Tragedi kita . . .

Kisah Bapak Aniaya Anak Hingga Tewas
Sering Marah dan Suka Pukuli Anak

Kekerasan terhadap anak-anak adalah tragedi kemanusiaan. Sering terjadi di sekitar kita, namun tak begitu kita pedulikan karena dianggap sebagai urusan rumah tangga sebuah keluarga. Hingga akhirnya kita tersentak, mendengar bocah berumur dua tahun tewas akibat dianiaya ayahnya di Perum Bambu Kuning Blok C Batuaji, Rabu (16/8).

BATAM – Berita tewasnya Yogi Adrian (2) menjadi buah bibir warga di kawasan Puskopkar Batuaji. Mereka banyak bergidik, mendengar Yogi tewas karena dianiaya Erdi (34) ayahnya sendiri. Sehingga tak sulit untuk mencari di mana keluarga tersebut tinggal.

Rumah nomor 6 di Blok C25 Perum Bambu Kuning itu sepi. Pintunya tertutup, dan di teras terlihat tumpukan tikar plastik yang terlihat baru saja dipakai. Seorang ibu muda, yang tak lain adalah Sri (29) ibu dari Yogi sekaligus isteri Erdi membuka pintu.

”Saya masih lemas. Kalau lama berdiri, kakiku bergetar. Saya tak bisa wawancara dulu,” kata Sri.

Sri mengaku sangat terpukul. Kehilangan putra yang sedang lucu-lucunya akibat dianiaya suaminya sendiri, adalah beban yang sangat sulit dipikul. Dia bahkan belum bisa memberi keterangan di kepolisian, karena belum bisa berpikir jernih.

Dia menangis, saat memperlihatkan foto Yogi. Air matanya menetes, membasahi kaos merah putih yang ia kenakan. ”Itu foto Yogi saat berumur satu tahun. Sekarang rambutnya sudah panjang,” katanya sembari menyeka air matanya.

Sri menuturkan, Rabu sore itu, ia yang baru pulang kerja dari kawasan industri Batamindo Mukakuning mendapati anak sulungnya pingsan. Ia kaget dan tanpa pikir panjang lagi, bersama suaminya membawa Yogi ke Rumah Sakit Awal Bros, Baloi.

Namun belum sempat mendapatkan perawatan, Yogi sudah keburu diketahui meninggal. Usai mendapatkan surat kematian dari Awal Bros, Sri dan suaminya itu kemudian membawa anaknya pulang. Di rumahnya Sri tak henti menangisi kematian anaknya itu.

”Anak saya itu sedang lucu-lucunya. Ia suka sekali makan coklat,” kata wanita asal Palembang itu.

Selanjutnya, Sri enggan bercerita lagi. Mengenai sikap suaminya, ia pun enggan menceritakannya. ”Saya ingin anak saya dibacakan tahlil selama satu minggu. Dan itu sudah saya sampaikan ke warga di sini,” katanya.

Menurut Ketua RW Perum Bambu Kuning Khairul Basri, wargalah yang curiga ada yang tak beres dengan kematian Yogi. Erdi tak mengizinkan warga yang melayat, menengok jazad Yogi. Sikap Erdi yang tertutup itulah yang membuat warga curiga. Apalagi warga sudah tahu, Erdi sering terlihat memukuli anak dan isterinya.

Erdi bahkan ngotot akan menguburkan jenazah anaknya keesokan harinya, pukul 09.00 WIB. Namun karena warga sudah curiga ada yang tak beres, warga mencoba mengulur-ulur waktu pemakaman Yogi. Maka kemudian warga berkumpul. Bersepakat melaporkan hal itu ke polisi. Polisi datang dan meminta Yogi divisum. Meski awalnya Erdi menolak, akhirnya ia luluh juga.

Dari hasil visum di RSOB Sekupang, itulah kemudian diketahui ada yang tak wajar dengan kematian Yogi. Hampir di sekujur tubuh Yogi terlihat luka memar. Ada darah di mulut dan di lubang anusnya. Erdi kemudian diperiksa dan polisi menjadikannya tersangka dan menjeratnya dengan pasal 531 ayat 3 KUHP jo Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan Undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.

”Dari pengakuan sementara, tersangka mengaku hanya memukul pantat anaknya. Dia kesal karena anaknya tak mau makan,” kata Kanit Reskrim Polsek Sekupang Iptu Bobby Indra P, kemarin.

Namun polisi tentu tak mau percaya begitu saja, mengingat tubuh Yogi memar dan membiru. Apalagi diperkuat pengakuan sejumlah tetangga Erdi yang mengatakan, sering terjadi keributan di rumah itu dan Erdi sering memukuli anak dan isterinya.

Bahkan, anak kedua Erdi-Sri yang berumur enam bulan sering menjadi sasaran kekerasan Erdi. Untuk yang satu ini, Sri tak mau mengakuinya. Ia hanya diam, dan hanya bilang kalau suaminya itu merupakan orang pemarah. ”Sejak awal ia memang pemarah,” kata Sri.

Sementara itu, Erdi kemarin menangis menyesali perbuatannya. Kepada wartawan ia mengaku stres akibat tak punya pekerjaan tetap. Ia memukul anaknya dan meremas perut anaknya hingga muntah. ”Pukul saja, saya. Pukul saja,” katanya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s