Cinta, Dan…

Sekelumit Kisah dari 573 Perceraian di PA Batam

Isteri-isteri di Batam lebih berani menggugat cerai dibandingkan para suami. Dari 573 kasus perceraian sepanjang tahun 2006 lalu, 55 persennya diajukan para isteri. Angka 573 itu juga melibatkan warga Singapura yang beristeri perempuan Batam. Namun, ada juga suami yang sengaja berbuat salah agar digugat cerai isterinya.
=========================

BATAM – Awang (38) warga Belakang Padang tak sabar menunggu. Sudah satu jam ia berdiri di depan Pengadilan Agama (PA) Batam, tapi para pegawai PA masih juga belum bisa ia temui karena masih rapat, Kamis (4/1). Ia kemudian berdiri, menengok ke bagian dalam. Lalu duduk lagi, sambil menggerutu.

Pagi itu, Awang hendak mengambil berkas putusan PA Batam yang memutuskan ia sudah bercerai dengan Yaya (33) isterinya. Ia tak sabar untuk segera memegang bukti perceraian itu. Pasalnya, ia ingin segera berangkat ke Jakarta menemui isteri mudanya di Jawa Barat.

Awang mengaku umur pernikahannya dengan Yaya sudah sebelas tahun dan dikarunia dua anak. Awalnya, pernikahannya harmonis dan bahagia. Namun lambat laun, isterinya mulai dominan di rumah tangganya.

Hampir tiap hari, ia mendapatkan perlakukan tak simpatik dari isterinya. Ia pun kerap dipukuli. Tapi, Awang tak pernah melakukan perlawanan. Ia berusaha sabar dengan kondisi rumah tangganya yang seperti itu.

Hingga akhirnya, ia mengaku tak lagi mampu menahan siksaan batin. Di awal tahun 2006, Awang nekat pergi ke Jakarta. Tujuannya satu, ingin mencari isteri baru agar bisa lepas dari isterinya itu.

”Dua minggu di Jakarta, saya langsung dapat orang yang cocok. Saya lamar langsung ke orang tuanya. Saya mengaku terus terang, kalau saya masih punya isteri di Batam. Ternyata, lamaran saya diterima,” kata Awang.

Awang akhirnya membawa isteri barunya itu ke Batam. Ia mengaku terus terang pada isteri pertamanya, kalau ia sudah punya isteri lagi. Agar tak terjadi pertengkaran, Awang menitipkan isteri mudanya itu di rumah kakaknya. Namun, Yaya tak terima hingga akhirnya isteri mudanya dipulangkan ke Jawa Barat.

Yaya kemudian menggugat cerai Awang. Awang yang memang sudah berniat bercerai, mengiyakan semua gugatan isterinya itu di pengadilan. Harta gona-gini pun tak diambil oleh Awang asal ia bisa bercerai. Bahkan, biaya perceraian pun ditanggung Awang, padahal ia yang digugat cerai. ”Saya ingin cepat-cepat ke Jakarta jemput isteri muda,” tukasnya.

Selain Awang, ada sejumlah perempuan lain yang menunggu persidangan pagi itu. Di antaranya adalah Laila (34) warga Nongsa. Laila menggugat cerai suaminya karena suaminya berpoligami. Laila ingin secepatnya bercerai, karena ada laki-laki lain yang sudah menunggunya. Laila sendiri sudah pisah rumah dengan suaminya.

”Suamiku itu ketua pemuda di kampung saya. Kalau saya masih berstatus isteri dia, saya takut dia akan menangkap saya jika ada laki-laki yang ke rumah saya,” tukas Laila yang mengaku ogah bertemu lagi dengan suaminya itu.

Dua kisah tadi, hanya beberapa dari banyak kisah-kisah penyebab perceraian di Batam. Dibandingkan kabupaten/kota lain di Provinsi Kepri, angka perceraian di Batam paling tinggi dan terus naik setiap tahun. Tahun 2004 ada 502 perkara, tahun 2005 ada 571 perkara dan tahun 2006 ada 573 perkara. Bahkan, di tahun 2007 yang baru dalam hitungan hari itu, sudah ada 20 perkara perceraian yang masuk ke PA Batam.

Menurut juru bicara PA Batam M Zein, penyebab paling tinggi perceraian di Batam adalah karena pasangannya melalaikan tanggung jawab. Kemudian, faktor ekonomi, munculnya pihak ketiga dalam keluarga mereka atau isteri yang berpoliandri. ”Dari 573 kasus di tahun 2006, 55 persennya gugat cerai atau diajukan isterinya. Sisanya adalah cerai talak,” kata Zen.

Kasus-kasus perceraian di Batam, juga melibatkan pria-pria Singapura yang beristeri perempuan Batam. Menurut Zen, penyebab perceraian pria Singapura dengan isterinya rata-rata adalah faktor ketidakcocokan.

”Ada yang orang Singapuranya yang menceraikan isterinya, ada yang isterinya yang menggugat cerai suaminya. Bahkan, kami pernah juga memutuskan pembagian harta gona-gini pasangan Singapura-Batam,” kata Zen sembari mengatakan, jumlahnya sekitar satu persen dari keseluruhan perceraian di Batam.

Zen mengatakan, meski PA adalah tempatnya orang mengajukan perceraian, PA juga adalah tempatnya orang berdamai. Banyak, perkara perceraian yang berakhir damai di PA, setelah hakim PA menasehati pasangan yang bertikai tersebut.

”PA juga lembaga perdamaian. Kami banyak menasehati pasangan-pasangan yang berselisih. Hakim juga melibatkan para keluarga pasangan tersebut, agar terjadi perdamaian. Perceraian itu langkah terakhir, jika perdamaian sudah tak bisa lagi,” ujarnya.

Setiap hari, PA Batam menyidangkan 20 perkara setiap harinya. Karena banyaknya perkara yang masuk itu, setiap hari pula hakim PA Batam selalu berganti-ganti. ”Seperti saya sendiri misalnya, sidangnya setiap Senin. Saya setiap Senin menyidangkan 20 perkara, begitu juga dengan hakim lain,” tukasnya.***

One response to “Cinta, Dan…

  1. Batam menjadi wilayah yang sangat kompleks dibanding daerah lain, baik dari sisi posisinya dan geliat aktivitas ekonomi. Biaya hidup yang mahal juga barangkali menjadi faktor pemicunya. Beginilah potret kota metropolis dengan segala rona kehidupannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s