Dilarang ke Batam

Susah ya, Masuk Batam

Keinginan Wali Kota Ahmad Dahlan membatasi pendatang ke Batam rasanya sulit diterapkan. Jangankan membedakan pendatang yang punya keahlian dan yang tidak, membendung pendatang tanpa KTP saja sulit. Banyak pendatang yang ditolak petugas, namun masuk dengan mudah lewat calo
===========
BATAM – Terminal pemeriksaan di Pelabuhan Beton Sekupang penuh dengan ribuan orang yang baru turun dari KM Kelud, Rabu (16/10). Ruangan berukuran besar itu sesak, membuat gerah mereka yang antre melewati tiga pintu masuk pemeriksaan Perdaduk.

Rendi (31) warga Batuaji yang tiba di Batam dari Medan dengan membawa sepupunya terlihat gelisah. Ia mondar-mandir di depan meja petugas yang mencatat jaminan warga pendatang tanpa KTP.

Ia ragu, apakah akan mendatangi petugas atau tidak. Sementara di dompetnya, cuma tersisa uang tiga lembar. Dua lembar Rp20-an ribu, dan selembar uang Rp10 ribu.

Sebelumnya, ia sudah berusaha melewati pintu pemeriksaan. Namun, karena sepupunya tak memiliki KTP Batam, sepupunya ditolak. Rendi tentu saja tak keluar sendirian. Ia kembali lagi, berusaha mengeluarkan sepupunya dari pelabuhan tersebut.

Agar sepupunya bisa keluar, setidaknya ia harus mengeluarkan uang jaminan Rp130 ribu bagi sepupunya itu. Inilah yang membuatnya bingung. Uang di dompetnya, tak cukup.

Di tengah kebingungan itu, seorang calo mendekatinya. Calo itu menawarkan jasa mengeluarkan sepupunya tersebut. Namun, tentu saja Rendi harus membayar. Calo itu meminta uang Rp50 ribu.

Rendi yang merasa mendapatkan jalan mencoba menawar. Ia pun bercerita uangnya tinggal Rp50 ribu. ”Rp30 ribu, bagaimana? Uangku tinggal Rp50 ribu, sisanya buat naik taksi ke Batuaji,” katanya.

Si calo tak langsung mengiyakan. ”Naikkanlah sedikit. Rp30 ribu itu hanya cukup buat petugas. Masa, buat saya tak ada. Kita ini sama-sama menolong. Abang tolong saya, saya tolong abang,” ujar si calo.

Namun, Rendi benar-benar tak punya uang lagi. Si calo akhirnya luluh juga. Rp35 ribu akhirnya disepakati sebagai uang jasa mengeluarkan sepupu Rendi. ”Bayarnya di luar saja, setelah sepupumu kukeluarkan,” tukas si calo meyakinkan.

Di pintu tiga pemeriksaan itu, akhirnya sepupu Rendi bisa melenggang keluar. Jika awalnya ditolak, namun setelah diakui keluarga oleh si calo, ia bebas masuk Batam.

Kejadian yang direkam Batam Pos tadi, hanyalah satu kasus dari mudahnya pemeriksaan Perdaduk di pintu masuk di Batam diterobos. Para petugas awalnya memang sangat ketat memeriksa KTP para pendatang. Namun, jika sudah dipegang para calo, petugas seperti tak berkuasa atau malah main mata.

Seperti kemarin itu, banyak calo yang keluar masuk pintu pemeriksaan membawa orang-orang yang beda. Namun, mereka lolos tanpa pemeriksaan. Padahal, momen arus balik seperti pekan-pekan ini mendapatkan liputan besar media.

Banyaknya pendatang baru yang lolos itu, seperti sebuah tamparan bagi wacana Wali Kota membatasi penduduk Batam, karena lonjakannya melebihi seratus ribu jiwa per tahun.

Mengharapkan pendatang ke Batam hanya yang punya keahlian juga susah. Pantauan Batam Pos, para pendatang yang hendak mencari kerja itu rata-rata tak pernah berterus terang ke petugas soal tujuan mereka datang ke Batam. Mereka hanya bilang mengunjungi keluarganya, lalu memberikan jaminan KTP atau uang sebesar ongkos tiket kapal kelas ekonomi tujuan kampung asal.***

3 responses to “Dilarang ke Batam

  1. aturan yang membikin celah pungli baru

  2. Batam ni macam luar negeri saja…
    Jangan gitu dong, sama saudara se-Indonesia

  3. Saya sangat marah ketika kembali ke Batam dari Tj. Balai Karimun. Karena petugas Satpol PP menanyakan KTP, lalu saya serahkan KTP Nasional saya dari Tangerang, Banten. Tapi petugas KTP saya tidak berlaku di Batam. Saya dengan marah mengatakan bahwa ini adalah KTP Nasional dengan tulisan KTP Republik Indonesia, bagaimana bisa Batam yg adalah bagian RI tapi tidak menghargai KTP penduduk RI. Setelah berdebat, untung ada satu petugas yg menjelaskan tentang PERDA yg gak jelas itu. tapi karena saya sudah terlanjur tersinggung, saya jelaskan bahwa saya ada tugas dinas ke Pulau Karimun dan sekarang lewat Batam untuk kembali ke Jakarta. Setelah itu saya dipersilahkan lewat. Tapi kenapa ada PERDA yg seperti itu yg hanya menimbulkan pungli baru, tetapi para pembuat PERDA nya tidak mau tau. Selain itu janganlah dibilang KTP kita tidak berlaku, macam mau ke Malaysia aja, apakah kita pendatang haram ??
    tidak semua yg ke Batam mau cari kerja, mungkin ada yg mau liburan, belanja, tugas, dll, jangan disamaratakan dong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s