Suku Tertinggal

Mengunjungi Suku Asli Sungai Sadap Rempang
Setahun Sekali ke Nagoya Beli Pakaian

Diantara hiruk-pikuk kehidupan Batam, komunitas penduduk asli Sungai Sadap Pulau Rempang bertahan dalam kesunyian. Mereka tinggal di tengah hutan, tanpa pernah menikmati pembangunan Batam. Keberadaan mereka kini terancam kepunahan.

Sungai Sadap mengalir lembut tanpa riak. Rahmat (38) penduduk asli Sungai Sadap mengayuh perahunya perlahan menuju sebuah dapur arang di Pulau Rempang, Selasa (13/6) lalu. Ia membawa belasan potong kayu bakau yang akan ia jual ke pengusaha dapur arang di sana.

Dalam sehari Rahmat bisa mengumpulkan kayu seperahu yang ia jual seharga Rp25 ribu. Kadang Rahmat membarter kayu-kayu yang ia bawa dengan kebutuhan rumah tangganya, seperti beras dan lauk-pauk.

”Setiap hari, kerja saya mengumpulkan kayu lalu saya jual. Saya tak bisa kerja lain. Mau ke laut tak bisa cari ikan,” tutur Rahmat dalam perjalanan berperahu menuju perkampungan penduduk asli Pulau Sadap.

Tak setiap hari Rahmat bisa menebang kayu. Jika cuaca hujan, ia memilih tinggal di gubuknya atau menghangatkan badan dengan nyala api. Ia kadang juga berhenti menebang kayu, bila kondisi badannya dirasakannya tidak fit.

Rahmat adalah putra Kosot alias Abdul Manan penduduk asli Sungai Sadap yang dituakan di sana. Sungai Sadap sendiri berada di Kelurahan Rempang Cate Galang. Untuk menuju ke sana, kita harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak sejauh satu kilo meter dari jalan raya Jembatan Empat Barelang, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai dengan perahu dayung.

Dulunya, penduduk asli Sungai Sadap enggan berbaur dengan dunia luar. Tingkat kebudayaan mereka masih sangat rendah dan hidup berpindah-pindah di hutan-hutan belukar. Mereka hidup dengan cara meramu, mengumpulkan bahan makanan dari hutan.

Namun beberapa tahun terakhir ini, mereka sudah bisa menerima kehadiran warga luar. Namun tak mudah untuk menemui mereka, mereka baru mau bertemu jika orang luar itu dipandu oleh orang yang mereka kenal baik.

Seperti Selasa (13/6) lalu, rombongan wartawan ditemani Siti Juariah anak Lurah Rempang Cate yang sudah empat bulan melakukan pembinaan terhadap mereka. Seminggu sekali, Siti Juariah membawa dokter Puskesmas untuk mengecek kondisi kesehatan penduduk asli itu.

”Penduduk sini (Sungai Sadap,red) tak mau pergi ke Puskesmas. Sehingga dokter Puskesmas yang harus datang memeriksa mereka,” tutur Ria, panggilan akrab Siti Juariah.

Selain Rahmat dan isterinya Yongna, mereka yang masih tersisa adalah Kosot (80-an) dan isterinya, Ocet alias Majid (80-an), Ade (30-an) dan tiga anaknya. Anak-anak berusia tujuh hingga belasan tahun itu tak sekolah. Jumlah mereka sekitar 12 jiwa.

Rahmat dan yang lainnya tinggal di rumah-rumah gubuk yang sungguh sangat sederhana. Gubuk yang mereka bangun itu terbuat dari cabang-cabang pohon yang ditutup dengan daun pandan. Tanpa penerangan sama sekali, tak ada perabot lain selain alat masak berupa belanga dan panci.

Meski begitu, Rahmat mengaku pernah juga jalan-jalan ke Nagoya. Setahun yang lalu, kata Rahmat, ia pernah jalan-jalan ke Batam membeli baju di kawasan Nagoya. ”Kalau ke Batam, paling setahun sekali. Itu pun kalau saya punya uang Rp500-an ribu. Hasil dari ngumpulin uang,” tukasnya.

Kini Rahmat mengaku sudah sulit mencari kayu. Luas hutan di sekitar mereka sudah makin sempit. ”Kalau hutan yang di seberang sana sudah punya orang Batam. Yang kami punya tinggal tanah ini,” katanya menyebut kampungnya yang berisi sekitar empat gubuk.

Menurut Lurah Rempang Cate M Yodding, pihaknya sudah berusaha membuat penduduk asli Sungai Sadap berhubungan dengan dunia luar, agar mereka tidak punah. ”Mereka ada yang membina, karena mereka dulunya sama sekali tak mau ketemu orang. Kalau ada orang datang, mereka sembunyi,” tukasnya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s