Uh, Busung Lapar di Batam

busung-laparTriwani mencoba berlari dari pelukan Rusti Simatupang, ibunya. Namun, langkah bocah perempuan berumur 1,5 tahun itu terlalu lamban. Kakinya yang kurus tak memberi cukup tenaga untuk pergi jauh, bahkan untuk sekadar berlari mengelilingi ruang tengah rumahnya.

Triwani merupakan bocah yang didiagnosa mengalami gizi buruk. Ia sempat dirawat selama empat hari di RSUD Batam. Awal Desember lalu, ia pulang ke rumahnya.

”Lumayan, empat hari dirawat berat badannya naik beberapa ons,” kata Bitner Sihite (42), ayahnya.

Triwani memang sudah bisa bermain lagi dengan dua kakaknya. Namun, jika dilihat dari fisiknya, tanda-tanda ia kena gizi buruk terlihat jelas. Berat badannya hanya 6,5 kilo gram, lingkar lengan dan pahanya kecil, tinggi badannya juga tak seperti anak lain seusianya.

Menurut Bitner, sejak umur sembilan tahun anaknya itu memang sudah mengalami masalah berat badan. Saat ditimbang di Posyandu, bobotnya kurang. Sehingga, bocah itu sempat diberi makanan tambahan dan vitamin.

Namun, makanan tambahan dan vitamin itu hanya membantu sementara waktu saja. Selanjutnya, Bitner dan isterinya tak mampu memberikan asupan vitamin maupun tambahan protein lainnya.

”Bahkan, sejak ia tak lagi menyusui saat berumur satu tahun tiga bulan, ia tak kami beri susu lagi. Seingat saya, baru sekali saya berikan ia susu formula,” kata Rusti.

Kondisi ekonomi menjadi alasan. Bitner mengaku hanya bekerja sebagai pembantu tukang bangunan yang dua bulan terakhir ini tak lagi bekerja. Untuk menyambung hidup, ia kini menjadi pengojek.

Rumah pasangan suami isteri itu juga sederhana. Mereka menempati rumah permanen yang tak berplaster di Kavling Baru Batuaji B5 Nomor 18 Sei Langkai, Sagulung. Lantai rumahnya berlantai semen. Tak ada perabotan lain, selain sebuah meja televisi yang dipasang di sudut ruang tengah.

Untungnya, kata Bitner, selama empat hari di RSUD mereka tak dipungut bayaran. ”Nanti, bulan depan anak kami diminta cek lagi di RSUD,” tukasnya.

Selain masalah ekonomi, sikap Triwani yang tak mau makan juga menjadi masalah tersendiri. ”Anaknya memang seperti itu. Jarang mau makan,” tutur Rusti,

Di Kavling Baru Batuaji, ternyata Triwani bukanlah satu-satunya penderita busung lapar. Anak tetangga mereka, Sarah (11 bulan) yang didiagnosa menderita marasmus, meninggal dunia saat Triwani sedang dirawat di RSUD.

”Anak saya dan anak tetangga saya itu sempat satu kamar di RSUD,” ujar Rusti.
II
Triwani hanyalah satu contoh dari 17 anak lain di Batam yang terkena gizi buruk. Ada 16 anak lagi, yang satu di antaranya bahkan sudah meninggal.

Entah apakah masih ada yang terhenyak. Beda mungkin jika disebut busung lapar melanda Batam, padanan kata gizi buruk.

Mereka menderita busung lapar, sungguh bukan karena kelaparan. Tapi, karena asupan gizi yang mereka makan tak cukup. Mereka rata-rata tinggal di kawasan pinggiran dan pesisir, di lokasi-lokasi yang jarang terjangkau pelayanan kesehatan. Kondisi ekonomi orang tua mereka juga pas-pasan.

Anak-anak penderita busung lapar itu berumur mulai dua bulan hingga tiga tahun. Bahkan, ada yang sudah didiagnosa mengalami Marasmus (salah satu jenis busung lapar), sejak berumur 28 hari. Seperti yang dialami Rizki Ramadan, anak dari Sanusi dan Mariana yang tinggal di Pulau Lance.

Ada juga Cahya Dewi (2,8) tahun, anak dari Muslimin dan Nunuk di Kavling Bukit Kamboja yang menderita dua jenis busung lapar sekaligus, yakni Marasmus dan Kwashiorkor. Hingga mau tiga tahun, berat badan Cahya baru 8,9 kilo gram.

Belum lagi bayi Haikal di Tanjungsengkuang yang mengalami Marasmic-Kwashiorkor. Atau belasan bayi lain yang menderita penyakit gizi buruk itu.

Kondisi ini harus segera ditangani. Malu, kalau Batam yang bercita-cita menjadi bandar dunia madani dan lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional itu memiliki anak-anak yang menderita busung lapar. Apalagi, APBD Batam sudah tembus angka Rp1 triliun.

Kadis Kesehatan Batam Mawardi Badar yang ditanya Batam Pos soal penanganan busung lapar itu mengatakan, anak-anak dari keluarga miskin yang kena busung lapar itu akan dirawat di RSUD Batam tanpa biaya. ”Kalau memang kena gizi buruk, ya langsung dibawa ke RSUD. Gratis tanpa biaya,” tukasnya.

Orang tua diminta Mawardi untuk rajin menimbang berat badan anaknya ke Posyandu-posyandu terdekat yang ada di lingkungan perumahan mereka. Jika seorang anak berat badannya turun, biasanya akan diberikan bantuan makanan pendamping ASI (BMPA).

”Jika BMPA di Posyandu habis, bisa minta ke Puskesmas. Itu gratis buat masyarakat miskin. Di Dinas saja stoknya masih ada,” katanya.

Bagaimana jika warga itu jauh dari Posyandu? ”Bikinlah Posyandu di tingkat RT/RW-nya dengan menghubungi PKK kecamatan atau kelurahan atau Puskesmasnya. Posyandu itu kan UKBM (usaha kesehatan bersama masyarakat),” tuturnya.

Intinya, menurut Mawardi, orang tua harus rajin membawa anaknya ke Puskesmas. ”Karena yang terjadi bukanlah mereka terkena gizi buruk akibat tak makan atau kelaparan. Tapi, karena asupan gizi si anak itu tak mencukupi,” ujarnya.

Bagaimana cara mengetahui seorang anak mengalami busung lapar atau tidak? Dr Tresia Maria, dokter spesialis anak, memberikan tip. Caranya, Pertama, dengan cara menimbang berat badan secara teratur setiap bulan. Bila perbandingan berat badan dengan umurnya dibawah 60 persen standar WHO-NCHS, maka dapat dikatakan anak tersebut terkena busung lapar.

Kedua, dengan mengukur tinggi badan dan Lingkar Lengan Atas (LILA). Bila tidak sesuai dengan standar anak yang normal waspadai akan terjadi gizi buruk.****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s