Nasib Perpustakaan Daerah

Nina ND (30-an), warga Perumahan Centra Melati, menatap lekat-lekat novel bersampul biru di rak buku. Tangannya bergerak mengambil novel itu, membaca sinopsisnya sebentar, kemudian meletakkan novel karya Nora Robert, itu ke pangkuannya.

”Saya suka novel terjemahan. Setiap kali ada duit, saya pasti beli,” tuturnya, di toko buku Gramedia BCS.

Rabu (21/5) siang itu, merupakan kunjungan ketiga Nina ke Gramedia di bulan Mei. Setiap kali ke sana, ia pasti membawa pulang dua tiga buku. Favoritnya, novel terjemahan dan buku memasak. Seperti kemarin, misalnya, ia membeli novel dan buku memasak.

Nina lancar menyebut nama pengarang novel favoritnya. Ada John Grisam, Nora Robert, Eric Seagal, Sandra Brown dan lain-lain. Koleksinya juga sudah ratusan. ”Saya letakkan saja di kotak. Saya tak punya tempat khusus di rumah,” katanya.

Nina memang punya hobi membaca. Ia selalu menyisihkan uang belanja keluarganya untuk membeli buku. Membeli buku, katanya, adalah pilihannya untuk memuaskan dahaganya membaca buku.

Untuk pergi ke perpustakaan daerah, Nina mengaku tak tahu lokasinya. ”Saya belum pernah ke sana. Lokasinya di mana, ya,” katanya.

Nina adalah potret warga Batam yang memiliki hobi membaca. Ia memilih datang ke toko buku, karena tak tahu lokasi perpustakaan daerah Batam itu berada. Selain Nina, Andri (26) mahasiswa Putera Batam juga mengaku tak tahu.

Andri juga biasa datang ke toko buku untuk membeli atau sekadar melihat-lihat buku baru. Kemarin, di tempat yang sama dengan Nina, Andri melihat-lihat novel Ketika Cinta Bertasbih, karya Habiburrahman El Shirazy. ”Hari ini, saya cuma lihat-lihat saja. Kalau kemarin, saya beli buku tentang komputer,” tuturnya.

Sejumlah pengusaha di Batam, kata Supervisor Penjualan Gramedia BCS di Baloi, Reny Angreni Gultom, juga menjadi pengunjung tetap Gramedia. ”Mereka biasanya beli buku soal pengembangan diri,” ujarnya.

Dengan banyaknya pengunjung itu, tak aneh rasanya jika jumlah pengunjung Gramedia bisa mencapai 50 ribu pengunjung. ”Rata-rata mereka juga beli. Ada juga yang sekalian jalan-jalan sama keluarganya,” tukas Reny.

Ramainya pengunjung Gramedia, kontras dengan suasana Kantor Perpustakaan di Lantai VII Kantor Wali Kota Batam di Batam Centre. Rabu siang itu, saat Batam Pos berkunjung, suasananya begitu sepi.

Di buku tamu, Batam Pos merupakan tamu ke-empat, sepanjang siang itu. Namun, di ruang perpustakaan, para tamu itu sudah tak ada lagi. ”Kalau tadi agak ramai. Sekarang sudah sepi,” tukas Afriansyah, siswa SMK Kartini yang PKL di kantor tersebut.

Padahal, Perpustakaan Daerah Batam juga punya koleksi buku-buku bagus. Sejumlah novel baru, ada di antara rak buku di sana. Ada novel Ayat-ayat Cinta, Brownies karya Fira Basuki, Sang Teroris Mental karya Putu Wijaya, Mirror karya FX Rudi Gunawan, Arrrrrrgh karya Melly Goeslow dan lain-lain.

Perpustakaan Daerah itu juga menyediakan sejumlah komik. Ada beragam judul buku agama, pengembangan diri, buku soal kesehatan, cerita-cerita lucu dan lain-lain. ”Kami juga punya tempat khusus untuk anak-anak,” kata Aunar Karimsu.

Mudah untuk mengetahui kunjungan warga ke perpustakaan. Di bagian belakang buku-buku yang ada di sana, ada lembar khusus untuk mencatat peminjam dan jangka waktu pengembalian. Dari sejumlah buku yang diperiksa Batam secara acak, rata-rata hanya ada satu dua peminjam buku.

Itu menunjukkan, betapa sepinya kunjungan warga pada perpustakaan daerahnya. Bulan Januari lalu, jumlah pengunjungnya hanya 237 pengunjung dan 522 pengunjung untuk perpustakaan keliling. Bandingkan dengan 725 ribu penduduk Batam. Yang berkunjung ke Perpustakaan Daerah tak lebih dari 1 persen penduduk. Menyedihkan.
*****
Ada yang bilang, mengunjungi suatu kota jangan lupa menyinggahi perpustakaannya. Karena dari sana, dalam waktu singkat kita bisa mendapat gambaran tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan budayanya.

Namun, rasanya itu tak akan berlaku bagi Batam. Sudah lama digaung-gaungkan sebagai kota metropolis, kota industri dan sebutan kota-kota maju lainnya, tapi kondisi perpustakaannya sungguh memilukan. Perpustakaan daerah Kota Batam hanya memiliki 22.000 koleksi buku, atau hanya 2.000 eksemplar lebih banyak dari syarat minimal berdirinya sebuah perpustkaan daerah yakni 20.000 buku.

Jika kita mengacu pada standar ideal keberadaan buku sebuah perpustakaan, menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), setidaknya harus bisa melayani 40 persen dari jumlah penduduknya. Jika Batam memiliki penduduk 725.000 jiwa, maka setidaknya perpustakaan daerah Batam bisa melayani 290 jiwa.

Dari jumlah itu, masih menurut standar UNESCO, sebuah perpustakaan harus bisa menyediakan lima buku untuk satu jiwa. Untuk kawasan Asia, standarnya hanya tiga buku per jiwa dan itu sudah dilakukan negara seperti Vietnam. Sedangkan bagi Indonesia, standarnya dua buku per jiwa.

Bagaimana dengan perpustakaan daerah Batam? Jika mengacu pada standar itu, tentu sangat jauh dari ideal. Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Batam Aunar Karimsu menyadari minimnya keberadaan buku-buku itu. ”Namun, kalau kita melihat standar minimal sebuah perpustakaan daerah, Batam masih bagus. Dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Kepri, Batam masih lebih bagus,” tukasnya.

Menurut Aunar, keberadaan perpustakaan daerah juga tak bisa dilepaskan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakatnya. Batam, tukasnya, merupakan kawasan industri, tempat para pencari kerja. ”Beda dengan di Jawa yang perpustakaannya sudah bagus-bagus, dan di sana kota pendidikan,” tuturnya.

Tak hanya perpustakaan yang minimalis. Jumlah kunjungan warga ke perpustakaan daerah itu juga rendah. Untuk yang satu ini, kata Aunar, karena budaya baca di Batam, belum mendarah daging. ”Ini yang harus kita galakkan,” ujarnya.

Aunar boleh saja membela diri. Tapi, jika melihat kunjungan warga Batam ke toko-toko buka, rasanya alasan budaya baca di Batam yang masih rendah bisa dipatahkan. Lihat saja di toko buku Gramedia, menurut Supervisor Penjualan Gramedia BCS di Baloi, Reny Angreni Gultom, ada 50.000 pengunjung yang setiap bulan datang ke Gramedia.

”Minat baca masyarakat Batam cukup tinggi. Apalagi kini mulai bermunculan universitas dan perguruan tinggi,” tukasnya.

Dari sejumlah wawancara Batam Pos, bukan budaya baca yang rendah yang membuat warga Batam tak berkunjung ke perpustakaan daerahnya. Tapi, karena rata-rata warga Batam tak tahu dimana perpustakaan daerah itu berada.

”Tak tahu. Saya tahunya toko buku saja. Mungkin kurang sosialisasi,” kata Nina (30-an) ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Centra Melati.

Perpustakaan daerah Batam memang sulit diakses warga. Lokasinya di lantai tujuh kantor Wali Kota Batam. Untuk ke sana, kita harus terlebih dahulu masuk kantor Wali Kota Batam di Batam Centre, mengisi buku tamu di lantai satu dan melewati pintu khusus. Setelah itu, barulah bisa naik ke lantai tujuh.

Lokasi perpustakaan di puncak Kantor Wali Kota itu, potret miskinnya perhatian Pemko akan keberadaan sebuah perpustakaan. Padahal, meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, menguasai IPTEK dan bermuatan IMTAQ merupakan salah satu misi pasangan Ahmad Dahlan dan Ria Saptarika waktu dilantik jadi Wali Kota Batam dan Wakil Wali Kota Batam.

Jika melihat anggaran untuk Kantor Perpustakaan dan Arsip di APBD Batam 2008, secara keseluruhan kantor itu hanya diberi jatah Rp1,249 miliar. Bahkan, untuk pengadaan buku hanya diberi uang Rp104, 787 juta. Jumlah itu tak sampai 0,1 persen dibandingkan anggaran yang dikeluarkan Pemko Batam untuk tambahan penghasilan PNS-nya yang mencapai Rp147,424 miliar.*****

One response to “Nasib Perpustakaan Daerah

  1. berapa jumlah pelanggan di http://www.gramediaonline.com??
    tolong email di yan_eff87@yahoo.com
    trimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s