Pantun Wali Kota Batam

ahmad-dahlan-walikota-batam1-f-cipi-ckandina”Memetik bunga dan kembang di dalam taman, petik sekuntum di waktu malam, hari kesehatan pendidikan dan Korpri kita rayakan, majulah bangsa majulah Batam.”

Pantun empat baris itu dibaca Ahmad Dahlan di ujung pidatonya, Selasa  lalu, dalam upacara HUT PGRI dan Korpri di dataran Engku Puteri. Tak ada pantun kedua, karena setelah itu ia memberikan penghargaan kepada sejumlah guru dan pegawai di lingkungan Pemko Batam.

Pantun tadi ditulis di kertas kecil berwarna kuning. Setelah dibaca Wali Kota, kertas tadi disimpan oleh ajudannya. Tak dibuang, tapi disalin ke komputer jinjing atau laptop tempat Wali Kota menyimpan semua dokumen-dokumennya.

Dahlan menulis sendiri pantun-pantunnya itu. Jika dihitung sejak ia menjadi pegawai Otorita Batam, jumlahnya mencapai ribuan. Semua terdokumentasi dengan baik. ”Jika ada waktu, saya ingin membukukan pantun-pantun saya itu. Tapi, bukan sekarang,” katanya.

Dahlan tak perlu menunggu ilham untuk menulis sebuah pantun. Semua mengalir begitu saja. Bahkan, banyak pantunnya lahir di tengah ketergesa-gesaan. Seperti saat membuat pantun peringatan hari ulang tahun PGRI kemarin, ia buat saat dalam perjalanan dari rumahnya di Sekupang ke Kantor Wali Kota di Batam Centre.

”Saya ambil kertas, lalu saya catat. Kan kalau di mobil cuma duduk, jadi karena mau ngasih sambutan, ya sekalian bikin pantun,” tuturnya.

Keluarga Wali Kota di rumah sudah tahu kebiasaannya itu. Sehingga, kalau ada kertas kuning atau coretan-coretan pantun yang tercecer di lantai atau di saku celana, kertas itu disimpan. ”Semua saya dokumentasikan,” tukasnya.

Pantun-pantun Wali Kota, selalu bertema acara yang ia hadiri. Sebagai sampiran, ia banyak menggunakan bunga atau hal-hal yang berbau alam. Contohnya, ya pantun yang ia bacakan di acara HUT PGRI, itu.

”Karena saya memang suka bunga. Kalau lagu, saya suka lagu-lagu Melayu. Cuma sebagai penikmat, kalau nyanyi tak bisa,” ujarnya.

Dahlan mulai aktif bikin pantun saat menjadi Kabag Humas di Otorita Batam. Ia hampir selalu menjadi penulis pantun mantan Ketua OB Ismeth Abdullah, yang kini jadi Gubernur Kepri atau mantan Kabalak OB Soeryahadi Djatmiko.

Saat Habibie diangkat jadi Wakil Presiden, pantun perpisahan Dahlan sempat membuat mantan Ketua OB itu terharu. ”Saat itu, yang baca Pak Djatmiko (Kabalak OB Marsekal Pertama Soeryahadi Djatmiko, red) mewakili karyawan OB. Pak Habibie bertanya, siapa yang bikin pantun,” tuturnya.
Pantun itu bunyinya,  ”kalau memetik bunga kenanga, bunga mawar dilupa jangan, kalau tuan masuk istana, kami di sini dilupa jangan.”

Pantun menurut Dahlan merupakan pesan yang efektif. Kritikan di dalam pantun, tak membuat orang lain tersinggung. ”Mereka yang merasa disindir mungkin tersenyum, tapi pesannya sampai,” katanya.

Banyak pejabat yang berkunjung ke Batam juga membaca pantun. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono misalnya, juga membaca pantun kala berkunjung ke Batam. Sejumlah menteri, seperti Menteri Kehutanan MS Kaaban dan lainnya ikut-ikutan membaca pantun.

Karena itu, kata Dahlan, ia ingin membudayakan pantun di Batam. ”Mungkin bisa dimulai di sekolah-sekolah. Saya akan perintahkan Dinas Pendidikan untuk memasukkan pelajaran pantun di sekolah-sekolah, agar siswa bisa belajar pantun,” ujarnya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s