Ditilang polisi

Ketika Warga Batam Ditilang Polisi
Masih Banyak yang Takut Repot Ikut Sidang

Setiap bulan, hampir 1.500 hingga 1.600 pengendara terkena tilang karena melakukan pelanggaran lalu lintas. Angka ini belum termasuk pelanggaran yang tak terpantau polisi, atau yang karena pengendaranya ”main mata” dengan petugas. Cukup tinggi, untuk sebuah Kota Batam yang jumlah kendaraannya mencapai 180-an ribu.
=====================
BATAM – Yusman (50) warga Bengkong duduk gelisah di bangku panjang di samping ruang utama sidang Pengadilan Negeri Batam, Jumat (25/8). Tangannya memegang erat bangku itu, seperti orang yang tak sabar menunggu sesuatu. Kemudian ia berdiri menengok ke ruang sidang dua di depannya.

Beberapa menit kemudian ia kembali duduk di bangku panjang itu. Sesaat matanya melirik jam di lengan kirinya. Kemudian menyandarkan bahunya ke dinding. Beberapa orang yang lalu-lalang di depannya, tidak ia pedulikan.

Pagi itu, PN Batam sedang menyidangkan ratusan pengendara yang terkena tilang. Dua minggu sekali, para pengendara yang terkena tilang itu disidang di PN Batam. Salah satu diantaranya adalah adik Yusman yang ditilang akibat menabrak marka jalan di simpang Bengkong Harapan.

Yusman terpaksa hadir di PN Batam, karena sepeda motor yang dipakai adiknya itu adalah miliknya. Meski yang melanggar adalah adiknya, STNK sepeda motornyalah yang ditahan polisi. Jumat (25/8) lalu itu, kata Yusman, menurut polisi adiknya itu akan disidangkan. Namun setelah ia datang ke pengadilan, namanya tidak tercantum sebagai pelanggar yang mengikuti sidang hari itu.

”Sudah ku bilang sama dia. Kalau bisa ‘damailah’ sama polisi. Kalau sudah kena tilang gini, kita repot-repot datang ke pengadilan,” kata Yusman.

Seandainya dia yang disemprit polisi, kata Yusman, ia pasti akan memilih damai. Ia akan rela mengeluarkan uang Rp100 ribu asal tidak ditilang. ”Tapi seumur-umur di Batam, saya tak pernah kena tilang,” aku pria yang membuka kios kecil di Bengkong itu.

Ungkapan Yusman mewakili warga lain yang ”takut repot” berhadapan dengan pengadilan. Padahal kalau melihat langsung jalannya sidang tilang, sidangnya cuma berlangsung beberapa menit. Untuk pelanggaran seperti melanggar marka jalan, Yusman tak perlu mengeluarkan uang Rp100 ribu. Paling-paling ia hanya dikenai denda Rp30-an ribu.

Seperti Ahmad warga Baloi yang juga di sidang pagi itu. Ia yang melanggar marka jalan, didenda Rp35 ribu. Sedangkan yang melanggar lampu merah dan tak mempunyai SIM, rata-rata kena Rp75 ribu. Hanya saja, karena harus pergi ke pengadilan banyak di antara mereka yang terpaksa tak masuk kerja.

”Kalau saya sudah dua kali kena tilang. Saya biasa kena razia, karena tak punya SIM,” aku Muhamad warga Batuaji.

Menurut Humas Pengadilan Negeri Batam Y Wisnu Wicaksono, hampir rata-rata pelanggar lalu lintas yang disidangkan karena perlanggaran ringan seperti menerobos marka jalan atau lampu merah. Biasanya, hakim menasehati mereka agar tak melakukan pelanggaran lagi.

”Hampir 70 persennya itu pelanggarnya adalah pengendara sepeda motor. Per bulan rata-rata 1.500 hingga 1.600 pelanggar kami sidang. Saya sendiri, hampir menyidangkan 400 orang per bulannya,” kata Humas Pengadilan Negeri Batam Y Wisnu Wicaksono, kemarin.

Sat Lantas Poltabes Barelang sendiri hampir setiap hari melakukan razia rutin. Maraknya pencurian sepeda motor dan masih rendahnya kedisiplinan pengendara, membuat Sat Lantas rutin menggelar operasi. Untuk operasi rutin seperti itu, tak ada kata ”main mata” bagi pelanggar itu.

Halaman Studio 21 di Jalan Raden Patah, biasanya dijadikan lokasi razia rutin oleh polisi. Biasanya, operasi yang berlangsung setengah jam itu berhasil menjaring belasan pengendara motor tak bersurat-surat resmi. Beberapa di antaranya, ada pengendara yang terjaring razia yang sama.

Untuk pengendara yang terjaring hingga tiga kali, kata Kaurbin Ops Sat Lantas Iptu Renan, akan dikenai denda pinalti. ”Itu ada peraturannya. Misalnya, ia sudah tiga kali kena tilang karena tak punya SIM, maka yang bersangkutan oleh hakim akan dikenai denda pinalti dengan denda tiga kali lipat dari kesalahannya itu,” tukasnya.

Kasat Lantas Poltabes Barelang Kompol Ricky Purnama mengakui rendahnya kedisplinan berkendara di Batam. Masih banyak pengendara yang belum mematuhi aturan yang ada. Sejumlah kendaraan yang terjadi, juga akibat rendahnya disiplin warga berkendara di jalan raya. Padahal, jalan raya adalah pembunuh terbesar. Kamis (31/8) lalu saja, dua warga meninggal akibat kecelakaan.(hamid)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s