Memecah Batu

Sinar matahari tak begitu terik. Awal Juli lalu, pukul 10.02 pagi itu, di pinggir jalan menuju Jembatan Barelang udara masih terasa sejuk. Raima (30-an) duduk di tanah dengan posisi kaki melingkar, menghadapi gundukan batu yang siap dipecah.

Kepalanya ditutup kain sarung yang dipasang asal untuk menghalangi sinar matahari. Ia mengenakan celana panjang dipadu kemeja panjang yang di sana-sini robek dan berdaki. Ada sarung tangan biru menutup jari-jari tangannya.

Lengannya bergerak menghantam batu-batu di depannya menjadi bagian-bagian lebih kecil seukuran jempol kaki orang dewasa. Batu-batu yang sudah dipecahkan itu dipisah, lalu ditumpuk lagi. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan seperempat kubik pecahan batu.

”Lumayan, satu kubik bisa dapat Rp90 ribu,” tuturnya.

Ada lima ibu-ibu yang kemarin bekerja memecah batu bersama Raima. Rata-rata mereka bertetangga di kawasan Tembesi, tak jauh dari jalan utama menuju Jembatan Barelang. Setiap hari, mereka berjalan kaki menuju ke tempat pemecahan batu yang jaraknya kira-kira 300 meter dari rumah mereka.

Di lokasi pemecahan batu itu, ada empat pondok kecil yang terbuat dari papan. Bentuknya persegi empat dengan ukuran kira-kira satu meter kali satu setengah meter. Pondok itu digunakan sebagai tempat berteduh bagi anak-anak yang ikut ibunya ke tempat tersebut. Pondok itu juga jadi tempat penyimpanan minuman dan kue kecil.

Raima sendiri mengaku sudah dua tahun lebih di sana. Ia mengaku bekerja untuk membantu suaminya yang bekerja di kawasan Tanjunguncang. ”Di sini enak, kerjanya borongan. Suka-suka kita mau kerja pagi, siang atau sore. Tak ada paksaan,” ujarnya.

Keringat menetes dari dahinya. Namun, ia tak mempedulikannya. Tak ada keluhan keluar dari mulutnya. Ia mengaku menjalani hidup sebagai pemecah batu bukan karena keterpaksaan. Meski capek, banyak tetangganya yang akhirnya ikut menjadi pemecah batu karena merasa di sana tak perlu mematuhi aturan macam-macam seperti di pabrik-pabrik.

Maka, tak heran jika sepanjang tangannya memecah batu, ia terus bergurau dengan rekan-rekannya. Bahasa daerah Tapanuli Selatan menjadi bahasa keseharian ibu-ibu itu.  Saya yang mendekati mereka jadi bahan tertawaan. ”Tak usah ditulis. Kalau salah, kami bisa dimarahi bos,” katanya.

Batam yang dikenal sebagai kota industri, kini memang tak melulu berisi pabrik. Mereka yang datang juga tak hanya mereka yang berpendidikan. Yang tak sekolah pun, kini banyak mengisi Batam. Itu sebabnya, banyak rumah liar alias ruli di sini.

Tapi, ini bukan soal ruli. Ini soal mereka yang datang ke Batam ingin mengubah nasib, kemudian terdampar karena Batam ternyata tak memberi kemudahan. ****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s