Bawean, Belum Saatnya!

Acaranya sebuah musyawarah besar. Yang punya hajatan adalah Ikatan Keluarga Bawean Batam atau biasa disingkat IKBB. Hajatan paling penting dalam struktur organisasi orang Bawean di Batam itu digelar di masjid Mutaallim, Minggu (6/7) kemarin, di Seipanas.

Masjid Mutaallim adalah masjid penting dalam sejarah kehidupan warga Bawean di Batam. Masjid ini adalah masjid pindahan dari Kampung Boyan di Jodoh, tahun 1970-an silam. Presiden Soeharto kala itu, menyumbangkan masjid buat warga Bawean lewat Yayasan Amal Bakti Pancasila.

Tapi, acaranya sungguh sepi senyap. Ada 4.000-an lebih warga Bawean di Batam, tapi yang datang bisa dihitung dengan jari. Dari kalangan tua, hadir Pak Humam dan Bu Masnah. Keduanya tokoh yang termasuk pertama kali membuka Kampung Boyan di Jodoh.

Selain dua orang itu, hadir Ketua IKBB Mansyur Hamami. Mansyur adalah mertua saya. Ia hadir untuk menyampaikan pertanggung jawaban kinerjanya selama tiga tahun memimpin IKBB. Banyak kekurangan yang ia sampaikan dalam LPj-nya itu. Banyak kritik, terutama untuk IKBB sendiri dan tentunya orang Bawean di Batam.

Saya berbisik-bisik dengan Rofiuddin, teman sekolah saya di Kumalasa dulu yang kini jadi Wakil Kepala sekolah di sebuah SMAN di Batam. Saya bilang, apakah ini bisa disebut musyawarah besar? Ia hanya tersenyum, sambil mengatakan inilah potret warga kita.

Mansyur Hamami akhirnya terpilih lagi jadi ketua untuk kedua kalinya. Ia didukung kalangan ibu-ibu. Bu Masnah termasuk yang menggalang dukungan buat mertua saya itu. ”Saat dipegang Pak Mansyur, wirid ibu-ibu jalan terus,” tukasnya.

Yang membuat saya tercenung adalah munculnya keinginan untuk memajukan tokoh Bawean ke pentas politik lokal Batam. Mubes itu menginginkan ada orang Bawean yang jadi anggota Dewan. Bahkan mertua saya itu, siap jika diusung. ”Saya malah siap teken kontrak membagi gaji saya 50 persennya untuk IKBB,” cetusnya.

Saya sama sekali tak bersemangat mendukung ide itu. Sudah hampir satu setengah tahun saya ”berkantor” di Gedung DPRD Batam, jadi tahu betul seluk beluk perpolitikan di Batam. Saya tahu betul, sifat-sifat 45 anggota Dewan yang duduk di sana. Saya ragu, ide itu baik bagi IKBB.

Bagaimana mungkin menghimpun suara untuk seorang nama, jika untuk menghadiri sebuah musyarawah besar saja, orang-orang Bawean itu tak datang. Saya pesimis akan ada satu kata. Saya ragu, cita-cita itu menjadi nyata.*****

One response to “Bawean, Belum Saatnya!

  1. Seharusnya kita mencari apa akar permasalahannya sehingga a warga kumalasa batam minoritas yang datang?……… mungkin pengurus IKBB kurang pendekatan terhadap warga kumalasa batam. HIKMA siap membantu jika diperlukan untuk memajukakan IKBB seperti apa yang kita harapkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s