Kampung Boyan, dari Jodoh ke Seipanas

Meski tak lagi berbekas, Kampung Boyan yang berdiri di Jodoh empat dasawarsa lalu, tetap dikenang. Bahkan, saat perkampungan itu pindah ke Seipanas dan berganti nama Baloi Harapan II, tahun 1987 lalu, nama Kampung Boyan tak lekang dimakan waktu. Bagaimana sejarah perkampungan orang Bawean itu?
****
Lokasi pertama Kampung Boyan di Jodoh, kini tak lagi berbekas. Tanah rawa yang dibuka untuk perkampungan di tahun 1969 silam, itu kini berganti gedung perkantoran dan pusat bisnis, di jalan Imam Bonjol, seberang apartemen Harmoni.

Orang Bawean yang pernah menghuni kawasan itu, hanya bisa mengenang dan bercerita kisah mereka saat pertama kali membabat hutan bakau. ”Di sana, di bawah Masjid Baitussyakur sekarang, ayah saya Hasan membuka perkebunan,” kata Mohamad Ohsi (65) tetua warga Bawean di Seipanas, kemarin.

Awalnya, hanya rumah Hasan yang berdiri di sana. Lalu, seiring dengan banyaknya warga Bawean yang datang ke Batam, rumah-rumah mulai tumbuh. Kampung baru itu menjadi tujuan hampir semua warga Bawean yang datang ke Batam.

Setahun-dua tahun, perkampungan tak bernama itu mulai ramai. Kemudian, untuk memudahkan penyebutan, dinamailah kampung itu dengan sebutan Kampung Boyan atau kampungnya orang-orang Bawean. ”Sebetulnya namanya Kampung Bawean, tapi karena lidahnya orang Melayu susah nyebutnya, jadi namanya Kampung Boyan,” tutur Ohsi.

Kampung boyan tumbuh ramai mengalahkan perkampungan di sekitarnya, hingga menarik para pebisnis membuka usaha di sana. Bioskop pertama di Batam, berdinding papan di akhir tahun 1970-an berdiri di Kampung Boyan itu. Gedung tersebut bisa menampung hingga 200-an penonton.

”Dulu, film yang laku film perang-perangan (action,red). Kalau tak salah, ongkos masuknya sekitar Rp200-an,” kata Ohsi.

Seiring dengan pertumbuhan Batam yang menjelma menjadi kawasan industri, Kampung Boyan mulai tergerus laju pembangunan. Kampung itu, juga sering dilanda kebakaran. Hingga penduduk di sana berinisiatif pindah.

Maka, dipimpin Ohsi, warga Bawean mencari lokasi yang pas untuk tempat tinggal baru. Maka, dipilihlah hutan di dekat Kampung Melayu Seipanas, sebagai lokasi baru. Namun, untuk menjadikan hutan itu sebagai perkampungan, bukanlah mudah. Warga Bawean harus mendapatkan izin dari Otorita Batam, karena Otorita Batamlah badan yang mengelola Batam.

”Kami menggunakan pengaruh ulama terkenal Hasan Basri yang juga tokoh Bawean agar OB menyetujui permintaan kami. Alhamdulillah, kami disetujui membuka perkampungan,” ujarnya.

Urusan izin beres, Ohsi dan ratusan warga Bawean lainnya dipusingkan dengan biaya pembukaan hutan. Mereka membutuhkan alat berat yang biayanya sudah cukup mahal saat itu. ”Kami urunan satu rumah Rp50 ribu. Namun, karena tak semua orang Bawean mau, hanya 220 keluargalah yang ikut pindah ke sini,” tukasnya.

Saat perkampungan baru itu berdiri, di kanan kirinya sudah muncul perkampungan lain. Ada Baloi Harapan, ada Kampung Melayu dan lainnya. Agar kampung baru itu juga punya nama, ada warga yang mengusulkan agar kampung tersebut tetap dinamai Kampung Boyan.

Tapi, usulan itu tak terwujud. ”Kami tak ingin tampil ekslusif. Kami ingin sama saja dengan perkampungan sebelah, makanya kampung ini dinamai Baloi Harapan II, Seipanas,” kata Ohsi.

Meski telah berganti nama, ternyata orang Batam kesulitan mencari alamat Baloi Harapan II. Orang-orang saat itu, tetap menyebut Kampung Boyan bagi kampung baru pindahan dari Kampung Boyan di Jodoh, itu.

Hingga sekarang, Kampung Boyan tetap disebut-sebut. ”Padahal, namanya Baloi Harapan II. Kalau ada yang nanya Baloi Harapan II, pasti bingung. Tapi, kalau nanya Kampung Boyan, pasti mereka menyebut tempat ini,” ucapnya.

Saat ini, menurut Ketua Ikatan Keluarga Bawean Batam (IKBB) Mansyur Hamami, jumlah warga Bawean di Batam sekitar 4.000 orang. Mereka kini tak lagi tinggal di satu perkampungan. ”Tapi, terpencar di mana-mana. Ada di Bengkong, Sekupang, Batumerah, Batuaji dan lainnya. Cuma yang terkenal, ya Kampung Boyan di Seipanas itu,” katanya.

Bawean sendiri, kata Mansyur, adalah pulau di Jawa Timur yang sebagian besar penduduknya hidup merantau. Rata-rata warga Bawean bekerja di Malaysia atau Singapura, hingga di dua negara tetangga itu pun ada Kampung Boyan.

Di Batam, warga Bawean tetap melaksanakan tradisi kampung halamannya. Seperti memperingati maulid Nabi Muhammad dengan acara tukar-menukar ”angkatan” atau kado dalam ember besar berisi beragam makanan. Kesenian khas Bawean seperti rebana, pencak silat dan korcak juga tetap mereka lestarikan.
Menurut Asisten Ekbang Pemko Batam Syamsul Bahrum, orang Bawean punya banyak kesamaan dengan orang Melayu. ”Buktinya, di sejumlah tempat dengan budaya Melayu kental selalu ada Kampung Boyan (Bawean,red). Di Singapura, Malaysia dan Tanjungpinang ada perkampungan Bawean,” tukasnya.***

4 responses to “Kampung Boyan, dari Jodoh ke Seipanas

  1. bukan apartemen harmoni mas tapi hotel harmoni…….. beremma bekna……… apartemen harmoni dekat kampung utama………. terlalu jauh dengan masjid baitusyakur……………. salam

  2. he..he.., ya, pak.. salah.. makasih pembetulannya….

  3. assalaamu’alaikum pak imbalo gmn kbarnya sehat kan selamat berjuang terus pak?^_^ allohuakbar

  4. bebde kean se acareta bhebian e atam ya,,, salam dr anak bawean yg nyunsep di batam,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s