Jalan-jalan Dapat Duit

Toilet di Hyatt Hotel SurabayaDi tengah anjloknya APBD Batam 2008, tim Panggar Dewan dan Pemko Batam melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kota Surabaya, pekan lalu. Panggar ingin belajar ke Surabaya, bagaimana meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Kenyataannya, kunker itu seperti sekadar pelengkap pembahasan Rancangan APBD 2008.

II

”Berlama-lamalah menginap dan belanja di Surabaya,” kata Asisten Administrasi Pembangunan Pemko Surabaya Muklas Udin, saat menerima rombongan tim Panggar Batam yang dipimpin Aris Hardy Halim. Selama dua jam, tim panggar Dewan dan Pemko Batam diterima Ketua DPRD Surabaya Musafak Rauf dan tim Pemko Surabaya di Balai Kota Surabaya, Jumat (9/11).

Ajakan Muklas Udin bukan sekadar ungkapan basa-basi pembukaan pertemuan. Atau karena ia tahu, bahwa biasanya kunker itu efektifnya hanya dua jam. Sedangkan selebihnya, selama tiga hari mereka yang berkunjung ke Surabaya banyak jalan-jalan dan belanja.

Seperti yang dilakukan tim panggar Batam, misalnya. Dari tiga hari kunjungan, praktis hanya dua jam mereka meminta masukan soal bagaimana Surabaya meningkatkan PAD-nya. Selebihnya, waktu lebih banyak untuk jalan-jalan, belanja atau menikmati hiburan di Surabaya.

Ajakan berlama-lama menginap dan belanja di Surabaya, itu bisa disebut mengajari langsung tim Panggar Batam, bagaimana meningkatkan PAD. Pasalnya, dari pajak hotel dan restoranlah, Surabaya menangguk pendapatan.

Pemasukan Pemko Surabaya dari PAD di sektor pajak hotel mencapai Rp70 miliar. Sedangkan pajak restoran, mencapai Rp68,8 miliar dan Rp15,8 miliar dari hiburan. PAD dari sektor pajak hotel dan restoran saja, sudah melebihi keseluruhan PAD Batam yang di Rancangan APBD 2008 ditargetkan Rp130,23 miliar.

Jika tim Panggar Batam lama menginap, tentu pajak hotel dan restoran yang akan masuk ke PAD Surabaya otomatis bertambah pula. Apalagi, kalau menginapnya di hotel berbintang lima, seperti tempat menginap tim Panggar Batam selama tiga hari di Surabaya, itu.

Sejak beberapa tahun terakhir, Surabaya sudah melaksanakan sistem on line untuk mencegah kebocoran pajak hotel di sana. Namun, karena sistem ini membutuhkan biaya yang tak murah, hanya hotel-hotel bintang empat dan limalah yang tersambung langsung datanya ke Dispenda.

Setiap tamu yang masuk ke hotel bintang empat dan lima di sana, datanya juga otomatis masuk ke data Dispenda Surabaya. Berapa jumlah tamu hotel yang menginap, Dispenda tahu dan bisa langsung menghitung sendiri pajak yang akan masuk ke kas daerah. Sehingga, Dispenda tak bisa lagi dibohongi.

Surabaya juga bekerja sama dengan badan pengawas keuangan dan pembangunan untuk mengawasi maupun menghitung potensi pajak hotel-hotel dan restoran di Surabaya. Hasilnya, dari tahun ke tahun, pendaatan dari pajak hotel dan restoran terus bergerak naik.

Menurut Ketua DPRD Surabaya Musafak Rauf, Tahun 2004 lalu, PAD dari pajak hotel awalnya hanya Rp35 miliar. Tahun berikutnya, bergerak naik jadi Rp45 milia, Rp65 miliar hingga akhirnya tahun ini jadi Rp70 miliar.

”Setiap tahun, pendapatan sellu melebihi target. Kami dulunya sering dibodohi, namun setelah kami belajar, akhirnya kami bisa memaksimalkan potensi pAD dari pajak hotel dan restoran,” katanya.

Di Surabaya, kata Musafak, ada perjanjian antara Pemko Batam dan pihak hotel. Jika pendapatan pajak hotel dan restoran yang diinginkan Pemko Surabaya melebihi target, maka kelebihan pendapatan dari pajak itu dibagi dua dengan pihak hotel. Sehingga, Surabaya harus pintar-pintar mematok target agar antara terget dan realisasi di lapangan angkanya tak meleset jauh.

Aris mengatakan, Pemko Batam bisa meniru langkah Surabaya dalam meningkatkan PAD-nya dari pajak hotel dan restoran. Seperti menggunakan sistem online dan bekerja sama dengan BPKP. Apalagi, Batam dan Surabaya sama-sama kota pariwisata.

Di APBD Batam 2008, target PAD dari pajak hotel Rp25,336 milir, pajak restoran Rp12,5 miliar dan Rp5 miliar dari pajak hiburan. ”Kita akan bicarakan nanti dengan Dispenda dalam pembahasan Rancangan APBD 2008. Saya yakin, target dari pajak hotel dan restoran bisa terus meningkat,” katanya.

Mulai hari ini, Tim Panggar DPRD dan Pemko Batam mulai membahas Rancangan APBD Batam yang target pendapatannya hanya Rp694,5 miliar atau turun Rp202 miliar dari tahun lalu. Kunjungan ke Surabaya adalah pelengkap yang seperti tim atau pansus lain, menjadi sebuah kewajiban setiap kali tim atau pansus membahas sesuatu.

Inilah yang disentil Musafak. Kunker itu, menurutnya, sebagai salah satu cara menyerap anggaran APBD atau dalam bahasa awamnya menghabiskan anggaran yang sudah dialokasikan untuk mereka. Maklum, APBD tinggal dua bulan lagi. Kalau tak dipakai, uang daerah itu akan kembali lagi ke kas daerah. Para anggota dewan pun tersenyum, menanggapi sentilan Musafak itu.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s