Ballad of Pawang Hujan

sableng-pawang-hujan1-f-cipi-ckandinaBanyak yang menampik kehadiran pawang hujan. Namun jasa mereka banyak dibutuhkan. Dalam sejumlah acara, terutama acara luar ruang, para pawang hujan sering dimanfaatkan untuk memindahkan hujan.
iii
Mendung menggantung. Tanda-tanda bakal turun hujan tampak di langit Batam Centre, Jumat pagi, beberapa bulan lalu. Di pinggir jalan beraspal, di depan kantor DPC PDI Perjuangan Batam, Samijo alias Mbah Sableng (52) duduk bersila dengan mulut komat-kamit. Tangannya beradu di depan dada, tubuhnya bergetar dengan mulut yang terus merapal mantra.

Mbah Sableng lalu berdiri. Di ambilnya sebuah kelapa muda berwarna hijau yang sejak tadi tergeletak di sampingnya. Kelapa muda itu kemudian dibantingnya ke aspal, mengenai dua gelas air mineral yang juga sudah disiapkan.

Kelapa muda itu terbelah dua. Mbah itu kemudian menunduk. Ia memungut belahan kelapa itu dengan mulutnya. Dua belahan kelapa itu dibuangnya ke pinggir jalan, dengan tetap menggunakan mulut.

Ia kemudian tersenyum. Ratusan tatap mata yang memandanginya pagi itu tak membuatnya risih. Dan entah karena mantranya atau bagaimana, mendung di atas kantor DPC PDI Perjuangan Batam itu bergeser.

Sebatang rokok kretek Gudang Garam merah disulutnya. Asap pun mengepul dari mulutnya. Ada rasa puas di wajahnya. Pekerjaannya terbilang beres. Acara PDI Perjuangan pagi itu sukses, tanpa hujan. ”Beres,” katanya.

Mbah Sableng perawakannya kurus kerempeng. Kulitnya legam. Giginya sudah banyak yang tanggal. Jika tertawa, barisan gigi depannya yang ompong terlihat. Namun, untuk ukuran pria yang berumur setengah abad, garis-garis ketuaan di dahinya tak tampak.

Ia masih seperti pria berumur 30-an tahun. Gerakannya masih energik. Dandanannya yang kejawa-jawaan, dengan pakaian tradisional warna hitam membuatnya berbeda dengan penampilan orang kebanyakan di Batam ini. Sebuah ikat kepala hitam setia mengikat rambutnya.

Kemarin, jari tengah di tangan kirinya dibalut. Ada rembesan darah yang menetes dan terlihat di balik balutan itu. Tapi, saat ditanya apakah itu bagian dari ritual memindahkan hujan, ia tak mau menjawab. ”Jangan tulis ini,” tukasnya kepada Batam Pos.

Mbah Sableng juga tak mau ditulis namanya Samijo. Ia mengaku lebih enjoy dipanggil Sableng. Sebuah tulisan Mbah Samijo menempel mantap di kaca depan mobil Proton Saga-nya BM 1772 XE.

Berprofesi sebagai pawang hujan, kata Mbah Sableng, sudah dilakoninya sejak awal 90-an. Ia tak hanya berpraktek di Batam, tapi juga di sejumlah kota di Indonesia. ”Saya bahkan pernah di Malaysia, Australia,” tuturnya.

Mereka yang membutuhkan jasanya, kata Mbah Sableng, biasanya dari kalangan kepolisian, even organiser dan panitia-panitia acara luar ruang. ”Saya malah sudah dikontrak untuk acara lumba-lumba di Nagoya Hill,” katanya.

Berapa mahar sekali memawangi hujan? Mbah Sableng tersenyum. ”Tergantung. Kalau pesannya tiba-tiba seperti PDI Perjuangan ini maharnya harus berlipat-lipat,” tuturnya, kembali tersenyum.

Tapi, ancar-ancarnya minimal Rp10 juta sebulan bisa ia kantongi. ”Kalau saya mau kaya saya sudah kaya. Tapi, saya tak mau. Saya bagi-bagi rezeki itu kepada teman-teman dan orang-orang yang mau mendoakan dan mengikuti saya,” ujarnya.

Ia menyebut mobilnya sebagai pembanding. Mobil Proton Saga buatan Malaysia itu sudah terlihat butut. ”Lihat tuh, mobil saya jelek,” paparnya.

Untuk memawangi hujan, katanya, ia tak melakukan ritual maupun pantangan khusus. Ia hanya pantang main perempuan. ”Yang penting itu, pegangan saya nancap,” tukasnya. Pegangan Mbah Sableng adalah sebuah besi yang biasa disebut badar besi.

Namun, ia juga enggan jika permintaan memawangi hujan dilakukan tiba-tiba pada hari H. Seperti acara PDI Perjuangan misalnya, ia baru dihubungi pukul setengah tujuh pagi. Tapi, karena kedekatannya dengan orang-orang PDI Perjuangan, ia mau juga.

”Kalau tiba-tiba gitu, ritualnya susah. Saya harus banyak konsentrasi agar rapalan itu nyampe,” katanya.

Makanya, ia banyak merokok jika kondisinya sulit. Seperti kemarin, ia menghabiskan lima bungkus rokok kretak. Mbah Sableng juga jarang makan nasi. Ia hanya makan nasi di hari Jumat. Itupun hanya sekali.

Jadi, kenapa kok tetap sehat? ”Itu anugerah Allah,” tukasnya mantap.

Keberadaan pawang hujan seperti Mbah Sableng, diakui atau tidak sering dimintai bantuan oleh para panitia sebuah acara. Acara-acara di Pemko Batam misalnya, juga sering menggunakan jasa pawang hujan. Namun, yang mereka gunakan bukan Mbah Sableng, tapi pawang hujan dari pesisir yang biasanya mereka datangkan.

Buralimar, Kepala Badan Pertanahan Kota Batam, yang biasa menjadi ketua panitia acara resmi di Pemko Batam mengaku enggan menggunakan jasa pawang hujan. Ia mengaku tak sreg jika harus menggunakan jasa pawang hujan dan lebih menyerahkan hujan tidaknya acara yang ia ketuai itu kepada Allah.

Namun, ia juga tak melarang jika ada anggota panitia yang menggunakan jasa pawang hujan. ”Itu anak-anak yang punya pekerjaan. Saya bilang kalau mereka mau pakai silakan saja,” katanya.****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s