Ketua Golkar Diserang

Break! Taksi warna putih itu tiba-tiba menyalip dan berhenti mendadak di depan mobil Mistubishi Galant BM 186 XF yang dikendarai AT Sinaga, Zainal Abidin dan isterinya Tini. Di keremangan malam, di jalan menurun ke Tiban V, Sekupang, itu Zainal kaget bukan kepalang. Begitu juga dengan Sinaga yang memegang stir mobil, tak kalah kagetnya.

”Astagfirullah,” kata Zainal mengusir keterkejutannya. Di saat bersamaan, Sinaga berteriak, ”Apa, tuh,” sambil menginjak rem mobil.

Zainal mengira ada kucing yang melintas, sehingga mobil di depannya berhenti mendadak. Ia baru saja akan mendongak, ketika tiba-tiba saja suara benturan benda keras menghantam kaca pintu mobil Sinaga dari tiga sisi. Di depan, kaca pintu samping kanan dan kiri jebol. Di belakang, di samping kiri, tempat dimana Tini duduk juga jebol.

Rupanya, ada satu mobil lagi yang memepet mobil mereka. Karena orang-orang yang memecahkan kendaraan mereka tak keluar dari taksi yang menyalip tadi. Tapi, muncul dari belakang.

Semuanya, seperti terjadi begitu saja. Teriakan seperti suara-suara menyuruh membunuh terdengar. Serpihan-serpihan kaca berhamburan dari segala sisi. Tiga penumpang mobil Mitsubishi bertambah panik, suasana begitu mencekam. Lalu, salah seorang penyerang di sebelah kanan mengayunkan parang panjang mengarah ke leher Sinaga.

Dalam kepanikan, tangan Sinaga bergerak menangkis. Parang panjang itu tak mengenai leher, tapi menancap dalam ke kedua tangan Sinaga yang mencengkeram kuat. Dalam kegentingan itu, Zainal berteriak. ”Tancap gas, Ga.” Sinaga melepas pegangannya pada parang itu. Ia mengegas mobilnya kuat-kuat dan membanting stir ke kanan. Rasa pedih dan tetesan darah di dua tapak tangannya, tak ia pedulikan.

Mobil terus melaju ke Tiban I. Tujuan Sinaga Klinik Asih. Namun di sana, peralatannya tak begitu lengkap. Sinaga, Zainal dan Tini, kemudian dibawa ke ruang gawat darurat RSOB di Sekupang.

Peristiwa mencekam itu masih melekat terus di benak Zainal. Bayangan-bayangan para penyerangnya masih melintas di ingatannya. Namun, ia tak berani memastikan, wajah penyerangnya. Penerangan di lokasi kejadian, katanya, tak ada. Sehingga wajah penyerangnya tak bisa ia kenali.

”Sejak tadi malam, saya belum tidur memikirkan peristiwa, itu,” kata Zainal yang ditemui Batam Pos di rumahnya, di Tiban II, Sekupang, kemarin.

Zainal terlihat lelah. Namun, ia terus mengumbar senyum kepada semua tamu yang datang silih berganti ke rumahnya, Sabtu (10/5) pagi. Semua tamu, baik para tetangga, kolega dan anak buahnya di Partai Golkar menanyakan bagaimana peristiwa itu berlangsung. Ponselnya juga tak berhenti berdering. Zainal menerima ungkapan simpati dan dukungan agar ia tetap tegar.

Di antara kesibukannya menerima tamu, Zainal masih sempat menjenguk Sinaga di RSOB. Pagi itu, Sinaga menjalani operasi di dua tapak tangannya. Luka menganga akibat menangkis sabetan parang di dua tapak tangan Sinaga, mengeluarkan darah terus sehingga harus dioperasi.

Sepulang dari RSOB, Zainal masih sempat melihat lokasi penyerangan itu. Di sana, sisa-sisa serpihan kaca mobil berhamburan. Hampir satu menit Zainal mengamati lokasi itu, sebelum ia pulang ke rumahnya.

Di rumahnya, ia bertemu Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Herry Heryawan. Herry tak masuk ke dalam rumah, perbincangan Herry dan Zainal dilakukan di depan rumah. Herry membawa Kanit I Satreskim Poltabes Barelang Iptu Endi Endarto, Kanitreskrim Polsek Sekupang Ipda Syamsurizal dan sejumlah penyidik.

Herry mengatakan, kasus itu akan ditangani Poltabes Barelang. Usai salat dhuhur, Zainal datang ke Poltabes memberikan keterangan seputar kejadian penyerangan itu di Unit I Satreskrim Poltabes Barelang.

Peristiwa itu membawa perubahan pada pengamanan Zainal. Setiap keluar rumah, ia terlihat ditemani dua sampai tiga orang. Apakah ia akan memperketat pengamanan dirinya? Zainal mengatakan akan lebih hati-hati.

”Saya akan lebih berhati-hati. Ini juga pelajaran buat yang lain, agar lebih berhati-hati di zaman yang sudah seperti ini,” tuturnya.

Zainal sudah hampir 20 tahun tinggal di Batam. Ia mengaku tak pernah mengalami peristiwa seperti Jumat malam, itu. Ia juga sering melewati jalan menurun di Tiban V itu sebelum masuk ke Tiban II, dan tak pernah mengalami apa-apa.

Karena itu, katanya, ia merasa penyerangan tersebut bukan perampokan. Tapi disengaja untuk melukai mereka bertiga. Apalagi, tak ada tanda-tanda penyerangnya meminta harta atau menggertak mereka terlebih dulu.

Apakah ia merasa penyerangnya berniat melukai dirinya? Zainal tak menjawab pasti. ”Saya merasa mereka sengaja mengintai. Tapi, siapa sasarannya, saya tak tahu,” ujarnya.

Zainal juga enggan menerka-nerka motif di balik penyerangan, itu. Apakah ada kaitannya dengan posisinya sebagai Ketua DPD Golkar Batam? Zainal mengatakan, semua kemungkinan itu bisa saja menjadi latar belakang penyerangan itu. Apalagi, katanya, perhelatan Pemilu 2009 sebentar lagi akan dimulai.

”Kita tahu, dalam kondisi perekonomian yang seperti saat ini bisa saja membuat orang-orang berbuat begitu, apalagi 2009 makin dekat. Tapi, saya serahkan saja ke polisi. Biar mereka yang mengungkap,” tukasnya.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s