Bocah di Bawah Payung

Guntur menggelegar. Jumat siang itu, hujan mengguyur kawasan Batam Centre. Lantunan adzan dari Masjid Raya Batam telah memanggil. Puluhan pria berlarian menuju masjid. Hujan saat solat Jumat akan dimulai, benar-benar tak mengenakkan.

Banyak orang menunggu hujan reda. Sejumlah pegawai Pemko Batam berteduh di teras kantor Wali kota. Mereka berharap hujan tak sempat membanjir. Saya termasuk orang yang berdiri di tengah pintu, kantor DPRD Batam. Berharap mendapatkan pinjaman payung.

Di taman masjid, Andri (9) berdiri menunggu mobil datang. Bocah SD itu memegang payung yang ujungnya sudah patah. Besi-besi kecil penyangga payungnya sebagian juga sudah rusak. Namun, itu tak soal baginya. Payung itu masih bisa melindungi diri dari hujan.

Ia berlari begitu sebuah sedan Toyota Corolla mendekat. Ia menunggu di samping pintu, menawarkan pinjaman payung bagi pemilik mobil yang hendak ke masjid. Namun, sang pemilik mobil menolaknya. Pria berbaju safari itu sudah menyiapkan payung sendiri.

Ditolak pemilik Corolla, Andri berlari kembali menuju mobil Kijang Innova yang mendekat. Kali ini ia beruntung. Pinjaman payungnya bersambut. Payung kuning itu akhirnya pindah tangan. Andri berjalan di samping peminjam payungnya, berlari kecil di tengah hujan yang kian lebat.

Ada banyak anak seusia Andri yang siang itu menjajakan pinjaman payung. Jari-jari mereka berkerut kedinginan. Kulit bocah-bocah itu pucat. Namun wajah-wajah mereka merona merah.

Saat-saat hujan di hari Jumat adalah saat menjajakan payung. Mereka mendapatkan ”banyak” uang dari bisnis hujan kebetulan itu. Mereka menikmatinya.

Saat-saat tak turun hujan juga saat-saat bisnis bagi anak-anak kecil itu. Mereka ganti profesi dari penjaja payung menjadi penyemir sepatu. ”Pokoknya setiap Jumat, kami di sini,” tutur Andri.

Mereka tak mematok harga. Mereka tahu, para peminjam payungnya atau mereka yang menyemirkan sepatunya akan memberi lebih. Kalau ada yang bertanya, berapa, baru mereka jawab.

=*=

Hujan sudah reda. Para jamaah masjid Raya sudah pulang. Sembilan bocah mengerumuni tukang mie ayam di halaman masjid. Ya, mereka makan siang. Andri dan teman-temannya menikmati bakso dan es campur dari hasil menjajakan payung.

”Kau dapat berapa.” Pertanyaan itu meluncur dari mulur Kiki (10) kepada Andri. ”Biasa,” kata Andri.

Matahari makin meninggi. Awan gelap yang hari-hari ini menaungi Batam Centre perlahan menghilang. Panas kembali menyengat. Sampai jumpa di Jumat berikutnya.****

2 responses to “Bocah di Bawah Payung

  1. atap mesjid raya sepertinya juga musti dipayungi tuh bang.. soalnya dah bocor sampai dalam han lihat…

  2. Hello,

    I am the author of the image with the old man under the umbrella.
    As you can see on Flickr where I have posted the photo http://www.flickr.com/photos/frozenminds/1073957272/ on the bottom right of the page it says it is copyrighted. I am asking you to either remove the photo from your article or link the image to the Flickr page and add my full name and copyright notice to it.

    Thank you in advance!
    Constantin Bejenaru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s