Menabung dan Umrah

Menabung. Kata itu sudah kudengar jauh sebelum saya mengenal bangku sekolah. Lalu, kata guru-guru menabung pangkal kaya.

Tapi saya tak pernah melakukan itu. Saya orang yang tak cukup gigih untuk menyimpan sesuatu sedikit-demi sedikit, yang katanya lama-lama jadi bukit.

Dulu, sempat juga punya celengan. Setiap ada sisa uang jajan Rp100, selalu saya masukkan ke celengan kalengku. Namun, baru seminggu, celengan itu sudah saya buka lagi. Rasanya, tak sabar ingin tahu berapa isinya.

Sehingga, saya tak pernah punya inisiatif untuk menabung. Kalau sekarang saya punya tabungan, itu karena gaji saya diberikan lewat rekening bank. Itu pun, kantor yang menyediakan tabungan.

Ada juga sih, tabungan uang hasil usaha. Tapi, itu tujuannya bukan sama sekali untuk menabung agar kaya. Namun, sekadar agar uang usaha kami itu tak hilang, agar aman.

Lalu, Jumat lalu saya bertemu dengan seorang ibu-ibu yang hamil bayi kembar. Satu bayinya di dalam rahim, satunya lagi di luar rahim. Si ibu harus jalani operasi caesar, sedangkan ia dan suaminya tak memiliki banyak uang buat biaya.

Suaminya itu pontang-panting, katanya. Bikin surat keterangan miskin dan lain-lain. Sayangnya, ia tak punya KTP Batam.

Di sinilah, saya sadar. Mungkin kata-kata dulu, itu ada benarnya. Bukan ingin kaya, tapi untuk jaga-jaga. Siapa tahu, suatu saat nanti saya butuh uang banyak buat anak yang mau sekolah, atau untuk jaga-jaga ada teman yang mau pinjam.

Kemudian, keesokan harinya saya ikut mengantar Wali Kota berangkat ke Singapura. Ia berangkat umrah ke Mekah. Senyumnya mengembang. ”Baru kali ini, setelah semua urusan selesai, saya sempat melakukan umrah,” katanya.

Kata itu, terdengar renyah. Ya, Wali Kota sangat sibuk. Untuk sekadar umrah, saja ia tak sempat. Bukan alasan uang yang membuat rencana umrahnya terus molor.

Tiba-tiba saya teringat suami-isteri yang tak punya biaya melahirkan itu. Coba, kalau ia menabung juga seperti Wali Kota, tentu ia tak akan kekurangan biaya.

Tapi, pikiran saya itu langsung saya hapus kembali. Apa iya, pasangan suami-isteri itu punya uang untuk menabung. Pasalnya, ia mengaku miskin. ”Untuk makan saja susah,” katanya.

Di tengah berkecamuknya pikiran itu, saya ditelpon oleh seseorang yang mengaku masih keluarga pasangan suami-isteri itu. Ia tak terima membaca tulisanku soal suami-isteri yang miskin itu.

”Saya keluarganya, dia yang tak bilang sama saya. Dia itu bohong, atau jangan-jangan ia mau mengelabui rumah sakit. Bapak harus bertemu saya,” katanya.

Hari ini, laki-laki yang mengaku keluarga suami-isteri kurang mampu itu mengajak janjian bertemu di depan SMP 20 Sekupang. Saya pun mengiyakannya. Jadi, lupakan dululah, soal menabung. Semoga kita sama-sama bisa jadi orang yang sedikit lebih punya dari orang lain, biar bisa membantu mereka yang kekurangan.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s