Melepas Nyawa

Vonis Mati Yehezkiel
Pernah Ingin Mati, Kini Minta Diberi Kesempatan

Delapan bulan yang lalu, mungkin tak pernah terbayangkan oleh Yehezkiel, ia akan menangis di ruang persidangan. Karena saat pertama kali ditangkap, ia sendirilah yang meminta dihukum mati. Kemarin, saat palu majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam memvonisnya mati, ia menangis tersedu-sedu. Air matanya tumpah, mengalir deras membasahi kursi terdakwa di ruang sidang utama PN Batam.
=============
Setengah jam sebelum persidangan digelar, Yehezkiel duduk tertegun di depan jeruji ruang tahanan sementara PN Batam. Tangan kanannya memegang sebatang rokok yang baru setengahnya diisap. Lama ia tertegun, hingga tak terasa abu rokonya jatuh ke lantai.

Suasananya begitu hening. Belasan aparat yang menjaga persidangan, membiarkan pemuda yang 31 Agustus nanti genap berusia 21 tahun itu melamun. Matanya sembab, karena baru menangis. Sepuluh menit kemudian, Yehezkiel membuka al kitab yang ia bawa. Ia membuka al kitab kecil itu, hingga kemudian tiba waktunya persidangan dimulai.

Yehezkiel beranjak menuju kamar mandi. Membasuh mukanya dan mengenakan kemeja lengan pendek warna krem untuk menutupi baju tahanannya. Dengan borgol kecil di dua ibu jarinya, Yehezkiel memasuki ruang sidang yang sudah disesaki pengunjung. Tumpuana Tarigan atau Ny Ginting bibinya, ibu dari Junita Sari Dewi Ginting yang ia bunuh sekaligus pemilik rumah tempat pembunuhan berlangsung delapan bulan yang lalu itu, sudah hadir di tengah persidangan. Sedangkan Lena Manopo dan Krista Ginting, ibu dan kakak Yehezkiel baru datang setengah jam setelah persidangan.

Putusan majelis hakim pun dibacakan secara bergantian oleh Djanatul Firdaus, Sutarmo dan Salahudin, hakim kasus pembunuhan empat perempuan itu. Yehezkiel hanya menunduk. Perlahan air matanya menetes. Lebih-lebih saat hakim membacakan kronologis pembunuhan, air mata Yehezkiel mengalir.

Di bangku pengunjung, Ny Ginting terlihat menggelang-gelengkan kepalanya saat kronologis pembunuhan Indriyani Tarigan (15), Rehulina Sipayung (25), Sarini (25) dan Junita Sari Dewi Ginting (12) di Perumahan Kurnia Djaja Alam, 30 Desember 2005 silam itu diingatkan kembali. Ny Ginting tak bisa menahan air matanya. Berkali-kali wajahnya ia usap dengan tisu putih yang ia pegang.

Pembunuhan di hari Jumat, 30 Desember 2005 itu seakan diputar kembali. Yehezkiel memasuki rumah Ny Ginting. Ia disambut oleh Sarini, pembantu di rumah itu. Sarini kemudian mempersilakan Yehezkiel masuk dan menyiapkan makanan untuknya. Saat Sarini beranjak ke dapur, Yehezkiel mengikutinya. Kemudian sekuat tenaga, Yehezkiel mengayunkan sepotong besi ke kepala Sarini hingga tersungkur. Sarini mencoba bangkit, namun Yehezkiel memukulnya kembali.

Lalu, di meja dapur Yehezkiel memungut sebuah parang. Sarini berteriak minta tolong. Dari arah kamar mandi, keluar Indriyani Tarigan dan Rehulina Sipayung mendatangi Sarini. Namun di depan mereka Yehezkiel sudah menghadang dan mendorongnya hingga jatuh ke arah Sarini. Ketiganya lalu dimasukkan Yehezkiel ke kamar mandi.

Tiba-tiba telepon di rumah itu berdering mengagetkan Yehezkiel. Yehezkiel meloncat dan memotong kabel telepon. Volume televisi di kamar tamu dibesarkannya, agar tak ketahuan para tetangga Ny Ginting. Tanpa sengaja, Dewi keluar dari kamarnya dan mendapati Yehezkiel menghunus parang bersimbah darah. Yehezkiel lalu memburu Dewi, tapi secepat itu juga Dewi berlari ke kamar dan menguncinya.

Namun Yehezkiel berhasil menjebol pintu kamar itu. Kemudian ia masuk dan menusukkan parang ke perut Dewi. Dewi mengaduh kesakitan dengan darah menetes deras dari perutnya. Yehezkiel kemudian kembali ke kamar mandi menemui Indriyani, Rehulina dan Sarini. Yehezkiel kemudian meminta mereka menunjukkan tempat uang. Rp10 juta diambilnya dari lemari Ny Ginting.

Kemudian, ia berpikir sejenak, mencari akal bagaimana caranya menghabisi keempat perempuan itu dengan cepat. Ia kemudian membuka lemari dan mengambil kain ulos dari sana. Sarini kemudian dipanggilnya. Setelah mendekat, ulos itu dililitkan ke leher Sarini. Lalu dengan parang di tangan, ia menggorok leher Sarini hingga keluar darah banyak. Usai menghabisi Sarini, giliran Indriyani yang dihabisinya. Menyusul kemudian Rehulina. Terakhir, Dewi dihabisinya dengan cara yang sama di dalam kamarnya.

Usai menghabisi empat korbannya, Yehezkiel menengkan diri di ruang tamu keluarga Ny Ginting. Ia menghisap rokok, lalu kemudian berlalu pergi. Di ujung rumah Ny Ginting, Yehezkiel sempat berhenti dan memandang kembali ke arah rumah itu. ”Sungguh indah pemandangan ini,” kata Sutarmo, hakim yang membacakan putusan vonis itu menirukan apa yang diungkapkan Yehezkiel.

Saat pengunjung bergidik mendengar kronoligis pembunuhan yang dibacakan majelis hakim, Yehezkiel dikejutkan permintaan hakim untuk berdiri. Putusan yang ditunggu-tunggu dibacakan oleh hakim. Yehezkiel dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian empat perempuan yaitu Indriyani Tarigan (15), Rehulina Sipayung (25), Sarini (25) dan Junita Sari Dewi Ginting (12) di Perumahan Kurnia Djaja Alam di penghujung tahun 2005 silam.

Yehezkiel divonis hukuman mati. Air mata Yehezkiel mengalir lebih deras. Tangannya bergetar. Ia kemudian duduk di kursi, sambil memegangi wajahnya. Air mata itu mengalir lebih deras lagi, namun tetap tak ada suara. Penjaga sidang kemudian mendekati Yehezkiel dan membawanya pergi ke ruang tahanan PN Batam.

Dalam pengawalan ketat, tak ada yang bisa mendekati Yehezkiel. Yehezkiel kemudian melepas kemeja kremnya dan masih dalam keadaan menangis dibawa kembali ke Lapas Batam. Lena, ibu Yehezkiel pun tak sempat memeluk anak laki-lakinya itu. Ia mengaku sudah memasrahkan nasib anaknya pada Tuhan.

Irwan Tanjung penasehat hukum Yehezkiel mengatakan akan banding. Ia mengaku sudah menemui Yehezkiel di Lapas Batam, dan Yehezkiel menyerahkan upaya hukum atas putusan vonis mati itu padanya. ”Saya akan tetap banding,” kata Tanjung.

Yehezkiel yang dulunya sempat ingin mati, sebagai bentuk pertanggung jawaban atas pembunuhan yang ia lakukan kini minta diberi kesempatan. Di awal-awal persidangan, Yehezkiel sudah menunjukkan keinginannya untuk diberi kesempatan. Ia ingin lolos dari hukuman mati, agar bisa memperbaiki diri.

Bahkan dalam pledoi pribadinya, beberapa waktu lalu, Yehezkiel sudah menyampaikan hal itu ke majelis hakim. Yehezkiel menangis meminta kesempatan, namun majelis hakim melihat tak ada hal yang meringkan dari Yehezkiel yang bisa dijadikan pertimbangan untuk meloloskannnya dari hukuman mati.

”Ini keputusan berat yang kami ambil. Namun karena tuntutan profesi dan demi menegakkan keadilan, walaupun berat kami terpaksa memutuskan ini. Katakan yang benar, walaupun itu pahit” kata Djanatul Firdaus usai mengetuk palu sidangnya.***

4 responses to “Melepas Nyawa

  1. wah, bagus-bagus features-nya!

  2. tetap kuat bang kiel ,jangan takut .lihat alkitab di Roma 8;28.dan tetap kuat

  3. pengadilan adalah wakil Tuhan….kiranya Kehendak Tuhanlah yang terjadi….
    namun yang pasti Tuhan selalu memberi waktu buat kita berubah…

  4. Pernah gak qta bertanya , apa latar belakng yg membuat Yehezkiel berbuat seperti itu ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s