Ballad of Muhammad Nardi

Pengakuan jujur tak selamanya berbuah manis. Apalagi, jika yang diakui adalah perbuatan haram, seperti menerima suap. Meski mengaku mengembalikan ”uang terima kasih” itu, pengakuan di ujung tugasnya sebagai anggota DPRD Batam membuatnya ”terasing”. Dicibir publik dan teman-temannya di Dewan, sekaligus terancam ditarik PKS yang merasa citranya tercoreng. Padahal, Nardi mungkin seorang pahlawan yang harus muncul di institusi korup seperti Dewan.

******

Pasar Tiban Centre sudah mulai lengang, Sabtu siang di akhir Ramadan lalu. Sejumlah pedagang sudah membersihkan lapak-lapak penuh sisik ikan. Hanya terlihat satu-dua pembeli yang lalu lalang, melihat kalau-kalau ada ikan segar yang masih tersisa.

Di ujung lorong, seorang pria bercambang berjalan malas menuju tempat penjualan ikan. Ia mengenakan celana dan kaos olah raga berwarna biru putih. Di dadanya, tercantum tulisan ”Persatuan Isteri Dewan” (PISWAN) DPRD Batam. Jelas, kaos ini menunjukkan penggunanya harusnya seorang perempuan, seorang isteri Dewan. Tapi, mengapa harus laki-laki itu yang mengenakannya?

Ya, laki-laki itu ternyata Muhammad Nardi. Anggota DPRD Batam yang hari-hari ini menjadi pembicaraan dan namanya menghiasi headline media karena mengaku menerima uang Rp25 juta, sesaat setelah terjadi kenaikan tarif listrik di Batam, tahun 2006 silam. Sejak beberapa waktu lalu ia tak muncul di depan publik.

”Sudah seminggu ini saya tak enak makan. Ini lagi mau cari ikan segar yang banyak dagingnya,” katanya, sambil menggandeng tangan saya.

Saya tak terkejut dengan pengakuan itu. Semuanya terlihat jelas di wajah Nardi. Wajahnya kuyu, kusut seperti orang baru sembuh dari sakit. Cambangnya dibiarkan tak terurus. Tak ada senyum, Nardi benar-benar terlihat bagai mayat hidup. Ia mengaku syok.

Tak hanya wajah pucatnya itu yang membuat ia terlihat gemetaran, pakaian yang ia kenakan juga menunjukkan itu. Lihat saja kaosnya, itu kaos isterinya yang ia pakai. Tapi, saya simpan saja segala dugaan-dugaan itu.

”Bagaimana med menurutmu. Apa yang harus saya lakukan menghadapi kasus ini,” katanya, setelah ia saya bawa ke pedagang ikan talang.

Saya terdiam. Untuk beberapa saat pertanyaan itu tak saya jawab. Saya ragu. Lalu mereka-reka apa yang sebaiknya saya katakan padanya. Koran kamilah yang pertama mengungkapkan pengakuan Nardi ke publik, tentu kami juga berkepentingan agar kasus ini dituntaskan. Tak boleh lagi jadi angin lalu. Hukum harus ditegakkan.

Tapi, sisi kemanusiaan saya diuji di sini. Nardi bertanya sebagai teman. Maka jadilah kami berdiskusi selama hampir setengah jam, di pasar ikan itu. Saya memberi sejumlah alternatif pilihan kepadanya. Dan tampaknya, Nardi masih berada di persimpangan. Ia tak ingin melewati jalur hukum, sekaligus tak rela jika harus mengaku berbohong saat pengakuannya muncul di publik.

Satu pesanku padanya. ”Besok, setelah diperiksa BK (badan kehormatan) tak perlu bicara pada wartawan. Senyum saja. Biar BK saja yang menjelaskan.” Ia mengangguk.

Senin itu, setelah hampir dua jam lebih diperiksa BK DPRD Batam, Nardi mengikuti saranku. Ia hanya tersenyum saat ditanya sejumlah wartawan. Ia pun meminta wartawan menanyakan semua keingintahuan mereka kepada BK. Foto yang saya tampilkan di atas, adalah foto Nardi ”tersenyum” sesaat setelah ia keluar dari ruang pemeriksaan BK.

=*=

Saya orang yang sangat percaya apa yang diungkapkan Nardi benar. Bahwa ada uang terima kasih dari PLN Batam, setelah DPRD Batam memberi rekomendasi persetujuan kenaikan tarif listrik, 2006 silam. Tapi, tahun ini adalah tahun politik. Tahun pencitraan, tahun dimana para anggota Dewan itu harus tampil suci. Tak boleh ada imej kotor yang membuat nama mereka najis di mata rakyat.

Apalagi untuk mengakui pernah menerima uang suap dari PLN. Tentu pengakuan Nardi harus mereka tepis. Itu yang terjadi saat sejumlah anggota DPRD Batam saya konfirmasi, terutama mantan dan anggota Komisi III yang bertugas menelaah proposal usulan kenaikan tarif listrik itu.

Tarmani, anggota DPRD Batam dari Fraksi PKB dengan mantap mengirim SMS ke ponselku. ”Selama saya di Dewan, saya tak pernah menerima suap, Bos.” Tarmani memang sengaja saya hubungi. Karena dialah yang disebut-sebut sebagai penghubung, orang yang memberikan uang itu ke Nardi.

=*=

Di suatu siang, di satu ruangan fraksi di DPRD Batam, Nardi membisikiku soal adanya uang ratusan juta mengalir ke Dewan, khususnya yang terlibat Panitia Khusus RTRW. ”Tak percaya, dengar ini ya. Tapi, diam saja, jangan bicara pas saya nelpon.”

Ia menghubungi seorang kepala bidang di Badan Perencanaan Pembangunan Kota Batam yang sudah belasan tahun diketuai Wan Darussalam. ”Halo, gimana kabar uang RTRW itu,” suara Nardi terdengar memulai pembicaraan.

”Ya, pak. Semua fraksi dapat kok. Sudah saya titip semua ke Pak I,” pejabat tadi menjawab.

”Kami kok tak dapat. Berapa besarnya?” Nardi memancing pembicaraan.

”Sekitar Rp200-an juta. Saya tak ingat, cuma sudah saya serahkan. Saya percaya saja sama Pak I, kan dia katanya yang mau bagikan,” jawab pejabat itu.

Saya mendengar langsung obrolan itu, lewat ponsel Nardi yang suaranya di-loudspeaker-kan. ”Tanyalah med, sama I. Dia mau ngaku atau tidak. Atau tanya saja sama Yudi Kurnain. Dia kan biasanya mau ngaku,” katanya.

Saya mengikuti saran itu. Tapi, hasilnya tak sesuai harapan. Tak ada yang mau mengakui. Juga tak ada satupun dokumen yang bisa saya jadikan bukti.

Seminggu kemudian, ponselku berdering. Nardi menelponku. ”Gimana med, kok belum naik berita itu.”

”Tak ada yang mau mengaku. Atau pengakuan Abang sama suara ditelpon itu saja saya tulis, gimana?” Saya menawarkan alternatif itu.

”Oh, jangan dulu. Kita tunggu saja,” kata Nardi menutup telepon.

=*=

Lalu, di satu pagi, beberapa bulan sebelumnya, Nardi juga pernah menelponku. Kali ini, ia tak puas atas tulisanku soal kritikan dia pada Wali Kota Batam Ahmad Dahlan yang ia sebut banci, karena tak tegas menyikapi pajak penerangan jalan.

”Kok beritanya lemas gitu. Kenapa tak dimasukkan kata-kataku. Kan kubilang dia itu banci,” katanya.

Tapi, ngomongin soal banci itu, ia buru-buru meminta maaf kepada Wali Kota, setelah didesak oleh kalangan tertentu.

=*=

Di lain waktu, ia pernah mengancam akan menggugat Ketua DPRD Batam Soerya Respationo, yang ia anggap melanggar tata tertib DPRD Batam saat memutuskan melanjutkan sidang paripurna DPRD Batam yang tak qourum.

Soerya sendiri berang setelah statemen Nardi itu saya konfirmasi ke dia. Semalam itu, tiga SMS dan tiga kali call Soerya mampir ke ponselku. Ia siap meladeni Nardi.

Itu sekelumit cerita soal Nardi. Tak bercerita banyak, memang. Karena saya memang tak ingin menceritakan soal kisah hidupnya. Yang pasti, Nardi lebih spesial dibandingkan teman-temannya yang lain. Ia meledak-ledak. Sering emosional jika ada yang menurutnya tak beres. Namun, kadang jadi penakut. Sering merasa salah bertindak.

”Isteriku tak mendukungku di dunia politik,” katanya, dalam pengakuannya di dalam bus sewaan, dalam perjalanan kami meninjau lumpur Lapindo, tahun lalu.

=*=

”Ia mau naik haji tahun ini.” M Zilzal, kolega Nardi di DPRD Batam mengungkapkan rencana Nardi ke tanah suci.

=*=

”Nardi itu hebat. Dia mungkin pahlawan di Dewan, karena mau mengungkap kebobrokan Dewan.” Saya mengungkapkan itu ke Riky Indrakari, Ketua DPD PKS Batam, akhir Ramadan lalu.

”Oh, kalau menurut saya ia tak hebat. Sikapnya tak tepat,” kata Riky.

Jawaban itu, mungkin bisa jadi merupakan sikap PKS yang tak mendukungnya. Kenapa? ”Karena ia saat menerima (uang listrik,red) tak pernah melaporkan ke fraksi. Ia baru melaporkannya setelah ribut-ribut di media. Kalau ia berniat baik, kenapa tak sejak awal uang itu dilaporkan,” seorang anggota fraksi PKS di DPRD Batam mengatakan, itu.

Mungkin saja, seperti itu. ****

6 responses to “Ballad of Muhammad Nardi

  1. Pingback: Ballad of Muhammad Nardi | Blog Batam Digital Island

  2. Seru jugqa nih… :O

  3. Saya sudah berusaha sounding kasus ini di media lokal Batam supaya clear dan pihak-pihak yang tak bersalah bisa dibersihkan namanya. Tapi saya seolah membentur tembok besar. Salam kenal.

  4. kita tunggu kelanjutanya

  5. Sayang tulisan ini tak keluar di media arus utama. Kalo keluar, pasti menggeletarkan publik. Memang ada yang tak beres di dewan. Tak mungkin Nardi bicara jika tak ada apa-apa. Ada apa dengan Nardi. Hanya media yang bisa menjawab dan ketulusan anggota dewan yang terhormat.Merdeka

  6. Katanya duit 25 juta itu dikembalikan lewat Aris Hardy Halim bos? Dikembalikan betul atau macet di beliau bos?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s