Ketika yang Bego Tak Mampus-mampus

Apakah yang bego harus segera mampus? Apakah yang jahat harus segera binasa? Apakah yang iblis harus segera musnah?

Saya tak mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu. Saya percaya akan keseimbangan. Yang bego mungkin dibutuhkan untuk mengukur kepintaran, yang jahat dibutuhkan untuk mengukur kebajikan. Dan yang iblis, dibutuhkan untuk mengkur ke-ilahi-an.

Saya menulis ini untuk menandai ada kelompok-kelompok tertentu yang protes, kenapa yang bego tak mampus-mampus. Kenapa yang menindas rakyat tak juga terjungkal. Kenapa harus menunggu berabad-abad hingga kolonialisme di bumi ini runtuh.

Mungkin, pertanyaannya bisa kita ganti. Kenapa tak kita saja yang duduk mengatur negeri ini. sehingga ketika ada kebijakan kita yang dianggap bakal menyengsarakan rakyat, kita tak perlu teriak-teriak, kenapa yang bego tak mampus-mampus?

Ketika para mahasiswa Kepri berdemonstrasi menolak kenaikan BBM di DPRD Batam, ada yang bergetar di dada. Ini mungkin sudah saatnya mahasiswa di Batam ini bergerak. Mereka terlalu lama diam, terlalu lama berada di ruang kemapanan kampus.

Maka, meluncurlah kata-kata, kenapa yang bego tak mampus-mampus. Yang bego, tudingan itu mengarah ke DPRD Batam. Memukul telak wajah Ketua DPRD Soerya Respationo yang sudah mau turun menemui mereka.

Soerya tak terima. Entah karena ia sudah terbiasa dihormati orang. Atau karena ia ingin menunjukkan kepada para mahasiswa itu, bahwa Dewan adalah lembaga terhormat. Atau karena ia merasa mahasiswa salah tuding, jika mengakatan Dewan bego karena BBM naik. BBM naik, tentu bukan wewenang DPR. Apalagi, DPRD Batam, yang entah berada di titik mana di antara elit politik Indonesia.

Tapi, dalam keinginan yang sungguh, saya juga punya keinginan, biar mereka yang bego, yang dipilih rakyat untuk mengurusi nasib mereka, mati saja jika hanya bisa menyengsarakan rakyat. Sudah begitu banyak rakyat yang memilih mati karena ketidak adilan sistem. Memilih minum racun, memilih gantung diri.

Batam segera menyongsong free trede zone. Segera bermimpi jadi kota metropolitan. Sementara di pojok-pojok kehidupan, warga miskin terus bertambah. Batam menambah warga miskinnya 30 persen lagi. Kemana uang-uang pembangunan itu? Kemana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s