Sampai Mati

Kalau kau pernah patah hati, sama

Kalau kau pernah takut mati, aku juga iya

Lagu Sampai Nanti, Sampai Mati dari Lettto itu mengalun merdu di dataran Engku Putri, Batam Rabu (19/3) malam, lalu. Malam itu, Letto tampil dalam konser pemuda untuk kebangkitan nasional dalam Kongres XVI PMII.

Suasana konser riuh, bergelora seperti kongres PMII, itu. Noe, vokalis Letto tampil habis-habisan. Ia mengajak mahasiswa tetap bersemangat, meski sial datang dan pergi tanpa permisi.

”Satu permintaan hati saya, semoga PMII jadi cahaya di kegelapan Indonesia,” kata Noe.

Apa yang diharapkan Noe, mungkin bisa jadi kenyataan. Banyak tokoh politik dan menteri yang berlatar belakang aktivis pergerakan, seperti PMII. Sebut saja, Muhaimin Iskandar, Suryadharma Ali, Lukman Edy dan lainnya.

Namun, bermodal semangat juga tak cukup. Kongres XVI PMII selalu ricuh. Peserta kongres mungkin terlalu bersemangat, ingin berbicara, ingin menyuarakan aspirasi rakyat, ingin jadi bagian dari sejarah pergerakan Indonesia, sehingga terkesan kebablasan.

Tadi sore, presidium sidang berlarian karena diserbu peserta kongres. Kongres yang berlangsung di Asrama Haji Batam ricuh. Pembacaan laporan pertanggungjawaban Hery Haryanto Azumi, tak jadi karena sidang terlanjur ricuh. Peserta main pukul dan saling dorong.

Sebuah ironi, di tengah bermunculannya kaos bertuliskan revolusi moral yang dikenakan sejumlah sahabat-sahabat PMII. Saya hanya tertegun. Tiba-tiba saja muncul bayangan, saat saya mengikuti kongres ikatan mahasiswa Muhammadiyah, di tempat yang sama. Saat itu, sidang juga memanas. Tapi, tak ada yang ngajak adu jotos atau menyerbu pimpinan sidang.

Namun, mungkin saja segala kericuhan itu benar-benar karena sahabat-sahabat PMII yang tetap semangat sampai mati. Bukan, karena mereka memendam agenda lain di balik berlarut-larutnya, kongres. Jadwal molor terus. Panitia khawatir, dana mereka tekor untuk membiayai kongres yang berdarah-darah, itu.

Semoga, mereka yang kongres hari ini berkesempatan duduk di kursi legislatif. Sehingga, mereka semua bisa belajar dari ”semangat”-nya sidang tersebut. Sehingga, nanti jika mereka bersidang bisa lebih santun. Bisa lebih menghargai orang lain.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s