Kehidupan Para Ajudan

sby-dan-ajudanSeorang ajudan, tak sekadar menjadi pembantu atau bodyguard. Ia tak hanya bertugas memastikan semua keperluan ”tuannya” terlayani dengan baik. Tapi juga bisa menjelma menjadi teman diskusi. Bagaimana para ajudan Gubernur dan Wali Kota menjalani hari-harinya?
*****
Sabtu siang itu, di pertengahan November tahun lalu, matahari sedang terik-teriknya. Di pelataran Quran Centre, Sekupang, sejumlah orang berdiri menunggu. Mereka menunggu kedatangan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah yang berencana sidak pembangunan asrama dan gedung perpustakaan QC, itu.

Beberapa menit kemudian, sebuah sedan hitam metalik yang dinaiki orang nomor satu di Kepri itu berhenti di pelataran tersebut. Junaidi, sang ajudan keluar lalu membuka pintu dengan sikap takzim. Ia menunduk, sambil mempersilakan sang Gubernur beranjak dari tempat duduknya di jok belakang.

Ismeth lalu berjalan diiringi Mahadi Rahman, Direktur QC memantau pembangunan perpustakaan dan asrama itu. Rona wajahnya mendadak berubah merah. Ia terlihat marah, melihat pembangunan dua gedung itu yang molor.

Dipanggilnya kontraktor proyek itu. Wartawan yang melihat peristiwa itu mendekat, ingin mendengar kemarahan Ismeth. Namun, Ismeth melarang. Junaidi pun bertindak. Ia ikut melarang wartawan mendengar pembicaraan Ismeth dengan kontraktor tersebut.

Peristiwa yang sempat disaksikan Batam Pos itu, merupakan salah satu momen, bagaimana seorang ajudan bertugas. Junaidi tak sekadar membuka atau menutup pintu buat sang Gubernur, tapi juga memastikan apa yang dimaui pimpinannya itu terlaksana dengan baik.

Junaidi, sudah menjadi ajudan Ismeth sejak Gubernur Kepri itu dilantik menjadi Plt Gubernur, pertengahan 2004. Kemanapun Ismeth pergi, Junaidi selalu di sampingnya. Ismeth ke pulau terpencil, Junaidi ikut. Ismeth ke Korea Selatan pun, Junaidi mendampingi.

Tak jarang, Junaidi harus berpisah lama dengan isteri dan anaknya yang bersekolah di SD Ulil Albab. Sebagai seorang ajudan Gubernur, Junaidi banyak menetap di Tanjungpinang, sedangkan keluarganya tinggal di Tiban, Batam.

”Namun, saya menyukuri ini. Kepercayaan yang diberikan bapak (sebutan Junaidi untuk Ismeth), adalah sebuah kehormatan bagi saya,” tukas Junaidi dari ujung telepon, saat dihubungi Batam Pos, Senin (6/1) sore.

Meski sering terpisah ruang dan waktu, komunikasi Junaidi dengan keluarganya tetap hangat. Menelepon dan dan mengirim pesan pendek lewat ponsel, menjadi kegiatan rutin yang ia lakukan buat isteri dan anaknya.

Karena kadang, meski kegiatan Ismeth juga banyak di Batam, Junaidi belum tentu bisa menemui anak dan isterinya. Rumahnya pun, katanya, kadang hanya ia lewati, tanpa sempat singgah.

Padahal, rumahnya di Tiban sering dilewati oleh mobil rombongan Gubernur. Jika seperti ini, katanya, biasanya ia menghubungi isteri dan anaknya. ”Anak saya, kadang nengok mobil rombongan kami. Ya, mereka hanya bisa melihat,” tukasnya.

Kehidupan seorang ajudan yang harus siap 24 jam, katanya, sudah ia bayangkan sejak awal. Keluarganya pun sudah memaklumi dan mendukung karirnya. ”Kadang isteri protes juga, kenapa hari Minggu kok tak pulang. Tapi, mereka mengerti,” ujarnya.

Kehidupan yang hampir sama juga dijalani ajudan Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, Ridwan Afandi. Tapi, nasib Ridwan masih lebih enak dibandingkan Junaidi. Karena Ridwan, masih bisa pulang setiap malam ke rumahnya.

Ridwan menjadi ajudan Dahlan sejak April 2006. Saat itu, ia belum menikah dan menjadi satu-satunya ajudan yang dimiliki orang nomor satu di Batam itu. Sehingga ia tak merasa harus perlu berbagi waktu dengan keluarganya.

Baru Juli 2007 lalu, ia menikah. Dan seperti mengerti, kalau Ridwan harus memiliki waktu buat keluarganya, Dahlan menambah satu lagi ajudan, yakni Ade Sofian.

”Saya koordinasi saja dengan Ade, misalnya kalau salah satu dari kami ada keperluan penting, salah satunya yang menghandle. Bapak (Dahlan,red) juga mengerti,” ujar Ridwan.

Menjadi ajudan, kata Ridwan, harus memahami acara-acara yang akan dihadiri Wali Kota. Setiap ada undangan buat Wali Kota, ia harus mengetahui susunan acaranya seperti apa, siapa saja yang bakal hadir, dan beragam informasi tentang acara itu. Jika acaranya banyak di waktu yang bersamaan, ia harus bisa memberi informasi lengkap, sehingga Wali Kota bisa memilih, akan hadir di acara apa.

”Bapak kadang tanya juga, baiknya saya hadir di acara apa. Tugas saya menyampaikan informasi, bapak nanti yang memilih yang paling urgen,” tukasnya.

Pernahkan ia dimarahi Dahlan? ”Namanya manusia pasti juga pernah berbuat salah. Tapi, bapak itu orangnya pengertian,” ujar Ridwan.

Sebagai ajudan, Ridwan juga ikut menyeleksi tamu-tamu yang hendak bertemu Dahlan. Siapa tamu itu dan apa keperluannya, ia sampaikan ke Dahlan. Kadang, saat Dahlan tak bisa menemui tamu itu karena jadwalnya yang padat, ia juga kerap diprotes sang tamu.

Jika ada yang protes seperti itu, tugas Ridwan memberi pengertian mereka. ”Bapak itu orangnya tak pernah memilah-milah tamu,” katanya.

Menjadi ajudan, juga pernah dijalani Zul Arif, mantan ajudan Wali Kota Batam Nyat Kadir tahun 2000 hingga 2002. Suatu waktu, Arif pernah dimarahi Nyat Kadir, karena terlambat datang.

Maklum saja, sebagai ajudan ia harus hadir setiap hari di rumah Wali Kota sekitar pukul tujuh pagi. ”Karena saya dari rumah naik motor, ban motor saya kempes di tengah jalan. Sehingga saya terlambat datang,” kata Zul, yang kini menjadi Kasubbag Publikasi Bagian Humas Pemko Batam.*****

10 responses to “Kehidupan Para Ajudan

  1. tekunin ja kerjaan nya karena saya pun punya banyak teman sebagai ajudan memank sih kehidupan mereka tidak beda2 jauh ma kalian semua tetapi mereka jalanin. saya sendiri juga pernah bekerja sebagai sekretaris president komisaris RS, tapi saya langsung mengundurkan diri karena saya tidak sanggup dengan kerjaan 24 jam apalagi saya seorang dirls jadi ga mungkin banget khan?abis nya saya terikat banget sih,

  2. Ari sujatmiko

    Saya juga seorang Ajudan Kepala Badan PPSDM Kesehatan, hanya satu kuncinya berpikir, bersdikap dan bertindak yang terbaik. Walaupun kerap dimarahi, tapi siap dan siap 24 jam.

  3. makasih info..nya,…baru belajar nih….kalo jadi ajudan gmana.

  4. salam kenal… semua.. mohon sumbang sarang dari rekan – rekan disini. karena saya sendiri terbilang baru dalam bidang ajudan ini. saaya bekerja sebagai ajudan salah satu mantan menteri era presiden ibu megawati

  5. belum ada buku yang terbit mengenai ajudan, tugas-tugas ajudan, tata cara, dan sebagainya yang mengupas habis tentang ajudan..
    melalui forum ini.. saya mengetuk hati siapapun anda.. yang memahami betul dengan salah satu tugas ini.. mohon bagi-bagi ilmunya untuk kami ajudan-ajudan baru.. (ilmu yang bermanfaat termasuk amalan yang akan terus mengalir hingga alam baka..) paling tidak untuk pedoman dan menambah wawasan.. dalam menjalankan tugas saya juga pernah mengalami kesulitan.. selama ini yang saya temui hanya berupa artikel-artikel keajudanan atau sekpri saja.. ditunggu.. trims..

  6. Dijalani saja dgn sepenuh hati.Tetap semangat pantang menyerah.

  7. sangat menyentuh….mohon copas untuk memperkaya blog khusus tentang ajudan dan protokoler….http://ajudanprotokoler.blogspot.com

    semoga akan menginspirasi dan membuka wawasan banyak orang tentang profesi yang indah ini.
    silahkan mampir dan terimakasih
    salam hormat selalu

    irwan

  8. Sebagai ajudan. Pancarkan selalu kharismamu. Krn wibawa kita adalah citra atasan kita.

  9. jadi ajudan saya alami selama 3 tahun, saya juga heran, tak satupun ada aturan formal yang menjadi panduan tugas ajudan, maupun kompensasinya. bayangkan ketika kita menjadi ajudan satu-satunya, harus mengawal dan melayani sang pimpinan siang malam, ketika PNS yang lain pada istirahat, tetapi kadang tak ada kompensasinya, Apalagi dalam sisten politik pada masa otoda ini, banyak pimpinan berebut jabatan bupati atau gubernur. dan kita menjadi ajudan salah satu dari mereka, kalau yang kita ajudani “Kalah” tidak terpilih, kita pun ikut tersingkir dari percaturan birokrasi, apa salah sang Ajudan???

  10. Mohon berbagi pengalamannya..sya jga masih baru dipercaya sbg ajudan wakil bupati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s