Politik dan Hati

”Saya bingung, kok partai-partai sekarang mencalonkan orang-orang baru di nomor satu. Anggota dewan lama banyak tak dianggap. Saya saja tak tahu dipasang di nomor mana,” kata Zakaria, salah seorang anggota DPRD Batam dari Demokrat.

Ya, ada fenomena baru dalam Pemilu 2009 ini, terutama di Batam. Banyak parpol tak lagi mengandalkan anggota Dewan lama. Di PDI Perjuangan misalnya, dari tujuh anggota Dewan, hanya Ruslan Kasbulatov, ketuanya, yang ada di nomor jadi. Yang lain dipinggirkan.

Di PKS, kondisinya kurang lebih sama. Nardi, Ketua Komisi IV itu bahkan dikabarkan sempat sakit saat namanya tak lagi masuk daftar caleg di PKS. Ia bahkan, kini jarang ngantor. Padahal, kalau dihitung-hitung, kinerja Nardi cukup lumayan untuk mendapatkan nilai 7.

Di PPP, kondisinya kurang lebih sama. Golkar, setali tiga uang. PKB malah dirombak total. Yang masih mempertahankan wajah-wajah lama adalah PAN. Hampir seluruh anggota Dewan dari PAN dicalonkan lagi.

Yang kasihan mungkin yang merasa sudah berjuang untuk partai dan masyarakat, tapi tak dicalonkan lagi oleh partainya. Sukhri Fahrial dari PPP akhirnya melompat ke Hanura. Begitu juga dari Tharmani, Chris, Reinhard, ramai-ramai masuk lewat partai lain.

Kondisi ini, menurut saya cukup bagus. Bukannya kinerja anggota Dewan lama buruk, tapi dengan munculnya wajah baru, DPRD Batam akan lebih segar. Segala permainan tersembunyi yang mungkin dulu tak bisa ditembus, bakal terbuka.

Wajah-wajah baru itu perlu all out agar memenangkan pertandingan. Tiga dari daerah pemilihan di Batam, ditempati orang-orang yang sudah berpengalaman di partai dan sudah merasakan manis-asin DPRD Batam. Mereka tahu bagaimana membohongi masyarakat dan menarik simpati.

Inilah tantangannya. Seorang anggota Dewan dari PKS dan Golkar meminta agar ia dibantu diperkenalkan masyarakat. Mereka adalah orang-orang baru yang mengaku optimis bisa memenangkan pertarungan, namun belum sepenuhnya percaya diri. ”Lawannya berat soalnya,” kata caleg baru itu.

Berat atau ringan, adalah soal kesekian. Ada hal lain yang harus dipersiapkan, terutama soal dukungan dan dana. Dalam kondisi masyarakat sekarang, soal dana memang harus benar-benar dipersiapkan. Berdasarkan pengalaman di Pemilu 2004, seorang caleg pemula harus menyiapkan dana sekitar Rp300-an juta.

Dana itu, untuk persiapan kampanye, bikin kaos, spanduk, kasih sumbangan sana-sini, membeli suara dan lain-lain. Belum lagi membiayai tim sukses dan sebagainya.

Saya tertarik pada seorang teman dari PDI Perjuangan yang bertarung dari Dapil III dan dipasang di nomor urut II. ”Saya tak mungkin menabur uang, karena saya tak punya uang ratusan juta. Makanya saya memilih memperbanyak dukungan riil dengan terjun ke masyarakat. Saya ingin mengajak masyarakat memilih dengan hati,” katanya.

Ya, memilih dengan hati. Ayo, siapa yang mau!!!!!

One response to “Politik dan Hati

  1. memang ada apa sih di kursi legislatif itu ko sampai rebutan gitu, sampai ada ajang pertarungan segala..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s