Kehidupan Siswa Pesisir

anak pesisirDemi masa depan. Itu alasan yang melatarbelakangi kegigihan siswa-siswa di kawasan pesisir (hinterland) Batam menyeberangi bermil-mil lautan dan berkilometer daratan untuk sekolah. Di tengah keterbatasan, cita-cita jadi dokter pun dipatri.
*****
Udara pantai yang dingin menyapa penduduk Pulau Nguan, Galang, Selasa (8/4) pagi. Jam menunjukkan pukul lima pagi, seperti biasa Sapri (17) sudah terbangun. Siswa kelas 2 SMAN 10 Batam di Sijantung itu menguap sebentar, merasakan dingin yang segar.

Sapri kemudian beranjak menuju bagian belakang rumahnya. Mengambil air wudhu, dan salat subuh. Setelah itu, ia meregang-regangkan tangan dan kakinya, sebuah kebiasaan rutin yang ia lakukan sebelum berangkat sekolah.

Usai sarapan, ia bergegas ke pelantar kayu tempat penambang pompong menunggu. Ada enam siswa lain yang sudah ada di pelantar. Tujuannya sama, menuju pelabuhan kecil di kawasan keramba kerapu di seberang pulau Nguan.

Sekitar 20 menit di atas pompong atau sampan bermesin tempel, rombongan Sapri tiba di darat. Sapri merogoh koceknya, mengeluarkan selembar uang seribu rupiah kepada penambang pancung. Uang seribu rupiah itu merupakan ongkos naik pancung anak-anak sekolah pulau Nguan.

Dari keramba kerapu, mereka mendaki perbukitan rendah. Kali ini mereka jalan kaki ke pinggir jalan beraspal, menunggu bus sekolah gratis yang lewat setiap pagi. Sejak dua hari ini, Sapri dan anak-anak pesisir lainnya menggunakan bus sekolah gratis dari Pemko Batam. Untuk anak-anak pulau Nguan, titik penjemputannya di pinggir jalan, simpang Pulau Nguan.

Sebelum ada bus gratis, rombongan Sapri biasanya naik carry. Ongkosnya Rp2 ribu sekali jalan. Namun, dua hari ini mereka bisa berhemat Rp4 ribu.

Sepuluh menit menunggu, bus warna kuning datang menjemput. Sapri dan rombongannya bergegas naik. Di dalam bus, kursi sudah penuh. Puluhan siswa sekolah, mulai anak SD hingga SMA seperti Sapri sudah memadati bus gratis itu. Beberapa di antaranya harus berdiri karena tak mendapat tempat duduk.

Bus kemudian melaju menuju Sijantung, Galang. Kali ini perjalanannya sekitar 15 menit. Di Sijantung, ada sejumlah SD, SMP dan MTs serta SMAN 10 Batam. Sapri berhenti di persimpangan menuju SMAN 10 bersama siswa lainnya dari Air Lingka dan kawasan-kawasan di sekitar Sijantung.

”Demi masa depan. Naik pompong, jalan kaki, naik bus, jalan kaki lagi itu biasa. Saya sudah dua tahun begini,” kata Sapri yang bercita-cita jadi dokter.

Sapri memang tak sendiri. Di SMAN 10, siswanya rata-rata berasal dari kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitar Batam. Bahkan jika diteliti asal-usulnya, siswa-siswa SMAN 10 berasal dari 18 pulau kecil. Sebutlah pulau Panjang, Tanjung Banun, Sembulang, Pasir Panjang, Pengaput, Seiraya, Mubut, Air Lingka dan lainnya.

Siswa-siswa SMAN 10 biasanya merupakan lulusan SMPN 22 Batam di Tanjung Kertang, MTS Darurrahman di Sijantung dan SMPN 18 Batam di Sembulang. Tahun ini, SMAN 10 menerima siswa kelas I dua lokal, setelah tahun-tahun sebelumnya hanya menerima satu lokal.

Seperti Sapri, Zarina (18) siswa kelas 3 SMAN 10 juga harus menyeberangi lautan selama setengah jam menuju sekolahnya. Zarina tinggal di Pulau Panjang. Setiap pagi, ia naik pompong bersama teman-temannya yang lain.

Namun, Zarina nasibnya lebih beruntung. Ia tak perlu naik bus lagi. ”Bayarnya Rp2 ribu sekali jalan. Dari pulau Panjang langsung ke Sijantung,” tukasnya.

Samsiyah (18) malah harus indekos di Galang agar tak setiap hari pergi-pulang dari pulau Mubut ke Sijantung. ”Capek, lokasinya jauh. Saya pilih kos saja,” tutur Samsiah.

Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun. Siswa-siswa di pesisir itu menerjang ombak dan berpanas-panas demi mengejar masa depan. Orang tua-orang tua mereka, katanya, banyak yang tak sempat mencicipi pendidikan karena jaraknya yang jauh.

Sehingga anak-anak itu bertekad menjadi lebih baik. Kegigihan siswa-siswa di kawasan pesisir itu bisa dilihat dari banyaknya siswa yang menggunakan waktunya untuk belajar, di sela-sela menunggu jemputan pompong. Di pelantar-pelantar atau pelabuhan kecil, siswa-siswa SD biasa membuka-buka buku sebelum mereka pulang menyeberangi pulau-pulau.

Tahun ini, Dinas Pendidikan Batam menyediakan bus sekolah gratis buat mereka. Jumlahnya dua unit. Bus ini ditujukan bagi anak-anak pulau dan siswa tak mampu. Mereka dijemput di titik tertentu, dan diantar pulang di titik tertentu pula.

”Bus gratis ini untuk membantu meringankan beban siswa di kawasan hinterland. Siswa-siswa Batam seperti yang tinggal di Tembesi juga ada yang sekolah di Sijantung. Mereka ini juga kita angkut dengan bus tersebut,” kata Kadis Pendidikan Batam Muslim Bidin, kemarin.

Sementara untuk siswa-siswa yang tinggal di pulau-pulau jauh, Dinas Pendidikan membangun asrama siswa. Tahun ini, asrama siswa itu dibangun di Sijantung, menampung 40-an siswa. Namun, hingga kemarin, asrama siswa itu belum ditempati.

Asrama siswa di Sijantung itu, tentu tak mampu menampung semua siswa dari pulau-pulau sekitarnya. ”Nanti ada seleksi. Yang paling jauh, kami utamakan,” kata Kepala Sekolah SMAN 10 Topo Mulyono.

Di Batam sendiri, dari 15 SMA Negeri, tujuh SMA berada di kawasan pesisir. SMA 2 di Belakang Padang, SMA 6 di pulau Kasu, SMA 7 di pulau Air Raja, SMA 9 di pulau Karas, SMA 10 di Sijantung, SMA 11 di pulau Buluh dan SMA 13 di Teluk Sunti.****

One response to “Kehidupan Siswa Pesisir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s