Nasib Pedagang Kecil

Kehadiran sebuah perkantoran, terutama di bidang pelayanan publik, ternyata memberikan pengaruh pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Saat perkantoran pindah, omzet penjual makanan di sekitarnya juga ikut turun.
***
Hari beranjak siang, saat Ima Sumiyati (52) pedagang mie ayam di Batam Centre Mall duduk santai di kursi di samping gerobak jualannya, Selasa (1/4). Di atas mejanya, sepiring bihun goreng hangat terhidang. Dengan sepasang sumpit, ia memasukkan potongan-potongan bihun itu ke mulutnya.

Bihun itu terasa gurih, dengan potongan-potongan bakso di dalamnya. Asap tipis mengepul. Bihun goreng itu sepertinya lezat dinikmati bersama desir angin yang terasa sejuk di tubuh.

Namun, Ima seperti tak bersemangat menikmati bihun bikinannya, itu. Baru dua kali suapan, sumpitnya sudah ia letakkan. Padahal, tak setiap hari Ima bisa sarapan di tempat itu. Biasanya, menjelang pukul sebelas seperti siang itu, ia selalu sibuk melayani pembeli.

”Pembeli sepi, sejak kantor ATB (Adhiya Tirta Batam) pindah. Biasanya, jam segini ramai pembeli,” katanya.

Kawasan BCM tempat Ima dan pedagang lain jualan memang dikelilingi sejumlah perkantoran. Selain kantor PT ATB, di kawasan itu, pernah berkantor para anggota Dewan Kepri. Pernah ada SMK BBS dan pasar swalayan.

Namun seiring waktu, satu per satu perkantoran tersebut pindah. DPRD Kepri sudah pindah ke Tanjungpinang, SMK BBS juga sudah pindah. Terakhir, kantor ATB juga pindah.

Pindahnya sejumlah perkantoran itulah, kata Ima, yang membuat jualannya merosot. Biasanya bisa menjual mie ayam atau bihun goreng 50 porsi dan menghabiskan empat papan telur, pekan-pekan terakhir ini, Ima hanya bisa paling banter menjual 30 porsi.

”Dulu, saya mana sempat sarapan di sini. Sarapannya di rumah. Sekarang karena sepi, saya makan di sini saja,” tuturnya.

Apa yang diungkapkan Ima, ada benarnya jika melihat deretan gerobak penjual makanan di lorong-lorong BCM tersebut. Dulu, di tempat itu ada sekitar sepuluh penjual makanan. Sekarang, mulai tanggal satu per satu.

Penjual siomay dan batagor di samping gerobak Ima sudah tak lagi jualan. Yang tertinggal, hanya penjual bubur ayam, gado-gado dan gorengan. Yang lain tutup karena pembeli mulai sepi.

Yanti (25) penjual bubur ayam, juga mengeluhkan sepinya pembeli. Sebelum kantor ATB pindah, katanya, banyak warga yang mampir sambil menunggu antrean membayar rekening air. Siswa-siswa SMK juga sering makan siang di sana.

”Sekarang sepi. Lihat tu meja-meja di sana, tak ada orangnya. Padahal, biasanya ramai,” tutur warga Legenda Malaka, itu.

Waktu masih dikelilingi perkantoran, kata Yanti, warga banyak yang makan siang atau sekadar minum teh dan kopi di meja-meja yang dipasang di lorong-lorong BCM itu. ”Seperti kalau menunggu anggota Dewan, mereka biasanya mampir dulu. Sekarang Dewan pindah, ATB pindah, SMK BBS pindah. Jadi sepi,” tukasnya.

Winda (30) penjual gado-gado juga menyimpan kegundahan. Apalagi, kata Winda, markas Polda Kepri juga akan pindah dari kawasan itu. ”Pasti akan lebih sepi lagi,” tuturnya.

Kawasan BCM dulunya juga ramai dikunjungi sejumlah pejabat Batam dan Otorita Batam. Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, termasuk pejabat yang menyimpan romantisme di sepanjang lorong-lorong BCM itu. Bubur ayam, merupakan menu favorit Dahlan saat masih bertugas di OB.

Tahun lalu, Dahlan juga sempat kembali menikmati bubur ayam buatan Yanti. Saat itu, Dahlan makan siang di BMC bersama Ketua DPC PDI Perjuangan Batam Ruslan Kasbulatov dan sejumlah aktivis LSM.

Yanti mengaku masih mengingat momen itu. ”Mudah-mudahan banyak lagi perkantoran. Biar ramai lagi,” harapnya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s