Bukan Sarang Air

Susahnya Air Bersih di Pulau Sarang di Belakang Padang
Habiskan Uang Rp420 Ribu per Bulan

Di Kota Batam, orang bisa menghabiskan berkubik-kubik air bersih dengan mudah dan murah. Namun, di Pulau Sarang Kelurahan Sekanak Raya, Belakang Padang, air bersih merupakan barang mewah. Mereka harus menyeberang pulau, atau membeli air satu drum Rp7 ribu.
===========================

BATAM – Musa (45) Ketua RT 02 Pulau Sarang baru keluar dari masjid, saat gerimis turun, Senin (24/9) subuh. Setengah berlari, ia bergegas pulang ke rumahnya. Usai melepas songkok dan sarungnya, ia keluar lagi membawa dua drum plastik bekas warna biru gelap.

Musa berniat menampung air hujan. Tepat di sudut rumahnya, di bawah lubang tempat pembuangan air hujan, ia menaruh drum itu. Usai memastikan posisi drumnya pas dengan jatuhnya air hujan, ia berlari masuk kembali ke dalam rumahnya.

Sekitar dua jam, hujan pagi itu membasahi Pulau Sarang yang dihuni 82 keluarga. Sebuah hujan yang dianggap Musa dan penduduk lainnya sebagai berkah, setelah sepekan sebelumnya tak kunjung turun.

Dua drum air milik keluarga Musa penuh dengan air hujan. Begitu juga dengan sejumlah warga lain yang pagi itu ikut menampung air hujan. Itu berarti, selama seharian warga tak perlu risau kehabisan air bersih. Itu juga berarti menghemat biaya belanja Rp14 ribu.

Di Pulau Sarang, tak ada sumber air tawar. Sehari-hari, warga harus membeli air ke penjual air bersih seharga Rp7 ribu atau Rp6 ribu per drum berukuran setengah meter kubik. Dalam sehari, satu keluarga bisa menghabiskan dua drum air. Yang berarti dalam satu bulan, warga harus menghabiskan dana Rp420 ribu.

”Sudah setahun terakhir ini, warga terbantu dengan adanya pedagang air yang datang ke pulau kami. Meski cukup mahal, terpaksa kami beli karena susah dapat air,” kata Musa di Pulau Sarang, Senin (24/9).

Rata-rata warga Pulau Sarang bekerja sebagai nelayan. Saat perolehan ikan merosot, warga harus pintar-pintar mengelola pemakaian air. Atau kalau ingin lebih menghemat, warga membeli air yang warnanya agak keruh. Untuk air yang disebut warga kualitas kedua ini, harganya Rp6 ribu per drum.

”Air itu harus disaring lagi. Warnanya agak keruh, biasanya digunakan warga untuk mandi. Kadang dipakai juga memasak dan minum,” tukas Jamid (39) tetangga Musa.

Selama 45 tahun tinggal di Pulau Sarang, kata Musa, ia tak pernah menemukan sumber air tawar di pulau tersebut. Sejak dulu, warga harus mengayuh sampan atau menggunakan sampan pancung bermesin tempel menuju Pulau Serapat dan Pulau Langgeng yang lokasinya beberapa mil dari Pulau Sarang untuk mengambil air bersih.

”Sampai sekarang, kalau kita tak beli air, kita ngambilnya ke dua pulau itu. Namun, kalau dihitung dengan biaya bensin, beli air masih lebih murah,” tutur Musa.

Setahun terakhir ini, kata Musa, warga menggunakan ponsel untuk menghubungi penjual air bersih dari Pulau Lengkang dan Mecan. Dua pulau itu lokasinya lebih dekat dengan Belakang Padang.

”Kalau mau air, warga tinggal telepon. Biasanya, penjual air juga sudah hafal kapan pelanggannya butuh air mereka,” ujarnya.

Hidup di pulau terpencil seperti Pulau Sarang, membutuhkan biaya yang cukup besar. Istilahnya, biaya hidup tinggi fasilitas minim. Bayangkan, selain harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk air bersih, warga juga harus menghabiskan dana yang sama untuk listrik.

Warga Pulau Sarang menggunakan genset untuk penerangan. Hampir rata-rata warga di sana memiliki genset kecil untuk dipakai sendiri. Bagi yang tak punya, biasanya menyambung listrik ke rumah tetangganya.

Menurut Ketua RW I Pulau Sarang, Salimi (39), memiliki genset berarti harus bersiap-siap mengeluarkan uang untuk membeli bensin atau solar. ”Hitunglah sendiri, berapa ratus ribu yang harus dikeluarkan warga untuk membeli bensin,” katanya.

Untungnya kehidupan warga tetap bersahaja. Mereka tak banyak mengeluh. Tradisi gotong royong juga masih hidup di tengah-tengah warga. ”Di sini kami tumbuh. Di sini pulalah kami ingin dikebumikan,” kata Mahmud (48) warga Pulau Sarang, lainnya.***

One response to “Bukan Sarang Air

  1. Rindu pulang kampung….ke pulau terong.

    Masalah air, di Pulau Sarang bisa saja dicarikan pompa air tanah..mudah2an saja ada air tanahnya. Soalnya di P. Terong yang pulaunya sekecil tu masih dijumpai air dengan cara memompa air tanah.

    Tentunya pompa air tak kan hidup pabila tak ada listrik, mudah2an saja seluruh pelosok Kota Batam dapat teraliri listrik….amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s