnya saya memutuskan menikah,” katanya.

Di rumah keluarga Eriyanto, di Lubuksemut Karimun, pernikahan mereka disahkan sekitar tahun 1989. Usai menikah, Eriyanto dan Tini kembali ke Batam menekuni pekerjaan mereka. Baru di awal tahun 1990-an, putri pertama mereka, Mega Rini, 16, lahir.

Di awal berumah tangga, sehari-hari Eriyanto dan Tini tetap berbahasa Teo Chiuw. Anak-anak mereka juga demikian. Baru setelah mereka kemudian menetap di Karimun sekitar tahun 1999, Tini belajar berbahasa Indonesia.

Tiga anak mereka kini menguasai dua bahasa, bahasa Teo Chiuw dan bahasa Indonesia. Saat Batam Pos ke sana, Mega Rini, 16, Nina, 15, dan Rina Karmila, 10, berbahasa Melayu saat berbincang dengan ibu dan tetangga mereka.

Menurut Eriyanto, ia tak membatasi pergaulan anak-anaknya. Suatu saat, jika mantu nanti, ia juga tak akan memilih anaknya harus menikah dengan orang Tionghoa atau Jawa. ”Itu terserah anak. Yang penting bagi saya, dia bisa membahagiakan anak saya.”

Kini pasangan ini berbisnis kerupuk amplang merek Bona. Kerupuk hasil home industri itu banyak dijual di mini market-mini market di Karimun.

”Dulu, di awal-awal menikah, hampir sepuluh tahun kami hidup susah,” kata Tini.

Beberapa kilometer dari rumah Eriyanto, masih di Lubuksemut, Karimun, juga tinggal pasangan suami-isteri, yang suaminya bermarga Tionghoa. Namanya Nur Ikhsan alias Tjia Mei Hua, 64, kelahiran Karimun. Sementara isterinya Mas Amah, 39, asli Cirebon.

Nur Ikhsan kini tak lagi menggunakan nama Tionghoa-nya. Tiga anaknya diberi nama Arab. Ia sendiri biasa dipanggil Pak Haji. Tahun 2004 lalu, ia naik haji mendapatkan fasilitas Pemkab Karimun.biasa dipanggil Pak Haji.”Pak Nurdin (Bupati Karimun) yang menghajikan saya,” katanya.

Pernikahannya dengan Mas Amah, kata Nur Ikhsan, diawali pencariannya akan makna hidup. Dua kali ia berubah keyakinan, sampai akhirnya menemukan Islam. Dengan maksud memperdalam agama, ia berlayar tiga hari tiga malam menuju Cirebon di tahun 1980-an.

Sebulan di Cirebon, ia kembali ke Karimun karena bapaknya menderita stroke. Begitu tahu kalau Nur sudah berubah keyakinan, keluarganya menolaknya. Namun, ia tetap bertahan sampai akhirnya ia kembali pergi ke Cirebon saat ayahnya meninggal.

Selama di Cirebon, ia memperdalam agama. Untuk menyambung hidup, Nur mengelola toko milik orang lain yang dipercayakan padanya. Tahun 1987, saat berjalan-jalan di sekitar pondok Gedongan Cirebon, ia tertarik pada Mas Amah, seorang santri. Nur Ikhsan pun melamarnya.

Amah sendiri mengaku tak pernah memikirkan latar belakang Nur yang bermarga Tionghoa, saat memutuskan menerima lamaran Nur. ”Saya pasrah saja pada Allah,” katanya.

Tiga tahun setelah diusir keluarganya, Nur Ikhsan kembali dipanggil ke Karimun. Ibunya meminta dia kembali. ”Karena ibu yang manggil, saya ke Karimun,” katanya.

Ibunya menyambut hangat. Namun, adik-adiknya tetap tak mengakui Nur. Baru setelah sekian lama, hubungannya dengan saudara-saudaranya mencair. Tapi di bidang usaha, Nur harus benar-benar membangun usaha sendiri. Ia membuka jasa foto kopi di kantor Dispenda. ”Usaha kecil, cukup untuk makan,” katanya.

Kini Nur hidup bahagia dengan Mas Amah. Mereka punya tiga anak, dua laki-laki, satu yang bungsu perempuan. Warna kulit anak-anak mereka ikut ibunya. Namun, mata mereka ikut bapaknya, sipit. ”Anak saya tak mau dipanggil Cina,” kata Nur.

Nur menjadi panutan orang-orang Tionghoa yang menikah dengan warga Melayu atau suku lain, terutama yang berubah keyakinan menjadi Islam. Ia sering menjadi guru, tempat mereka belajar Islam. Warga Singapura yang menikah dengan orang Karimun juga belajar kepadanya.

Kadang, kata Nur, mereka datang ke rumahnya. Kadang, Nur yang datang ke rumah mereka. ”Sekarang saya tak mau lagi. Mereka datang minta diajarin kalau mau menikah saja. Kalau sudah menikah, tak mau belajar lagi.”

Pernikahan antara Kho Siu Moi dan Eriyanto atau Tjia Mei Hua dengan Mas Amah adalah contoh dari puluhan kisah pernikahan warga Tionghoa dengan suku lain. Mereka banyak berada di Karimun, di Tanjungpinang dan kota lain yang penduduk Tionghoanya cukup banyak.

Januari lalu misalnya, seperti yang tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) Karimun, juga menikah laki-laki Tionghoa Kek Hoksun, 43, dengan gadis Melayu, Maylinda Ariyanti, 25.

”Sekarang kalau ada pernikahan antara warga Tionghoa dengan warga Melayu dan lainnya itu sudah biasa. Keponakan saya saja menikah bukan sama dengan orang Tionghoa,” kata Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kepri, Harsono.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Habis Gelap, Terang Tak Dapat

Agustus 2, 2009 · 1 Komentar

Sinar kemerahan matahari sore perlahan redup. Suara muadzin dari Masjid Babussalam, di Perumahan Griya Pramuka Permai, berlatar jembatan Dompak dan laut lepas, mengalun lewat pengeras suara. Adzan, tanda masuknya waktu salat magrib menunggu detik.

Senin pekan lalu, jarum jam melewati pukul enam sore. Listrik tiba-tiba padam. Kegelapan menyelimuti perumahan di Jalan Pramuka itu. Terhenti pula suara muadzin. Senyap.

Di ujung gang, sebuah keluarga melewatkan salat magrib ditemani lampu darurat (emergency lamp) yang dipasang di atas lemari ruang tengah. Lampu itu tak cukup terang, namun bisa menerangi penghuninya agar tak meraba-raba dalam gelap. Di dapur, lampu teplok membantu penerangan.

Lampu teplok itu kemudian pindah ke ruang depan. Dua kakak beradik bersimpuh di situ, Ikhsan, 9, dan Mutiah, 8. Keduanya siswa SDIT Al Madinah. Malam itu, mereka ingin mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Dengan pencahayaan minim itu mereka membaca dan menulis. ”Saya ada PR pelajaran agama,” kata Mutiah. ”Kalau saya PR bahasa arab,” Ikhsan menimpali adiknya.

Menurut Laila, 39, ibu mereka, sebenarnya anak-anaknya sudah dibiasakan belajar sore. Setiap kali pulang sekolah, ia meminta Ikhsan dan Mutiah belajar dulu. Tujuannya satu, agar jam belajar mereka tak terganggu pemadaman listrik.

”Tapi, namanya anak-anak, pulang sekolah mereka kan ingin main sama teman-temannya juga. Kadang capek karena sekolah sampai sore, saya tak paksa mereka untuk langsung belajar,” katanya.

Pemadaman listrik bergilir yang terus terjadi di Tanjungpinang, kata Laila, tak hanya menganggu proses belajar anak-anaknya. Dia yang juga seorang guru SMP, ikut merasakan dampaknya. Terutama berkaitan dengan tugas-tugasnya sebagai guru.

”Kadang kan ada tugas-tugas sekolah yang harus dicek di rumah. Sementara listrik hidup mati-hidup mati begini,” ujarnya.

PLN Tanjungpinang memang melakukan kebijakan pemadaman bergilir sejak salah satu pembangkitnya dalam masa pemeliharaan. Senin itu, Perumahan Griya Pramuka Permai yang masih dalam kawasan Jalan Pramuka, mendapatkan giliran pemadaman pukul 17.00-20.00 WIB.

Namun sore itu, pemadaman baru terjadi lewat pukul enam. Esoknya, Jalan Pramuka kembali diumumkan sebagai kawasan yang listriknya akan dipadamkan. ”Biasanya, pemadaman bergilir dua hari sekali,” kata Laila.

Beberapa kilometer dari rumah Laila, Jhony Handoko juga dibikin repot. Pemilik mini market dan lapangan olah raga Mahakam Badminton Centre itu harus berlari menyalakan genset jika listrik tiba-tiba padam.

”Saya tak pakai sistem otomatis. Kalau listrik mati, saya lari hidupin genset. Diputar secara manual. Kalau pakai otomatis, mahal,” katanya.

Di temui di lapangan badminton, Senin malam pekan lalu, Jhony mengaku sudah menyediakan genset berkekuatan 15.000 KVA sejak membuka usaha mini market dan lapangan badminton tahun 2006. Genset itu, ia gunakan untuk menerangi dua usahanya itu.

Masih di tempat yang sama, Jhony sebenarnya juga menyewakan puluhan kamar kos yang letaknya di antara mini market dan lapangan bulu tangkisnya itu. ”Cuma kos-kosan tak saya aliri genset. Tak kuat. Kalau listrik mati, ya kos-kosan gelap,” tuturnya.

Senin malam itu, kebetulan mini market Jhony tidak menjadi sasaran pemadaman. ”Minggu kemarin, listrik di sini padam. Malam ini, hidup.”

Ditanya apakah pemadaman listrik bergilir ini merugikan bagi seorang pengusaha seperti dirinya, Jhony mengangguk. Menurutnya, pemakaian listriknya tak menurun meski listrik sering padam. Setiap bulan, tagihan listrik yang ia bayar tetap sama seperti saat tak ada pemadaman.

”Pemakaian genset ini seperti biaya ekstra. Setiap bulan, untuk beli solar saja sekitar Rp4 juta. Sementara bayar listrik, hidup atau mati sama terus,” tukasnya.

Pemadaman listrik yang paling dirasakan akibatnya oleh Jhony, terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2008, silam. Saat itu pemadaman listrik hampir terjadi tiap malam. Durasinya juga lebih lama.

Sejumlah penjual genset di kawasan Jalan Pasar dan Temiang juga sempat meraup untung di bulan Juli-Agustus tersebut. Di toko Watsun misalnya, setiap hari rata-rata tujuh unit genset terjual.

”Kalau sekarang sudah tak ada lagi yang beli genset. Karena orang Tanjungpinang ini sudah banyak yang punya dan rata-rata sudah biasa dengan pemadaman. Kalau ada yang datang, biasanya mau servis,” kata penjual genset di toko Watsun, Senin pekan lalu.

Menurut Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tanjungpinang Rudi Chua, krisis listrik yang sudah terjadi bertahun-tahun itu memukul pengusaha, termasuk pengusaha hotel dan restoran. Saking seringnya byer pet, sistem penyalaan otomatis genset yang ada di hotel-hotel rusak.

”Sekarang banyak hotel yang menghidupkan genset secara manual karena sistem otomatisnya rusak gara-gara listrik sering byar pet.”

Yang repot, katanya, kalau ada suatu acara yang digelar di hotel. Tiba-tiba listrik padam. Sementara karena sistem penyalaan otomatisnya rusak, untuk mengoperasikan genset harus dilakukan secara manual. Dengan cara manual itu, butuh waktu hingga lima menit untuk menyalakan listrik seperti kondisi semula.

”Citra Tanjungpinang sebagai ibu kota provinsi kan terganggu karena krisis listrik di sini belum teratasi. Belum lagi investor yang mau usaha, berpikir panjang,” kata pemilik Pelangi Resort, itu.

Tambah repot, kata Rudi, karena jadwal pemadaman sering tak sesuai jadwal. ”Jadwal pemadaman jam lima, sebelum jam lima sudah mati duluan,” tuturnya.

Setiap bulan, rata-rata hotel di Tanjungpinang menghabiskan 700 hingga 800 liter solar untuk pengoperasian genset, kala listrik padam. Belum lagi harus mengeluarkan biaya pemeliharaan dan lainnya.

”PHRI juga sudah beberapa kali mengeluhkan dan mengungkapkan kondisi ini baik ke PLN maupun ke pemerintah. Namun, sampai saat ini belum teratasi,” tukasnya.

Belum lagi banyaknya alat elektronik yang rusak akibat listrik byar pet itu. Selain dialami hotel-hotel, warga juga banyak mengalami hal itu. Ada yang rusak kulkasnya, televisi atau komputernya.

”Kalau punya kakak saya yang rusak alat penerima parabolanya. Penyebabnya ya gara-gara listrik mati hidup-mati hidup,” kata Giono, 32, pengemudi mikrolet.

Manajer PLN Tanjungpinang Nuryasfin mengatakan, kebijakan pemadaman bergilir tak bisa dihindari karena PLN mengalami pengurangan pasokan listrik akibat salah satu mesin pembangkitnya dalam masa pemeliharaan berkala.

Jika biasanya PLN beroperasi dengan pasokan listrik 36,5 mega watt (MW), sejak satu mesin di-over hall, berkurang jadi 31,5 MW. Sementara beban puncak sebesar 34,5 MW. ”Saya harap warga bersabar dan memahami masalah ini,” katanya.

Sekitar bulan Juni dan bulan Juli 2009 mendatang, katanya, PLN Tanjungpinang akan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kekuatan 2×15 MW. ”Kalau dua mesin itu sudah beroperasi, insya Allah teratasi.”***

→ 1 CommentKategori: Batam

Tempat Singgah Favorit Pencari Suaka

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pelabuhan tikus di Batam tak hanya jadi tempat penyelundupan barang-barang, atau jalur TKI ilegal dari Malaysia. Tapi juga jadi pintu masuk para imigran gelap. Mereka transit di Batam, sebelum menuju negara ketiga.

***
Dari tepi pantai, rumpun bambu berwarna hijau kekuning-kuningan itu melambai. Daunnya basah, sisa dari gerimis yang baru saja berlalu. Senin siang pekan lalu, suasana di tempat itu begitu sunyi.

Rumpun bambu tadi adalah penanda, disitulah letak Tanjungbuluh atau Tanjungbambu. Diapit perkampungan Teluk Mata Ikan dan kawasan wisata Turi Beach, Tanjungbuluh bukanlah tempat yang menarik. Luasnya sekitar dua kali lapangan bola, penuh tanaman dan rumput liar. Nyamuknya besar-besar, gigitannya dalam menembus celana jeans.

Di sanalah, Jumat dua pekan lalu 19 imigran dari Afghanistan ditangkap polisi, setelah dua hari bersembunyi. Para imigran itu masuk Batam lewat Johor Malaysia. Mereka diselundupkan lewat Tanjungbuluh, menghindari pemeriksaan imigrasi.

Tanjungbuluh sendiri hanyalah kawasan menjorok ke laut, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak ada pelabuhan atau pelantar tempat perahu bersandar. Nyaris seperti tanjung yang tak tersentuh. Jejak kaki di pantai terhapus air laut yang pasang. Hanya kicau burung dan gemericik air dari tanjung menuju pantai yang terdengar. Sesekali deru mesin kendaraan memecah sunyi.

Salamuddin, 59, nelayan Teluk Mata Ikan, Nongsa, yang sedang memperbaiki perahu di tepi pantai, mengaku tak tahu menahu soal kedatangan para imigran tersebut. ”Saya terlalu sibuk melaut, tak memperhatikan sekeliling,” tuturnya.

Yang kaget setengah mati adalah Farida, 18, gadis Teluk Mata Ikan. Bersama ibunya, Jumat itu ia duduk di pojok rumahnya yang bersebelahan dengan jalan setapak menuju Tanjungbuluh. Sebuah mobil polisi dan dua mobil penuh penumpang tiba-tiba berhenti di depannya. Lalu, keluarlah sosok-sosok berperawakan tinggi dari dalamnya.

Mereka para imigran Afghanistan yang baru saja ditangkap polisi. Tanpa risih, mereka duduk di sampingnya. Lalu, menunjuk jus jeruk dalam gelas besar yang baru seteguk ia minum.

”Mereka seperti kelaparan. Nunjuk-nunjuk jus, tak mengucapkan apa-apa. Sudah, saya berikan saja pada mereka.”
Tak cukup jus, roti juga dilahap habis. ”Kayak orang tak makan berhari-hari,” tutur Farida.

Para imigran Afghanistan tadi hanyalah kasus kecil dari banyaknya penyelundupan manusia ke Batam lewat pelabuhan tikus. Dua warga Srilanka, Sujay, 28, dan Rajeepan, 20, bahkan lolos hingga Bandara Hang Nadim. Mereka dari Malaysia hendak ke Jakarta.

Kepada wartawan, dalam bahasa Melayu, Sujay mengaku berhasil masuk Batam atas bantuan tekong Indonesia. Dari Johor Bahru ia diselundupkan lewat pelabuhan tikus, yang tentu saja tak ia tahu tempatnya. ”Kami masing-masing bayar 200 ringgit,” katanya.

Sujay sudah empat tahun tinggal di Malaysia, negara yang memang terbuka buat para imigran yang hendak menuju negara ketiga. Sujay jadi pelarian akibat konflik di Srilanka tak kunjung mereda. Hampir setiap hari, katanya, warga Srilanka ditembus peluru nyasar.

”Saya nak ke Jakarta, ke kantor UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees/Komisi PBB yang mengurusi pengungsi),” tukasnya.

Sepanjang tahun 2009 ini, berarti sudah 70 imigran asing yang ditahan di Batam. Mereka dititipkan di Rumah Detensi Imigrasi Batam dan Tanjungpinang.

Tak hanya imigran asing, para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang visa atau izin tinggal dan izin kerjanya habis di Malaysia juga masuk Batam lewat jalur pelabuhan tikus tadi. Pintunya tak cuma satu, tapi berpuluh-puluh.

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam misalnya, mengidentifikasi ada 63 pelabuhan tidak resmi atau pelabuhan tikus di Batam. Pelabuhan-pelabuhan itulah yang sebagian di antaranya dijadikan pintu masuk WNA yang bermasalah dengan dokumen keimigrasian. Lalu, setelah di Batam mereka keluar lewat pintu resmi seperti lewat bandara atau pelabuhan.

Masalah pelabuhan tikus itu bahkan sempat mendapat perhatian serius dari Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi. Ia khawatir, penyelundupan barang ke Batam akan marak seiring dengan dijadikannya Batam sebagai kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas.

Sumber yang sering menjemput para TKI dari Malaysia ke Batam menyebut, kawasan pantai Teluk Mata Ikan dan kawasan Nongsa menjadi primadona masuknya para TKI yang melanggar dokumen keimigrasian itu. Pintu masuk lainnya adalah kawasan Batumerah, Batuampar dan Dapur 12 Nongsa. ”Tergantung situasi. Mana yang aman, di sanalah mereka dimasukkan,” katanya. Penjemputan biasanya dilakukan malam hari.

Speedboat yang mengantar para TKI itu tak perlu bersandar di pelabuhan atau pelantar. Penumpangnya diturunkan di kedalaman air sepinggang. ”Untuk menghindari kecurigaan,” tuturnya.

Di Batam, para TKI yang habis masa tinggalnya di Malaysia itu kemudian dibuatkan paspor baru dan kembali masuk ke Malaysia. Di Malaysia, biasanya para TKI itu kembali tidak memperpanjang izin tinggal dan kerjanya karena permasalahan biaya. Sehingga, saat pulang ke Indonesia, mereka kembali lewat pelabuhan tikus. ”Begitu seterusnya, bertahun-tahun.”

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Klas I Khusus Batam Yudi Kurniadi mengatakan, baik para imigran asing maupun TKI dari Malaysia yang masuk Batam lewat pelabuhan tikus melanggar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Karena setiap orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia, wajib lewat pemeriksaan imigrasi.

Orang asing yang menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak Rp25 juta.

“Tapi imigran asing yang dinyatakan sebagai pengungsi oleh UNHCR, tidak bisa dikenakan aturan ini. Tidak bisa langsung dideportasi.”

Begitu juga dengan TKI yang masuk dari Malaysia ke Batam lewat pelabuhan tikus. ”Untuk TKI itu, sanksinya ya sanksi administrasi. Mereka (yang melanggar) dicegah, tak boleh lagi ke luar negeri,” katanya.

Sesuai aturan, kata Yudi, pintu masuk resmi ke Batam dari luar negeri lewat lima pelabuhan yakni Pelabuhan Sekupang, Batam Centre, Marina, Nongsa Pura dan Harbour Bay serta bandara. Di pintu-pintu masuk resmi itulah petugas imigrasi ditempatkan.

”Di luar itu, seperti di pelabuhan-pelabuhan tikus, kami mengalami kendala untuk memantaunya. Kita koordinasi dengan instansi terkait yang menjaga perbatasan seperti dengan TNI AL, misalnya,” tukas Yudi.

Yudi tidak membantah, kalau Batam menjadi kota transit para imigran asing menuju negara ketiga. Letak Batam yang berbatasan dengan Malaysia, negara yang membuka diri bagi imigran, salah satu alasannya. ”Dari sejumlah pemeriksaan terhadap para imigran itu, kita bukan negara tujuan. Mereka datang dari Malaysia ingin ke Australia atau ke Kantor UNHCR di Jakarta.”

Para imigran asing itu tidak lewat pelabuhan resmi, karena kemungkinan ditolak masuk Indonesia, besar. ”Makanya, mereka masuk lewat pelabuhan tikus tadi,” ujarnya.

Para imigran asing yang masuk Batam itu, kata Yudi, kini ditampung di Rumah Detensi Imigrasi Batam di Sekupang. Rabu lalu, beberapa orang di antaranya sudah dipindahkan ke Tanjungpinang. Mereka di rumah Detensi sampai UNHCR memutuskan mereka sebagai pengungsi dan diarahkan ke negera ketiga. LSM International Organization for Migration (IOM) membantu penanganan pengungsi tersebut. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Gurita Bisnis Orang-orang Kecil

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Koperasi dulu identik dengan orang-orang kecil, modal cekak dan beragam citra buruk lainnya. Kini, sejumlah koperasi justru memiliki aktivitas bisnis yang lebih kuat dan luas dibandingkan perusahaan swasta. Sejumlah koperasi karyawan misalnya, omsetnya sampai Rp3 miliar per bulan.
***

Terletak di pojok Komplek Batu Batam Mas Blok E, Baloi, dua ruko berlantai tiga itu tak pernah sepi dari aktifitas. Sejumlah pekerja terlihat lalu lalang keluar masuk, beberapa di antaranya sibuk memasukkan kue ke kotak-kotak transparan.

Rabu sore pekan lalu, La Ode Kamsir, supervisor kantin Koperasi Karyawan Sejahtera Mandiri (KSM), sibuk mengecek kue. Ia memastikan, kue yang akan dikirim sore itu ke sejumlah perusahaan di kawasan Batamindo Mukakuning dan kawasan industri Batam Centre, pas jumlah dan kualitasnya.

”Jangan sampai kurang,” katanya.

KSM adalah koperasi karyawan PT Panasonic Shikoku Electronics Batam. Sejak akhir 2006 silam, koperasi itu menyewa ruko, memindahkan kantornya dari lokasi pabrik ke Batu Batam Mas. Dari sana, operasional koperasi dikendalikan seorang manajer.

Tak hanya sebagai kantor, ruko tersebut juga menjadi tempat usaha. Salah satunya usaha catering dan roti. KSM menyuplai kebutuhan catering sejumlah perusahaan di kawasan industri MUkakuning dan Batam Centre.

”Setiap hari, produksi kami lebih dari sepuluh ribu porsi,” ujar La Ode. Belum lagi produksi kuenya bisa sampai 8.000 potong per hari.

Dilihat sekilas, KSM seperti sebuah perusahaan besar. Koperasi ini menggabungkan dua ruko berlantai tiga sebagai kantor, dan satu ruko lain di belakang sebagai gudang.

Lantai satu jadi tempat memasak. Di sini, Gubernur Kepri Ismeth Abdullah pernah mencoba memasak sambal. Di lantai dua menjadi kantor. Di dindingnya terpasang sejumlah penghargaan yang diraih KSM. Foto-foto penting seperti saat koperasi ini mendapatkan penghargaan sebagai koperasi berprestasi tingkat nasional tahun 2007, yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali, juga terpajang. Sementara di lantai tiga, menjadi tempat memasak kue.

”Padahal dulu, saat baru berdiri kami cuma mempunyai konter kecil di kantin perusahaan,” kata Rivai Laminullah, Wakil Ketua KSM.

Ditemui di Panasonic, Rivai didampingi sejumlah pengurus koperasi saat menceritakan sejarah awal berdirinya KSM. Ada Syamsul Hidayat dan Ardestyan Kusnindar yang menjadi bendahara I dan II. ”Ketuanya, Syafril Domili lagi cuti,” tukasnya.

KSM, menurut Syafril, awalnya dibentuk saat badai krisis menerpa perekonomian tahun 1998, silam. Saat itu, pekerja Panasonic berinisiatif membentuk koperasi untuk membantu pengadaan sembako murah bagi para pekerja. Maka beroperasilah KSM dengan usaha di bidang makanan-minuman, sembako dan simpan pinjam.

Modal awal yang berhasil dikumpulkan sekitar Rp7 juta. Modal itu dari sumbangan pokok dan sumbangan wajib anggotanya yang berjumlah sekitar 200 orang. Agar tak menganggu kerja para pengurusnya, KSM mempekerjakan satu karyawan.

Tahun 2002, bersamaan dengan restrukturisasi PT Panasonic, KSM dibubarkan. Masih di tahun yang sama, kemudian dibentuk kembali dengan anggota yang lebih besar.

Tahun 2004, bidang usahanya berkembang. Dari yang hanya menyediakan makanan-minuman, merambah ke bisnis warung telekomunikasi (wartel) dan warung serba ada di Dormitori Blok R. ”Kami juga sudah merekrut supervisor dan tiga karyawan,” kata Syamsul Hidayat.

Usaha koperasi terus tumbuh. Akhir 2006, KSM mengelola katering dan bisnis bakery dengan merek KSM Bakery. Mereka menyuplai kebutuhan katering dan roti sejumlah perusahaan.

”Namun, karena saking semangatnya mengembangkan usaha, cash flow kami mengalami rush. Kami kesulitan modal,” kata Syamsul.

KSM sempat mengajukan permohonan kredit ke sejumlah bank. Tapi, saat itu bank belum percaya pada koperasi. Permohonan KSM ditolak. Untungnya, Ismeth Abdullah takjub saat mendengar presentasi mereka. Gubernur Kepri itulah yang memuluskan jalan KSM mendapatkan pinjaman bank.

Begitu kredit mengucur, usaha KSM makin berkibar. Bidang usaha mereka makin luas. Mini marketnya juga berdiri di Batuaji. Usaha kateringnya tak hanya melayani perusahaan, namun acara-acara seperti open house dan lainnya juga dilayani.

”Omset kami sekitar Rp3 miliar per bulan,” tutur Syamsul.

Tak hanya memperluas usaha, menurut Rivai, KSM juga menggelar pelatihan dan pendidikan wira usaha bagi anggotanya. Beragam pelatihan, seperti training perpajakan dan keuangan, kepemimpinan dan lain-lain mereka ajarkan.

”Kami juga menjadikan anggota sebagai penyuplai kue, makanan atau snack ke kami,” kata Rivai.

KSM, kata Rivai, tak hanya mengejar sisa hasil usaha (SHU) yang besar. Tapi, lebih mementingkan bagaimana anggotanya mendapatkan kebutuhan mereka dengan harga yang lebih murah, mendapatkan pelatihan agar bisa mandiri jika keluar dari keanggotaan koperasi.

”Untung sedikit tak apa-apa. Asal anggota terbantu, karena koperasi dibentuk untuk kesejahteraan anggota.”

Beragam penghargaan diterima KSM. Mulai koperasi terbaik tingkat Batam dan Kepri, sampai tingkat nasional. Tahun 2007, KSM menjadi koperasi berprestasi tingkat nasional.

Satu yang ingin dikikis oleh KSM, kata Rivai, yakni imej koperasi sebagai usaha kampungan dan imej-imej negatif lain yang biasa disematkan ke koperasi. ”Ternyata koperasi bisa maju dan beromset miliaran rupiah,” ujarnya.

Koperasi Karyawan PLN Batam juga tak kalah maju. Didirikan tahun 1995, Kopkar PLN Batam itu mengumpulkan modal awal sekitar Rp10-an juta. ”Sekarang omset kami sekitar Rp20-an miliar per tahun dengan aset sekitar Rp7,6 miliar,” kata Sekretaris Kopkar PLN Batam Joner Pardosi. Bersama Joner, Ketua Kopkar PLN Suroso dan Nuraini bendaharanya, menceritakan bagaimana koperasi itu dirintis.

Awalnya, menurut Suroso, koperasi PLN didirikan sekadar sebagai ajang silaturrahmi antar karyawan PLN yang berjumlah 200-an orang. Semua karyawan dari jenjang terendah sampai level tinggi ikut masuk jadi anggota. Dengan iuran wajib Rp5 ribu per bulan.

Bidang usahanya, awalnya bergerak di simpan pinjam, usaha foto kopi, toko, rental kendaraan dan alat berat (truck crane). Usaha koperasi terus maju merambah ke jasa borongan, pengadaan spare part, outsourching dan lainnya.

Namun seperti kebanyakan koperasi, Kopkar PLN sempat bermasalah dengan permodalan, terutama kepercayaan bank yang masih rendah pada koperasi. Tapi, dengan sokongan perusahaan dan perbaikan-perbaikan manajemen, hambatan itu teratasi.

Kini, Kopkar tak kesulitan mendapatkan pinjaman dana dari bank. Anggota yang ingin pinjam duit ke koperasi atau mau kredit rumah dan mobil, tinggal berhubungan dengan koperasi. ”Kami yang memfasilitasi,” kata Suroso.

Bila ada anggota yang ingin pinjam duit atau butuh uang mendadak, jika nilainya di bawah Rp5 juta, hari itu juga koperasi bisa mencairkan. ”Anggota sangat merasakan manfaatnya,” tambah Joner.

Manajemen koperasi juga dibenahi. Sejak tahun 2004, Kopkar PLN Batam menyewa profesional sebagai manajer. Berkantor di perumahan Kopkar PLN di Batam Centre, koperasi itu juga sudah memiliki puluhan karyawan.

Kopkar pula yang merintis pembangunan perumahan di tahun 1999. ”Kami membantu anggota yang saat itu belum punya rumah,” ujar Suroso.

Bahkan, kini Kopkar PLN Batam punya anak perusahaan, PT Pijar Persada Nusantara. Perusahaan ini bergerak di bidang mekanikal, elektrikal, perdagangan umum dan lain-lain. ”Tahun lalu, kami bayar pajak sekitar Rp1 miliar,” kata Joner.

Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan ke anggotanya yang jumlahnya kini sebanyak 680-an orang juga tak kalah besar. ”Rata-rata anggota dapat Rp2 juta per orang,” katanya. Padahal, anggota cukup menyetor iuran wajib Rp5 ribu per bulan.

Maka, tak aneh jika Kopkar PLN juga mendapatkan sejumlah penghargaan. Seperti pembina koperasi terbaik tingkat provinsi hingga koperasi terbaik tingkat nasional.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Kreatif+Berani Gagal+Sukses

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ide usaha mereka belum pernah terpikirkan oleh yang lain. Memulai semuanya dari nol, sempat putus asa dan kini bersiap menyambut sukses.
***
Ahmad Bruri, 57, masih ingat betul bagaimana ia enggan menyambangi kebun rosella di belakang rumahnya. Selama seminggu ia hanya melamun, tak melakukan apa-apa. Perasaannya berkecamuk, antara kecewa, marah dan putus asa.

Selama hampir dua tahun menjajakan kelopak rosella, tanaman herbal yang bisa diseduh seperti teh, tak satupun pembeli berminat menikmati kesegaran kelopak berwarna merah berasa manis asam itu. Sudah tak terhitung, berapa rumah yang ia datangi. Juga sudah tak terhitung berapa duit dan tenaga yang ia habiskan untuk mengenalkan tanaman herbal itu ke masyarakat.

Hasil penjualan tanaman sayur di kebunnya ia gunakan membeli gula sebagai campuran minuman rosella itu. Berbekal minuman segar itu dan hasil panen kelopak rosella, ia berkeliling. Pada bulan Ramadan lalu, sambil membawa bergelas-gelas teh rosella dingin, ia datangi musalla dan masjid. Ia perkenalkan minuman herbal hasil kebunnya.

Namun, masyarakat tak kunjung tertarik. Padahal, uang belanja di rumahnya juga hampir habis. Dapurnya terancam tak mengepul. Ia lunglai. ”Malas rasanya mau ngapa-ngapain. Kebun seminggu tak saya tengok. Saya melamun terus,” kata pria yang biasa dipanggil Cak Dikin, itu.

Untungnya, isteri Cak Dikin tak ikut putus asa. Ia menyemangati suaminya. ”Mungkin belum waktunya. Jangan putus asa.”

Mendapat dukungan isteri, Dikin kembali tertantang. Ia cepat mengambil cangkul, kembali ke kebun rosellanya. Besoknya, ia tawarkan lagi rosella itu ke rumah-rumah dan pasar.

Pembeli pertama pun datang, akhir tahun lalu. Ia membeli satu ons rosella. Karena belum tahu harga rosella di pasaran, Dikin menjualnya Rp10 ribu. ”Nama pembeli pertama saya itu, saya catat. Kalau seandainya nanti saya sukses, dialah yang akan saya beri hadiah,” katanya.

Dikinpun mengajak ibu-ibu PKK Tiban Lama dan Lurah Tiban Lama. Merekalah yang kemudian ikut membantu pemasaran rosella itu. Munculnya pemberitaan di televisi soal khasiat dan manfaat teh rosella bagi kesehatan, membuat permintaannya makin kencang. Apalagi kemudian ia ikut pameran pada sejumlah ekspo di Batam.

Kalau dulu Dikin harus ke datang ke rumah-rumah, kini sejumlah restoran dan hotel menjadi pelanggannya. Rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama, kini ramai. Ia menyuplai kelopak rosella segar dan kering ke sejumlah tempat. Bahkan, tingginya permintaan membuat ia tak mampu lagi memenuhinya.

Sejumlah rekannya ia ajak menanam rosella. Di Tiban Lama, kini sudah 25 petani yang ikut serta dan menghasilkan 50 kilogram rosella per hari. Hasil itu tak cukup, karena permintaannya mencapai 300 kilogram per hari. Karena itu, ia mengajak petani lain di kawasan Tembesi, Galang, Seitemiang dan Dapur 12 untuk menanam rosella.

”Seandainya dulu saya putus asa, mungkin tak akan ada rosella merek D’Kam dari Batam,” katanya.

Dikin mengaku tak pernah membayangkan bakal menjadi petani rosella. Semuanya berawal kala Himpunan Kerukunan Tani Indonesia mengirimnya ikut pelatihan di Palembang, tahun 2006. Di sana, pematerinya memberikan sejumlah alternatif tanaman yang bisa dibudidayakan, salah satunya rosella yang bisa menjadi teh herbal. Karena di Batam belum ada petani rosella, ia memutuskan menanam rosella.

Pulang dari Palembang ia membawa lima kilogram bibit rosella. Antara ragu dan ingin mencoba, ia menanam sekitar 500 bibit. Empat bulan dirawat, rosella mulai dipanen. ”Karena baru, saya pakai dulu untuk minuman keluarga. Pagi, siang dan malam, keluarga kami minum rosella hampir selama empat bulan. Manfaatnya terasa, badan lebih sehat dan enak,” tuturnya.

Cerita hidupnya kemudian mengalir seperti film-film india. Dua tahun menjajakan rosella tanpa hasil, ditertawakan orang, dianggap gila dan sempat putus asa. ”Semua pengalaman itu menempa saya. Kalau mau sukses, harus susah dulu, harus putus asa dulu,” katanya, sambil tersenyum.

Dikin mengaku ingin membudayakan tanaman rosella. Siapapun yang ingin menanam sendiri rosella, silakan datang ke rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama. ”Saya siapkan bibit gratis.”

Kemasan rosella kini tak lagi hanya untuk diseduh sebagai teh. Dikin membuat dodol, manisan dan sirup. Bahkan, ia kini membuat wine dari kelopak rosella segar.

”Kemarin, ada orang dari Filipina memesan wine dari rosella ini. Sekarang wine-nya saya tanam, baru bisa diambil tahun depan,” katanya.

Kalau Dikin baru sukses setelah dua tahun menanam, Wendy, 19, termasuk yang baru hendak memulai usaha. Pemuda yang baru lulus SMA itu memilih usaha cuci mobil dengan nama Fast-1 di SPBU Sukajadi. Usaha cuci mobil yang ia masuki beda dengan cuci mobil-cuci mobil lain di Batam, karena pengendara yang masuk ke tempat Wendy tak perlu keluar dari mobil. Bahkan, mungkin sistem cuci mobil milik Wendy termasuk yang pertama di Batam.

”Juga ditanggung cepat, sekitar 12 menit sudah kelar,” katanya.

Wendy mengaku nekat terjun ke dunia usaha setelah mengikuti Entrepreneur Camp. Jiwa wirausahanya berontak. Tak butuh waktu panjang, ia langsung memutuskan usaha cuci mobil saat teringat tulisan Jaya Setiabudi soal cuci mobil di Johorbahru. ”Makanya langsung saya coba. Saya tak takut gagal,” ucapnya.

Dua bulan yang lalu, usaha cuci mobilnya beroperasi. Agar menarik perhatian, tempatnya ia desain sedemikian rupa mirip dock mobil balap. Di pintu masuk ada tulisan Fast-1, Cuci Mobil Tercepat Nomor Dua di Dunia.

Sukses tak langsung menyapa usaha Wendy. Di hari-hari pertama, tak satupun mobil masuk ke usaha tempat cucinya. Bahkan, hampir satu bulan mobil yang datang cuma satu dua. Optimisme yang menggebu di dada Wendy sempat hendak runtuh. Ia bingung, gundah.

”Saya takut gagal. Takut mengecewakan orang tua,” ujarnya.

Saat kalut datang, ia menenangkan diri dengan menghirup dan menahan nafas beberapa kali. Dibukanya buku-buku. Di salah satu halaman buku, ia mendapat inspirasi. ”Sekarang saya tak lagi takut gagal. Kenapa harus dipikirin.”

Usaha cuci mobilnya yang dulu sepi, kini mulai ramai. Wendy sudah memiliki sejumlah pelanggan tetap yang secara berkala datang ke Fast-1-nya.

Nekat, juga menjadi modal utama Windu Terkelin, 28, saat membuka usaha kerajinan tangan di rumahnya di Beverly Park, Batam Centre. Windu tak punya keahlian di bidang kerajinan tangan. Ia hanya termasuk orang yang suka pada handy craft-handy craft yang biasa ia lihat di Bali dan Yogyakarta.

”Di Batam jarang saya lihat ada handy craft yang bagus. Makanya saya ingin membuat handy craft yang simple tapi menarik dan bahan-bahannya mudah didapat dan murah,” tutur karyawan di sebuah perusahaan telekomunikasi, itu.

Awal 2009 lalu, usahanya mulai jalan dengan mempekerjakan sekitar lima orang karyawan. Ia membuat mini garden dari koran bekas dan kulit pisang, kerang-kerangan, keranjang kertas dan vas bunga.

”Tapi, selama tiga bulan berproduksi tak ada satupun penjualan. Nol,” katanya.

Karena tak laku, semua ongkos produksi dan uang membayar gaji karyawannya ia ambilkan dari gaji dan tabungannya sendiri. Ia pun sempat bimbang antara meneruskan usahanya atau berhenti. Tapi, saat terpikir kalau ia terjun ke usaha handy craft untuk membuka lapangan kerja dan menciptakan kerajinan tangan khas Batam, ia buang-buang jauh rasa bimbang tadi. ”Saya optimis. Masa handy craft bagus gini tak laku.”

Maka, mulailah ia memperkenalkan produk handy craftnya kepada teman-teman kantornya. ”Ternyata teman-teman suka. Ada yang beli hiasan dinding, ada yang beli keranjang kertas dan lainnya.”

Pintu sukses seakan terbuka, saat ia mengikuti pameran di Gedung Promosi Sumatera. ”Kini sudah ada hotel dan resort yang mau menjadikan produk handy craft kami sebagai buah tangan khas hotel mereka. Permintaan kerang dan aksesoris kulkas juga mulai berdatangan.”***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Banjir di Anggaran, Kering di Kinerja

Agustus 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah bertahun-tahun, Medan, 57, merasa diayun-ayun setiap kali keluar masuk jalan lebar di kawasan Kavling Pelopor, Seilekop, Sagulung. Tubuhnya yang tinggi besar bergoyang di atas sepeda motor akibat melewati jalan tanah berbatu sepanjang kira-kira satu kilometer itu.

”Kalau dihitung-hitung, sudah 14 tahun tinggal di sini, jalannya begini terus. Tak pernah diaspal-aspal. Badan saya sakit kalau lewat sini,” katanya, Senin pekan lalu.

Jalan yang dimaksud Medan adalah pintu masuk ke Kavling Pelopor yang padat penduduk. Jalan itu bersentuhan dengan jalan beraspal di depan Kantor Lurah Seilekop. Kondisinya tidak rata, tertutup bauksit.

Menurut Medan, sejak tahun 1995 warga memperjuangkan agar jalan tersebut diaspal. Saat itu warga mengadu ke Otorita Batam. Berkali-kali tak tembus, warga mengadukannya ke Pemko Batam. Saat itu ada respon, Pemko menjanjikan bakal mengaspal jalan itu.

Saat kampanye calon Gubernur Kepri 2004 silam, warga Kavling Pelopor kembali dijanjikan bakal dapat pengaspalan jalan. Namun, karena yang berjanji tak duduk di kursi Gubernur, janji itu tak pernah terealisasi.

Tahun 2007, warga mengadu ke Komisi III DPRD Batam. Hasilnya, pengaspalan jalan di tempat itu dimasukkan ke APBD Batam 2007. Namun, tahun itu pengaspalan tak berjalan. Kemudian dimasukkan lagi ke APBD Batam 2008. Lagi-lagi warga Kavling Pelopor harus mengelus dada, karena di tahun itu tak satupun proyek peningkatan jalan di Dinas Pekerjaan Umum Batam berjalan. Semua mandeg, termasuk proyek peningkatan jalan di Kavling Pelopor tersebut.
”Sampai ketua RW kami meninggal, pengaspalan jalan ini belum juga terealisasi,” tutur pria asal Sumatera Barat, itu.

Tahun ini, Medan dan ribuan warga Kavling Pelopor mendapatkan angin segar. Di APBD Batam 2009, peningkatan jalan sepanjang 1 kilometer tersebut bakal kembali dilaksanakan. Anggarannya, Rp2,4 miliar.

Tak jauh dari Kavling Pelopor, Fredi, 36, warga RT 2 RW 16 Seilangkai, harus ekstra hati-hati setiap kali melewati jalan di Perumnas Baru Batuaji, Sagulung di depan MIN Batam. Jalannya berlubang di sana-sini. Lengah sedikit, bisa tersungkur. Kalau hujan, air menggenang di lubang-lubang itu.

”Kalau panas, debunya beterbangan. Rusak parah,” katanya, Senin sore pekan lalu.

Seperti yang dialami warga Kavling Pelopor, warga Perumnas Baru Batuaji juga harus menunggu bertahun-tahun agar jalan raya yang membelah perumahan mereka diperbaiki. Sudah sempat dianggarkan tahun lalu, namun proyek pembangunannya mandeg.

”Kami tak lagi berharap. Nunggu musim kampanye, siapa tahu ada yang mau mengaspal,” tuturnya.

Di APBD Batam 2009, bersama enam kawasan lainnya, peningkatan jalan di Perumnas Baru itu masuk di kegiatan peningkatan jalan wilayah V Kota Batam. Khusus di Perumnas Baru, jalan yang bakal diaspal sejauh 1,4 kilometer dengan anggaran Rp3,36 miliar.

Tak kalah parah kondisi di jalan raya dua jalur di Baloi yang memisahkan Perumahan Baloi Mas Asri dan Baloi Mas Indah. Mulai dari simpang empat Penuin hingga SPBU Coco Seiladi ruas jalan penuh lubang. Bentuk lubang tak beraturan dan dalam.

Padahal jalur tersebut merupakan jalur padat lalu lintas. Batam Pos mencatat, di jam-jam sibuk, dalam satu menit ratusan kendaraan melintas. Tak ada yang berani melaju cepat, semuanya melambat akibat melewati lubang yang tak bisa lagi dihindari.

Pengendara sepeda motor, paling susah jika melintas di jalan itu. Harus hati-hati dan pandai mengendalikan motor karena mau tak mau harus melewati lubang-lubang yang bertaburan di jalan tersebut. Tak ada jalan mulus di jalur sepanjang kira-kira 2 kilometer itu.

Andika, 26, punya pengalaman buruk saat melintas di jalan Baloi tersebut. Sepeda motor warga Tiban itu sempat terperosok dan bannya pecah. Ia tersungkur mencium aspal. Wajahnya luka, kakinya gosong terkena knalpot.

”Sudah jalannya berlubang-lubang, lampu jalannya mati pula. Pokoknya kalau tak hati-hati, lewat, ” katanya, sambil tangannya memperagakan tanda orang tersungkur.

Jalan di Baloi itu, sudah dikeluhkan warga sejak tiga tahun terakhir. Karena tak kunjung diperbaiki, warga pernah menanam pohon di jalan tersebut. Pemko Batam sempat beralasan jalan tersebut merupakan jalan protokol yang menjadi kewajiban Otorita Batam. Namun karena di desak terus, Pemko akhirnya bersedia memperbaikinya.

Kepada Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika, Kadis Pekerjaan Umum Batam Harry Roekanto sempat menjanjikan bakal menyelesaikan penambalan jalan Baloi tersebut akhir Desember 2008. Namun, sampai sekarang jalan tersebut terus memakan korban.

Ketua Komisi I DPRD Batam Ruslan Kasbulatov menunjuk jalan Baloi sebagai bukti lambannya kinerja Wali Kota Batam. ”Masa memperbaiki jalan saja tak becus. Sangat lamban,” katanya. Tiap tahun, kata dia, pemerintah mengajukan anggaran besar untuk proyek fisik. “Kesannya, kan mau uangnya saja, tapi nggak mau kerja,” ujarnya.

Tahun ini, Pemko Batam kembali menganggarkan peningkatan jalan dua jalur di Baloi itu, mulai dari simpang Baloi Centre hingga simpang Universitas Internasional Batam atau sepanjang 4,8 kilometer. Nilainya tak tanggung-tanggung, Rp10,56 miliar.

Namun, berdasarkan laporan Dinas Pekerjaan Umum ke Komisi III DPRD Batam, pengerjaan jalan tersebut saat ini proyeknya masih dalam tahap proses lelang. Inilah yang membuat Wakil Ketua Komisi III DPRD Batam M Zilzal pesimis.

”Saya khawatir, proyek itu tak terealisasi lagi karena waktunya sudah mepet,” katanya.

Khusus proyek pembangunan fisik di Dinas Pekerjaan Umum, tahun ini Pemko Batam menganggarkan dana Rp197,242 miliar untuk pengerjaan sepuluh program dan puluhan kegiatan. Di antaranya pembangunan jembatan beton dan pelantar beton, pemeliharaan jalan berkala dan rutin maupun pemeliharaan lampu jalan.

Lalu ada proyek pembangunan drainase seperti di depan Perum Villa Mukakuning, pembangunan drainase sekunder di Sagulung Sentosa di samping Puskesmas Seilekop, di MKGR Batuaji, di Bengkong Asrama PLTD X, Perumahan Putri Tujuh, di depan DC Mall dan lainnya.

Kemudian ada proyek peningkatan jalan di enam wilayah. Seperti peningkatan jalan di simpang Masjid Quba sampai dengan Perumahan Duta Mas, peningkatan jalan dua jalur di Bengkong Seken, Peningkatan jalan di Perumahan Mekar Sari, peningkatan Jalan di Mangsang Tanjungpiayu, peningkatan jalan di Kavling Pelopor Sagulung, peningkatan jalan di Pandawa dan lainnya.

Ada proyek penyediaan sarana air bersih dan sanitasi air bersih dan limbah di kawasan-kawasan hinterland. Atau pembangunan pengaman tebing pantai di tempat itu.

Dan hampir sebagian besar proyek tersebut merupakan proyek yang seharusnya dilaksanakan tahun 2008. Seperti proyek pembangunan drainase dan jalan di Bengkong PLTD RW X misalnya, sudah bertahun-tahun ditunggu masyarakat Bengkong.

”Dulu sempat diukur-ukur, entah kenapa tak kunjung dibangun. Jalannya rusak, kalau hujan banjir. Air meluap karena drainasenya kekecilan,” kata Een (30-an) warga Bengkong Asrama.
Itu artinya, ”Kalau dikerjakan sejak awal, masyarakat sudah bisa menikmati hasilnya. Itu utang pemerintah daerah ke masyarakat,” kata Sekretaris Komisi III DPRD Batam Onward Siahaan.

Uniknya, sepanjang 2008, tak satupun proyek pembangunan kantor camat dan lurah yang mandeg. Dengan senyum mengembang, Wali Kota Ahmad Dahlan meresmikan penggunaan sepuluh kantor lurah dan empat kantor camat di Kantor Lurah Tiban Baru, pertengahan Februari 2009, lalu. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Maaf, Mak, Saya Masih Dibooking

Juni 26, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

psk rentan hiv/aids”Maaf Mak, masih dibooking sama Abang,” kata Juwita, 21, sebut saja begitu, seorang PSK, dari ujung telepon ke Anna Trilinda Marnowati, seorang konselor HIV/AIDS Klinik Keluarga Kita di bilangan Nagoya, Selasa pagi, pekan lalu.

Pagi itu, Juwita bersama Dewi, 20, juga nama samaran, tadinya akan diantar Anna melakukan tes HIV/AIDS ke RS Budi Kemuliaan. Surat pengantar sudah disiapkan. Begitu juga surat pernyataan kesediaan mengikuti tes HIV/AIDS, sudah diteken dua gadis itu

Namun tes urung dilaksanakan karena keduanya sedang di-booking pria Singapura. Juwita mengaku tak bisa meninggalkan pria yang menyewanya. Begitu juga Dewi, masih melayani pria hidung belang yang tergila-gila akan kesintalan tubuhnya.

”Saya memaklumi. Kalau memang mereka belum siap, saya harus menunggu sampai mereka ada waktu,” tutur Anna.

Anna sudah bertahun-tahun jadi konselor di Klinik Keluarga Kita yang bernaung di bawah Yayasan Komunikasi Informasi Edukasi Batam. Ia tak sekadar memberi konseling seputar HIV/AIDS tapi juga jadi tempat curhat, terutama oleh para wanita malam yang tinggal di sekitar klinik. Anna pun sering kali dipanggil Mak, Bunda atau Mami.

Hampir setiap hari ada yang datang ke kliniknya. Mulai dari yang hanya konsultasi sampai yang memeriksakan diri. Ada yang hanya tanya-tanya seputar HIV/AIDS, ada yang menderita penyakit infeksi menular seksual (IMS) sampai terinfeksi HIV/AIDS. Tak sedikit, pria-pria pelanggan para PSK itu ikut memeriksakan diri.

”Rata-rata yang datang para wanita pekerja malam,” tuturnya.

Seperti Juwita dan Dewi misalnya, mereka adalah wanita-wanita pekerja malam yang sudah pernah konsultasi dan siap melakukan tes HIV/AIDS. Juwita dan Dewi sudah lebih setahun bekerja di bar, sekaligus menjual kepuasan seks. Pelanggannya sudah tak terhitung, selalu berganti-ganti.

Sementara di sisi lain, mereka tak pernah tes HIV/AIDS. Kepada mereka yang beresiko tinggi inilah, Anna selalu menganjurkan agar jangan sungkan memeriksakan diri. ”Ini untuk kebaikan mereka sendiri,” katanya.

Para pekerja malam itu, kata Anna, sudah menyadari pekerjaan mereka beresiko mendatangkan mudarat. HIV/AIDS, penyakit yang sampai saat ini belum ada obatnya bisa menyerang setiap waktu. Beberapa di antara mereka ada yang ikut tes, namun beberapa orang lainnya kesulitan mengatur waktu. Godaan uang mengalahkan keinginan mereka untuk memeriksakan diri.

”Karena itu, konselor itu harus sabar-sabar. Kami ini ibarat bermain layang-layang, tarik ulur-tarik ulur, sampai mereka benar-benar siap.”

Dewi dan Juwita akhirnya datang keesokan harinya. Diantar Anna, mereka melakukan tes HIV/AIDS di RSBK. ”Hasilnya baru ketahuan besok,” kata Anna.

Rahasia mereka, kata Anna, ditutup rapat. Klinik keluarga Kita misalnya, memiliki dua ruangan, untuk ruang konsultasi dan pemeriksaan. Ruang konsultasi ditempatkan lebih ke dalam, agar kalau ada yang datang konsultasi atau bercerita, pembicaraan mereka tak didengar orang.

Pernah di bulan April, Anna kedatangan seorang gadis dengan tubuh kurus kering. Gadis itu batuk-batuk terus. Anna kaget, karena paras gadis itu asing di matanya. Ternyata, gadis itu Lili, 25, nama samaran, yang setahun lalu pernah konsultasi di kliniknya. Setahun lalu, Anna bertubuh montok dan terlihat sehat.

“Ia menderita TB. Setelah dicek ke laboratorium, ia juga sudah menderita HIV. Sekarang anaknya sudah pulang kampung ke Jawa Tengah,” tukasnya.

Lili hanya satu nama yang terkena HIV. Data di Kasper HIV Centre di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam mulai tahun 2000 hingga 2007, ada 694 orang yang terinfeksi HIV dan 222 di antaranya masuk dalam tahapan AIDS. Sepanjang tahun itu, 127 orang terenggut nyawanya.

Sepanjang tahun 2009, sudah 130 orang positif HIV dan 60 orang yang terkena AIDS. Yang meninggal 26 orang. Parahnya, dari 130 orang yang terinfeksi HIV, 73 orang berjenis kelamin laki-laki. Bahkan, dari 60 orang yang terkena AIDS, 44 laki-laki. Itu artinya, laki-laki yang merupakan pelanggan para PSK itu kini beresiko lebih tinggi terkena HIV/AIDS dibandingkan para pekerja seks itu sendiri.

Menurut Ketua Pokja HIV Centre RSBK dr M Yamin, mereka yang beresiko tinggi terkena HIV/AIDS adalah PSK, pelanggan seks dan penderita narkoba yang menggunakan jarum suntik. Karena itu, mereka yang beresiko tinggi itu atau pernah punya masa lalu yang berkaitan dengan penyimpangan seksual atau penggunaan jarum suntik, ia minta untuk memeriksakan diri.

Tingginya angka penderita HIV/AIDS membuktikan dua hal, yakni menandakan banyaknya pengidap HIV/AIDS di Batam dan mulai munculnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri. Data di Kasper HIV Centre RSBK misalnya, sepanjang tahun 2009 ada 1173 yang melakukan konseling dan 1132 di antaranya berakhir dengan ikut tes HIV/AIDS.

Dari adanya konseling dan tes HIV itulah ketahuan penderita HIV/AIDS di Batam yang berjumlah 130 positif HIV dan 60 di antaranya AIDS. ”Makanya saya menggugah agar mereka yang beresiko tinggi memeriksakan diri,” kata Yamin.

Jika dibandingkan-bandingkan lagi dengan teori fenomena gunung es, menurut Kadis Kesehatan Batam Mawardi Badar, jumlah 130 orang itu mewakili 13.000 penderita HIV. ”Artinya, ada 13.000 penderita HIV di luar sana yang tak terdeteksi.”

Ikut tes HIV, cukup berliku. Sebelum orang benar-benar ingin ikut tes, lebih dahulu harus mengikuti konseling. Konseling ini, kata Yamin, selain untuk mengetahui latar belakang orang, juga untuk menyiapkan mental jika nanti mereka positif HIV. Setelah itu, mereka meneken surat pernyataan bersedia tes HIV/AIDS.

Jika oke, baru kemudian berlanjut pada tahapan ikut tes. Hasil tes muncul, masih ada konseling kedua atau biasa disebut postest counseling. Konseling ini untuk lebih memantapkan mental penderita HIV tadi. ”Tapi, jika hasilnya negatif mereka harus tes lagi enam bulan kemudian.”

Karena HIV/AIDS menyerang kekebalan tubuh, pemeriksaan daya tahan tubuh juga dilakukan. Biasanya, jika CD4 (komponen darah putih) kurang dari 200, mereka harus rutin mengkonsumsi obat ARV antiretroviral (ARV). ”Tidak ada kata sembuh (bagi penderita HIV/AIDS), belum ada obat yang bisa mengobati. Makanya mereka harus minum obat seumur hidup,” kata Yamin.

Yamin menganjurkan penderita HIV untuk tidak memakan makanan mentah atau suntik imunisasi dengan kuman yang dilemahkan seperti imunisasi polio dan sebagainya. ”Juga harus berperilaku hidup sehat, dengan tidak melakukan hubungan seks.”

Seringkali, penderita HIV/AIDS terlambat ditangani akibat mereka enggan membuka diri atau tak mau memeriksakan diri. Pernah, kata dr Fransisca L Tanzil, rekan M Yamin di Kasper HIV/AIDS RSBK, ada seorang bapak yang menularkan HIV kepada isteri dan anaknya, kemudian anaknya menularkannnya ke menantunya. Bahkan, ada satu keluarga yang baru ketahuan terkena HIV setelah bayi mereka diperiksa.

”Ibu dan bapaknya itu ketahuan kena HIV, setelah anaknya ketahuan. Kalau seandainya sudah memeriksakan diri sejak dini, mungkin masih bisa dicegah,” ujarnya.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · sosial

Asam Pedas Mak Sembilang, Langganan Pejabat Batam

Mei 22, 2009 · & Komentar

Setelah sekian lama hanya mendengar dari omongan orang, akhirnya pekan lalu sampai juga saya di rumah makan Mak Sembilang, Tanjungriau, Batam. Konon, rumah makan ini para pelangganya merupakan pejabat Kepri dan Batam. Mereka ketagihan lezatnya asam pedas ikan sembilang.

Sekilas, rumah makan Mak Sembilang tak berbeda dengan rumah-rumah lain di sekitarnya yang berbentuk panggung. Khas rumah di kawasan pasang-surut. Juga tak ada plang nama rumah makan.

Yang berbeda, adalah teras rumahnya yang terbuka sampai ke bagian dalam. Di situlah, meja-meja panjang berjejer. Pandangan di kanan kiri dibiarkan terbuka. Udara laut yang khas, menyapa hidung.

Mak Muna, pemilik rumah makan, menyambut. Saya kebetulan ikut menemani tim kuliner Batam Pos yang selama ini menyajikan kekayaan kuliner Batam. Umur Mak Munah sekitar 60-an tahun. Tubuhnya sudah agak bungkuk, tapi masih energik. Ia murah senyum, enak diajak bicara.

Ia bercerita soal bagaimana ia awalnya memulai usaha. Mulai dari coba-coba membuka rumah makan, sampai akhirnya rumah makannya jadi terkenal di seantero Batam. Bahkan, namanya kini dikenal sebagai Mak Sembilang, mengacu pada masakan asam pedas sembilang buatannya yang terkenal lezatnya itu.

“Pak Sani (Wagub Kepri) biasa makan di sini. Syamsul Bahrum dan pejabat Batam laiannya juga jadi langgagan,”

asam pedas ikan sembilang foto immanuel

asam pedas ikan sembilang foto immanuel

katanya.

Saya jadi tak sabar ingin mencicipi asam pedas ikan sembilang itu. Seumur hidup, saya belum pernah makan ikan sembilang, yang konon merupakan ikan khas Melayu.

Akhirnya yang saya tunggu keluar juga. Satu porsi ikan sembilang dalam balutan kuah asam pedas. Wangi masakan menggoda selera. Terbayang kelezatannya.

Ikan sembilang bentuknya persis ikan lele. Kalau lele hidup di air tawar, ikan sembilang hidup di laut dalam. “Saya pesan khusus ke nelayan Belakang Padang,” ujar Mak Muna.

Selain ikan sembilang, rumah makan Mak Sembilang juga menyediakan kangkung belacan, ikan goreng, cumi dan udang sambal. “Biasanya, orang datang ke sini ingin makan asam pedas ikan sembilang,” katanya.

Saya mengambil satu irisan ikan sembilang itu, dengan hati-hati. Tanpa nasi, saya mencicipinya. Ehm, benar-benar lezat. Benar-benar maknyus. Andai Bonda Winarno datang ke Batam, rugi kalau ia tak sempat mencicipi asam pedas Mak Sembilang.

Bagaimana dengan Anda. Pernahkan mencoba kelezatan asam pedas Mak Sembilang?

→ 2 CommentsKategori: Batam

Ngenet Gratis di Mal-mal Batam

Mei 16, 2009 · & Komentar

taman iternet tiban. foto di www.riasaptarika.web.id

taman iternet tiban. foto di www.riasaptarika.web.id

Sejak memiliki ponsel Nokia e63, Jauharsa, 30, punya kebiasaan baru. Ia sering nongkrong di mal. Bukan untuk belanja atau cuci mata, tapi internetan gratis.

Seperti Sabtu kemarin misalnya, ia sudah mengirim pesan singkat (SMS) ke ponselku. ”Saya di mega mall,” katanya.

Ia kesana, pasti cuma sekadar internetan di ponselnya. Dengan fasilitas wifi di Nokia e63, ia bisa internetan gratis sampai puas. Apalagi, sejak tenarnya situs pertemanan Facebook, ia makin keranjingan.

Di Mega Mall sendiri hot spot bertebaran. Mulai dari lantai dasar sampai paling atas di XXI, tersedia hot spot. Bagi Jauharsa atau orang-orang yang punya perangkat gadget canggih, bisa menggunakannya untuk memanfaatkan hot spot gratis itu.

Temanku dari Surabaya sempat kaget ketika nyoba hot spot di Mega Mall. Ia menyusuri tiap lantai, sambil memegang Nokia e61i-nya. ”Di Surabaya tak sehebat Batam,” katanya.

Banyaknya hot spot di Batam berawal dari keinginan Wakil Wali Kota Ria Saptarika mewujudkan Batam sebagai kota digital atau yang biasa Ria sebut Batam Digital Island. Ria mengaku ingin membudayakan internet dan teknologi informasi ke masyarakat Batam. Karena itu, ia rajin mengajak pihak-pihak lain membangun taman internet atau membuka titik-titik hot spot di Batam.

”Kita punya sasaran mewujudkan Batam sebagai cyber city. Ini memungkinkan untuk dilakukan, karena sesuai indeks pembangunan manusia (IPM), pengetahuan teknologi internet masyarakat Batam sudah cukup baik,” kata Ria.

Pekan lalu, dalam tulisannya soal bakal hadirnya Taman Internet di Belakang Padang, Ria menandai saya di Facebook. Katanya, setelah tiga titik di Taman Internet Engku Putri, Taman Internet Tiban Centre, Taman Internet Kecamatan Sagulung, kini Taman Internet Lang-lang Laut Belakang Padang akan diresmikan Tanggal 20 Mei 2009 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional.

”Ini akan menjadi momentum sejarah bagi kebangkitan IT di kawasan hinterland khususnya Kecamatan Belakang Padang dan Kota Batam pada umumnya. Semoga dengan dibangunnya Taman Internet Lang-lang Laut di Belakang Padang, makin menghilangkan kesenjangan daerah hinterland dan khususnya pelajar/mahasiwa.”

Ria mengatakan, hadirnya Taman Internet di Belakang Padang itu atas kerja sama Badan KomInfo Pemko Batam dibawah kendali Muramis dan PTTelkom Rikep di bawah kendali Mulyanta

Ria bisa disebut pendobrak di bidang teknologi industri. Ia termasuk pejabat yang mewajibkan pegawainya punya surat elektronik atau e-mail dan blog.

Perkenalan Ria dengan blog, diawali tahun 1997. Saat itu, blog belum begitu populer. Dua tahun kemudian, saat bekerja di PT Thomson, ia mulai memiliki blog pribadi, www.geocities.com/zhafir2000.com.

Namun, blog itu tak begitu ia up date. Baru kemudian, saat menjadi Wakil Wali Kota Batam, Maret 2006 silam, ia memiliki domain pribadi www.riasaptarika.com. Dan empat bulan lalu, ia membuat blog baru www.riasaptarika.web.id

Memiliki blog, kata Ria, ibarat melampaui dua-tiga pulau sekali kayuh. Karena di satu sisi, ia bisa meluangkan hobinya di bidang teknologi informasi. Di sisi lain, ia bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat Batam.

”Masyarakat bebas mau ngomong apa tanpa ada batasan. Sebagai Wakil Wali Kota, saya menjawab persoalan di Batam. Sebagai pribadi, saya berbagi saran dengan para blogger lainnya,” katanya.***

→ 2 CommentsKategori: Batam

Kapan Hari Jadi Kota Batam

Mei 16, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

kantor wali kota batam di suatu siang. foto diambil yusuf hidayat.

kantor wali kota batam di suatu siang. foto diambil yusuf hidayat.

Setelah bertahun-tahun tak jelas, Kota Batam akhirnya bakal memiliki tanggal hari jadi. Pekan lalu, Pemerintah Kota Batam mengusulkan tanggal 24 Desember sebagai Hari Jadi Kota Batam. Tanggal itu merupakan tanggal terbitnya PP Nomor 34 Tahun 1983 tentang Pembentukan Kotamadya Administratif Batam.

Usulan itu tercantum dalam Ranperda tentang Hari Jadi Kota Batam yang Pansusnya di DPRD Batam sudah terbentuk pekan lalu. Dalam Ranperda itu, hari jadi disebut sebagai momentum sejarah masa silam yang melambangkan perjuangan masyarakat dalam memajukan Batam.

Namun, menurut Ketua Pansus Penetapan Hari Jadi Kota Batam DPRD Batam Irwansyah, Pansus tak akan begitu saja menyetujui tanggal 24 Desember sebagai Hari Jadi Kota Batam, meski Pemko Batam berpatokan pada PP Nomor 34 Tahun 1983, itu.

Karena itu, sebutnya, Pansus butuh masukan dari berbagai pihak untuk menentukan hari jadi Kota Batam. “Kita minta masukan dari tokoh masyarakat, ahli sejarah atau masyarakat yang telah bermukim lama di Batam, guna memberikan masukan pada Pansus Hari Jadi Kota Batam,” katanya.

Draf Ranperda Hari Jadi Kota Batam yang diusulkan Pemko Batam itu, cuma tiga bab dan tiga pasal. Tak ada alasan atau kajian, kenapa tanggal 24 Desember jadi pilihan.

Padahal, menurut Ketua DPRD Batam Soerya Respationo, penentuan Hari Jadi Kota Batam perlu ditinjau dari aspek hukum dan historis. Terutama dikaitkan dengan sejarah Melayu dan proses pembentukan Kota Batam.

Pemko Batam sendiri, kabarnya sudah menyiapkan tim khusus dalam pembahasan Hari Jadi itu. Sejarawan dari Tanjungpinang, Aswandi Syahri, dalam Facebook-nya mengatakan diajak diskusi oleh Tim Pemko untuk mencari tanggal yang pas sebagai Hari Jadi Batam. Hasilnya, ia dan Samson Rambah Pasir, budayawan dan pegawai Pemko Batam, diminta meneliti arsip dan sejarah Batam di Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional, Jakarta.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Teh Rosella dari Batam

Mei 15, 2009 · 1 Komentar

Cak Dikin memperlihatkan aneka minuman dan makanan dari rosella. foto William

Cak Dikin memperlihatkan aneka minuman dan makanan dari rosella. foto William

Dulu, mungkin tak pernah terbayangkan bakal bermunculan usaha kecil di Batam. Orang datang ke Batam, kalau tidak ingin kerja di industri besar, shipyard pasti ingin memulai bisnis berorientasi ekspor.

Namun, apa yang dulu tak terbayangkan itu kini hadir. Banyak pengusaha kecil muncul, akibat makin susahnya mencari kerja di Batam. Salah satunya pertanian rosella, yang kelopaknya bisa diseduh seperti teh. Rasanya, asam-asam manis, menyegarkan.

Guntur menggelegar, saat saya menyambangi Ahmad Bruri, 57, di rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama, pekan lalu. Pria yang akrab dipanggil Cak Dikin itu baru pulang dari kebunnya.

”Silakan coba teh rosella ini,” katanya menyodorkan segelas teh rosella yang baru dikeluarkan dari kulkas.

Hmm, rasanya memang menyejukkan. Tak hanya segar di tenggorokan, tapi juga enak di badan. ”Khasiatnya banyak. Bisa menghilangkan kolesterol, menghilangkan capek-capek. Badan segar,” ucapnya.

Dikin mengaku tak pernah membayangkan bakal menjadi petani rosella. Semuanya berawal kala Himpunan Kerukunan Tani Indonesia mengirimnya ikut pelatihan di Palembang, tahun 2006. Di sana, pematerinya memberikan sejumlah alternatif tanaman yang bisa dibudidayakan, salah satunya rosella yang bisa menjadi teh herbal.

Pulang dari Palembang ia membawa lima kilogram bibit rosella. Antara ragu dan ingin mencoba, ia menanam sekitar 500 bibit. Empat bulan dirawat, rosella mulai dipanen. ”Karena baru, saya pakai dulu untuk minuman keluarga. Pagi, siang dan malam, keluarga kami minum rosella hampir selama empat bulan. Manfaatnya terasa, badan lebih sehat dan enak,” tuturnya.

Merasa mendapatkan manfaat dari rosella, ia memperkenalkan rosella ke masyarakat. Ia datangi rumah-rumah, jualan di pasar. Namun, selama dua tahun tak satupun masyarakat tertarik. Padahal, sudah tak terhitung, berapa rumah yang ia datangi. Juga sudah tak terhitung berapa duit dan tenaga yang ia habiskan untuk mengenalkan tanaman herbal itu ke masyarakat.

Uang belanja di rumahnya juga hampir habis karena dibelikan gula sebagai campuran teh rosella. Dapurnya terancam tak mengepul. Ia bahkan sempat putus asa. Untungnya, isteri Cak Dikin tak ikut putus asa. Ia menyemangati suaminya. ”Mungkin belum waktunya. Jangan putus asa.”

Mendapat dukungan isteri, Dikin kembali tertantang. Ia cepat mengambil cangkul, kembali ke kebun rosellanya. Besoknya, ia tawarkan lagi rosella itu ke rumah-rumah dan pasar.

Pembeli pertama pun datang, akhir tahun lalu. Ia membeli satu ons rosella. Karena belum tahu harga rosella di pasaran, Dikin menjualnya Rp10 ribu. ”Nama pembeli pertama saya itu, saya catat. Kalau seandainya nanti saya sukses, dialah yang akan saya beri hadiah,” katanya.

Dikinpun mengajak ibu-ibu PKK Tiban Lama dan Lurah Tiban Lama. Merekalah yang kemudian ikut membantu pemasaran rosella itu. Munculnya pemberitaan di televisi soal khasiat dan manfaat teh rosella bagi kesehatan,
membuat permintaannya makin kencang. Apalagi kemudian ia ikut pameran pada sejumlah ekspo di Batam.

Kalau dulu Dikin harus ke datang ke rumah-rumah, kini sejumlah restoran dan hotel menjadi pelanggannya. Rumahnya di kawasan air terjun Tiban Lama, kini ramai. Ia menyuplai kelopak rosella segar dan kering ke sejumlah tempat. Bahkan, tingginya permintaan membuat ia tak mampu lagi memenuhinya.

Sejumlah rekannya ia ajak menanam rosella. Di Tiban Lama, kini sudah 25 petani yang ikut serta dan menghasilkan 50 kilogram rosella per hari. Hasil itu tak cukup, karena permintaannya mencapai 300 kilogram per hari. Karena itu, ia mengajak petani lain di kawasan Tembesi, Galang, Seitemiang dan Dapur 12 untuk menanam rosella.

”Seandainya dulu saya putus asa, mungkin tak akan ada rosella merek D’Kam dari Batam,” katanya.

Ya, Dikin dan petani-petani lain di Batam kini mulai mendapatkan hasil dengan berkebun rosella. Pangsa pasarnya mulai terbuka. Dan Batam yang dulu hanya dikenal sebagai kota industri, kini akan dikenal sebagai kota penghasil minuman herbal, rosella.***

→ 1 CommentKategori: Batam

KPK pun Beli Blackberry di Batam

Mei 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

toko-lucky-plaza-tempat-orang-beli-ponsel-murahSMS itu datang pas matahari di ubun-ubun, jam satu siang, pekan lalu. Dikirim temanku di Surabaya. Isinya masih sama seperti dulu, menanyakan harga ponsel dan blackberry di Batam.

Saya sering bingung, kalau ditanya soal harga ponsel. Kujawab, saja sama dengan di Surabaya. Tapi, temanku itu tak percaya. ”Tolonglah, cek dulu. Siapa tahu harganya turun.”

Di pertokoan Lucky Plaza, Nagoya, harga ponsel ternyata memang lagi turun. Nokia E63 yang di Surabaya harganya di atas Rp3 juta, di Lucky Plaza, cuma Rp2,3 juta. ”Tapi, ini BM bang. Garansi sebulan lah,” kata seorang penjual ponsel.

Batam memang sudah terlanjur dicap sebagai tempatnya barang elektronik murah. Dari dulu sampai sekarang, setiap kali ada yang berkunjung ke Batam, yang dicari pasti toko ponsel.

Bahkan, sebuah media di Batam menulis, sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru pulang memeriksa sejumlah
pejabat Natuna singgah di Batam untuk beli blackberry. Mereka,
kata media itu, melihat sejumlah penyidik KPK itu membeli blackberry.

Sejumlah personel band The Rock yang dipimpin Ahmad Dhani juga tak ketinggalan memburu blackberry di Batam. Tak hanya membeli satu, mereka malah memborong. ”Mumpung di Batam, anak-anak cari handphone,” kata Paramita, gitaris The Rock.

Pengusaha Jakarta juga melakukan hal yang sama. Temanku, sampai
kehabisan tenaga gara-gara mengantar bosnya yang datang dari Jakarta melihat-lihat blackberry. ”Bos besar beli empat,” tukasnya.

Tak hanya ponsel, parfum juga jadi buruan. Sejumlah artis, tak pernah lupa beli parfum kalau singgah di Batam. Slank, misalnya, setiap kali manggung di Batam, pasti singgah di toko parfum.

Yang unik lagi dari Batam, sea foodnya. Jadi, ingat sama Wakil Wali Kota Ria Saptarika saat makan di sebuah restoran terapung di jembatang IV Barelang. Kepada temannya, ia memperkenalkan ”gonggong”. Makanan seperti keong, yang konon hanya ada di Kepri.

”Ini khas Kepri, mas. Cobalah, enak,” kata Ria. Tamunya tersenyum, mengikuti saran Ria. ”Enak, pak,” balas tamunya.

Saya yang duduk di sampingnya, senyum-senyum.

Jadi, bagi anda yang baru datang ke Batam, berburu apa anda di
Batam?

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Dari Batam ke KL, Kini Bisa Terbang

Mei 2, 2009 · 1 Komentar

Wali Kota Ahmad Dahlan dan Angelina melambaikan tangan kepada pilot Firefly saat penerbangan perdana di Hang Nadim.(fotoiman wahyudi/batampos)Penerbangan internasional dari Batam ke sejumlah negara lain kini terwujud. Sabtu (2/5), Firefly maskapai penerbangan anak perusahaan Malaysia Airlines, melayani penerbangan perdana dari Batam ke Kuala Lumpur dan sebaliknya. Penerbangan perdana pesawat berkapasitas 72 penumpang itu langsung penuh.

Menurut Angelina C Fernandez, Head of Marketing & Communications  Firefly, Firefly merupakan pesawat pertama yang melayani penerbangan internasional dari Batam ke Kuala Lumpur. Ia berharap penerbangan itu bisa memberi kontribusi yang positif bagi Batam dan Kuala Lumpur. “Baik itu dari segi ekonomi maupun perjalanan wisata,” jelasnya.

Kehadiran Firefly akan mempersingkat waktu perjalanan warga Batam menuju Malaysia maupun sebaliknya. Jarak tempuhnya hanya 1 jam 20 menit. Bandingkan jika perjalanan Batam-Kuala Lumpur itu ditempuh lewat perjalanan laut, bisa memakan waktu lima hingga enam jam.

Walikota Batam Ahmad Dahlan yang meresmikan rute internasional itu menyambut baik. Dahlan mengatakan kehadiran Firefly akan semakin memperkenalkan Batam pada masyarakat luar, khususnya pada masyarakat negeri jiran. Warga Malaysia bisa datang ke Batam untuk melakukan perjalanan bisnis, berwisata dan berbelanja. “Begitu sebaliknya, warga Batam bisa dengan mudah pergi ke Malaysia,” tambahnya.

Firefly terbang dari Batam ke Kuala Lumpur tiga kali seminggu. Setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Dari Bandara Subang Kuala Lumpur berangkat pukul 10.00 (waktu Malaysia) atau pukul 9.00 WIB pagi dan sampai di Batam pukul 10.20 WIB. Terbang kembali ke Subang  pukul 10.40 WIB dan sampai di Subang jam 13.00 waktu Malaysia.

Menggunakan pesawat jenis ATR72-500, berkapasitas 72 penumpang. Kelebihan maskapai ini menerbangi rute-rute yang tidak dapat diterbangi oleh pesawat jenis single asile. Konsumsi bahan bakar juga lebih irit, bebas polusi dan biaya paling rendah dibanding pesawat jenis lain.

Dalam rangka promosi, Firefly juga menawarkan harga yang cukup murah mulai dari Rp111 ribu. Tiket ini bisa didapat di agen-agen perjalanan di Batam dan di situs www.fireflyz.com.my.***

→ 1 CommentKategori: Batam

KPK Turun ke Batam

Februari 14, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

kpkBaru tiga langkah menjauh dari tangga pesawat, seorang anggota DPRD Batam merasakan bahunya ditepuk dari belakang, Selasa pekan lalu, di Jakarta. Sang anggota Dewan kaget, tapi cepat menguasai diri. Di depannya, berdiri seorang penyidik KPK.

”Saya baru dari Batam,” tukas penyidik KPK, itu.

Anggota Dewan dari partai dakwah itu mengenal penyidik tersebut. Beberapa tahun lalu, di kantor KPK, ia pernah diperiksa KPK berkaitan kasus ‘’suap” PT ATB Batam. Penyidik yang menepuk bahunya tadi itulah, yang memeriksa dia bertahun-tahun lalu itu. Wajah penyidik itu tak bisa dilupakan anggota Dewan tersebut.

Sang anggota Dewan mengangguk. Ia kini makin yakin kalau KPK benar-benar turun ke Batam seperti yang ditulis Batam Pos, satu-satunya media yang menurunkan berita KPK. Kasus apa saja? ”Seputar laporan gratifikasi. Kan rekan anda yang lapor ke KPK.”

Beribu-ribu mil dari Jakarta, suasana di Gedung DPRD Batam sedang panas. Wakil Ketua DPRD Batam Aris Hardy Halim menggelar rapat dengan sejumlah pimpinan fraksi. Sedianya, rapat di ruang pimpinan itu membahas soal asuransi kesehatan yang akan diterima anggota Dewan. Namun, berita di Batam Pos yang menurunkan pengakuan seorang anggota Dewan, Fisman Gea, kalau KPK memeriksa DPRD Batam membuat gempar.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Mencintai Kampung Halaman

Februari 9, 2009 · & Komentar

Pria itu sosok bersahaja. Sudah berpuluh-puluh tahun ia menetap di negeri jiran Malaysia, namun tak pernah melupakan kampung halamannya. Desa Kumalasa, Bawean.

Saya bertemu dengannya delapan tahun lalu, di Kampung Pandan, Malaysia. Umurnya sudah lebih dari setengah abad. Keriput terlihat di sebagian besar wajahnya. Jalannya sedikit bungkuk, dipandu tongkat kayu.

Namun, kecintaannya akan kampung halamannya membuat ia tak pernah diam. Ia keliling menyambangi saudara-saudaranya seperantauan asal Kumalasa, yang ratusan tersebar di Kampung Pandan. Bukan sekadar silaturrahmi.

Ia aktif menjadi panitia pembangunan. Misalnya, jika ada pembangunan masjid atau musalla di Kumalasa yang perlu dana, ia biasa terlibat di dalamnya. Usia yang menua, dan tubuh yang tak lagi muda, bukan halangan. Ia benar-benar mencintai kampung halamannya. Bertahun-tahun lalu, ia meninggal. Meninggalkan sebuah nilai tak terharga.

Sosok kedua adalah Wali Kota Batam. Di setiap pertemuan dengan paguyuban atau organisasi massa lainnya, ia rajin mengajak mereka untuk menjadikan Batam sebagai kampung halaman pertama. ”Kampung yang jauh di sana, itu kampung halaman kedua.”

Wali Kota Batam itu mengungkapkan itu bukan karena ia lahir dan besar kemudian berkarir di Batam. Tapi, ia ingin membuka ruang pikir, ia ingin para perantau yang ratusan ribu berdatangan ke Batam, menjadikan Batam sebagai kampung halamannya. Bukan sekadar tempat mencari penghidupan.

Dua sosok tadi, sama-sama menerjemahkan makna mencintai kampung halaman dengan cara berbeda. Namun, niat mereka sama. Apa yang bergemuruh di hati mereka sama. Sama-sama mencintai kampung halaman.

Jika kini, bermunculan paguyuban di Batam, didirikan oleh orang-orang perantauan di tanah Melayu itu, bisa jadi itu juga bagian dari mencintai kampung halaman. Orang Jawa mendirikan paguyuban Jawa. Orang Batak mendirikan paguyuban Batak. Orang Padang mendirikan paguyuban Padang. Orang Bawean juga membentuk paguyuban Bawean.

Saya jadi teringat enam tahun lalu, saat saya baru lulus kuliah. Bersama teman-teman mahasiswa sekampung, saya berniat melakukan semenisasi jalan setapak menuju pemandian umum yang panjangnya kira-kira 1,5 kilometer.

Maka dibuatkan kepanitiaan. Tanpa modal apapun. Semuanya dimulai dari nol. Kami pontang-panting mencari dana. Hampir setiap malam, saya membawa proposal mendatangi rumah-rumah warga yang cukup ”berada”. Saya minta sumbangan semen. Benar-benar hanya sumbangan semen.

Sebulan berkeliling, semen yang ada baru terkumpul 13 sak. Belum memadai untuk jalan sepanjang 1,5 kilometer itu. Kami pasrah. Namun, apa yang sudah kami rintis, tak boleh berhenti. Kami boleh jadi tak mampu mengumpulkan sumbangan, tapi jalan harus diperbaiki.

Lewat rapat, akhirnya pembangunan jalan itu kami bawa ke rapat desa. Desa yang akhirnya turun tangan. Teman-teman mahasiswa banyak tak setuju. Tapi, saat itu kami bulat. Tak peduli siapa yang berbuat, yang penting jalan setapak itu disemen.

Kerja keras itu berbuah. Semenisasi berlangsung dengan mengerahkan seluruh pemuda di desa kami. Saya lega. Walaupun di pojok pemandian, nama kami sama sekali tak disebut. Ini bentuk kecintaan akan kampung halaman.

Atas nama cinta kampung halaman pula, di sela-sela persiapan membuat jalan, saya menjadi guru komputer di pesantren. Tak dibayar. Saya membagi ilmu gratis. Bahagia, rasanya. Hingga akhirnya, saya meninggalkan kampung halaman itu. Di Batam, di kota ini akhirnya saya berlabuh.****

→ 5 CommentsKategori: Batam

Partai Keren Sekali

Februari 8, 2009 · & Komentar

Awalnya, saya tak ngeh kala melihat tulisan partai kalem & santun di spanduk kuning dan hitam itu tergantung di pojok jalan, di seiharapan, Jumat lalu. Saya hanya tahu, itu pasti spanduk PKS, dari warna spanduknya.

Hingga kemudian, saat melewati simpang Seraya, mata saya kembali bertabrakan dengan spanduk yang warnanya sama. Kali ini, bertuliskan partai keren sekali. Saya berhenti sejenak. Ternyata ada tulisan, PKS itu partai keren sekali. Baru saya tahu, itu adalah jargon PKS. Partai yang mengaku profesional, bersih dan peduli.

Minggu pagi, kembali saya bertemu spanduk bertuliskan partai keluarga saya. Berjalan beberapa kilo, kembali bertubrukan dengan tulisan partai kyai & santri. ”Apa iya, PKS mengenal istilah kyai?”

PKS memang sedikit berbeda dengan partai lainnya. Jargon-jargonnya segar. Menggelitik mata, merayu orang untuk memperhatikannya. Pernah juga jadi kontroversi saat iklannya di musim hari pahlawan tayang.

Kalau partai lain tampil dengan wajah-wajah calegnya. PKS tampil utuh, hanya menampilkan wajah partainya. Menurut Ketua DPD PKS Batam Riky Indrakari, PKS nanti akan tampil dalam satu frame. Semua caleg PKS di satu daerah pemilihan tampil dalam satu penampilan di baliho.

Keputusan suara terbanyak, saya kira penyebabnya. Banyak parpol mengalami keretakan internal karena caleg-calegnya bersaing di dalam. PKS, saya rasa cerdas. Partai ini menyiasatinya dengan cara memunculkan imej partai.

Namun saya curiga. Jangan-jangan ini cara dari elit partai agar yang dipilih rakyat hanya caleg dari elit mereka yang dipasang di nomor satu. Sebuah penyamaran, agar rakyat tak memilih caleg di nomor bawah. Bukankah caleg-caleg nomor satu adalah caleg elit?

Tapi, itu cuma kecurigaan. Mudah-mudahan tak benar. Sukses buat partai keren. Buat PKS, mudah-mudahan PKS bukan partai koruptor sejahtera. Tapi, PKS adalah Partai Keadilan Sejahtera. Nomor 8 itu.****

→ 2 CommentsKategori: Batam

KTP Ekspres Rp350 Ribu. Mau?

Februari 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

identitasSembilan tahun lalu, saya pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Dulu, saya cuma jalan-jalan ke Batam di sela-sela libur kuliah. Baru tiga tahun kemudian, saya menetap di sini.

Saya ingat betul. Hanya sehari setelah tiba, saya langsung disodori uang Rp200 ribu oleh kakakku. ”Buat bikin KTP,” katanya.

Saya agak terkejut. Tapi kulakukan ”perintahnya” itu. Segala berkas yang saya bawa, surat pindah dan lainnya saya simpan saja. Di kantor Camat Seibeduk, saya bertemu dengan seorang kepala seksi. Kepadanya, saya serahkan uang itu. Tak lama, saya langsung difoto. Minggu depan, KTP itu siap.

Saya menulis pengalaman ini, berhubungan dengan rencana Pemko Batam yang akan menerapkan KTP Ekspres. Tiga jam selesai, bayar Rp350 ribu. Tulisan saya di batampos.co.id soal KTP itu, dibaca sekitar 410 pembaca, dikomentari 28 orang.

Saya orang yang setuju-setuju saja atas rencana itu. Nantinya, kalau toh Pemko Batam bisa membuat KTP selesai dalam tiga jam, mungkin bisa-bisa tak akan lagi Rp350 ribu. Siapa tahu, tahun 2010 nanti, saat banyak calon wali kota berkampanye, akan ada yang berkampanye KTP selesai tiga jam itu gratis.

Toh, KTP saya baru habis masa berlakunya 2013 nanti. Mungkin masih akan melewati pemilihan wali kota baru. Yang mudah-mudahan, ada yang menjanjikan KTP gratis, tiga jam itu. Toh, Pak Dahlan dan Pak Ria, telah menggratiskan perpanjangan KTP di awal kepemimpinannya. Meski dalam rancangan Perda yang baru itu, perpanjangan KTP nanti tak gratis lagi.

Saat kuungkapkan dukungan saya soal KTP Ekspres itu, M Zilzal, anggota DPRD Batam yang satu partai dengan Wakil Wali Kota Ria Saptarika, menyebut saya ikut-ikutan membodohi masyarakat. Kubilang padanya, itu program bagus, terobosan agar calo tak lagi marak.

”Itu pembodohan. Pemko hanya mikir dapat duit. Mau tingkatkan pelayanan, tapi sedikit-sedikit minta duit. Kemana pajak dan retribusi yang dibayar masyarakat,” kata Zilzal.

”Kan yang standar ada. Warga Batam mau bayar mahal, asal dapat KTP cepat selesai. Kalau tak butuh KTP cepat, masih bisa bikin yang dua minggu,” kataku.

”Tak bisa. Kami akan tanggapi soal ini,” tukasnya. ”Kubilang sama Pak Ria, kalau tak mendukung,” kataku. ”Bilang aja,” kata Sekretaris FKS DPRD Batam, itu.

Dalam Ranperda tentang Administrasi Kependudukan Kota Batam yang merupakan perubahan Perda Nomor 2 Tahun 2001 tentang Perdaduk, pembuatan KTP dengan sistem percepatan atau KTP Ekspres itu dengan jangka waktu penyelesaian tiga jam, retribusinya Rp350 ribu. Selesai satu hari bayar Rp275 ribu, tiga hari Rp200 ribu dan Rp100 ribu bagi yang ingin selesai lima hari kerja. Bagi WNA, bayar dua kali lipat.

Penerapan pembuatan KTP Ekspres itu, bertujuan memberikan pilihan-pilihan kepada masyarakat. Bagi yang ingin mendapatkan pelayanan standar, bisa juga. Selesainya 14 hari kerja, terhitung sejak diterimanya permohonan lengkap di kelurahan.

Pembuatan KTP baru dan perpanjangan KTP selesai 14 hari kerja itu juga tak lagi gratis. Retribusi pembuatan KTP baru Rp50 ribu, perpanjangan Rp25 ribu dan Rp35 ribu untuk penggantian KTP. Selain mengatur soal KTP dan KK, Ranperda baru itu juga memuat hal-hal lain yang berhubungan dengan administrasi kependudukan.Seperti pembuatan kutipan akta kelahiran anak dan lainnya.

Jauh sebelum Ranperda diajukan ke DPRD, rencana penerapan KTP Ekspres sudah pernah diungkapkan Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika. Waktu itu, Ria bersama rombongan Pemko baru pulang dari kunjungan kerja ke Balik Papan. Di sana, sudah lebih dahulu menerapkan pembuatan KTP Ekspres. ”Kami akan mendengarkan suara-suara di masyarakat. Kalau banyak mendukung, bisa saja (KTP Ekspres) diterapkan di Batam,” katanya.

Berarti, kalau banyak yang tak mendukung, rencana itu tak akan dilakukan. Cukup demokratis, kan?****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Koruptor yang Tak Menikmati Korupsinya

Januari 30, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

sidang-rusdi-ruslan-di-foto-iman-wachyudiMata Rusdi Ruslan terus berkedip-kedip. Kabid Prasarana Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Batam, itu duduk menyandarkan punggungnya di kursi putar terdakwa, dengan tangan tergenggam. Putusan majelis disimaknya dengan baik.

Terdakwa kasus dugaan korupsi pembangunan drainase di Kampung Melayu, Batubesar, itu divonis kurungan satu tahun enam bulan dan denda Rp50 juta subsider tiga bulan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Batam, Jumat (30/1). Rusdi dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

Tak ada sepatah kata yang ia ucapkan. Begitu hakim mengetuk palu, ia bergegas menyalami majelis hakim, panitera, jaksa dan pengacaranya. Sejumlah pegawai Pemko yang hadir, tak sempat ia salami. Ia langsung dibawa pergi petugas kembali ke Lapas Klas II A Batam di Tembesi.

Menjalani persidangan terakhir kemarin, Rusdi tampil dengan baju yang biasa ia pakai selama berkali-kali hadir di pengadilan. Hem kotak-kotak dipadu dengan celana hitam. Sepatu kulit warna hitam juga selalu ia kenakan.

Persidangan Rusdi berjalan hampir dua jam. Dimulai pukul 14.45 WIB, baru selesai pukul 16.35 WIB. Berkas putusan hakim tebal berlembar-lembar, dibacakan bergantian oleh Surya Perdamaian SH, A Bondan SH dan Serliwati.

Rusdi sendiri sudah hadir sejak pukul sepuluh pagi. Sepanjang menunggu persidangan, ia sempat menikmati makan siang sekotak nasi padang di sel sementara PN Batam. Ia juga berkesempatan menerima kunjungan keluarga dan rekan-rekannya. Di jajaran pegawai Pemko Batam, Kadis Pemberdayaan Masyarakat, Pasar, Koperasi dan UKM Batam Pebrialin termasuk yang mengunjungi Rusdi dan mengikuti sidangnya sampai akhir.

Menurut hakim, ada kerugian negara Rp539 juta dalam kasus itu. Rusdi dianggap bersalah karena tetap membayar uang proyek drainase di Batubesar Rp2 miliar itu. Padahal, kondisi proyek tak sesuai bestek dan ada sejumlah perubahan tanpa melalui addendum. Namun, Rusdi dinyatakan sama sekali tak mendapatkan keuntungan dari proyek itu. Uang proyek itu, tak masuk ke koceknya.

Rusdi juga jarang turun ke lapangan. Sebagai kuasa pengguna anggaran dan pejabat pembuat komitmen, ia terlalu mengandalkan laporan anak buahnya. Bahkan, Rusdi tak tahu kalau Direktur PT Dewi Citra Tri Kundur Rehaniwati, pemenang tender, menyerahkan pengerjaan proyek itu ke Abdul Rahman.

Jika menerima putusan hakim, Rusdi tinggal menjalani kurungan sepuluh bulan. Karena ia sudah ditahan sejak Mei 2008, atau sudah mendekam di tahanan selama delapan bulan. ”Kami masih punya waktu seminggu untuk pikir-pikir,” kata Mustari SH, pengacara Rusdi dari Azyun Associate. Begitu juga JPU Nanang SH dari Kejaksaan Negeri Batam, belum bersikap menerima atau melakukan banding atas putusan tersebut.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

TUHAN dan Debu

Januari 29, 2009 · & Komentar

hujan-debuDebu itu menempel di ujung sampul buku. Hanya beberapa titik. Kutiup pelan, debu-debu itu luruh, jatuh ke lantai. Lalu, hilang lepas dari pengamatanku.

Siang ini debu itu menempel lagi. Kali ini, saya tak bereaksi seperti kemarin. Debu itu kupandangi saja. Agak lama. Lalu, kuputuskan menulis soal debu.

Di wikipedia, debu adalah sebutan umum untuk sejumlah partikel padat kecil dengan diamter kurang dari 500 mikrometer . Di atmosfer Bumi, debu berasal dari sejumlah sumber: loess yang disebarkan melalui angin, letusan gunung berapi, pencemaran, dll. Debu  dianggap bertanggung jawab menyebabkan penyakit paru dan lainnya.

Debu juga sebutan lain untuk hal-hal rendah, hal-hal yang mudah untuk dilupakan. Kadang ada orang menyebut, ”kamu tu hanya debu di kakiku, bukan siapa-siapa.” Yang paling populer, tentu lagu Dust in The Wind.

Dan, entah kenapa, hari-hari ini saya rajin memandangi dan memikirkan soal debu. Bukan soal bahaya dan mengapa debu itu ada. Tapi, soal keterlibatan TUHAN dalam pengaturan, kapan debu itu menempel dan hilang, kenapa ada di sampul buku, kenapa menempel di meja dan beragam pertanyaan lain.

Saya punya pertanyaan serius, apakah debu yang menempel di sampul buku itu hal yang disengaja, sesuatu yang sudah diatur TUHAN agar ada di sana, di waktu dan tempat tertentu. Kalau ya, mengapa TUHAN terlibat pada hal-hal kecil? Kenapa tidak, misalnya, menghancurkan Zionis Israel yang makin menjadi-jadi itu.

Tapi sudahlah. Saya sungguh bukan orang yang masuk dalam kategori para pencari TUHAN. Saya cuma punya pertanyaan-pertanyaan, punya kegalauan-kegalauan. Sesuatu yang mungkin tak serius.****

→ 2 CommentsKategori: Batam

Pawang Hujan Beraksi, Air Menyusut

Januari 24, 2009 · 1 Komentar

hujanSudah lama saya menyimpan kegundahan sekaligus keprihatinan pada nasib para pawang hujan. Mereka dipanggil para pemilik acara untuk mengusir hujan. Diberi pesangon yang lumayan besar, tapi tak banyak yang kaya.

”Kalau mau kaya, saya sudah punya mobil banyak. Tapi, saya tak mau. Uang itu saya bagi-bagikan, terutama kepada orang-orang yang mau mengikuti saya.”

Itu pengakuan seorang pawang hujan kepadaku, lima bulan lalu. Sekali dikontrak, katanya, ia bisa mendapatkan uang Rp10 juta. Namun, ya, tetap saja saya tak melihat aura kebahagiaan di wajah mereka.

Jumat, lalu, keprihatinan saya bertambah. Seorang pegawai PT Adhiya Tirta Batam, perusahaan pengelola air bersih di Batam, mengungkapkan susutnya air di salah satu dam mereka. ”Produksi turun karena air susut,” katanya.

Lalu, apa hubungan susutnya dam itu dengan pawang hujan. Rupanya, para pemilik resort dan padang golf di Nongsa, banyak menggunakan pawang hujan agar padang golf mereka tak basah. Kebetulan, di antara pada golf itulah, dam ATB itu berada.

”Saya sudah tanya pada para pengelola padang golf itu. Rupanya, mereka pakai pawang hujan. Pantas dam menyusut, air hujan tak turun,” tukasnya.

Si pegawai ATB itu, mengaku sudah melaporkan kondisi itu ke bosnya, orang bule. Namun, bosnya tak percaya. ”Padahal sudah kubilang itu gara-gara master rain,” tambahnya.

Saya senyum-senyum. Apakah, gara-gara master rain atau pawang hujan itu, distribusi air bersih ke rumah-rumah warga di Batam kini terganggu? Yang pasti, dam-dam di Batam mengandalkan air hujan.****

→ 1 CommentKategori: Batam

Utang Anggota Dewan

Januari 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

uang-rp50-ribuMenjadi anggota Dewan di Batam, berarti memiliki penghasilan besar. Selain mendapatkan uang representasi, ada sejumlah tunjangan yang mereka terima. Ancar-ancarnya, sebulan mereka dapat belasan juta rupiah.  Cukup besar untuk orang kebanyakan. Tapi, bagi mereka ternyata tak cukup.

Surat itu tergeletak begitu saja di meja sekretariat Komisi II DPRD Batam, pertengahan tahun lalu. Selembar surat biasa yang diketik di atas kertas putih kwarto. Tak ada yang istimewa, jika kita tak melihatnya dengan cermat. Isinya, ternyata tentang peminjaman uang.

Surat itu dari seorang anggota Dewan. Ditujukan kepada Kabag Keuangan Sekretariat DPRD Batam. Anggota Dewan itu berniat meminjam uang Rp5 juta kepada Setwan, dengan jaminan Setwan memotong gajinya di akhir bulan nanti.

Surat itu menjadi istimewa karena diajukan seorang anggota Dewan yang di mata masyarakat memiliki penghasilan besar. Cukup besar, jika kita menghitung penghasilan mereka seperti tercantum dalam PP Nomor 37 Tahun 2006.

Yang terdiri dari uang representasi, tunjangan keluarga, tunjangan beras, uang paket, tunjangan jabatan, tunjangan Panitia Musyawarah, tunjangan komisi, tunjangan Panitia Anggaran, tunjangan Badan Kehormatan dan tunjangan Alat Kelengkapan lainnya. Tunjangan itu masih ditambah lagi dengan tunjangan komunikasi intensif dan tunjangan perumahan.

Di DPRD Batam, setiap hari ada saja warga yang datang menemui anggota Dewan. Ada yang berasal dari kader partai anggota Dewan tertentu, ada juga yang datang dari kawasan pesisir untuk meminta bantuan dana dan pertolongan lain. Namun, rata-rata meminta sumbangan.

Belum lagi, biaya-biaya politik yang mereka keluarkan. Sehingga, sejumlah anggota DPRD Batam memilih berutang atau meminjam uang ke Setwan dan lainnya.

Sejumlah anggota Dewan yang pernah saya tanya mengaku pernah meminjam uang untuk memberi sumbangan atau untuk kepentingan politik mereka. Mereka pinjam uang, biasanya karena ada kepentingan mendadak atau tak lagi memiliki uang di dompet saat ada kader partai mereka atau warga datang meminta sumbangan.

”Politik itu cost-nya tinggi. Kita juga harus care, jika ada yang datang meminta sumbangan,” kata M Zilzal, Sekretaris Fraksi Keadilan Sejahtera DPRD Batam.

Menurut Zilzal, ia meminjam uang jika ada pengeluaran di luar perkiraan. Seperti, ada warga yang meminta sumbangan tadi, di luar alokasi yang sudah dipersiapkan. ”Kadang pinjam ke komisi. Bukan hanya saya, teman-teman yang lain juga banyak,” tukasnya.

Setyasih Priherlina dari Fraksi PAN mengaku sering pinjam uang ke Setwan. Bahkan, katanya, ia terpaksa harus menyicil untuk melunasi pinjaman-pinjaman uangnya itu. Biasanya, ia membayar pinjamannya dengan memotong gajinya di akhir bulan.

Untuk apa saja pinjaman uang itu digunakan? ”Ya, macam-macam. Tapi, paling banyak untuk sumbangan tadi,” tuturnya.

Wardi Atmowiyono dari Fraksi PDI Perjuangan juga mengaku pernah meminjam uang ke Setwan. ”Tapi, tak sering. Setahun, sekali-dua kalilah. Saya bayar tanpa harus potong gaji,” tukasnya.

Meski banyak anggota Dewan yang pinjam uang dan membayar dengan potong gaji, ada juga yang anti berutang. Reinhard Hutabarat dari PDS misalnya, ia memilih tak berutang. ”Prinsip saya, saya tak mau berutang. Kalau ada yang minta sumbangan, kalau ada uang saya kasih. Kalau tak ada, ya saya tak mau memaksakan diri ngasih sumbangan lewat uang pinjaman,” ujarnya.

Pernah suatu hari, ada seorang ketua komisi mendatangi rekan-rekannya untuk meminta bantuan uang. Ia membuka dompetnya dan memperlihatkan isinya yang kosong. Setelah dapat beberapa lembar uang 50-an ribu rupiah, anggota Dewan itu menggunakan uangnya untuk mengajak sejumlah warga yang datang ke fraksinya makan nasi bungkus. ”Sisanya, untuk ongkos pulang.”

Sekwan DPRD Batam Guntur Sakti mengakui, ada sejumlah anggota Dewan yang pinjam uang ke Setwan. Biasanya, mereka membayarnya dengan potong gaji di akhir bulan. ”Tak banyak. Setiap bulan ada satu dua orang,” kata Guntur.

Anggota DPRD Batam sebenarnya punya utang harus mengembalikan rapelan tunjangan komunikasi intensif. Besarnya, setiap orang harus mengembalikan uang sebesar Rp64,26 juta sampai sebulan sebelum tugas mereka berakhir.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Sarjana di Kursi Dewan

Januari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

sarjanaMenjadi anggota Dewan harus memiliki wawasan yang luas. Ia tak hanya bergelut dengan persoalan anggaran, pengawasan dan legislasi. Tapi juga terlibat penuh dengan masalah-masalah yang berkembang di masyarakat. Sehingga berwawasan itu sangat perlu. Tak harus sarjana, tentunya.

Itu sebabnya, dari 45 anggota DPRD Batam, banyak yang bukan sarjana saat pertama kali menginjakkan kakinya di gedung terhormat itu. Aturan memperbolehkan seperti itu.

Tapi, itu dulu. Sekarang sebagian besar anggota DPRD Batam sudah bertitel sarjana. Bahkan banyak yang bergelar master hukum (MH atau M Hum).

Misalnya, Robert Edi Siahaan yang saat pertama jadi anggota Dewan di tahun 2000 belum sarjana, kini sudah menyandang SH MH. Dua anggota Fraksi Demokrat Zakaria dan Irlan Gusti juga sudah bergelar SH. Irwansyah, dari Fraksi PPP Plus yang masuk ke DPRD lulusan STM kini sudah jadi Sarjana Ekonomi. Sahat Sianturi dari PDI Perjuangan kini juga sudah SH M Hum.

Itu belum lagi para sarjana yang melanjutkan kuliah saat duduk di kursi Dewan. Onward Siahaan misalnya, Sekretaris Komisi III yang bergelar insinyur itu kini menambah dua gelar yakni SH dan M Hum di belakang namanya. Asmin Patros yang SH juga sudah lulus S2, begitu juga koleganya Supandi Arim juga Master Hukum.

Masih ada M Zilzal dari PKS yang sudah mendapatkan gelar Sarjana Hukum. AA Sany dari PAN juga sedang menunggu gelar. Ada juga yang mendapatkan gelar doktor saat berstatus sebagai anggota Dewan yakni Soerya Respationo dan Kholik Widiarto.

Apa yang mereka cari? ”Tak ada batasan usia dalam menuntut ilmu. Sepanjang ada kesempatan, saya akan belajar,” kata Robert Edy Siahaan. Apalagi dunia hukum, katanya, sangat menarik dicermati.

Robert mengaku kuliah saat duduk di Dewan bukan karena latah atau memanfaatkan kesempatan di Dewan. Ia kuliah hukum juga bukan untuk jadi pengacara, jika nanti tak di Dewan lagi. ”Saya tidak seperti itu. Saya mengalir saja seperti air. Easy going saja,” tuturnya.

Ir Onward mengaku kuliah di bidang hukum karena terjun ke dunia politik. Onward menilai, hukum adalah panglima di masa reformasi ini. Sehingga meski sudah bergelar insinyur dari USU tahun 1989, ia juga meraih gelar M Hum dari UGM dan SH dari UBK Jakarta.

Apakah gelar SH M Hum itu sebagai masa persiapan seandainya tak lagi jadi anggota Dewan? Menurut Onward, dari sisi ilmu dan gelar, apa yang ia dapat di kuliah hukum itu akan ia gunakan untuk melakukan advokasi bagi masyarakat. Jika nanti ia tak lagi di Dewan, misalnya, ia bisa saja beraktifitas di advokasi masyarakat maupun LSM.

”Namun, bukan untuk mata pencaharian. Karena saya sudah berkomitmen, untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu dari bisnis dan sejumlah perusahaan yang selama ini saya rintis,” tuturnya.

Zakaria juga mengaku kuliah karena bidang hukum yang ia ambil bisa menunjang kinerjanya sebagai anggota Dewan. ”Dalam banyak hal sangat menunjang. Dengan belajar lagi, kita juga tahu pemimpin bangsa harus dilandasi dengan moral,” tukasnya.

Lalu, bagaimana dengan anggota Dewan yang enggan ”menyandang” gelar sarjana?

”Saya sibuk dengan urusan masyarakat. Tak sempat lagi mengurusi hal pribadi seperti kuliah menambah gelar,” kata Ruslan Kasbulatov, Ketua Komisi I DPRD Batam yang lulusan SMEA.

Jika rekan-rekannya di Dewan sudah banyak yang meraih gelar sarjana, ia santai-santai saja. Sejak jadi anggota Dewan 2004 silam, ia belum pernah tergerak kuliah lagi.

Meski tak kuliah di jalur formal, Ruslan termasuk yang tak pernah melewatkan waktu membaca koran ataupun majalah. Setiap pagi, ia sarapan koran. Untuk menambah wawasan dan ilmu, katanya.

Kenapa tak tertarik kuliah? Ruslan mengatakan, ”Bukan tak tertarik. Tapi, saya tak mau kuliah hanya untuk menambah-nambah gelar dan menghabiskan duit rakyat. Sarjana kalau tak berkualitas, buat apa?”

Edward Brando dari PAN juga termasuk anggota Dewan yang belum bergelar sarjana. Seperti Ruslan, Edward juga kritis dan sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversi.

Menurut Edward, ia pernah kuliah namun karena sibuk dengan tugasnya di Dewan, ia tak aktif lagi. Apalagi, kuliah, katanya butuh konsentrasi.

”Saat ini lagi sibuk. Banyak urusan masyarakat yang perlu perhatian,” tukasnya.

Meski begitu, Edward mengatakan, pendidikan itu penting. Apalagi bagi seorang anggota Dewan. ”Tapi, kan belajar dan menambah wawasan itu tak harus dengan meraih gelar,” katanya.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Tempel Pipi Wali Kota

Januari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

ahmad dahlan/foto wijaya satria

ahmad dahlan/foto wijaya satria

Wali Kota Batam Ahmad Dahlan memiliki kebiasaan-kebiasaan unik yang jarang diekspos media. Di antaranya melayani wawancara di ”podium” Gedung Dewan, kebiasaannya bersila di kursi dan salam tempel pipinya dengan pimpinan DPRD Batam.

Sidang paripurna baru saja usai, Jumat (21/11) sore. Sejumlah kepala dinas dan anggota DPRD Batam sudah beranjak meninggalkan Gedung Dewan. Di lobi gedung, wartawan menunggu Wali Kota Ahmad Dahlan.

Yang ditunggu akhirnya muncul menuruni tangga dari lantai dua. Bersama Wali Kota, ada Kepala Bappeda Wan Darussalam dan Kepala Badan Kominfo Muramis. Di sampingnya, berjalan beriringan Ketua Komisi I Ruslan Kasbulatov.

Wartawan sudah menunggu di depan prasasti bertuliskan nama-nama 30 anggota DPRD Batam periode 2000-2004. Bentuknya seperti podium, tempat orang berpidato, cuma tak seberapa tinggi. Tahu kalau sedang ditunggu wartawan, Wali Kota mendekat.

Hampir sepuluh menit lebih Wali Kota melayani wawancara. Mulai dari soal APBD, bus sekolah hingga bus ke bandara. Ada juga yang nyeletuk soal perbedaan pandangannya dengan Wakil Wali Kota mengenai perlunya pergantian kepala dinas dilakukan segera. Semua dijawab Wali Kota sambil sesekali melempar senyum khasnya.

Beberapa kali ia memegang dan meletakkan ponsel Nokia E90-nya dia atas ”podium”itu. Tangannya kadang memegang dua sisi podium, dengan gerakan kaki yang rileks. Ya, di podium itulah tempat Wali Kota melayani wawancara.

Selama hampir dua tahun mengikuti kegiatannya, saya mencatat, Wali Kota selalu melayani wawancara di podium itu jika ada di Gedung Dewan. Kalau berada di lantai IV Kantor Wali Kota, wawancaranya juga dilakukan di podium yang ada di sana. Wali Kota berdiri di sisi podium, wartawan berdiri di sisi lainnya.

Sehingga podium itu memisahkan jarak wartawan dengan Wali Kota. Cuma beberapa bulan ini, podium di lantai IV sudah tak terlihat lagi. Saya sempat bertanya, kenapa wawancaranya selalu di tempat yang sama, di depan podium. Cuma, mungkin karena Wali Kota menganggap pertanyaan itu dengan kenapa wawancaranya di gedung Dewan, ia menjawab sambil tertawa.

”Itu sama saja dengan bertanya kenapa gedung Batam Pos di sana,” katanya tersenyum menunjuk Graha Pena.

Wali Kota juga termasuk pribadi yang hangat, murah senyum dan akrab. Itu sebabnya mungkin, ia punya kebiasaan memeluk dan menempelkan pipinya saat bersalaman dengan sesama pimpinan Muspida, terutama dengan pimpinan Dewan.

Saat-saat ketika ia selesai meneken sebuah Perda, misalnya, ia pasti menyalami erat dan menempelkan pipinya kanan-kiri, seperti salamnya orang timur tengah. Ruslan Kasbuatov, biasanya sering berseru kala melihat Wali Kota dan pimpinan Dewan bersalaman khas timur tengah tadi. Dari tempat duduknya di belakang, Ruslan kadang bersiul.

Dari sikap murah senyumnya tadi, mungkin yang membuat Wali Kota jarang mengekspresikan kemarahannya. Saya mencatat, baru dua kali Wali Kota mengekspresikan kemarahannya secara terbuka.

Pertama, saat mengetahui proyek pengadaan baju olah raga di lingkungan Pemko Batam yang dibiayai APBD Batam 2007, baru selesai di akhir tahun.

Kedua, saat menengok proyek pembangunan kios di pantai Melur. Untuk pengadaan baju olah raga, Dahlan mengaku sempat hendak membuang baju itu. ”Mau saya buang, saya Wali Kota,” katanya, soal mengapa ia tak jadi melakukan itu. Sementara soal proyek pengadaan kios, ia sempat menendang-nendang lantai kios yang terlihat retak.

Kebiasaan lain Wali Kota adalah bersila. Jika duduk di kursi dengan meja di depannya, pasti kakinya dilipat di atas kursi. Saya sering menyaksikan ini. Di setiap kesempatan jumpa pers, atau wawancara di ruang rapat lantai lima Kantor Wali Kota, misalnya, pasti Wali Kota berbicara sambil duduk bersila.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Madzhab Cinta

Januari 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

lovesuatu saat dalam sejarah cinta kita

kita tidur saling memunggungi

tapi jiwa berpeluk-peluk

senyum mendekap senyum

suatu saat dalam sejarah cinta kita

raga tak lagi saling membutuhkan

hanya jiwa kita sudah lekat menyatu

rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita hanya mengisi waktu dengan cerita

mengenang dan hanya itu

yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita mengenang masa depan kebersamaan

kemana cinta kan berakhir

di saat tak ada akhir

====+====

Sajak di atas sengaja kutulis di blog ini. Sajak itu ada di buku Serial Cinta, yang pernah muncul bersambung di majalah Tarbawi, ditulis oleh Anis Matta, dan kemudian menjadi buku tersendiri.

Suatu saat, Anis menulis cinta sepasang kekasih. Betapa dahsyat, tulisnya, goncangan jiwa yang dirasakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada tidur, tak ada lelah. Tak ada takut, tak ada aral. Tak ada jarak. Yang ada hanya tekad, hanya rindu, hanya hasrat, hanya puisi, hanya keindahan.

Puisi adalah busur yang mengirimkan panah-panah asmara ke jantung hati kekasih. Rembulan adalah utusan hati yang membawa pesan kerinduan yang tak pernah lelah melawan waktu.

Suatu ketika, ia menulis soal cinta Khalid bin Walid akan jihad. Ia bukan menikmati ‘’saat-saat membunuh orang”. Ia mencintai pekerjaannya, karena itu niscaya untuk mencapai misi dakwah. Maka, ia mencintai kesulitan-kesulitan itu lebih dari apapun jua.

”Berada pada suatu malam yang dingin membeku, dalam suatu pertempuran, lebih aku sukai dari pada tidur dengan seorang gadis di malam pengantin,” katanya.

Lalu, Umar ingin memproklamirkan betapa dalamnya cintanya pada Muhammad, nabi agung itu. ”Aku mencintaimu wahai Rasulullah melebihi cintaku pada semua yang lain, kecuali diriku sendiri,” katanya.

Tapi, jawaban Muhammad, sungguh di luar dugaannya. ”Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih engkau cintai dari pada dirimu sendiri.”

Itulah cinta. Cinta yang akan membuat kita berada di surga-surga, suatu saat nanti. Sungguh, bukan amal-amal kita yang penuh pamrih itu. Maka, mari kita bermadzhab cinta.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Rontoknya Nomor Urut

Januari 6, 2009 · 1 Komentar

pilih sesuai hati nuraniSMS itu datang beberapa jam setelah Mahkamah Konsitusi menghilangkan sistem nomor urut. Dikirim seorang anggota DPRD Batam ke nomor ponsel wartawan. Isinya, anggota Dewan tadi mengaku sempat dimintai uang Rp200 juta oleh ketua partainya agar bisa duduk kembali di nomor satu.

Namun, dengan alasan lagi tak punya uang, ia tak memberi. Sehingga, anggota Dewan tadi akhirnya duduk di nomor urut lima. ”Untung tak saya hasih. Kalau saya kasih, dengan sistem suara terbanyak saya pasti rugi. Untung,” tukasnya.

Keputusan MK itu merontokkan dominasi nomor urut. Banyak pemilik nomor urut yang membayar upeti ratusan juta rupiah ke ketua partainya, agar bisa duduk di sana. Tapi, putusan MK membuat mereka pusing.

Ketua partai tak hanya posisinya bisa goyah. Mereka yang memungut upeti kepada kadernya bisa tak bisa tidur. Kabarnya, banyak kader yang sudah menyetor meminta kembali duit itu. Mereka tak rela, karena posisi mereka bisa saja diruntuhkan kader yang mengakar, meski tak punya banyak uang.

Di sisi lain, caleg nomor bawah atau yang biasa disebut nomor sepatu kini bersemangat. Tak berlakunya sistem nomor urut dalam Pemilu 2009, membuat mereka lebih bergairah memenangkan hati masyarakat.Ganda Tiur MS, caleg nomor urut 5 di Dapil II dari PDI Perjuangan misalnya, mengaku lebih bergairah. Dengan sistem lama 30 persen suara saja, ia sudah banyak memasang baliho di sejumlah tempat.

”Dengan sistem suara terbanyak saya senang betul. Saya akan lebih banyak sosialisasi,” ujarnya.

Dulu, kata Ganda Tiur, ia berharap bisa meraih suara 30 persen. Karena itu, ia memasang banyak baliho dan turun ke lapangan. ”Sekarang, harus door to door. Harus lebih banyak face to face menunjukkan diri kita ke konstituen. Suara terbanyak sangat demokratis,” tukasnya.

Anggota Komisi I DPRD Batam yang kini jadi caleg nomor urut 6 dari Dapil II dari PDS, Riginoto Wijaya juga bersemangat. ”Jika dulu saja sudah semangat, apalagi sekarang,” ujarnya.

Caleg nomor urut 4 di Dapil I dari PDI Perjuangan Wardi Atmowiyono, mengatakan penggunaan suara terbanyak sudah seharusnya dipakai di Pemilu 2009 agar yang duduk di DPRD nanti benar-benar pilihan rakyat.

”Ini bagus. Sehingga kader akar jenggot yang dipasang di nomor urut satu bisa dikalahkan kader pilihan rakyat yang dipasang di nomor buntut,” tukas Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPC PDI Perjuangan Batam itu.

Di Batam, semua ketua partai duduk di nomor urut satu. Nama mereka dipasang untuk bertarung dengan partai lain. Namun kini, mereka juga bersaing dengan kadernya sendiri.

Ini yang mungkin membuat pertarungan menuju kursi DPRD Batam menghangat. Caleg nomor buntut bergairah. Mereka akan bertarung mengalahkan caleg nomor satu, tak peduli itu ketua partai mereka sendiri.

Di Dapil III, Ketua DPD Golkar Batam Zainal Abidin yang dipasang di nomor satu tak hanya bertarung dengan ketua partai lain. Di internal partai, dia juga bertarung dengan sembilan caleg di bawahnya.

Di Dapil yang sama, Ketua DPD PKS Riky Indrakari bersaing dengan sebelas caleg PKS lainnya, termasuk dengan anggota Komisi IV DPRD Batam Said Hasjim Alattas. Ketua DPC PPP Batam Irwansyah juga bersaing dengan enam caleg internal. Ketua DPD PDS Batam Dameria Nadapdap juga bersaing dengan empat caleg di bawahnya.

Di Dapil IV, Ketua DPC PDI Perjuangan Batam Ruslan Kasbulatov bersaing dengan delapan caleg internal. Ketua DPD PAN AA Sany lebih banyak lagi saingan internalnya, ada 13 caleg di bawahnya. Termasuk Setyasih Priherlina, anggota Komisi II DPRD Batam.

Di Dapil II, Ketua Partai Hanura Basri Harun bersaing dengan 13 caleg di bawahnya. Begitu juga dengan Ketua DPC PKB Rudi bersaing dengan delapan caleg di bawahnya.

Siapkah para ketua partai itu tak terpilih? ”Saya di Dewan bukan untuk cari makan. Kalau memang tak terpilih karena kalah suara, itu konsekuensi undang-undang,” kata Ruslan Kasbulatov.

Bagaimana dengan Irwansyah? ”Saya lebih siap lagi terpilih. Saya optimis. Masyarakat sekarang sudah cerdas, sudah bisa membedakan mana yang selama ini sudah berbuat untuk rakyat, atau yang hanya muncul saat kampanye saja,” tukas Ketua DPC PPP Batam, itu.

Ketua DPD Golkar Zainal Abidin mengaku menyerahkan segalanya pada pilihan rakyat. ”Yang penting, kita berjuang memberikan yang terbaik. Sistem suara terbanyak sangat demokratis. Masalah terpilih atau tidak, kita serahkan kepada Allah,” ujarnya.

Dengan sistem suara terbanyak, kata Ketua DPD PKS Batam Riky Indrakari, seorang caleg harus memenangkan harapan rakyat. Termasuk dirinya sebagai ketua partai. ”43 caleg PKS merupakan caleg layak pilih. Kalau saya tak terpilih, saya tetap bangga karena sudah mengantarkan kader-kader lain yang terpilih,” tukasnya.****

→ 1 CommentKategori: Batam

Melepas Ketegangan di Lapangan Futsal

Januari 5, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

bermain futsal

bermain futsal

Tiada hari tanpa futsal. Itu mungkin gambaran pas untuk fenomena yang kini berdenyut di Batam. Olah raga ala sepak bola di lapangan yang lebih kecil, itu kini menjadi bagian dari gaya hidup remaja dan eksekutif muda di Batam. Penyuka olah raga ini tak hanya cari keringat, tapi sekaligus melepas ketegangan di lapangan futsal.

Sulton (30-an) jatuh terduduk saat menahan bola yang meluncur deras ke arahnya. Bola dapat ditangkap dengan baik di dekapannya. Ia bangkit, kemudian melempar kembali bola warna kuning itu ke tengah lapangan.

Sulton melepas nafas. Keringatnya bercucuran dari ujung dahinya. Namun, tak ada waktu untuk berleha-leha, bola kembali datang menerjang gawangnya. Jumat pagi itu, di lapangan V Futsal, SPBU Tiban, Sulton kebobolan belasan gol.

Supir Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika itu bermain futsal bersama rekan-rekannya, pagi itu. Di antaranya ada Arfandi, ajudan Wali Kota Batam Ahmad Dahlan dan sejumlah pegawai Satpol PP Kota Batam. Hampir dua jam mereka bermain, sebelum akhirnya menyudahinya dengan minum teh botol.

”Lagi diajak teman-teman. Udah lama gak main,” tukas Sulton.

Jika Sulton dan kawan-kawannya baru kembali ke lapangan futsal setelah berbulan-bulan vakum, tidak halnya dengan Rinaldy dan kawan-kawannya. Pegawai Bank Mega itu hampir setiap Sabtu pagi mencari keringat, sekaligus melepas ketegangan di lapangan futsal.

Tempat yang dipilih Rinaldy adalah lapangan futsal Family Arena di bekas restoran Ikan Daun, Batam Centre. Sejak enam bulan terakhir, saban minggu para karyawan bank itu bermain futsal. Rinaldy dan kawan-kawannya itu malah sudah memiliki tim sendiri, Mega Club.

”Dulu suka main bulu tangkis. Namun, enam bulan terakhir dialihkan ke futsal,” kata Rinaldy, koordinator tim futsal Mega Club.

Saat ditemui kemarin, Rinaldy dan kawan-kawannya baru saja usai bermain. Sambil melepas lelah, mereka duduk berselonjor di lapangan hijau berumput sintetis. Kaos yang sudah basah keringat, mereka lepas. Maka, sambil menunggu hilangnya rasa penat, mereka mengisinya dengan obrolan ringan.

Menurut Joni, rekan Rinaldy, bermain futsal tak hanya sekadar olah raga mencari keringat. Banyak hal yang tak bisa dilakukan di olah raga lain, bisa saja dilakukan di futsal. Misalnya, bermain sambil tertawa-tawa.

”Di sini kita bebas. Mau tertawa juga bisa. Istilahnya, setelah kerja seminggu, di sini kita bisa melepas ketegangan,” tukas Joni yang juga diamini Fauzi, rekan mereka.

Bermain futsal juga lebih simple dibandingkan olah raga lain. ”Cukup datang ke lapangan bawa sepatu. Yang lain sudah disediakan,” tuturnya.

Bermain futsal, kini memang sudah menjadi gaya hidup warga Batam. Minimnya lapangan sepak bola yang memadai, membuat penyuka olah raga sepak bola mengalihkan hobinya ke lapangan futsal. Apalagi, futsal tak butuh banyak pemain, cukup lima orang per tim.

Biaya bermain futsal antara Rp100 ribu sampai Rp225 ribu per jam, tak jadi masalah. Banyak yang memilih patungan antar pemain. Ada juga yang bermain futsal dibiayai perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan, setahun ada yang diberi anggaran sampai Rp20 juta untuk bermain futsal.

Maka, tak heran jika futsal kini ”mewabah”. Mulai dari anak SD, pekerja bank, pekerja pabrik, wartawan, hingga polisi menggandrungi olah raga bola sepak ini. Saking banyaknya, untuk bermain tak bisa langsung datang ke lapangan tanpa pesan tempat terlebih dahulu.

Tingginya minat warga Batam akan futsal bisa dilihat dari banyaknya warga yang bermain di lapangan futsal. Di Family Arena, salah satu lapangan futsal terbesar di Batam, hampir tak ada hari tanpa permainan futsal. Sebanyak tujuh lapangan yang ada di sana, selalu penuh terpakai. Terutama di jam-jam padat, pukul empat sore hingga pukul dua belas malam.

Kehadiran Family Arena sendiri, menurut pengelolanya Sardiman, juga karena tingginya animo warga untuk bermain futsal. ”Dari hasil survei, warga yang ingin main futsal itu banyak. Makanya, itu jadi salah satu alasan berdirinya Family Arena ini,” tuturnya.

Awal tahun lalu, kata Sardiman, Family Arena resmi berdiri. Di tahun pertama itu, Family Arena memiliki empat lapangan, dua lapangan super futsal dan dua lapangan futsal. Lapangan super futsal berukuran besar, sementara futsal ukurannya lebih kecil.

Ternyata, empat lapangan yang ada tak mampu menampung permintaan. Sehingga, Family Arena menambah tiga lapangan lagi. Saat ini, Family Arena sudah memiliki lima lapangan super futsal dan dua lapangan futsal.

Family Arena mematok tarif reguler per jam antara Rp95 ribu sampai Rp150 per jam di hari Senin-Jumat dan Rp150 sampai Rp185 ribu per jam di hari Sabtu-Minggu dan hari libur. Sementara tarif super futsal, antara Rp125 ribu sampai Rp225 ribu.

Untuk pelanggan khusus, Family Arena menerapkan paket member, delapan jam bermain dengan masa berlaku dua bulan. Biaya paket member futsal Rp650 sampai Rp1,1 juta. Sedangkan paket member super futsal Rp800 ribu sampai Rp1,4 juta.

”Untuk anak sekolah ada harga khusus. Anak SD tarifnya Rp5 ribu per jam per orang,” tukasnya.

Paket itu, kata Sardiman, sudah komplet. Pemain futsal cukup datang ke Family Arena membawa sepatu. Kaos, bola, peluit dan papan skor disediakan Family Arena. ”Kalau sudah pesan tempat, cukup datang langsung main,” katanya.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Poligami Aja Lagi…

Desember 27, 2008 · 1 Komentar

poligami
Suatu hari, Dedi dan Hasan kaget saat teman kecil mereka, Wahyu, datang bertamu ke rumah mereka. Wahyu menyampaikan undangan akan menikah dengan Anisah, gadis satu kantor Wahyu.

Dedi bingung saat melihat undangan itu. Wahyu baru berumur 25 tahun, sementara Anisah si mempelai perempuan sudah berumur 35 tahun. Terpaut sepuluh tahun.

”Setahu saya, cita-citamu itu ingin poligami, ingin punya isteri banyak. Kok kamu kawin dengan perempuan yang lebih tua,” tanya Dedi.

”Itulah Ded. Justru karena saya ingin poligami, saya nikahi Anisah,” tukas Wahyu.

”Kok bisa,” sambung Hasan.

”Kau pikir sendirilah. 25 tahun lagi, saya berumur 50 tahun. Masih cukup gagah,” kata Wahyu. ”Sementara isteriku, 25 tahun lagi berumur 60 tahun. Sudah manoupose, sudah keriput,” tambahnya.

”Kalau nanti saya nikah lagi di umur 50 tahun, kemungkinan besar istriku tak akan keberatan. Dia sudah 60 tahun, pasti ikhlas kalau saya nikah lagi,” kata Wahyu.????

→ 1 CommentKategori: sosial

Syamsul Bahrum, Sang Ketua

Desember 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

syamsul-bahrumNama Syamsul Bahrum, hampir tak pernah hilang di setiap permasalahan yang hendak diselesaikan Pemko Batam. Bukan karena ia bermasalah, tapi karena ia selalu nongol sebagai ketua tim. Tim ini, tim itu, selalu ia ketuanya. Tak jarang, ia dituding tak efektif.
II

”Abang masih rapat. Nanti diberitahu.” Bunyi pesan singkat elektronik (SMS) seperti itu, biasa dikirim Asisten Ekbang Pemko Batam Syamsul Bahrum. Hampir tiap hari, ia rapat dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain.

Syamsul Bahrum seperti tak ada bandingnya di Pemko Batam. Ia selalu menjadi orang pertama yang dipilih Wali Kota Ahmad Dahlan untuk mengetuai semua tim yang dibentuknya. Bahkan, di setiap kunjungan Dahlan ke sejumlah kecamatan atau pembukaan sebuah even, perkenalan untuk Syamsul Bahrum selalu lebih istimewa dibandingkan dengan pejabat eselon II lainnya.

”Inilah Doktor Syamsul Bahrum. Ia lebih terkenal dibanding saya. Otaknya bergeliga, lulusan Australia,” kata Dahlan, di hampir kesempatan memperkenalkan Syamsul Bahrum.

Keistimewaan Syamsul Bahrum, bisa dilihat dari jumlah tim yang ia pimpin. Tim Swastanisasi Sampah, Tim Gertak DBD, TIm Penataan PK-5, Tim FTZ Batam, Tim Konsesi Air Pemko Batam, Tim Parkir Berlangganan, Tim Pengendalian Banjir, Tim Pemulangan TKI Bermasalah, Tim Pengkajian UMK Batam, Tim One Stop Service Pemko Batam, Tim Penanganan Kemiskinan Perkotaan, Tim Pelimpahan Wewenang Wali Kota ke Camat dan lain-lain.

”Ada sekitar 16 tim yang saya ketuai,” ujar Syamsul.

Saking banyaknya tim yang ia pimpin, dalam sehari ia bisa dua kali rapat. Itu belum lagi berkoordinasi melalui telepon. Syamsul juga merupakan pejabat di Pemko Batam yang sering ke luar kota, baik ke Jakarta maupun ke Singapura dan China.

Syamsul juga sering nongol di koran. Hampir tiap hari ia diwawancarai wartawan tentang permasalahan ini dan itu. Ia juga sering tampil dengan ide-ide segar, yang kadang terlihat sulit diterapkan di Batam.

Dengan banyaknya tim yang ia pimpin, tak ayal tudingan miring mengalir kepadanya. Syamsul dianggap tak efektif, terlalu banyak konsep tapi minim realisasi.

Namun, tudingan seperti itu dianggapnya biasa saja. Ia mengatakan, sebagai ketua tim, ia bekerja tak sendirian. Ada pelaksana teknis yang mengimplementasikan konsep-konsep tim di lapangan.

”Seperti masalah swastanisasi sampah misalnya, kan pelaksananya Dinas Pasar dan Kebersihan. Soal parkir berlangganan, pelaksananya Dishub. Lagi pula, yang milih kan Wali Kota. Saya sebagai bawahan, wajib melaksanakan perintah,” kata Syamsul.

Apa yang diungkapkan Syamsul mungkin ada benarnya, jika menyimak apa yang diungkapkan Wakil Wali Kota Ria Saptarika. Dalam setiap pembentukan tim, katanya, pejabat lain di lingkungan Pemko Batam seperti enggan ditunjuk sebagai ketua tim. Sehingga, Syamsul Bahrum terus yang dipilih.

”Ia orangnya lincah, bisa diandalkan. Kadang, saat yang lain banyak diam, ia bersedia menjadi ketua tim,” tutur Ria, beberapa waktu lalu.

Namun, kata Ria, ia setuju perlu ada orang baru di lingkungan Pemko Batam yang bisa menjadi ketua tim selain Syamsul Bahrum. ”Kita lihat nanti,” katanya.

Syamsul sendiri mengaku enjoy dan tak terlalu terbebani dengan banyaknya tim yang ia ketuai. Ia mengaku masih bisa berbagi waktu dengan keluarganya. Caranya, dengan menyediakan waktu khusus buat istri dan anak-anaknya.

Di akhir pekan, kata Syamsul, ia biasa membawa anak-anaknya nonton film. Film aksi, dengan bintang-bintang seperti Jacky Chan, Arnold Schwarzenegger dan lain-lain menjadi favorit tontonan di akhir pekan.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Kebahagiaan Orang Lain, Kebahagiaan Kita

Desember 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

pin-pns
Hatiku bergetar. Bukan getaran biasa. Ini getaran bahagia. Bahagia melihat orang lain bahagia.
Semua berawal saat saya menelpon temanku. Kepadanya, kukatakan ia lulus tes CPNS, menjadi guru SD di lingkungan Pemko Batam. Ia tak percaya, tapi terus menyebut Alhamdulillah.
Ia larut, antara percaya dan menyukuri berita itu. Saya kemudian menutup telepon, biar temanku itu menikmati apa yang bergelora di dadanya.
Lima menit kemudian, suaminya nelpon. Kembali menanyakan, benar gak isterinya lulus CPNS. Karena pengumumannya baru diumumkan besoknya. Kupastikan padanya, isterinya, Jamilah lolos.
Lagi-lagi segala puja-puji bagi Allah, Tuhan semesta alam itu meluncur. Dia berteriak. ”Terima kasih-terima kasih,” katanya.
Di sini hatiku berdesir. Sungguh bergetar luar biasa. Saya mungkin tak akan pernah jadi PNS. Tapi, melihat temanku yang begitu bahagia setelah menjadi PNS, saya rasa kebahagiaan dia adalah kebahagiaan saya.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Suka Duka Seorang Humas

Desember 19, 2008 · 1 Komentar

ADANG Gumilar menutup makan malamnya dengan satu batang rokok, Senin, awal Desember lalu. Sambil berselonjor kaki, Humas PT Adhiya Tirta Batam (ATB) itu duduk lesehan di teras rumahnya, di Tiban Indah Blok M/I, Sekupang. Sendirian ia mengisap pelan-pelan rokoknya.

Jarum jam menunjuk pukul setengah sembilan. Belum cukup larut. Adang masih ingin bersantai memandangi teras rumahnya yang dilengkapi taman rumput. Belum waktunya bagi dia pergi ke peraduan.

Rasa pedas masakan isterinya juga masih ia rasakan di ujung lidahnya. Tiba-tiba namanya dipanggil. Di depan pagar, sekitar sepuluh orang bertandang, memanggil-manggil nama Adang. Jelas bukan panggilan bersahabat, mereka yang memanggil nama Adang terlihat gelisah.

Tamu itu ternyata warga Taman Sari Hijau. Mereka datang mengadukan air ATB yang tak mengalir. ”Kami ingin malam ini juga air datang ke rumah kami,” kata mereka.

Adang mencoba menenangkan tamu-tamunya. Kepada mereka, ia berjanji akan mengirimkan tangki air. ”Saya segera menelpon ke kantor agar perumahan Taman Sari Hijau segera dikirimi tangki air,” kata Adang.

Pengalaman Senin malam itu, hanya sekelumit kisah bagaimana Adang menjalani tugasnya sebagai seorang Humas. Di lain waktu, ia kerap terjaga di malam hari karena ponselnye berdering. Lagi-lagi pengaduan soal air yang macet hinggap di ponselnya.

”Itulah dunia seorang Humas, harus siap 24 jam,” kata Adang. Tak jarang ia diomeli, dicaci dan diancam. Hal-hal seperti ini membuat ia lama-lama kebal juga.

Tapi, menurut Adang, baru di dunia Humas ia bisa menjiwai sebuah pekerjaan. Ia tak hanya menjadi penyampai kebijakan perusahaan, tapi juga penyampai aspirasi warga, terutama mereka yang membutuhkan pelayanan air bersih.

ATB, kini malah sangat menganggap penting keberadaan Humas. ”Mulai tahun depan, Humas di ATB akan jadi departemen tersendiri,” tukas Adang.

Ade Sulistiyani Humas PLN juga menjalani hari-hari seperti Adang. Apalagi saat listrik di Batam sempat berhari-hari byar pet, saat krisis gas melanda Batam. Saat itu, tiada hari tanpa pengaduan atau komplain yang dialami Ade.

Pernah, kata Ade, ada seorang pelanggan PLN yang terus menelpon Ade dari pukul 12 malam hingga pukul dua dini hari. Dari ujung telepon, pelanggan PLN itu mengancam akan terus menelpon ponsel Ade.

”Katanya, anaknya tak bisa tidur karena listrik mati. Ia minta PLN segera menghidupkan listrik,” tutur Ade.

Ade saat itu, juga bernasib sama dengan pelanggan tadi. Anaknya juga tak bisa tidur, gara-gara listrik di rumahnya mati. AC jelas tak menyala. Sehingga ia memilih mengipasi anaknya itu.

Tapi, Ade tak bercerita soal kondisinya itu ke pelanggan yang marah tadi. Ia memilih menjelaskan masalah PLN yang sedang krisis gas itu ke pelanggan tadi. Ia minta pelanggan tersebut bersabar, menunggu listrik menyala kembali.

Kesibukannya sebagai Humas, kata Ade, juga membuat ia jarang berinteraksi dengan anaknya. Ade sudah berangkat kerja, sebelum anaknya pergi ke sekolah. ”Saya malah jarang melihat anak saya mengenakan seragam sekolahnya,” ujarnya.

Tapi, seperti Adang, Ade juga sangat menyukai dunia kehumasan. Di Humas, kata Ade, ia banyak kenal orang. ”Juga banyak ditelepon pelanggan, padahal saya tak ngasih mereka nomor telepon,” tukasnya.

Yusfa Hendri, Kabag Humas Pemko Batam juga menikmati tugasnya itu. Ponselnya aktif 24 jam. Ia selalu siap memberi keterangan kepada wartawan berkaitan dengan kebijakan-kebijakan Pemko Batam.

Sebagai Humas sebuah insitusi pemerintah, Yusfa mengaku harus mempelajari semua masalah. Mulai dari permasalahan jalan, lampu, banjir, pembangunan drainase, bus, pembangunan sekolah, soal Puskesmas hingga masalah KTP, harus ia kuasai.

Kerja Humas yang fleksibel, tetap tugas di hari libur, tak membuat Yusfa mengeluh. Ia mengaku enjoy. ”Kadang kalau hari libur ada acara yang harus saya ikuti, anak-anak saya bawa ikut serta,” katanya.***

→ 1 CommentKategori: Batam

Uh, Busung Lapar di Batam

Desember 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

busung-laparTriwani mencoba berlari dari pelukan Rusti Simatupang, ibunya. Namun, langkah bocah perempuan berumur 1,5 tahun itu terlalu lamban. Kakinya yang kurus tak memberi cukup tenaga untuk pergi jauh, bahkan untuk sekadar berlari mengelilingi ruang tengah rumahnya.

Triwani merupakan bocah yang didiagnosa mengalami gizi buruk. Ia sempat dirawat selama empat hari di RSUD Batam. Awal Desember lalu, ia pulang ke rumahnya.

”Lumayan, empat hari dirawat berat badannya naik beberapa ons,” kata Bitner Sihite (42), ayahnya.

Triwani memang sudah bisa bermain lagi dengan dua kakaknya. Namun, jika dilihat dari fisiknya, tanda-tanda ia kena gizi buruk terlihat jelas. Berat badannya hanya 6,5 kilo gram, lingkar lengan dan pahanya kecil, tinggi badannya juga tak seperti anak lain seusianya.

Menurut Bitner, sejak umur sembilan tahun anaknya itu memang sudah mengalami masalah berat badan. Saat ditimbang di Posyandu, bobotnya kurang. Sehingga, bocah itu sempat diberi makanan tambahan dan vitamin.

Namun, makanan tambahan dan vitamin itu hanya membantu sementara waktu saja. Selanjutnya, Bitner dan isterinya tak mampu memberikan asupan vitamin maupun tambahan protein lainnya.

”Bahkan, sejak ia tak lagi menyusui saat berumur satu tahun tiga bulan, ia tak kami beri susu lagi. Seingat saya, baru sekali saya berikan ia susu formula,” kata Rusti.

Kondisi ekonomi menjadi alasan. Bitner mengaku hanya bekerja sebagai pembantu tukang bangunan yang dua bulan terakhir ini tak lagi bekerja. Untuk menyambung hidup, ia kini menjadi pengojek.

Rumah pasangan suami isteri itu juga sederhana. Mereka menempati rumah permanen yang tak berplaster di Kavling Baru Batuaji B5 Nomor 18 Sei Langkai, Sagulung. Lantai rumahnya berlantai semen. Tak ada perabotan lain, selain sebuah meja televisi yang dipasang di sudut ruang tengah.

Untungnya, kata Bitner, selama empat hari di RSUD mereka tak dipungut bayaran. ”Nanti, bulan depan anak kami diminta cek lagi di RSUD,” tukasnya.

Selain masalah ekonomi, sikap Triwani yang tak mau makan juga menjadi masalah tersendiri. ”Anaknya memang seperti itu. Jarang mau makan,” tutur Rusti,

Di Kavling Baru Batuaji, ternyata Triwani bukanlah satu-satunya penderita busung lapar. Anak tetangga mereka, Sarah (11 bulan) yang didiagnosa menderita marasmus, meninggal dunia saat Triwani sedang dirawat di RSUD.

”Anak saya dan anak tetangga saya itu sempat satu kamar di RSUD,” ujar Rusti.
II
Triwani hanyalah satu contoh dari 17 anak lain di Batam yang terkena gizi buruk. Ada 16 anak lagi, yang satu di antaranya bahkan sudah meninggal.

Entah apakah masih ada yang terhenyak. Beda mungkin jika disebut busung lapar melanda Batam, padanan kata gizi buruk.

Mereka menderita busung lapar, sungguh bukan karena kelaparan. Tapi, karena asupan gizi yang mereka makan tak cukup. Mereka rata-rata tinggal di kawasan pinggiran dan pesisir, di lokasi-lokasi yang jarang terjangkau pelayanan kesehatan. Kondisi ekonomi orang tua mereka juga pas-pasan.

Anak-anak penderita busung lapar itu berumur mulai dua bulan hingga tiga tahun. Bahkan, ada yang sudah didiagnosa mengalami Marasmus (salah satu jenis busung lapar), sejak berumur 28 hari. Seperti yang dialami Rizki Ramadan, anak dari Sanusi dan Mariana yang tinggal di Pulau Lance.

Ada juga Cahya Dewi (2,8) tahun, anak dari Muslimin dan Nunuk di Kavling Bukit Kamboja yang menderita dua jenis busung lapar sekaligus, yakni Marasmus dan Kwashiorkor. Hingga mau tiga tahun, berat badan Cahya baru 8,9 kilo gram.

Belum lagi bayi Haikal di Tanjungsengkuang yang mengalami Marasmic-Kwashiorkor. Atau belasan bayi lain yang menderita penyakit gizi buruk itu.

Kondisi ini harus segera ditangani. Malu, kalau Batam yang bercita-cita menjadi bandar dunia madani dan lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional itu memiliki anak-anak yang menderita busung lapar. Apalagi, APBD Batam sudah tembus angka Rp1 triliun.

Kadis Kesehatan Batam Mawardi Badar yang ditanya Batam Pos soal penanganan busung lapar itu mengatakan, anak-anak dari keluarga miskin yang kena busung lapar itu akan dirawat di RSUD Batam tanpa biaya. ”Kalau memang kena gizi buruk, ya langsung dibawa ke RSUD. Gratis tanpa biaya,” tukasnya.

Orang tua diminta Mawardi untuk rajin menimbang berat badan anaknya ke Posyandu-posyandu terdekat yang ada di lingkungan perumahan mereka. Jika seorang anak berat badannya turun, biasanya akan diberikan bantuan makanan pendamping ASI (BMPA).

”Jika BMPA di Posyandu habis, bisa minta ke Puskesmas. Itu gratis buat masyarakat miskin. Di Dinas saja stoknya masih ada,” katanya.

Bagaimana jika warga itu jauh dari Posyandu? ”Bikinlah Posyandu di tingkat RT/RW-nya dengan menghubungi PKK kecamatan atau kelurahan atau Puskesmasnya. Posyandu itu kan UKBM (usaha kesehatan bersama masyarakat),” tuturnya.

Intinya, menurut Mawardi, orang tua harus rajin membawa anaknya ke Puskesmas. ”Karena yang terjadi bukanlah mereka terkena gizi buruk akibat tak makan atau kelaparan. Tapi, karena asupan gizi si anak itu tak mencukupi,” ujarnya.

Bagaimana cara mengetahui seorang anak mengalami busung lapar atau tidak? Dr Tresia Maria, dokter spesialis anak, memberikan tip. Caranya, Pertama, dengan cara menimbang berat badan secara teratur setiap bulan. Bila perbandingan berat badan dengan umurnya dibawah 60 persen standar WHO-NCHS, maka dapat dikatakan anak tersebut terkena busung lapar.

Kedua, dengan mengukur tinggi badan dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Bila tidak sesuai dengan standar anak yang normal waspadai akan terjadi gizi buruk.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Di Suatu Siang

Desember 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

jemuran baju tetangga

jemuran baju tetangga

Di suatu siang, tetanggaku menjemur bajunya.

bersiap ke sekolah

bersiap ke sekolah

Kemudian juga di suatu siang, anak tetanggaku bersiap ke sekolah.

mereka menyebut dirinya tiga serangkai, Aan, Zyan dan Opan

mereka menyebut dirinya tiga serangkai, Aan, Zyan dan Opan

Lalu tiga serangkai berfoto bersama. Emmm

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

14 Tahun Jadi Jagal Sapi

Desember 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

ishak yusuf saat hendak menyembelih sapi

ishak yusuf saat hendak menyembelih sapi

Namanya Ishak Yusuf (58) warga perumahan Centre Park, Batam Centre. Ia sudah 14 tahun menjadi tukang jagal hewan kurban, termasuk dalam perayaan Hari Raya Idul Adha, kemarin.
IIII
Sinar matahari pagi terasa hangat di kulit, Selasa (9/12). Ishak Yusuf telihat bersama sejumlah pria mengelilingi sapi yang hendak disembelih di sisi kiri Masjid Raya Batam. Pagi itu, panitia Masjid Raya memotong sapi dan kambing yang khusus didistribusikan ke pulau-pulau dan lembaga pemasyarakatan.

”Ayo tarik lima orang,” kata Ishak memberi aba-aba. Seketika sapi yang hendak disembelih pagi itu, kurban dari keluarga Mambang Mit, Wagub Riau, roboh ke lantai.

Lalu, setelah memastikan posisi yang tepat untuk memulai menyembelih, parang panjang di tangannya memotong tenggorokan sapi itu diiringi pembacaan takbir dari orang-orang sekelilingnya. Tenggorokan dan urat di sisi leher sapi putus. Prosesi penyembelihan itu hanya memakan waktu beberapa detik.

Mengenakan kaos putih dan celana hitam, Ishak memimpin penyembelihan di masjid itu. Peci haji terpasang di kepalanya. Parang panjang terselip di pinggang kirinya.

Tak tampak kelelahan di wajah pria berumur lebih setengah abad yang janggutnya mulai memutih, itu. Gerakannya energik. Cepat dan tak gamang. Di setiap perayaan Idul Adha, ia bisa memotong puluhan sapi dan kambing.

”Saya sudah 14 tahun jadi tukang potong sapi. Biasanya untuk hewan kurban, tapi kadang juga dipanggil untuk menyembelih sapi atau kambing yang untuk dijual di pasar,” katanya.

Perkenalan Ishak dengan dunia jagal sapi dimulai sejak ia masih tinggal di kampungnya, Ciamis. Saat itu, ia menjadi asisten ayahnya yang bekerja sebagai tukang jagal. Selama menjadi asisten ayahnya itu ia belajar secara otodidak.

”Kalau di Batam saya pertama kali menyembelih hewan kurban itu tahun 1994 di lapangan Seiharapan. Saat itu, saya menyembelih hewan kurban Otorita Batam,” tukasnya.

Sejak itulah, ia selalu jadi tukang potong sapi dan kambing langganan sejumlah instansi, termasuk Masjid Rata Batam. Adakah pantangan buat seorang tukang jagal? Ishak mengaku sama sekali tak ada. ”Badan harus sehat dan tak boleh gamang saat melakukan penyembelihan,” tukasnya.

Itu sebabnya, Ishak menerapkan pola hidup sehat agar tetap segar di usia tua. Caranya dengan mengatur pola makan empat sehat lima sempurna, banyak minum air putih, cukup tidur dan banyak istigfar dalam hati.

Soal parang untuk pemotongan, ternyata tak boleh sembarangan. Ishak mengaku mendatangkan parang panjang khusus dari Ciamis, yang dibuat khusus untuk pemotongan hewan. Parangnya harus tajam setajam-tajamnya.

”Tak boleh digunakan sembarangan. Habis menyembelih langsung diasah dan disimpan. Baru dibuka lagi kalau mau dipakai,” tuturnya.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Pantun Wali Kota Batam

Desember 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

ahmad-dahlan-walikota-batam1-f-cipi-ckandina”Memetik bunga dan kembang di dalam taman, petik sekuntum di waktu malam, hari kesehatan pendidikan dan Korpri kita rayakan, majulah bangsa majulah Batam.”

Pantun empat baris itu dibaca Ahmad Dahlan di ujung pidatonya, Selasa  lalu, dalam upacara HUT PGRI dan Korpri di dataran Engku Puteri. Tak ada pantun kedua, karena setelah itu ia memberikan penghargaan kepada sejumlah guru dan pegawai di lingkungan Pemko Batam.

Pantun tadi ditulis di kertas kecil berwarna kuning. Setelah dibaca Wali Kota, kertas tadi disimpan oleh ajudannya. Tak dibuang, tapi disalin ke komputer jinjing atau laptop tempat Wali Kota menyimpan semua dokumen-dokumennya.

Dahlan menulis sendiri pantun-pantunnya itu. Jika dihitung sejak ia menjadi pegawai Otorita Batam, jumlahnya mencapai ribuan. Semua terdokumentasi dengan baik. ”Jika ada waktu, saya ingin membukukan pantun-pantun saya itu. Tapi, bukan sekarang,” katanya.

Dahlan tak perlu menunggu ilham untuk menulis sebuah pantun. Semua mengalir begitu saja. Bahkan, banyak pantunnya lahir di tengah ketergesa-gesaan. Seperti saat membuat pantun peringatan hari ulang tahun PGRI kemarin, ia buat saat dalam perjalanan dari rumahnya di Sekupang ke Kantor Wali Kota di Batam Centre.

”Saya ambil kertas, lalu saya catat. Kan kalau di mobil cuma duduk, jadi karena mau ngasih sambutan, ya sekalian bikin pantun,” tuturnya.

Keluarga Wali Kota di rumah sudah tahu kebiasaannya itu. Sehingga, kalau ada kertas kuning atau coretan-coretan pantun yang tercecer di lantai atau di saku celana, kertas itu disimpan. ”Semua saya dokumentasikan,” tukasnya.

Pantun-pantun Wali Kota, selalu bertema acara yang ia hadiri. Sebagai sampiran, ia banyak menggunakan bunga atau hal-hal yang berbau alam. Contohnya, ya pantun yang ia bacakan di acara HUT PGRI, itu.

”Karena saya memang suka bunga. Kalau lagu, saya suka lagu-lagu Melayu. Cuma sebagai penikmat, kalau nyanyi tak bisa,” ujarnya.

Dahlan mulai aktif bikin pantun saat menjadi Kabag Humas di Otorita Batam. Ia hampir selalu menjadi penulis pantun mantan Ketua OB Ismeth Abdullah, yang kini jadi Gubernur Kepri atau mantan Kabalak OB Soeryahadi Djatmiko.

Saat Habibie diangkat jadi Wakil Presiden, pantun perpisahan Dahlan sempat membuat mantan Ketua OB itu terharu. ”Saat itu, yang baca Pak Djatmiko (Kabalak OB Marsekal Pertama Soeryahadi Djatmiko, red) mewakili karyawan OB. Pak Habibie bertanya, siapa yang bikin pantun,” tuturnya.
Pantun itu bunyinya,  ”kalau memetik bunga kenanga, bunga mawar dilupa jangan, kalau tuan masuk istana, kami di sini dilupa jangan.”

Pantun menurut Dahlan merupakan pesan yang efektif. Kritikan di dalam pantun, tak membuat orang lain tersinggung. ”Mereka yang merasa disindir mungkin tersenyum, tapi pesannya sampai,” katanya.

Banyak pejabat yang berkunjung ke Batam juga membaca pantun. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono misalnya, juga membaca pantun kala berkunjung ke Batam. Sejumlah menteri, seperti Menteri Kehutanan MS Kaaban dan lainnya ikut-ikutan membaca pantun.

Karena itu, kata Dahlan, ia ingin membudayakan pantun di Batam. ”Mungkin bisa dimulai di sekolah-sekolah. Saya akan perintahkan Dinas Pendidikan untuk memasukkan pelajaran pantun di sekolah-sekolah, agar siswa bisa belajar pantun,” ujarnya. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

sajak seorang penakut

Desember 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

penakut1aku suami yang sangat takut pada isteri
seperti pagi itu, saat ia memintaku membuatkan teh
aku langsung bergegas mencelupkan teh dalam air panas di cangkir berukir
lega rasanya melihat senyumnya mengembang

aku lelaki yang sangat takut pada perempuan
seperti siang itu, kala ia memintaku mengantarnya ke mall
aku bergegas mengambil motorku menjemputnya
senang rasanya dadanya menempel di punggungku

aku seorang raja yang sangat takut pada ratu
seperti malam itu, waktu ia memintaku menjaganya
semalaman aku tak tidur agar mimpinya tak terganggu
bahagia rasanya melihat tidur pulasnya

aku karyawan yang sangat takut pada bosku
seperti pagi itu, kala ia memintaku menemui malik
aku langsung berangkat tanpa memikirkan malik tinggal di neraka
plong rasanya, saat ia membatalkan perintahnya itu

aku adalah seorang penakut
takut tak bisa membahagiakan orang lain
aku adalah seorang seorang penakut
takut tak bisa menolong orang lain
*****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Ballad of Pawang Hujan

Desember 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

sableng-pawang-hujan1-f-cipi-ckandinaBanyak yang menampik kehadiran pawang hujan. Namun jasa mereka banyak dibutuhkan. Dalam sejumlah acara, terutama acara luar ruang, para pawang hujan sering dimanfaatkan untuk memindahkan hujan.
iii
Mendung menggantung. Tanda-tanda bakal turun hujan tampak di langit Batam Centre, Jumat pagi, beberapa bulan lalu. Di pinggir jalan beraspal, di depan kantor DPC PDI Perjuangan Batam, Samijo alias Mbah Sableng (52) duduk bersila dengan mulut komat-kamit. Tangannya beradu di depan dada, tubuhnya bergetar dengan mulut yang terus merapal mantra.

Mbah Sableng lalu berdiri. Di ambilnya sebuah kelapa muda berwarna hijau yang sejak tadi tergeletak di sampingnya. Kelapa muda itu kemudian dibantingnya ke aspal, mengenai dua gelas air mineral yang juga sudah disiapkan.

Kelapa muda itu terbelah dua. Mbah itu kemudian menunduk. Ia memungut belahan kelapa itu dengan mulutnya. Dua belahan kelapa itu dibuangnya ke pinggir jalan, dengan tetap menggunakan mulut.

Ia kemudian tersenyum. Ratusan tatap mata yang memandanginya pagi itu tak membuatnya risih. Dan entah karena mantranya atau bagaimana, mendung di atas kantor DPC PDI Perjuangan Batam itu bergeser.

Sebatang rokok kretek Gudang Garam merah disulutnya. Asap pun mengepul dari mulutnya. Ada rasa puas di wajahnya. Pekerjaannya terbilang beres. Acara PDI Perjuangan pagi itu sukses, tanpa hujan. ”Beres,” katanya.

Mbah Sableng perawakannya kurus kerempeng. Kulitnya legam. Giginya sudah banyak yang tanggal. Jika tertawa, barisan gigi depannya yang ompong terlihat. Namun, untuk ukuran pria yang berumur setengah abad, garis-garis ketuaan di dahinya tak tampak.

Ia masih seperti pria berumur 30-an tahun. Gerakannya masih energik. Dandanannya yang kejawa-jawaan, dengan pakaian tradisional warna hitam membuatnya berbeda dengan penampilan orang kebanyakan di Batam ini. Sebuah ikat kepala hitam setia mengikat rambutnya.

Kemarin, jari tengah di tangan kirinya dibalut. Ada rembesan darah yang menetes dan terlihat di balik balutan itu. Tapi, saat ditanya apakah itu bagian dari ritual memindahkan hujan, ia tak mau menjawab. ”Jangan tulis ini,” tukasnya kepada Batam Pos.

Mbah Sableng juga tak mau ditulis namanya Samijo. Ia mengaku lebih enjoy dipanggil Sableng. Sebuah tulisan Mbah Samijo menempel mantap di kaca depan mobil Proton Saga-nya BM 1772 XE.

Berprofesi sebagai pawang hujan, kata Mbah Sableng, sudah dilakoninya sejak awal 90-an. Ia tak hanya berpraktek di Batam, tapi juga di sejumlah kota di Indonesia. ”Saya bahkan pernah di Malaysia, Australia,” tuturnya.

Mereka yang membutuhkan jasanya, kata Mbah Sableng, biasanya dari kalangan kepolisian, even organiser dan panitia-panitia acara luar ruang. ”Saya malah sudah dikontrak untuk acara lumba-lumba di Nagoya Hill,” katanya.

Berapa mahar sekali memawangi hujan? Mbah Sableng tersenyum. ”Tergantung. Kalau pesannya tiba-tiba seperti PDI Perjuangan ini maharnya harus berlipat-lipat,” tuturnya, kembali tersenyum.

Tapi, ancar-ancarnya minimal Rp10 juta sebulan bisa ia kantongi. ”Kalau saya mau kaya saya sudah kaya. Tapi, saya tak mau. Saya bagi-bagi rezeki itu kepada teman-teman dan orang-orang yang mau mendoakan dan mengikuti saya,” ujarnya.

Ia menyebut mobilnya sebagai pembanding. Mobil Proton Saga buatan Malaysia itu sudah terlihat butut. ”Lihat tuh, mobil saya jelek,” paparnya.

Untuk memawangi hujan, katanya, ia tak melakukan ritual maupun pantangan khusus. Ia hanya pantang main perempuan. ”Yang penting itu, pegangan saya nancap,” tukasnya. Pegangan Mbah Sableng adalah sebuah besi yang biasa disebut badar besi.

Namun, ia juga enggan jika permintaan memawangi hujan dilakukan tiba-tiba pada hari H. Seperti acara PDI Perjuangan misalnya, ia baru dihubungi pukul setengah tujuh pagi. Tapi, karena kedekatannya dengan orang-orang PDI Perjuangan, ia mau juga.

”Kalau tiba-tiba gitu, ritualnya susah. Saya harus banyak konsentrasi agar rapalan itu nyampe,” katanya.

Makanya, ia banyak merokok jika kondisinya sulit. Seperti kemarin, ia menghabiskan lima bungkus rokok kretak. Mbah Sableng juga jarang makan nasi. Ia hanya makan nasi di hari Jumat. Itupun hanya sekali.

Jadi, kenapa kok tetap sehat? ”Itu anugerah Allah,” tukasnya mantap.

Keberadaan pawang hujan seperti Mbah Sableng, diakui atau tidak sering dimintai bantuan oleh para panitia sebuah acara. Acara-acara di Pemko Batam misalnya, juga sering menggunakan jasa pawang hujan. Namun, yang mereka gunakan bukan Mbah Sableng, tapi pawang hujan dari pesisir yang biasanya mereka datangkan.

Buralimar, Kepala Badan Pertanahan Kota Batam, yang biasa menjadi ketua panitia acara resmi di Pemko Batam mengaku enggan menggunakan jasa pawang hujan. Ia mengaku tak sreg jika harus menggunakan jasa pawang hujan dan lebih menyerahkan hujan tidaknya acara yang ia ketuai itu kepada Allah.

Namun, ia juga tak melarang jika ada anggota panitia yang menggunakan jasa pawang hujan. ”Itu anak-anak yang punya pekerjaan. Saya bilang kalau mereka mau pakai silakan saja,” katanya.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Menemukan Penjaja Cinta

Desember 4, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

cdSMS itu tiba tengah malam. Membacanya, membuatku bergairah. Sebuah SMS yang sudah kutunggu berminggu-minggu, akhirnya datang juga. Aku menemukan seorang wanita pekerja seksual, seorang penjaja cinta.

Saya sengaja mencari wanita seperti itu. Dia minta bayaran kira-kira Rp500 ribu. Cukup murah mungkin untuk sebuah kesempatan berdua dengannya seharian. Mulai dari bangun tidur, sampai ia tertidur lagi.

”Kalau kamu mau, dia juga bisa dipake.” Begitulah, kata temanku, saat saya mengkonfirmasi kesiapan PSK itu untuk bertemu denganku.

Tapi, ops, jangan berpikiran negatif dulu. Ini bukan soal seks, bukan soal membooking seorang wanita sebagai teman tidur. Bukan. Ini soal humaniora. Dia seorang SPG. Bekerja di sebuah restoran, yang karena harus menghidupi seorang anak kecil, ia merelakan dirinya menjadi barang pemuas laki-laki.

Jadi, cerita ini sampai di sini dulu. to be continued***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Air Baku Batam Tercemar Sabun dan Tinja

Desember 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

dam-duriangkang-mancing1-fyusuf1Sinar matahari menyengat. Sabtu siang lalu, dari pinggir jalan raya di Jalan S Parman, Tanjungpiayu, empat pemancing menerobos masuk ke kawasan Dam Duriangkang melewati kawat besi yang sudah dipotong. Mereka terus berjalan menyusuri rerumputan setinggi paha orang dewasa, hingga ahirnya berhenti di lokasi pemancingan.

Pemandangan itu terjadi hampir setiap hari. Kawat besi yang mengelilingi Dam Duriangkang seperti tak ada artinya. Banyak kawat yang dipotong hingga berlubang. Cukup untuk dimasuki dua atau tiga orang sekaligus.

Rahmat (50-an) penjaga waduk Duriangkang mengaku sering mengingatkan orang-orang yang memancing itu agar tak masuk ke kawasan tersebut. ”Namun banyak yang bandel,” katanya saat ditemui di pos pengawasan di samping WTP Duriangkang.

Di lain waktu, Dedi Arman (28) warga Tanjungpiayu terkaget-kaget saat melihat gerombolan babi berlari di pinggir dam. ”Saya kira apa, rupanya rombongan babi yang lewat,” kata Dedi.
II

Dam Duriangkang adalah salah satu sumber air baku di Batam yang dikelola PT Adhya Tirta Batam (ATB). Seperti dam-dam lainnya, Duriangkang tercemar oleh pembuangan sampah dan limbah rumah tangga serta tinja ternak dan manusia.

Sumber air baku itu harus diamankan. Tak boleh ada pencemaran yang bisa merusak kualitas air. Harga yang harus dibayar sangat mahal. Karena proses air baku menjadi air bersih masih sangat panjang. Semakin tercemar sumber air bakunya, semakin tinggi ongkos produksinya agar memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dam Duriangkang ternyata menjadi tempat pembuangan akhir sejumlah limbah dari sejumlah perumahan. Seperti perumahan di Kawasan Mukakuning dan Batam Centre, air buangan rumah-rumah itu masuk ke dalam dam ini.

Belum lagi adanya sejumlah titik peternakan di kawasan ini. Banyak warga yang terkaget-kaget ketika tiba-tiba mendapati rombongan babi yang berlari menunduk. Kawasan Dam Duriangkang juga tak terbebas dari aktifitas mandi dan memancing. Sesuatu yang seharusnya tak boleh dilakukan di sumber air baku.

Meski begitu, ternyata Dam Duriangkang bukanlah dam yang tingkat pencemarannya tinggi dibandingkan dam-dam lain yang airnya diolah ATB. Menurut Manajer Humas ATB Adang Gumilar, dari enam dam yang airnya digunakan ATB, Dam Baloi termasuk yang paling tinggi tingkat pencemarannya. Dam ini menjadi pembuangan sampah seperti sabun, deterjen, minyak goreng serta tinja manusia dan binatang.

Jika dirunut dari dam yang airnya paling jelek kualitasnya, setelah Dam Balioi, Dam Seiharapan jadi nomor dua. Menyusul kemudian, Dam Mukakuning, Seiladi, Duriangkang dan Nongsa.

”Dam di Nongsa yang paling bagus kualitas airnya. Bisa dibilang di sana tak ada pencemaran sama sekali,” katanya.

Saking jeleknya kualitas air Dam Baloi, katanya, ATB sampai mengurangi produksinya di dam yang berada di kawasan yang pernah disidik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. ”Dari 60 liter per detik, jadi 30 liter per detik,” ujarnya.

Meski kualitas air baku yang diolah ATB makin jelek, kata Adang, tingkat pencemarannya masih di bawah ambang batas standar WHO. Artinya, untuk saat ini sumber air baku itu masih aman.

”Begitu juga dengan air minum yang disalurkan ATB ke rumah-rumah, aman untuk dikonsumsi. Jangan khawatir,” katanya.

Namun, ya itu tadi. Ongkos produksi ATB ikut naik seiring dengan naiknya tingkat pencemaran. ”Makanya, kami sangat mendukung langkah-langkah yang dilakukan pemerintah, baik itu Otorita Batam, Pemko dan lainnya untuk mengamankan sumber air baku kita. Ini harus dijaga bersama, semua harus peduli,” katanya.

II

Ongkos pembersihan Dam Duriangkang dan kawasan lain yang mencemari air minum di Batam memang sangat mahal. Rabu, kemarin, Tim Terpadu Kota Batam menggusur peternakan babi di kawasan Bandara. Kawasan ini jadi prioritas, selain limbahnya juga mengalir ke Duriangkang, lalu lintas penerbangan juga terganggu oleh lalu lalang babi liar.

Namun, proses penggusuran itu sungguh tak mudah. Ada ratusan nyawa yang bergantung pada ternak babi itu. Maka terjadilah perlawanan. Warga menghadang petugas. Meneriaki dan memaki mereka. Mereka tak rela digusur, meski beternak di tempat ilegal.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Yudi Kurnain dan Sepeda

Desember 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

yudi-kurnaen-dewan-naik-sepeda-tolak-harga-bbm1-f-cipi-ckandinaMatahari bersinar terik, saat Yudi Kurnain, Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Batam mengayuh sepedanya, Selasa, kemarin. Rambutnya yang gondrong dipermainkan angin.

Sepanjang perjalanan dari rumahnya di Duta Mas ke kantor DPRD Batam, Yudi berulang kali menahan goyangan sepedanya. Hembusan angin dari truk-truk yang melaju di sampingnya, hampir membuatnya jatuh.

Di belakangnya, sebuah mini van hampir menabraknya. Pengendara mini van itu bergerak ke samping Yudi, menyapanya sambil tersenyum. Ups, ternyata yang naik mobil AA Sany, Ketua DPD PAN Batam, bos Yudi di partai berlambang matahari itu.

Yudi memang termasuk anggota Fraksi PAN yang terus naik sepeda ke Gedung Dewan. Sudah lima bulan ia melakoni ke kantor bersepeda itu, sebagai sikap keprihatinan PAN menyikapi naiknya harga BBM.

Ayo bersepeda, katanya, juga sebuah simbol konkret mengajak masyarakat menghemat energi. ”Dengan bersepeda kita bisa menghemat energi, tak ada polusi, badan sehat, kita juga transparan dan tulus karena tak takut diapa-apain di tengah jalan,” tuturnya.

Sebelum program ini dibuat, kata Yudi, ia sudah latihan naik sepeda di sekitar komplek perumahannya. ”Jadi, sekarang sudah terbiasa. Saya malah lebih sehat,” ujarnya.

Dengan naik sepeda, kata Yudi, ia bisa menghemat uang untuk membeli bensin. ”Saya komitmen melakukan program ini. Saya akan terus naik sepeda sampai masa jabatan saya habis,” kata Yudi, kemarin.

Ya, tulisan ini memang soal Yudi dan sepedanya. Sampai lima bulan ini ia komit dengan pilihannya. Beda dengan rekan-rekan PAN lainnya. AA Sany, Edward Brando, Setyasih, Mawardi Harni sudah melupakan komitmen mereka naik sepeda ke kantor Dewan. Satu per satu gugur.

Sampai kapan, Yudi naik sepeda ke kantor, mungkin hanya waktu yang bisa menjawab. Kita tunggu saja.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Jangan Komentari Pak Ria

November 27, 2008 · 1 Komentar

kapan-ya-ktp-siak-sesuai-spmSengaja, tulisan ini berjudul seperti itu. Karena biasanya, setiap kali menulis soal KTP SIAK, Pak Ria pasti mengomentarinya. Bukan apa-apa. Saya hanya tak enak hati. Takut dianggap nulis ini untuk kepentingan pribadi.

Tak enak hati, juga bukan karena hubungan saya dengan Pak Ria dekat, bukan. Secara emosional, hubungan kami tak mendalam. Saya tak enak hati, karena saya orang yang mendukung Pak Ria dalam pelaksanaan KTP SIAK ini. Saya sering tak mau ”mengutip” jika ada anggota Dewan yang bicara miring soal KTP SIAK. Karena saya tahu, Pak Ria bekerja keras untuk memberikan pelayanan optimal buat masyarakat, khususnya dalam pembuatan KTP SIAK.

Kamis (27/11) pagi tadi, saya sengaja kembali datang ke kantor camat Sekupang, untuk menanyakan soal KTP-ku yang sudah tiga minggu diproses. Minggu lalu, saya sudah datang ke sana. KTP belum selesai, sehingga saya terpaksa mengirim SMS pada Pak Camat, minta tolong agar KTP saya dicetak.

Bukan apa-apa, menurut Bu Camat Lubukbaja, kalau hanya cetak KTP saja, lima hari setelah berkas dimasukkan, KTP sudah bisa dicetak. Sementara berkas permohonan KTP saya, sudah lebih dua minggu. Jawaban Pak Camat menyejukkan hati. Ia meminta saya menemui Bu Rahmini. Saya naik ke lantai dua. Di sana, Bu Rahmini sedang bersimpuh di lantai menghadapi tumpukan kertas. Kepadanya, kubilang saya diminta menemui dia oleh Pak Camat.

”Mana surat acc dari Pak Camat.” Ia minta surat sakti. Saya tunjukkan SMS tadi. Lalu saya dimintanya memfoto kopi form pengambilan KTP yang sejak dua pekan lalu diberikan pegawai kecamatan sebagai bukti berkas saya sudah lengkap.

”Seminggu lagi datang ya,” katanya. SMS Pak Camat yang sakti itu, ternyata maknanya saya harus menunggu seminggu. Seminggu lagi berarti, KTP saya selesai dalam tiga minggu. Masih cukup beruntung jika dibandingkan dengan KTP ratusan warga lain yang sampai menunggu berbulan-bulan.

Tapi tadi, janji agar KTP saya selesai dalam tiga minggu tak terealisasi juga. SMS Pak Camat ternyata tak sakti juga. Saya tanya, katanya KTP saya belum selesai. Saya pun mencoba menemui Bu Rahmini lagi, tapi sayang ia sedang tak di tempat. ”Kalau sudah sama Bu Rahmini, mintanya sama Bu Rahmini,” kata salah seorang pegawai kecamatan.

Saat lagi menunggu Bu Rahmini, sejumlah warga protes di ruang pelayanan. Seorang ibu warga Patam Lestari protes, karena anaknya yang laki-laki ditulis sebagai perempuan di KTP-nya. Lalu, seorang Warga Tiban Indah protes karena umurnya jadi tua enam tahun.

Di tengah-tengah protes itu, seorang pegawai laki-laki datang menemui dua kawannya yang melayani warga. Dia diminta membantu karena warga yang ada saat itu lumayan banyak, ada tujuh orang. Namun, pegawai laki-laki tadi tak mau.

”Saya solat dulu. Nanti aja habis solat,” katanya. Temannya menjawab, ”mentingin solat atau melayani masyarakat,” tanyanya. ”Solat itu penting,” tukasnya, sambil pergi meninggalkan tujuh warga yang melongo. ”Ya, solat memang penting,” kata temannya menyerah.

Jadi tinggallah dua orang tadi yang melayani warga. Saya menulis kejadian soal solat dan melayani masyarakat, bukan untuk membandingkan mana yang lebih penting solat atau melayani masyarakat. Ini hanya untuk menggambarkan tak adanya sense of crisis di hati pegawai laki-laki tadi. Masyarakat yang sudah menunggu sejak pagi, tentu saja menganggap solat itu penting sama seperti pegawai tadi. Tapi mereka terpaksa tak segera solat karena urusan menanyakan KTP mereka belum selesai.

Saya jadi berpikir, kapan standar pelayanan pembuatan KTP yang hanya dua minggu selesai itu bisa terealisasi di Batam. Ini bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga buat citra Pak Ria sendiri. Jadi, jangan komentari tulisan ini Pak Ria.****

→ 1 CommentKategori: Batam

Visit Batam 2010

November 22, 2008 · & Komentar

logo-visit-batam-2010Saya ingin menulis soal visit Batam 2010. Tapi, bukan dari sisi persiapan Batam ataupun tempat-tempat pariwisata di Batam. Tapi, dari sisi munculnya angka 2010, itu.

Tahun 2010, sepertinya menjadi tahun ”keramat” bagi Wali Kota Ahmad Dahlan. Banyak target dan kegiatan ia canangkan di tahun tersebut.

Angka 2010 juga istimewa karena disebut-sebut terus oleh Wali Kota Ahmad Dahlan. Angka 2010 yang dibaca Dahlan dua kosong satu kosong, disebutnya sebagai pembawa berkah.

”Dua kosong satu kosong, itu angka bagus. Mudah-mudahan membawa berkah,” tukasnya.

Jauh sebelumnya, tahun 2010 juga dicanangkan Dahlan sebagai tahun bebas banjir. Ia berjanji akan mengentaskan persoalan banjir di Batam di tahun dua kosong satu kosong, itu.

”Kita tuntaskan banjir di Batam tahun 2010,” katanya, pada satu kesempatan.

Gandrung dengan angka 2010, membuat Dahlan pernah meralat sebuah berita di media yang tak menyebut tahun 2010 sebagai target pengentasan banjir di Batam. ”Catat ya, target kita tahun 2010. Jangan salah tahun lagi,” katanya.

Baca terus →

→ 2 CommentsKategori: Batam

Menampung Orang-orang Bermasalah

November 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

deni-salah-satu-orang-gila-yang-dikerangkeng-foto-yusuf-hidayatSudah hampir delapan tahun pesantren Al Fateh berdiri di Nongsa. Selama sewindu pula pesantren ini tak pernah menolak siapapun yang ingin datang ke sana. Mulai dari menampung orang gila, menerima anak broken home sampai tempat para nara pidana datang bertobat. Semuanya gratis.
II
Kepala lelaki itu bergoyang ke kanan ke kiri. Matanya terpejam dengan telunjuk yang terus bergerak. Ia duduk di lantai berkeramik, di bawah pohon ceri yang sudah tak berbuah.

Gerimis yang turun sejak tadi pagi mengguyur sebagian kakinya yang tak beralas. Ia tak peduli. Lelaki itu terus bergoyang, tanpa suara. Roman mukanya murung. Jenggotnya panjang berjuntai, kontras dengan rambutnya yang dipangkas pendek.

Dialah Khaidar, lelaki berumur 27 tahun yang dititipkan orang tuanya di pesantren Al Fateh karena kurang waras. Jiwanya terganggu, suka blusukan ke mana-mana tanpa tujuan. Bahkan, sempat hendak dihajar massa karena dianggap pencuri.

Khaidar sekarang sudah dibiarkan lalu lalang di dalam lokasi pondok. Menurut wakil pimpinan pesantren Al Fateh Sulaiman, ia sudah melewati fase awal terapi orang gila di pesantren itu. Dulunya, Khaidar sempat dikurung selama seminggu, lalu direndam di bak pemandian.

”Ia dititipkan orang tuanya di sini. Mudah-mudahan atas izin Allah ia bisa sembuh,” tuturnya.

Khaidar sudah tak lagi liar. Ia sudah mau mengikuti perintah. Ketika mau diambil gambarnya, Selasa (11/11) kemarin, ia tak memberontak. Ia juga sempat menjawab sejumlah pertanyaan, meski dengan terpatah-patah.

”Dulunya malah ia sama sekali tak bisa bicara,” ujar Sulaiman.

Selain Khaidar, ada sejumlah orang gila lainnya yang dititipkan di Al Fateh. Tiga orang di antaranya masih dikurung, sedangkan satu orang lagi dikerangkeng. Sementara Khaidar dan dua orang lainnya dibiarkan bebas seperti santri-santri normal Al Fateh. Mereka menjalani terapi penyembuhan di pesantren yang dipimpin oleh KH Muhammad Sholehan itu.

Salah satu yang dikurung itu bernama Tarmizi. Ia tinggal di sebuah kurungan kira-kira berukuran dua kali dua meter. Ada kamar mandi di dalam kurungan itu.

Tarmizi ternyata fasih berbahasa inggris. Ia menggunakan tiga bahasa saat berbicara. Salah satu bahasa yang ia ucapkan, diakuinya sebagai bahasa Israil, ibrani. ”Are you malaysian” katanya, berbahasa inggris.

Menurut Sulaiman, orang-orang seperti Khaidar dan Tarmizi rata-rata dibawa orang tua atau keluarganya ke pesantren Al Fateh untuk disembuhkan. Bukan orang gila yang dipungut di jalan-jalan.

”Kami menerima siapapun yang hendak berbuat baik dan ingin sembuh di sini. Siapapun yang ingin bertobat, juga kami terima,” tukasnya.

Al Fateh sama sekali tak meminta bayaran. Semua orang yang dititipkan, baik orang gila, anak-anak broken home ataupun mantan nara pidana yang ingin bertobat sama sekali tak dikenai biaya. Mereka makan seperti apa yang dimakan pengasuhnya dan merasakan apa yang dirasakan pengasuhnya.

Ardi (27) misalnya, mantan nara pidana kasus narkoba itu sudah sebulan lebih mondok di Al Fateh. Ia mengaku ingin bertobat dan sembuh dari kecanduan mengkonsumsi sabu-sabu. Ia mengaji, sekaligus ikut bekerja memperbaiki ruangan-ruangan di pondok yang rusak.

”Saya ke sini karena saat di penjara, dengar kabar pesantren ini bisa menampung orang yang mau bertobat seperti saya,” tukasnya.

Sejumlah bocah bermasalah juga menetap di pesantren ini. Ada yang dititipkan karena orang tuanya bercerai, tak mampu membiayai hidup anaknya atau karena menderita penyakit. Samsul (8) misalnya, menderita autis sejak kecil. Kakinya bengkok menyerupai huruf X.

Samsul berjalan tertatih-tatih saat Batam Pos memotret anak-anak sebayanya mengaji. Ia ingin diambil gambarnya. ”Dia paling berani, paling aktif. Bahkan, kalau kuliah subuh ia maju meraih mikrofon,” kata Sulaiman.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Manusia Sunnah di DPRD Batam

November 8, 2008 · 1 Komentar

Jangan pilih tikus”Menurutmu, siapa anggota Dewan yang masih pantas bertahan di sini?”

Pertanyaan itu berkali-kali diajukan padaku. Baik oleh anggota DPRD Batam sendiri, atau orang luar yang mengamati polah wakilnya dari balik pagar. Saya kadang tergoda untuk menjawab, namun lebih banyak hanya tersenyum.

Tadi, terpikir olehku untuk menjawab pertanyaan itu di sini. Mungkin lewat blog, jawabanku tak begitu akan berefek. Dari pada kutulis di media tempatku bekerja, lebih aman kutulis di sini saja.

Saya menyebut, anggota Dewan yang masih pantas bertahan di DPRD Batam sebagai manusia sunnah. Tentu saja saya menilai seperti itu tanpa menilai tingkah lakunya. Saya tak menilai sisi moral seseorang. Karena banyak yang tersembunyi. Apalagi di dunia politik. Saya menilainya dari sisi kinerja. Mereka yang saya sebut masih pantas bertahan itu, karena bisa mewarnai DPRD Batam.

Orang pertama mungkin Soerya Respationo. Soerya seperti pil penenang, kalau DPRD bergolak. Berkali-kali Soerya membuktikan bisa menjadi pil penghilang rasa sakit itu. Karismanya kuat. Banyak anggota Dewan yang segan kepadanya. Sayang, tahun depan ia pindah ke DPRD Kepri.

Aris Hardy Halim juga masuk jajaran manusia sunnah. Banyak suara-suara miring tentang dia, terutama yang menyebutnya munafik. Namun, menurut saya Aris tetap pantas untuk bertahan di DPRD Batam. Tak ada anggota Dewan yang lebih menguasai soal anggaran dibandingkan politisi PKS ini.

Chablullah Wibisono juga demikian. Ia low profile. Namun terbuka. Ia sering jadi bemper. Tak bisa berbohong, namun penakut. Banyak cerita-cerita off the record yang saya dapat dari dia. Wartawan suka mengkonfirmasi kebobrokan Dewan kepadanya.

Ruslan Kasbulatov, juga pantas masuk kategori ini. Ia keras dan sedikit arogan. Ia sering pusing jika tak punya uang. Tak pintar, kurang cerdas namun kritis. Ia orang yang fleksibel dan tulus dalam membantu orang lain.

Yudi Kurnain juga bisa disebut manusia sunnah di DPRD Batam. Wawasan politiknya dalam. Cukup cerdas sebagai politisi, tak menyukai hal-hal teknis dan ahli dalam menjatuhkan seseorang. Ia tak pandang buluh dan sering memberikan komentar kontroversi. DPRD Batam membutuhkan orang seperti Yudi.

Irwansyah termasuk anggota Dewan yang kritis. Namun, suka berhati-hati. Sebelum berkomentar, ia selalu berpikir besoknya akan seperti apa berita tentang dirinya. Tak suka berpolemik, punya banyak kepentingan namun memikirkan kepentingan warganya.

Zilzal juga masuk yang pantas bertahan. Ia kritis dan dekat dengan media. Banyak rahasia-rahasia di DPRD Batam terkuak darinya. Sayang ia takut sama partainya. Tahun depan, ia tak dicalonkan lagi.

Edi Robert Siahaan bisa disebut seorang pemimpin. Ia orator ulung dan menguasai banyak persoalan. Kadis-kadis pada takluk, jika berdebat dengannya soal proyek-proyek. Robert pantas bertahan. Namun, tahun depan ia bertarung di Kepri.

Onward Siahaan termasuk manusia sunnah. Insinyur yang juga mantan pegawai Otorita Batam ini, cerdas, kreatif dan kritis. Ia tak menyukai hal-hal kontroversi dan tak mau mengakui jika ada yang bobrok di Dewan.

Satu lagi sebetulnya pantas untuk bertahan. Sayang, ia dicopot oleh partainya. Reinhard Hutabarat orangnya. Ia tak pernah kompromi. Apapun yang menurut dia tak masuk akal, pasti disentilnya. Pemko Batam termasuk yang sering ia bidik. ”Banyak yang tak beres di Pemko,” katanya.

Selebihnya, saya rasa biasa-biasa saja. Bahkan banyak anggota Dewan yang saya pikir tak bisa memberi warna. Ada yang tak pernah muncul di Dewan atau sibuk dengan urusan pribadinya.****

→ 1 CommentKategori: Batam

1,5 Bulan untuk KTP SIAK

November 6, 2008 · & Komentar

KTP indonesiaAwalnya, saya tak bermaksud memperpanjang KTP. KTP-ku baru habis nanti di 2009. KTP isterikulah yang sudah mati, hingga saya terlibat juga dalam aksi membuat KTP ini.

Perjalanan dimulai dengan membuat surat pengantar ke rumah pak RT di Kartini III. Kemudian berlanjut meminta stempel ke rumah pak RW di Kartini V. Surat pengantar itu untuk keperluan membuat KTP perpanjangan dan KK SIAK. Semuanya diurus isteri, karena saya benar-benar tak ingin membuat KTP SIAK.

Senin (4/11), isteriku ke kantor lurah di Seiharapan. Sepuluh menit di sana, ia kembali lagi. Ia meminta saya ikut menyertakan KTP dan ijazah serta surat akta lahir. Saya pikir untuk persyaratan membuat KK.

Karena ia harus cepat masuk kerja, saya menggantikan dia mengurusnya. Ternyata, petugas kelurahan langsung memasang nama dan foto saya di form pembuatan KTP, lalu isteri di bawahnya. Saya kaget, kok tiba-tiba saya jadi ngurus KTP. Tapi, saya tak mengungkapkan itu. Saya pikir, tak ada ruginya bagi saya ikut membuat KTP. Biar sama-sama memiliki KTP SIAK.

Dari kantor lurah, saya ke kantor camat, Rabu (6/11) tadi. Di loket permohonan, seorang warga terlihat hendak mengambil KTP-nya. ”Pak saya mau ngambil KTP,” katanya sambil menyodorkan sebuah form.

”Oh, belum selesai pak,” kata petugas loket, seorang laki-laki. ”Tapi, saya sudah lama buatnya. Bulan September,” tukas warga tadi. ”Yang selesai permohonan sebelum September, pak. Baru yang Agustus yang selesai,” tutur petugas tadi itu.

Karena saya harus memasukkan permohonan, saya tinggalkan percakapan tadi. Saya menuju loket sebelah. Seorang petugas perempuan berjilbab menyambut. Ia mengecek semua persyaratan dan menyatakan lengkap. ”Ibunya mana? Ia menanyakan isteri saya.

”Lagi kerja bu,” jawabku. ”Suruh datang ke sini, untuk foto,” katanya.

Saya mengikuti sarannya. Isteriku kuminta datang. Sambil menunggu isteri, saya membaca koran di samping pintu masuk kantor camat. Abdul Malik, Sekcam Sekupang itu terlihat keluar dari ruang sekretariat. Ia menyalamiku.

”Saya lagi bikin KTP. Tinggal foto saja,” tukasku padanya. ”Silakan kalau gitu,” katanya memintaku langsung masuk ke ruang pemotretan. ”Lagi nunggu isteri,” jawabku. Sebentar bersama Malik, ia naik ke atas. Mau ngecek berkas, katanya.

Isteriku datang, ternyata kami tak bisa langsung foto. Masih ada yang perlu difotokopi lagi, rupanya. ”Biayanya Rp5 ribu,” kata petugas berjilbab tadi. Saya menyerahkan uang Rp5 ribu, kembalian dari pembelian map Rp5 ribu juga. Map itu dijual petugas foto kopi di kantor camat, seorang ibu yang sudah berumur.

Tak lebih dari satu menit, prosesi pemotretan selesai. Pak tukang potretnya profesional. Tak perlu lama-lama. ”Sekarang selesai. Ini nomor telepon yang harus bapak hubungi nanti. Telpon ke nomor ini, 1,5 bulan lagi. Mungkin KTP-nya selesai 1,5 bulan lagi. Tapi, jangan lupa telepon dulu,” katanya sambil memberikan bukti pembuatan KTP dan nomor telepon kantor camat Sekupang.

Isteriku rupanya kaget. ”Masa 1,5 bulan. Lama banget,” ujarnya. Saya jadi teringat pada Pak Ria Saptarika. Mudah-mudahan, tak selama itu ya Pak.****

→ 2 CommentsKategori: Batam

Bujangan Palsu—Sisi Lain Batam

Oktober 24, 2008 · & Komentar

Aksi mengaku-ngaku bujangan agar bisa memperdaya cewek, rupanya masih manjur untuk dilakukan. Don (nama samaran) warga Sekupang ini mengaku masih perjaka pada Melati, sebut saja begitu, seorang karyawan di sebuah perusahaan di Mukakuning.

Sehingga Melati terpikat. Tak hanya cinta yang ia serahkan. Tubuh moleknya juga ia serahkan bulat-bulat. Bermalam-malam, Don dan Melati bergumul dalam selimut. Melati akhirnya hamil tujuh bulan.

Kepada Don, ia minta dikawini. ”Mana janjimu,” kira-kira itulah yang diucapkan Melati kepada Don. Don tak menjawab. Ia meminta maaf. Ehh, rupanya Don tak mau menikahi Melati. ”Saya sudah punya isteri, say.” Kata-kata itu meluncur ringan dari mulut Don.

Melati tentu tak terima. Tangisnya pecah. Ia memukul-mukul dada Don. Sambil tetap meratap, ia berlari pulang ke rumah familinya. Di sana ia mengaku telah diperdaya Don. Akhirnya, dengan diantar keluarganya, Melati melaporkan Don ke Poltabes Barelang.

Awal pertemuan Don dan Melati terjadi pertengahan 2005 silam di Panbil Mall Mukakuning. Saat itu, Don langsung jatuh hati begitu melihat Melati berjalan seorang diri di Panbil Mall.

Jurus rayuan maut pun dilancarkan Don. ”Matamu seperti cahaya bulan itu. Hangat dan menyejukkan hati,” kata Don. ”Abang gombal. Paling-paling sudah punya isteri,” timpal Melati. ”Sumpah, Abang bujangan,’ tegas Don.

Akhirnya, rayuan Don menancap dalam di jantung Melati. Saban malam Minggu, Don tak lupa mengapeli Melati di Dormitori Mukakuning. Melati akhirnya hamil. Sebuah kehamilan yang menurut Melati berarti menikah dengan lelaki pujaan. Mimpi indah hidup bersama Don pun hadir di malam-malam Melati.

Namun hasrat Melati yang baru berumur 21 tahun itu kandas. Don yang ia kenal sebagai pria manis itu, ternyata bujangan palsu. Sudahlah beristeri, punya tiga anak lagi. Nasibmu, Melati.*****

→ 2 CommentsKategori: Batam

Bocah di Bawah Payung

Oktober 17, 2008 · 1 Komentar

Guntur menggelegar. Jumat siang itu, hujan mengguyur kawasan Batam Centre. Lantunan adzan dari Masjid Raya Batam telah memanggil. Puluhan pria berlarian menuju masjid. Hujan saat solat Jumat akan dimulai, benar-benar tak mengenakkan.

Banyak orang menunggu hujan reda. Sejumlah pegawai Pemko Batam berteduh di teras kantor Wali kota. Mereka berharap hujan tak sempat membanjir. Saya termasuk orang yang berdiri di tengah pintu, kantor DPRD Batam. Berharap mendapatkan pinjaman payung.

Di taman masjid, Andri (9) berdiri menunggu mobil datang. Bocah SD itu memegang payung yang ujungnya sudah patah. Besi-besi kecil penyangga payungnya sebagian juga sudah rusak. Namun, itu tak soal baginya. Payung itu masih bisa melindungi diri dari hujan.

Ia berlari begitu sebuah sedan Toyota Corolla mendekat. Ia menunggu di samping pintu, menawarkan pinjaman payung bagi pemilik mobil yang hendak ke masjid. Namun, sang pemilik mobil menolaknya. Pria berbaju safari itu sudah menyiapkan payung sendiri.

Ditolak pemilik Corolla, Andri berlari kembali menuju mobil Kijang Innova yang mendekat. Kali ini ia beruntung. Pinjaman payungnya bersambut. Payung kuning itu akhirnya pindah tangan. Andri berjalan di samping peminjam payungnya, berlari kecil di tengah hujan yang kian lebat.

Ada banyak anak seusia Andri yang siang itu menjajakan pinjaman payung. Jari-jari mereka berkerut kedinginan. Kulit bocah-bocah itu pucat. Namun wajah-wajah mereka merona merah.

Saat-saat hujan di hari Jumat adalah saat menjajakan payung. Mereka mendapatkan ”banyak” uang dari bisnis hujan kebetulan itu. Mereka menikmatinya.

Saat-saat tak turun hujan juga saat-saat bisnis bagi anak-anak kecil itu. Mereka ganti profesi dari penjaja payung menjadi penyemir sepatu. ”Pokoknya setiap Jumat, kami di sini,” tutur Andri.

Mereka tak mematok harga. Mereka tahu, para peminjam payungnya atau mereka yang menyemirkan sepatunya akan memberi lebih. Kalau ada yang bertanya, berapa, baru mereka jawab.

=*=

Hujan sudah reda. Para jamaah masjid Raya sudah pulang. Sembilan bocah mengerumuni tukang mie ayam di halaman masjid. Ya, mereka makan siang. Andri dan teman-temannya menikmati bakso dan es campur dari hasil menjajakan payung.

”Kau dapat berapa.” Pertanyaan itu meluncur dari mulur Kiki (10) kepada Andri. ”Biasa,” kata Andri.

Matahari makin meninggi. Awan gelap yang hari-hari ini menaungi Batam Centre perlahan menghilang. Panas kembali menyengat. Sampai jumpa di Jumat berikutnya.****

→ 1 CommentKategori: Batam

Menerjemahkan ”Criminal Collaborations?”

Oktober 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Akhirnya bisa juga. Selasa (14/10) dini hari, akhirnya bisa juga saya menerjemahkan tulisan Andreas Harsono dan S Eben Kirksey berjudul Criminal Collaborations? Antonius Wamang and the Indonesian Military in Timika. Tak semuanya selesai memang, tapi cukup melegakan.

Tulisan ini saya terima sekitar tiga atau dua bulan lalu dari Andreas. Saya mengirim e-mail dan ia mengirimkan tulisannya itu. Ia minta saya mengomentarinya. Sayangnya, tulisannya sangat panjang. Dalam bahasa inggris, pula.

Saya kesulitan harus menerjemahkan tulisan beribu-ribu kata, itu. Selain karena bahasa inggrisku yang jelek, juga karena saya bukan orang yang pekerja keras. Tulisan itu saya biarkan saja.

Hingga akhirnya, Selasa dini hari itu saya bisa betah berjam-jam di depan komputer. Lalu, ada yang memberi masukan, agar saya menerjemahkan tulisan itu dengan bantuan google translate. Ada sejumlah penerjemahan yang aneh memang. Misalnya, google menerjemahkan kata ”guns” dengan nggak. Namun, pada kata ”gun” ia tetap menerjemahkannya dengan bedil.

Hampir dua jam di depan komputer, penyakit malasku kambuh. Terjemahan belum juga selesai, saya berhenti. Bukan karena tak lagi tertarik pada tulisan itu, tapi saya lebih memilih mengisi waktu di keheningan pagi itu dengan mendownload tulisan di pantau dan sejumlah contoh cerpen ke HP Nokia E61-ku.

Ada banyak tulisan yang akhirnya pindah dari komputer ke HP. Saya tak perlu mencetaknya di kertas. Waktu luang pun bisa kugunakan baca cerpen di HP.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Ballad of Muhammad Nardi

Oktober 7, 2008 · & Komentar

Pengakuan jujur tak selamanya berbuah manis. Apalagi, jika yang diakui adalah perbuatan haram, seperti menerima suap. Meski mengaku mengembalikan ”uang terima kasih” itu, pengakuan di ujung tugasnya sebagai anggota DPRD Batam membuatnya ”terasing”. Dicibir publik dan teman-temannya di Dewan, sekaligus terancam ditarik PKS yang merasa citranya tercoreng. Padahal, Nardi mungkin seorang pahlawan yang harus muncul di institusi korup seperti Dewan.

******

Pasar Tiban Centre sudah mulai lengang, Sabtu siang di akhir Ramadan lalu. Sejumlah pedagang sudah membersihkan lapak-lapak penuh sisik ikan. Hanya terlihat satu-dua pembeli yang lalu lalang, melihat kalau-kalau ada ikan segar yang masih tersisa.

Di ujung lorong, seorang pria bercambang berjalan malas menuju tempat penjualan ikan. Ia mengenakan celana dan kaos olah raga berwarna biru putih. Di dadanya, tercantum tulisan ”Persatuan Isteri Dewan” (PISWAN) DPRD Batam. Jelas, kaos ini menunjukkan penggunanya harusnya seorang perempuan, seorang isteri Dewan. Tapi, mengapa harus laki-laki itu yang mengenakannya?

Ya, laki-laki itu ternyata Muhammad Nardi. Anggota DPRD Batam yang hari-hari ini menjadi pembicaraan dan namanya menghiasi headline media karena mengaku menerima uang Rp25 juta, sesaat setelah terjadi kenaikan tarif listrik di Batam, tahun 2006 silam. Sejak beberapa waktu lalu ia tak muncul di depan publik.

”Sudah seminggu ini saya tak enak makan. Ini lagi mau cari ikan segar yang banyak dagingnya,” katanya, sambil menggandeng tangan saya.

Saya tak terkejut dengan pengakuan itu. Semuanya terlihat jelas di wajah Nardi. Wajahnya kuyu, kusut seperti orang baru sembuh dari sakit. Cambangnya dibiarkan tak terurus. Tak ada senyum, Nardi benar-benar terlihat bagai mayat hidup. Ia mengaku syok.

Tak hanya wajah pucatnya itu yang membuat ia terlihat gemetaran, pakaian yang ia kenakan juga menunjukkan itu. Lihat saja kaosnya, itu kaos isterinya yang ia pakai. Tapi, saya simpan saja segala dugaan-dugaan itu.

”Bagaimana med menurutmu. Apa yang harus saya lakukan menghadapi kasus ini,” katanya, setelah ia saya bawa ke pedagang ikan talang.

Saya terdiam. Untuk beberapa saat pertanyaan itu tak saya jawab. Saya ragu. Lalu mereka-reka apa yang sebaiknya saya katakan padanya. Koran kamilah yang pertama mengungkapkan pengakuan Nardi ke publik, tentu kami juga berkepentingan agar kasus ini dituntaskan. Tak boleh lagi jadi angin lalu. Hukum harus ditegakkan.

Baca terus →

→ 6 CommentsKategori: Batam · sosial
Ditandai:

Waktu Pulang bagi Lelaki

Oktober 6, 2008 · & Komentar

Mengunjungi Pulau Bawean menjelang Lebaran adalah perkecualian yang tidak akan didapatkan pada hari biasa. Tidak hanya hiruk pikuk pemudik yang terasa, predikat Pulau Putri seakan lenyap untuk sementara waktu.

Adi Tri Pramono, Jawa Pos, Bawean


Menjelang Lebaran, semboyan mangan ora mangan asal kumpul terasa sangat pas untuk menggambarkan suasana Pulau Bawean. Saat itu rasanya tidak ada yang lebih penting daripada bertemu sanak saudara untuk merayakan Idul Fitri.

Suasana tersebut sangat terasa, bahkan sebelum menjejakkan kaki di pulau yang terletak sekitar 80 mil sebelah utara Kota Gresik itu. Selama perjalanan bersama para pemudik, kemeriahan suasana Lebaran sudah terasa.

Sebagai pulau yang terpisah dengan induknya, yakni Kabupaten Gresik, perjalanan ke Bawean hanya bisa ditempuh lewat laut. Jawa Pos pun berangkat ke Bawean dengan kapal cepat Express Bahari. Jawa Pos berangkat Sabtu (27/9) sekitar pukul 09.00. Tiketnya Rp 160.000 sekali jalan.

Kapal tersebut mampu melaju dengan kecepatan rata-rata 23 knot sehingga perjalanan laut sejauh 80 mil bisa dijangkau dalam tiga jam saja. Bandingkan dengan kapal Dharma Kartika yang harus berlayar selama 8-9 jam.

Selain mampu mengangkut 344 orang plus barang bawaannya, kapal yang diproduksi pada 2005 oleh perusahaan galangan kapal Caterpilar asal AS itu memiliki standar keamanan laut kelas wahid. Kapal yang dinakhodai Yosis Dinun Sada tersebut dilengkapi peralatan EPIRB (emergency position indicating radio beacon).

Radio itu adalah semacam kotak hitam untuk kapal laut. Salah satu fungsinya, jika dalam kondisi berbahaya, kotak hitam tersebut tinggal dilempar ke laut dan langsung mengeluarkan sinyal SOS yang bisa diterima pusat kontrol lalu lintas kapal maupun kapal lain yang sedang lewat.

”Fasilitas inilah yang membuat nyaman penumpang, meski kapal melaju dengan kecepatan 23 knot,” jelas Yosis.

Kapal Express Bahari memiliki tiga buah mesin dengan total 3.600 daya kuda. Torsi yang dihasilkan dengan kekuatan itu sebesar 2.300 rpm. ”Torsi inilah yang membuat kapal itu disebut kapal cepat,” lanjut alumnus angkatan pertama SPIP Palembang tersebut.

Untuk konsumsi bahan bakar, dibutuhkan lima ton solar untuk perjalanan PP Gresik-Bawean. Saat beroperasi, Yosis dibantu tiga asisten kapten yang bergantian menakhodai kapal yang memiliki enam buah sekoci itu. Sekoci tersebut mampu menampung 65 orang dan digunakan jika kapal dalam keadaan bahaya.

Sepanjang perjalanan, ombak kala itu, menurut Yosis, masih tergolong normal. Meski begitu, ombak tersebut mampu mengombang-ambingkan isi perut penumpang. Tak ayal, beberapa penumpang tampak menjinjing tas kresek untuk wadah isi perut yang keluar akibat mual.

Jawa Pos sempat berkeliling untuk menilik kapal yang disesaki pemudik dan barang bawaannya itu. Di dek belakang kapal, Jawa Pos berkenalan dengan sejumlah pemudik dari negeri seberang, Malaysia dan Singapura.

Mereka berkumpul di dek belakang karena tidak kebagian kursi. Selain itu, mereka sengaja menikmati deburan ombak, semilir angin, dan panas matahari yang sudah lama dirindukan.

”Panasnya khas, tak sabar rasanya untuk segera sampai di rumah,” kata Mustafi, pemudik yang empat tahun bekerja di Malaysia dan belum pernah pulang itu.

Perasaan rindu yang sama, agaknya, juga merayapi hati para pemudik. Sebab, rata-rata mereka baru bisa pulang setelah bertahun-tahun mengais dan menghimpun rezeki di negeri jiran.

Umumnya mereka ”belum berani” pulang jika tidak membawa uang cukup atau oleh-oleh bagi sanak keluarganya di kampung. Oleh-oleh itu juga menjadi simbol keberhasilan dan kebanggaan di tanah rantau.

Jumlah uang mereka rata-rata bernilai puluhan juta rupiah. ”Dulu sebelum ada bank di Bawean, mereka langsung membawa uang hasil jerih payah secara cash,” jelas Supardi, Kadishub Pemkab Gresik.

Bagi yang lajang, hasil memeras keringat di rantau itu biasanya digunakan untuk modal menaikkan ‘’status” alias menikah. ”Saya merantau selama empat tahun untuk mengumpulkan biaya pernikahan dan saat itu tiba tahun ini,” kata Hermas dengan wajah berbinar.

Rata-rata lelaki Bawean menikah saat umur mereka di atas 25 tahun. Mereka benar-benar ketat untuk urusan biaya hidup. Selain untuk menikah, uang jerih payah di tanah rantau biasanya digunakan untuk membangun rumah.

Syarat tersebut seolah telah menjadi hukum tak tertulis bagi pemuda Bawean yang ingin menikah. Karena itu, Lebaran adalah waktu yang mereka tunggu, waktu yang tepat untuk pulang dan memulai babak baru dalam rangka meneruskan generasi.

Bagi mereka yang sudah berkeluarga, Lebaran berarti memberikan adik bagi anak mereka yang lebih dahulu lahir.

Menurut budayawan Bawean Cuk Sugrito, merantau sudah menjadi tradisi masyarakat Bawean. Saat anak beranjak remaja, mereka sudah dipersiapkan untuk merantau.****

→ 2 CommentsKategori: Batam

Merindukan Rumi di Iskandarsyah

September 27, 2008 · 1 Komentar

Tasawuf masuk kota. Dan mereka mengingatkan kita pada kursus-kursus body language, bahasa Inggris tiga bulan lancar, dan sejenisnya. Ada pelatihan salat khusyuk, lokakarya tiga jam untuk mengalami hakikat syahadat tanpa tarekat, dan masih banyak lagi. Instan dan penuh perhitungan bisnis, memang. Namun ada pula yang bergeser menikmati tasawuf lebih mendalam, tak cuma ”kulit luar”-nya, tapi lewat tarekat.
MAJALAH TEMPO

NAMANYA Rumi Cafe. Berlokasi di Jalan Iskandarsyah yang mengarah ke Kemang, kawasan elite di Jakarta Selatan, ia diharapkan menjadi tempat hangout terbaru untuk kaum belia Ibu Kota. ”Saya berniat menjerat anak muda masuk surga,” kata Arief Hamdani, Presiden Haqqani Sufi Institute of Indonesia, sembari tertawa.

Rumi Cafe memang bukan seperti kafe biasa. Tempat ini tidak menyediakan minuman beralkohol. Namun nuansa tenang dan damai langsung menyapa siapa saja yang datang. Hot spot ini digadang-gadang Arief sebagai tempat bertemu, berdiskusi, sekaligus menikmati sema atau whirling dervishes, tarian sufi yang berputar-putar itu, yang diperkenalkan Jalaluddin Rumi, sufi agung abad ke-13.

Kafe kaum spiritualis ini menempati sebuah rumah toko berlantai dua. Dinding interiornya dicat abu-abu tua. Sejumlah buku dan foto tokoh sufi, termasuk Rumi, dipajang berjajar di etalase. Begitu hendak menaiki tangga, ups, ada manekin pria berbusana whirling dengan topi khas, sorban, dan jubah hitam. Setiap akhir pekan, di sini dipera­gakan tari whirling. ”Siapa pun yang terjebak macet pasti ingin tahu sajian kami,” kata Arief.

Rumi, whirling, tasawuf? Inilah gejala sosial yang pada Ramadan ini kian marak: sufi perkotaan. Tak usah berburu jauh-jauh ke Bagdad atau Istanbul untuk asyik-masyuk dengan dunia kaum sufi yang menjanjikan kedamaian dan cinta ini. Cukuplah nikmati cara baru berzikir dan ”mencari Tuhan” di Jakarta. Ini tentu saja tak lepas dari gaya hidup para eksekutif, konsumen utama gejala urban ini.

Coba lihat di Padepokan Thaha atau Majelis Taklim Misykatul Anwar di Jalan Senopati, Jakarta. Di situ, pekan lalu, Anand Krishna menyampaikan pikirannya tentang sufisme dewasa ini. Di dalam ruangan 10 x 10 meter persegi yang penuh pendengar serius, penulis puluhan buku spiritual itu ber­ujar, ”Sufi harus berani hadir ke pasar, ke market place.” Malam itu, Anand didaulat sebagai pembicara tamu di Padepokan Thaha.

Ia membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang memancing: mengapa kaum sufi gagal membuat dunia semakin damai? Ya, Anand tidak lagi berbicara tentang tasawuf sebagai jalan pembebasan individual, melainkan pembebasan pada tingkat sosial politik. Ia berbicara tentang gerakan-gerakan yang kehilangan toleransinya terhadap perbedaan pandangan di kota-kota besar, tentang langkah mereka yang agresif, dan pentingnya kaum sufi bangkit dengan pesan damai.

Anand seolah berbicara kepada para penghuni kota besar yang bosan dengan dugem, yang tidak sanggup melepaskan diri dari belitan masalahnya. Pengajian itu tertuju pada para seeker yang tak kunjung menjumpai kebenar­an di jalan-jalan dan bangunan kota yang riuh rendah, atau yang sekadar menunggu redanya lalu lintas macet. Semua digiring dan dihimpun pada malam-malam tertentu ke sejumlah titik di Ibu Kota.

Mereka para profesional, para eksekutif, yang senantiasa ada di sekitar kita dan tak mencolok mata. Berpakai­an laiknya orang kantoran, dengan kemeja lengan panjang dan pantalon gelap, seperti biasa, penampilan fisik mereka tak hendak mewakili identitas kelompok pengajian—yang biasanya berpakaian serba putih, baju koko, plus songkok putih pula.

Lihatlah Ahmad Rizal Tarigan, 39 tahun. Presiden Direktur PT Penta Manunggal Mandiri ini rajin mengunjungi zawiyah (padepokan) tarekat Naqsabandiyah Haqqani setiap Kamis malam. ”Dengan berzikir, kita mengendalikan ego,” katanya. Rizal hanya berbaju batik, tidak berjanggut, dan tak ada simbol-simbol tarekat, tulisan Allah ataupun Muhammad, pada mobil Nissan X-Trailnya.

Identitasnya sebagai pengikut tarekat Naqsabandiyah Haqqani baru ”terbongkar” bila kita mengunjungi kantornya yang terletak di daerah elite Jalan Sudirman, Jakarta, atau rumahnya di kawasan Kayu Putih, Pulomas. Foto yang sama terpajang apik di dua tempat itu: foto ketika ia bersama Syekh Nazim Kabbani, tokoh spiritual gerakan tarekat ini. Rizal memilih tarekat ”tradisional” di puncak karier.

Tapi ada pula Saraswati Sastrosatomo, 36 tahun, Senior Council Chevron Indonesia Company, yang masuk tarekat Qadiriyah di kawasan Ciawi, Bogor. Alkisah, Saraswati, yang begitu mudah memperoleh segala yang diinginkannya dari dunia profesional dan akademis, akhirnya suatu kali jatuh terduduk. ”Saya pernah bekerja di lembaga bantuan hukum, law firm, hingga corporate. Sekolah ke Amerika dan Belanda pun sudah saya jalani. Pokoknya, dunia bagi saya sudah cukup. Lantas apa lagi?” tuturnya.

Perempuan yang menamatkan pendidikan S-1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan pendidikan pascasarjana di Universitas Leiden ini pun sudah jenuh dengan jalan keluar selepas kerja: clubbing di klub malam Ebony, Dragonfly, dan banyak lagi.

Enam tahun silam, ia mencoba sesuatu yang baru: bergabung dengan klub kajian Paramadina dan kajian tasawuf Tazkiya. Dan rupanya itulah mukadimah dari sesuatu yang hingga kini tak pernah lepas dari hidupnya. Ia melebur dalam tarekat. Tiap akhir pekan kita bisa mendapati Saraswati bertafakur di padepokan syekhnya. ”Saya butuh charge setelah Senin hingga Jumat berurusan dengan dunia,” katanya. Di dinding apartemennya di Puri Casablanca, Kuningan, Jakarta, terpampang sembilan potret idolanya, Wali Songo. Di samping mereka, terdapat foto Syekh Abdul Qadir Jaelani dan Sunan Kalijaga.

Tarekat Naqsabandiyah Haqqani dan Qadiriyah sama-sama ”tradisional”. Keduanya ditopang lima komponen dasar tarekat: mursyid (guru), murid, wirid, tata tertib, dan tempat. Dua dasawarsa silam, masyarakat kota lebih bisa menerima tasawuf kontemporer seperti yang ditawarkan Paramadina dan Tazkiya ketimbang pola-pola peng­ajaran tradisional di pesantren, di desa-desa.

Baiat atau komitmen spiritual yang mengikat dan kemudian mengukuhkan hubungan hierarkis mursyid-murid mungkin tak menarik bagi orang kota yang demokratis. Uzlah alias mengundurkan diri dari dunia orang banyak justru menumbuhkan waswas bahwa tasawuf sama saja dengan mengasingkan diri. Dan zuhud atau asketisisme, pantangan terhadap kesenangan duniawi, tentu saja terlalu jauh dari gaya hidup hedonis orang kota.

Kini dunia kita seakan berubah. Ungkapan tasawuf yes, tarekat no yang demikian tepat mewakili periode itu seakan sudah berlalu. Dan mungkin tasawuf yes, tarekat yes cukup mengena di hati orang kota.

Di Padepokan Thaha, setiap usai tausiyah, para murid langsung menyerbu sang mursyid, Syekh Sayid Hidayat Muhammad Tasdiq, yang biasa dipanggil Kiai Rahmat. Dalam suasana yang cair, masing-masing murid mengungkapkan rasa takzim dengan mencium tangan guru yang karismatis dan berilmu itu. ”Beliau mudah tune-nya,” kata Pardamean Harahap, salah seorang pengurus padepokan itu, menjelaskan karakter sang guru yang komunikatif. Kamis malam itu, di padepokan, Kiai Rahmat mengenakan baju hem putih tanpa dasi dengan balutan jas biru dan celana biru. Ia memakai peci hitam dengan renda air emas di sekeliling; suaranya ringan seperti beraksen Sunda, kulitnya agak gelap.

Bayang-bayang suram hubungan mursyid-murid yang menuntut kepa­tuhan total sang murid sesungguhnya belum juga terbang jauh. Menurut Jalaluddin Rakhmat, dosen komunikasi Universitas Padjadjaran yang ikut melahirkan pengajian Tazkiya, kelompok pemujaan atau cult sering kali membungkus niat buruknya dengan aksesori tasawuf. Lalu murid yang silau dengan penampilan luar itu pun kerap menjadi korban penipuan. Memakai istilah sufi seperti hakikat dan makrifat, sang guru menawarkan paket-paket instan yang tak masuk akal. seperti ”bertemu Tuhan dalam seminggu”.

Namun coba bedakan dengan tarekat Akmaliyah. Tarekat yang berada di Kota Malang ini mengambil jalan pintas: memangkas pendek hubungan mursyid-murid yang sangat berat sebelah. Gerakan sufi yang meneruskan ajaran Syekh Siti Jenar dan kemudian dipopulerkan oleh Sultan Hadiwijoyo (alias Joko Tingkir, Raja Pajang) ini berangkat dari pemikiran tunggal: setiap manusia berhak bertemu dengan Tuhannya.

Akmaliyah tak mengenal mursyid (guru) sebagaimana aliran tarekat lain, melainkan sekadar sosok koordinator belaka. Lelakunya ringan, jumlah zikirnya tak dibatasi bilangan, cukup disesuaikan dengan kemampuan. Tarekat ini juga tidak mengenal tradisi pemondokan dan baiat. Setelah berdiskusi dengan koordinator untuk meluruskan persepsi, jemaah bisa membaca wirid sendiri di rumah.

Tasawuf perkotaan kontemporer selama dua dekade telah menyodorkan jalan lebih ”aman”, tapi dengan pendekatan yang mengingatkan kita pada kursus body language, bahasa Inggris tiga bulan lancar, dan ­sejenisnya. Ada pelatihan salat khusyuk, lokakarya tiga jam untuk mengalami hakikat syahadat tanpa tarekat, dan masih banyak lagi.

Instan memang. Bahkan, menurut Bambang Pranggono, dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, gejala ini memperlihatkan ”indikasi betapa materialisme merasuk ke dalam semua sendi keislaman, ketika semua harus dinilai dengan uang, dari syahadat, salat, hingga haji”—seperti tertulis dalam makalahnya, ”Sufisme Perkotaan”, yang dibacakannya pekan lalu di Bandung.

l l lDI sebuah hotel di Jalan Pelajar Pejuang, Bandung, anak-anak muda pengikut pengajian tasawuf berkumpul untuk menyambut sesuatu yang besar: lailatul qadar. Ritual yang berawal pada pukul 21.00 itu ditutup dengan doa Kumail (doa khusus Nabi Khaidir), lalu Jausyan Kabir pada pukul 02.00, hanya beberapa saat menjelang sahur.

Tasawuf, yang selama beratus tahun divonis sebagai sumber keterbelakangan, kini memiliki citra yang baru—ia wisdom dari desa yang kemudian dimodifikasi sesuai dengan selera kota. Tiga tahun mengikuti Paramadina, Rara Rengganis Dewi, 45 tahun, yang menyukai musik Scorpion, Queen, Hadad Alwi, dan Opick, membuat kesimpulan menarik. ”Saya lebih mampu berbahagia dan menikmati kehidupan,” katanya. Rara, yang tinggal di Jakarta dan gandrung tasawuf, mengambil magister Islamic Mysticism ICAS (Islamic College for Advanced Studies).

Melalui kajian yang sama, Arief Aziz, 25 tahun, kemudian memahami perbedaan antara Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi. Anak muda ini mengenal sejumlah nama besar dengan gagasan besar: Rabiah al-Adawiyah, Rumi, Arabi, juga martir yang kontroversial seperti Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Arief juga mengaku menerapkan zuhud dalam kehidupan kesehariannya. Memakai telepon seluler tua, ia berpegang pada asas manfaat dan menolak ikut latah.

Sufisme perkotaan merupakan anak modernisme. Kehadirannya ­ber­­dam­ping­­an dan berinteraksi ­dengan produk-produk modernisme lain: ­liberalisme, ateisme, feminisme, konsu­merisme, materialisme, dan sebagainya. Ada yang berdiri dalam tarekat tradisional, ada pula yang tanpa tarekat. ”Semua bisa kita pahami dengan penuh empati sebagai kegelisahan setetes air yang rindu akan kebahagiaan, bersatu lagi dengan lautan,” demikian Bambang Pranggono mengakhiri makalahnya.

Idrus F. Shahab, Sita Planasari, Munawwaroh, Iqbal Muhtarom, Alwan Ridha Ramdani

→ 1 CommentKategori: sosial

Aku, Ghazyan

September 11, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pekik pertamaku, pukul empat dini hari. Saat itu, Senin, 25 Juli 2005, baru akan memulai hari.

Ayahku, yang menunggui persalinan ibuku di RS Otorita Batam lega mendengar tangisanku itu. Dialah yang pertama menggendongku, selain tentunya perawat yang membantu persalinan ibuku itu.

Aku diadzankan. Tapi lihat, ayahku gugup. Di telinga kiriku ia beradzan, di telinga kananku ia kumandangkan iqamah. Sebuah kelaziman yang salah. Ia baru menyadarinya, beberapa jam setelahnya.

Tapi, biarlah. Saya tahu ia menyayangiku. Blog ini, ia persiapkan untukku. Ya, inilah aku. Ghazyan Ahmadinejad, pemilik blog ini.

Nama Ahmadinejad itu, ayah ambil dari nama presiden Iran. Saya lahir, saat Ahmadinejad memenangkan pemilihan presiden. Ayahku, katanya terinspirasi atas kemenangan itu. Maka, jadilah namaku itu. Paman ayahku, yang kata ayah, pintar mengutak-atik nama, setuju dengan pilihan nama itu.

Aku sekarang berumur tiga tahun lebih. Cita-citaku ingin jadi pemadam kebakaran. Aku punya banyak kaset VCD soal pemadam kebakaran. Idolaku, paman Sam, sang pemadam kebakaran.

Tapi, aku masih bingung. Aku ingin jadi juga seperti Superman. Ia bisa terbang. Kemana-mana tinggal terbang. Tak perlu naik pesawat.

Jadi seperti Batman, juga asyik. Saya suka nonton Batman. Ia misterius, pakai topeng. Di VCD yang aku tonton, tak pernah tampak ia melepas topengnya itu.

Aku juga ingin jadi Spiderman. Manusia laba-laba itu, kata ayahku hebat. Aku punya banyak kaos dan mainan Spiderman. Ehm****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Empal Macan

September 6, 2008 · 1 Komentar

Dingin terasa menusuk, saat bersama sejumlah polisi saya mampir di sebuah restoran Cina di Karimun. Saat itu, tiga tahun yang lalu, saya ikut razia narkoba ke sejumlah diskotek dan pub. Pulang pukul dua dini hari.

Perut terasa lapar. Hampir tiga jam saya ikut keliling dari pub satu ke diskotek satu. Hasilnya nihil. Tak ada satupun pengedar maupun pengguna narkoba yang ketahuan. Sesuatu yang sudah saya duga sebelumnya.

Akhirnya, di restoran Cina itulah kami berlabuh. Saya duduk di sebuah meja memanjang. Di samping kananku, ada temanku, seorang fotografer. Di sisi lainnya, seorang polisi yang menjadi ajudan Wakapolres duduk santai dengan sebatang rokok di tangannya.

Seorang pelayan restoran mendekat. Saya dan temanku itu memesan jus alpukat. Sebuah pilihan yang mungkin kurang tepat di dini hari itu, karena dingin. Namun, rasa haus di tenggorokan mengalahkan rasa dingin tadi.

”Saya pesan empal macan, ya! Tiba-tiba seorang perwira polisi menyelutuk. Ia duduk di meja lain, di seberangku yang dipisahkan jalan.

Ada yang janggal dengan pesanan itu. Tapi, saya yang sedang menunggu jus alpukat, tak begitu peduli. Saya merasa pendengaran saya salah tangkap.

Sepuluh menit menunggu, jus yang saya tunggu datang. Pelayan tadi menyodorkan daftar menu. ”Saya pilih ikan asam pedas saja. Jangan lama,” kataku tanpa melihat menu di daftar.

”Tak mau nyoba empal macan, Mas. Enak, bisa menghangatkan badan,” kata pelayan tadi.

”Emang ada macan, ya,” tanyaku. ”Ada. Bisa disup, cincang atau empal,” jawabnya. ”Oh, gak,” saya mengatakan itu, seketika.

Tiba giliran ajudan Wakapolres tadi, yang ditanya pelayan itu. ”Kalau beruang ada, gak,” tanya ajudan berpangkat brigadir itu.

”Lagi habis. Kalau mau, ada ular sama otak monyet. Persedian kami masih ada,” jawabnya. ”Gaklah. Saya minum saja,” jawab ajudan itu.

Ternyata, restoran yang kami datangi itu restoran yang menyajikan segala macam hidangan binatang buas. Ada macan, beruang, ular, monyet, dan tentu saja babi.

Saya jadi dag-dig-dug. Baru kali ini, saya berhadapan langsung dengan restoran beginian. Dulu, saya tahunya hanya lewat TV. Seperti sate ular di Jepang, Cina atau Thailand. Di sini, di Karimun, saya merasakannya langsung.

Jadi kepikiran. Bagaimana nasib ikan asam pedasku, ya. Halal gak, kan masaknya pakai kuali yang juga dipake masak empal macan tadi. Gimana rasanya, ya empal macan?

Temanku, yang fotografer tadi berbisik-bisik. ”Gimana nih. Kita makan macan,” katanya. ”Udah tenang aja. Kan yang kita makan ikan,” tuturnya menepis kerisauan dia.

Jadinya, pagi itu saya pulang dengan pengalaman baru. Makan ikan asam pedas, di restoran yang menyajikan empal macan. Sebuah pengalaman yang tak bisa dibanggakan. Masa ke restoran binatang buas makan ikan asam pedas. hu…

Kisah ini kuingat kembali, saat pekan lalu, saya bertemu Direktur LPPOM MUI Kepri. Dia bilang, banyak restoran di Batam ini yang tak punya sertifikat halal. ”Padahal, kalau punya sertifikat, omzet dia pasti meningkat,” katanya.

Jadi kepikiran lagi ni. Bagaimana seandainya restoran Cina yang menyajikan binatang buas tadi punya sertifikat halal, ya? Pasti saya akan ke sana lagi, mencicipi empal macan itu. Mungkin gak, ya?****

→ 1 CommentKategori: Batam

Jembatan Mobil

September 1, 2008 · 1 Komentar

Ini jembatan unik di Batam. Lokasinya di kawasan Tanah Longsor, di Jodoh. Pekan lalu, jembatan itu difoto temanku, Cpi Cikandina.

Jembatan mobil itu digunakan para mekanik bengkel untuk menyeberang ke sisi hotel di atasnya. Jembatan ini menjadi berarti karena kawasan Tanah Longsor itu sering dilanda banjir. Hampir tiga tahun, setiap kali hujan, banjir lumpur pasti meluber.

Jembatan mobil itu juga seperti puing sejarah. Dulu, harga mobil di Batam jauh lebih murah dibandingkan dengan harga mobil-mobil di daerah lain. Mobil-mobil bekas Singapura tumpah ke Batam. Hingga tak heran, mobil seperti mercy S 500 yang jadi kendaraan SBY, di Batam saat itu harganya di bawah Rp100 juta.

Tapi, itu dulu. Sekarang mobil di Batam didominasi mobil-mobil Jakarta. Plat B merajai jalan-jalan raya di Batam. Penyebabnya, karena kran impor mobil bekas dari Singapura sudah ditutup. Jadinya, mobil-mobil bekas yang dulu sempat lalu-lalang di Batam, kini jadi rongsokan.****

→ 1 CommentKategori: Batam

Puasa dan Pemulung

Agustus 30, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

TPA Punggur Difoto Iman

TPA Punggur Difoto Iman

Besok, Ramadan bulan penuh rahmat itu datang lagi. Banyak yang menunggu bulan ini, tapi ada juga teman dan saudara-saudara kita yang tak bisa menjalankan puasa, karena kondisi mereka. Seperti para pemulung di TPA Punggur misalnya. Dua tahun lalu, saat saya ke sana, banyak yang tak puasa karena mengaku tak tahan menahan bau.

Rintik hujan seperti jatuh satu-satu dari langit, saat sekelompok pemulung memilah setumpuk sampah rumah tangga yang baru dikeluarkan dari sebuah truk pengangkut sampah di TPA Punggur, Rabu (27/9) pagi. Sampah-sampah di dalam plastik itu dikeluarkan, kemudian plastik pembungkusnya dimasukkan ke dalam keranjang sampah yang dipanggul di punggung mereka.

Bau busuk menyebar, menebarkan aroma khas yang bisa membuat keluar isi perut. Ribuan lalat berterbangan, hinggap dari satu tumpukan sampah ke benda-benda lain di dekatnya. Beberapa meter di atas ratusan pemulung yang sibuk memilah-milah sampah itu, sekelompok burung walet terbang rendah.

Dalam waktu sekitar lima menit, plastik-plastik dalam tumpukan sampah itu sudah habis berpindah ke dalam keranjang. Truk lainnya kemudian bergantian membuang isinya. Tanpa perlu dikomando, pemulung-pemulung itu langsung mengalihkan perhatiannya pada isi truk yang baru dibuang itu.

Hujan tiba-tiba turun deras, membuyarkan pemulung-pemulung itu. Mereka berlarian, berteduh. Beberapa di antara mereka kemudian berhenti untuk istirahat. Menyedot sebatang rokok yang mereka sisipkan di atas daun telinga mereka. Kelompok lainnya, istirahat di sebuah warung yang menyediakan kopi dan makanan sederhana.

Di bulan puasa seperti kemarin, tetap berpuasa adalah hal yang sangat sulit. Di samping mereka harus tetap membanting tulang, mereka juga mengaku tidak kuat jika harus berpuasa sambil bekerja di tengah lautan sampah yang menebar bau busuk. ”Baunya itu yang tak tahan. Bagaimana mau puasa, kalau tubuh kita selalu dikerubungi lalat,” ujar Darsum (32) pemulung asal Kerawang yang sudah lima bulan tinggal di kawasan TPA itu.

Alasan Darsum diiyakan oleh pemulung-pemulung yang lain. Hampir sejauh mata memandang, kita akan melihat orang-orang menyedot sebatang rokok di TPA Punggur itu. Tak hanya pemulung, para supir truk pengangkut sampahpun menikmatinya.

Di antara bau sampah dan rekan-rekannya yang tak berpuasa, Tarji (27) seperti tak terganggu. Pemuda lajang yang sudah lima tahun menjadi pemulung itu, tetap bekerja sambil berpuasa. ”Insya Allah saya masih berpuasa. Sudah tiga hari ini, saya tetap puasa meski bekerja di sini. Bagi saya bau sampah itu sudah bagai makanan sehari-hari. Yang penting niatnya,” ujar pemuda yang juga berasal dari Kerawang itu.

Tahun lalu, kata Tarji, ia pernah dua hari tak puasa karena muntah. Ia yang siang itu mencoba bertahan, akhirnya tak kuat juga menahan bau sampah yang menyengat hidung itu. Ia mual lalu muntah-muntah. ”Sekarang saya niat puasa sebulan penuh,” tukasnya.

Di luar urusan berpuasa, para pemulung itu juga dihadapkan pada timbulnya beragam penyakit akibat hidup di tengah-tengah sampah. Penyakit infeksi saluran pernafasan, seperti sudah akrab dengan para pemulung itu. Anak-anak mereka juga menjadi korban. ”Kalau itu sudah biasa. Dua anak saya sudah pernah kena penyakit saluran pernafasan. Itu resiko pekerjaan saya. Karena keluarga juga tinggal di lokasi ini (TPA,red),” tukas Darsum.

Rata-rata para pemulung itu tak mempunyai ijazah pendidikan formal. Mereka bergelut dengan sampah demi sesuap nasi. Dalam sehari, mereka rata-rata hanya bisa mengumpulkan uang Rp15 ribu. ”Sekarang susah. Kami malah harus ngebon dulu, kalau mau makan. Makannya pun harus sederhana, harus pintar-pintar,” kata Darsum.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Sandal kok Dipotong

Agustus 28, 2008 · 1 Komentar

”Om, sandalnya kok dipotong. Kan jelek? Pertanyaan itu meluncur dari seorang bocah berumur kira-kira enam tahun, Rabu (27/8) sore.

Ia kaget melihat jejeran sandal jepit di musalla tempat saya bekerja dipotong di bagian ujungnya. Dari pakaian sekolah TK yang ia kenakan, saya tahu anak itu bukan berasal dari keluarga muslim.

Saya yang sedang memakai sepatu habis solat, tertegun. Saya tak menjawab, cuma tersenyum saja. Bocah itu melintasi musalla saat ikut ibunya ke toilet yang letaknya berdekatan dengan musalla.

Terpikir olehku untuk apa sandal itu dipotong. ”Agar tak hilang,” kata seorang teman.

Baca terus →

→ 1 CommentKategori: Batam

Memecah Batu

Agustus 23, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sinar matahari tak begitu terik. Awal Juli lalu, pukul 10.02 pagi itu, di pinggir jalan menuju Jembatan Barelang udara masih terasa sejuk. Raima (30-an) duduk di tanah dengan posisi kaki melingkar, menghadapi gundukan batu yang siap dipecah.

Kepalanya ditutup kain sarung yang dipasang asal untuk menghalangi sinar matahari. Ia mengenakan celana panjang dipadu kemeja panjang yang di sana-sini robek dan berdaki. Ada sarung tangan biru menutup jari-jari tangannya.

Lengannya bergerak menghantam batu-batu di depannya menjadi bagian-bagian lebih kecil seukuran jempol kaki orang dewasa. Batu-batu yang sudah dipecahkan itu dipisah, lalu ditumpuk lagi. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan seperempat kubik pecahan batu.

”Lumayan, satu kubik bisa dapat Rp90 ribu,” tuturnya.

Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Politik dan Hati

Agustus 21, 2008 · 1 Komentar

”Saya bingung, kok partai-partai sekarang mencalonkan orang-orang baru di nomor satu. Anggota dewan lama banyak tak dianggap. Saya saja tak tahu dipasang di nomor mana,” kata Zakaria, salah seorang anggota DPRD Batam dari Demokrat.

Ya, ada fenomena baru dalam Pemilu 2009 ini, terutama di Batam. Banyak parpol tak lagi mengandalkan anggota Dewan lama. Di PDI Perjuangan misalnya, dari tujuh anggota Dewan, hanya Ruslan Kasbulatov, ketuanya, yang ada di nomor jadi. Yang lain dipinggirkan.

Baca terus →

→ 1 CommentKategori: Batam

Sajak Pernikahan

Agustus 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Katakan padaku apa yang tak kau sukai? Sungguh aku akan berubah mengikuti apa maumu?. Jangan diam saja?

Sudah empat tahun lebih, kata-kata itu mengendap di benakku. Kau mengucapkan itu, di ranjang pengantin kita.

Aku mengingatnya kembali, ketika cinta mulai kering menghampa. Hatiku pedih, teriris, namun kubiarkan jantung itu mengaduh sendiri. Kubiarkan ia membusuk, jika bicaraku nanti akan membuatmu terluka.

Sungguh yang terluka padamu, berdarah padaku. Aku sangat ingin mengerti, jika kau pikir aku tak memahamimu.

Diamku yang membisu, juga bagian dari caraku memahamimu. Juga caraku membahagiakanmu.
Dadaku belum rapuh jika kau ingin bersandar. Kakiku masih kokoh, masih kuat menahan gempuran badai itu.

Aku mencintaimu, melebihi cintaku pada diriku sendiri. Bahkan sejak kuucapkan janji itu, aku sudah memproklamirkan kematian diriku. Aku sudah mati, bukan siapa-siapa lagi. Hanya cintamu yang membuatku sampai kini masih bernafas.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Mari Bergotong Royong

Agustus 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Panas matahari menyengat kepala. Di antara para sahabatnya, Muhammad, nabi dan raja itu bermandi keringat. Tangannya kekar memegang palu besar memecah batu-batu. Di tahun ke lima Hijriah itu, Muhammad ikut bergotong royong membuat parit sebagai persiapan menyambut perang khandak.

Pinggangnya ia ikat kencang. Ketulan batu ia pasang di perutnya untuk menahan rasa lapar yang sangat. Muhammad tercinta itu sungguh tak berpangku tangan. Ia terjun sendiri, mengangkut tanah dan batu serta rela membiarkan tangan dan kakinya lecet-lecet.

Peristiwa yang saya ingat dari cerita guru-guru saya itu, saya ingat kembali kemarin. Minggu (3/8) pagi itu, Pemko Batam mencanangkan aksi gotong royong membersihkan Batam. Acaranya digelar serentak di 12 kecamatan dan pusat kegiatannya di lapangan Tanjungriau.

Banyak prosesi harus dilalui sebelum warga bersiap bersih-bersih. Ada upacara yang dihadiri seluruh pejabat Pemko Batam, termasuk Wali Kota Ahmad Dahlan dan wakilnya Ria Saptarika. Dahlan memuji Kadis Kebersihan dan Pertamanan Azwan yang bersemangat. ”Andai orang Batam semangatnya seperti Pak Azwan, Batam pasti bersih,” katanya.

Usai upacara, Wali Kota menyempatkan waktu wawancara dengan wartawan. Ia bilang, akan membudayakan gotong royong agar Batam bersih. Tak lupa, ia sebentar jalan kaki melihat warganya yang bergotong royong.

Inilah yang membuat saya bergetar. Saya tak banyak wawancara dengan Wali Kota itu. Saya terkenang perang khandak itu. Andai Dahlan mau memegang cangkul itu, andai ia mau menceburkan dirinya ke selokan yang kotor, andai ia mau memegang sapu lidi itu.

Dahlan memilih hanya melihat-lihat. Dan pejabat yang lain pun melakukan hal yang sama. Usai upacara, mereka pulang. Ada juga yang memilih menikmati masakan sea food di Tanjungriau yang terkenal lezatnya.

Ironi, ya. Tapi, biarlah seperti itu. Pejabat kita bisa sakit kalau memegang cangkul. Bisa-bisa Batam tak terurus. Kalau pejabatnya sakit, nanti pembuatan KTP bisa-bisa selesai satu tahun. Kalau pejabatnya sakit, mereka bisa-bisa tak bisa jalan-jalan. Sea food yang lezat itu, bisa jadi tak enak dinikmati kalau mereka sakit.****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Gelisah

Juli 31, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

”Pak, uangnya sudah saya titipkan semua. Semua fraksi dapat,” suara dari seorang pejabat Pemko Batam keluar lewat ponsel yang suaranya di-loudspeaker-kan.

”Kami kok tak dapat. Berapa besarnya?” Suara laki-laki di seberang yang merupakan anggota Dewan menyahuti.

”Sekitar Rp200-an juta. Saya tak ingat, cuma sudah saya serahkan langsung ke *********,” jawab pejabat itu.

”Ya sudah. Cuma tolong mintakan bagian kami,” tutup anggota Dewan itu.

****

Saya mendengar langsung percakapan itu. Gelisah, rasanya mendengar sebuah konspirasi, sebuah tindak pidana korupsi tapi tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana mengungkap ini, ke publik?

Saya butuh bukti. Atau setidaknya butuh pengakuan. Namun, anggota Dewan yang berbicara dengan pejabat tadi tak mau membuka diri. ”Jangan dari saya. Coba saja hubungi Y***. Dia kan biasa transaparan,” sarannya.

Senin lalu, saya bertemu Y***. Kami berbincang soal dunia politik lokal, soal calon presiden dan lainnya. Sekali-kali kupancing untuk berbicara soal pembagian dana Rp2 miliar itu. Namun, ia mengatakan tak ada bukti.

Saya takluk. Bagaimana ini. Bagaimana caranya mengungkap ini?

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · getir · sosial

31 Juli

Juli 31, 2008 · 1 Komentar

Di halaman belakang rumah itu, kita berangkulan. Cahaya matahari yang menyengat, tak kita hiraukan. Aku dan dirimu menyatu dalam satu rasa. Rasa takut akan perpisahan.

Pelukmu erat mendekapku. ”Kapan lagi, kita akan bertemu?” tanyamu. ”Tiga tahun lagi,” jawabku.

Sekarang, kenangan itu sudah lewat lima tahun lalu. Tanggal 31 Juli 2003 itu, kamu memelukku tak ingin lepas. Kutinggalkan dirimu. Aku ke Batam dan saat kembali segalanya tak lagi sama.

Aku memenuhi janjiku. Tiga tahun, atau dua tahun yang lalu, aku kembali. Namun, segalanya sungguh berbeda. Ada tembok besar yang menghadang. Senyummu sama sekali tak mengembang, saat kutemui dirimu. ”Kita telah berubah,” kata-kata itu kita ucapkan bersama di dalam hati.

Sudah lewat lima tahun, memang. Namun, aku menyimpan kenangan itu. Tulisan ini, sebagai sebuah simpul yang mungkin tak bakal putus. Tapi, simpul itu tak perlu kita gunakan lagi.****

→ 1 CommentKategori: Batam

Bawean, Belum Saatnya!

Juli 7, 2008 · 1 Komentar

Acaranya sebuah musyawarah besar. Yang punya hajatan adalah Ikatan Keluarga Bawean Batam atau biasa disingkat IKBB. Hajatan paling penting dalam struktur organisasi orang Bawean di Batam itu digelar di masjid Mutaallim, Minggu (6/7) kemarin, di Seipanas.

Masjid Mutaallim adalah masjid penting dalam sejarah kehidupan warga Bawean di Batam. Masjid ini adalah masjid pindahan dari Kampung Boyan di Jodoh, tahun 1970-an silam. Presiden Soeharto kala itu, menyumbangkan masjid buat warga Bawean lewat Yayasan Amal Bakti Pancasila.

Tapi, acaranya sungguh sepi senyap. Ada 4.000-an lebih warga Bawean di Batam, tapi yang datang bisa dihitung dengan jari. Dari kalangan tua, hadir Pak Humam dan Bu Masnah. Keduanya tokoh yang termasuk pertama kali membuka Kampung Boyan di Jodoh.

Selain dua orang itu, hadir Ketua IKBB Mansyur Hamami. Mansyur adalah mertua saya. Ia hadir untuk menyampaikan pertanggung jawaban kinerjanya selama tiga tahun memimpin IKBB. Banyak kekurangan yang ia sampaikan dalam LPj-nya itu. Banyak kritik, terutama untuk IKBB sendiri dan tentunya orang Bawean di Batam.

Saya berbisik-bisik dengan Rofiuddin, teman sekolah saya di Kumalasa dulu yang kini jadi Wakil Kepala sekolah di sebuah SMAN di Batam. Saya bilang, apakah ini bisa disebut musyawarah besar? Ia hanya tersenyum, sambil mengatakan inilah potret warga kita.

Mansyur Hamami akhirnya terpilih lagi jadi ketua untuk kedua kalinya. Ia didukung kalangan ibu-ibu. Bu Masnah termasuk yang menggalang dukungan buat mertua saya itu. ”Saat dipegang Pak Mansyur, wirid ibu-ibu jalan terus,” tukasnya.

Yang membuat saya tercenung adalah munculnya keinginan untuk memajukan tokoh Bawean ke pentas politik lokal Batam. Mubes itu menginginkan ada orang Bawean yang jadi anggota Dewan. Bahkan mertua saya itu, siap jika diusung. ”Saya malah siap teken kontrak membagi gaji saya 50 persennya untuk IKBB,” cetusnya.

Saya sama sekali tak bersemangat mendukung ide itu. Sudah hampir satu setengah tahun saya ”berkantor” di Gedung DPRD Batam, jadi tahu betul seluk beluk perpolitikan di Batam. Saya tahu betul, sifat-sifat 45 anggota Dewan yang duduk di sana. Saya ragu, ide itu baik bagi IKBB.

Bagaimana mungkin menghimpun suara untuk seorang nama, jika untuk menghadiri sebuah musyarawah besar saja, orang-orang Bawean itu tak datang. Saya pesimis akan ada satu kata. Saya ragu, cita-cita itu menjadi nyata.*****

→ 1 CommentKategori: Batam

Pijat Plus di Batam

Juli 6, 2008 · & Komentar

Selain menawarkan pijat kesehatan, beberapa panti pijat di Batam juga memberi layanan plus, seperti sex atau pijat miss call. Pijat miss call ini merupakan istilah untuk pijatan pada bagian kelamin laki-laki.

Roy (27), sebut saja begitu, termasuk yang menyukai pijat miss call tersebut. Menurut warga Batam Centre itu, ia punya langganan khusus di sebuah panti pijat di bilangan Nagoya.

Awalnya, kata Roy, tukang pijatnya melakukan pijatan biasa layaknya pijat untuk kebugaran dan menghilangkan lelah. Di tengah pijatan berlangsung, barulah ia ditawari pijat miss call itu.
Baca terus →

→ 5 CommentsKategori: Batam

Miliaran yang Hilang

Juli 6, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

pasar induk difoto cpi

pasar induk difoto cpi

PASAR Induk Jodoh makin merana. Dibangun dengan dana bermiliar-miliar rupiah, pasar yang didesain sebagai pasar tradisional termegah itu mati suri. Tak ada hiruk-pikuk transaksi jual beli. Yang ada kesepian dan wajah nelangsa pedagang menanti pembeli.

Pasar Induk yang dua tahun terakhir dikelola PT Golden Tirta Asia (GTA) dibelit masalah yang sangat kompleks. Ibarat penyakit, masalah yang mendera Pasar Induk sudah sulit disembuhkan. Mengurai satu persatu masalahnya juga sulit. Sebutlah pembeli yang sepi, bangunan yang sudah lapuk, kepemilikan sertifikat dan alih fungsi kios, retribusi, keberadaan PK-5 dan lainnya.

Bahkan, permasalahan Pasar Induk sudah dimulai sejak pertama kali pasar itu dibuka tahun 2004. Kejaksaan Negeri Batam juga pernah menyelidiki dan memeriksa sejumlah pejabat terkait adanya dugaan korupsi retribusi Pasar Induk.

Beragam masalah itu tak pernah selesai. Akibatnya, pasar itu tak pernah bisa ramai. Mimpi Pemko Batam meningkatkan kesejahteraan rakyat dari Pasar Induk itu, masih jauh api dari panggang. Begitu juga meningkatkan PAD, masih belum bisa diandalkan.

Berkunjung ke Pasar Induk kini, seperti datang ke tempat yang tak terawat. Pagar besi dan penutup selokan sudah berkarat dan sebagian hilang. Lantai sudah retak dan turun. Meja-meja hanya diisi satu-dua pedagang. Kios-kios dijadikan tempat tinggal. Aliran air mati.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Ria Saptarika yang Sering Disapa Mbak

Juli 6, 2008 · & Komentar

Saya sengaja memposting tulisan soal Wakil Wali Kota Ria Saptarika. Tulisan ini pernah dimuat di tempat saya bekerja, tapi rasanya tak salah kalau kupasang juga di blog ini. Pekan lalu, ia memberi komentar di blog ini. Kepada saya, ia mengaku selalu menyempatkan waktu membuka blog dan membalas komentar dan saran yang masuk ke blog-nya.

********

Sore itu, di suatu hari di bulan Februari ia menghubungi saya. Ria mengaku sedang berada di depan komputer. Ia mengecek komentar-komentar yang masuk di blognya.

”Hari ini, ada seratus pengunjung yang masuk,” katanya. Sampai sore itu, ada 6.071 pengunjung yang mengklik blog pribadi Wakil Wali Kota dari PKS, itu.

Untuk urusan menjawab komentar, Ria melakukannya sendiri. Biasanya, ia lakukan sepulang dari kantor atau hendak tidur. Pagi harinya, Ria sempat juga membuka blog-nya. Sedangkan urusan memasukkan berita, Ria serahkan ke stafnya.

”Kalau komentar saya jawab langsung. Kalau ngisi berita, itu saya serahkan ke staf,” tukasnya.

Sebagai Wakil Wali Kota, katanya, ia memiliki agenda yang cukup padat. Karena itulah, blog-nya hanya berisi berita-berita yang ia posting dari media. Berita-berita itu, biasanya berita yang berkaitan dengan Pemko Batam. Seperti berita soal isu keretakannya dengan Wali Kota Ahmad Dahlan atau berita mobil dinas barunya yang belum juga ia pakai

Berita-berita itulah yang biasanya di komentari pengunjung dan dijawab langsung oleh Ria. ”Ada juga yang protes, kenapa saya tak menulis. Tapi, karena saya sangat sibuk, jadi baru bisa membalas komentar,” katanya.

Seperti soal taman internet di Engku Putri yang digagasnya, sore itu dikomentari sekitar 22 pengunjung. Ada pengunjung yang menyapa Ria dengan sebutan mbak. Ria menjawab sapaan itu dengan ucapan terima kasih. ”Tapi, saya bukan mbak lho,” tulis Ria di blog-nya.

Perkenalan Ria dengan blog, diawali tahun 1997. Saat itu, blog belum begitu populer. Dua tahun kemudian, saat bekerja di PT Thomson, ia mulai memiliki blog pribadi, www.geocities.com/zhafir2000.com.

Namun, blog itu tak begitu ia up date. Baru kemudian, saat menjadi Wakil Wali Kota Batam, Maret 2006 silam, ia memiliki domain pribadi www.riasaptarika.com. Dan empat bulan lalu, ia membuat blog baru www.riasaptarika.web.id

Memiliki blog, kata Ria, ibarat melampaui dua-tiga pulau sekali kayuh. Karena di satu sisi, ia bisa meluangkan hobinya di bidang teknologi informasi. Di sisi lain, ia bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat Batam.

”Masyarakat bebas mau ngomong apa tanpa ada batasan. Sebagai Wakil Wali Kota, saya menjawab persoalan di Batam. Sebagai pribadi, saya berbagi saran dengan para blogger lainnya,” katanya.

Tak hanya Ria yang memiliki blog. Isteri dan dua anaknya juga punya blog. Www.suparti.blogspot.com milik isterinya, www.zhafir.blogspot.com dan www.zhilla.blogspot.com milik dua anaknya.

Ria punya mimpi wajudkan Batam sebagai kota cyber. Ia mengaku ingin membudayakan internet dan teknologi informasi ke masyarakat Batam. Karena itu, ia rajin mengajak pihak-pihak lain membangun taman internet di Batam.

”Kita punya sasaran mewujudkan Batam sebagai cyber city. Ini memungkinkan untuk dilakukan, karena sesuai indeks pembangunan manusia (IPM), pengetahuan teknologi internet masyarakat Batam sudah cukup baik,” kata Ria.

Taman-taman internet, kata Ria, bisa dimanfaatkan oleh warga Batam untuk mengakses informasi. Terutama oleh pelajar dan mahasiswa yang tak mempunyai cukup uang untuk ke warnet atau cafe.****

→ 2 CommentsKategori: Batam

Sajak-sajak Ghazyan

Juli 3, 2008 · 1 Komentar

Sudah aku cumbui lekuk-lekuk tubuhmu

Namun aku masih cemburui merah di lehermu

Sudah aku hirup nafas-nafas cintamu

Namun aku masih cemburui lenguh paraumu

Bertahun aku di sisimu

Namun aku masih sangsikan kepergianmu

Bertahun kau telanjang di depanku

Namun aku masih inginkan keterbukaanmu

****

→ 1 CommentKategori: Batam

Memilih Doa

Juni 28, 2008 · 1 Komentar

asanya, sudah berjuta-juta kali saya mendengar orang-orang berdoa. Mendengar orang-orang memanjatkan puja-puji. Tapi, entah kenapa baru sekarang terpikir olehku soal apakah dalam berdoa kita butuh bersopan santun?

Apakah dalam berdoa kita perlu memilih kata. Perlu mencari kalimat terbaik agar semua permintaan, semua permohonan, semua keinginan dikabulkan Tuhan.

Apakah itu perlu? Apakah Tuhan tak akan mendengar doa kita jika kita tak membacanya dengan tubuh yang bergetar. Apakah Tuhan tak akan mendengarnya jika kita tak membacanya dengan suara yang enak didengar?

Apakah itu perlu? Apakah perlu bergadang semalaman mencari kata-kata terindah, untuk kita panjatkan besok harinya kepada Tuhan. Apakah perlu kita membuka semua kamus dan menghafal jutaan kosa kata agar doa kita itu menghunjam langsung ke kursi Tuhan.

Apakah itu perlu? Apakah perlu kita menangis dalam berdoa. Apakah perlu kita mengindah-indahkan kata agar orang yang mendengarnya bergetar. Apakah itu perlu?

Apakah jika dalam doa tak kita sebut segala sifat dan keagungan Tuhan, permintaan kita tak dikabulkan? Apakah Tuhan menyeleksi doa? Lalu, ia hanya mengabulkan permintaan terbaik dari hambanya? Apakah  Tuhan hanya memilih doa yang sopan, doa yang santun ?*****

→ 1 CommentKategori: sosial

Mengunjungi Lokalisasi Pulau Amat Belanda 2

Juni 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

bar di pulau Amat Belanda

Pekerja seks komersial (PSK) alias WTS yang tinggal di Pulau Amat Belanda, Belakangpadang sudah berusia relatif tua. Umurnya kira-kira antara 27 tahun sampai 40 tahun. Banyak di antara perempuan-perempuan di sana yang dinikahi apek-apek Singapura. Biasanya, setelah menikah mereka menetap di Belakangpadang

Dia mengaku bernama Linda. Kulitnya kuning mulus. Rambutnya ikal sebahu. Wajahnya tak terlalu cantik, namun tetap menarik. Di dahinya, kerut ketuaan samar terlihat. Itu menandakan ia tak muda lagi. Juli ini, Linda berumur 35 tahun.

Perempuan seumuran Linda, tentu kalah menarik dibandingkan pramuria lain yang berumur di bawah 30 tahun. Apalagi untuk terjun ke dunia prostitusi, sulit bersaing dengan yang muda-muda. Kondisi Pulau Amat Belanda yang sepi, memperparah keadaannya. Ia jarang mendapat tamu.

”Di sini sepi, jarang ada yang datang. Biasanya yang datang sudah punya langganan. Saya hanya cukup untuk makan,” tuturnya setengah berbisik.

Linda termasuk yang lebih terbuka. Banyak PSK lain yang enggan berbicara, begitu tahu kedatangan saya untuk menulis tentang pulau Amat Belanda. Panggilan manja yang tadinya renyah terdengar, berganti dengan mulut yang terkunci rapat. Saya harus berkali-kali keliling kampung untuk mendapat cerita tentang kehidupan pramuria dan PSK di sana, sebelum akhirnya bisa berbincang dengan Linda.

Linda ternyata baru sebulan berlabuh di Amat Belanda. Ia datang dari Karawang, Jawa Barat. Cerita manis dari orang yang mengajaknya, bahwa Pulau Amat Belanda sangat ramai dan menawarkan penghasilan yang banyak, membuat ia tergiur. Dimantapkanlah niatnya untuk menyabung nasib di tempat yang jauhnya beribu-ribu mil dari rumahnya.

Ternyata, pulau Amat Belanda sangat jauh dari apa yang ia bayangkan. Tak ada gemerlap kota. Tak ada mal ataupun pusat hiburan seperti di Jakarta. Ia merasa tertipu. Hatinya patah.

Ia kecewa bukan karena jatuh ke lokalisasi. Tapi, ia menjerit karena pulau Amat Belanda kondisinya begitu memprihatinkan. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan cipratan dolar dari apek-apek Singapura. ‘’Kalau saya punya uang untuk pulang, saya tak mau ke sini lagi. Bawalah saya pergi, ada duit nggak,” tuturnya.

Linda masuk Pulau Amat Belanda karena ekonomi keluarganya terpuruk. Ia sudah empat kali menjanda. Di Karawang, ia harus menanggung dua anak yang beranjak remaja. Sepanjang hidupnya, ia mengaku banyak mengalami kegetiran. Empat kali perkawinannya gagal. Suaminya kawin lagi.

”Saya menjerit kalau ingat anak. Tapi saya percaya akan ada jalan. Saya percaya akan ada kisah manis nanti,” ucapnya.

Namun, tak semua PSK bernasib getir seperti Linda. Banyak juga yang enjoy menikmati hidup sebagai penghibur laki-laki hidung belang. Banyak yang malah mempertahankan eksistensinya dengan memasang susuk agar pesonanya tetap bisa menjerat laki-laki yang datang ke Pulau Amat Belanda.

Seperti yang dilakukan seorang PSK, sebut saja bernama Juwita. Ia memasang susuk agar tetap laku, meski tubuhnya tak lagi langsing seperti dulu. Juwita, mati-matian mempertahankan susuknya. Ia ketakutan setengah mati, saat ditawari temannya makan pisang emas. ”Jangan, jangan. Nanti, susuk saya lepas,” tukasnya.

Menurut seorang pemilik bar, apa yang dirasakan Linda ada benarnya jika melihat kondisi Pulau Amat Belanda yang sepi senyap. ”Yang kami punya hanyalah semangat bertahan hidup,” kata perempuan asal Sulawesi, itu.

Padahal dulu, katanya, Pulau Amat Belanda banyak menarik laki-laki. Tak hanya pria-pria tua Singapura atau biasa disebut apek yang datang. Pria lokal pun banyak yang bermalam. Dulu, penghuni bar di Amat Belanda juga banyak yang akhirnya dijadikan isteri oleh apek-apek atau pemuda lokal tadi. ”Banyak anak-anak sini yang kawin dan menetap di Belakang Padang. Bagi kami, tak masalah. Mereka kami lepas tanpa jaminan,” tuturnya.

Setiap akhir pekan, katanya, apek-apek yang sudah menikahi gadis bar tak lagi datang ke Amat Belanda. Tapi, langsung menemui isteri mereka yang ada di Belakangpadang. Di Belakangpadang mereka menyewa rumah untuk isterinya.

Menurut pemilik bar itu, minimnya perhatian pemerintah membuat Pulau Amat Belanda seperti kota mati. Tak ada pembinaan bagi para PSK di sana. Juga sudah beberapa tahun terakhir tak pernah ada penyuluhan. ”Pulau ini seperti dilupakan,” katanya.

Mengunjungi Pulau Amat Belanda tak hanya melihat kehidupan PSK. Ada banyak anak-anak yang sulit mendapatkan pendidikan. Bersekolah bagi anak-anak di Pulau Amat Belanda biayanya mahal. Mereka harus naik sampan atau pompong ke Belakangpadang, lalu naik becak atau ojek lagi. Karena di Amat Belanda tak ada sekolah. ”Untuk berobat gratis, kami juga harus ke Belakang Padang,” kata Calak, sang Ketua Kampung.

Sementara tak banyak yang bisa diharapkan warga Pulau Amat Belanda di tengah sepinya lokalisasi. ‘’Kami mau bercocok tanam, tanahnya tak ada. Mau bikin kerajinan, dari mana bahan bakunya. Mau ke laut juga susah,” tutur Calak.
Gambaran kemiskinan warga Pulau Amat Belanda, kata Calak, bisa dilihat dari banyaknya warga yang mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT). Dari 60 kepala keluarga yang ada, 24 di antaranya mendapatkan BLT. ‘’Itu karena datanya pakai data lama. Kalau dihitung lagi, bakal banyak yang berhak dapat BLT,” tukasnya.

Saat ini, kata Calak, warga Pulau Amat Belanda sangat berharap pada rencana pembangunan resort di Pulau Lengkana di seberang Pulau Amat Belanda. ”Mudah-mudahan cepat terealisasi dan kami juga merasakan dampaknya,” katanya. ***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Mengunjungi Lokalisasi Pulau Amat Belanda 1

Juni 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lokalisasi Amat Belanda
Pulau Amat Belanda di Belakangpadang atau biasa disebut Pulau Babi sempat sangat terkenal di awal tahun 90-an. Di sanalah, berdiri sebuah lokalisasi yang biasa dikunjungi warga Singapura dan pelaut. Kini setelah 18 tahun berlalu, detak kehidupan Pulau Amat Belanda hampir mati.

Pulau Amat Belanda merupakan perkampungan berpenduduk sekitar 60 kepala keluarga. Pulau itu masuk wilayah Kelurahan Sekanak Raya, tepatnya di RT 03 RW 04. Luas pulau yang dulu juga pernah menjadi kawasan ternak babi itu tak diketahui pasti. Pasalnya, rumah-rumah di sana berdiri di atas laut mengelilingi pulau itu. Yang benar-benar bisa disebut darat, mungkin hanyalah segundukan bukit tempat berdirinya surau Nurul Iman.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Mobil Kecelakaan

Juni 16, 2008 · 1 Komentar

mobil-mobil parkir di BatammSetiap bulan, rata-rata lebih dari sepuluh kecelakaan terjadi di jalan raya. Korban meninggal, hingga akhir Agustus lalu mencapai 40 orang. Banyak di antara para pemilik mobil yang bertabrakan, tak mengambil lagi mobilnya di Poltabes Barelang. Seiring berlalunya waktu, puluhan mobil itu menumpuk dan menjadi rongsokan besi tua.
******
Sebuah cover kaset original sountrack film Heart tergeletak di jok depan Isuzu Panther warna merah yang terparkir di antara tumpukan mobil-mobil bekas kecelakaan di samping Mapoltabes Barelang. Tak ada barang lain di dalam mobil itu, selain pecahan kaca dan bekas tape mobil yang dibongkar.

Cover itu menjadi saksi bisu kecelakaan mobil bernomor BM 1019 HB itu. Sekaligus memberi tanda bahwa Isuzu Panther itu setidaknya baru mengalami kecelakaan di rentang waktu empat bulan terakhir ini, sesuai dengan jadwal peluncuran film Heart, pertengahan April silam.

Isuzu Panther itu sendiri sudah rusak dan ringsek di sana-sini. Kaca depan sudah tak ada lagi. Begitu juga di bagian samping dan belakang. Ceceran pecahan kaca terlihat di bagian pintu dan jendela mobil. Lampu mobil juga sudah pecah dan sebagian sudah tak utuh lagi. Ban bagian belakang pecah. Velg-nya juga bernasib sama.

Tak jauh dari Panther itu, sebuah taksi berplat kuning juga bernasib sama. Sebagian body mobil sudah berkarat dan mesinnya juga aus terkena hujan dan panas. Hampir tak ada lagi bagian yang bisa difungsikan pada taksi itu, selain harus rela disebut sebagai besi tua.
Baca terus →

→ 1 CommentKategori: Batam

Pulau Puteri, Pulau Terluar Batam

Juni 15, 2008 · 1 Komentar

di ujung indonesia
Tak setenar pulau Nipa, pulau Puteri termasuk salah satu pulau terluar Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura. Pulau ini bentuknya memanjang kira-kira sepanjang 199 meter dengan garis tengahnya tak lebih dari 50 meter. Setiap akhir pekan sering dikunjungi wisatawan lokal. Konon, pulau ini sering meminta tumbal pemuda lajang.
******
Bayang-bayang gedung pencakar langit Singapura terlihat samar. Langit yang berawan, Minggu (8/6) pagi, membuat lekuk-lekuk bangunan itu tak bisa dilihat jelas dari kejauhan 12 mil di pulau Puteri, Nongsa. Tapi, berdiri di bibir pantai pulau Puteri, kita bisa tetap menikmati aroma perbatasan yang kental.

Gedung pencakar langit di seberang timur tampak gagah menantang. Sementara di sebelah barat, rumah-rumah panggung dan semi permanen di bibir pantai Nongsa seperti lemah berdiri. Dua pemandangan yang kontras itu bisa kita nikmati di satu pijakan, di pulau Puteri.
Baca terus →

→ 1 CommentKategori: Batam

Perpustakaan Daerah Menyedihkan

Juni 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nina ND (30-an), warga Perumahan Centra Melati, menatap lekat-lekat novel bersampul biru di rak buku. Tangannya bergerak mengambil novel itu, membaca sinopsisnya sebentar, kemudian meletakkan novel karya Nora Robert, itu ke pangkuannya.

”Saya suka novel terjemahan. Setiap kali ada duit, saya pasti beli,” tuturnya, di toko buku Gramedia BCS.

Rabu (21/5) siang itu, merupakan kunjungan ketiga Nina ke Gramedia di bulan Mei. Setiap kali ke sana, ia pasti membawa pulang dua tiga buku. Favoritnya, novel terjemahan dan buku memasak. Seperti kemarin, misalnya, ia membeli novel dan buku memasak.

Nina lancar menyebut nama pengarang novel favoritnya. Ada John Grisam, Nora Robert, Eric Seagal, Sandra Brown dan lain-lain. Koleksinya juga sudah ratusan. ”Saya letakkan saja di kotak. Saya tak punya tempat khusus di rumah,” katanya.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Lima Tahun Menyapu Jalan Batam

Juni 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

petugas kebersihan
Pagi baru merekah, Magdalena (43) sudah meninggalkan rumahnya di ruli belakang Komplek Pengairan Otorita Batam, Seiharapan. Berbekal sapu bergagang panjang di bahu dan plastik di tangan, ia berangkat ke simpang Seiharapan untuk menyapu jalan.

Itulah aktivitas sehari-hari Magdalena, janda beranak dua yang sejak lima tahun terakhir menjadi petugas kebersihan di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Batam. Seperti Selasa (3/6) kemarin, ia menyapu daun-daun yang gugur di sepanjang jalan dari simpang Seiharapan hingga ke persimpangan menuju Kartini I.

Peluh menetes di wajah Magdalena. Sejak pukul enam pagi, ia sudah bekerja menyapu kotoran-kotoran di sepanjang jalan yang menjadi tanggung jawabnya. Pekerjaan Magdalena baru berakhir pukul 12 siang.

Namun, wanita kelahiran Lembata Flores itu tak mengeluh. Ia mengaku sudah terbiasa. Rasa lelah menyapu jalan, sudah ia anggap seperti rasa lelah saat berolah raga atau menari. ”Awal-awalnya sih capek. Sekarang sudah seperti main-main saja,” katanya.

Magdalena menjadi penyapu jalan sejak tahun 2003. Saat itu, ia digaji harian Rp23 ribu per hari. Sekarang, ia sudah mendapatkan gaji bulanan. Besarnya, Rp960 ribu atau sesuai dengan UMK Batam.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Kehidupan Siswa Pesisir

Juni 15, 2008 · 1 Komentar

anak pesisirDemi masa depan. Itu alasan yang melatarbelakangi kegigihan siswa-siswa di kawasan pesisir (hinterland) Batam menyeberangi bermil-mil lautan dan berkilometer daratan untuk sekolah. Di tengah keterbatasan, cita-cita jadi dokter pun dipatri.
*****
Udara pantai yang dingin menyapa penduduk Pulau Nguan, Galang, Selasa (8/4) pagi. Jam menunjukkan pukul lima pagi, seperti biasa Sapri (17) sudah terbangun. Siswa kelas 2 SMAN 10 Batam di Sijantung itu menguap sebentar, merasakan dingin yang segar.

Sapri kemudian beranjak menuju bagian belakang rumahnya. Mengambil air wudhu, dan salat subuh. Setelah itu, ia meregang-regangkan tangan dan kakinya, sebuah kebiasaan rutin yang ia lakukan sebelum berangkat sekolah.

Usai sarapan, ia bergegas ke pelantar kayu tempat penambang pompong menunggu. Ada enam siswa lain yang sudah ada di pelantar. Tujuannya sama, menuju pelabuhan kecil di kawasan keramba kerapu di seberang pulau Nguan.

Sekitar 20 menit di atas pompong atau sampan bermesin tempel, rombongan Sapri tiba di darat. Sapri merogoh koceknya, mengeluarkan selembar uang seribu rupiah kepada penambang pancung. Uang seribu rupiah itu merupakan ongkos naik pancung anak-anak sekolah pulau Nguan.

Dari keramba kerapu, mereka mendaki perbukitan rendah. Kali ini mereka jalan kaki ke pinggir jalan beraspal, menunggu bus sekolah gratis yang lewat setiap pagi. Sejak dua hari ini, Sapri dan anak-anak pesisir lainnya menggunakan bus sekolah gratis dari Pemko Batam. Untuk anak-anak pulau Nguan, titik penjemputannya di pinggir jalan, simpang Pulau Nguan.
Baca terus →

→ 1 CommentKategori: Batam

Adipura

Juni 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya membayangkan sebuah senyum yang mengembang. Saya membayangkan sebuah tawa lepas. Saya membayangkan kegembiraan yang membuncah. Saya membayangkan rombongan Batam yang dipimpin Wali Kota Ahmad Dahlan berfoto ria di sudut-sudut istana negara.

5 Juni 2008 ini, Batam kembali mendapatkan piala Adipura. Sebuah penghargaan yang diberikan kepada kota yang berhasil mengelola dan menjaga kebersihannya. Hari ini, piala itu merupakan piala kedua. Besok, pasti akan diarak keliling kota.

Saya menulis soal Adipura ini, sebagai bentuk apresiasi saya pada Kadis Pertamanan dan Kebersihan Batam Azwan. Ia beberapa kali mengirim SMS dan mengabarkan Batam dapat piala Adipura lagi. ”Saya tak bisa tidur. Nunggu penyerahan piala Adipura besok.”

Saya tahu, piala Adipura baginya sangat berarti. Bukan karena di tangan dia, Batam bisa meraih dua kali Adipura. Tapi, juga dengan Adipura kerja-kerja keras dia bisa dinilai dengan kasat mata.

Saat para kadis lain di Pemko Batam sedang menyeruput kopi manis dan jajanan hangat di pagi hari, Azwan sudah bermandi peluh di jalanan. Ia tipe kadis pekerja keras. Terlepas beragam pendapat miring soal layak atau tidaknya Batam meraih Adipura, Azwan tetaplah sosok pekerja.

Saya teringat, saat Azwan didemo sejumlah warga karena memacak gambar tengkorak lambang bajak laut di sebuah kantor kelurahan. Gambar bajak laut itu dipasang Azwan sebagai bentuk ”protes”-nya, karena kelurahan itu ia nilai terkotor.  Ia berharap setelah itu, ada yang berubah.

Lalu, entah kenapa saya teringat akan pertanyaan seorang anggota Dewan. Kalau Batam dapat Adipura lagi, apa keuntungannya buat Batam? ”Jangan-jangan, kita hanya memburu Adipura, tapi mengabaikan pelayanan pada masyarakat.” Jawaban itu keluar sendiri dari mulut anggota Dewan itu.

Tapi, biarlah pertanyaan-pertanyaan soal layak atau tidaknya Batam mendapat Adipura, menjadi perdebatan tersendiri. Saya hanya ingin membayangkan semua senyuman lepas. Saya hanya ingin membayangkan, tahun depan, pasti piala Adipura itu akan dijadikan lagi sebagai kebanggan bagi Wali Kota di tahun ketiga kepemimpinannya. ”Dua tahun jadi Wali Kota, dua kali Batam dapat Adipura.” Selamat Pak Wali. Selamat Pak Azwan.*****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · sosial

Jembatan Barelang

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah hampir sembilan tahun berdiri, Jembatan Barelang yang dibiayai lebih dari Rp400 milyar tak kunjung memberi manfaat luar biasa pada wilayah Rempang-Galang yang dirangkai enam jembatan itu. Jembatan ini baru sekadar jadi ”maskot”, memperkenalkan Batam ke dunia luar. Selebihnya, tempat para penjaja makanan mencari rezeki atau tempat warga bercengkrama.
****
Awan hitam menaungi jembatan Tengku Fisabilillah, Minggu (27/5/2007) tengah hari. Sejumlah muda-mudi terlihat membelakangi jembatan I tersebut sambil memandangi laut biru di bawahnya yang mengalir tenang. Puluhan sepeda motor terparkir di pinggir jembatan, terselip di antara sejumlah mobil yang berhenti di jembatan itu.

Di antara sejumlah warga yang berpose mengabadikan momen kunjungan mereka, Syafri (33) warga Seipanas sibuk melayani pembeli rujak buah di gerobaknya. Setiap minggu, pria dengan dua anak itu selalu menjajakan rujak buah di jembatan I itu. Alasannya, karena di hari Minggu itu jembatan tersebut dipadati pembeli.

”Paling enak kalau cuacanya seperti ini. Mendung, tapi tak hujan. Orang-orang akan lebih ramai datang. Lautpun tenang, pasti banyak yang mancing,” tukas Syafri yang mengaku rujaknya bisa laku Rp400 ribu setiap hari Minggu.

Syafri tak membuang-buang waktu. Setiap kali selesai melayani pembeli, ia langsung beredar lagi mengelilingi jembatan sepanjang 642 meter dengan ketinggian 38 meter dari permukaan laut. Bersama Syafri ada sejumlah penjual buah lain dan penjual kepiting goreng. Mereka bertahun-tahun mencari nafkah dari ramainya kunjungan ke jembatan ini.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Hidup di Tengah Sampah

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagian besar warga Batam bisa protes ke Dinas Pasar dan Kebersihan, kalau tumpukan sampah di perumahan mereka tak diangkut. Namun, di Kampung Agas Tanjunguma berton-ton sampah yang menumpuk di sela-sela rumah panggung mereka, seakan sudah menjadi teman abadi mereka sejak tiga tahun terakhir. Setiap kali diangkat, sampah-sampah itu datang kembali.
*****
Tiga anak kecil berkejar-kejaran di atas pelantar yang tiangnya sudah terlihat lapuk di makan usia, Kamis (18/1). Anak-anak Kampung Agas tersebut berlari tanpa takut, meski tiang-tiang tersebut bergetar akibat hentakan kaki mereka. Di persimpangan pelantar, mereka berhenti. Lalu turun ke laut, yang kemarin kebetulan airnya sedang surut.

Laut yang mereka injak, bukanlah laut dengan pasir putih dan berair biru. Namun, laut dengan berton-ton sampah rumah tangga seperti sampah plastik. Sampah-sampah itu menebar aroma tak sedap, tapi anak-anak kecil itu tak mempedulikannya. Mereka sudah terbiasa dengan sampah-sampah itu.

Menurut Yusmidar (42) warga Kampung Agas RT 5 RW 4 Tanjunguma, tumpukan sampah-sampah yang hampir menghampar di seluruh Kampung Agas tersebut sudah ada sejak tiga tahun terakhir. Bila hujan turun atau air laut pasang, sampah-sampah itu mengambang menimbulkan aroma busuk.

”Sudah 12 tahun saya tinggal di sini. Baru tiga tahun terakhir, sampah-sampah ini datang. Biasanya di musim kemarau, sampah-sampah itu kami angkut dan kami bakar di belakang. Namun, karena sampah terus datang, kami tak sanggup lagi,” ujar penjual jajanan pasar itu.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · getir · sosial

Penjualan Bayi ke Singapura

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Beli Rp6 Juta, Dijual ke Singapura Rp30 Juta

Polsekta Lubukbaja Barelang, Senin (9/1/2006), mengamankan empat bayi yang sedianya bakal dijual ke Singapura. Bersama mereka, Polsekta Lubukbaja juga mengamankan lima wanita yang diduga terlibat dalam penjualan bayi itu.

Tangis bayi terdengar bersahutan dari lantai dua markas Polsekta Lubukbaja Batam, Senin (9/1) petang. Tangis bayi itu keluar dari dua bayi laki-laki, yang tergeletak di atas meja bilyard. Dua bayi lain, terlihat tenang menatap sejumlah polisi yang memperhatikan mereka.

Suasana Polsekta Lubukbaja petang itu memang tak seperti biasa. Polisi-polisi yang biasanya berwajah tegang, petang itu tak henti-hentinya tersenyum menatap ulah para bayi itu. Bayi-bayi tak berdosa berumur sekitar satu hingga dua bulan itu, diamankan polisi dari tangan sindikat penjualan bayi yang sudah beroperasi setahun terakhir ini di Batam di Perumahan Ramandah Indah Lubukbaja Blok E nomor 6.

Meski mendapatkan informasi ada sindikat penjualan bayi di Batam, awalnya, Polsekta Lubukbaja kesulitan membongkar kasus itu. Pasalnya, A Hua (44) yang disebut-sebut sang informan sebagai pelaku utaman penjualan bayi itu tak mau bicara, saat diamankan dari sebuah rumah di Kampung Utama Batam bersama seorang bayi laki-laki berumur dua bulan yang diakuinya sebagai anak angkatnya.

Sekitar enam jam lebih, A Hua diperiksa, akhirnya ia mengaku bayi yang digendongnya adalah anak orang lain yang rencananya akan ia jual ke A Kik (30-an) seharga Rp6 juta. ‘’Ia kemudian menunjukkan tempat bayi lainnya yang sudah ia kumpulkan,’’ kata Kanit Reskrim Polsekta Lubukbaja Iptu Taufik Hidayat.

Jajaran Polsekta Lubukbaja kemudian bergerak ke Perumahan Ramanda Indah, Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam, tempat yang ditunjuk A Hua. Di sana, polisi bertemu A Kik. Namun, seperti A Hua, A Kik awalnya tak mengaku juga. Tapi polisi yang juga menemukan tiga bayi bersama tiga pengasuhnya tak percaya begitu saja. Mereka kemudian digiring ke Polsekta Lubukbaja.

Ternyata, pertahanan A Kik tak sekuat A Hua. Ia langsung mengakui kalau ia sudah dua kali mengirimkan bayi ke Singapura dalam setahun terakhir ini. Kepada penyidik A Kik mengaku membeli bayi-bayi itu seharga Rp6 juta dan ia menjualnya lagi seharga Rp30 juta ke Singapura.

Sebelum dijual ke Singapura, bayi-bayi itu dirawat di rumah A Kik di Ramanda Indah. A Kik tak sendirian merawat bayi-bayi itu, ia mempekerjakan pembantu yang ia gaji Rp25 ribu per hari. Bayi-bayi itu harus sehat, karena bila sakit-sakitan, tak akan laku di jual ke Singapura.

Meski mengakui sebagai penjual bayi, A Hua bungkam soal asal bayi-bayi itu ia dapatkan. Saat dikonfrontasi dengan A Kik, A Hua juga berkelit. Perempuan yang hanya fasih berbahasa mandarin dan terpatah-patah dalam berbahasa Indonesia itu memberikan keterangan berbelit-belit. Wartawan yang mencoba mewawancarainya juga tak mendapatkan jawaban pasti.

Hingga kemarin, penyidik masih memeriksa para tersangka, termasuk A Hua. Bayi-bayi itu sebagian ternyata memiliki akte kelahiran. Ini dilakukan A Kik untuk mengelabui, agar tak ketahuan bayi-bayi yang ia simpan di rumahnya adalah bayi korban trafiking.

Di Batam, kasus trafiking sudah lagi bukan hal aneh. Banyak wanita yang dijual untuk dipekerjakan sebagai wanita pekerja seksual ke Singapura. Namun, penjualan bayi dengan bukti empat bayi seperti yang diungkap Polsekta Lubukbaja dalam catatan koran ini, merupakan yang terbesar di Batam.

Menurut Kapolsek Lubukbaja AKP Karimuddin Ritonga SIK, pihaknya menduga bayi-bayi yang telah dijual oleh A Hua dan kawan-kawannya itu lebih banyak dari yangg diamankan polisi. ‘’Ini baru yang kita amankan. Informasi lain, masih ada anak lain yang tinggal bersama tersangka yang diduga adalah bayi yang tak laku di jual ke Singapura. Anak itu sekarang sudah besar, dan karena tidak laku, diakui tersangka sebagai anak angkatnya,’’ kata Karimuddin.

Kemarin, bayi-bayi itu dirawat keluarga anggota Polsekta Lubukbaja. Sebelumnya, polisi pun mendatangkan ibu-ibu yang merupakan tetangga-tetangga anggota kepolisian untuk membantu mengasuh para bayi itu. Diantara warga Batam, sudah ada yang menghubungi penyidik untuk mengadopsi bayi-bayi tak berdosa itu.
*****
Bayi-bayi mungil yang berhasil diamankan Polsekta Lubukbaja Barelang, Senin (9/1) lalu, kini terlihat lebih segar. Dalam asuhan keluarga anggota kepolisian yang merawatnya, bayi-bayi itu menemukan kehangatan keluarga.

Wartawan koran ini, kemarin menemui salah satu keluarga yang mengasuh bayi korban trafiking itu di asrama polisi Baloi Batam. Bayi perempuan berumur sekitar satu bulan lebih itu, oleh keluarga tersebut diberi nama puteri. ”Karena perempuan, kami memanggilnya Puteri,” kata Bintara anggota Polsekta Lubukbaja yang enggan disebut namanya itu.

Puteri, terlihat lebih segar. Pancaran matanya terlihat bercahaya, menatap pasangan muda yang merawatnya itu. Puteri juga mulai akrab dengan keluarga barunya. Beberapa kali ia dicandai, dan matanya sering kali tak lepas menatap isteri bintara itu.

”Dia tak rewel. Sejak pertama kali kami rawat, ia langsung akrab dengan suasana rumah ini. Kalau malam, tak suka nangis,” kata isteri sang bintara sambil tersenyum menggendong puteri.

Bak mengerti ucapan orang tua barunya, Puteri terlihat tersenyum. Keluarga itu, kini juga punya kesibukan baru. Mereka menyediakan baju-baju dan keperluan bayi lain, seperti popok dan susu bayi. Kebetulan, keluarga bintara itu belum dikaruniai anak.

Tiga bayi lain, dua laki-laki dan satu perempuan yang umurnya tak jauh beda dirawat keluarga polisi lainnya. Bayi-bayi itu dipastikan mendapatkan perawatan terbaik layaknya anak kandung sendiri.

Kapolsekta Lubukbaja Batam AKP Karimuddin Ritonga mengatakan, empat bayi itu diasuh oleh orang tua barunya itu untuk sementara waktu. ”Bayi-bayi itu mendapatkan perawatan yang baik. Soal adopsi anak, nantinya harus mengikuti prosedur dan ketentuan yang ada,” kata Karimuddin.

Sementara itu, A Kik ,30, salah satu tersangka penjualan bayi ke Singapura kemarin masih terus diperiksa penyidik Polsek Lubukbaja. Kemarin, A Kik menangis tersedu-sedu saat penyidik menyampaikan padanya ia telah melanggar pasal 79 dan 83 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun.

Wanita keturunan Tionghoa itu, menundukkan muka, mengusap air matanya dengan tangan kanannya. Ia terduduk lemas di kursi berhadapan dengan penyidik yang memintainya keterangan. Saat pertama kali diwawancarai wartawan begitu ditangkap, A Kik tak memberikan jawaban mengenai bagaimana caranya ia menjual bayi-bayi itu.

Kanit Reskrim Polsekta Lubukbaja Iptu Taufik Hidayat mengatakan, pihaknya masih memintai keterangan mengenai asal mula bayi itu didapatkan dan modus operasi penjualan bayi yang diduga melibatkan sindikat besar itu.

Berita acara perkara (BAP) kasus penjualan bayi itu, kata Taufik, tak bisa cepat terselesaikan, karena banyaknya kunjungan ke Polsek Lubukbaja dari pihak dan instansi lain yang ingin mengetahui soal pengungkapan kasus penjualan empat bayi itu. ”Tolong, beri waktu dulu penyidik menyelesaikan BAP-nya. Sejak kemarin, tamu banyak berdatangan. Kami ingin BAP-nya cepat selesai, biar segera diserahkan ke kejaksaan,” katanya.

Keterangan sementara yang didapatkan penyidik, lanjut Taufik, bayi-bayi itu didapatkan dari Medan Sumetera Utara dan Tanjungpinang Kepulauan Riau. Beberapa saksi yang dimintai keterangan, kata Taufik, mengatakan, bahwa tersangka utama A Hua, 44, telah melakukan praktik jual beli bayi sejak tujuh tahun yang lalu.

”Namun, pengakuan tersangka baru setahun terakhir ini. Untuk tersangka A Kik ini mengaku baru dua kali menjual bayi ke Singapura. Bayi itu dibawa langsung menemui pembelinya, namun itu hanya pengakuan sementara. Soalnya pengakuan tersangka berubah-ubah,” tambahnya.

Sebelum mendapatkan pembeli, kata Taufik, bayi itu dirawat terlebih dahulu. A Kik mempekerjakan pengasuh bayi dengan upah per hari Rp25 ribu dan ada yang digaji Rp600 ribu per bulan.

Meski menduga ada sindikat besar dibalik para tersangka, Taufik mengatakan, masih menyelidikinya. Begitu juga soal bagaimana cara pembeli bayi di Singapura itu menghubungi A Kik. ”Itu yang ingin kami ketahui. Kasus ini melibatkan sindikat besar, mereka saling bungkam,” tambahnya.

Polsekta Lubukbaja pertama kali menangkap A Hua, 44, dengan seorang bayi laki-laki. Kemudian mereka mengamankan A Kik yang membeli bayi Rp6 juta dari A Hua dan menjualnya lagi Rp30 juta. Selain itu Polsek juga mengamankan tiga pengasuh bayi, masing-masing Tan, 40-an, A Miu, 30-an dan Amoi, 30-an yang diduga juga terlibat.

Selain itu, wartawan koran ini juga memantau rumah Blok E nomor 6 di Komplek Perumahan dan Pertokoan Ramada Indah Lubukbaja Batam, tempat dimana tiga bayi ditemukan. Kemarin, rumah bertingkat bercat kuning itu pintunya terbuka. Dua gadis muda, kira-kira berumur 18 dan 9 tahun, terlihat turun dari lantai dua rumah itu.

Wartawan koran ini yang mencoba menanyai dua gadis kecil itu, soal penghuni rumahnya, tak mendapatkan jawaban. Dua gadis itu hanya berujar pendek, ”Tak tahu.” Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan tak muncul lagi. Dari lantai atas rumah itu, terlihat seseorang mengintip dari balik jendela.

Sejumlah tetangga rumah tak terlihat. Hujan yang terus mengguyur Batam, sepertinya membuat mereka memilih berdiam di dalam rumah. Beberapa tukang bangunan yang bekerja di Blok E perumahan itu mengaku tak pernah melihat ada bayi dibawa keluar dari rumah itu.

”Saya tahunya dari koran dan TV, kalau rumah nomor enam itu dijadikan tempat penjualan bayi. Biasanya yang keluar rumah, ibu-ibu gemuk mengantar anak keluarga itu. Kalau bayinya tak pernah kelihatan,” kata Prayitno, 34, tukang bangunan asal Blitar Jawa Timur yang sudah 14 tahun tinggal di Batam itu.

Prayitno dan rekan-rekannya yang sedang mengerjakan rumah di Blok E nomor 1 mengaku sudah dua bulan tinggal di barak tukang bangunan di perumahan itu. Selama ini, kata Nasir, 31, teman Prayitno, warga di Perumahan Ramada cenderung menutup diri dan tak pernah terlihat bersosialisasi dengan tetangganya.

”Kebanyakan yang tinggal di perumahan ini, hanya ngontrak. Kadang ada yang hanya terlihat satu kali dalam sebulan. Yang ngontrak rumah ini, banyak warga Singapuranya,” katanya.******

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · getir · sosial

Simpang Jam di Batam

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Simpang Jam

Simpang Jam

Nama Simpang Jam, sebuah persimpangan jalan empat arah dengan ciri khas jam dinding berdiri tegak di salah satu titiknya ini sangat populer di telinga warga metro. Entah karena saking populernya atau karena tak pernah ada plang nama jalan di kawasan Simpang Jam, tak banyak yang tahu ada tiga nama jalan dimulai dari Simpang Jam ini.
******
Ada Jalan Sudirman yang membentang sepanjang jalan dari Simpang Jam ke arah Nongsa hingga persimpangan jalan berikutnya yang dikenal dengan Simpang Kabil. Jalan ke arah Sekupang hingga simpang Seiharapan bernama Jalan Gajahmada. Sementara yang menuju Seraya bernama Jalan Yos Sudarso.

Satu titik lain menuju Batam Centre, hingga kini belum bernama. Jalan ke arah pusat pemerintahan Kota Batam ini lebih dikenal dengan nama perumahan atau komplek pertokoan yang berdiri sepanjang jalan raya menuju Batam Centre.

Namun nama-nama jalan yang menggunakan nama pahlawan itu tenggelam, kalah populer dibandingkan dengan nama simpang jalan, seperti Simpang Jam yang sudah kadung melekat di benak warga Batam. Para pendatang baru pun langsung familiar dengan nama Simpang Jam.

Lihat saja apa yang diucapkan para supir taksi atau supir metrotrans yang biasa mangkal di kawasan Mukakuning atau kawasan lain. Mereka pasti akan menyebut nama Simpang Jam saat hendak menawarkan tumpangan kepada para penumpangnya. Sang calon penumpang pun langsung mengerti.

Badrus (26) salah satu warga Mukakuning yang terbiasa naik taksi menuju Simpang Jam ini misalnya, tak pernah menyebut nama jalan lain jika hendak ke Sekupang dari Mukakuning. ”Ya biasa. Saya bilang ke Simpang Jam. Dari Simpang Jam saya naik taksi lagi ke Sekupang. Tinggal bilang Simpang Seiharapan saja. Kan di Batam tinggal nyebut nama simpangnya,” katanya.

Simpang Jam hanyalah salah satu contoh persimpangan yang namanya mengalahkan nama jalannya. Masih ada simpang lain, seperti Simpang Kuda di Seipanas atau Simpang Kabil. Bahkan nama Simpang rujak di Seraya, lebih populer dari pada nama Jalan Yos Sudarso.

Belum lagi, nama Simpang Dam di Mukakuning yang mengalahkan nama Jalan Suprapto. Simpang Lippo yang menggantikan nama Jalan Imam Bonjol. Bahkan, warga kini menyebut nama Simpang Indosat bagi persimpangan tiga Jalan Raden Patah dan Bunga Raya yang baru ditempati kantor PT Indosat sekitar tiga bulan terakhir ini.

Kebiasaan warga metro menyebut nama tempat dengan sebutan tempat itu, membuat nama jalannya hampir tak pernah disebut. Belum lagi, nama sebuah jalan sering berubah seiring dengan hadirnya sebuah komplek pertokoan atau perumahan baru di kawasan itu.

Tak hanya biasa menyebut nama kawasan, warga metro juga terbiasa menuliskan nama jalan di tokonya atau instansinya semaunya tanpa memperhatikan nama jalan yang telah diberikan pada kawasan itu.

Lihat saja di daerah Seipanas menuju Bengkong. Ada sebuah rumah sakit yang mencantumkan nama Jalan Raya Seipanas di plang nama rumah sakitnya, padahal di daerah itu jalannya bernama Jalan Laksmana Bintan. Di sebelahnya, ada toko yang mencantumkan nama Jalan Baloi Harapan di plang nama tokonya. Bahkan di sebelahnya lagi, ada warung yang mencantumkan nama Jalan Raya Bengkong Indah di bawah nama warungnya.

Jadinya, di sepanjang Jalan Laksmana Bintan itu, ada empat nama jalan yang terpampang. Padahal sejumlah instansi pemerintah di Seipanas seperti SMPN 6 atau Puskesmas Seipanas, jelas memampangkan nama Jalan Laksmana Bintan di plang namanya.

Sementara di sepanjang jalan raya Tiban, nama Jalan Gajahmada malah sama sekali tak tercantum. Komplek pertokoan atau perumahan lebih senang memakai nama kompleknya dari pada nama jalannya. Lihat saja, komplek pertokoan di Tiban Centre. Bahkan, kantor KPU Provinsi Kepri, memasang alamat Tiban Centre di plang namanya tanpa menyebut Jalan Gajahmada.

Terbiasanya menyebut nama kawasan tanpa nama jalan itu, juga terlihat di hampir semua surat yang dikirim lewat PT Pos Indonesia. ”Kalau itu sudah biasa. Yang penting ada nama Komplek dan nomor rumahnya, pasti suratnya kami antar,” kata Rahman Supervisor Antaran/Ekspedisi PT Pos Indonesia Batam.*****

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · sosial

Sepinya Kotak Pengaduan

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bertahun-tahun sudah, Pemko Batam menyediakan kotak saran atau pengaduan bagi warga Batam di instansi-instansi pemerintah. Namun sampai kini, kotak-kotak saran itu tak disentuh masyarakat. Kotak-kotak saran itu akhirnya berisi debu, karena warga lebih memilih mengadu lewat SMS atau media.
******
Kotak saran itu terpampang jelas di sebelah kiri dua pintu masuk Kantor Wali Kota Batam di Batam Centre. Kotak transparan berbentuk persegi empat yang mengecil di bagian bawah itu, seperti menantang warga Batam untuk memasukkan saran atau pengaduan ke Wali Kota Batam Ahmad Dahlan.

Ukuran tulisannya lumayan besar. Di atas kotak tertulis, ”Pemko Batam. Kami melayani saran/pengaduan yang disertai identitas diri. Setiap identitas dijamin kerahasiaannya”. Dan di bagian bawah kotak tertulis ”Kotak saran”.

Setiap mereka yang masuk ke kantor wali kota, pasti pernah melihat kotak saran tersebut. Namun meski tampil mencolok, kotak dalam papan warna merah itu tak terlalu diperhatikan warga yang lalu lalang mengurus keperluan di kantor tersebut.

Kotak itu dicueki, belum ada yang mau memasukkan saran atau pengaduan ke dalamnya. Padahal, mungkin sudah ribuan kali kotak saran itu dilalui warga. Ironisnya, karena tak pernah disentuh warga, kotak saran itu berdebu.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · sosial

Hari Terakhir Neng Fitryah

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seandainya Toyota Previa yang baru sepekan lalu dibeli David Eng itu bisa distater Husen (38), Kamis (31/5/2007) pagi itu, mungkin Fitryah tak akan ditemukan tewas di dalam mobil itu. Husen supir pribadi David Eng suami Fitryah, pagi itu bermaksud menggunakan mobil tersebut untuk mengantar bosnya ke kawasan industri galangan kapal Tanjunguncang. Namun, mobil itu tak mau dihidupkan. Husen kemudian mengantar David menggunakan sedan Lexus, mobil kedua David.

Sementara Fitryah, masih tergolek di tempat tidur. Beberapa menit setelah David berangkat kerja, Neng bangun dari tidurnya. Pukul 09.00 WIB, Neng Fitryah ke pasar Aviari ditemani Ponatun (43) pembantunya. Di pasar itu, tak seperti biasa, Neng membeli seekor ayam dan berpesan kepada pembantunya kalau ayam itu akan ia masak sendiri.

”Ayam ini tak usah disentuh. Nanti akan saya panggang, bersama tumisan jagung dan genjer ini,” kata Neng kepada Ponatun. Ponatun kemudian memasukkan ayam, empat buah jagung dan dua ikat sayur genjer pesanan Neng ke lemari es. Sampai kini pun, pesanan Neng itu tak disentuh.

Kata-kata itu menjadi kata terakhir yang didengar Ponatun. Pukul 10.00 WIB, Neng pergi meninggalkan rumah makannya di ruko Fanindo Tanjunguncang. Neng kemudian ditemukan meregang nyawa di dalam mobil Toyota Previa itu, sekitar pukul 11.30 WIB.
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · getir · sosial

Nasib Perpustakaan Daerah

Juni 1, 2008 · 1 Komentar

Nina ND (30-an), warga Perumahan Centra Melati, menatap lekat-lekat novel bersampul biru di rak buku. Tangannya bergerak mengambil novel itu, membaca sinopsisnya sebentar, kemudian meletakkan novel karya Nora Robert, itu ke pangkuannya.

”Saya suka novel terjemahan. Setiap kali ada duit, saya pasti beli,” tuturnya, di toko buku Gramedia BCS.

Rabu (21/5) siang itu, merupakan kunjungan ketiga Nina ke Gramedia di bulan Mei. Setiap kali ke sana, ia pasti membawa pulang dua tiga buku. Favoritnya, novel terjemahan dan buku memasak. Seperti kemarin, misalnya, ia membeli novel dan buku memasak.

Nina lancar menyebut nama pengarang novel favoritnya. Ada John Grisam, Nora Robert, Eric Seagal, Sandra Brown dan lain-lain. Koleksinya juga sudah ratusan. ”Saya letakkan saja di kotak. Saya tak punya tempat khusus di rumah,” katanya.
Baca terus →

→ 1 CommentKategori: Batam

Ketua Golkar Diserang

Juni 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Break! Taksi warna putih itu tiba-tiba menyalip dan berhenti mendadak di depan mobil Mistubishi Galant BM 186 XF yang dikendarai AT Sinaga, Zainal Abidin dan isterinya Tini. Di keremangan malam, di jalan menurun ke Tiban V, Sekupang, itu Zainal kaget bukan kepalang. Begitu juga dengan Sinaga yang memegang stir mobil, tak kalah kagetnya.

”Astagfirullah,” kata Zainal mengusir keterkejutannya. Di saat bersamaan, Sinaga berteriak, ”Apa, tuh,” sambil menginjak rem mobil.

Zainal mengira ada kucing yang melintas, sehingga mobil di depannya berhenti mendadak. Ia baru saja akan mendongak, ketika tiba-tiba saja suara benturan benda keras menghantam kaca pintu mobil Sinaga dari tiga sisi. Di depan, kaca pintu samping kanan dan kiri jebol. Di belakang, di samping kiri, tempat dimana Tini duduk juga jebol.

Rupanya, ada satu mobil lagi yang memepet mobil mereka. Karena orang-orang yang memecahkan kendaraan mereka tak keluar dari taksi yang menyalip tadi. Tapi, muncul dari belakang.

Semuanya, seperti terjadi begitu saja. Teriakan seperti suara-suara menyuruh membunuh terdengar. Serpihan-serpihan kaca berhamburan dari segala sisi. Tiga penumpang mobil Mitsubishi bertambah panik, suasana begitu mencekam. Lalu, salah seorang penyerang di sebelah kanan mengayunkan parang panjang mengarah ke leher Sinaga. Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam

Kehidupan Para Ajudan

Juni 1, 2008 · & Komentar

sby-dan-ajudanSeorang ajudan, tak sekadar menjadi pembantu atau bodyguard. Ia tak hanya bertugas memastikan semua keperluan ”tuannya” terlayani dengan baik. Tapi juga bisa menjelma menjadi teman diskusi. Bagaimana para ajudan Gubernur dan Wali Kota menjalani hari-harinya?
*****
Sabtu siang itu, di pertengahan November tahun lalu, matahari sedang terik-teriknya. Di pelataran Quran Centre, Sekupang, sejumlah orang berdiri menunggu. Mereka menunggu kedatangan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah yang berencana sidak pembangunan asrama dan gedung perpustakaan QC, itu.

Beberapa menit kemudian, sebuah sedan hitam metalik yang dinaiki orang nomor satu di Kepri itu berhenti di pelataran tersebut. Junaidi, sang ajudan keluar lalu membuka pintu dengan sikap takzim. Ia menunduk, sambil mempersilakan sang Gubernur beranjak dari tempat duduknya di jok belakang.

Ismeth lalu berjalan diiringi Mahadi Rahman, Direktur QC memantau pembangunan perpustakaan dan asrama itu. Rona wajahnya mendadak berubah merah. Ia terlihat marah, melihat pembangunan dua gedung itu yang molor.

Dipanggilnya kontraktor proyek itu. Wartawan yang melihat peristiwa itu mendekat, ingin mendengar kemarahan Ismeth. Namun, Ismeth melarang. Junaidi pun bertindak. Ia ikut melarang wartawan mendengar pembicaraan Ismeth dengan kontraktor tersebut. Baca terus →

→ 3 CommentsKategori: Batam

Ketika yang Bego Tak Mampus-mampus

Mei 22, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Apakah yang bego harus segera mampus? Apakah yang jahat harus segera binasa? Apakah yang iblis harus segera musnah?

Saya tak mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu. Saya percaya akan keseimbangan. Yang bego mungkin dibutuhkan untuk mengukur kepintaran, yang jahat dibutuhkan untuk mengukur kebajikan. Dan yang iblis, dibutuhkan untuk mengkur ke-ilahi-an.

Saya menulis ini untuk menandai ada kelompok-kelompok tertentu yang protes, kenapa yang bego tak mampus-mampus. Kenapa yang menindas rakyat tak juga terjungkal. Kenapa harus menunggu berabad-abad hingga kolonialisme di bumi ini runtuh.

Mungkin, pertanyaannya bisa kita ganti. Kenapa tak kita saja yang duduk mengatur negeri ini. sehingga ketika ada kebijakan kita yang dianggap bakal menyengsarakan rakyat, kita tak perlu teriak-teriak, kenapa yang bego tak mampus-mampus?
Baca terus →

→ Tinggalkan KomentarKategori: Batam · getir · sosial

Kampung Boyan, dari Jodoh ke Seipanas

Mei 14, 2008 · & Komentar

Meski tak lagi berbekas, Kampung Boyan yang berdiri di Jodoh empat dasawarsa lalu, tetap dikenang. Bahkan, saat perkampungan itu pindah ke Seipanas dan berganti nama Baloi Harapan II, tahun 1987 lalu, nama Kampung Boyan tak lekang dimakan waktu. Bagaimana sejarah perkampungan orang Bawean itu?
****
Lokasi pertama Kampung Boyan di Jodoh, kini tak lagi berbekas. Tanah rawa yang dibuka untuk perkampungan di tahun 1969 silam, itu kini berganti gedung perkantoran dan pusat bisnis, di jalan Imam Bonjol, seberang apartemen Harmoni.

Orang Bawean yang pernah menghuni kawasan itu, hanya bisa mengenang dan bercerita kisah mereka saat pertama kali membabat hutan bakau. ”Di sana, di bawah Masjid Baitussyakur sekarang, ayah saya Hasan membuka perkebunan,” kata Mohamad Ohsi (65) tetua warga Bawean di Seipanas, kemarin.

Awalnya, hanya rumah Hasan yang berdiri di sana. Lalu, seiring dengan banyaknya warga Bawean yang datang ke Batam, rumah-rumah mulai tumbuh. Kampung baru itu menjadi tujuan hampir semua warga Bawean yang datang ke Batam.

Setahun-dua tahun, perkampungan tak bernama itu mulai ramai. Kemudian, untuk memudahkan penyebutan, dinamailah kampung itu dengan sebutan Kampung Boyan atau kampungnya orang-orang Bawean. ”Sebetulnya namanya Kampung Bawean, tapi karena lidahnya orang Melayu susah nyebutnya, jadi namanya Kampung Boyan,” tutur Ohsi.

Kampung boyan tumbuh ramai mengalahkan perkampungan di sekitarnya, hingga menarik para pebisnis membuka usaha di sana. Bioskop pertama di Batam, berdinding papan di akhir tahun 1970-an berdiri di Kampung Boyan itu. Gedung tersebut bisa menampung hingga 200-an penonton.

”Dulu, film yang laku film perang-perangan (action,red). Kalau tak salah, ongkos masuknya sekitar Rp200-an,” kata Ohsi.

Seiring dengan pertumbuhan Batam yang menjelma menjadi kawasan industri, Kampung Boyan mulai tergerus laju pembangunan. Kampung itu, juga sering dilanda kebakaran. Hingga penduduk di sana berinisiatif pindah.

Maka, dipimpin Ohsi, warga Bawean mencari lokasi yang pas untuk tempat tinggal baru. Maka, dipilihlah hutan di dekat Kampung Melayu Seipanas, sebagai lokasi baru. Namun, untuk menjadikan hutan itu sebagai perkampungan, bukanlah mudah. Warga Bawean harus mendapatkan izin dari Otorita Batam, karena Otorita Batamlah badan yang mengelola Batam.

”Kami menggunakan pengaruh ulama terkenal Hasan Basri yang juga tokoh Bawean agar OB menyetujui permintaan kami. Alhamdulillah, kami disetujui membuka perkampungan,” ujarnya.

Urusan izin beres, Ohsi dan ratusan warga Bawean lainnya dipusingkan dengan biaya pembukaan hutan. Mereka membutuhkan alat berat yang biayanya sudah cukup mahal saat itu. ”Kami urunan satu rumah Rp50 ribu. Namun, karena tak semua orang Bawean mau, hanya 220 keluargalah yang ikut pindah ke sini,” tukasnya.

Saat perkampungan baru itu berdiri, di kanan kirinya sudah muncul perkampungan lain. Ada Baloi Harapan, ada Kampung Melayu dan lainnya. Agar kampung baru itu juga punya nama, ada warga yang mengusulkan agar kampung tersebut tetap dinamai Kampung Boyan.

Tapi, usulan itu tak terwujud. ”Kami tak ingin tampil ekslusif. Kami ingin sama saja dengan perkampungan sebelah, makanya kampung ini dinamai Baloi Harapan II, Seipanas,” kata Ohsi.

Meski telah berganti nama, ternyata orang Batam kesulitan mencari alamat Baloi Harapan II. Orang-orang saat itu, tetap menyebut Kampung Boyan bagi kampung baru pindahan dari Kampung Boyan di Jodoh, itu.

Hingga sekarang, Kampung Boyan tetap disebut-sebut. ”Padahal, namanya Baloi Harapan II. Kalau ada yang nanya Baloi Harapan II, pasti bingung. Tapi, kalau nanya Kampung Boyan, pasti mereka menyebut tempat ini,” ucapnya.

Saat ini, menurut Ketua Ikatan Keluarga Bawean Batam (IKBB) Mansyur Hamami, jumlah warga Bawean di Batam sekitar 4.000 orang. Mereka kini tak lagi tinggal di satu perkampungan. ”Tapi, terpencar di mana-mana. Ada di Bengkong, Sekupang, Batumerah, Batuaji dan lainnya. Cuma yang terkenal, ya Kampung Boyan di Seipanas itu,” katanya.

Bawean sendiri, kata Mansyur, adalah pulau di Jawa Timur yang sebagian besar penduduknya hidup merantau. Rata-rata warga Bawean bekerja di Malaysia atau Singapura, hingga di dua negara tetangga itu pun ada Kampung Boyan.

Di Batam, warga Bawean tetap melaksanakan tradisi kampung halamannya. Seperti memperingati maulid Nabi Muhammad dengan acara tukar-menukar ”angkatan” atau kado dalam ember besar berisi beragam makanan. Kesenian khas Bawean seperti rebana, pencak silat dan korcak juga tetap mereka lestarikan.
Menurut Asisten Ekbang Pemko Batam Syamsul Bahrum, orang Bawean punya banyak kesamaan dengan orang Melayu. ”Buktinya, di sejumlah tempat dengan budaya Melayu kental selalu ada Kampung Boyan (Bawean,red). Di Singapura, Malaysia dan Tanjungpinang ada perkampungan Bawean,” tukasnya.***

→ 3 CommentsKategori: Batam · sosial