Sajak Pernikahan

Katakan padaku apa yang tak kau sukai? Sungguh aku akan berubah mengikuti apa maumu?. Jangan diam saja?

Sudah empat tahun lebih, kata-kata itu mengendap di benakku. Kau mengucapkan itu, di ranjang pengantin kita.

Aku mengingatnya kembali, ketika cinta mulai kering menghampa. Hatiku pedih, teriris, namun kubiarkan jantung itu mengaduh sendiri. Kubiarkan ia membusuk, jika bicaraku nanti akan membuatmu terluka.

Sungguh yang terluka padamu, berdarah padaku. Aku sangat ingin mengerti, jika kau pikir aku tak memahamimu.

Diamku yang membisu, juga bagian dari caraku memahamimu. Juga caraku membahagiakanmu.
Dadaku belum rapuh jika kau ingin bersandar. Kakiku masih kokoh, masih kuat menahan gempuran badai itu.

Aku mencintaimu, melebihi cintaku pada diriku sendiri. Bahkan sejak kuucapkan janji itu, aku sudah memproklamirkan kematian diriku. Aku sudah mati, bukan siapa-siapa lagi. Hanya cintamu yang membuatku sampai kini masih bernafas.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s