Penjualan Bayi ke Singapura

Beli Rp6 Juta, Dijual ke Singapura Rp30 Juta

Polsekta Lubukbaja Barelang, Senin (9/1/2006), mengamankan empat bayi yang sedianya bakal dijual ke Singapura. Bersama mereka, Polsekta Lubukbaja juga mengamankan lima wanita yang diduga terlibat dalam penjualan bayi itu.

Tangis bayi terdengar bersahutan dari lantai dua markas Polsekta Lubukbaja Batam, Senin (9/1) petang. Tangis bayi itu keluar dari dua bayi laki-laki, yang tergeletak di atas meja bilyard. Dua bayi lain, terlihat tenang menatap sejumlah polisi yang memperhatikan mereka.

Suasana Polsekta Lubukbaja petang itu memang tak seperti biasa. Polisi-polisi yang biasanya berwajah tegang, petang itu tak henti-hentinya tersenyum menatap ulah para bayi itu. Bayi-bayi tak berdosa berumur sekitar satu hingga dua bulan itu, diamankan polisi dari tangan sindikat penjualan bayi yang sudah beroperasi setahun terakhir ini di Batam di Perumahan Ramandah Indah Lubukbaja Blok E nomor 6.

Meski mendapatkan informasi ada sindikat penjualan bayi di Batam, awalnya, Polsekta Lubukbaja kesulitan membongkar kasus itu. Pasalnya, A Hua (44) yang disebut-sebut sang informan sebagai pelaku utaman penjualan bayi itu tak mau bicara, saat diamankan dari sebuah rumah di Kampung Utama Batam bersama seorang bayi laki-laki berumur dua bulan yang diakuinya sebagai anak angkatnya.

Sekitar enam jam lebih, A Hua diperiksa, akhirnya ia mengaku bayi yang digendongnya adalah anak orang lain yang rencananya akan ia jual ke A Kik (30-an) seharga Rp6 juta. ‘’Ia kemudian menunjukkan tempat bayi lainnya yang sudah ia kumpulkan,’’ kata Kanit Reskrim Polsekta Lubukbaja Iptu Taufik Hidayat.

Jajaran Polsekta Lubukbaja kemudian bergerak ke Perumahan Ramanda Indah, Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam, tempat yang ditunjuk A Hua. Di sana, polisi bertemu A Kik. Namun, seperti A Hua, A Kik awalnya tak mengaku juga. Tapi polisi yang juga menemukan tiga bayi bersama tiga pengasuhnya tak percaya begitu saja. Mereka kemudian digiring ke Polsekta Lubukbaja.

Ternyata, pertahanan A Kik tak sekuat A Hua. Ia langsung mengakui kalau ia sudah dua kali mengirimkan bayi ke Singapura dalam setahun terakhir ini. Kepada penyidik A Kik mengaku membeli bayi-bayi itu seharga Rp6 juta dan ia menjualnya lagi seharga Rp30 juta ke Singapura.

Sebelum dijual ke Singapura, bayi-bayi itu dirawat di rumah A Kik di Ramanda Indah. A Kik tak sendirian merawat bayi-bayi itu, ia mempekerjakan pembantu yang ia gaji Rp25 ribu per hari. Bayi-bayi itu harus sehat, karena bila sakit-sakitan, tak akan laku di jual ke Singapura.

Meski mengakui sebagai penjual bayi, A Hua bungkam soal asal bayi-bayi itu ia dapatkan. Saat dikonfrontasi dengan A Kik, A Hua juga berkelit. Perempuan yang hanya fasih berbahasa mandarin dan terpatah-patah dalam berbahasa Indonesia itu memberikan keterangan berbelit-belit. Wartawan yang mencoba mewawancarainya juga tak mendapatkan jawaban pasti.

Hingga kemarin, penyidik masih memeriksa para tersangka, termasuk A Hua. Bayi-bayi itu sebagian ternyata memiliki akte kelahiran. Ini dilakukan A Kik untuk mengelabui, agar tak ketahuan bayi-bayi yang ia simpan di rumahnya adalah bayi korban trafiking.

Di Batam, kasus trafiking sudah lagi bukan hal aneh. Banyak wanita yang dijual untuk dipekerjakan sebagai wanita pekerja seksual ke Singapura. Namun, penjualan bayi dengan bukti empat bayi seperti yang diungkap Polsekta Lubukbaja dalam catatan koran ini, merupakan yang terbesar di Batam.

Menurut Kapolsek Lubukbaja AKP Karimuddin Ritonga SIK, pihaknya menduga bayi-bayi yang telah dijual oleh A Hua dan kawan-kawannya itu lebih banyak dari yangg diamankan polisi. ‘’Ini baru yang kita amankan. Informasi lain, masih ada anak lain yang tinggal bersama tersangka yang diduga adalah bayi yang tak laku di jual ke Singapura. Anak itu sekarang sudah besar, dan karena tidak laku, diakui tersangka sebagai anak angkatnya,’’ kata Karimuddin.

Kemarin, bayi-bayi itu dirawat keluarga anggota Polsekta Lubukbaja. Sebelumnya, polisi pun mendatangkan ibu-ibu yang merupakan tetangga-tetangga anggota kepolisian untuk membantu mengasuh para bayi itu. Diantara warga Batam, sudah ada yang menghubungi penyidik untuk mengadopsi bayi-bayi tak berdosa itu.
*****
Bayi-bayi mungil yang berhasil diamankan Polsekta Lubukbaja Barelang, Senin (9/1) lalu, kini terlihat lebih segar. Dalam asuhan keluarga anggota kepolisian yang merawatnya, bayi-bayi itu menemukan kehangatan keluarga.

Wartawan koran ini, kemarin menemui salah satu keluarga yang mengasuh bayi korban trafiking itu di asrama polisi Baloi Batam. Bayi perempuan berumur sekitar satu bulan lebih itu, oleh keluarga tersebut diberi nama puteri. ”Karena perempuan, kami memanggilnya Puteri,” kata Bintara anggota Polsekta Lubukbaja yang enggan disebut namanya itu.

Puteri, terlihat lebih segar. Pancaran matanya terlihat bercahaya, menatap pasangan muda yang merawatnya itu. Puteri juga mulai akrab dengan keluarga barunya. Beberapa kali ia dicandai, dan matanya sering kali tak lepas menatap isteri bintara itu.

”Dia tak rewel. Sejak pertama kali kami rawat, ia langsung akrab dengan suasana rumah ini. Kalau malam, tak suka nangis,” kata isteri sang bintara sambil tersenyum menggendong puteri.

Bak mengerti ucapan orang tua barunya, Puteri terlihat tersenyum. Keluarga itu, kini juga punya kesibukan baru. Mereka menyediakan baju-baju dan keperluan bayi lain, seperti popok dan susu bayi. Kebetulan, keluarga bintara itu belum dikaruniai anak.

Tiga bayi lain, dua laki-laki dan satu perempuan yang umurnya tak jauh beda dirawat keluarga polisi lainnya. Bayi-bayi itu dipastikan mendapatkan perawatan terbaik layaknya anak kandung sendiri.

Kapolsekta Lubukbaja Batam AKP Karimuddin Ritonga mengatakan, empat bayi itu diasuh oleh orang tua barunya itu untuk sementara waktu. ”Bayi-bayi itu mendapatkan perawatan yang baik. Soal adopsi anak, nantinya harus mengikuti prosedur dan ketentuan yang ada,” kata Karimuddin.

Sementara itu, A Kik ,30, salah satu tersangka penjualan bayi ke Singapura kemarin masih terus diperiksa penyidik Polsek Lubukbaja. Kemarin, A Kik menangis tersedu-sedu saat penyidik menyampaikan padanya ia telah melanggar pasal 79 dan 83 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun.

Wanita keturunan Tionghoa itu, menundukkan muka, mengusap air matanya dengan tangan kanannya. Ia terduduk lemas di kursi berhadapan dengan penyidik yang memintainya keterangan. Saat pertama kali diwawancarai wartawan begitu ditangkap, A Kik tak memberikan jawaban mengenai bagaimana caranya ia menjual bayi-bayi itu.

Kanit Reskrim Polsekta Lubukbaja Iptu Taufik Hidayat mengatakan, pihaknya masih memintai keterangan mengenai asal mula bayi itu didapatkan dan modus operasi penjualan bayi yang diduga melibatkan sindikat besar itu.

Berita acara perkara (BAP) kasus penjualan bayi itu, kata Taufik, tak bisa cepat terselesaikan, karena banyaknya kunjungan ke Polsek Lubukbaja dari pihak dan instansi lain yang ingin mengetahui soal pengungkapan kasus penjualan empat bayi itu. ”Tolong, beri waktu dulu penyidik menyelesaikan BAP-nya. Sejak kemarin, tamu banyak berdatangan. Kami ingin BAP-nya cepat selesai, biar segera diserahkan ke kejaksaan,” katanya.

Keterangan sementara yang didapatkan penyidik, lanjut Taufik, bayi-bayi itu didapatkan dari Medan Sumetera Utara dan Tanjungpinang Kepulauan Riau. Beberapa saksi yang dimintai keterangan, kata Taufik, mengatakan, bahwa tersangka utama A Hua, 44, telah melakukan praktik jual beli bayi sejak tujuh tahun yang lalu.

”Namun, pengakuan tersangka baru setahun terakhir ini. Untuk tersangka A Kik ini mengaku baru dua kali menjual bayi ke Singapura. Bayi itu dibawa langsung menemui pembelinya, namun itu hanya pengakuan sementara. Soalnya pengakuan tersangka berubah-ubah,” tambahnya.

Sebelum mendapatkan pembeli, kata Taufik, bayi itu dirawat terlebih dahulu. A Kik mempekerjakan pengasuh bayi dengan upah per hari Rp25 ribu dan ada yang digaji Rp600 ribu per bulan.

Meski menduga ada sindikat besar dibalik para tersangka, Taufik mengatakan, masih menyelidikinya. Begitu juga soal bagaimana cara pembeli bayi di Singapura itu menghubungi A Kik. ”Itu yang ingin kami ketahui. Kasus ini melibatkan sindikat besar, mereka saling bungkam,” tambahnya.

Polsekta Lubukbaja pertama kali menangkap A Hua, 44, dengan seorang bayi laki-laki. Kemudian mereka mengamankan A Kik yang membeli bayi Rp6 juta dari A Hua dan menjualnya lagi Rp30 juta. Selain itu Polsek juga mengamankan tiga pengasuh bayi, masing-masing Tan, 40-an, A Miu, 30-an dan Amoi, 30-an yang diduga juga terlibat.

Selain itu, wartawan koran ini juga memantau rumah Blok E nomor 6 di Komplek Perumahan dan Pertokoan Ramada Indah Lubukbaja Batam, tempat dimana tiga bayi ditemukan. Kemarin, rumah bertingkat bercat kuning itu pintunya terbuka. Dua gadis muda, kira-kira berumur 18 dan 9 tahun, terlihat turun dari lantai dua rumah itu.

Wartawan koran ini yang mencoba menanyai dua gadis kecil itu, soal penghuni rumahnya, tak mendapatkan jawaban. Dua gadis itu hanya berujar pendek, ”Tak tahu.” Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan tak muncul lagi. Dari lantai atas rumah itu, terlihat seseorang mengintip dari balik jendela.

Sejumlah tetangga rumah tak terlihat. Hujan yang terus mengguyur Batam, sepertinya membuat mereka memilih berdiam di dalam rumah. Beberapa tukang bangunan yang bekerja di Blok E perumahan itu mengaku tak pernah melihat ada bayi dibawa keluar dari rumah itu.

”Saya tahunya dari koran dan TV, kalau rumah nomor enam itu dijadikan tempat penjualan bayi. Biasanya yang keluar rumah, ibu-ibu gemuk mengantar anak keluarga itu. Kalau bayinya tak pernah kelihatan,” kata Prayitno, 34, tukang bangunan asal Blitar Jawa Timur yang sudah 14 tahun tinggal di Batam itu.

Prayitno dan rekan-rekannya yang sedang mengerjakan rumah di Blok E nomor 1 mengaku sudah dua bulan tinggal di barak tukang bangunan di perumahan itu. Selama ini, kata Nasir, 31, teman Prayitno, warga di Perumahan Ramada cenderung menutup diri dan tak pernah terlihat bersosialisasi dengan tetangganya.

”Kebanyakan yang tinggal di perumahan ini, hanya ngontrak. Kadang ada yang hanya terlihat satu kali dalam sebulan. Yang ngontrak rumah ini, banyak warga Singapuranya,” katanya.******

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s