Miliaran yang Hilang

pasar induk difoto cpi

pasar induk difoto cpi

PASAR Induk Jodoh makin merana. Dibangun dengan dana bermiliar-miliar rupiah, pasar yang didesain sebagai pasar tradisional termegah itu mati suri. Tak ada hiruk-pikuk transaksi jual beli. Yang ada kesepian dan wajah nelangsa pedagang menanti pembeli.

Pasar Induk yang dua tahun terakhir dikelola PT Golden Tirta Asia (GTA) dibelit masalah yang sangat kompleks. Ibarat penyakit, masalah yang mendera Pasar Induk sudah sulit disembuhkan. Mengurai satu persatu masalahnya juga sulit. Sebutlah pembeli yang sepi, bangunan yang sudah lapuk, kepemilikan sertifikat dan alih fungsi kios, retribusi, keberadaan PK-5 dan lainnya.

Bahkan, permasalahan Pasar Induk sudah dimulai sejak pertama kali pasar itu dibuka tahun 2004. Kejaksaan Negeri Batam juga pernah menyelidiki dan memeriksa sejumlah pejabat terkait adanya dugaan korupsi retribusi Pasar Induk.

Beragam masalah itu tak pernah selesai. Akibatnya, pasar itu tak pernah bisa ramai. Mimpi Pemko Batam meningkatkan kesejahteraan rakyat dari Pasar Induk itu, masih jauh api dari panggang. Begitu juga meningkatkan PAD, masih belum bisa diandalkan.

Berkunjung ke Pasar Induk kini, seperti datang ke tempat yang tak terawat. Pagar besi dan penutup selokan sudah berkarat dan sebagian hilang. Lantai sudah retak dan turun. Meja-meja hanya diisi satu-dua pedagang. Kios-kios dijadikan tempat tinggal. Aliran air mati.

Belum lagi atapnya banyak bocor. Sampah berserakan di selokan. Bau tak sedap menyebar dan berbagai ketidaknyamanan lainnya bisa kita rasakan di sana.

Di lantai dasar, Pasar Induk memiliki 132 kios, 320 meja dan ratusan lapak yang kini tinggal puluhan karena rusak. Belum lagi kios di lantai dua yang banyak kehilangan fungsi karena dijadikan tempat tinggal atau dibiarkan begitu saja oleh penyewanya.

Pedagangnya, menurut data di Asosiasi Pedagang Pasar Induk (APPI), sebanyak 160 pedagang. ”Itu jumlah yang terdata di kami. Pedagang di bagian luar Pasar Induk yang menjual baju bekas, tak masuk hitungan kami,” kata Ketua APPI Kasdi.

Pasar Induk kini, memang tak hanya berisi pedagang yang menjual buah, sayur, sembako maupun ikan dan daging. Di sekelilingnya kini dipenuhi pedagang baju bekas. Di pojok bagian luar, juga ada permainan biliar.

Kondisi ini, tentu jauh dari tujuan awal sebagai pasar basah yang menjadi ikon kota. Pasar murah yang menyediakan semua kebutuhan pokok. ”Semua masih jauh dari harapan,” kata Kadis Pemberdayaan Masyarakat, Pasar, Koperasi dan UMK Batam Pebrialin, saat berdialog dengan pedagang, Sabtu (7/6).

Pasar Induk pernah dikaji Dinas Pasar dan Kebersihan. Lewat PT Duta Citra Konsultan, Pasar Induk dianggap masih bisa diandalkan dan letaknya sangat strategis untuk maju dan berkembang. Tapi kini, jangankan maju dan berkembang, untuk bertahan saja, rasanya sulit.

Lalu, dengan berbagai permasalahan itu, bagaimana Pasar Induk bisa ramai. Perlu sebuah terobosan, sebuah program baru agar dana miliaran rupiah yang habis untuk membangun pasar itu tak sia-sia.

Lihat, bagaimana sedihnya para pedagang di sana. Seperti Munir (50-an) yang sudah empat tahun berjualan jengkol. Kepada Pebrialin ia mengadu, mengiba mengeluhkan persoalan yang membelitnya.

”Saya sudah tak tahan lagi. Empat tahun saya bertahan, sekarang sudah tak tahan lagi. Saya tinggalkan meja saya,” tuturnya.****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s