Mengunjungi Lokalisasi Pulau Amat Belanda 2

bar di pulau Amat Belanda

Pekerja seks komersial (PSK) alias WTS yang tinggal di Pulau Amat Belanda, Belakangpadang sudah berusia relatif tua. Umurnya kira-kira antara 27 tahun sampai 40 tahun. Banyak di antara perempuan-perempuan di sana yang dinikahi apek-apek Singapura. Biasanya, setelah menikah mereka menetap di Belakangpadang

Dia mengaku bernama Linda. Kulitnya kuning mulus. Rambutnya ikal sebahu. Wajahnya tak terlalu cantik, namun tetap menarik. Di dahinya, kerut ketuaan samar terlihat. Itu menandakan ia tak muda lagi. Juli ini, Linda berumur 35 tahun.

Perempuan seumuran Linda, tentu kalah menarik dibandingkan pramuria lain yang berumur di bawah 30 tahun. Apalagi untuk terjun ke dunia prostitusi, sulit bersaing dengan yang muda-muda. Kondisi Pulau Amat Belanda yang sepi, memperparah keadaannya. Ia jarang mendapat tamu.

”Di sini sepi, jarang ada yang datang. Biasanya yang datang sudah punya langganan. Saya hanya cukup untuk makan,” tuturnya setengah berbisik.

Linda termasuk yang lebih terbuka. Banyak PSK lain yang enggan berbicara, begitu tahu kedatangan saya untuk menulis tentang pulau Amat Belanda. Panggilan manja yang tadinya renyah terdengar, berganti dengan mulut yang terkunci rapat. Saya harus berkali-kali keliling kampung untuk mendapat cerita tentang kehidupan pramuria dan PSK di sana, sebelum akhirnya bisa berbincang dengan Linda.

Linda ternyata baru sebulan berlabuh di Amat Belanda. Ia datang dari Karawang, Jawa Barat. Cerita manis dari orang yang mengajaknya, bahwa Pulau Amat Belanda sangat ramai dan menawarkan penghasilan yang banyak, membuat ia tergiur. Dimantapkanlah niatnya untuk menyabung nasib di tempat yang jauhnya beribu-ribu mil dari rumahnya.

Ternyata, pulau Amat Belanda sangat jauh dari apa yang ia bayangkan. Tak ada gemerlap kota. Tak ada mal ataupun pusat hiburan seperti di Jakarta. Ia merasa tertipu. Hatinya patah.

Ia kecewa bukan karena jatuh ke lokalisasi. Tapi, ia menjerit karena pulau Amat Belanda kondisinya begitu memprihatinkan. Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan cipratan dolar dari apek-apek Singapura. ‘’Kalau saya punya uang untuk pulang, saya tak mau ke sini lagi. Bawalah saya pergi, ada duit nggak,” tuturnya.

Linda masuk Pulau Amat Belanda karena ekonomi keluarganya terpuruk. Ia sudah empat kali menjanda. Di Karawang, ia harus menanggung dua anak yang beranjak remaja. Sepanjang hidupnya, ia mengaku banyak mengalami kegetiran. Empat kali perkawinannya gagal. Suaminya kawin lagi.

”Saya menjerit kalau ingat anak. Tapi saya percaya akan ada jalan. Saya percaya akan ada kisah manis nanti,” ucapnya.

Namun, tak semua PSK bernasib getir seperti Linda. Banyak juga yang enjoy menikmati hidup sebagai penghibur laki-laki hidung belang. Banyak yang malah mempertahankan eksistensinya dengan memasang susuk agar pesonanya tetap bisa menjerat laki-laki yang datang ke Pulau Amat Belanda.

Seperti yang dilakukan seorang PSK, sebut saja bernama Juwita. Ia memasang susuk agar tetap laku, meski tubuhnya tak lagi langsing seperti dulu. Juwita, mati-matian mempertahankan susuknya. Ia ketakutan setengah mati, saat ditawari temannya makan pisang emas. ”Jangan, jangan. Nanti, susuk saya lepas,” tukasnya.

Menurut seorang pemilik bar, apa yang dirasakan Linda ada benarnya jika melihat kondisi Pulau Amat Belanda yang sepi senyap. ”Yang kami punya hanyalah semangat bertahan hidup,” kata perempuan asal Sulawesi, itu.

Padahal dulu, katanya, Pulau Amat Belanda banyak menarik laki-laki. Tak hanya pria-pria tua Singapura atau biasa disebut apek yang datang. Pria lokal pun banyak yang bermalam. Dulu, penghuni bar di Amat Belanda juga banyak yang akhirnya dijadikan isteri oleh apek-apek atau pemuda lokal tadi. ”Banyak anak-anak sini yang kawin dan menetap di Belakang Padang. Bagi kami, tak masalah. Mereka kami lepas tanpa jaminan,” tuturnya.

Setiap akhir pekan, katanya, apek-apek yang sudah menikahi gadis bar tak lagi datang ke Amat Belanda. Tapi, langsung menemui isteri mereka yang ada di Belakangpadang. Di Belakangpadang mereka menyewa rumah untuk isterinya.

Menurut pemilik bar itu, minimnya perhatian pemerintah membuat Pulau Amat Belanda seperti kota mati. Tak ada pembinaan bagi para PSK di sana. Juga sudah beberapa tahun terakhir tak pernah ada penyuluhan. ”Pulau ini seperti dilupakan,” katanya.

Mengunjungi Pulau Amat Belanda tak hanya melihat kehidupan PSK. Ada banyak anak-anak yang sulit mendapatkan pendidikan. Bersekolah bagi anak-anak di Pulau Amat Belanda biayanya mahal. Mereka harus naik sampan atau pompong ke Belakangpadang, lalu naik becak atau ojek lagi. Karena di Amat Belanda tak ada sekolah. ”Untuk berobat gratis, kami juga harus ke Belakang Padang,” kata Calak, sang Ketua Kampung.

Sementara tak banyak yang bisa diharapkan warga Pulau Amat Belanda di tengah sepinya lokalisasi. ‘’Kami mau bercocok tanam, tanahnya tak ada. Mau bikin kerajinan, dari mana bahan bakunya. Mau ke laut juga susah,” tutur Calak.
Gambaran kemiskinan warga Pulau Amat Belanda, kata Calak, bisa dilihat dari banyaknya warga yang mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT). Dari 60 kepala keluarga yang ada, 24 di antaranya mendapatkan BLT. ‘’Itu karena datanya pakai data lama. Kalau dihitung lagi, bakal banyak yang berhak dapat BLT,” tukasnya.

Saat ini, kata Calak, warga Pulau Amat Belanda sangat berharap pada rencana pembangunan resort di Pulau Lengkana di seberang Pulau Amat Belanda. ”Mudah-mudahan cepat terealisasi dan kami juga merasakan dampaknya,” katanya. ***

One response to “Mengunjungi Lokalisasi Pulau Amat Belanda 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s