Mistery XXX

Blok X, Makam Mereka yang Tak Beridentitas

Manusia mati meninggalkan nama. Kata-kata ini punya makna yang luas. Nama mewakili tingkah laku. Yang selalu berbuat baik namanya akan harum, begitu juga sebaliknya. Nama juga menyandang sebuah identitas. Setelah manusia mati, nama akan dipatri di nisan-nisan mereka. Lantas, bagaimana dengan mereka yang mati tak diketahui identitasnya?

BATAM – Pemakaman umum Seitemiang Sekupang terasa sepi, Rabu (29/11) pagi. Angin berhembus pelan, mempermainkan daun-daun pohon akasia yang gugur. Suara kicau burung dari dua rumah penggali kubur di kawasan itu terdengar, memecah kesunyian pagi itu.

Di sebuah jalan menurun, terpampang papan nama bertuliskan Blok X. Luasnya kira-kira 50 meter persegi. Berbeda dengan makam-makam di blok lain, rata-rata makam di Blok X tersebut bernisan papan atau balok kayu. Sebagian papan itu sudah lapuk dimakan waktu.

Ada sekitar 20-an makam berbagai ukuran berjejer di Blok X itu. Rata-rata tak bernama. Di antaranya ada kuburan yang tanahnya masih basah, menandakan kuburan itu masih baru. Gundukan tanah di atas makam tersebut berwarna kecoklatan.

Berbeda dengan makam lain, hanya satu kayu nisan tertancap di atasnya. Nisan kayu itu ditancapkan di bagian kepala pemilik makam. Sedangkan di bagian kaki, diberi sebatang pohon kamboja. Ada tulisan Nn Ninuk dan Polsek Sekupang di nisan itu.

Kuburan itu adalah kuburan seorang wanita hamil yang ditemukan dibakar di Kampung Lembah Nangka Tiban III, yang dikuburkan Kamis (23/11) lalu, atau sepekan setelah ia ditemukan. Sampai kini identitasnya masih misterius.

Nama Ninuk dipasang di nisannya hanya agar mudah dikenali. Ninuk sendiri adalah petugas kamar mayat Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) yang bernama asli Siti Aminah, namun sering dipanggil dengan sebutan Mbak Ninuk. Nama petugas kamar mayat RSOB, lainnya juga bisa terbaca di makam-makam yang menghuni Blok X tersebut.

Blok X adalah kawasan pemakaman khusus bagi mereka yang meninggal tanpa identitas. Rata-rata ditemukan dalam keadaan tewas akibat pembunuhan atau sakit, tapi tak ada seorang pun yang mengenalinya. Mayat perempuan yang dibakar di Tiban III itu adalah penghuni terakhir saat ini, yang berkemungkinan akan disusul oleh tuan X atau nona X lainnya.

Data di Yayasan Khoirul Ummah yang mengelola pemakaman umum Seitemiang, sejak Juni 2002 ada sekitar 27 jenazah yang dimakamkan di Blok X tersebut. ”Jumlah itu belum termasuk jenazah bayi yang juga kadang tak beridentitas. Jenazah yang dimakamkan di Blok X itu, biasanya dari RSOB atau kepolisian,” kata Ade Farida petugas administrasi Yayasan Khairul Ummah.

Setelah berbulan-bulan, kadang identitas jenazah yang dimakamkan di Blok X itu terkuak. Seperti Leni Martini Agus Tari misalnya, setelah dimakamkan hampir lima bulan, identitasnya terkuak dan pembunuhnya ditangkap. Nisan Leni yang dulunya hanya sebatang kayu, kini sudah dipugar. Nama Leni terpatri di nisannya.

Sebagai kota industri, Batam merupakan kota tujuan utama di Indonesia. Banyak pendatang dari daerah-daerah lain yang datang ke sini mengadu nasib. Di antara mereka ada yang bernasib baik. Mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup lebih baik dibanding jika tinggal di kampung halamannya. Selebihnya lagi, menjadi korban keganasan sebuah kota metropolis.

Sebagai kota yang dipenuhi ratusan ribu orang yang datang bergantian, penduduk Batam terus bertambah. Hal ini kadang menyulitkan pendataan. Warga juga banyak yang tak saling kenal. Sering terjadi pembunuhan atau penemuan mayat namun identitasnya tak dikenal.

Ini yang membuat pihak kepolisian sulit melacak kasusnya. Mereka-mereka yang tak beridentitas itu, kemudian dimakamkan di Blok X. Nisan-nisan mereka tak bernama. Tak ada tabur bunga, tak ada keluarga yang menjenguk mereka.

Menurut Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol S Putut Wicaksono, ada dua kasus pembunuhan terhadap perempuan tak beridentitas yang sampai kini masih gelap. Yang pertama adalah mayat perempuan dalam koper di pinggir jalan tak jauh dari Dam Seiharapan Sekupang. Kemudian, sesosok mayat perempuan hamil yang dibakar di Tiban III.

”Saya sangat berharap pihak-pihak yang merasa kehilangan anggota keluarga melapor ke polisi. Karena dari laporan warga itu, kadang identitas tuan atau nona X itu bisa terungkap,” ujar Putut, beberapa waktu lalu.

Kadang ada warga yang mengaku anggota keluarganya dimakamkan di Blok X, lalu tanpa koordinasi dengan pihak rumah sakit atau kepolisian langsung ingin memugar makam tersebut. ”Ini sebenarnya tak boleh. Saya selalu minta pada mereka agar lapor ke polisi atau ke rumah sakit, baru kalau mau bisa memugar makamnya,” tutur Ade Farida.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s