Empal Macan

Dingin terasa menusuk, saat bersama sejumlah polisi saya mampir di sebuah restoran Cina di Karimun. Saat itu, tiga tahun yang lalu, saya ikut razia narkoba ke sejumlah diskotek dan pub. Pulang pukul dua dini hari.

Perut terasa lapar. Hampir tiga jam saya ikut keliling dari pub satu ke diskotek satu. Hasilnya nihil. Tak ada satupun pengedar maupun pengguna narkoba yang ketahuan. Sesuatu yang sudah saya duga sebelumnya.

Akhirnya, di restoran Cina itulah kami berlabuh. Saya duduk di sebuah meja memanjang. Di samping kananku, ada temanku, seorang fotografer. Di sisi lainnya, seorang polisi yang menjadi ajudan Wakapolres duduk santai dengan sebatang rokok di tangannya.

Seorang pelayan restoran mendekat. Saya dan temanku itu memesan jus alpukat. Sebuah pilihan yang mungkin kurang tepat di dini hari itu, karena dingin. Namun, rasa haus di tenggorokan mengalahkan rasa dingin tadi.

”Saya pesan empal macan, ya! Tiba-tiba seorang perwira polisi menyelutuk. Ia duduk di meja lain, di seberangku yang dipisahkan jalan.

Ada yang janggal dengan pesanan itu. Tapi, saya yang sedang menunggu jus alpukat, tak begitu peduli. Saya merasa pendengaran saya salah tangkap.

Sepuluh menit menunggu, jus yang saya tunggu datang. Pelayan tadi menyodorkan daftar menu. ”Saya pilih ikan asam pedas saja. Jangan lama,” kataku tanpa melihat menu di daftar.

”Tak mau nyoba empal macan, Mas. Enak, bisa menghangatkan badan,” kata pelayan tadi.

”Emang ada macan, ya,” tanyaku. ”Ada. Bisa disup, cincang atau empal,” jawabnya. ”Oh, gak,” saya mengatakan itu, seketika.

Tiba giliran ajudan Wakapolres tadi, yang ditanya pelayan itu. ”Kalau beruang ada, gak,” tanya ajudan berpangkat brigadir itu.

”Lagi habis. Kalau mau, ada ular sama otak monyet. Persedian kami masih ada,” jawabnya. ”Gaklah. Saya minum saja,” jawab ajudan itu.

Ternyata, restoran yang kami datangi itu restoran yang menyajikan segala macam hidangan binatang buas. Ada macan, beruang, ular, monyet, dan tentu saja babi.

Saya jadi dag-dig-dug. Baru kali ini, saya berhadapan langsung dengan restoran beginian. Dulu, saya tahunya hanya lewat TV. Seperti sate ular di Jepang, Cina atau Thailand. Di sini, di Karimun, saya merasakannya langsung.

Jadi kepikiran. Bagaimana nasib ikan asam pedasku, ya. Halal gak, kan masaknya pakai kuali yang juga dipake masak empal macan tadi. Gimana rasanya, ya empal macan?

Temanku, yang fotografer tadi berbisik-bisik. ”Gimana nih. Kita makan macan,” katanya. ”Udah tenang aja. Kan yang kita makan ikan,” tuturnya menepis kerisauan dia.

Jadinya, pagi itu saya pulang dengan pengalaman baru. Makan ikan asam pedas, di restoran yang menyajikan empal macan. Sebuah pengalaman yang tak bisa dibanggakan. Masa ke restoran binatang buas makan ikan asam pedas. hu…

Kisah ini kuingat kembali, saat pekan lalu, saya bertemu Direktur LPPOM MUI Kepri. Dia bilang, banyak restoran di Batam ini yang tak punya sertifikat halal. ”Padahal, kalau punya sertifikat, omzet dia pasti meningkat,” katanya.

Jadi kepikiran lagi ni. Bagaimana seandainya restoran Cina yang menyajikan binatang buas tadi punya sertifikat halal, ya? Pasti saya akan ke sana lagi, mencicipi empal macan itu. Mungkin gak, ya?****

One response to “Empal Macan

  1. selamat maju jaya buat antum warga bawean… selamat berpuasa.. blognya taru shout box ya.. senang dikit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s